Anda di halaman 1dari 19

Tafsir Kitab Filipi 3:1-16

A.  Interlinear

Kitab Filipi 3:1-16

Bahasa (ITB) English (KJV) English (ISV) Greek (GNT)

Php 3:1  Akhirnya, Php 3:1  Finally, my Php 3:1  So then, Php 3:1  Τὸ λοιπόν, ἀδελφοί
saudara-saudaraku, brethren, rejoice in my brothers, keep μου, χαίρετε ἐν Κυρίῳ. τὰ αὐτὰ
bersukacitalah dalam the Lord. To write on rejoicing in the γράφειν ὑμῖν ἐμοὶ μὲν οὐκ
Tuhan. (3-1b) the same things to Lord. It is no ὀκνηρόν, ὑμῖν δὲ ἀσφαλές.
Menuliskan hal ini you, to me trouble for me to
lagi kepadamu indeed is not write the same
tidaklah berat bagiku grievous, but for things to you;
dan memberi you it is safe. indeed, it is for
kepastian kepadamu. your safety.

Php 3:2  Hati-hatilah Php 3:2  Beware of Php 3:2  Beware Php 3:2  Βλέπετε τοὺς κύνας,
terhadap anjing- dogs, beware of evil of the dogs! βλέπετε τοὺς κακοὺς ἐργάτας,
anjing, hati-hatilah workers, beware of Beware of the evil βλέπετε τὴν κατατομήν·
terhadap pekerja- the concision. workers! Beware
pekerja yang jahat, of the mutilators!
hati-hatilah terhadap
penyunat-penyunat
yang palsu,

Php 3:3  karena Php 3:3  For we are Php 3:3  For it is Php 3:3  ἡμεῖς γάρ ἐσμεν
kitalah orang-orang the circumcision, we who are the ἡ περιτομή, οἱ Πνεύματι
bersunat, yang which worship God circumcision-we Θεοῦ λατρεύοντες καὶ
beribadah oleh Roh in the spirit, and who worship in καυχώμενοι ἐν
Allah, dan bermegah rejoice in Christ the Spirit of God Χριστῷ ᾿Ιησοῦ καὶ οὐκ ἐν σαρκὶ
dalam Kristus Yesus Jesus, and have no and boast in πεποιθότες,
dan tidak menaruh confidence in the Christ Jesus. We
percaya pada hal-hal flesh. have not placed
lahiriah. any confidence in
the flesh,

Php 3:4  Sekalipun Php 3:4  Though I Php 3:4  although Php 3:4  καίπερ ἐγὼ ἔχων
aku juga ada alasan might also have I could have πεποίθησιν καὶ ἐν σαρκί. εἴ τις
untuk menaruh confidence in the confidence in the δοκεῖ ἄλλος πεποιθέναι ἐν
percaya pada hal-hal flesh. If any other flesh. If anyone σαρκί, ἐγὼ μᾶλλον·
lahiriah. Jika ada man thinketh that thinks he can
orang lain he hath whereof he place confidence
menyangka dapat might trust in the in the flesh, I have
menaruh percaya flesh, I more: more reason to
pada hal-hal lahiriah, think so.
aku lebih lagi:

Php 3:5  disunat Php 3:5  Php 3:5  Having Php 3:5  περιτομῇ ὀκταήμερος,
pada hari kedelapan, Circumcised the been circumcised ἐκ γένους ᾿Ισραήλ, φυλῆς
dari bangsa Israel, eighth day, of the on the eighth day, Βενιαμίν, ῾Εβραῖος ἐξ ῾Εβραίων,
dari suku Benyamin, stock of I am of the nation κατὰ νόμον Φαρισαῖος,
orang Ibrani asli, Israel, of the tribe of of Israel, from the
tentang pendirian Benjamin, an tribe of Benjamin,
terhadap hukum Hebrew of the a Hebrew of
Taurat aku orang Hebrews; as Hebrews. As far as
Farisi, touching the law, a the law is
Pharisee; concerned, I was a
Pharisee.

Php 3:6  tentang Php 3:6  Concerning Php 3:6  As far as Php 3:6  κατὰ ζῆλον διώκων
kegiatan aku zeal, persecuting zeal is concerned, τὴν ἐκκλησίαν, κατὰ
penganiaya jemaat, the church; I was a persecutor δικαιοσύνην τὴν ἐν
tentang kebenaran touching the of the church. As νόμῳ γενόμενος ἄμεμπτος.
dalam mentaati righteousness which far as the
hukum Taurat aku is in the law, righteousness that
tidak bercacat. blameless. is in the law is
concerned, I was
perfect.

Php 3:7  Tetapi apa Php 3:7  But what Php 3:7  But Php 3:7  ἀλλ᾿ ἅτινα ἦν μοι
yang dahulu things were gain to whatever things κέρδη, ταῦτα ἥγημαι διὰ τὸν
merupakan me, those I counted were assets to Χριστὸν ζημίαν·
keuntungan bagiku, loss for Christ. me, these I now
sekarang kuanggap consider a loss for
rugi karena Kristus. the sake of Christ.

Php 3:8  Malahan Php 3:8  Yea Php 3:8  What is Php 3:8  ἀλλὰ μενοῦνγε καὶ
segala sesuatu doubtless, and I more, I continue ἡγοῦμαι πάντα ζημίαν εἶναι
kuanggap rugi, count all to consider all διὰ τὸ ὑπερέχον τῆς γνώσεως
karena pengenalan things but loss for these things as a Χριστοῦ ᾿Ιησοῦ τοῦ Κυρίου
akan Kristus Yesus, the excellency of loss for the sake μου, δι᾿ ὃν τὰ πάντα
Tuhanku, lebih mulia the knowledge of of the surpassing ἐζημιώθην, καὶ ἡγοῦμαι
dari pada semuanya. Christ Jesus my value of knowing σκύβαλα εἶναι ἵνα Χριστὸν
Oleh karena Dialah Lord: for whom I Christ Jesus my κερδήσω
aku telah have suffered the Lord. It is because
melepaskan loss of all things, of him that I have
semuanya itu dan and do count experienced the
menganggapnya them but dung, that loss of all those
sampah, supaya aku I may win Christ, things. Indeed, I
memperoleh Kristus, consider them
rubbish in order
to gain Christ

Php 3:9  dan berada Php 3:9  And be Php 3:9  and be Php 3:9  καὶ εὑρεθῶ ἐν
dalam Dia bukan found in him, not found in him, not αὐτῷ μὴ ἔχων ἐμὴν
dengan kebenaranku having mine own having a δικαιοσύνην τὴν ἐκ νόμου,
sendiri karena righteousness, righteousness of ἀλλὰ τὴν διὰ πίστεως Χριστοῦ,
mentaati hukum which is of the law, my own that τὴν ἐκ Θεοῦ δικαιοσύνην ἐπὶ
Taurat, melainkan but that which is comes from the τῇ πίστει,
dengan kebenaran through the faith of law, but one that
karena kepercayaan Christ, the comes through
kepada Kristus, yaitu righteousness which the faithfulness of
kebenaran yang is of God by faith: Christ, the
Allah anugerahkan righteousness that
berdasarkan comes from God
kepercayaan. and that depends
on faith.

