Anda di halaman 1dari 102

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah sakit merupakan pusat pelayanan kesehatan yang terdiri

dari berbagai profesi yang membentuk suatu kesatuan dan saling

mempengaruhi satu sama lain (Nindyanto, 2012). Zaman era globalisasi

seperti saat ini, kuantitas (jumlah) rumah sakit yang ada di Indonesia

mengalami peningkatan, baik rumah sakit daerah (negeri) dalam naungan

pemerintah maupun rumah sakit swasta. Peningkatan jumlah rumah sakit

ini terkadang tidak diikuti dengan peningkatan kualitas rumah sakit itu

sendiri, salah satu contohnya dalam hal mutu pelayanan yang diberikan

oleh rumah sakit. Padahal menurut UU (Undang-Undang) No. 44 Tahun

2009 pasal 29B rumah sakit bertanggung jawab dalam memberikan

pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif

dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar

pelayanan rumah sakit (Purwanti, 2012).

Dalam menjalankan tanggung jawab RS dalam memberikan mutu

pelayanan yang bermutu, diperlukan penataan dan manajemen yang baik

pula, termasuk manajemen keperawatan di dalamnya. Manajemen

keperawatan yang dikelola dan dilaksanakan dengan baik akan

menghasilkan suatu pelayanan yang baik pula kepada klien yang dirawat

di rumah sakit. Pelayanan keperawatan sebagai salah satu sub sistem

1
pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan komponen sentral untuk

terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu (Nindyanto, 2012). Upaya

untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, perawat pun memiliki

peran di dalamnya, dimana perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan

harus mampu melaksanakan proses keperawatan sesuai standar, hal

tersebut sesuai dengan Undang-Undang Keperawatan No. 38 Tahun 2014.

Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan

menuntut perawat sebagai suatu profesi dapat memberikan pelayanan

kesehatan yang optimal. Indonesia berupaya mengembangkan Model

Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) untuk mewujudkan pelayanan

kesehatan yang berkualitas dan profesional. Kemajuan jaman menuntut

perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan untuk bersikap profesional

yang diwujudkan di bidang pelayanan kesehatan Rumah Sakit.

Pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)

memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan

keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan

tersebut.

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan

proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan dalam suatu organisasi dimana

dalam manajemen tersebut mencangkup kegiatan koordinasi dan supervisi

terhadap staf, sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi.

Manajemen keperawatan merupakan suatu proses bekerja melalui anggota

staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara

2
profesionalisme. Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses

keperawatan sebagai metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara

profesional, sehingga diharapkan keduanya saling bekerjasama (Nursalam,

2007).

Konsep yang harus dikuasai adalah konsep tentang pengelolaan

perubahan, konsep manajemen keperawatan, perencanaan yang berupa

rencana strategi melalui pendekatan, pengumpulan data, analisa SWOT,

dan menyusun langkah-langkah perencanaan, melakukan pengawasan dan

pengendalian (Nursalam, 2007).

Komponen utama dalam manajemen keperawatan adalah fokus

pada sumber daya manusia dan materi secara efektif. Tujuan dari

manajemen keperawatan untuk meningkatkan dan mempertahankan

kualitas pelayanan keperawatan, untuk kepuasan pasien melalui

peningkatan produktifitas dan kualitas kerja perawat (Nursalam, 2007).

Manajemen adalah suatu proses melakukan kegiatan/usaha untuk

mencapai tujuan organisasi melalui kerja sama dengan orang lain (Harsey

dan Blanchard, 2010). Manajemen tersebut mencakup kegiatan planning,

organizing, actuating, controlling (POAC) terhadap staf, sarana, dan

prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Nursalam, 2011). Dari

beberapa metode yang ada, institusi pelayanan perlu mempertimbangkan

kesesuaian metode tersebut untuk diterapkan. Tetapi, setiap unit

keperawatan mempunyai upaya untuk menyeleksi model untuk mengelola

3
asuhan keperawatan berdasarkan kesesuaian antara ketenagaan, sarana dan

prasarana, dan kebijakan rumah sakit (Nursalam, 2014)

Demi meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan,

manajemen rumah sakit seharusnya lebih memperhatikan sumber daya

perawat di rumah sakit baik itu kualitas maupun kuantitasnya. Mengingat

perawat memberikan asuhan keperawatan secara holistik (menyeluruh)

sehingga perawat memiliki tanggung jawab lebih dalam merawat pasien

terutama di instalasi rawat inap dimana perawatlah yang merawat pasien

selama 24 jam. Oleh karena itu, peran perawat inilah yang secara

langsung dirasakan oleh pasien.

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan yang

berkualitas, manajerial keperawatanpun harus ditingkatkan. Dimana salah

satu upaya manajerial keperawatan dalam meningkatkan kualitas

pelayanan keperawatan yaitu dengan peningkatan jumlah (kuantitas)

sumber daya perawat (Nursalam, 2003). Kuantitas atau jumlah sumber

daya perawat merupakan aspek yang dapat mempengaruhi beberapa hal di

dalam pelayanan keperawatan diantaranya kepuasan pasien, kepuasan

kerja perawat, beban kerja perawat, dan sebagainya.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah melaksanakan praktik stase manajemen keperawatan

mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip manajemen

keperawatan dengan menggunakan model praktik keperawatan

4
profesional (MPKP), secara bertanggung jawab dan menunjukkan

sikap kepemimpinan yang professional serta langkah-langkah

manajemen keperawatan.

2. Tujuan Khusus

a. Melakukan kajian situasi melalui analisa SWOT terhadap lima

dimensi manajemen yaitu man, metode, material, money,

marketing di Ruang IGD RSD Gunung Jati Kota Cirebon.

b. Mendiagnosa masalah-masalah terkait 5M dalam proses

pemberian pelayanan keperawatan di Ruang IGD RSD Gunung

Jati Kota Cirebon.

c. Membuat plan of action untuk menjawab masalah-masalah yang

ditemukan menggunakan CARL dan HANLON

d. Mampu mengimplementasikan standar manajemen keperawatan

di ruang IGD di RSD Gunung Jati

e. Mampu mengevaluasi hasil dari implementasi yang dilakukan di

ruang IGD di RSD Gunung Jati.

C. Manfaat

1. Bagi Pasien

Dengan adanya program MAKP di Rumah Sakit diharapkan pasien

merasakan pelayanan yang optimal, serta mendapat kenyamanan dalam

pemberian asuhan keperawatan sehingga tercapai kepuasan klien yang

optimal.

5
2. Bagi Perawat

a. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal.

b. Terbinanya hubungan antara perawat dengan perawat, perawat

dengan tim kesehatan yang lain, dan perawat dengan pasien serta

keluarga.

c. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas dan disiplin diri perawat.

d. Meningkatkan profesionalisme keperawatan.

3. Bagi Rumah Sakit

a. Mengetahui masalah-masalah yang ada di ruang perawatan yang

berkaitan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan professional.

b. Dapat menganalisis masalah yang ada dengan metode SWOT serta

menyusun rencana strategi.

c. Mempelajari penerapan Model Asuhan Keperawatan Profesional

(MAKP) secara optimal.

4. Bagi Mahasiswa

Mengerti dan memahami penerapan atau aplikasi MAKP di dalam

Rumah Sakit.

D. Waktu

Praktik aplikasi manajemen keperawatan ini dilaksanakan di ruang

IGD RSD Gunung Jati Kota Cirebon yang berlangsung selama 4 minggu

dari tanggal 16 Desember 2019 sampai 11 Januari 2020.

6
E. Cara Pengumpulan data

1. Observasi

Mengobservasi proses pelayanan asuhan keperawatan yang

dilakukan, keadaan inventaris ruangan, pelaksanaan tugas kepala

ruangan, hubungan staf keperawatan dengan tim kesehatan lain,

discharge planning, tindakan keperawatan, pasien safety dan

komunikasi kepada klien.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan pada kepala ruangan, ketua tim, Clinical

Instructur dan Perawat pelaksana..

3. Studi dokumentasi

Mengumpulkan data mengenai dokumentasi keperawatan, struktur

organisasi, inventaris ruangan.

7
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Manajemen Keperawatan

1. Pengertian

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan

proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi yang

mencakup kegiatan koordinasi dan supervise terhadap staf, sarana dan

prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Nursalam 2002).

Manajemen keperawatan adalah cara untuk mengelola

sekelompok perawat dengan menggunakan fungsi-fungsi manajemen

untuk dapat memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan kepada

klien secara professional (Gillies, dalam Nursalam 2002).

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan

proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Manajemen

mencakup kegiatan planning, organizing, actuating, controlling

(POAC) terhadap staf, sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan

organisasi (Grant dan Massey (2009) dalam Nursalam, 2002)

Manajemen keperawatan berhubungan dengan perencanaan

(planning), pengorganisasian (organizing), pengaturan staf (staffing),

kepemimpinan (leading), dan pengendalian (controlling) aktivitas-

aktivitas upaya keperawatan atau divisi departemen keperawatan dan

dari sub unit departemen (Swanburg, 2000).

8
Melalui manajemen ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas

pelayanan. Dalam manajemen terdapat suatu proses yang mengubah

suatu input menjadi suatu output yang diharapkan. Input manajemen

ini terdiri atas manusia, uang, dan material, alat dan metode yang

selanjutnya akan mengalami proses manajemen sehingga tercapailah

output. Output pada manajemen berupa efisiensi dalam pelayanan, staf

yang kompeten dan ahli dibidangnya serta peningkatan mutu suatu

pelayanan.

Manajemen merupakan pengetahuan yang universal, demikian

juga pengetahuan manajemen yang ada di dalam ilmu keperawatan.

Pengetahuan manajemen keperawatan menggunakan konsep-konsep

yang berlaku terhadap semua situasi manajemen keperawatan. Teori

manajemen keperawatan berkembang dari teori manajemen umum

yang memprioritaskan penggunaan sumber daya manusia dan materi

secara efektif. Sejalan dengan prinsip manajemen secara umum,

manajemen dalam keperawatan juga terdiri atas input, proses dan

output.

Input dari manajemen keperawatan terdiri atas tenaga

keperawatan, bahan-bahan, peralatan, bangunan fisik, klien,

pengetahuan, dan keterampilan yang akan mengalami suatu proses

transformasi melalui manajemen asuhan keperawatan oleh tenaga

keperawatan sehingga dihasilkan suatu resolusi masalah keperawatan

klien.
9
Prinsip-prinsip manajemen ini diterapkan oleh perawat klinis,

perawat kepala, pengawas, direktur dan tingkat eksekutif di bidang

keperawatan. Tapi pada dasarnya, prinsip manajemen yang diterapkan

adalah sama. Lima elemen besar dari teori manajemen seperti

perencanaan, pengorganisasian, ketenagaan, pengarahan dan

pengendalian. Seluruh aktivitas manajemen serta sumber daya yang

ada bergerak secara simultan untuk mencapai output yang diinginkan.

Adapun output yang diinginkan dalam proses manajemen keperawatan

adalah resolusi masalah keperawatan sehingga dapat memberikan

pelayanan keperawatan yang efektif kepada klien, keluarga, dan

masyarakat. Aktifitas ini dilakukan secara mandiri dan saling

ketergantungan.

2. Fungsi - Fungsi Manajemen

Dalam keperawatan, manajemen berhubungan dengan

perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengaturan

staf (staffing), kepemimpinan (leading), pengendalian (controling)

aktifitas-aktifitas keperawatan (Swanburg, 2000). Pada dasarnya

manajemen keperawatan adalah proses dimana seorang perawat

menjalankan profesi keperawatannya. Segala bentuk dari organisasi

perawatan kesehatan memerlukan manajemen keperawatan untuk

mencapai tujuan yang diinginkan.

Berikut ini adalah pembahasan fungsi-fungsi manajemen secara

lebih mendalam.
10
a. Fungsi Perencanaan

Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan

penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan dimasa

mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan

(Siagian, 1990). Sedangkan menurut Fayol didalam Swansburg

(2000) mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan manajemen

adalah membuat suatu rencana untuk memberikan pandangan

kedepan. Perencanaan merupakan fungsi manajemen yang penting

karena mengurangi risiko pembuatan keputusan yang kurang tepat

atau membantu mengantisipasi jika suatu proses tidak berjalan

sebagaimana mestinya. Perencanaan juga dapat menolong pekerja-

pekerja mencapai kepuasan dalam bekerja.selain itu perencanaan

juga membantu penggunaan waktu yang efektif.

Dalam manajemen keperawatan, perencanaan dimulai

dengan kegiatan menentukan tujuan, mengumpulkan data,

menganalisis dan mengorganisasiukan data-data yang akan

digunakan untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dan

menentukan sumber-sumber untuk memenuhi kebutuhannya.

Selain itu perencanaan juga membantu untuk menjamin bahwa

klien dapat menerima pelayanan yang mereka inginkan serta

mereka butuhkan. Selain itu sumber daya yang digunakan dapat

digunakan seefektif dan seefisien mungkin.

11
b. Fungsi Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas-aktivitas

untuk tujuan mencapai objektif, menentukan cara untuk

pengorganisasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya baik

secara vertikal maupun horisontal yang bertanggungjawab untuk

mencapai objektif organisasi (Swansburg, 2000).

Prinsip-prinsip pengorganisasian diantaranya adalah prinsip

rantai komando, kesatuan komando, rentang kontrol, dan

spesialisasi. Prinsip rantai komando menggunakan hubungan dalam

alur yang hirarkis dalam alur autokratis dari atas kebawah.

Komunikasi terjadi sepanjang rantai komando dan cenderung satu

arah. Sedangkan dalam prinsip kesatuan komando memiliki satu

pengawas, satu pemimpin, dan satu rencana untuk kelompok

aktifitas dengan objektif yang sama. Prinsip rentang kontrol

menyatakan bahwa individu harus menjadi pengawas yang

mengawasi secara efektif dalam hal jumlah, fungsi maupun

geografi. Prinsip spesialisasi menampilkan satu fungsi

kepemimpinan tunggal.

c. Fungsi Pengarahan

Menurut Douglas didalam Swansburg (2000), pengarahan

adalah pengeluaran penugasan, pesanan dan instruksi yang

memungkinkan pekerja memahami apa yang diharapkan darinya

dan pedoman serta pandangan pekerja sehingga ia dapat bekerja


12
dan berperan secara efektif dan efisien untuk mencapai objektif

organisasi. Pada pengarahan yang harus dipertimbangkan adalah

komunikasi dalam hubungan interpersonal.

