Anda di halaman 1dari 21

MESIN PERKAKAS

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah mesin perkakas dosen


pembimbing: Danang Yugo Pratomo, M.Pd

Oleh :

Kelompok 1

1. AKHMAD PAJRIANSYAH NIM : 18301004


2. MUHAMMAD FIKRI RAMADHAN NIM : 18301015
3. MUHAMMAD RIZKIANUR AS SAURI NIM : 18301018
4. RESTU SURYA BUANA NIM : 18301022
5. SYAMSU ASMAWI SAHRIL NIM : 18301023

YAYASAN HASNUR CENTER POLITEKNIK HASNUR

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK OTOMOTIF

BARITO KUALA

2019

i
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT karena atas berkah dan rahmatnya
yang telah diberikan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan
Makalah Mesin Perkakas. Shalawat serta salam tidak lupa kami panjatkan
kepada baginda besar yaitu nabi muhammad SAW yang kita nanti-natikan
syafa’atnya di akhirat nanti. Tugas makalah mesin perkakas ini dikerjakan
dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Teknik Mesin Perkakas yang
dibina oleh bapak Danang Yugo Pratomo, M.Pd.
Dalam pembuatan makalah mesin perkakas ini tentu menyadari
bahwa makalah ini masih belum sempurna dan terdapat kesalahan serta
kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami selaku pembuat makalah
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
menjadi pelajaran untuk kami dan nantinya dapat membuat makalah yang
lebih baik lagi. Demikian penyampaian awal dari kami, apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-
besarnya.

Barito kuala, 28 April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI ............................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................ 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2. Rumusan Masalah ...................................................................... 1

1.3. Tujuan.......................................................................................... 1

1.4. Manfaat ........................................................................................ 2

BAB 2 PEMBAHASAN .............................................................................. 3

2.1. Dasar-Dasar Mesin Bubut .......................................................... 3

2.1.1. Bagian-bagian mesin bubut....................................................... 3

2.1.2. Macam-macam pembubutan ..................................................... 6

2.2. Parameter Penggunaan Mesin Bubut........................................ 7

2.2.1. Standar operasional prosedur (SOP) dan jobsheet .................. 7

2.2.2. Setting awal mesin dan benda kerja .......................................... 9

2.3. Resiko keselamatan kerja dalam kerja permesinan bubut dan


gerinda ................................................................................................. 11

2.3.1. Hal yang perlu dilakukan ......................................................... 11

2.3.2. Hal yang tidak perlu dilakukan................................................. 12

2.4. Parameter Penggunaan Mesin Gerinda Pada Proses


Pengasahan Pahat Bubut ................................................................... 14

2.4.1. Standar operasioanal prosedur (SOP) dan jobsheet ............... 15

BAB 3 PENUTUP ..................................................................................... 17

3.1. Kesimpulan ............................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 18

ii
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin
mendorong upaya-upaya pembaharuan serta pemanfaatan hasil-
hasil yang sudah ada untuk tersu dikembangkan. Dalam kegiatan
produksi yang diawali dengan proses pengawasan, desain produk,
penggunaan alat mulai dari alat pelindung diri (APD) dan alat kerja
yang digunakan akan mempengaruhi produk yang dihasilkan. Agar
produksi kiranya menjadi lebih maksimal pastinya dibutuhkan
keahlian dari para pelaku atau pekerja yang menguasai bidang
tersebut serta yang mampu mamahami bagaimana keselamatan
kerja saat proses produksi. Perkembangan zaman membuat kita
dituntut untuk melakukan sebuah proses dengan meminimalisir
biaya yang dikeluarkan dan memaksimalkan hasil dengan barang
yang tersedia, seperti halnya penggunaaan mesin bubut dalam
industri permesinan. Menggunakan mesin bubut memerlukan
keterampilan yang baik dalam hal persiapan, penggunaan, dan
perawatan. Oleh karena itu makalah ini yang membahas tentang
mesin perkakas khususnya mesin bubut dan pahat sekiranya
mampu memaksimalkan keahlian dan meminimalisir kecelakaan
mengingat pentingnya menjaga keselamatan dalam melakukan
pekerjaan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa dasar-dasar dalam mesin bubut?
2. Bagaimana parameter dalam penggunaan mesin bubut?
3. Apa resiko keselamatan kerja dalam kerja permesinan bubut
dan gerinda?
4. Bagaimana parameter dalam menggunakan mesin gerinda pada
proses pengasahan pahat mesin bubut?