Php 3:10  Yang Php 3:10  That I may Php 3:10  I want Php 3:10  τοῦ γνῶναι αὐτὸν καὶ
kukehendaki ialah know him, and the to know Christ- τὴν δύναμιν τῆς ἀναστάσεως
mengenal Dia dan power of his what his αὐτοῦ καὶ τὴν κοινωνίαν τῶν
kuasa kebangkitan- resurrection, and resurrection παθημάτων αὐτοῦ,
Nya dan persekutuan the fellowship of his power is like and συμμορφούμενος
dalam penderitaan- sufferings, being what it means to τῷ θανάτῳ αὐτοῦ,
Nya, di mana aku made conformable share in his
menjadi serupa unto his death; sufferings by
dengan Dia dalam becoming like him
kematian-Nya, in his death,

Php 3:11  supaya aku Php 3:11  If by any Php 3:11  though I Php 3:11  εἴ πως καταντήσω εἰς
akhirnya beroleh means I might attain hope to τὴν ἐξανάστασιν τῶν νεκρῶν.
kebangkitan dari unto the experience the
antara orang mati. resurrection of the resurrection from
dead. the dead.

Php 3:12  Bukan Php 3:12  Not as Php 3:12  It's not Php
seolah-olah aku though I had already that I have already 3:12  Οὐχ ὅτι ἤδη ἔλαβον ἢ ἤδη
telah memperoleh attained, either reached this goal τετελείωμαι, διώκω δὲ εἰ καὶ
hal ini atau telah were already or have already καταλάβω, ἐφ᾿ ᾧ καὶ
sempurna, perfect: but I follow become perfect. κατελήμφθην ὑπὸ
melainkan aku after, if that I may But I keep τοῦ Χριστοῦ ᾿Ιησοῦ.
mengejarnya, kalau- apprehend that for pursuing it,
kalau aku dapat juga which also I am hoping somehow
menangkapnya, apprehended of to embrace it just
karena akupun telah Christ Jesus. as I have been
ditangkap oleh embraced by
Kristus Yesus. Christ Jesus.

Php 3:13  Saudara- Php 3:13  Brethren, I Php 3:13  Php 3:13  ἀδελφοί, ἐγὼ
saudara, aku sendiri count not myself to Brothers, I do not ἐμαυτὸν οὔπω λογίζομαι
tidak menganggap, have apprehended: consider myself to κατειληφέναι· ἕν δέ, τὰ μὲν
bahwa aku telah but this one thing I have embraced it. ὀπίσω ἐπιλανθανόμενος τοῖς
menangkapnya, do, forgetting those But this one thing δὲ ἔμπροσθεν ἐπεκτεινόμενος
tetapi ini yang things which are I do: Forgetting
kulakukan: aku behind, and what lies behind
melupakan apa yang reaching forth unto and straining
telah di belakangku those things which forward to what
dan mengarahkan are before, lies ahead,
diri kepada apa yang
di hadapanku,

Php 3:14  dan Php 3:14  I press Php 3:14  I keep Php 3:14  κατὰ σκοπὸν διώκω
berlari-lari kepada toward the mark for pursuing the goal ἐπὶ τὸ βραβεῖον τῆς ἄνω
tujuan untuk the prize of the high to win the prize of κλήσεως τοῦ Θεοῦ ἐν
memperoleh hadiah, calling of God in God's heavenly Χριστῷ ᾿Ιησοῦ.
yaitu panggilan Christ Jesus. call in Christ Jesus.
sorgawi dari Allah
dalam Kristus Yesus.

Php 3:15  Karena itu Php 3:15  Let us Php 3:15  Php 3:15  ῞Οσοι οὖν τέλειοι,
marilah kita, yang therefore, as many Therefore, those τοῦτο φρονῶμεν· καὶ εἴ τι
sempurna, berpikir as be perfect, be of us who are ἑτέρως φρονεῖτε, καὶ τοῦτο
demikian. Dan thus minded: and if mature should ὁ Θεὸς ὑμῖν ἀποκαλύψει.
jikalau lain pikiranmu in any thing ye be think this way.
tentang salah satu otherwise minded, And if you think
hal, hal itu akan God shall reveal differently about
dinyatakan Allah even this unto you. anything, God will
juga kepadamu. show you how to
think.

Php 3:16  Tetapi Php 3:16  Php 3:16  Php 3:16  πλὴν


baiklah tingkat Nevertheless, However, we εἰς ὃ ἐφθάσαμεν,
pengertian yang whereto we have should live up to τῷ αὐτῷ στοιχεῖν κανόνι, τὸ
telah kita capai kita already attained, let what we have αὐτὸ φρονεῖν.
lanjutkan menurut us walk by the same achieved so far.
jalan yang telah kita rule, let us mind the
tempuh. same thing.
B.  Pendahuluan

Surat Filipi yang pendek itu sangat mengesankan, karena dikirimkan kepada jemaat Kristen yang
pertama-tama di Eropa. Kedatangan Paulus dan teman-temannya ke kota Filipi menghasilkan akibat-
akibat yang hampir tak ada taranya dalam sejarah. Surat Filipi ditulis kira-kira selang 30 tahun
daripada kenaikan Tuhan Yesus Kristus, yakni kira-kira 10 tahun sesudah perkabaran injil yang
pertama di Filipi.[1]

Kota Filipi pernah bernama Datos, kemudian Krenides yang berarti mata-mata air atau seumber-
sumber air. Raja Filipus, ayah Iskandar yang Agung, yang mendapat keuntungan besar dari tambang-
tambang emas di sana, menamainya Filipi. Letaknya dalam wilayah yang tanahnya subur dan
tambangnya kaya. Disamping tambang emas dan perak yang membuat kota itu ternama; juga satu di
antara pintu gerbang perdagangan Asia dan Eropa. Dekat Filipi pada pegunungan, yang memisahkan
barat dan timur, terletak suatu lintasan yang lebar.[2]

Jemaat yang pertama-tama di Filipi itu sangat menarik hati : mula-mula keadaannya tenang,
kemudian mendadak huru-hara, diceritakan dalam Kis.16:12-40. Orang Kristen yang pertama di
Eropa adalah Lidia, seorang wanita Asia berasal dari Tiatira, kebetulan datang ke Filipi untuk “berjual
kain ungu.” (Tiatira terletak di Asia, terkenal dengan pabrik catnya). Mujizat Paulus di negeri itu
terjadi pada seorang wanita pula, ialah “seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung”.
Paulus mengeluarkan roh itu demi nama Yesus Kristus. Lidia dan perempuan yang dilepaskan dari
roh itu, dan beberapa wanita lain yang percaya di tepi sungai, serta kepala penjara yang bertobat
sesudah gempa bumi di tengah malam : merekalah anggota-anggota pertama jemaat yang sangat
dikasihi oleh Paulus itu. Lihat bagaimana Paulus menyebut jemaat itu dalam suratnya :
persekutuannya dengan mereka tak pernah terganggu oleh rasa curiga atau pelajaran yang salah,
seperti yang terjadi di lain-lain jemaat.[3]

Di mana dan apakah sebabnya Paulus menulis surat ini? Ada yang mengatakan, ia menulisnya
selama dalam penjara di Kaisarea (Kis.23:23; 24:27); tapi kebanyakan orang, berpendapat, surat ini
ditulis di Roma. Sebutan “istana” dalam 1:13 dapat berarti Kaisarea atau Roma, ataupun Yerusalem
(Mat.27:27). Tapi “mereka yang di istana Kaisar” (4:22) menunjukkan bahwa tempatnya Roma; hal
ini disinyalir juga oleh cerita kesaksian Paulus dalam 1:14-18, dan pengharapannya akan segera
dibebaskan (1:19 dan 2:24).[4]

Surat kepada jemaat di Filipi berisi hal praktek dan surat yang paling sedikit berisi doktrin, menurut
Uskup Lightfoot. Seluruhnya memang dijiwai oleh doktrin Kristen, tapi dalam pengajaran teologis
hanya kebetulan, untuk mendorong kelakukan yang benar. Paulus insaf, bahwa mengatasinya
bukanlah perkara mudah : orang-orang Filipi memerlukan teladean yang tinggi yang dapat
mendorong. Teladan itu terdapat dalam suatu “alinea teologis” yang teramat indah dan tak ada
taranya : “hendaknya kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat
juga dalam Kristus Yesus” – pengajaran yang tercantum dalam 2:5-11.[5]

