Anda di halaman 1dari 2

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peritoneum merupakan selaput serosa tembus pandang dan sinambung yang

terdiri dari dua lapisan yaitu parietal dan visceral. Peritoneum parietal yang melapisi

dinding rongga abdomen dan peritoneum viseral yang meliputi semua organ yang

berada dalam rongga abdomen. Cavitas peritonealis merupakan ruang antara kedua

lapisan tersebut dan berisi organ-organ abdomen di dalamnya (Moore, 2002).

Pneumoperitoneum merupakan keadaan adanya udara bebas dalam kavum

peritoneum. Hal ini bisa disebabkan perforasi organ berongga abdomen akibat trauma

tumpul abdomen. Dalam kebanyakan kasus, pneumoperitoneum memerlukan

eksplorasi bedah mendesak dan intervensi dengan segera (Mansjoer, 2000).

Kemajuan teknologi di bidang kesehatan yang ada pada saat ini memberi

kemudahan bagi para praktisi kesehatan untuk mendiagnosa penyakit serta

menentukan jenis pengobatan bagi pasien. Pencitraan radiologi diperlukan untuk

mendeteksi kelainan-kelainan yang terdapat pada cavitas abdomen baik peritoneum

maupun organ-organ didalamnya. Pencitraan tersebut meliputi foto polos abdomen,

USG, MRI, CT-scan yang juga dapat dilakukan dengan kontras.

Pemeriksaan radiografi polos dalam kasus kedaruratan di negara maju

perannya sudah semakin sempit dan diganti dengan teknologi CT scan serta

1
2

perangkat digital lainnya termasuk USG dan MRI. Computed tomography dianggap

lebih sensitif dalam diagnosis pneumoperitoneum. Oleh karena itu CT ditetapkan

sebagai standar kriteria dalam penilaian pneumoperitoneum. CT dapat

memvisualisasikan jumlah sekecil 5 cm³ udara atau gas. Meskipun demikian, masih

tetap dipakai karena murah, mudah dan cepat untuk kasus tertentu. Udara akan

terlihat tepat di bawah hemidiaphragma, sela antara diafragma dan hati. Jika

pencitraan radiograf dada tegak tidak dapat dilakukan, maka pasien ditempatkan di

sisi kanan posisi dekubitus dan udara dapat dilihat sela antara hati dan dinding perut.

Radiografi polos, jika benar dilakukan, dapat mendiagnosa jumlah yang sangat kecil

dari udara bebas (Pamujiandri, 2011).