1.3. Tujuan
1. Untuk dapat mengetahui dasar-dasar mesin bubut.
2. Untuk dapat mengetahui parameter dalam penggunaan mesin
bubut.

1
3. Untuk dapat mengetahui apa resiko keselamatan kerja dalam
kerja permesinan bubut dan gerinda.
4. Untuk dapat mengetahui parameter dalam penggunaan mesin
gerinda pada proses pengasahan pahat mesin bubut.

1.4. Manfaat
1. Kita dapat mengetahui dasar-dasar mesin bubut.
2. Kita dapat mengetahui parameter dalam penggunaan mesin
bubut.
3. Untuk dapat mengetahui apa resiko keselamatan kerja dalam
kerja permesinan bubut dan gerinda.
4. Untuk dapat mengetahui parameter dalam penggunaan mesin
gerinda pada proses pengasahan pahat mesin bubut.

2
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1. Dasar-Dasar Mesin Bubut


Mesin bubut adalah salah satu metal cutting machine dengan
gerak utama berputar (Santoso, 2013). Mesin bubut memiliki prinsip
kerja yaitu benda kerja dicengkeram oleh chuck dan berputar
sedangkan pahat potong bergerak maju untuk melakukan
pemotongan dan pemakanan. Proses pembubutan merupakan
salah satu proses permesinan untuk menghasilkan bagian-bagian
mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan mesin bubut.

Mesin bubut membuat benda kerja berputar pada sumbunya,


dengan gerakan alat potong sejajar sumbu utama disebut
pembubutan memanjang dan alat potong bergerak tegak lurus
terhadap sumbu utama disebut pembubutan muka serta alat potong
bergerak bersudut terhadap sumbu utama disebut pembubutan
tirus.

2.1.1. Bagian-bagian mesin bubut


2.1.1.1. Kepala tetap (headstock)

Kepala tetap berada pada bagian kiri mesin bubut. Dibagian


ini terdapat spindel yang berfungsi untuk memutar benda kerja
pada bagian ini terdapat tuas-tuas yang berguna untuk
mengatur kecepatan spindle.

3
2.1.1.2. Kepala lepas (tailstock)

Kepala lepas terletak pada bagian sebelah kanan mesin


bubut. Kepala lepas berfungsi untuk pengerjaan bubut dengan
dua center, untuk menghindari benda kerja bengkok pada saat
pembubutan, misalnya pada pekerjaan pembubutan As dan
kepala lepas juga dipasangi mata bor untuk pekerjaan
pengeboran.

2.1.1.3. Eretan (carriage)


Eretan merupakan penyangga dan pembawa pahat bubut.
Terdapat eretan melintang dan eretan kombinasi yang berguna
untuk mengatur gerak dan posisi pahat. Pada eretan terdapat
tool holder dan juga tuas menggerakkan eretan secara manual
maupun otomatis.

2.1.1.4. Meja mesin (lathe bed)


Lathe bed merupakan kerangka
mesin bubut. Dibagian atasnya
terdapat kepala lepas (carriage).

4
2.1.1.5. Tuas (handle)
Setiap mesin bubut dengan merk atau pabrikan berbeda
memiliki bentuk dan jenis tuas yang berbeda pula yang memiliki
karakteristik penempatan posisi dan penggunaan berbeda-
beda. Oleh karena itu, di dalam mengatur tuas pada setiap
proses pembubutan harus berpedoman pada tabel-tabel
petunjuk.

2.1.1.6. Poros
Dalam mesin bubut terdapat dua jenis poros yaitu poros
transportir dan poros pembawa. Poros transportir berfungsi
untuk membawa eretan pada watu pembubutan otomatis
dengan berntuk berulir sedangkan poros pembawa adalah
poros yang selalu berputar untuk mendukung jalannya proses
pembubutan otomatis.