Dalam pasal 1 menjelaskan bahwa hidup adalah untuk Kristus (1:21). Jadi hidup kita adalah hanya
untuk Tuhan Yesus Kristus dan kita harus berjuang dalam setiap pergumulan yang ada dalam hidup
ini. Pasal 2 menjelaskan bagaimana supaya jemaat dapat bersatu dan merendahkan diri seperti
Kristus yang merendahkan diri kepada kita dengan turun ke dalam dunia dan mengosongkan diri-Nya
untuk mengambil rupa seorang hamba, supaya menjadi sama dengan manusia. Dan supaya kita
dapat kerjakan keselamatan. Dan pasal 3 yang akan dibahas oleh Penulis, menceritakan tentang
kebenaran yang sejati, yaitu hanya di dalam Kristus-lah kebenaran sejati itu ada. Kemudian ia
menyebutkan hal-hal yang dahulu menjadi kemegahan baginya, tetapi kemudian dibuangkannya
untuk selama-lamanya pada saat berpaling kepada Tuhan Yesus Kristus. Sedangkan pasal 4
menguraikan bahwa Kristus menjadi teman dan pengawal orang beriman, dan diam dalam hatinya.
Kristus menjadi kesabaran bagi orang Kristen (4:5), menjadi pengharapan dan kesentosaannya
(4:6,7), serta membuatnya menang dalam “segala perkara” (4:12,13). Demikianlah keempat pasal
Filipi itu.

C.  Pertanyaan

1.      Dalam ayat 2, terdapat kata-kata : “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap


pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,” Apakah yang
dimaksud dengan anjing dalam ayat ini? Dan siapakah penyunat palsu tersebut?

2.      Dalam ayat 4, terdapat kata-kata : “Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada
hal-hal lahiriah.” Apakah yang dimaksud hal lahiriah dalam ayat tersebut ?

3.      Dalam ayat 5, tedapat kata-kata : “disunat pada hari kedelapan,” Kenapa Paulus disunat pada
hari kedelapan? Dan apakah artinya itu?

4.      Dalam ayat 12, terdapat kata-kata : “karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.”
Apakah yang dimaksud dari kata “ditangkap” ? dan kapan Paulus ditangkap oleh Kristus Yesus?

5.      Dalam ayat 14, terdapat kata-kata : “dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah,
yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Apakah yang dimaksud dengan hadiah
dalam ayat ini ?

D.  Tafsir Kitab Filipi 3:1-16

1  Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan hal ini lagi
kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.

Dalam ayat 1 terdapat bahasa Yunani : λοιπόν (loipon), artinya adalah “lain daripada itu” (atau
sebagainya) yang dapat diterjemahkan dengan perkataan “akhirnya”. Kata “loipon” juga terdapat
dalam II Tesalonika 3:1 dan dalam II Korintus 13:11. Dalam dua ayat tersebut, Paulus memakai kata
“loipon” untuk mengawali pokok pembicaraan yang baru. Dalam ayat pertama ini, Paulus bukannya
mengakhiri kalimat dalam perikop ini, walaupun seolah-olah dalam Bahasa Indonesia seperti kata
penutup. Jadi dalam ayat 1 ini, Paulus ingin membuka pokok pembicaraan yang baru, dan perikop
yang baru.

Untuk kata “bersukacitalah” dalam surat ini, Rasul Paulus sering berkata dan menyuruh kita
bersukacita. Mungkin perkataan ini berhubungan dengan peringatan yang terdapat dalam ayat dua.
Bagaimanapun kita menentukannya, keduanya menjadi selamat bagi orang-orang Kristen di Filipi,
atau dengan kata lain berfaedah bagi mereka. Bersukacita dalam Tuhan adalah baik dan bermanfaat
bagi kita, dan Rasul Paulus tidak segan mengulang hal itu ataupun hal kita sehati sepikir dalam
Tuhan. Juga Rasul Paulus tidak segan-segan mengulang hal itu ataupun hal kita sehati sepikir dalam
Tuhan.

2  Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah


terhadap penyunat-penyunat yang palsu,

3  karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus
Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.

Kita wajib bersukacita dalam Tuhan, dalam anugerah Tuhan yang berdasarkan iman kepada Tuhan
Yesus, dan bukan dalam hal sunat, hal menurut aturan-aturan lisan ataupun tulisan dalam Yahudi,
hal menurut taurat, atau bahkan perbuatan diri sendiri. Dalam ayat ini, Rasul Paulus memberikan
contoh orang yang tidak dapat bersukacita, yaitu mereka adalah anjing-anjing, yang berarti sesuatu
hal yang terdengar negatif di telinga orang Yahudi maupun orang-orang diluar Yahudi (kafir), bahkan
kata “anjing” mengibaratkan segala yang najis dan cemar, seperti pada saat Yesus menguji iman
perempuan dari Kanaan dalam Matius 15.

Setelah itu Rasul Paulus memakai kata-kata yang sangat jelas, bagi mereka yang tidak dapat
bersukacita, yaitu “pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat palsu”, mungkin Rasul Paulus
menyinggung bagi mereka orang Yahudi yang terlalu mengutamakan tauratnya, tetapi mereka tidak
melakukannya ke dalam kehidupannya masing-masing, sehingga mereka disebut pekerja (membaca
taurat), penyunat (orang Yahudi yang disunat) tetapi tidak mempraktekan, apa yang taurat ajarkan.

Dalam nas ini (3:2) Paulus menyebut mereka “pekerja-pekerja yang jahat” (kakoi ergatai).
Berdasarkan sebutan ini ada penafsir yang menduga, bahwa penyesat-penyesat ini bukanlah orang-
orang Yahudi biasa, orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus Kristus, tetapi orang Yahudi yang
menjadi anggota jemaat. Mereka bekerja sebagai pekabar-pekabar Injil, tetapi Injil yang mereka
beritakan bukanlah Injil yang benar. Mereka menuntut hal-hal yang tidak sesuai dengan Firman
Allah. Mereka adalah rasul-rasul palsu (2Kor.11:13) yang menyesatkan jemaat.[6]

Paulus di sini membalikkan perkataan itu seolah-olah ia berkata bahwa kita adalah anak-anak yang
telah duduk pada perjamuan rohani yang sudah disediakan Tuhan Allah bagi kita, sedangkan orang-
orang Yahudi adalah anjing-anjing yang mau makan remah-remah, yaitu pekerjaan diri sendiri
sebagai sunat dan syarat-syarat yang telah jatuh dari meja Tuhan. Mereka yang menuntut hal sunat
untuk mendapat keselamatan adalah bagaikan orang kafir yang biasa menyiksa tubuhnya pada
waktu menyembah  berhala dan dewa-dewa. Dalam Galatia 5:12 Rasul Paulus berkata mengenai
mereka yang jahat : “Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya.” Kita yang
percaya kepada Kristus adalah anak-anak Abraham oleh iman, tidak menjadi soal apakah kita orang
Yahudi atau orang asing. Kita adalah sunat yang rohani dan bukan sunat yang jasmani. Kitalah sunat
yang benar yang sudah membuang segala kenajisan hati dan kita telah menaruh kebenaran Kristus.
[7]
Rasul Paulus menentang  para penganut golongan bersunat, yaitu bagi mereka yang layak dianggap
sebagai golongan bersunat. Ia menjelaskan gagasan ini lebih rinci dalam Kolose 2:11; Roma2:28-29.
Gagasan tentang sunat batin ini juga ada dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Imamat 26:41.
[8] Rasul Paulus menyinggung, bahwa orang-orang yang bersunat secara lahiriah/rohani adalah
orang yang beribadah kepada Allah, jadi bukan dimaksudkan selalu secara sunat jasmani, seperti
yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Bahkan mereka juga disebut orang-orang yang bermegah
dalam Kristus, karena mereka adalah orang-orang yang mungkin tidak disunat secara jasmani, tetapi
mereka melakukan dan mempraktekan taurat ke dalam kehidupan sehari-hari. Dan mereka juga
orang yang tidak langsung percaya saja pada hal-hal lahiriah, jadi mereka harus mempunyai bukti,
yaitu sikap hidup, bukan rutinitas keagamaan yang biasanya dilakukan oleh orang-orang Yahudi,
seperti salah satu contohnya adalah sunat.

