Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH KASUS REPRODUKSI

DISTOKIA PADA GAJAH

Disusun Oleh:

Kelompok C1
PPDH Semester Ganjil 2019/2020
Periode 2 Desember 2019 – 31 Desember 2019

Anata Amalia Amran B94191025


Khonsa’ B94191030
Merlia Andriyani B94191056
Suria Hidayatulah Sulaiman B94191071
Hanifri Fauzan B94191084

Dosen Pembimbing:
Dr Drh Yudi, MSi

DIVISI REPRODUKSI DAN KEBIDANAN


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Distokia merupakan gangguan reproduksi yang menyebabkan hewan


kesulitan melahirkan (Schuenemann 2012). Distokia dapat terjadi pada spesies
gajah yaitu Gajah Asia (Elephas maximus) dan Gajah Afrika (Loxodonta
africana). Kejadian distokia pada spesies Gajah Asia lebih sering terjadi
dibandingkan dengan Gajah Africa (Goeritz dan Hildebrandt 2000). Distokia
umumnya terjadi pada gajah betina yang mengalami partus pertama di usia lebih
dari 15 tahun. Penyebab distokia pada gajah diantaranya inersia uterus, malposisi
fetus, kematian fetus, ukuran fetus yang terlalu besar, kebuntingan kembar, dan
malformasi fetus (Fowler dan Miller 1999).
Inersia uterus dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu
kelemahan otot uterus saat kebuntingan, sedangkan kemaitan fetus salah satunya
dapat disebabkan oleh infeksi herpes virus. Kejadian pada kematian fetus sulit
untuk dideteksi meskipun menggunakan ultrasonografi dan elektrokardiografi.
Malposisi fetus jarang ditemukan pada gajah, namun apabila ditemukan maka
penanganannya sangat sulit dilakukan. Malformasi fetus pernah ditemukan pada
Gajah Afrika (Loxodonta Africana) (Schaftenaar dan Hildebrandt 2006).
Penangan distokia pada gajah dapat dilakukan dengan episiotomi maupun
operasi caesar, namun pada umumnya episiotomi lebih sering dilakukan karna
faktor resiko yang rendah (Olson 2004). Kasus ini menjelaskan distokia yang
terjadi pada Gajah Asia dalam program Thai Breeding yang diikuti oleh retensio
fetus berkelanjutan setelah tanda pertama kelahiran.

Tujuan

Kasus ini bertujuan untuk mempelajari faktor penyebab terjadinya distokia


pada Gajah Asia serta cara menanganinya.

ANAMNESA

Gajah Asia betina nullipara berumur 32 tahun kawin alami pada Mei 2000.
Estimasi waktu kelahiran diperkirakan pada Maret 2002. Gajah tersebut hidup di
Thai Elephant Conservation Center (TECC). Pada 2 November 2002, gajah
mengeluarkan 5 L discharge pada vulva berupa cairan serosanguineus, bekuan
darah, dan sebagian membran amnion. Namun setelah itu, tidak terdapat gejala
partus yang progresif sehingga diduga gajah mengalami abortus dan ruptur
kantung amnion. Prosedur USG dilakukan secara transrektal, namun hasilnya
tidak dapat diketahui sehingga dilanjutkan dengan endoskopi. Hasil endoskopi
menunjukkan adanya bekuan darah, hemoragi ecchymosa, dan eksudat
mukopurulen pada vestibulum.
Gajah diberikan antibiotik Ceftriazone secara intramuskular setiap hari
selama 6 minggu. Setelah pemberian antibiotik, kondisi gajah kembali sehat.
Setahun kemudian, pada 5 November 2003, gajah menunjukkan gejala partus
berupa hilangnya nafsu makan, sering urinasi dan defekasi, serta abdomen yang
menegang. Terdapat tonjolan pada area perineal serta potongan keratin kuku yang
keluar dari vulva. Pemeriksaan endoskopi pada vagina menunjukkan adanya
ujung belalai dan kaki depan fetus pada kedalaman 60 cm. Prosedur episiotomi
dilakukan untuk mengeluarkan fetus.

SINYALEMEN

Nama hewan : Siwi


Jenis hewan/spesies : Gajah
Ras/breed : Gajah Asia (Elephas maximus)
Jenis kelamin : Betina
Umur : 32 tahun
Warna bulu/kulit : Abu-abu
Berat badan : 3.1 ton
Ciri khusus :-

PEMERIKSAAN KLINIS

Pemeriksaan Fisik
Suhu : 37 oC (normal 36–37 oC)
Denyut jantung : 32 kali/menit (normal 25–35 kali/menit)
Laju respirasi : 12 kali/menit (normal 4–12 kali/menit)
Kelainan : Keluar discharge pada vulva berupa cairan
serosanguineus, bekuan darah, dan sebagian membran
amnion.