5
2.1.2. Macam-macam pembubutan
2.1.2.1. Membubut lurus
Ada beberapa cara membubut lurus yaitu pembubutan muka
atau facing dan pembubutan memanjang (sejajar dengan

benda kerja) agar menghasikan pembubutan permukaan datar


pada benda kerja.

2.1.2.2. Membubut alur


Untuk membuat sebuah alur, digunakan pahat bubut untuk
membuat alur atau pengalur. Pahat ini berbentuk lurus,
bengkok, berjenjang ke kanan atau ke kiri.

2.1.2.3. Mengebor
Pembuatan lubang pada benda kerja disebut pengeboran.
Mengebor juga bisa dilakukan menggunakan mesin bubut
dengan meletakkan mata bor pada tailstock.

2.1.2.4. Membubut dalam


Pembubutan ini digunakan untuk memperbesar diameter
lubang pada objek kerja.

6
2.1.2.5. Membuat ulir
proses pembuatan ulir biasanya menggunakan beberapa
jenis pahat sesuai kebutuhan seperti: pahat ulir segiempat,

pahat ulir segitiga, pahat ulir bulat, pahat ulir trapesium, dan
beberapa bentuk lainnya. Pekerjaan ini dapat membuat ulir
dalam maupun ulir luar pada benda kerja.

2.2. Parameter Penggunaan Mesin Bubut


Mesin bubut salah satu mesin perkakas yang familiar di
masyarakat. Oleh karena itu mesin bubut memiliki mekanisme kerja
yang dilihat mudah dipahami, untuk lebih membantu memahami
tata cara atau langkah0langkah yang digunakan dalam proses
pembubutan yakni dengan memperhatikan SOP dan jobsheet yang
dimiliki penyetingan awal mesin dan penyetingan benda kerja
terhadap mesin bubut.

2.2.1. Standar operasional prosedur (SOP) dan jobsheet


2.2.1.1. Standar Operasional Prosedur (SOP)
Standar operasional prosedur merupakan sebuah dokumen
yang berisi tentang prosedur kerja secara sistematis yang harus
dilakukan dengan menyelesaikan pekerjaan tertentu. Prosedur
ini harus benar-benar ditaati agar memperoleh hasil maksimal
dengan kerja seefektif mungkin. SOP juga berguna supaya
tidak ada yang bekerja diluar sistem.
Berikut contoh langkah kerja berdasarkan SOP dalam
praktik membubut poros bertingkat..
a. Membaca dan memperhatikan gambar (jobsheet)
b. Memperhatikan unsur-unsur K3 dan Persiapan alat
pelindung diri.
c. Pengecekan kondisi mesin

7
d. Persiapan alat meliputi: mesin bubut, mistar geser
(vernier caliper), dialgag, senter, kunci-kunci, dan pahat
bubut rata kanan.
e. Penggunaan bahan menggunakan besi AS ST-42
dengan
Dimensi kotor: dan
Dimensi bersih:
f. Melakukan pembubutan muka sepanjang 65
dengan kedalaman potong 2 dikali 3 pengulangan,
kemudian balik benda kerja dan lakukan hal tersebut
kembali.
g. Melakukan pembubutan pada bidang tertentu dengan
diameter sepanjang 47 dengan kedalaman
potong 1,5 yang dilakukan dengan 2 kali
pengulangan.
h. Melakukan pembubutan pada bidang yang telah dibubut
dengan diameter menjadi sepanjang
27 dengan kedalaman potong 1,5 yang
dilakukan dengan 2 kali pengulangan.
i. Melakukan pembubutan pada bidang yang telah dibubut
dengan diameter menjadi sepanjang
12 dengan kedalaman potong 1,5 yang
dilakukan dengan 2 kali pengulangan.
j. Melakukan bubut muka atau facing pada bidang yang
berdiameter sedalam
5 untuk mendapatkan
hasil panjang 125
k. Melakukan bubut champer
atau pengkisan permukaan
tajam dengan sudut 45
disemua permukaan tajam.
l. Membersihkan geram atau
bekas kegiatan pembubutan
untuk menghindari resiko
kelalaian pekerjaan.