Istilah “katatome” (dari “katatemnein” = mengiris, mengerat, memotong sampai putus) yang
diterjemahkan di sini dengan “penyunat palsu” sebenarnya berarti: irisan, keratan (daging). Sunat,
yang dilepaskan dari karya penyelamatan Kristus, jadi yang tidak mempunyai arti (isi) rohani,
menurut Paulus, sama saja dengan keratan daging yang tidak ada gunannya. Siapakah yang Paulus
maksudkan di sini dengan “kita” ? Bukan semua anggota-anggota jemaat, sebab penyesat-penyesat
jemaat juga adalah anggota-anggota jemaat. Bukan juga anggota-anggota jemaat yang berasal dari
bangsa kafir, sebab Paulus adalah seorang Yahudi. Berhubung dengan itu banyak penafsir
berpendapat, bahwa yang dimaksudkan Paulus di sini dengan “kita” ialah semua anggota jemaat
yang benar percaya kepada Kristus, baik mereka yang bersunat, maupun mereka yang tidak
bersunat.[9]

4  Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain
menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

5  disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang
pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

6  tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku
tidak bercacat.

Rasul Paulus menyinggung soal sunat lahiriah seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi, bukan
berarti dia adalah orang yang tidak bersunat, Paulus menentang karena dia adalah juga orang Yahudi
dan bahkan Paulus juga seorang farisi yang belajar hal taurat. Jadi Rasul Paulus memiliki apa yang
diidam-idamkan oleh orang Yahudi, tetapi dia tidak bermegah atas hal itu. Bahkan juga dikatakan,
apabila orang menyangka hanya cukup dengan percaya kepada hal lahiriah saja, Paulus memilikinya
dan bahkan lebih daripada yang dimiliki orang Yahudi biasanya. Dia punya banyak bisa dibanggakan,
apabila hanya menurut hal-hal lahiriah. Kita juga dapat melihat kebanggaan-kebanggaan Rasul
Paulus tentang hal ini, dalam 2Korintus 11:18-22.

Dalam ayat yang ke-5, Rasul Paulus memperinci untuk menegaskan, bagian mana hal yang
sebenarnya ia dapat banggakan sebagai orang Yahudi.
1.      Disunat pada hari kedelapan. Hal ini menyatakan bahwa ibu dan bapa (orangtua) Rasul Paulus
bukan orang kafir dan juga bukan anak-anak Ismael. Dan ia juga menyatakan, bahwa ia juga disunat
sesuai dengan hukum Taurat, yaitu pada hari kedelapan, sesuai dengan Imamat 12:3.

2.      Dari bangsa Israel. Orangtua Rasul Paulus bukan orang yang memeluk agama Israel, tetapi
mereka berasal dari bangsa Israel. Dapat berarti, Rasul Paulus adalah benar-benar orang Israel tulen,
tanpa kawin campur.

3.      Dari suku Benyamin asli. Paulus sangat bangga untuk hal ini, karena mungkin dia adalah
keturunan bangsa Israel asli, tetapi mungkin dia adalah keturunan dari satu suku yang suka
berontak. Tetapi kenyataan tidak demikian, Rasul Paulus berasal dari suku Benyamin yang paling
setia kepada Tuhan. Selain itu, Benyamin adalah anak kesayangan bapanya, yaitu Yakub, setelah
Yusuf. Diantara keturunan Yusuf dan Benyamin, yang paling asli darah Israelnya adalah Benyamin,
karena Yusuf sendiri sudah kawin campur dengan bangsa Mesir (Kej.41:45), sehingga yang
dimasukkan ke dalam 12 suku bangsa Israel adalah anak Yusuf, bukan Yusuf sendiri (Kej.48:1-22).
Berbeda dengan Benyamin yang selain anak kesayangan Yakub setelah Yusuf, tetapi dia juga
mempunyai keturunan yang asli dari bangsa Israel. Lagipula Raja Daud dari suku Benyamin, bukan
dari suku Efraim ataupun Manasye.

4.      Orang Ibrani Asli. (Yunani: hebraios eks hebaraion = ibrani dari orang-orang/orang tua Ibrani,
artinya : juga di bidang bahasa, kebiasaan, cara hidup, dan lain-lain, ia adalah seorang Ibrani asli
(Kis.21:40; 22:2). Terutama orang-orang Yahudi yang hidup dalam daspora – seperti Paulus yang
lahir di Tarsus – dapat lupa akan bahasa dan adat kebiasaan mereka. Tetapi Paulus tidak demikian.
Sekalipun ia berasal dari Kilikia, ia dididik di Yerusalem (Kis.22:3) ia tidak lupa akan bahasa, adat
kebiasaan, dan cara hidup Yahudi (Gal.2:15). [10]

Nenek moyang Rasul Paulus bukan suku yang sudah percaya kepada Allah yang ada dalam Taurat,
lalu kemudian mundur dan percaya kepada agama orang-orang kafir. Tetapi Nenek moyang Rasul
Paulus adalah orang Ibrani asli, yang berarti bahwa semua nenek moyang Paulus tidak tercampur
dengan bangsa asing, dan mereka menganut agama israel dengan teliti. Paulus juga dididik dalam
bahasa Ibrani dan mengetahui bahasa itu. Juga Paulus tahu bahasa Yunani dan bahasa Aram (bahasa
yang dipakai di Palestina pada waktu Tuhan Yesus hidup).[11]

5.      Orang Farisi yang belajar hukum Taurat. Rasul Paulus adalah anggota golongan Farisi. Jumlah
mereka lebih besar dibanding dengan orang Saduki dan lebih ketat dalam mengamalkan Taurat
Musa. Mereka juga secara geografis lebih tersebar di rumah-rumah ibadat, sedangkan orang Saduki
hanya bermarkas Di Bait Suci di Yerusalem.[12] Rasul Paulus juga boleh bangga oleh karena Taurat
dan sebab dahulu ia hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab[13] yang paling keras dalam
agama Yahudi.[14]

Sebagai orang Farisi, Paulus dapat menafsir dan mengamlkan hukum Taurat sampai kepada hal-hal
yang kecil – umpamanya : membayar perpuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan (Mat.23:23;
Luk.11:42), berpuasa lebih banyak atau lebih sering daripada yang dituntut (Luk.18:22; Kis.22:3;
23:6; 26:5), dan lain-lain. Ia juga tergolong pada partai Farisi, yaitu partai agama yang paling keras
aturannya.[15]
6.      Tentang kegiatan ia adalah penganiaya jemaat. Pada saat itu, orang-orang Farisi sangat
membenci orang-orang Kristen dan selalu berusaha menganiaya mereka. Karena itulah Paulus pergi
ke Damsyik untuk menganiaya orang-orang Kristen di sana. Segala perbuatan yang berada dalam
kitab Kisah Para Rasul 22:4 (Rasul Paulus menganiaya pengikut Tuhan/orang Kristen) itu masih
mengganggu ingatan Rasul Paulus sampai pada waktu ia sedang menulis surat kepada jemaat di
Filipi, dan upaya-upaya melawan jemaat Tuhan itu seperti yang dilakukan Pinehas dalam Bilangan
25, sehingga ia merasa sedang beribadah kepada Tuhan Allah Israel. Walaupun demikian, pada
akhirnya Tuhan Allah menyatakan diri-Nya kepada Saulus (Rasul Paulus sebelum bertobat) di dalam
kitab Kisah Para Rasul 9:1-18, sehingga Saulus bertobat dan mengganti nama menjadi Paulus, dan
sekarang dikenal dengan nama Rasul Paulus. Hal ini membuat Rasul Paulus yang tadinya adalah
seorang penganiaya jemaat yang paling kejam, mengalami perubahan drastis dalam hidupnya pada
saat bertemu dengan Tuhan Allah, sehingga ia menjadi pengabar Injil yang paling berani.