Di dalam manajemen keperawatan, yang dimaksud dengan

pengarahan adalah tindakan fisik dari manajemen keperawatan,

proses interpersonal dimana personil keperawatan mencapai

objektif keperawatan (Swansburg, 2000). Sebagai seorang

pemimpin dalam manajemen keperawatan, ia harus mempunyai

kemampuan untuk membujuk bawahan bersama-sama bekerja

keras untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam pelayanan

keperawatan, untuk mencapai hal tersebut pimpinan keperawatan

seharusnya telah dibekali ilmu dasar yang kuat tentang

kebijaksanaan organisasi, tujuan, program-program baru dan

rencana untuk perubahan. Selain itu pimpinan keperawatan juga

harus mempunyai perilaku yang dapat diterima secara sosial,

kualitas personal yang dapat diterima bawahan, keterampilan

dalam memimpin, serta kemampuan komunikasi interpersonal

yang baik. Jika semua ini ada pada seorang pimpinan keperawatan

maka pengarahan yang efektif dapat dilaksanakan sehingga

dukungan bawahan untuk mencapai tujuan manajemen

keperawatan optimal. Secara operasional keefektifan pengarahan

dapat dilihat dari kesamaan komando dan terciptanya tanggung

jawab bawahan secara penuh kepada satu pimpinan.


13
d. Fungsi Pengendalian

Pengendalian adalah pemeriksaan untuk melihat apakah

segala sesuatunya terjadi sesuai rencana yang telah disepakati,

instruksi yang telah dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang telah

ditentukan, yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan

kesalahan agar dapat diperbaiki dan tidak terjadi lagi (Fayol dalam

Swansburg, 2000).

Pengontrolan dilakukan sesuai fakta yang ada. Bila isu

muncul sebaiknya satu sama lain bertemu dan menenangkan

mereka melalui kontak langsung. Untuk merangsang kerja sama,

perlu peran serta sejak semula. Proses pengontrolan dapat

digambarkan dengan salah satunya membuat standar bagi semua

dasar-dasar manajemen dalam istilah-istilah yang diterima serta

hasil yang dapat diukur yang ukuran ini harus dapat mengukur

pencapaian dan tujuan yang ditentukan.

Kontrol termasuk koordinasi sejumlah kegiatan, pembuatan

keputusan yang berhubungan dengan perencanaan dan kegiatan

organisasi, serta informasi dari pengarahan dan pengevaluasian

setiap kinerja petugas. Kron dan Gray dalam Swansburg (2000)

menunjukkan bahwa kontrol menggunakan pengevaluasian dan

keteraturan. Karakteristik suatu sistem kontrol yang baik adalah

harus menunjukkan sifat dari aktivitas, melaporkan kesalahan-

kesalahan dengan segera, memandang ke depan, menunjukkan


14
penerimaan pada titik-titik kritis, objektif, fleksibel, menunjukkan

pola organisasi, ekonomis, dapat dimengerti, dan menunjukkan

tindakan perbaikan.

Manajer perawat akan merealisasikan cara terbaik dalam

menjamin kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan di

ruangan-ruangan untuk menegakkan filosofi, standar pelayanan,

dan tujuan-tujuan.

3. Prinsip Dasar Manajemen Keperawatan

Menurut Gillies (2010) manajemen keperawatan dapat

dilaksanakan secara benar. Oleh karena itu, perlu diperhatikan

beberapa prinsip dasar berikut :

a. Manajemen Keperawatan Berlandaskan Perencanaan

Perencanaan merupakan hal yang utama dalam serangkaian

fungsi dan aktivitas manajemen. Tahap perencanaan dan proses

manajemen tidak hanya terdiri dari penentuan kebutuhan

keperawatan pada berbagai kondisi klien, tetapi juga terdiri atas

pembuatan tujuan, mengalokasikan anggaran, identifikasi

kebutuhan pegawai, dan penetapan struktur organisasi yang

diinginkan. Perencanaan merupakan pemikiran atau konsep –

konsep tindakan yang umumnya tertulis dan merupakan fungsi

penting di dalam mengurangi resiko dalam pengambilan keputusan,

pemecahan masalah, dan efek – efek dan perubahan. Selama proses

perencanaan, yang dapat dilakukan oleh pimpinan keperawatan


15
adalah menganalisis dan mengkaji sistem, mengatur strategi

organisasi dan menentukan tujuan jangka panjang dan pendek,

mengkaji sumber daya organisasi, mengidentifikasi kemampuan

yang ada, dan aktivitas spesifik serta prioritasnya. Perencanaan

dalam manajemen mendorong seorang pemimpin keperawatan

untuk menganalisis aktivitas dan struktur yang dibutuhkan dalam

organisasinya.

b. Manajemen Keperawatan Dilaksanaan Melalui Penggunaan Waktu

Yang Efektif.

Manajer keperawatan menghargai waktu akan mampu

menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan

dilaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah di tetapkan.

Keberhasilan seorang pemimpin keperawatan bergantung pada

penggunaan waktu yang efektif. Dalam keperawatan, manajemen

sangat dipengaruhi oleh kemampuan pimpinan keperawatan.

Dalam kontek ini, seorang pimpinan harus mampu memanfaatkan

waktu yang tersedia secara efektif. Hal demikian dibutuhkan untuk

dapat mencapai produktifitas yang tinggi dalam tatanan

organisasinya.

c. Manajemen Keperawatan Melibatkan Pengambilan Keputusan

Berbagai situasi dan permasalahan yang terjadi dalam

pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan

keputusan akan berpengaruh terhadap proses atau jalannya


16
aktivitas yang akan dilakukan. Proses pengambilan keputusan akan

sangat mempengaruhi oleh kemampuan komunikasi dan para

manajer.     

d. Manajemen Keperawatan Harus Terorganisasi

Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan

organisasi mencapai tujuan. Terdapat 4 buah struktur organisasi,

yaitu unit, departemen, top atau tingkat eksekutif dan tingkat

operasional. Prinsip pengorganisasian mencakup hal – hal

pembagian tugas (the devision of work), koordinasi, kesatuan

komando, hubungan staf dan lini, tanggung jawab dan kewengan

yang sesuai adanya rentang pengawasan. Dalam keperawatan,

pengorganisasian dapat dilaksanakan dengan cara fungsional dan

penugasan, alokasi pasien perawatan grup/ tim keperawatan, dan

pelayanan keperawatan utama (Gillies, 1985).

e. Manajemen Keperawatan Menggunakan Komunikasi Yang Efektif

Komunikasi merupakan bagian penting dan efektivitas

menejemen. Komunikasi yang dapat dilakukan secara efektif

mampu mengurangi kesalahpahaman, dan akan memberikan

perasaan, pandangan arah dan pengertian diantara pegawai dalam

suatu tatanan organisasi.

f. Pengendalian Merupakan Elemen Manejemen Keperawatan

Pengendalian dalam menegemen dilakukan untuk

mengarahkan kegiatan menegemen susuai dengan dengan yang


17
direncanakan. Selain itu, pengendalian dilaksanakan pada kegiatan

yang dilakukan tidak banyak terjadi kesalahan yang berakibat

negative terhadap klien dan pihak yang terkait dengan manageman.

Pengendalian meliputi penilaian tentang pelaksanaan trencana yang

telah dibuat, pemberian instruksi, menetapkan prinsip-prinsip

melalui penetapan standar, dan membandingkan penampilan

dengan standar serta memperbaiki kekurangan. ( Agus Kuntoro,

2010 )  

4. Komponen Sistem

Manajemen keperawatan terdiri atas beberapa komponen yang

tiap – tiap komponen saling berinteraksi. Pada umumnya suatu sistem

dicirikan oleh 5 elemen, yaitu :

a. Input

Input dalam proses manajemen keperawatan antara lain

berupa informasi, personil, peralatan dan fasilitas.

b. Proses

Proses pada umumnya merupakan kelompok manajer dan

tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai keperawatan

pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan

perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam

pelaksanaan pelayanan keperawatan. Proses merupakan kegiatan

yang cukup pentinf dalam suatu sistem sehingga mempengaruhi

hasil yang diharapkan suatu tatana organisasi.


18
c. Output

Output atau keluaran yang umumnya dilihat dan hasil atau

kualitas pemberian asuhan keperawatan dan pengembangan staf

serta kegiatan penelitian untuk menindaklanjuti hasil/keluaran.

d. Kontrol

Kontrol dalam proses manajemen keperawatan dapat

dilakukan melalui penyusunan anggaran yang proposional, evaluasi

penampilan kerja perawat, pembuatan prosedur yang sesuai standar

dan akreditasi.

e. Mekanisme umpan balik

Mekanisme umpan balik dapat dilakukan melalui laporan

keuangan, audit keperawatan, dan survei kendali mutu, serta

penampilan kerja perawat.

5. Proses Manajeman Keperawatan

Manajemen pada proses keperawatan mencakup menejemen

pada berbagai tahap dalam keperawatan, yaitu :

a. Pengkajian

Yaitu langkah awal dalam proses keperawatan yang

mengharuskan perawat setepat mungkin mendata pengalaman masa

lalu pasien, pengetahuan yang dimiliki, perasaan, dan harapan

kesehatan dimasa datang.

19
b. Diagnosis

Merupakan tahap pengambilan keputusan professional

dengan menganalisis data yang telah dikumpulkan. Keputusan

yang diambil dapat berupa rumusan diagnosis keperawatan, yaitu

respon biopsikososio spiritual terhadap masalah kesehatan actual

maupun potensial.

c. Perencanaan

Perencanaan keperawatan merupakan dibuat setelah

perawat mampu memformulasikan diagnosis keperawatan. Perawat

memilih metode khusus dan memilih sekumpulan tindakan

alternatif untuk menolong pasien mempertahankan kesejahteraan

yang optimal.

d. Implementasi

Merupakan langkah berikutnya dalam proses keperawatan

semua kegiatan yang digunakan dalam memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien harus direncanakan untuk menunjang

Tujuan pengobatan medis, dan memenuhi Tujuan rencana

keperawatan. Implementasi rencana asuhan keperawatan berarti

perawat mengarahkan, menolong, mengobservasi, dan mendidik

semua personil keperawatan yang terlibat dalam asuhan pasien

tersebut.

20
e. Evaluasi

Evaluasi adalah pertimbangan sistematis dan standar dari

Tujuan yang dipilih sebelumnya, dibandingkan dengan penerapan

praktik yang actual dan tingkat asuhan yang diberikan. Evaluasi

keefektifan asuhan yang diberikan hanya dapat dibuat jika Tujuan

diidentifikasikan sebelumnya cukup realistis, dan dapat dicapai

oleh perawat, pasien, dan keluarga.

B. Konsep Manajemen Unit

2. Manajemen Unit

Menurut Nursalam (2009), manajemen unit terdiri dari:

a. Ruangan

1) Sarana Ruangan: Lingkungan kerja untuk pencapaian proses

manajerial keperawatan di ruang instalasi gawat darurat secara

keseluruhan mempunyai: ruang perawatan lengkap dengan

tempat tidur dan kamar mandi klien, ruang peralatan, ruang

perawat/nurse station berada ditengah ruang perawatan, ruang

kepala ruangan + kamar mandi, ruang ganti perawat + kamar

mandi perawat ruang konferensi, ruang administrasi, dapur dan

gudang serta depo farmasi.

2) Letak: jauh dari tempat keramaian seperti kantin, dekat dengan

ruang operasi dan pemeriksaan diagnostik, aman dan nyaman.

3) Posisi: dekat dengan nurse station dan depo farmasi.

21
4) Kondisi: pencahayaan cukup dan sesuai luas ruangan, besar

ruangan sesuai dengan jumlah tempat tidur, warna cat lembut,

tidak berjamur, bersih, pintu fleksibel dapat dilalui brankard,

bersih, tidak licin. Perbandingan kamar mandi dengan klien

tidak sesuai, lantai tidak licin, kurang bersih, letak terjangkau

oleh klien. Kasur bersih, dapat dirubah posisinya, terdapat side

rails, fasilitas ruangan tidak mengganggu delivery klien, sampiran

ada pada setiap tempat tidur klien. Terdapat papan penunjuk arah.

b. Alat dan bahan

1) Alat kesehatan (jumlah dan kondisinya): bak instrumen (besar,

sedang, kecil), bak steril, kom, pinset anatomis dan chirurgis,

gunting (jaringan, hecting, perban), bengkok, korentang dan

tempatnya.

2) Alat-alat tanda vital: tensimeter, stetoscope, termometer,

3) Alat-alat pemeriksaan fisik: refleks hammer, tongue spatel,

timbangan BB, pengukur TB, midline.

4) Alat transportasi: brankard, kursi roda

5) Emergency trolley

6) O2 dan manometer

7) Bahan habis pakai: alkohol, betadine, aquadest, savlon, H 2O2,

NaCI, cairan infus, lysol, spuit dengan berbagai ukuran, kapas,

kassa plester, set infus, kateter, NGT, kondom kateter, urine bag,

dan obat-obatan.
22
8) Alat-alat rumah tangga: meja, jam dinding, kursi, lemari

(besar dan kecil), lampu, alat makan (piring, sendok, gelas),

kompor, gayung, tempat sampah (medis, ATK, umum), kapstok

pakaian, keset, telepon dan white board.

9) ATK, amplop, buku ekspedisi, buku laporan, buku, lem,

perforator, spidol, formulir (perencanaan, pengkajian dan

implementasi) resume klien pulang/meninggal/dirujuk, grafik

suhu nadi, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan

radiologi).

c. Hubungan perawat-klien

1) Hubungan perawat-klien dimulai sejak klien masuk, selama

perawatan (pelaksanaan proses keperawatan) sampai klien pulang.

2) Pada profesi keperawatan, komunikasi menjadi lebih bermakna

karena merupakan metode utama dalam mengimplementasikan

proses keperawatan. Dengan kata lain kualitas asuhan yang

diberikan pada klien sangat lergantung pada hubungan perawat-

klien.

d. Hubungan perawat-perawat

1) Komunikasi antar perawat berjalan dengan baik.

2) Mekanisme pengambilan keputusan disesuaikan dengan kondisi.

