Anda di halaman 1dari 5

BANK SOAL KEPERAWATAN

PENYAKIT KRONIS (HIV-AIDS)

Tugas ini di susun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan HIV-AIDS dengan
Dosen Pembimbing Rubino, M.Kep
Disusun Oleh:

Kelompok 1 :

1. Nilam Charisma (108117001) 7. Nur Anisa (108117009)


2. Retno Hidayanti (108117003) 8. Intan Henidar P (108117010)
3. Riska Nola Y (108117004) 9. Nesia Gusti S (108117011)
4. Yessi Magna R (108117005) 10. Lulu Dwi R (108117012)
5. Dwi Utami (108117006) 11. Milania Dewi (108117013)
6. Erna Khuswatun F (108117008) 12. Tria Widiastuti (108117014)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
2019/2020
BANK SOAL KEPERAWATAN PENYAKIT KRONIS (HIV-AIDS)

1. Apa yang dimaksud dengan HIV ?


2. Apa perbedaan HIV dan AIDS ?
3. Bagaimana cara mengetahui seseorang mengindap HIV-AIDS ?
4. Apa yang anda ketahui tentang :
Voluntary Conseling & Testing & Provider Inisiatif Testing & Conseling ?
5. Sebutkan dan jelaskan tentang prinsip-prinsip konseling pada pasien HIV-AIDS
6. Berikan penjelasan hubungan antara HIV-AIDS dan faktor resiko penyalahgunaan
NAPZA
7. Sebutkan dan jelaskan secara ringkas pencegahan penularan HIV-AIDS :
a. Primer
b. Sekunder
c. Tersier
8. Mengapa perlu menangani stigma dan diskriminasi di internal ODHA ?
9. Mengapa perlu menangani stigma dan diskriminasi ODHA di Masyarakat ?
JAWABAN :

1. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan
manusia. HIV adalah retrovirus dan bahan genetiknya, RNA, harus diubah menjadi DNA saat
replikasi
2. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS adalah
kumpulan gejala-gejala akibat infeksi HIV
3. Cara mengetahui seseorang mengidap HIV-AIDS :
a. Bila gejala muncul, tidak terlihat seperti terkena infeksi
b. Dapat di ketahui statusnya dengan tes antibodi HIV, misalnya Tes Elisa
c. Periksakan segera bila perilaku beresiko
4. Voluntary Conseling dan testing Inisiatif Testing dan Konseling (VCT) atau bisa diartikan
sebagai konseling dan tes HIV sukarela (KTS) Layanan ini bertujuan untuk membantu
pencegahan, perawatan serta pengobatan bagi penderita HIV/AIDS. VCT dapat dilakukan di
Puskesmas, rumah sakit maupun klinik penyedia layanan VCT.
5. Informed Consent adalah suatu persetuan akan suatu tindakan pemeriksaan Laboratorium HIV
yang di berikan oleh pasien/klien atau wali/pengampu setelah mendapatkan dan memahami
penjelasan yang diberikan secara lengkap oleh petugas kesehatan tentang tindakan medis yang
akan dilakukan terhadap pasien/klien
Confidentiality adalah semua isi informasi atau konseling antara klien dan petugas
pemeriksa/konselor dan hasil tes laboratoriumnya tidak akan diungkapkan kepada pihak lain
tanpa persetujuan pasien/klien. Confodentialitas dapat dibagikan kepada pemberi layanan
kesehatan yang akan menangani pasien untuk kepentingan layanan kesehatan sesuai indikasi
penyakit.
Conselling yaitu proses dialog antara conselor dengan klien bertujuan untuk memberikan
informasi yang jelas dan dapat di mengerti oleh klien atau pasien. Consellor memberikan
informasi , waktu, perhatian dan keahliannya unntuk membantu klien mempelajari keadaan
dirinya, mengenali dan melakukan pemecahan masalah terhada keterbatasan yang di berikan
lingkungan. Layanan Konseling HIV harus di lengkapi dengan informasi HIV dan AIDS,
Konseling pra konseling dan tes pasca tes yang berkualitas baik.
Correct Test Result yaitu test result, hasil tes ini harus akurat. Layanan tes HIV harus
mengikuti standar pemeriksaan HIV nasional yang berlaku. Hasil tes harus dikomunikasikan
sesegera mungkin kepada pasien/klien secara pribadi oleh tenaga kerja yang memeriksa.
Connection to Care, Treatment and Prevention Services yaitu pasien harus
dihubungkan/dirujuk ke layanan pencegahan perawatan , dukungan dan pengobatan HIV yang di
dukung dengan sistem rujukan yang baik dan terpantau.
6. Penggunaan narkoba atau NAPZA suntikan dan alkohol adalah faktor besar dalam penyebaran
infeksi HIV. Penggunaan narkoba suntikan bertanggung jawab untuk penyebaran infeksi HIV
yang baru. Alat-alat yang digunakan secara bergantia untuk memaakai narkoba dapat membawa
HIV dan Hepatitis Virus dan penggunaan narkoba dan alkohol juga dikaitkan dengan hubungan
seks yang tidak aman. Jadi hubungannya karena napza suntikan yang digunakab secara bersama-
sama dan hubungan seks tidak aman akibat mengkonsumsi alkohol
7. Pencegahan Primer dilakukan sebelum seseorang terinfeksi HIV. Hal ini diberikan pada
seseorang yang sehat secara fisik dan mental. Pencegahan ini tidak bersifat terapeutik, tidak
menggunakan tindakan yang terapeutik dan tidak menggunakan identifikasi gejala penyakit,
penvcegahan ini meliputi 2 hal :
a. Peningkatan Kesehatan, misalnya Dengan pendidikan kesehatan reproduksi tentang
HIV/AIDS, standarisasi nutrisi, menghindari seks bebas screening dsb.
b. Perlindungan khusus, misalnya Imunisasi, kebersihan pribadi atau pemakaian kondom.
Pencegahan Sekunder berfokus pada orang dengan HIV/AIDS agar tidak mengalami
komplikasi atau kondisi yang lebih buruk. Pencegahan ini dilakukan melalui pembuatan
diafgnosa dan pemberian intervensi yang tepat sehingga dapat mengurangi keparahan kondisi dan
memungkinkan ODHA tetap bertahan melawan penyakitnya. Pencegahan sekunder terdiri dari
tekhnik skrining dan pengobatan penyakit pada tahap dini. Hal ini dilakukana dengan
menghindarkan atau menunda keparahan akibat yang ditimbulkan dari perkembangan penyakit
atau meminimalkan potensi tertular penyakit lain.
Pencegahan Tersier, pencegahan ini dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksi
HIV/AIDS dan mengalami ketidakmampuan permanen yang tidak dapat disembuhkan .
melakukan pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan penularan infeksi
HIV/AIDS adalah dengan penyuluhan untuk mempertahankan perilaku tidak beresiko dengan
menggunakan prinsip ABCD, meliputi :
A. (Abstinensia) yaitu tidak melakukan hubungan seks terutama seks beresiko tinggi dan seks
pra nikah
B. (Be Fanthful) yaitu bersikap saling setia dalam hubungan perkawinan
C. (Condom) yaitu cegah penularan HIV dengan menggunakan condom secara benar
D. (Drugs) yaitu hindari pemakaina narkoba suntik
E. (Equipment/Edukasi) yaitu jangan memakai alat suntik bergantian dan dengan memberikan
pengetahuan atau pendidikan
8. Agar ODHA tidak merasakan tekanan psikologis dalam dirinya meskipun dia sakit tapi dia harus
punya semangat dan merasa kalau ODHA itu mempunyai dukungan dari keluarga maupun orang
terdekat lainnya.
9. - Untuk memperkuat respon efektif pada HIV
- Agar dapat mendorong pengembangan dan rasa percaya diri yang kuat pada ODHA
- Menciptakan role model positif dan memahami upaya anti stigma dan deskriminasi lebih jauh
- Memperkuat ikatan ODHA, keluarga mereka dan komunitas untuk bersama-sama melakukan
upaya pencegahan