7.      Tidak bercacat dalam menaati hukum taurat. Mungkin kata-kata ini terdengar aneh, karena
Rasul Paulus seolah-olah berkata, bahwa dia adalah orang yang sempurna dalam menaati hukum
taurat, tetapi kita harus ingat bahwa yang dimaksud Rasul Paulus tidak bercacat menurut ukuran
kebenaran Taurat, dan bukan menurut kebenaran Kristus. Sehingga begitu taatnya dia, tidak ada
tuntutan Taurat yang tidak digenapi oleh Rasul Paulus, bahkan ia penuhi hukum Taurat sampai
kepada hal-hal kecil (seperti yang disebutkan dalam point 5). Jadi bukan berarti dia adalah orang
yang sempurna dalam melakukan kebenaran Kristus.

7  Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

8  Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih
mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan
menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

9  dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat,
melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah
anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

Kata “hegemai” (bnd. 2:25 dan 6b; 3:8) perfectum, mengungkapkan situasi tetap, sesudah suatu
perbuatan – dalam hal ini anggapan yang ia anut – berlangusng : telah kuanggap. Anggapan yang ia
anut itu bukan saja berlaku pada waktu dahulu, tetapi juga sekarang. Juga sekarang ia menganggap
semuanya itu kerugian.[16]

Yang dimaksudkan “yang dahulu” dalam ayat 7 ini adalah, kehidupan Rasul Paulus yang dahulu, yaitu
pada saat ia masih menganiaya jemaat atau pengikut Tuhan. Dia berusaha membinasakan jemaat
itu, memasuki rumah-rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan keluar dan menyerahkan
pengikut Tuhan itu untuk masuk ke dalam penjara, seperti yang terdapat dalam kitab Kisah Para
Rasul 8:3. Rasul Paulus dahulunya juga adalah seorang yang bertindak keras dalam hal menentang
nama Yesus dari Nazaret dan menghukum mati bagi para pengikutnya seperti dalam kitab Kisah Para
Rasul 26:9-10.

Kata “gnoseos” yang diterjemahkan di sini dengan  “pengenalan” (pengetahuan) tidak boleh kita
tafsirkan sebagai pengenaln (pengetahuan) secara intelektualistis, tetapi secara eksistensial :
mengenal (mengetahui) dengan seluruh hidup. Sebab yang dimaksudkan Paulus di sini dengan
“pengenalan” ialah “relasi yang mesra”, atau barangkali lebih baik, “persekutuan” yang ia peroleh
dengan Kristus, sesudah ia bertobat dan percaya kepada-Nya.[17]

Setelah Rasul Paulus sadar bahwa apa yang dilakukan adalah salah, suatu ketika ia menyadari bahwa
semua hal itu tidak berguna sama sekali, bahkan semua itu adalah kerugian baginya. Memang
tadinya ia menganggap apa yang dilakukannya adalah suatu keuntungan besar bagi dirinya sendiri,
tetapi hal itu tidak dapat dibandingkan dengan Kristus dan kebenaran Kristus. Rasul Paulus tidak mau
bersandar pada apa pun, kecuali kepada Kristus. Rasul Paulus telah menyangkal kebenaran diri
sendiri, yang dianggapnya suatu kerugian, sebagai satu hal yang telah menipu dia, tetapi Kristus
tidak demikian.

Pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhannya, jauh melebihi segala kebenaran yang dahulu. Karena, itu
apa yang dahulu merupakan keuntungan bagi Paulus, sekarang dianggapnya rugi dan tidak dapat
dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus. Segala kebenaran yang tidak didasarkan pada Kristus
adalah sampah belaka.

Kata “ezemiothen” (aoristus), yang diterjemahkan di sini dengan “aku melepaskan”, sebenarnya
berarti : aku merugi. Paulus merasakannya sebagai suatu kerugian. Semua yang disebutkan di atas
mempunyai nilai baginya. Sungguhpun demikian, karena Kristus ia telah melepaskan (membuang)
semuanya itu.[18] “Skubala” (sampah, kotoran) ialah kata yang dipakai untuk menyebut sesuatu
yang busuk, yang harus dibuang. Dan kalau sudah dibuang tidak mau dilihat dan diraba orang lagi.
[19]

Paulus tidak menganggap menjadi orang Yahudi atau menaat hukum Taurat dalah jahat. Namun ia
mengerti benar bahwa hal-hal ini sama sekali tidak layak dipercayai untuk keselamatan kita atau
keberadaan kita di dalam Allah. Sebagai sarana keselamatan, sebagai tempat menaruh kepercayaan
kita, semua ini sama dengan sampah. Paulus melepaskan semuanya itu supaya ia memperoleh
Kristus. Dan mengenal Kristus lebih lagi di dalam hidupnya.[20]

Apabila kita sudah dipersatukan dengan Kristus, maka barulah kita dapat menerima kebenaran
Kristus, itulah sebabnya Rasul Paulus berusaha untuk bersatu dengan Kristus dengan cara berada
dalam kebenaran Kristus itu sendiri, bukan pada kebenaran-kebenaran yang dia pegang sebelum
mengenal Kristus dalam hidupnya. Paulus menerangkan bahwa kebenaran kristus adalah karunia
Allah yang diberikan di dalam Kristus. Kebenaran itu berlaku bagi tiap-tiap orang yang beriman dan
percaya kepada Tuhan yesus dan Injil dan tidak ada penghukuman lagi bagi setiap orang yang
percaya kepada-Nya (Roma 8:1).

Ungkapan “berdasarkan percaya” (epi tei pistei) yang dipakai di sini bukanlah syarat yang diberikan
oleh Tuhan Allah dan yang harus dipenuhi oleh manusia, tetapi tangan yang diulurkan manusia
untuk menerima kebenaran yang Tuhan Allah anugerahkan kepadanya. Demikian pula uangkapan
“oleh sebab percaya (iman) kepada Kristus” (bnd. Gal 2:16; Rm. 3:20): percaya ini bukanlah hasil
usaha manusia, yang menyebabkan Tuhan Allah menganugerahkan kebenaran kepadanya, tetapi
alat yang ia berikan kepada manusia untuk menerima kebenaran itu. Genetivus (pisteos) yang
dipakai di sini menyatakan, bahwa percaya manusia itu ialah percaya yang ditentukan, diisi, dan
dikuasai seluruhnya oleh Kristus.[21]
10  Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam
penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

11  supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Kata “mengenal Dia” itu berarti mengacu kepada Kristus, seperti pada saat Rasul Paulus berkata di
dalam Fil.3:8, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus,”. Jadi
bukan berarti Rasul Paulus belum mengenal Kristus yang diartikan secara harafiah, tetapi lebih
kepada perasaan tidak puas Rasul Paulus dalam pengenalan akan Kristus. Ia senantiasa mengenal
Kristus lebih lagi, daripada sebelumnya melalui pengalaman rohani bersama Kristus.