3) Kegiatan serah terima klien dilakukan setiap pergantian dinas

dan berorientasi pada asuhan keperawatan yang telah

direncanakan.
23
a) Mengadakan ronde keperawatan dan supervisi khusus.

b) Mengadakan rapat bulanan secara rutin.

c) Media komunikasi antar perawat menggunakan buku

laporan, bukuronde dan whiteboard.

e. Hubungan perawat-profesi lain

1) Bekerjasama sebagai sebuah tim kesehatan untuk menangani

masalah tim

2) Komunikasi antar profesi berjalan dengan baik

3) Proses pendelegasian jelas dilakukan secara jelas dan tertulis

4) Tiap profesi membuat dokumentasi secara jelas

5) Saling menghargai antar profesi

3. Kekuatan Kerja

a. Manusia/Man

Jumlah tenaga perawat keseluruhan (professional lanut,

professional pemula, vokasional, dan lain-lain). Jenis ketenagaan

atau pendidikan keterampilan khusus yang dimiliki perawat yang

didapat melalui kursus atau pendidikan dan pelatihan. Jumlah

tenaga professional lainnya yang terkait meliputi: dokter, ahli gizi,

petugas lab, tenaga administrasi, dan cleaning service

(Nursalam,2007)

1) Untuk alat ukur dibuat berdasarkan rata-rata klien

membutuhkan perawatan

24
a) Minimal Care : 1 jam/hari

b) Intermidiate Care : 2 jam/hari

c) Maksimal Care : 2,5 jam/hari

2) Formula pembagian shif:

a) Pagi : 47%

b) Sore : 36%

c) Malam : 17%

3) Pembagian proporsi tenaga untuk asuhan langsung profesionall 55% :

45%

4) Jumlah hari libur dalam setahun:

a) Rata-rata hari minggu pertahun : 52 Hari

b) Libur Nasional : 15 Hari

c) Cuti Sakit : 7 Hari

d) Jumlah Hari Pertahun : 365 Hari

e) Jam Kerja Produktif : 7 Jam

5) Jumlah perawat (tenaga asuhan langsung)

Total kebutuhan jam perawatan/hari x Jumlah hari dalam setahun

(Jumlah hari dalam setahun – hari libur dalam setahun) x 7

6) Jumlah Tenaga Pendukung Asuhan

(Kapasitas unit/30 x jml shift x 20 jam)x jml hari /thn

(Jml hari dlm Setahun – hari libur dlm setahun) x 7

b. Uang/Money

25
Sumber keuangan dan pengelolaannya/pengeluarannya harus

jelas, dalam arti harus transparan. Untuk pengeluaran ada

perencanaan pengeluaran seperti untuk pengembangan program,

insentif perawat dan untuk lain-lain (Supriyatno, 2005).

c. Metode

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang

berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap

sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-4 tim /

grup yang terdiri dari tenaga profesional, tehnikal dan pembantu

dalam satu grup kecil yang saling membantu.

d. Material

Peralatan dan perlengkapan medis dan non medis:

1) Alat tenun

a) Alas kaki

b) Alas blankar

c) Duk bolong

d) Duk balutan

e) Gorden vitrase

2) Alat kedokteran dan kesehatan

a) Alat mandi: waskom mandi, standar waskom

b) Alat eliminasi: pispot, urinal, gelas ukur

c) Alat oksigenasi: manometer oksigen, roda oksigen besar,

kunci inggris, ambu bag


26
d) Pengukuran tanda-tanda vital: tensimeter, stetoskop,

termometer, timbangan berdiri, timbangan biasa, tongue

spatel

e) Alat transportasi: brankard, kursi roda, roda cucian

f) Machine: suction portabel, EKG, nebulizer

g) Lain-lain: vena seksi set, dressing cart, perlak, buli-buli

panas, standar infus, stabilisator listrik

h) Dressing set: pinset anatomis, pinset sirurgis, gunting

benang, gunting jaringan, kom besar tertutup, kom sedang,

kom kecil, korentang, gunting perban, bak instrumen

besar, bak instrumen sedang, bak instrumen kecil, baki

besar, bengkok besar, bengkok sedang, gunting besar,

benang, gunting jahitan

e. Marketing

Dilakukan dalam bentuk pemberian pendidikan kesehatan

tentang perawatan mandiri di rumah, penyediaan sarana pendidikan dan

pelayanan. Sasaran market adalah masyarakat umum (menerima klien

dengan KS, Askes, umum dan kontraktor).Sedangkan market dalam

bidang pendidikan dan pelayanan adalah peserta didik/calon praktisi

kesehatan

27
4. Konsep dasar SOP dan SAK

a) Pengertian SOP

1) Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk

mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk

mencapai tujuan organisasi.

2) SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan

yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja

tertentu.

b) Tujuan SOP

1) Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja

petugas/pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.

2) Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi

dalam organisasi

3) Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari

petugas/pegawai terkait.

4) Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari

malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya.

5) Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi

dan inefisiensi

28
c) Fungsi SOP :

1) tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.

2) Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.

3) Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah

dilacak.

4) Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin

dalam bekerja.

5) Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.

d) Penerapan SOP

1) SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan

2) SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah

dilakukan dengan baik atau tidak

3) Uji SOP sebelum dijalankan, lakukan revisi jika ada perubahan

langkah kerja yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja.

e) Keuntungan adanya SOP

1) SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi

alat komunikasi dan pengawasan dan menjadikan pekerjaan

diselesaikan secara konsisten

2) Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja

dan tahu apa yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan

3) SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning

dan bisa digunakan untuk mengukur kinerja pegawai.

29
Dalam menjalankan operasional perusahaan, peran pegawai

memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat signifikan. Oleh

karena itu diperlukan standar-standar operasi prosedur sebagai

acuan kerja secara sungguh-sungguh untuk menjadi sumber

daya manusia yang profesional, handal sehingga dapat

mewujudkan visi dan misi perusahaan.

f) Pengertian SAK

Standar praktek keperawatan adalah suatu pernyataan yang

menguraikan suatu kualitas yang diinginkan terhadap pelyanan

keperawatan yang diberikan untuk klien (Gillies, 1989). Fokus

utama standar praktek keperawatan adalah klien. Digunakan

untuk mengetahui proses dan hasil pelayanan keperawatan

yang diberikan dalam upaya mencapai pelayanan keperawatan.

Melalui standar praktek dapat diketahui apakah intervensi atan

tindakan keperawatan itu yang telah diberi sesuai dengan yang

direncanakan dan apakah klien dapat mencapai tujuan yang

diharapkan. Tipe standar praktek keperawatan :Beberapa tipe

standar telah digunakan untuk mengarahakan dan mengontrol

praktek keperawatan. Standar dapat berbentuk ‘normatif’ yaitu

menguraikan praktek keperawatan yang ideal yang

menggambarkan penampilan perawat yang bermutu tinggi,

standar juga berbentuk ‘empiris’ yaitu menggambarkan praktek

keperawatan berdasarkan hasil observasi pada sebagaian besar

30
sarana pelayanan keperawatan (Gillies 1989). Secara umum

standar praktek keperawatan ditetapkan untuk meningkatkan

asuhan atau pelayanan keperawatan dengan cara memfokuskan

kegiatan atau proses pada usaha pelayanan untuk memenuhi

kriteria pelayanan yang diharapkan. Penyusunan standar

praktek keperawatan berguna bagi perawat, rumah

sakit/institusi, klien, profesi keperawatan dan tenaga kesehatan

lain.

C. METODE TIM

1. Konsep Metode TIM

a. Pengertian Metode TIM

Setelah bertahun-tahun menggunakan Model Fungsional, beberapa

pimpinan keperawatan (nursing leader) mulai mempertanyakan

keefektifan model tersebut dalam pemberian asuhan keperawatan

profesional.  Oleh karena adanya berbagai jenis tenaga dalam

keperawatan, diperlukan adanya supervisi yang adekuat, maka pada

tahun 1950 dikembangkan Model Tim dalam pelayanan asuhan

keperawatan.

Model Tim merupakan suatu model pemberian asuhan keperawatan

dimana seorang perawat professional memimpin sekelompok tenaga

keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada sekelompok

klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif (Douglas, 1984).

31
Konsep model ini didasarkan kepada falsafah bawah sekelompok

tenaga keperawatan bekerja secara bersama-sama secara terkoordinasi

dan kooperatif sehingga dapat berfungsi secara menyeluruh dalam

memberikan asuhan keperawatan kepada setiap pasien.

Model Tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota

kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan

asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab

perawat yang tinggi, sehingga setiap anggota tim merasakan kepuasan

karena diakui kontribusinya di dalam mencapai tujuan bersama yaitu

mencapai kualitas asuhan keperawatan yang bermutu.  Potensi setiap

anggota tim saling komplementer menjadi satu kekuatan yang dapat

meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta timbul rasa

kebersamaan dalam setiap upaya pemberian asuhan keperawatan,

sehingga dapat menghasilkan sikap moral yang tinggi.

a. Tujuan Metode Tim, yaitu:

1) Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif

2) Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar

3) Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda

Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus

berdasarkan konsep berikut:

1) Ket

ua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan

tehnik kepemimpinan.

32
2) Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana

keperawatan terjamin.

3) Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.

4) Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan

berhasil baik bila didukung oleh kepala ruang.

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota

yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan

terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi

2–4 tim/ group yang terdiri dari tenaga professional, tehnikal

dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu.

Dalam penerapannya ada kelebihan dan kelemahannya yaitu

(Nursalam, 2009).

a) Kelebihan :

1) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang

menyeluruh.

2) Mendukung pelaksanakaan proses keperawatan.

3) Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik

mudah diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota

tim.

b) Kelemahan :

Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam

bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu

dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk.

33
b. Tanggung Jawab Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan

Profesional (MAKP) Tim (Nursalam, 2009)

1) Tanggung jawab kepala ruangan

a) Perencanaan

(1) Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan

masing- masing.

(2) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.

(3) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat,

transisi dan persiapan pulang bersama ketua tim.

(4) Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan

berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama

ketua tim, mengatur penugasan / penjadwalan.

(5) Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.

(6) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi,

patofisiologis, tindakan medis yang dilakukan,

program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter

tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.

(7) Mengatur dan mengendalikan asuhan keparawatan:

(a) Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan.

(b) Membimbing penerapan proses keperawatan dan

menilai asuhan keperawatan.

(c) Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.

34
(d) Memberikan informasi kepada pasien atau

keluarga yang baru masuk RS.

(e) Membantu mengembangkan niat pendidikan dan

latihan diri.

(f) Membantu membimbing terhadap peserta didik

keperawatan.

(g) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan

di rumah sakit.

b) Pengorganisasian

(1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan

(2) Merumuskan tujuan metode penugasan.

(3) Membuat rincian tugas tim dan anggota tim secara

jelas.

(4) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2

ketua tim dan ketua tim membawahi 4-5 perawat.

(5) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.

(6) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik.

(7) Mendelegasikan tugas kepala ruang tidak berada di

tempat, kepada ketua tim.

(8) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus

administrasi pasien.

(9) Identifikasi masalah dan cara penanganannya.

35
c) Pengarahan

(1) Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada

ketua tim.

(2) Memberikan pujian kepada anggota tim yang

melaksanakan tugas dengan baik.

(3) Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan,

keterampilan dan sikap.

(4) Menginformasikan hal – hal yang dianggap penting dan

berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien.

(5) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.

(6) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan

dalam melaksanakan tugasnya.

(7) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.

d) Pengawasan

(1) Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi

langsung dengan ketua tim dalam pelaksanaan

mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada

pasien.

(2) Melalui supervisi:

(a) Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati

sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan

dan memperbaiki / mengawasi kelemahannya yang

ada saat itu juga.

36
(b) Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar

hadir ketua tim, membaca dan memeriksa rencana

keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan

sesudah proses keperawatan dilaksanakan

(didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim

tentang pelaksanaan tugas.

(c) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan

membandingkan dengan rencana keperawatan

yang telah disusun bersama ketua tim.

(d) Audit keperawatan.

2) Tanggung Jawab Ketua Tim

a) Mengkaji setiap pasien dan menetapkan rencana

keperawatan.

b) Mengkoordinasi rencana keperawatan dengan tindakan

medik.

c) Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap

anggota tim dan memberikan bimbingan melaui pre atau

post conference.

d) Mengevaluasi asuhan keperawatan baik proses ataupun

hasil yang diharapkan serta mendokumentasikannya.

3) Tanggung Jawab Anggota Tim

a) Melaksanakan tugas berdasarkan rencana asuhan

keperawatan yang telah disusun.

37
b) Mencatat dengan jelas dan tepat asuhan keperawatan yang

telah diberikan berdasarkan respon pasien.

c) Berpartisipasi dalam setiap memberikan masukan untuk

meningkatkan asuhan keperawatan.

d) Menghargai bantuan dan bimbingan dari ketua tim.

Pelaksanaan model tim tidak dibatasi oleh suatu pedoman

yang kaku.  Model tim dapat diimplementasikan pada tugas

pagi, sore, dan malam.  Apakah terdapat 2 atau 3 tim tergantung

pada jumlah dan kebutuhan serta jumlah dan kualitas tenaga

keperawatan.  Umumnya satu tim terdiri dari 3-5 orang tenaga

keperawatan untuk 10-20 pasien.

Berdasarkan hasil penelitian Lambertson seperti dikutip

oleh Douglas (1984), menunjukkan bahwa model tim bila

dilakukan dengan benar merupakan model asuhan keperawatan

yang tepat dalam meningkatkan pemanfaatan tenaga

keperawatan yang bervariasi kemampuannya dalam

memberikan asuhan keperawatan.  Hal ini berarti bahwa model

tim dilaksanakan dengan tepat pada kondisi dimana kemampuan

tenaga keperawatan bervariasi.

Kegagalan penerapan model ini, jika penerapan konsep

tidak dilaksanakan secara menyeluruh/ total dan tidak dilakukan

pre atau post conference dalam sistem pemberian asuhan

38
keperawatan untuk pemecahan masalah yang dihadapi

pasiendalam penentuan strategi pemenuhan kebutuhan pasien.

Gambar 2.1 Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Metode Tim

39
2. Efisiensi Ruang Rawat

Efisiensi ruang rawat merupakan salah satu aspek dalam mutu

pelayanan kesehatan, menyangkut pemanfaatan semua sumber daya di

rumah sakit secara berdaya guna dan berhasil guna dapat dilihat dari

segi ekonomi dan medis, dimana pasien dirawat dan tinggal di rumah

sakit untuk jangka waktu tertentu, untuk pasien yang memerlukan

asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara

berkesinambungan lebih dari 24 jam (Posma, 2009) di kutip dari

Anggraini 2010.

Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk

mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah

sakit. Indikator-indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat

inap:

a. BOR (Bed Ocupancy Ratio = (Angka pengguanaa tempat tidur)

BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service

days to inpatient bed count days in a periode under consideration”.

Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah presentase

pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini

memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan

tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah

antara 60-85% (Depkes RI, 2005).

40
Rumus:

jumlahhariperawatandirumahsakit
¿¿

b. ALOS (Average Lenght of Stay = Rata-rata lamanya pasien

dirawat)

ALOS menurut Huffman (1994) adalah “The average

hospitalization stay of inpatient discharge during the periode under

consideration”. ALOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata

lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan

gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu

pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat

dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara

umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).

Rumus:

jumlahlamadirawat
jumlahpasienkeluar ( hidup +mati )

C. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)

TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur

tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini

memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya

tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.

Rumus:

¿¿

41
c. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tepat tidur)

BTO menurut Huffman (1994) adalah “... the net effect of

changed in occupancy ratye and lenght of stay”. BTO menurut

Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempattidur pada

satu periode, berapa kali tempat tidur dipaka dalam satu satuan

waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-

rata dipakai 40-50 kali.

Rumus:

jumlah pasien dirawat ( hidup +mati )


jumlahtempat tidur

d. NDR (Net Death Rate)

NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam

setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini

memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.

Rumus:

jumlah pasien mati> 48 jam


x 100 %
jumlah pasien keluar(hidup+mati )

e. GDR (Gross Death Rate)

GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian

umum untuk setiap 1000 penderita keluar.

Rumus:

jumlah pasienmatiseluruhnya
x 100 %
jumlahpasienkeluar ( hidup +mati )

3. Discharge Planning

42
Kozier (2004) mendefenisikan discharge planning

sebagai proses mempersiapkan pasien untuk meninggalkan satu

unit pelayanan kepada unit yang lain didalam atau di luar suatu

agen pelayanan kesehatan umum.

Perencanaan pulang didapatkan dari proses interaksi

dimana perawatan professional, pasien dan keluarga berkolaborasi

untuk memberikan dan mengatur kontinuitas keperawatan yang

diperlukan oleh pasien dimana perencanaan harus berpusat pada

masalah pasien, yaitu pencegahan, teurapeutik, rehabilitative, serta

perawatan rutin yang sebenarnya (Swanberg, 2000).

Rindhianto (2008) mendefinisikan discharge planning

sebagai perencanaan kepulangan pasien dan memberikan informasi

kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari

dan dilakukan sehubunagan dengan kondisi penyakitnya.

Discharge planning (perencanaan pulang) merupakan

komponen sistem perawatan berkelanjutan, pelayanan yang

diperlukan klien secara berkelanjutan dan bantuan untuk perawatan

berlanjut pada klien dan membantu keluarga menemukan jalan

pemecahan masalah dengan baik, pada saat tepat dan sumber yang

tepat dengan harga yang terjangkau (Doenges & Moorhouse,

2000).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa discharge planning adalah

komponen sistem perawatan berkelanjutan sebagai perencanaan

43
kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada pasien dan

keluarganya yang dituliskan untuk meninggalkan satu unit

pelayanan kepada unit yang lain didalam atau diluar suatu agen

pelayanan kesehatan umum, sehingga pasien dan keluarganya

mengetahui tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan

sehubunagan dengan kondisi penyakitnya.

a. Tujuan Discharge Planning

Tujuan dari dilakukannya discharge planning sangat baik

untuk kesembuhan dan pemulihan pasien pasca pulang dari rumah

sakit. Menurut Nursalam (2011) tujuan discharge

planning/perencanaan pulang antara lain sebagai berikut:

1) Menyiapkan pasien dan keluarga secara fisik, psikologis, dan

sosial.

2) Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga.

3) Meningkatkan keperawatan yang berkelanjutan pada pasien.

4) Membantu rujukan pasien pada sistem pelayanan yang lain

5) Membantu pasien dan keluarga memiliki pengetahuan dan

keterampilan serta sikap dalam memperbaiki serta

mempertahankan status kesehatan pasien

6) Melaksanakan rentang keperawatan antara rumah sakit dan

masyarakat.

Di dalam perencanaan pulang, terdapat pemberian edukasi atau

discharge teaching dari tim kesehatan. Menurut William &

44
Wilkins (2009) discharge teaching harus melibatkan keluarga

pasien atau perawat lainnya untuk memastikan bahwa pasien

mendapatkan home care yang tepat. Discharge teaching bertujuan

agar pasien :

1) Memahami mengenai penyakitnya

2) terapi obat secara efektif

3) Mengikuti aturan diet secara hati-hati

4) Mengatur level aktivitasnya

5) Mengetahui tentang perawatan yang dilakukan

6) Mengenali kebutuhan istirahatnya

7) Mengetahui komplikasi yang mungkin dialami

8) Mengetahui kapan mencari follow up care

b. Manfaat Discharge Planning

1) Bagi Pasien:

a) Dapat memenuhi kebutuhan pasien

b) Merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari proses

perawatan sebagai bagian yang aktif dan bukan objek yang

tidak berdaya.

c) Menyadari haknya untuk dipenuhi segala kebutuhannya

d) Merasa nyaman untuk kelanjutan perawatannya dan

memperoleh support sebelum timbulnya masalah.

e) Dapat memilih prosedur perawatannya

45
f) Mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan mengetahui siapa

yang dapat dihubunginya.

2) Bagi Perawat:

a) Merasakan bahwa keahliannya di terima dan dapat di

gunakan

b) Menerima informasi kunci setiap waktu

c) Memahami perannya dalam system

d) Dapat mengembangkan ketrampilan dalam prosedur baru

e) Memiliki kesempatan untuk bekerja dalam setting yang

berbeda dan cara yang berbeda.

f) Bekerja dalam suatu system dengan efektif.

c. Prinsip-Prinsip Disharge Planning

1) Pasien merupakan focus dalam perencanaan pulang, nilai

keinginan dan kebutuhan dari pasien perlu dikaji dan

dievaluasi.

2) Kebutuhan dari pasien diidentifikasi, kebutuhan ini dikaitkan

dengan masalah yang mungkin timbul pada saat pasien pulang,

nanti, sehingga kemungkinan masalah yang timbul di rumah

dapat segera antisipasi.

3) Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif, perencanaan

pulang merupakan pelayanan multidisiplin dan setiap tim harus

saling bekerja sama.

46
4) Perencanaan pulang disesuaikan dengan sumber daya dan

fasilitas yang ada, tindakan atau rencana yang akan dilakukan

setelah pulang disesuaikan dengan pengetahuan dari tenaga

yang tersedia maupun fasilitas yang tersedia di masyarakat.

5) Perencanaan pulang dilakukan pada setiap sistem pelayanan

kesehatan, setiap klien masuk tatanan pelayanan maka

perencanaan pulang harus dilakukan.

d. Jenis-jenis Discharge Planning

1) Conditioning discharge (pulang sementara atau cuti), keadaan

pulang ini dilakukan apabila kondisi pasien baik dan tidak

terdapat komplikasi. Pasien untuk sementara dirawat dirumah

sakit namun harus ada pengawasan dari pihak rumah sakit atau

puskesmas terdekat.

2) Absolute discharge (pulangmutlak atau selamanya) cara ini

merupakan akhir dari hubungan pasien dengan rumah sakit,

namun apabila pasien perlu dirawat kembali, maka prosedur

perawatan dapat dilakuakan kembali.

3) Judicial discharge (pulang paksa), kondisi ini pasien

diperbolehkan pulang walaupun kondisi kesehatan tidak

memungkinkan untuk pulang, tetapi pasien hrus dipantau

dengan melakukan kerja sama dengan perawatan puskesmas

terdekat.

e. Alur Discharge Planning

47
Gambar 2.2 Alur Discharge Planning

Dokter dan Tim Kesehatan PP dibantu PA

Keadaan Pasien:

1. Klinis dan pemeriksaan


penunjang lain
2. Tingkat ketergantungan
Pasien

Perencanaan Pulang

Penyelesaian administrasi Program kontol, obat, dan Lain - lain


perawatan
Gizi
Aktivitas dan istirahat
Perawatan diri

Monitor (sebagai program


service safety) oleh:
keluarga dan petugas

48
BAB III
MANAJEMEN RUANGAN INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)
RSD GUNUNG JATI KOTA CIREBON

49
TAHUN 2019

A. Gambaran Umum Rumah Sakit


1. Gambaran Rumah Sakit
Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Kota Cirebon di bentuk
pertama kali melalui pengajuan oleh Dewan Kota Cirebon pada tahun
1919. Kemudian pada tanggal 14 maret 1920 dilaksanakan peletakan
batu pertama pembanguan gedung rumah sakit yang terletak di jalan
kesambi. Rumah sakit selesai di bangun dan di remikan pada tanggal 31
agustus 1921 oleh De Burgermeester Van Cheribon sehinggal pada
tanggal 31 agustus 1921 ditetapkan sebagai hari lahir RSUD Gunung Jati
Kota Cirebon. Pembangunan rumah sakit yang pada aktu di nilai sangat
mewah dan mahal biayanya adalah $. 544.00,. (lima ratus empat puluh
empat gulden) yang diperoleh dari gemeente Van Chirebon ditambah
dana dari pabrik gula se wilayah cirebon serta dana dari para dernawan.
Rumah sakit mulai berfungsi pada tanggal 1 september 1921
sebagai Gemeemtelijk Ziekenhuis dengan nama Oranye Zeinhuis
(Rumah Sakit Oranye), dibawah pimpinan dr. E. Gottlieb, sebagai rumah
sakit yang pertama dengan kapasitas 133 tempat tidur. Data mengenai
perkembangan selanjutnya adalah antara tahun 1922-1929 didapat dari
buku peringatan 50 Tahun Kota Besar Tjirbon, yang mengutarakan
perkembangan jumlah hari perawatan dari 4 macam kelas perawatan dari
tahun 1922-1929. Kemudian antara tahun 1930-1940 tidak banyak
diketahui karena tidak ada data dan informasi.
Pada tanggal 1 maret 1942 seluruh Rumah Sakit Oranye beserta
sarananya di evakuasikan ke Rumah Sakit Sidawangi selama lebih
kurang 2 minggu dan setelah kembali ke Kota Cirebon pada tanggal 15
maret 1942 nama rumah sakit berubah menjadi Rumah Sakit Kesambi.
Pada tanggal 8 November 1975 nama rumah berubah menjadi Rumah

50
Sait Gunung Jati Kelas D dengan surat keputusan DPRD Kotamadya
Daerah Tingkat II Cirebon No : 30/DPRD/XI/75.
Selanjutnya pada tanggal 22 februari 1979 rumah sakit
ditingkatkan kelasnya menjadi rumah Sakit Gunung Jati Kelas C dengan
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
41/MENKES /SK/II/79. Pada tanggal 21 Januari 1987 ditingkatkan lagi
menjadi Rumah Sakit Gunung Jati Kelas B dengan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 41/MENKES/SK/I/87.
Pada tanggal 30 Januari 1989 Rumah Sakit ditetapkan menjadi
Rumah Sakit Gunung Jati Kotamadya Daerah Tingkat II Cirebon Kelas
B, dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Kelas B sejak
tanggal 1 April 1996 061/350 / SJ. Dalam pengelolaan keuangan.dengan
Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II cirebon Nomor 15
Tahun 1995 ditetapkan sebagai unit swadana Daerah.
Dalam upaya peningkatan pelayanan, maka pada tahun 1997
dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: YM 02.o3.3.5.5237.
RSD Gunung Jati Kota Cirebon ditetapkan dengan status Akreditasi
penuh 5 Kelompok Pelayanan Pada tanggal 15 Februari 1998
berdasarkan perintah dari Departemen Kesehatan melalui surat keputusan
Menteri Kesehatan Nomor: 153 / MENKES / sk / IT / 1998 Rumah Sakit
Umum Daer Gunung Jati Kota Cirebon ditetapkan menjadi Rumah sakit
kelas B yang peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat tanggal
20 April 1999 berdasarkan Surat Keputusan Mendagri Nomor: 445.03-
1023 tanggal 12 November 1998.
Seiring dengan perubahan paradigma penyelenggaraan otonomi
daerah maka berdasarkan Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor: 5
Tahun 2002 maka Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Kota Cirebon
ditetapkan sebagai Lembaga Teknis Daerah Kota Cirebon, berbentuk
badan dibawah dan bertanggungjawab kepada walikota melalui sekotda.
Di dalam PP No. 41 tentang: Pedoman organisasi Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 09) (Tambahan Lembaran Negara

51
Nomor 4741) termasuk Rumah Sakit Daerah akan diatur dengan
keputusan Presiden. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Badan Layanan Umum (BLU) dan dengan Keputusan
walikota Nomor 445 / Kep 359 DPPKD / 2009 pada tanggal 14
Desember 2009 Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Kota Cirebon
ditetapkan sebagai Rumah Sakit dengan Pola Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD).
Pada tanggal 2 Agustus 2011, Rumah Sakit Daerah Gunung Jati
Kota Cirebon diterjemahkan LULUS 16 layanan oleh Tim Akreditasi
Rumah Sakit dengan sertifikat EL KARS / SERF / 40 / VIII / 2011 yang
berlaku sampai dengan 2 Agustus 2014. Pada Tanggal 10 Agustus 2011
Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Kota Cirebon KONSEKSI Rumah
Sakit Berprestasi Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB)
Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2011. Kemudian pada bulan oktober
2012 Rumah Sakit Umum Daerah ta Cirebon mendapatkan penghargaan
sebagai Rumah Sakit ounung Jati Kelas B Pendidikan Utama Klasifikasi
Utama A.
Rumah sakit Daerah Gunung Jati adalah salah satu rumah sakit
daerah kelas B pendidikan utama klasifikasi utama kelas A di Kota
Cirebon pada bulan Oktober 2012. Kemudian pada tanggal 15 Desember
2015 RSD Gunung Jati meraih kelulusan Akreditasi Standar Versi 2012
Tingkat Paripurna dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit KARS yang
menjadi rumah sakit rujukan dari rumah sakit kabupaten. Pelayanan
Gawat Darurat RSD Gunung jati terdapat instalasi Gawat Darurat (IGD)
dan laboratorium IGD yang melayani 24 jam. Ruang Perawatan RSD
Gunung jati terdiri dari Ruang rawat jalan dan rawat inap, Ruang HCU,
ICU, ICCU, NICU, dan PICU, pusat pelayanan maternal dan perinatal
instalasi bedah sentral, dignostik dan non diagnostic, klinik khusus ODC
(One Day Care), dan hemodialisa, pendidikan dan penelitian pusat
pelayanan terpadu (PPT), Stroke Unit, klinik HOT (Hematologi,
Onkologi, dan Thalasemia), dan Cath Lab.

