Anda di halaman 1dari 6

DASAR TEORI

Kegiatan pengaturan hasil hutan memerlukan perhatian terhadap aspek


kelestarian hutan. Agar suatu unit kawasan hutan dapat beregenerasi secara
kontinyu dan perusahaan mampu melakukan kegiatan pemanenan secara
berkala dengan jumlah yang tepat diperlukan pengaturan hasil hutan secara
tepat. Salah satu sistem pengaturan yang diterapkan guna menjaga kelestarian
hutan adalah dengan merencanakan etat dalam kegiatan pemanenan.
Perhitungan besaran etat sangat ditekankan, guna meminimalkan terjadinya
overcutting maupun undercutting dalam kegiatan pemanenan. Dampak negatif
dari overcutting tidak hanya berimbas terhadap sisi ekologi hutan, melainkan
sisi ekonomi suatu perusahaan. Estimasi besarnya etat dapat diperhitungkan
berdasarkan luas area, volume tebangan dan riap, serta luas area dan volume
tebangan total. Dengan diterapkannya etat tersebut, diharapkan keberadaan
hutan tetap terjaga karena hutan yang lestari. (Foumani, dkk., 2016).

Jatah tebangan yang dilakukan pada periode tertentu dipengaruhi oleh


perhitungan potensi produktivitas yang dihasilkan oleh hutan. Penaksiran
potensi produktivitas suatu hutan dapat ditentukan berdasarkan sistem
silvikulturnya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
produktivitas hutan monokultur adalah dengan memadukan antara tanaman
kehutanan dengan tanaman perkebunan. Alasannya sederhana karena mampu
mendiversifikasi produksi hasil hutan. Selain itu, dengan dilakukannya
penanaman polikultur mampu meningkatkan kesuburan bagi segi edafisnya
serta kadar karbon yang terserap oleh pohon yang semasa hidupnya juga tidak
terganggu terhadap tanaman jenis lain. (Ansolin, dkk., 2020), Akibat hal
tersebut, penentuan siklus tebangan atau frekuensi tebang yang tepat dan
penentuan jatah tebang tahunan sangat diperlukan. Penentuan jatah tebang
tahunan (AAC) atau etat sangat penting untuk memastikan keberlanjutan hasil
hutan. (Khai, 2016).

Penentuan jatah tebang (AAC) banyak diterapkan pada hutan untuk bahan
baku industri menjadi produk konvensional seperti pulp, papan partikel, dan
panel. Pemberlakuan jatah tebang berguna dalam menjamin ketersediann
bahan baku industri serta kelestarian alam. Namun pada kenyataannya, jatah
tebang (AAC) jarang terpenuhi secara utuh. Beberapa tahun terakhir, tingkat
panen jauh lebih rendah daripada penentuan jatah tebang (AAC). Hal ini
disebabkan oleh semakin menipisnya ketersediaan suber daya alam, yang
menjadikan rencana tebang tidak sesuai dengan pelaksanaan di lapangan.
(Durocher, 2019).
LAMPIRAN