Ungkapan “gnonai auton” (mengenal Dia) dalam nas inti tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu akta
yang “murni” eskatologis, seperti yang dibuat oleh Lohm. Ungkapan ini dipakai di sini untuk
menyatakan hubungan (persekutuan) yang nyata, yang dimiliki sekarang di dalam hidup ini, dengan
Kristus.[22]

Rasul Paulus juga rindu untuk mengalami lebih dalam kuasa kebangkitan-Nya, dikarenakan
pengenalan akan Kristus memuat juga kuasa kebangkitan-Nya. Kebangkitan Kristus menyatakan
kuasa Tuhan Yesus secara pribadi dan secara pekerjaan-Nya. Kebangkitan Kristus membuktikan
kepada dunia ini bahwa Ia adalah Anak Allah yang juga sekaligus Allah itu sendiri, karena hanya Allah
sendirilah yang dapat mati secara fisik, lalu bangkit pada hari yang ketiga. Kristus bangkit supaya kita
dapat dibenarkan dari dosa (Rom.4:25). Jadi kuasa kebangkitan-Nya sangat penting bagi pengikut-
Nya, karena apabila tidak ada kebangkitan, maka sia-sialah kerpercayaan kita karena kita masih
hidup dalam dosa (1Kor.15:17). Dan bagi kita yang sudah diselamatkan, sudah seharusnya mencari
perkara-perkara yang diatas, bukan lagi yang ada dalam dunia (Kol.3:1).

Persekutuan dalam penderitaan Kristus menyatakan bahwa ada hubungan antara penderitaan
Kristus (baik di taman Getsemani maupun di atas kayu salib) dengan rasul-Nya, yaitu Paulus, yang
dalam kehidupannya menderita karena Kristus sehingga dianggap bahwa penderitaan Paulus
menjadi lanjutan penderitaan Kristus itu (2Kor.4:10).[23] Bagi orang yang percaya dan melakukan
firman Tuhan dengan sungguh-sungguh di dalam kehidupannya serta mengenal kuasa kebangkitan-
Nya, pasti mengalami penderitaan Kristus biarpun sedikit atau banyak. Jadi kita, sebagai anak-anak
Tuhan, juga harus memikul salib supaya kita layak bagi Dia (Mat.10:38), menyangkal diri, mengikut
Dia (Mat.16:24) dan kitapun ikut mati atau ikut menderita dengan Dia (2Ti.2:11).

Menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya berhubungan dengan pengajaran yang terdapat
dalam Roma pasal 6, yaitu bahwa kematian dan kebangkitan Kristus menjadi pekerjaan yang harus
dialami oleh semua Pengikut Kristus. kematian Kristus karena dosa dan kematian-Nya kepada dosa
membawa kepada kita suatu tuntutan bahwa kita pun harus mati kepada diri yang lama dan
kehidupan yang lama di dalam dosa dan dibangkitkan ke dalam hidup yang baru di dalam Kristus.
[24] Sehingga, apabila kita melakukan semuanya itu, maka kita menjadi serupa dengan Kristus.

Kata “Kebangkitan” dalam ayat 11 berbeda dari kata yang biasa dipakai untuk kebangkitan. Kata
yang dipakai dalam ayat ini adalah εξαναστασιν (exanastasin) yang tepatnya berarti “kebangkitan ke
luar dari antara orang-orang mati”. Di sini Paulus memikirkan dan membicarakan hanyalah
kebangkitan orang-orang yang percaya kepada Kristus sebagai Allah sepenuhnya, keluar dari antara
orang-orang yang mati. Kenapa Paulus memakai kata ini? Kita harus menyelidiki lebih jauh.

Berdasarkan kata “exanastasis”, timbul pertanyaan, apakah yang dimasudkan oleh Paulus dalam
kata ini? Melihat  dari yang ia katakan dalam ayat-ayat lain, yang mendahului ayat ini, ada penafsir
yang berpendapat, bahwa maksudnya dengan kata itu ilaha hendak mengatakan, bahwa apa yang ia
kehendaki (ay.10) sekarang, dalam hidupnya di dunia ini, telah ia capai : dalam Kristus ia telah
bangkit dari antara orang mati dan telah menjadi serupa dengan Dia, sekalipun hal itu belum
sempurna (belum”penuh”). Dengan kata lain, kata “exanastasis” adalah suatu penguatan, suatu
intensifikasi dari kata “anastasis”, terutama dalam hubungannya dengan ungkapan “ek nekron” (dari
antara orang mati).[25]

Dalam ayat ini, Rasul Paulus juga menyatakan, bahwa di dalam hidupnya mempunyai Tujuan yang
pasti, yaitu “beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (1Kor.9:26) dan Rasul Paulus terus
menerus melatih diri-Nya untuk mencapai kebangkitan tersebut (1Kor.9:27), seperti Kristus yang
juga bangkit dari antara orang mati (Rom.1:4).

12  Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku
mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh
Kristus Yesus.

13  Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang
kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di
hadapanku,

14  dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah
dalam Kristus Yesus.

Dalam ayat yang ke-12 ini, ada kata menangkap dan ditangkap. Rasul Paulus pernah ditangkap oleh
Kristus, pada saat perjalanan ke Damsyik yang mempunyai suatu tujuan tertentu bagi hidup Rasul
Paulus. Dari sinilah, kerinduan Paulus yang sudah ditangkap, untuk dapat menangkap tujuan dan
maksud Kristus di dalam seseorang. Rasul Paulus mengalami pengalaman rohani, pada
saat ditangkap oleh Kristus, dan dia juga ingin orang laing mendapatkan pengalaman rohani yang
sama. Yaitu yang tadinya hidup tanpa tujuan yang jelas, tetapi sekarang hidup mempunyai tujuan
yang jelas, karena Kristus ada di dalamnya. Jadi Kristus, adalah tujuan utama Rasul Paulus, yaitu
menjadi serupa dengan-Nya pada saat masih di dalam dunia dan bangkit dari antara orang mati,
pada saat mati secara jasmani. Setelah ditangkap oleh Kristus, maka pertandingan Paulus pun
dimulai, dan pada akhir hidupnya, ia telah memenangkan pertandingan ini (2Tim.4:7), katanya, “Aku
telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara
iman”.

Dalam ayat yang ke-13, Rasul Paulus menjelaskan bahwa, ia sendiripun sedang dalam kondisi di
dalam pertandingan, jadi dalam ayat ini, Paulus belum mengakhiri pertandingannya. Dan Rasul
Paulus memberi semangat kepada jemaat di Filipi, supaya dapat memenangkan pertandingan ini
dengan cara fokus pada tujuan. Siapapun pernah berbuat dosa, apabila kita tidak berkata seperti itu,
maka kita menipu diri sendiri (1Yoh.1:8), tetapi Rasul Paulus mengingatkan, bahwa kita harus
melupakan apa yang telah terjadi, di masa lalu kita, dan mengarahkan diri kepada pertandingan.

Rasul Paulus mengingatkan kita, supaya melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, supaya kita
menjadi layak untuk Kerajaan Allah, karena hanya orang yang masih menoleh ke belakang, tidak
layak untuk Kerajaan Allah (Luk.9:62). Jadi Rasul Paulus berfokus pada pertandingan yang ada
sekarang ini, supaya ia tidak melenceng dari pertandingannya.