Pemeriksaan Kadar Serum Progesteron


Pemeriksaan kadar serum progesteron dilakukan setiap minggu selama 34
bulan, dimulai dari akhir Juni 2001 hingga Maret 2004. Pemeriksaan kadar
progesteron dilakukan untuk mengetahui kestabilan hormon selama kebuntingan
berlangsung. Selain itu, untuk menentukan onset partus pada gajah sehingga
persiapan dapat dilakukan dengan lebih baik. Hasil pemeriksaan menunjukkan
bahwa kadar serum progesteron cenderung fluktuatif (1.5–4 ng/mL) pada periode
Juni 2001 hingga September 2002. Akan tetapi terjadi penurunan drastis kadar
serum progesteron sebesar 0.3 ng/mL pada 2 November 2002 yang bertepatan
dengan keluarnya discharge vulva pertama kali. Kadar progesteron yang turun
menandakan bahwa proses partus akan terjadi.
PENYEBAB DISTOKIA PADA GAJAH

Distokia adalah gangguan reproduksi yang menyebabkan kesulitan


melahirkan (Schuenemann 2012). Penyebab distokia umumnya dikarenakan
ukuran fetus yang besar, posisi fetus yang abnormal, dilatasi serviks yang tidak
sempurna, terjadinya kondisi uterus yang tidak kontraksi atau karena kelelahan,
torsio uterus, dan fetus yang kembar (Whittier 2009). Distokia telah dilaporkan
terjadi pada gajah Asia dan Afrika, tetapi kejadian ini umum pada spesies gajah
Asia. Gajah Asia terancam punah karena penurunan populasi yang berlangsung
dengan cepat akibat hilangnya habitat. Beberapa faktor seperti populasi gajah
jantan yang semakin berkurang, history mengenai breeding yang kurang, dan
manajemen hewan yang buruk mendukung peningkatan terjadinya distokia pada
gajah. Sejumlah kasus pada fetus gajah yang mati mengalami distokia dikaitkan
dengan retensi dalam waktu yang lama. Gajah merupakan mamalia darat terbesar
dengan periode kebuntingan sekitar 20–22 bulan. Gajah memiliki anatomi saluran
reproduksi yang panjangnya lebih dari 3 meter. Tipe plasenta pada gajah adalah
tipe zonary endotheliochorial (Hermes et al. 2008).
Menurut Hermes et al. (2008), distokia bisa disebabkan oleh beberapa hal
seperti insersia uteri yang disebabkan oleh kelelahan otot uterus untuk kontraksi,
hipokalsemia, kondisi fisik yang kurang baik, berat badan yang berlebih, adaptasi
gajah saat melahirkan, kelemahan uterus karena sakit, stress, atau gangguan
lingkungan. Infeksi intrauterin karena Endotheliotropic Elephant Herpes Virus
(EEHV) yang menyebabkan fetus mati dan mengalami malposisi merupakan salah
satu faktor terjadinya distokia. Posisi posterior pada fetus yang akan partus
merupakan posisi yang resiko terjadinya distokia kecil. Sementera posisi anterior
dapat menyebabkan posisi kepala yang abnormal sehingga peluang terjadinya
distokia lebih besar serta menjadi masalah utama selama pengeluaran fetus.
Adanya edema pada saluran reproduksi dapat mempersempit saluran kelahiran
fetus dan hal ini menjadi penyebab fetus mati lemas.
Gambar 1 Posisi anterior pada fetus dalam uterus

Penyebab distokia Gajah Asia (Elephas maximus) pada kasus ini adalah
terjadi retensi fetus yang berkepanjangan dan insersia uteri karena hipokalsemia
yang mungkin menyebabkan kegagalan awal partus. Posisi anterior pada fetus
(Gambar 1) menyebabkan kepala dan bahu yang terjepit pada pelvis sehingga
fetus sulit untuk keluar dan memerlukan pertolongan medis. Saat dilakukan
tindakan episiotomi, fetus ditemukan dalam keadaan mati. Untuk mengetahui
penyebab dari kematian fetus maka dilakukan kultur pada uterus dan fetus serta
pemeriksaan serum. Selain itu, pemberian antibiotik dengan durasi lama dan dosis
tinggi menjadi salah satu faktor kematian dan maserasi pada fetus. Hasil kultur
dan serum tidak ditemukan adanya infeksi bakteri dan virus. Bakteri yang dapat
menyebabkan kematian fetus seperti Brucella, Campylobacter, dan Leptospira.
Pemeriksaan serum dilakukan untuk mencari DNA dari Endotheliotropic
Elephant Herpes Virus (EEHV) yang merupakan penyebab kematian fetus pada
gajah. Virus ini belum pernah dilaporakan di Thailand namun dapat menjadi
ancaman bagi Gajah Asia di masa mendatang.