8
m. Selesai
2.2.1.2. Jobsheet
Jobsheet atau lembar penuntun merupakan daftar cek
tentang langkah-langkah yang harus diikuti ketika
mengoperasikan atau mempraktikan sesuatu (Azhar,2014:34).
Abdillah 2013:3 mendeskripsikan bahwa jobsheet adalah
lembaran-lembaran siswa yang berisi tugas yang harus
dikerjakan oleh peserta didik. Biasanya jobsheet dapat berupa
gambar maupuin tulisan.

2.2.2. Setting awal mesin dan benda kerja


Penyetingan mesin merupakan salah satu langkah yang
peling mempengaruhi proses pembubutan. Dikarenakan
penyetingan awal dari mesin bubut sangat mempengaruhi hasil
atau produk yang dihasilkan maka kita diharapkan memperhatikan
beberapa kunci dalam penyetingan mesin tersebut.

2.2.2.1. Pemasangan pahat bubut


Persyaratan utama dalam melakukan proses pembubutan
adalah pemasangan pahat bubut ketinggiannya harus sam
dengan pusat senter. Persyaratan tersebut harus dilakukan
agar tidak terjadi perubahan geometri pada pahat bubut yang
sedang digunakan.

9
Perubahan geometri sudut
akan mengakibatkan proses
pembubutan menjadi kurang
maksimal. Pada proses
pembubutan permukaan, bila
pemasangan dibawah sumbu
senter maka akan berakibat permukaan tidak dapat rata, dan
apabila pemasangan pahat bubut diatas sentr maka akan
berakibat pahat tidak dapat memotong dengan baik
dikarenakan kurangnya sudut bebas antara benda kerja dan
pahat bubut.
2.2.2.2. Pemasangan benda kerja
Untuk pemasangan benda kerja yang memiliki ukuran tidak
terlalu panjang, disarankan tidak boleh terlalu keluar atau
menonjol dari permukaan rahang cekam. Di samping itu kita
juga harus memperhatikan tata letak senterisai dari benda
kerja, pahat bubut dan senter.
2.2.2.3. Kecepatan potong
Dalam melakukan pembubutan salah satu yang harus
diperhatikan adalah kecepatan potong. Pemilihan kecepatan
potong selain itu juga dipengaruhi oleh beberapa hal seperti:
a. Bahan yang dikerja mesinkan (lunak atau keras)
b. Bahan perkakas (baja perkakas, logam keras)
c. Urutan kerja (kasar, halus)
d. Pendinginan

Kecepatan potong adalah jarak yang ditempuh oleh titip P,


pada benda kerja dengan garis tengah d dalam waktu satu
menit diukur dalam meter.

Untuk itu diperlukan lima elemen dasar permesinan yaitu:

a. Kecepatan potong (cutting speed) : Vc (m/min)


b. Kecepatan makan (feeding speed) : Vf (mm/min)
c. Kedalaman potong (depth of cut) : a (mm)
d. Waktu pemotongan (cutting time) : tc (min), dan

10
e. Kecepatan penghasilan geram (rate of metal removal) :
Z (cm3/min)

2.3. Resiko keselamatan kerja dalam kerja permesinan bubut dan


gerinda
Kegiatan pembubutan dan penggerindaan tentunya sangat
mementingkan kesehatan, keselamatan kerja, dan turut
memperhatikan aspek lingkungan. Tentunya kesadaran akan hal-
hal tersebut harus ada tanpa adanya paksaan karena bahayanya
akan merugikan diri sendiri maupun oranglain. Dengan demikian
penerapan hal-hal tersebut tentunya akan memiliki dampak positif
dan menekan terjadinya resiko yang akan timbul dikemudian hari.
Oleh karena itu perlu kesadaran bersama untuk selalu menjaga
kesehatan dan keselamatan kerja.