Rasul Paulus mendapat dorongan dalam pertandingannya, sebab ia melihat Kristus sebagai
tujuannya dan hadiah yang akan diberikan Kristus kepadanya. Ia berlari dengan tidak melihat ke
kanan, ke kiri atau ke belakang. Ia menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan yang kedua
kali dan berjumpa dengan Kristus sendiri.[26]

Rasul Paulus berusaha keras untuk hal ini, ia juga memakai istilah-istilah seperti “memperjuangkan”,
“menangkap”, “meraih”, dan “mengejar”. Istilah-istilah ini menunjukkan kerja keras Rasul Paulus. Di
sini Paulus menjabarkan kerja keras dan penderitaan yang dituntut. Bukan untuk mendapatkan
kewarganegaraan Kerajaan Allah, tetapi untuk memperoleh kebangkitan yang lebih baik, untuk
memerintah bersama Kristus dalam Kerajaan-Nya, diberi kekuasaan atas sepuluh kota, diberi
mahkota dan takhta. Itulah hal-hal yang ia perjuangkan dengan ketekunan yang kuat. Jadi Rasul
Paulus berjuang keras demi hadiah, yang ia rujuk sebagai “mahkota” dalam 1 Korintus 9:25; 2
Timotius 2:5; dan 4:8, sebagai “upah” pada 1 Korintus 3:14 dan 9:17, serta dalam Kolose 3:24. Dalam
konteks ini Paulus tidak mempunyai jaminan bahwa ia akan berhasil dalam usaha ini. Dalam 1
Korintus 3:24 ia berbicara tentang kemungkinan tersingkirkan. Dalam 2 Timotius 2:5 ia
mengingatkan Timotius bahwa ia harus bertanding menurut aturan-aturan untuk memenangkan
mahkota. Dalam 2 Timotius 4:7-8 kita membaca karena Paulus mengakhiri pertandingan, ia akan
menerima mahkota. Mahkota ini akan diberikan kepada semua yang telah menanti-nantikan
kedatangan-Nya. Ini bukan kondisi yang ditetapkan untuk keselamatan kita, melainkan kondisi yang
ditetapkan untuk menerima upah karena kerja keras.[27]

15  Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang
salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.

16  Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah
kita tempuh.

Dalam ayat yang ke-12 dikatakan, “bukan seolah-olah aku telah sempurna,’ dan dalam ayat yang ke-
15 ia berkata, “yang sempurna”. Sekilas terlihat kontradiksi antara ayat 12 dan ayat 15, tetapi
tidaklah demikian, karena kesempurnaan yang dia katakan dalam ayat 12 adalah kesempurnaan
yang mutlak, yang hanya akan dicapai pada waktu segala tujuan Tuhan dlaam Rasul Paulus sudah
selesai dan segala dicapai olehnya secara perangai. Semua itu tidak akan dicapai sampai pada waktu
Tuhan datang, atau pada akhir hidup ini. Tetapi pada pihak lain, ada suatu kesempurnaan yang
kedapatan dalam Kristus dan yang juga dituntut dari tiap-tiap orang Kristen.[28] Ada beberapa
komentar dan pendapat dari kata “sempurna” ini.

Untuk “sempurna” Paulus memakai kata yang sama seperti dalam ayat 12; teleios.
Greijdanus: Sempurna di sini tidak berarti bahwa mereka (anggota-anggota jemaat) tidak
mempunyai salah atau dosa. Yang Paulus maksudkan dengankata ini ialah, bahwa mereka adalah
orang-orang yang benar-benar percaya : orang-orang yang tidak hidup dalam dosa dan yang tidak
memberi dirinya disesatkan oleh ajaran bidah. Mereka sempurna dalam Kristus (Kol.1:28).

Barth: Kata ini mungkin dipakai oleh penyesat-penyesat jemaat dalam propaganda mereka : orang
dikatakan sempurna kalau memenuhi syarat moralistis dan syarat-syarat kultis tertentu : Paulus
menentang ajaran (anggapan) ini. Ia katakan : Kesempurnaan Kristen tidak demikian. Yang disebut
kesempurnaan Kristen ialah kesempurnaan dalam ketidak-sempurnaan, ialah usaha berlari kepada
tujuan, yaitu pengetahuan bahwa keselamatan dan panggilan sorgawi orang Kristen adalah sama.

Heinzelmann: Kesempurnaan Kristen ialah kesempurnaan dalam mengejar : mengejar untuk


mencapai (menangkap).

Michaelis: Sempurna harus ditafsirkan menurut arti yang terdapat dalam ayat 12 dyb. : sempurna
sebagai milik, tetapi selalu sebagai tujuan.[29]

Menurut penulis dari kata sempurna dalam ayat 15 adalah, jemaat di Filipi yang tidak sekedar
beribadah saja, tetapi juga melakukan firman Tuhan di dalam kehidupannya sehari-hari, tetapi bukan
berarti mereka tidak berdosa, karena tidak ada manusia yang terluput dari dosa, jadi lebih kepada
mengejar kesempurnaan itu sendiri, dan menjadi serupa dengan Kristus. Rasul Paulus mengajarkan
kepada jemaat di Filipi untuk dapat mengarahkan diri kepada kesempurnaan tersebut, dan tidak lagi
perlu lagi diajarkan seperti bayi dalam Tuhan, jadi sudah seharusnya sudah beralih dari susu kepada
makanan keras, menjadi dewasa dalam Tuhan. Itulah panggilan kepada kesempurnaan yang sudah
dilengkapkan Tuhan Yesus sendiri untuk kita masing-masing, dan Ia ingin mengerjakannya di dalam
kita.

Dalam usaha itu (ay.16) Paulus peringatkan : apa yang telah kita capai (Yunani : phtanein – tiba lebih
dahulu, juga : telah tiba, bnd. Mat.12:28; 2Kor. 10:14; 1Tes. 2:16; 4:15) janganlah kita lepaskan lagi:
janganlah kita mundur ke belakang atau menyimpang dari situ. Tetapi sebaliknya : Marilah kita
melanjutkan perjalanan kita dalam arah yang sama (Yunani : toi autoi stoichein).[30]

“Stoichein” = berdiri atau berjalan dalam satu baris (bnd. Kis. 21:24; Rm.4:12; Gal.5:25; 6:16).
Maksud Paulus ialah hendak mengatakan : Marilah sekarang kita terus berjalan dalam arah yang
sama, dengan tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan. Ajakan ini bukan hanya mengenai kelakuan
(hidup, perbuatan) anggota-anggota jemaat saja, tetapi juga pikiran dan perasaan mereka.[31]

Rasul Paulus mengajar kepada jemaat di Filipi untuk dapat mempunyai pengertian terlebih dahulu,
seperti yang sudah diajarkan dalam ayat-ayat sebelumnya dan benar-benar berusaha untuk
mencapai pengertian sampai kepada tahap pengenalan akan Kristus (Hos.6:3). Jadi dalam proses
pengenalan akan Kristus itu, kita juga harus melanjutkan jalan yang sudah berada di “jalur-
Nya” sampai akhir.

E.   Kesimpulan
Dalam Filipi 3:1-16 ini, Rasul Paulus mengerti akan kebenaran sejati yang sesungguhnya, sehingga ia
mengerti mana yang sungguh-sungguh merupakan kerugian dan mana yang sungguh-sungguh
merupakan keuntungan baginya. Paulus mengetahui bahwa ia tidak dpat bekerja untuk
keselamatannya, karena segala yang perlu sudah dikerjakan oleh Kristus.

Paulus juga mendapat suatu pendirian yang baru dalam Kristus seperti yang dikatakannya “berada
dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan
kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus.” Rasul Paulus rindu supaya ia didapati dalam Kristus.

Yang dituntut oleh Paulus bagi tiap-tiap orang Kristen ialah suatu hubungan yang erat lagi tetap
dengan Kristus. ia rindu supaya ia senantiasa kedapatan dalam kristus, pada saat apa pun, pada
waktu hidup atau mati atau waktu di hadapan kursi pengadilan Kristus. walauapun paulus mendapat
pendirian yang baru dalam Kristus, Paulus tidak setuju dengan pengajaran yang mengiakan dan
mengizinkan suatu lembah yang besar di antara pendirian kita dalam Kristus dan pengalaman kita
dengan Kristus.