PENANGANAN DISTOKIA PADA GAJAH

Distokia pada gajah dapat diatasi melalui prosedur operasi caesar atau
episiotomi. Operasi caesar tidak dilakukan karena memiliki risiko post-operasi
yang cukup tinggi. Beberapa kasus operasi caesar pada gajah memberikan hasil
yang buruk karena terjadi peritonitis dan nekrosis pada uterus sehingga harus
dilakukan tindakan eutanasi (Fowler dan Miller 1999). Episiotomi merupakan
prosedur bedah yang dilakukan untuk dapat mengakses vestibulum gajah secara
langsung. Prosedur ini dilakukan dengan membuat sayatan vertikal pada titik
orientasi 8 cm di ventral anus (Fowler dan Miller 1999).
Sebelum operasi, gajah disedasi dengan 120 mg xylazine dan area perineal
didesinfeksi dengan chlorhexidine serta povidone iodine. Anestesi lokal berupa
100 mL lidokain 2% diinjeksi pada daerah yang akan disayat. Setelah itu, sayatan
dibuat sepanjang 25 cm. Fetus terlihat berada dalam posisi anterior, namun sudah
mati serta kepala dan bahu fetus terjepit os pelvis. Minyak sayur diberikan di
sekitar fetus sebagai pelicin, kemudian rantai diikat pada kedua kaki depan fetus.
Traksi dilakukan, akan tetapi hanya dapat menarik fetus sejauh 10 cm.
Selanjutnya, gajah diinjeksi kembali dengan 150 mg xylazine dan sayatan
diperpanjang 10 cm untuk mengaitkan tambang pada mandibula fetus. Tindakan
ini berhasil mengeluarkan fetus dari dalam uterus.
Uterus dibilas dengan 0.5% povidone iodine dan diberi antibiotik penisilin
dan streptomisin sebelum dijahit. Sayatan episiotomi dijahit menggunakan simple
interrupted suture dalam 2 lapisan. Mukosa vestibulum, otot perineal, dan
subkutis dijahit dengan benang chromic catgut no.2, sedangkan kulit dijahit
dengan benang nilon no.6. Injeksi antibiotik berupa 6 g Ceftriazone secara
intramuskular diberikan setiap hari selama 14 hari. Sebanyak 150 mg Yohimbine
diinjeksi secara intravena untuk menghilangkan efek sedasi.
Tindakan post-operasi berupa pembersihan luka dengan air, povidone iodine
yang diencerkan 1:10, NaCl fisiologis, salep nitrofurazone, coumaphos propoxur,
dan sulfanilamide. Setelah 4 minggu, luka belum sembuh sempurna, namun
diputuskan untuk membuka jahitan pada kulit. Luka sembuh sempurna setelah
8 minggu post-operasi tanpa ada komplikasi pada gajah. Komplikasi post-operasi
episiotomi yang sering ditemukan yaitu adanya fistula vestibulum persisten yang
dapat menyebabkan infeksi ascenden akibat kontaminasi feses (Fowler dan Miller
1999).

DAFTAR PUSTAKA

Fowler ME, Miller RE. 1999. Zoo and Wild Animal Medicine Current Therapy 4.
Philadelphia (US): W.B Saunders.
Goeritz F, Hildebrandt TB. 2000. Dystocia in Zoo Elephants. In: Ratanakorn P,
editor. Assessment and Management of Reproductive System in Asian
Elephants. Srimuang (TH): Srimuang Printing Co. Ltd.
Hermes R, Saragusty J, Schafternaar, Goritz F, Schmitt DL, Hildebrandt TB.
2008. Obstetrics in Elephants. Theriogenology. 70(1):131-134.
Olson D. 2004. Pregnancy and Parturition. In: Olson P, editor. Elephant
Husbandry and Resource Guide. Texas (US): American Zoo and Aquarium
Association (AZA), Elephant Manager Association (EMA) and
International Elephant Foundation (IEF).
Schaftenaar W, Hildebrandt TB. 2006. Veterinary Guidelines for Reproduction-
Related Management in Captive Female Elephants. Berlin (DE): Institute of
Zoo and Wildlife Research.
Schuenemann GM. 2012. Calving Manajement in Dairy Herds: Timing of
Intervention and Stillbirth. Ohio (US): The Ohio State University.
Whittier, WD, Currin NM, Currin JF, Hall JB. 2009. Calving Emergencies in Beef
Cattle: Identification and Prevention. Virginia Cooperation Extension
Publication. Page 400-018.