Berikut hal yang harus dilakukan dan tidak dilakukan saat


melakukan kegiatan penggerindaan dan pembubutan:

2.3.1. Hal yang perlu dilakukan


2.3.1.1. Menggunakan pakaian kerja
Untuk menghindari baju dan celana harian terkena bekas oli,
kotoran dan benda-benda lain saat proses pembubutan.
Operator harus menggunakan baju kerja dan sebaiknya
menghindari baju kerja yang kedodoran kerena berpotensi
besar akan terlilit saat proses pengerjaan.
2.3.1.2. Menggunakan kacamata (safety glasses)
Untuk menghindari mata kemasukan tatal atau geram pada
proses pembubutan. Maka selama pembubutan harus
menggunakan kacamata sesuai dengan standar keselamat
kerja.
2.3.1.3. Menggunakan safety shoes
Pada saat melakukan proses pembubutan, tidak dapat
dihindari adanya chip atau geram berserakan di lantai yang
berasal dari hasil pembubutan. Selain itu ada kemungkinan
benda atau alat perlengkapan lain terjatuh dari atas dan juga oli
yang berceceran. Maka dari itu, pada saat melakukan proses

11
pembubutan harus menggunakan sepatu sesuai dengan
standar yang berlaku.

2.3.2. Hal yang tidak perlu dilakukan


2.3.2.1. Menempatkan benda kerja di tempat yang tidak aman
Agar semua peralatan aman dan mudah diambil pada saat
ingin digunakan, peralatan harus diletakkan dan ditempatkan
pada posisi yang aman dan ditata dalam penempatannya.
Penempatan peralatan sebagaimana gambar dibawah ini
sangat tidak dibenarkan karena peralatan rawan terjadi
kerusakan akibat saling berbenturan dan lebih buruk lagi
terlempar dari posisi semula kea rah operator.

2.3.2.2. Meninggalkan kunci cekam pada mulut pencekam


Menempatkan kunci cekam pada mulut pencengkam adalah
kegiatan yang sangat membahayakan bagi operator dan orang-
orang disekitar. Hal ini disebabkan apabila mesin dihidupkan
sedangkan kunci cekam masih menempel di mulut kunci
cekam, maka kunci cekam akan terlempar dengan arah yang
tidak jelas dan dapat melukai siapa saja yang berada di sekitar
mesin bubut.

12
2.3.2.3. Berkerumun disekitar mesin tanpa pelindung diri
Berkerumun disekitar mesin bubut tanpa alat pelindung
adalah salah satu kegiatan yang sangat membahayakan,
karena rawan terjadi kecelakaan akibat loncatan geram atau
perlengkapan mesin bubut yang terjatuh.

2.3.2.4. Membiarkan air pendingin dan geram berserakan di lantai


Dengan membiarkan air pendingin dan geram berserakan di
lantai akan menimbulak resiko kecelakaan. Misalnya lantai
menjadi licin sehingga orang lewat mudah terjatuh dan geram
dapat mengakibatkan orang terluka kakinya. Selain itu dilarang
keras untuk membuang air pendingin sembarangan Karena air
tersebut mengandung unsur kima yang berbahaya bagi
lingkungan.

2.3.2.5. Menggunakan sarung tangan dalam proses pembubutan


Menggunakan sarung tangan pada saat melakukan
pembubutan juga sangat tidak dianjurkan. Karena jika
menggunakan sarung tangan kepekaan tangan jadi berkurang,
sehingga dalam melakukan pengukuran hasil pembubutan
kurang sensitive, dan juga tangan kurang peka terhadap

13
kejadian-kejadian lainnya yang dapat mengakibatkan tangan
rawan terjadi kecelakaan.

2.3.2.6. Membuang geram bersama jenis sampah lainnya


Kegiatan membuang geram bersama jenis sampah lain
sangat tidak dianjurkan, kerena demi kesehatan lingkungan
sampah jenis organik dan an-organik dipisahkan sehingga
pengolahan akhirnnya jadi lebih mudah.

2.4. Parameter Penggunaan Mesin Gerinda Pada Proses


Pengasahan Pahat Bubut
Pahat bubut memiliki mata yang berbeda-beda sesuai
dengan jenis pemotongan dan bentuk akhir dari produk. Adapun
pahat dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis pahat yang bermata
potong tunggal (single point cutting tools) dan pahat bermata potong
jamak (multiple point cutting tools). Oleh karena keperluan dalam
pembubutan memerlukan adanya pahat bubut membuat operator
harus memiliki kemampuan untuk mengasah pahat bubut
menggunakan mesin gerinda.