52
RSD Gunung Jati kota Cirebon di pimpin oleh direktur rumah
sakit yang membawahi 3 wakil direktur (wadir). Wadir tersebut adalah :
(1) Wadir Pelayanan Medis dan Keperawatan
Membawahi bidang pelayanan medis dan bidang
keperawatan.Masing-masing kepala bidang memebawahi kepala
seksi.
(2) Wadir Penunjang Medis dan Pendidikan
Membawahi bidang penunjnag medis dan bidang DIKLITBANG
dan pemasaran.Masing-masing kepala bidang membawahi kepala
seksi.
(3) Wadir Umum dan Keuangan
Membawahi bagian umum, bagian keuangan dan bagian
perencanaan serta rekam medis.Masing-masing kepala bidang
membwahi sub-bagian.
(4) Komite Profesi
Membawahi staf komite medis, komite keperawatan, komite
NAKES lainnya.
2. Gambaran Umum Ruang IGD
Ruang IGD adalah ruangan yang menyediakan penanganan awal bagi
pasien yang menderita sakit dan cedera, yang dapat mengancam
kelangsungan hidupnya tanpa batasan usia. Ruang IGD memiliki
kapasitas tempat tidur sebanyak 29 buah, terdiri dari 1 kamar isolasi
(terdiri dari 2 bed), 1 kamar khusus penyakit dalam (terdiri dari 8 bed), 1
kamar khusus penyakit bedah (terdiri dari 6 bed), 1 kamar khusus
resusitasi (terdiri dari 6 bed), dan 1 kamar khusus neonatus (terdiri dari 3
bed), 1 khusus kamar observasi obgyn (terdiri dari 2 bed), 1 ruang obgyn
(terdiri dari 2 bed). Terdapat pula ruang kepala ruangan, wakil, ruang
dokter, ruang administrasi, nurse rest, ruang linen kotor, ruang penunggu
pasien, janitor, gudang, depo obat, nurse station, dan kamar mandi.
Dalam pelaksanaan kegiatan di ruang IGD dilaksanakan oleh sumber
daya manusia sebagai profesi pemberi asuhan terdiri dari tenaga dokter,

53
keperawatan, bidan, tenaga medis, farmasi, rehkam medis, dan tenaga
kesehatan lainnya yang menjalankan administrasi membantu
terlaksananya kegiatan keperawatan.

3. Gambaran Manajemen Ruang IGD

KEPALA RUANGAN

Haerul Gumilar, SST


54
Wakil Kepala Instalasi
Manajer Pelayanan pasien
Dr. H. Dasa Sahiadi, SP.BS

KATIM

Atisah, S.kep, Ners

PONEX PENJA DALAM PENJA ANAK


PENJA BEDAH

Dr. FERNANDO Neneng Isti S., S.Kep Junaedi., S.Kep Ners, Eti Hartati, SST
Ners M.Kep

NEONATUS OBGYN
4.
Ria Ayu Lestari, S.Kep, Ners Imas, SST
REGU 1 REGU 2
Abdulloh S, S.Kep., Ners
5. Arief Setiady, S.Kep., Ners
Erti, S.Kep., Ners
Dian N, S.Kep., Ners
PARTUS PEB Moh. Irfan, Amd. Kep M. Abdul G, Amd. Kep
Rifki F, Amd. Kep
Ita, Amd.Keb Angga A, S.Kep., Ners
Fitri, Amd.Keb M. Antareza, S.Kep., Ners Obi Darmawan, Amd. Kep
Nurul F F, S.Kep., Ners Ria Febrina, S.Kep
Epon Yuningsih, Amd. Kep Imas R, SST
IMD Dwi Astuti M,SST Tiara Ines W, Amd. Kep
Putri Pratiwi, Amd.Keb
Imas, SST

RESPON TIME 6.KEMATIAN REGU 3 REGU 4


Sri Nurhayati, S.Kep., Ners
Renti.H, Amd.Keb Dwi AR, Amd.Keb Wirya Agus, Amd. Kep
Mulyatiningsih, Amd. Kep
Rian S, Amd. Kep
H. Suhana, S.Kep, M. Kes
Tommy J, Amd. Kep
RUJUKAN Sandi Eka G S.Kep., Ners
Ace Fauzan S.Kep., Ners
Aggi Septiana, Amd. Kep
Ria Ayu L, S.Kep., Ners
Dwi Astuti M,ST Yusuf Nugraha, Amd. Kep
Dwi Andi R, Amd. Keb
Anggi P Y, S.Kep., Ners
Fitri Nuraisah, Amd. Keb
Eli Nurhaeni, Amd. Kep
Meily Noor P, Amd. Keb
Ita K, Amd. Keb
Renti H, Amd. Keb

ADMINISTRASI POS PORTIR

Hady K, Abdullah, Sri Susanti, Mei Riva R, Niko I, Ebi


Suhardiman, Prasaja
P, Hadi, Syarif H

3.1 Bagan Struktur Organisasi

B. Kajian/Analisis Situasi
1. Kajian Situasi Rumah Sakit

55
a. Visi Rumah sakit
 Terwujudnya Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Kota Cirebon
Sebagai Rumah Sakit Rujukan Terdepan Di Jawa Barat Tahun
2023.
b. Misi Rumah Sakit
 Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan.
 Meningkatkan pemenuhan sarana prasarana dan sumber daya
manusia yang berkualitas.
 Meningkatkan mutu rumah sakit daerah gunung jati kota cirebon
sebagai rumah sakit pendidikan.
c. Moto Rumah Sakit
 CeRIa : Cepat , Ramah Dan Ilmiah
 Melayani dengan hati
d. Sifat, Maksud, dan Tujuan Rumah Sakit
RSD Gunung Jati Kota Cirebon Kelas B Pendidikan
merupakan unsur pendukung otonomi daerah di bidang kesehatan,
dipimpin oleh seorang Direktur, berada dibawah dan
bertanggungjawab kepada Walikota melalui Sekertaris Daerah.
Organisasi dan Tata Kerja RSD Gunung Jati Kota Cirebon
mempunyai tugas pokok membantu Walikota dalam penyelenggaraan
pemerintah kota di bidang teknis kesehatan dengan metode atau cara
penyembuhan maupun pemulihan yang dilaksanakan secara serasi,
terpadu melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
serta melaksanakan upaya rujukan dan menyelenggarakan kegiatan
pendidikan sesuai dengan fungsi sebagai Rumah Sakit Pendidikan
tipe
e. Tujuan Rumah Sakit Gunung Jati diantaranya adalah :
1) Meningkatkan pelayanan kesehatan lanjutan.
2) Meningkatkan pelayanan administrasi dan manajemen.
3) Meningkatkan kualitas pendidikan sebagai rumah sakit
pendidikan utama.

56
2. Kajian/ Analisis Situasi Ruang Rawat IGD
a. Karakteristik Unit
1) Visi Ruangan
Terwujudnya pelayanan kesehatan IGD sebagai Rumah
Sakit Rujukan Terdepan Di Jawa Barat Tahun 2023.
2) Misi Ruangan
a. Meningkatkan
pelayanan gawat darurat yang mengutamakan
keselamatan pasien.
b. Meningkatkan
pemenuhan sarana prasarana dan SDM ruang IGD yang
berkualitas.
c. Meningkatkan
mutu Ruang IGD sebagai rumah sakit pendidikan.
3. Sifat Kekaryaan Ruangan
a) Fokus telaah
Fokus telaah ruang IGD RSD Gunung Jati dalam bidang pelayanan
yaitu melayani pasien yang gawat darurat tanpa batasan umum baik laki-
laki maupun yang langsung ditangani sesuai triase.
b) Lingkup garapan
Lingkup garapan dalam bidang pelayanan di IGD adalah
penanganan gawat darurat berdasarkan fokus telaah penyakit dalah,
bedah, dan resusitasi meliputi segala gangguan atau hambatan
pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang terjadi akibat perubahan
fisiologis pada semua sistem meliputi system kardiovaskuler, system
pernafasan, system pencernaan, sistem endokrin, sistem perkemihan,
sistem integumen, system persyarafan baik aktual maupun potensial
yang gawat, darurat, dan gawat darurat.
c) Basis Intervensi
Intervensi yang dilakukan di Ruang IGD mengacu pada
teori Nanda & NIC NOC serta SDKI, SIKI & SLKI.

57
Namun,dalam pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan
kemampuan perawat pelaksananya
d. Model Layanan
Di ruang IGD menggunakan model pelayanan

keperawatan metode TIM dimana terdapat 4 TIM yaitu TIM I, II,

III dan TIM IV, metode ini sudah terlaksana untuk saat ini.

e. Letak Ruangan
Letak ruangan IGD sangat strategis dengan ruangan

penunjang lain, diantaranya IGD langsung depan pintu gerbang,

dekat dengan ruangan intrensif-intensif yang lain seperti ruang

VK, NICU, ICCU, ICU, HCU, dan OK Central. Adapun denah

untuk ruang IGD adalah sebagai berikut : (terlampir).

f. Kapasitas Unit Ruangan


a) Fasilitas Tentang Bangunan
Tabel 3.1 Kapasitas Unit Ruangan
N
FASILITAS RUANGAN JUMLAH
O
1 JUMLAH TEMPAT TIDUR
RUANG BEDAH 6
RUANG DALAM 8
RUANG RESUSITASI 6
RUANG NEONATUS 3
RUANG OBGYN 2
RUANG OBSERVASI OBGYN 2
RUANG ISOLASI 2
2 JUMLAH KAMAR MANDI 5
3 JUMLAH TEMPAT TIDUR 29/26
TRANSFER/BRANKAR
4 DEPO OBAT/APOTEK IGD 1
5 RUANGAN LAIN
Ruang kepala instalasi/wakil 1
Ruang Kepala Ruangan 1
Ruang Dokter 1

58
Ruang Administrasi 1
Nurse Rest 1
Ruang linen kotor 1
Ruang/Loby Penunggu Pasien 1
Janitor 1
Gudang 1
Nurse Station 1

Berdasarkan tabel 3.1 diatas menggambarkan bahwa Ruangan IGD


kurang memenuhi standar sebagai ruang IGD terpadu karena masih
kekurangan bed dan ruangan yang terbatas juga alat-alat medis yang
terbatas.
b) Fasilitas Kegawatan Pasien
Tabel 3.2. Fasilitas Kegawatan Pasien

NO NAMA ALAT JUMLAH

1 VENTILATOR 5

2 INFANT WARMER 3

3 STETOSKOP LITT MAN 3

4 STETOSKOP PEDIATRIK 4

5 EMERGENCY SET 3

6 LARINGOSKOP 5

7 AMBU BAG 3

8 OXIGEN REGULATOR 3

9 OXYGEN REGULATOR
15
CERMAL
10 BEDSIDE MONITOR 6

11 TENSI METER MOBILE 5

12 LED
RECHANGEACLEHEAD
1
LIGHT

59
13 VITAL SIGN 2

14 BLOOD WARMER
1
INFUSION
15 SYIRINGE PUMP 5

16 NEO BOX 1

17 REFLEKS HUMER 1

18 CIG 1

19 DOPLER 2

20 EKG 2

21 SUCTION 4

22 INFUS PUMP 2

23 NEBULIZER 3

24 OXIMETRI 1

25 INCUBATOR 2

26 MINOR SURGICAL SET 3

27 TIMBANGAN 3

28 STERILISATOR 1

Berdasarkan tabel 3.2 menunjukkan bahwa fasilitas kegawatan


untuk menangani pasien gawat darurat sebagian besar dalam kondisi baik,
c) Fasilitas Keperawatan
Tabel 3.3. Fasilitas Keperawatan
N FASILITAS
JUMLAH KET
O KEPERAWATAN
1 Timbangan BB 3 Baik
2 Tensimeter Air Raksa 6 Baik
3 Stetoskop 5 Baik
4 Urinal Pot 2 Baik
5 Lampu tindakan 1 Baik
6 Standar Infus kaki 5 11 Baik
7 Termometer elektrik 3 Baik

60
Berdasarkan tabel 3.3 menunjukkan bahwa fasilitas
keperawatan dalam menunjang perawatan pasien gawat darurat
sebagian besar dalam kondisi baik, hanya dalam hal ini masih
kekurangan thermometer dan pispot.
a. Analisis Pasien
1) Karakteristik Pasien
Ruang IGD adalah ruang penanganan gawat darurat

berdasarkan fokus telaah penyakit dalam, bedah, dan resusitasi

meliputi semua usia dan segala gangguan atau hambatan

pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang terjadi akibat

perubahan fisiologis pada semua sistem meliputi sistem

kardiovaskuler, sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem

endokrin, sistem perkemihan, sistem integumen, sistem

persyarafan baik aktual maupun potensial yang gawat, darurat,

dan gawat darurat. Adapun jumlah pasien di Ruang IGD

berdasarkan triage pada bulan Juli - September 2019 dapat

dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.4 Jumlah Pasien Berdasarkan Triage Pada Bulan


Juli - September 2019

DARURAT
GAWAT TIDAK GAWAT
BULAN TDK JUMLAH
DARURAT TDK DARURAT
GAWAT
Juli 326 1462 971 2769

Agustus 356 1839 527 2722

September 366 1727 675 2768

61
JUMLAH 1048 5028 2173 8259

Sumber: Data Primer Ruang IGD


Berdasarkan tabel di atas, dapat ditentukan bahwa rata-rata jumlah pasien
berdasarkan triage dalam 3 bulan adalah 2.753 pasien, sedangkan rata-rata
berdasarkan gawat darurat berjumlah 349 pasien, darurat tidak gawat
berjumlah 1676, dan tidak gawat tidak darurat 724.
Sedangkan hasil kajian yang didapatkan di ruangan selama 7 hari
pada tanggal 17 s/d 23 Desember 2019 menunjukkan bahwa rata-rata
pasien di ruang IGD selama 7 hari adalah 52 pasien.
Tabel 3.5 Jumlah Pasien di Ruang IGD tanggal 17 - 23 Desember 2019