Orang yang tidak mempunyai persekutuan yang erat dengan Kristus, pastilah tidak ada dalam
Kristus, melainkan di luar Kristus. Paulus rindu mengenal Dia, rindu supaya senantiasa didapati di
dalam Kristus. mengetahui pemberian-pemberian-Nya memang baik, tetapi mengenal Dia lebih baik
lagi.

F.   Jawaban Dari Pertanyaan

1.      Yang dimaksud dengan anjing dalam ayat 2 adalah, Rasul Paulus memberikan contoh orang
yang tidak dapat bersukacita, yaitu mereka adalah anjing-anjing, yang berarti sesuatu hal yang
terdengar negatif di telinga orang Yahudi maupun orang-orang diluar Yahudi (kafir), bahkan kata
“anjing” mengibaratkan segala yang najis dan cemar, seperti pada saat Yesus menguji iman
perempuan dari Kanaan dalam Matius 15. Dan penyunat palsu tersebut adalah, mungkin Rasul
Paulus menyinggung bagi mereka orang Yahudi yang mengikuti ajaran taurat (seperti disunat) terlalu
mengutamakan tauratnya, tetapi mereka tidak melakukannya ke dalam kehidupannya masing-
masing, sehingga mereka disebut pekerja (membaca taurat), penyunat (orang Yahudi yang disunat)
tetapi tidak mempraktekan, apa yang taurat ajarkan.

2.      Yang dimaksud hal lahiriah dalam ayat 4 adalah, Rasul Paulus memiliki apa yang diidam-
idamkan oleh orang Yahudi, tetapi dia tidak bermegah atas hal itu. Bahkan juga dikatakan, apabila
orang menyangka hanya cukup dengan percaya kepada hal lahiriah saja, Paulus memilikinya dan
bahkan lebih daripada yang dimiliki orang Yahudi biasanya. Dia punya banyak bisa dibanggakan,
apabila hanya menurut hal-hal lahiriah. Kita juga dapat melihat kebanggaan-kebanggaan Rasul
Paulus tentang hal ini, dalam 2Korintus 11:18-22.

3.      Yang dimaksud dengan “disunat pada hari kedelapan” dalam ayat 5 adalah, Rasul Paulus benar-
benar mengikuti ajaran Taurat dengan benar. Ibu dan bapa (orangtua) Rasul Paulus bukan orang
kafir dan juga bukan anak-anak Ismael. Dan ia juga menyatakan, bahwa ia juga disunat sesuai
dengan hukum Taurat, yaitu pada hari kedelapan, sesuai dengan Imamat 12:3.

4.      Yang dimaksud dengan kata “karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Dalam ayat 12
adalah, Dalam ayat yang ke-12 ini, ada kata menangkap dan ditangkap. Rasul Paulus pernah
ditangkap oleh Kristus, pada saat perjalanan ke Damsyik yang mempunyai suatu tujuan tertentu bagi
hidup Rasul Paulus. Dari sinilah, kerinduan Paulus yang sudah ditangkap, untuk
dapat menangkap tujuan dan maksud Kristus di dalam seseorang. Rasul Paulus mengalami
pengalaman rohani, pada saat ditangkap oleh Kristus, dan dia juga ingin orang laing mendapatkan
pengalaman rohani yang sama. Yaitu yang tadinya hidup tanpa tujuan yang jelas, tetapi sekarang
hidup mempunyai tujuan yang jelas, karena Kristus ada di dalamnya. Jadi Kristus, adalah tujuan
utama Rasul Paulus, yaitu menjadi serupa dengan-Nya pada saat masih di dalam dunia dan bangkit
dari antara orang mati, pada saat mati secara jasmani. Setelah ditangkap oleh Kristus, maka
pertandingan Paulus pun dimulai, dan pada akhir hidupnya, ia telah memenangkan pertandingan ini
(2Tim.4:7), katanya, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir
dan aku telah memelihara iman”.

5.      Yang dimaksud dengan hadiah dalam ayat ini 14 adalah, Rasul Paulus mendapat dorongan
dalam pertandingannya, sebab ia melihat Kristus sebagai tujuannya dan hadiah yang akan diberikan
Kristus kepadanya. Ia berlari dengan tidak melihat ke kanan, ke kiri atau ke belakang. Ia menyiapkan
diri untuk menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali dan berjumpa dengan Kristus sendiri.

G.  Aplikasi

1.      Kita harus bergantung harap hanya kebenaran yang sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus, bukannya
bergantung pada hal-hal lahiriah, seperti harga, latar belakang keluarga, gelar karena hal-hal
tersebut hanyalah sementara, dan kita harus mengejar yang kekal.

2.      Firman Tuhan bukan sekedar untuk dibaca, dimengerti dan dihafal, tetapi firman Tuhan juga
harus dipraktekkan kedalam kehidupan sehari-hari.

3.      Kita harus belajar untuk menjadi serupa dengan Kristus, dengan meninggalkan cara hidup kita
yang lama, dan terus berlomba untuk mencapai kesempurnaan tersebut dengan cara mengenal-Nya
lebih lagi, lewat doa, saat teduh, ibadah dalam Gereja, dll.

4.      Kita harus punya persekutuan yang dapat membangung iman kita dan kita juga dapat
membangun iman orang lain, lewat persekutuan doa ataupun ibadah.

H.  Kepustakaan

1)      Abineno, Dr. J.L.Ch., “Surat Filipi”, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009 cet.1.

2)      Hagelberg, Dave, Tafsiran Surat Filipi dari Bahasa Yunani, Yogyakarta : Andi Offset, 2008.
3)      Baxter, J.Sidlow, Menggali Isi Alkitab 4, Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,1952.

4)      Brill, J.Wessley, Tafsiran Surat Filipi, Bandung:Yayasan Kalam Hidup, 2003.

5)      Departemen Pendidikan Nasional, Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat. Jakarta: Pusat Bahasa


Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

6)      Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab. Jakarta: LAI, 1996.

[1] J.Sidlow Baxter. Menggali Isi Alkitab 4. (Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,1952),


Hlm.125

[2] Ibid, J.Sidlow Baxter. Hlm.126

[3] Ibid, J.Sidlow Baxter. Hlm.127

[4] Ibid, J.Sidlow Baxter. Hlm.128

[5] Ibid, J.Sidlow Baxter. Hlm.129

[6] DR. H.L. Ch. Abineno. Surat Filipi. (Jakarta:PT.BPK Gunung Mulia,2009), Hlm.96

[7] J.Wessley Brill. Tafsiran Surat Filipi. (Bandung:Yayasan Kalam Hidup, 2003), Hlm.86

[8] Dave Hagelberg. Tafsiran Surat Filipi Dari Bahasa Yunani. (Yogyakarta:ANDI, 2008), Hlm.75

[9] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.97

[10] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.100

[11] Opcit, J.Wessley Brill. Hlm.88

[12] Opcit, Dave Hagelberg. Hlm.77

[13] Departemen Pendidikan Nasional Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat. (Jakarta:Pusat Bahasa


Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm.316. mazbah n altar. mazhab n ajaran, aliran,
golongan, orde, ordo, paham, sekte, tarekat; bermazhab v beraliran, berideologi, berpaham.

[14] Opcit, J.Wessley Brill. Hlm.88

[15] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.100

[16] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.101

[17] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.103


[18] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.103

[19] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.104

[20] Opcit, Dave Hagelberg. Hlm.79

[21] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.105

[22] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.106

[23] Opcit, J.Wessley Brill. hlm.94

[24] Opcit, J.Wessley Brill. Hlm.95

[25] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.108

[26] Opcit, J.Wessley Brill. Hlm.95

[27] Opcit, Dave Hagelberg. Hlm.89

[28] Opcit, J.Wessley Brill. Hlm.101

[29] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.115

[30] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.116

[31] Opcit, DR. H.L. Ch. Abineno . Hlm.116