14
2.4.1. Standar operasioanal prosedur (SOP) dan jobsheet
2.4.1.1. Standar operasioanal prosedur (SOP)
Standar operasional prosedur merupakan sebuah dokumen
yang berisi tentang prosedur kerja secara sistematis yang harus
dilakukan dengan menyelesaikan pekerjaan tertentu. Prosedur
ini harus benar-benar ditaati agar memperoleh hasil maksimal
dengan kerja seefektif mungkin. SOP juga berguna supaya tidak
ada yang bekerja diluar sistem.
Berikut contoh langkah kerja berdasarkan SOP dalam
praktik menggerinda pahat alur mesin bubut.
a. Membaca gambar mesin
b. Memperhatikan dan menyiapkan unsur K3 dan alat
pelindung diri (APD)
c. Pengecekan kondisi mesin
d. Persiapan alat meliputi: mesin gerinda, jangka sorong
(vernier caliper) dan alat pengukur sudut.
e. Persiapan bahan meliputi: Besi HSS
f. Menggerinda sisi sudut bebas dengan kemiringan 6
g. Menggerinda sisi depan bagian kanan sepanjangn
15
h. Menggerinda sisi depan bagian kanan ke kiri hingga
membentuk sudut potong selebar 2,70
i. Ukur kembali dimensi benda kerja apabila sudah sesuai
yang ditentukan maka pekerjaan selesai.
j. Melakukan pembersihan kepada area kerja yang
meliputi mesin, meja kerja dan alat-alat pengukuran
k. Selesai
2.4.1.2. Jobsheet
Jobsheet atau lembar penuntun merupakan daftar cek
tentang langkah-langkah yang harus diikuti ketika
mengoperasikan atau mempraktikan sesuatu (Azhar,2014:34).
Abdillah 2013:3 mendeskripsikan bahwa jobsheet adalah
lembaran-lembaran siswa yang berisi tugas yang harus
dikerjakan oleh peserta didik. Biasanya jobsheet dapat berupa
gambar maupuin tulisan.

15
2.4.1.3. Syarat pahat setelah penggerindaan
a. Kekerasan; yang cukup tinggi melebihi kekerasan benda
kerja tidak pada temperatur ruang saja melainkan juga
pada temperatur tinggi atau memiliki hot hardness yang
tinggi pada proses pembentukan geram berlangsung.
b. Keuleten; yang cukup besar untuk menahan beban kejut
yang terjadi sewaktu pemesinan dengan interupsi
maupun sewaktu memotong benda kerja yang
mengandung partikel/bagian keras (Hard spot).
c. Ketahanan benda kejut termal; diperlukan bila terjadi
perubahan temperatur cukup besar secara berkala atau
periodik.
d. Sifat adhesi yang rendah; untuk mengurangi afinitas
benda kerja terhadap pahat, mengurangi laju keausan,
serta penurunan gaya pemotong.
e. Daya larut komponen material pahat rendah; dibutuhkan
demi memperkecil laju keausan akibat mekanisme divisi.

16
BAB 3 PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Proses pembubutan memiliki resiko dari berbagai sudut
demi mengurangi resiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan
kami berharap bahwa dengan adanya makalah ini dapat
menurunkan resiko terjadinya hal tersebut dengan bertambahnya
pengetahuan atas permesinan bubut. Dalam pemgoperasian mesin
bubut kita harus memperhatikan unsur K3 dan memperhatikan alat
pelindung diri (APD) serta selalu mengutamakan pengecekan mesin
sebelum digunakan.

Dalam proses pembubutan tentunya kita memiliki resiko


yang besr oleh karena itu kita dianjurkan untuk melakukan kegiatan
tersebut sesuai dengan standar operasional prosedur yang ada.

17
DAFTAR PUSTAKA

Gain, J. (1996). Engenering Workshop practice. Sydney,Australia:


International Thomson Publishing Company.

Hestanto. (n.d.). teori dasar mesin bubut. Retrieved from


www,hestanto.web.id: https://www.hestanto.web.id/teori-dasar-
mesin-bubut/

Santoso, J. (2013). Pekerjaan Mesin Perkakas untuk SMA/MAK kelas X.


Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan .

Sumbodo, W. (2008). Teknik Pemesinan Bubut 1. Cimahi: Direktorat


Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

18