Ruangan Rata-rata
Jumlah Pasien Pasien
IGD Total
Dalam 246 246
Bedah 75 75
Neonatus 2 2 52
Anak 41 41
Sumber: Data Primer Ruang IGD
2) Diagnosis Medis
Berdasarkan data yang didapatkan dari rekam medik
RSD Gunung Jati menunjukkan selama periode Juli - September
2019, terdapat 7 diagnosa medis terbanyak yang mendapatkan
perawatan di ruang IGD, antara lain sebagai berikut:
a) Gagal napas
b) Cardiac Arrest
c) CKD
d) Penurunan kesadaran
e) Syok Sepsis
f) GEA
g) Stroke Haemorrhagic

62
Berdasarkan hasil analisa diagnosa keperawatan yang
paling sering ditemukan di ruang IGD diatas, maka intervensi
keperawatan yang paling sering ditetapkan adalah sebagai berikut:
a) Observasi ttv
b) Terapi cairan intravena
c) Nebulisasi (bila dianjurkan)
d) EKG (Bila dianjurkan)
e) AGD (Bila dianjurkan)
b. Analisis Unit Layanan Keperawatan ( Flow
of Care)
Bentuk pelayanan keperawatan yang diterapkan di ruang
IGD 3/4 diberikan secara berkesinambungan yang menunjukkan
suatu pola pelayanan yang berkelanjutan dan terus-menerus selama
24 jam pelayanan. Pelayanan keperawatan di ruang IGD 3/4 di bagi
menjadi 3 shift jaga, yaitu shift pagi dimulai dari jam 07.00 s/d
14.00, shift sore dimulai jam 14.00-21.00, dan jam 21.00-07.00 shift
malam. Pelayanan diberikan sejak pasien baru masuk sampai pasien
dipulangkan kembali. Secara tertulis alur pelayanan di ruang IGD
adalah sebagai berikut:

PASIEN DATANG

SKRINING

TRIAGE DOA

FALSE TRUE
EMERGENCY EMERGENCY

63
PERIKSA STABIL TIDAK STABIL
DOKTER

RESUSITASI

KONSUL PASIEN PULANG


POLIKLINIK
MENINGGAL

SELESAIKAN
ADMINISTRASI

PASIEN MEDIK PASIEN BEDAH PASIEN PASIEN


NEONATUS KEBIDANAN

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
TINDAKAN DAN
PEMBERIAN TERAPI HASIL

KONSUL / MASUK
PERAWATAN / DIRUJUK

SELESAIKAN
ADMINISTRASI
Adapun pelaksanaan pola pelayanan di ruang IGD berdasarkan
hasil pengamatan yang dilakukan pada tanggal 17-23 Desember 2019
dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.7 Deskripisi Situasi di Ruang IGD Berdasarkan


Aspek Pelayanan yang diberikan

No Aspek Pelayanan Deskripsi Situasi


1. Penerimaan Pasien Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 17
s/d 23 Desember 2019, proses penerimaan pasien baru
di ruang IGD didapatkan data sebagai berikut :

64
- Perawat IGD sudah melakukan penerimaan pasien
baru sesuai dengan prosedur. Pasien dilakukan
pengkajian oleh dokter, setelah itu perawat
melakukan tindakan sesuai instruksi dokter juga
sesuai indikasi diagnosis, setelah pasien dilakukan
implementasi ada pasien yang diperbolehkan
pulang da nada pasien yang di kirim ke ruang
perawatan untuk di rawat inap.
Kebutuhan Biologis
a. Oksigenasi Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada
tanggal 17 – 23 Desember 2019 di ruang IGD
didapatkan bahwa sirkulasi kamar perawatan sudah
cukup memadai dengan adanya ventilasi semua
kamar, selain itu masing-masing kamar perawatan
difasilitasi 1 buah AC namun tidak semuanya dapat
beroperasi dengan baik.
b. Aktivitas Sebagian besar pasien di ruang IGD dapat melakukan
aktifitasnya dengan bantuan parsial. Saat melakukan
aktivitas pasien selalu diawasi oleh perawat. Rata-rata
pasien melakukan aktifitas sesuai dengan kondisi dan
kemampuannya baik di tempat tidur ataupun di
ruangan dibantu oleh perawat.
c. Pencegahan Tidak semua perawat melakukan cuci tangan
Infeksi berdasarkan five moment. SOP untuk pencegahan
infeksi diruangan sendiri belum ada. Adapun untuk
pengelolaan sampah sudah tersedia diruangan tempat
sampah infeksius, tempat sampah non infeksius, dan
safety box untuk sampah tajam.
Psikososial Spiritual
3. Pendekatan
Proses
Keperawatan
Pengkajian Dari status yang diobservasi pada tanggal 17 s/d 23

65
Desember 2019 didapatkan data: telah tersedia format
yang baku dan sistematis pada setiap status klien
namun belum semua diisi dengan dilengkap.
Pengkajian fisik tidak dilakukan oleh perawat.
Diagnosa - Sebagian besar masalah keperawatan ditentukan
hanya berdasarkan keluhan keluarga dan
diagnosa medis.
- Penulisan diagnosa keperawatan aktual
mengandung unsur PES
- Penulisan diagonasa keperawatan sudah sesuai
standar penulisan diagnosa yang ditetapkan di
ruangan.
Intervensi Dari hasil studi dokumentasi buku status klien,
didapatkan bahwa:
- prioritas masalah dalam menyusun perencanaan
masih sudah optimal, misalnya masalah yang
mengancam kehidupan klien sudah diprioritaskan
- Tujuan yang dituliskan dalam perencanaan masih
belum SMART (spesifik, bisa diukur, bisa
dicapai, realistik, serta ada batasan waktu)
- Dalam penyusunan rencana tindakan keperawatan
, kalimat instruksi masih kurang opersional dan
kurang mencakup semua tindakan yang harus
dilakukan.
Implementasi Dari hasil obeservasi dari tanggal 17 s/d 23 Desember
2019 didapatkan data bahwa:
- Implementasi yang dilakukan oleh perawat
disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien
bukan berdasarkan perencanaan asuhan
keperawatn
- Perawat menggunakan sumber daya yang ada
dalam pelaksanaan implementasi, serta

66
merapikan alat setiap selesai melakukan tindakan.
- Tindakan keperawatan dilakukan berpedoman
pada SOP yang telah ditentukan.
- Pada saat melakukan implementasi perawat
menerapkan prinsip aseptik dan antiseptik,
prinsip aman, nyaman dan ekonomis.
- Perawat sudah merespon dengan segera terhadap
keluhan dan keadaan pasien secara optimal.
- Ada beberapa tindakan keperawatan yang
dilakukan tanpa penjelasan tujuan tindakan
terlebih dahulu kepada pasien dan keluarga.
Evaluasi
Dokumentasi - Dokumentasi dilakukan selama klien dirawat
mulai dari datang sampai klien pulang atau pasien
di kirim ke ruang perawatan, hasil dokumentasi
pada buku status pasien dan juga dituliskan pada
buku laporan.
- Terdapat bentuk pendokumentasian lain selain
status pasien, yaitu buku laporan, buku TPRS
buku terapi.
3. Persiapan Dari hasil observasi pelaksanaan discharge planning
Pemulangan di ruang IGD yang dilakukan pada pasien, dapat
Pasien / disimpulkan bahwa hal-hal yang perlu disampaikan
Discharge kepada pasien yang akan pulang telah dilaksanakan
Planning dengan baik yaitu pendidikan kesehatan terkait
rencana persiapan perawatan di rumah untuk
memandirikan klien, rencana tindak lanjut perawatan
dan pengobatan dan rujukan ke fasilitas kesehatan.
Sementara itu, untuk pelaksanaan pendidikan
kesehatan terkait diet atau nutrisi yang harus
dikonsumsi pasien, pengontrolan aktivitas dan
istirahat serta perawatan diri belum dilakukan secara

67
optimal. Selain hal tersebut, pendokumentasian
discharge planning pada status pasien juga sudah
dilaksanakan dengan optimal, yang terlihat dari hasil
observasi status pasien pada lembar discharge
planning sudah terisi.
Sumber: Data Primer di Ruang IGD 2019
c. Manajemen Unit (Sumber Daya / Kekuatan
Kerja)
1) Man
a) Ketenagaan
Dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan pasien di
Ruang IGD dilaksanakan oleh Sumber Daya Manusia sebagai
profesi pemberi asuhan yang terdiri dari tenaga keperawatan,
tenaga medis, farmasi, rehab medis, dan tenaga lainnya yang
menjalankan administrasi, serta tenaga POS yang membantu
terlaksananya kegiatan keperawatan.
Ketenagaan di Ruang IGD sendiri terdiri dari tenaga
keperawatan sebanyak 33 orang dan tenaga non keperawatan
yang diantaranya adalah tenaga kebidanan 11 orang, tenaga
administrasi 4 orang, tenaga POS 2 orang, dan tenaga porter
5 orang. Distribusi ketenagaan berdasarkan klasifikasi
ketenagaan perawat dan non keperawatan di ruang IGD dapat
dilihat pada diagram berikut di bawah ini:

Diagram 3.3 Distribusi Ketenagaan di Ruang IGD

68
40%

Tenaga Non
Keperawatan
Tenaga
Keperawatan

Sumber: Data Ketenagaan Ruang IGD 2019

Berdasarkan grafik 2.1 menunjukkan bahwa jumlah


tenaga di Ruang IGD dari jumlah 62 orang sebanyak (40%)
sebagai tenaga non keperawatan dan sebanyak (60%) sebagi
tenaga keperawatan.

b) Jenis Tenaga di Ruang IGD


Diagram 3.4 Jenis Tenaga Di Ruang IGD

69
tenaga diruang IGD
kepala ruangan supervisor CI & Ketua Tim
Perawat Pelaksana bidan pelaksana tenaga Adm
Tenaga POS Tenaga portir
2% 3%
3% 8% 8%
6%

16%

53%

Berdasarkan grafik 2.1 menunjukkan bahwa jumlah tenaga di


Ruang IGD dari jumlah 62 orang sebanyak 1 (2%) orang sebagai kepala
ruangan, sebanyak 2 orang (3%) sebagai supervisor, sebanyak 5 orang
(8%) ketua TIM & CI, , sebanyak 10 orang (16%) sebagai bidan
pelaksana, sebanyak 4 orang (7%) administrasi, sebanyak 2 orang (3%)
POS, sebanyak 5 orang (8%) portir dan sebanyak 33 orang (53% )
perawat pelaksana.

c) Spesifikasi Pendidikan

70
45
40 S2
35 S1 Ners
30
25 S1
20 D4
15 D3
10 SMA
5
0

Diagram 3.4 Status Pendidikan di Ruang IGD


Sumber : Data Primer diruang IGD 2019
Berdasarkan grafik diatas menunjukkan bahwa spesifikasi
pendidikan di Ruang IGD dari jumlah 63 orang sebanyak (7%)
lulusan SMA, sebanyak (42%) lulusan D3, sebanyak (4%) D4,
sebanyak (13%) S1, ,sedangkan sebagian besar lulusan S1
Keperawatan + Ners sebanyak (30%), serta lulusan D3 sebanyak
(42%).

d) Karakteristik Tenaga Keperawatan Berdasarkan Tingkat


Pendidikan

71
Diagram 3.5 Karakteristik Tenaga Keperawatan
Berdasarkan Tingkat Pendidikan

S1 Ners S1 Keperawatan D3 Keperawatan


21%

59%
21%

Sumber:Data Ketenagaan Ruang IGD 2019

Berdasarkan diagram di atas, dapat dilihat bahwa


sebesar 58% tenaga keperawatan di ruang IGD memiliki
kualifikasi pendidikan S1+Ners, sebesar 21% merupakan
Sarjana Keperawatan, sebesar 21% merupakan Diploma III.
e) Karakteristik Tenaga Keperawatan Berdasarkan Masa Kerja
Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada
tanggal 17 s/d 23 Desember 2019 pada 33 perawat di ruang
IGD didapatkan sebanyak 4 orang telah bekerja di RSD
Gunung Jati selama 22-24 tahun, sebanyak 5 orang selama
11-16 tahun sebanyak 19 orang dengan lama kerja 4-7 tahun,
sebanyak 4 orang selama 1-3 tahun. Dengan lama
berdasarkan masa kerjanya dapat di lihat pada grafik berikut
ini:

Diagram 3.6 Distribusi Tenaga Keperawatan di Ruang IGD


Berdasarkan Masa Kerja di RS

72
20
18
16
14
12 1-3 tahun
10 4-7 tahun
11-16 tahun
8 22-24 tahun
6
4
2
0
Kerja di RS

Sumber: Data Primer Lama kerja di unit


f) Karakteristik Tenaga Keperawatan Berdasarkan Pelatihan
yang Telah Diikuti
(1) Jenis Pelatihan
Diagram 3.7 Pelatihan

BHD BTLS BCLS CODE BLUE


TRIAGE TRANSFER SKRINING

16% 21%

16%

15%

15% 15%

2%

Berdasarkan diagram diatas dapat disimpulkan


bahwa sebesar 21% perawat IGD sudah mengikuti pelatihan
BHD, sebesar 16% perawat IGD sudah mengikuti pelatihan

73
skrinning, sebesar 16% perawat IGD sudah mengikuti
pelatihan transfer, sebesar 15% perawat IGD sudah
mengikuti pelatihan triage, sebesar 15% perawat IGD sudah
mengikuti pelatihan BTLS, sebesar 15% perawat IGD sudah
mengikuti pelatihan BCLS, dan sebesar 2% perawat IGD
sudah mengikuti pelatihan code blue.
(2) Rencana Perhitungan Kebutuhan Tenaga
Metode perhitungan kebutuhan tenaga kesehatan
berdasarkan beban kerja Workload Indicators Of Staffing
Need (WISN) adalah suatu metode perhitungan
berdasarkan beban pekerjaan nyata yang dilaksanakan
oleh kesehatan, meliputi 5 langkah yaitu :
a. Menetapkan waktu kerja yang tersedia dalam 1 (satu)
tahun :
1) Hari kerja = 260 hari
2) Cuti tahunan = 12 hari
3) Hari libur dan libur nasional = 13 hari
4) Ketidakhadiran kerja = 12 hari
5) Pendidikan dan pelatihan = 5 hari/ tahun
6) Waktu kerja 56 jam/minggu = 8 jam/hari
Hari kerja tiap kategori tenaga kesehatan pada tiap unit
kerja di fasilitas pelayanan 260 – 42 = 218 hari
Waktu kerja tersedia = 218 x 8 jam = 1.744 jam/tahun
b. Standar beban kerja perawat IGD meliputi :
1. Kegiatan pokok yang dilakukan di IGD adalah
pelayanan asuhanmkeperawatan dimana yang
dilakukan adalah pelayanan terhadap
pasienmemergency dan tidak emergency meliputi
pengkajian, pemeriksaan fisik,
tindakan/implementasi dan observasi

74
2. Rata-rata waktu yang dibutuhkan berdasarkan
pengamatan selama 1 tahun untuk menyelesaikan
tiap kegiatan pokok pelayanan asuhan
keperawatan terhadap pasien emergency
membutuhkan waktu 1,25 jam atau 75 menit.
Sedangkan untuk kegiatan pokok pelayanan
terhadap pasien tidak emergency membutuhkan
waktu rata-rata 45 menit.
3. Standar beban kerja per satu tahun :
waktu kerjatersedia
rata−rata waktu perkegiatan pokok
Pasien Emergency
1.744 jam per tahun x 60 menit
=¿1395 jam
75 menit
Pasien Tidak Emergancy
1.744 jam pertahun x 60 menit
=2.325 jam
45 menit
c. Perhitungan kebutuhan tenaga perawat IGD
Kuantitas kegiatan pokok disusun berdasarkan berbagai
data kegiatan pelayanan Asuhan keperawatan yang telah
dilakukan di IGD selama kurun waktu tahun 2019,
kunjungan sebanyak 35.524 pasien, yang terdiri dari :
1. 3959 pasien True Emergency
2. 28120 pasien False Emergency
Kebutuhan tenaga perawat IGD
kuantitas keiatan pokok + standar kelonggaran
standar beban kerja
Pasien True Emergency
7.105+ 0,12
=5.1
1.395
Pasien False Emergency
28.419+0,12
=12,22
2.325

75
Kesimpulan :
Berdasarkan perhitungan dengan metode WISN,
maka didapatkan kebutuhan tenaga perawat IGD = 5,1+
12,22 = 17 orang = 17 orang/shift.
Karena IGD merupakan pelayanan gawat darurat 24
jam, maka kebutuhan tenaga perawat disesuaikan dengan
kebutuhan jadwal jaga perawat dalam 3 (tiga) shift dan
satu shift libur.
Dalam setiap shift dibutuhkan 17 (tiga) tenaga
perawat, sehingga kebutuhan tenaga perawat adalah 68
(enam puluh delapan) orang/ hari.
2) Material
Berdasarkan hasil studi dokumentasi, dan observasi dari
prakarya dan wawancara kepala ruangan, sarana dan prasarana
yang tersedia di Ruang IGD sebagai berikut:
Tabel 3.8 Sarana Dan Prasarana di Ruang IGD
Standar Jumlah yang ada
No Nama Alat
Tidak
MPKAP RS Sesuai
Sesuai

1 Plapon Tinggi 2,20 -


± 2,50 m - √
4,35 m

2 Warna Warna
Dinding dinding harus
yang
berwarna Putih √ −¿
tenang dan
bertekstur
rata

3 Lantai Tidak boleh


Lantai
licin dan
tidak licin
motif lantai
dan motif √ -
harus berbeda
lantai
setiap
berbeda
ruangan

76
4 Perabot kursi sofa
tanpa sudut
yang tajam
dengan Tidak
penyangga terdapat
tangan dan televisi
- √
televisi dan sofa
menggunaka hanya ada
n penghalang kursi
kerangka besi
sebagai
pengaman

5 Kursi dan Kursi


meja terdapat
Terdapat
penyangga
kursi
untuk
plastik
pembatas
terdapat
tidak
penyangga
memiliki - √
tangan dan
sudut yang
punggung,
tajam, harus
dan tidak
ada
terdapat
penyangga
meja
tangan dan
punggung

6 Pintu Pintu sorong


dapat
digunakan
diruangan
yang sempit Tidak
dan memiliki terdapat di
- √
resiko bahaya ruang
sedang, dan perawatan
pintu sorong
berkantung
untuk bahaya
tinggi

Sumber: Data Primer

Tabel 3.9 Sarana dan prasarana Penunjang di Ruang IGD


Sarana Di Ruangan Tidak
No Jumlah Layak Keterangan
Prasarana Ada Tidak layak

77
Terdiri dari 1 ruang
bedah, 1 ruang dalam,
1 ruang resusitasi, 1
1. Ruang Triage √ 7 √ ruang neonates, 1
ruang obgyn, 1 ruang
observasi obgyn, 1
ruang isolasi
Terbagi dalam 7 kamar
dan tempat tidur
transfer/blankar,
dimana ruang bedah
terdiri dari 6 bed, ruang
dalam terdiri dari 8
bed, ruang resusitasi
terdiri dari 6 bed, ruang
2. Tempat tidur √ 60 √ neonates terdiri dari 3
bed, ruang obgyn
terdiri dari 2 bed, ruang
obs obgyn terdiri dari 2
bed, ruang isolasi
terdiri dari 5 bed, dan
jumlah tempat tidur
transfer/blankar 26
bed.
Gelang identitas
didapatkan pasien dari
IGD atau Poliklinik
sebelum masuk ke
ruang rawat inap.
Gelang identitas pasien
Gelang terdapat 5 buah warna,
3. identitas √ 9 √ merah untuk pasien
pasien alergi, pink untuk
pasien wanita, biru
untuk pasien laki-laki,
kuning untuk pasien
dengan indikasi risiko
jatuh, dan ungu untuk
pasien DNR.

78
Tidak terdapat bel
Alat panggil pasien di seluruh bed
4. −¿ −¿ −¿
perawat (Bel) pasien akan tetapi tidak
difungsikan.
Terdapat di ruang
5. Kursi tunggu √ 11 √
tunggu pasien
Kamar mandi terdapat
di setiap kamar pasien,
masing-masing kamar
pasien terdapat 1
kamar mandi. Kamar
6. Kamar mandi √ 5 √ √
mandi lainnya terdapat
di ruang nurse station,
dan 1 kamar mandi
tidak layak pakai di
ruang dokter
7. Pispot √ 3 √ Disimpan di gudang.
Tidak tersedia di ruang
8. Urinal −¿ −¿ −¿
IGD.
Tempat
Terdapat di depan
sampah
9. √ 7 √ ruang resusitasi, bedah
Infeksius
dll
besar
Tempat
Terdapat di depan
sampah non
10. √ 4 √ ruang resusitasi, bedah
infeksius
dll
besar
Terdapat di depan
11. Handsrucb √ 8 √ ruang resusitasi, bedah
dll
Standar Infus
Terdapat di ruang
12. beroda kaki √ 11 √
tindakan
lima
Standar Infus Terpasang di bed
13. √ 15 √
lepasan pasien
17 Jam dinding √ 2 √ Terdapat di nurse
station, dan di ruang

79
tindakan
Sumber: Data Primer
Penggunaan tempat dan pemilahan sampah di ruang
IGD mempunyai 3 jenis tong sampah (Infeksius, non infeksius
dan safety box), menurut kepala ruangan IGD, berdasarkan SOP
RS prosedur pembuangan sampah dilakukan dengan
mengumpulkan dan memilah sampah infeksius ke kantong
plastik kuning, non infeksius kantong warna hitam, dan safety
box untuk sampah tajam. Namun terkadang pelaksanaan
pemilahan sampah di ruangan kurang optimal, terkadang masih
ditemukan sampah infeksius dimasukkan ke tempat sampah non
infeksius begitupun sebaliknya, sehingga kepala ruang setiap
harinya melakukan supervisi untuk mencegah kejadian berulang
terkait pemilahan sampah.
Tabel 3.10 Sistem Mitigasi Bencana di Ruang
IGD
No Nama barang Ada Tidak Jumlah Kondisi
ada

1 Apar √ - 1 Baik

2 Alarm √ 1 Baik
kebakaran

3 Helm siaga √ - 1 Baik


bencana dan
papan code red
set

4 Jalur evakuasi −¿ √ - Tidak ada

5 Plang exit −¿ √ - Tidak ada

6 Plang titik −¿ √ - Tidak ada


kumpul

7 Hidran halaman −¿ √ - Tidak ada

8 Sitem peringatan −¿ √ - Tidak ada

80
bahaya

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan


IGD menyatakan bahwa sistem mitigasi bencana kebakaran
ruang IGD sudah sesuai dengan Pedoman Teknis Bangunan
Rumah Sakit Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan,
Kementrian Kesehatan 2012 dimana setiap bangunan ruang
rawat inap harus memiliki sistem proteksi kebakaran.
3) Money
a) Sistem Gaji dan Remunerisasi SDM
Sumber dana gaji pegawai golongan Pegawai Negeri
Sipil (PNS) di RS Gunung Jati berasal dari pemerintah,
sedangkan sumber dana gaji pegawai Non-PNS berasal dari
rumah sakit itu sendiri yang diatur sesuai dengan peraturan
yang ada. Sistem remunerisasi diberikan kepada pegawai
golongan PNS.
Jaminan kesehatan bagi karyawan disediakan bagi
tenaga PNS berupa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan), Tabungan dan
Asuransi Pensiun (TASPEN). Sedangkan untuk non PNS
diberikan jaminan kesehatan BPJS kesehatan dan
ketenagakerjaan.

b) Sumber Pendapatan Ruang IGD


Sumber pendapatan di ruang IGD berasal dari
pembayaran pasien umum dan pasien peserta Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
c) Marketing
Sasaran marketing ruang rawat IGD adalah
masyarakat umum (menerima klien dengan berdasarkan
sistem pembayarannya baik yang melalui JKN, umum dan

81
BPJS). Berdasarkan hasil wawancara kepada keluarga pasien
mengenai kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan
di ruang IGD didapatkan hasil bahwa pelayanan baik
interaksi dengan perawat tidak terbatas karena, perawat juga
melayani keluhan tidak hanya tatap muka secara lansung
melainkan melalui alat komunikasi juga.
d) Metode
(1) Metode Pelayanan di Ruangan
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang
dilakukan pada tanggal 23 Desember 2019, menurut
kepala ruangan metode yang diterapkan di ruang IGD
berdasarkan struktur organisasi metode MAKP adalah
metode tim, dimana di ruang IGD itu sendiri dibagi
menjadi 4 tim.
Berdasarkan hasil wawancara pada 7 orang
perawat pelaksana didapatkan bahwa seluruh perawat
mengetahui metode pemberian asuhan keperawatan yang
digunakan di ruangan IGD adalah metode tim, tapi
sebagian perawat mengatakan pada pelaksanaannya
metode ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

(2) Timbang Terima (Operan)


Dari hasil observasi pelaksanaan timbang terima
atau operan yang dilakukan selama 7 hari di ruang IGD,
didapatkan hasil bahwa pelaksanaan timbang terima
sudah dilaksanakan setiap pergantian shift, namun dalam
proses pelaksanaannya belum terlaksana dengan optimal.
Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan timbang terima
belum terlaksana sesuai Standar Prosedur Operasional
(SPO). Selain itu, di ruang IGD belum tersedia Standar

82
Prosedur Operasional (SPO) timbang terima. Jika dilihat
dari Standar Prosedur Operasional (SPO) timbang terima
yang dikutip dari Nursalam (2014) dan Soemantri (2014),
tahapan dari timbang terima sebagian besar sudah
dilakukan dengan baik, hanya saja ada beberapa hal yang
jarang dilakukan oleh perawat, seperti pada saat timbang
terima tidak langsung kepada pasien.
(3) Pre dan Post Conference
Hasil observasi dan keterangan ketua tim pada
tanggal 23 Desember 2019 di ruangan IGD, untuk
tindakan pre dan post conference dilakukan dengan cara
yang tidak begitu formal, dimana pre dan post conference
dilakukan selama dinas dan melakukan tindakan.
(4) Ronde Keperawatan
Hasil dari wawancara pada perawat yang berdinas
pada tanggal 17 – 23 Desember 2019, diketahui bahwa di
ruangan melakukan ronde keperawatan. Namun, ronde
keperawatan dilakukan oleh perawatnya saja tidak
melibatkan klien, karena kondisi yang tidak
memungkinkan untuk membahas masalah keperawatan
disamping klien dengan keadaan gawat darurat. Untuk
ronde keperawatan ruangan sendiri dilakukan secara
situasional dimana tidak terjadwal secara pasti.
d. Kajian Indikator Mutu Ruangan (BTO)
Ruang IGD merupakan ruang gawa darurat untuk pasien laki-
laki maupun perempuan yang mempunyai kapasitas tempat tidur
sebanyak 60, Terbagi dalam 7 kamar dan tempat tidur
transfer/blankar, dimana ruang bedah terdiri dari 6 bed, ruang dalam
terdiri dari 8 bed, ruang resusitasi terdiri dari 6 bed, ruang neonates
terdiri dari 3 bed, ruang obgyn terdiri dari 2 bed, ruang obs obgyn

83
terdiri dari 2 bed, ruang isolasi terdiri dari 5 bed, dan jumlah tempat
tidur transfer/blankar 26 bed.
a) BTO (Bed Turn Over)
Diagram 3.14 BTO Ruang IGD Periode Bulan
November2018, Desember 2018 dan Januari 2019

Series 1
25
24.5 24.8
24
23.5
23 23.2
22.5
22.5
22 22.3
21.5
21
Juli Agustus September Rata-Rata

Berdasarkan dari perhitungan jumlah pasien pada


bulan Juli - September 2019, serta jumlah tempat tidur yang
tersedia di ruang IGD, didapatkan bahwa rata-rata frekuensi
pemakaian tempat tidur adalah 23,2.

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PERENCANAAN

A. Analisa Data
Berdasarkan hasil pengkajian dari tanggal 17-23 Desember 2019 di
ruang IGD didapatkan masalah sesuai dengan 4 pilar manajemen
keperawatan sebagai berikut:
Tabel 4.1 Analisis Masalah Berdasarkan Pilar Management
Approach Management

84
No. Kelebihan Kekurangan Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil Berdasarkan hasil Belum


wawancara dan observasi wawancara dan observasi optimalnya
mengenai : mengenai : dokumentasi
a. a. Fungsi Managerial perencanaan
- Perencanaan : a. kegiatan dan
Perumusan Visi misi optimalnya mengenai jumlah perawat
rumah sakit sudah ada dokumentasi dengan ratio
dan terpasang di perencanaan kegiatan pasien serta
ruangan. harian, bulanan, belum adanya
- Pengorganisasian: tahunan. KaRu dan instrument baku
struktur organisasi yang KaTim ditandai untuk penilaian
terbaru sudah ada dengan belum adanya supervisi
- Staffing/penjadwalan : media yang
Jadwal dinas sudah ada mendukung untuk
- Directing/Pengarahan: merumuskan
Kepala ruangan dan perencanaan bersama
KaTim selalu anggota lainnya
mengadakan rapat b.
setiap 3 bulan sekali. instrument baku untuk
- Controling/Pengawasan penilaian supervisi
: Kepala Ruangan selalu c.
melakukan supervisi yang otomatis untuk
- Reporting/laporan : mengetahui beban
Terdapat buku laporan kerja perawat
bulanan
- Budgeting/Anggaran : b. Tata Kelola SDM
d. Indikator mutu Jumlah perawat di
Karu bersama katim ruang IGD belum
2. selalu menilai indicator sesuai dengan ratio
mutu pasien dengan rumus
Indikator mutu tersedia WISN
dan dokumentasi dalam
status pasien

85
Care And Delivery

2. Berdasarkan hasil wawancara Berdasarkan hasil Belum


dan observasi mengenai : wawancara dan menerapkan
a. Model layanan asuhan observasi mengenai : standar
keperawatan : Ruang IGD - Ruang IGD belum asuhan
dalam memberikan asuhan menerapkan keperawatan
keperawatan kepada klien standarisasi diagnose SDKI, SLKI,
menggunakan model layanan berdasarkan SDKI, dan SIKI
TIM. Model TIM yang SLKI, dan SIKI
digunakan sedikit berbeda
dengan ruangan lainnya
terdapat 4 TIM

B. Analisis SWOT
1. Analisis SWOT Ruang IGD
Tabel 4.2 Analisis SWOT di Ruang IGD RSD Gunung Jati Kota
Cirebon
Analisis SWOT
MI (Man) Kekuatan Keterangan
1. Perawat terampil dalam melakukan tindakan. Hasil
2. Perawat cepat tanggap dalam menangani keluhan wawancara
pasien. dan
3. Perawat ramah dan menerapkan 5S ketika bertemu observasi
dengan pasien dan keluarga.
4. Adanya perawat yang mengikuti seminar dan
workshop.
5. Adanya kerjasama yang baik antara KaRu, KaTim,
Perawat pelaksana dan para pegawai lainya.
6. Adanya mahasiswa ners praktik manajemen
keperawatan.
7. Mengikuti pelatihan dan workshop

Kelemahan :
1. Jumlah perawat yang dibutuhkan kurang dari tingkat
kebutuhan pasien

Peluang :
1. Ruang IGD memiliki potensi tingkat kemajuan yang
lebih baik.

86
2. Adanya mahasiswa praktik yang berkesempatan
menerapkan ilmu baik tentang manajemen ruangan
maupun ilmu keperawatan yang terbaru.

Ancaman :
1. Fungsi management belum terstruktur dengan baik.
2. Visi, misi, dan tujuan sudah terbentuk

M2 (Sarana dan Prasarana)


Kekuatan Hasil
1. Lingkungan yang baik wawancara
2. Jumlah linen dan observasi
3. Terdapat AC disetiap ruangan.
4. Terdapat buku ekspedisi penerimaan dan pemulangan
pasien hasil penunjang di ruangan perawat.
5. Terdapat ruang depo obat, ruang alat, ruang tindakan,
ruang perawat.

Kelemahan
1. Ruangan yang terbatas
2. Lingkungan/ruangan
3. Ruang konsultasi masih bergabung dengan ruang
dokter, perawat, bidan.
4. Pencahayaan dan sirkulasi udara yang tidak cukup
baik dengan tidak adanya ventilasi
5. Tempat sampah non medis kurang memadai
6. Bangunan tidak sesuai dengan standar.

Peluang
1. Adanya kesempatan untuk penambahan alat-alat
seperti lemari untuk linen bersih, dan tempat sampah
non infeksius.
2. Adanya kesempatan untuk memperbaharui struktur
organisasi yang terbaru.

Ancaman
1. Resiko Infeksi dan penularan tinggi karena tidak
sesuai dengan standar lingkungan dan ruangan

M3 (Methode)

87
Kekuatan Hasil
1. Sudah ada model asuhan keperawatan yang wawancara
digunakan yaitu metode tim. dan observasi
2. Format pengkajian sudah ada dan dapat memudahkan
perawat dalam pengkajian dan pengisiannya.
3. Pelaksanaan discharge planning sudah cukup baik.
4. Cap verifikasi sudah tersedia

Kelemahan
1. Operan diikuti oleh sebagian perawat yang telah dan
akan dinas sesuai.

Peluang
1. Ruangan memiliki kebebasan dan kesempatan untuk
mengembangkan metode yang sedang dilakukan dan
berjalan di ruangan untuk pengembangan yang lebih
baik.

Ancaman
1. Makin terbukanya persaingan dengan RS lain.
2. Kebebasan pers menyebabkan mudahnya penyebaran
informasi di dalam ruangan ke masyarakat.

M4(Market)

88
Kekuatan Hasil
1. BTO sebesar 0,108 % wawancara
dan observasi
Kelemahan
1. Kurangnya kelengkapan penunjang keindahan
ruangan.
2. Kurang terstandarnya ruangan sebagai ruangan IGD
3. Pasien merasa kurang baik terhadap pelayanan yang
diberikan oleh ruangan.

Peluang
1. Terbukanya kesempatan untuk melengkapi sarana
dan prasarana yang belum lengkap.

Ancaman
1. Adanya persaingan antar rumah sakit.

C. Perencanaan dan Penyelesaian Masalah


1. Prioritas Masalah
Dengan mempertimbangkan masalah waktu, sumber daya, dan
kemampuan untuk mengatasi masalah yang ada, maka dalam
penyelesaian identifikasi masalah tersebut akan diselesaikan berdasarkan
prioritas masalah. Tehknik yang digunakan untuk memprioritaskan
masalah adalah dengan menggunakan pembobotan dan memperhatikan
beberapa aspek yaitu:
Magnitude (Mg) : kecenderungan besar dan sering terjadi
masalah
Severity (Sv) : besarnya kerugian yang akan ditimbulkan
Manageability (Mn) : dapat diselesaikan atau dikelola
Nursing concern (Nc) : berfokus pada keperawatan
Affordability (Af) : ketersediaan sumber daya
Kriteria Nilai:
Sangat kurang penting : bernilai 1
Kurang penting : bernilai 2
Cukup penting : bernilai 3

89
Penting : bernilai 4
Sangat penting : bernilai 5

Tabel 4.3 Prioritas Masalah Manajemen Keperawatan


No Masalah Mg Sv Mn Ne Af Nilai Rannking
1. Belum terstandarnya 4 3 4 4 5 960 II
asuhan keperawatan
berdasarkan SDKI,
SLKI dan SIKI
2. Belum optimalnya 4 5 4 5 4 1600 I
perencanaan kegiatan
KARU

Berdasarkan hasil pembobotan masalah di atas, maka penentuan prioritas


yang akan diselesaikan, didiskusikan dengan KaRu, KaTim serta perawat
pelaksana lainnya dengan mempertimbangkan lingkup kegiatan aplikasi,
keterbatasan waktu dan kemampuan maka disepakati untuk menyelesaikan dua
masalah. Prioritas masalah pertama yang telah didiskusikan dengan Karu dan
mahasiswa adalah belum optimalnya perencanaan kegiatan Karu, dan belum
terstandarnya asuhan keperawatan berdasarkan SDKI, SLKI dan SIKI

90
- Belum tersedia media - Belum efektifnya perencanaan karu
untuk pelaksanaan
perencanaan
- Belum terlaksananya
- Belum adanya system
perencanaan karu
beban kerja
- Kurang antusias dalam
- Belum tersusun melaksanakan handover
rencana harian secara efektif
- - Belum diketahuinya standar beban kerja

Belum optimalnya
fungsi managerial
Sosialisasi
perencanaan
belum optimal

- Perawat pelaksana belum mengetahui tentang perencanaan karu

Metode Lingkungan

91
Belum optimal dalam melakukan
Material
ASKEP berbasis SDKI
Man

Belum adanya software


SDKI, SLKI dan SIKI

Kurang terlaksananya penggunaan SDKI

Belum optimalnya
care delivery

Lingkungan
Method

92
2. Alternatif Penyelesaian Masalah
Setelah diketahui faktor penyebab dari masalah tersebut,
kemudian faktor penyebab dicari cara untuk menyelesaikannya.
Adapun penyelesaiannya dijelaskan pada tabel berikut :
1. Alternatif Penyelesaian
Masalah
Tabel 4.4 Alternatif Penyelesaian Masalah
No Penyebab Penyelesaian
1 Belum tersedia media Sediakan media
untuk pelaksanaan pelaksanaan perencanaan
perencanaan karu, Karu, dan instrument baku
belum adanya supervise
instrument baku
supervisI
2 Belum terstandarnya Pembuatan software SDKI
asuhan keperawatan dan sosialisasi
berdasarkan SDKI penggunaannya

2. Prioritas Alternatif
Pemecahan Masalah
Tabel 4.5 Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah

No Alternatif Penyelesaian Masalah C A R L Nilai Urutan


1 Sediakan media pelaksanaan perencanaan 4 4 3 3 144 I
karu, instrument baku supervisi dan
peningkatan supervise dari karu
2 Pembuatan software dan sosialisasi software 5 5 5 4 500 II
SDKI, SLKI, SIKI.
Agar masalah lebih bisa diselesaikan maka dilakukan pembobotan
alternatif penyelesaian masalah, dengan memperhatikan aspek :
1. Capability (C) : Kemampuan melaksanakan alternatif
2. Acessibility (A): Kemudahan melaksanakan alternatif

93
3. Readiness (R) : Kesiapan dalam melaksanakan alternatif
4. Leverage (L) : Daya ungkit alternatif dalam penyelesaian masalah
Kriteria Nilai :
Sangat kurang penting : Bernilai 1
Kurang penting : Bernilai 2
Cukup Penting : Bernilai 3
Penting : Bernilai 4
Sangat Penting : Bernilai 5
D. Planning of Action
1. Belum optimalnya pelaksanaan perencanaan kegiatan Karu
dan Belum Terstandarnya Asuhan Keperawatan Berdasarkan SDKI
No Kegiatan Tujuan Metode Sasaran Waktu
1. Pembuatan Sebagai - Diskusi KaRu, KaTim, dan
media pedoman - Konsultasi Perawat pelaksana
perencanaan dalam - Studi lainnya
karu melakukan literatur
perencanaan
2 Pembuatan Kepala - Simulasi Kepala ruangan,
instrument ruangan - Diskusi kepala TIM. Dan
baku supervisi mengetahui - Tanya Jawab perawat pelaksana
konsep dan lainnya
instrument
supervisi
3. Observasi Terlaksananya - Daily Log Kepala ruangan,
supervisi karu uji coba kepala TIM. Dan
dan observasi pendampinga perawat pelaksana
supervisi n pelaksanaan lainnya
asuhan supervisi dan
keperawatan pemberian
pada perawat asuhan
pelaksana keperawatan

94
4. Pembuatan Untuk Diskusi Kepala ruangan,
dan sosialisasi melakukan kepala TIM, dan
penggunaan monitoring perawat pelaksana
software dan lainnya
SDKI, SLKI dokumentasi
dan SIKI pelaksanaan
asuhan
keperawatan
berdasarkan
SDKI, SLKI
dan SIKI

95
BAB V

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

A. Implementasi

1. Belum Optimalnya Pelaksanaan Perencanaan

Karu

Adapun implementasi yang dilakukan untuk masalah perencanaan

supervisi yang belum optimal adalah sebagai berikut :

a. Pembuatan instrument baku rencana

kegiatan supervisi.

b. Menyediakan media rencana kegiatan

supervisi.

c. Pembuatan excel beban kerja guna

penjadwalan dinas yang sesuai dengan ketetapan undang-undang

ketenagakerjaan (166 jam/bulan)

2. Belum Terstandarisasi Asuhan Keperawatan

Berbasis SDKI, SLKI, SIKI

Adapun implementasi yang dilakukan untuk mengatasi masalah belum

terstandarisasi asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, SIKI sebagai

berikut :

a. Pembuatan software SDKI, SLKI, SIKI

sesuai diagnosa yang sering muncul diruangan.

96
b. Mensosialisasikan penggunanaan software

SDKI, SLKI, SIKI.

c. Melakukan wawancara dan observasi

keefektifan software SDKI, SLKI, SIKI.

B. Evaluasi

Adapun evaluasi yang dilakukan pada tanggal 7-8 januari 2020

didapatkan hasil sebagai berikut :

1. Belum Optimalnya Pelaksanaan Perencanaan Karu

a. Karu melakukan supervisi harian

b. Karu membuat perencanaan harian dengan menggunakan media yang

telah disediakan.

c. Perawat pelaksana terlihat antusias dan termotivasi dengan adanya

perencanaan yang dilakukan oleh Karu.

d. Hasil kegiatan supervisi didokumentasikan.

2. Belum Terstandarisasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI, SLKI,

SIKI

a. Perawat pelaksana tersosialisasikan mengenai penggunaan ASKEP

berbasis SDKI, SLKI, SIKI.

b. Perawat pelaksana termotivasi dan mampu untuk menerapkan

ASKEP berbasis SDKI, SLKI, SIKI.

97
C. Dokumentasi

98
D. Proyek Inovasi

Proyek inovasi yang kelompok kami lakukan ada 3, yaitu :

1. Media perencanaan Karu

2. Software SDKI, SLKI dan SIKI

99
3. Excel Beban Kerja

100
BAB VI

101
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan kajian situasi dari manajemen unit terdapat dua masalah

utama berdasarkan dua pilar, pilar pertama yaitu : tentang fungsi managerial

dan pilar ketiga tentang pemberian asuhan keperawatan (care delivery) adapun

dua masalah utama yang di dapatkan berdasarkan hasil urutan HANLON

daftar masalah antara lain : belum optimalnya pelaksanaan perencanaan karu,

dan belum terstandarisasi asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, SIKI

B. Saran

Saran dari kelompok yang dapat disampaikan adalah :

1. Tenaga Medis Ruang IGD

a) Diharapkan sosialisasi perencanaan harian karu, dapat berjalan

optimal.

b) Diharapkan asuhan keperawatan berbasis SDKI, SKLI, SIKI dapat

diterapkan.

2. RSD Gunung Jati Kota Cirebon

a) Mengusulkan dan mewajibkan setiap ruangan untuk memiliki rencana

harian dan bulanan.

b) Menerapkan setiap perawat untuk dapat memberikan asuhan

keperawatan berbasis SDKI, SLKI, SIKI.

102