D
I
S
U
S
U
N
Oleh :
Kelompok :4
Nama Kelompok : 1. Anggun Novariyanti
2. Bunga Zuhri Al-fidyha Massardi
3. Jinggan Larasati
4. M. Bagas Prayoga
5. M. Akbar Varenza
6. Robi’ah Harul Harul Rahmah Fadia
Banyak sekali berbagai bentuk dan macam-macam aneka ragam makanan dan
minuman dari yang kecil hingga yang besar dan dari harga yang murah hingga yang mahal.
Makanan dan minuman ini memang sudah banyak sekali yang menjualnya, karena cara
pembuatannya sangat sederhana dan baik dikonsumsi ketika siang hari maupun sore hari.
Makanan dan minuman ini, mungkin sudah banyak sekali yang menjualnya karena cara
pembuatan yang sederhana dan higienis begitu juga dengan harga yang terjangkau dan
banyak pula masyarakat yang berminat untuk membuatnya dengan rasa yang cukup
enak,nikmat, segar ditambah lagi bahan – bahan nya ada di kehidupan kita sehari hari
1.2 TUJUAN
1. Untuk mengaplikasikan kimia didalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengetahui tentang titik beku dan panas pada kehidupan sehari-hari
1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Mengetahui pengaruh titik beku pada pembuatan es Mambo
2. Menegtahui tentang perbadaan anatara larutan dan pelarut
BAB II
LANDASAN TEORI
Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat. Adanya interaksi
antara zat terlarut dan pelarut dapat berakibat terjadinya perubahan sifat fisis dari komponen-
komponen penyusun larutan tersebut. Salah satu sifat yang diakibatkan oleh adanya interaksi
antara zat terlarut dengan pelarut adalah sifat koligatif larutan. Sifat koligatif larutan adalah
sifat larutan yang hanya dipengaruhi oleh jumlah partikel zat terlarut di dalam larutan, dan
tidak dipengaruhi oleh sifat dari zat terlarut.
Hukum Ralout merupakan dasar bagi empat sifat larutan encer yang disebut sifat
koligatif (dari bahasa lain colligare, yang berarti “megumpul bersama”) sebab sifat-sifat itu
tergantung pada efek kolektif jumlah partikel terlarut, bukannya pada sifat partikel yang
terlibat. Keempat sifat itu ialah:
1. Penurunan tekanan uap larutan relatif terhadap tekanan uap pelarut murni.
Proses pembekuan suatu zat cair terjadi bila suhu diturunkan, sehingga jarak antar
partikel sedemikian dekat satu sama lain dan akhirnya bekerja gaya tarik menarik
antarmolekul yang sangat kuat. Adanya partikel-partikel dari zat terlarut akan mengakibatkan
proses pergerakan molekul-molekul pelarut terhalang, akibatnya untuk dapat lebih
mendekatkan jarak antarmolekul diperlukan suhu yang lebih rendah. Jadi titik beku larutan
akan lebih rendah daripada titik beku pelarut murninya. Perbedaan titik beku akibat adanya
partikel-partikel zat terlarut disebut penurunan titik beku (∆T f). Penurunan titik beku larutan
sebanding dengan hasil kali molalitas larutan dengan tetapan penurunan titik beku pelarut
(Kf), dinyatakan dengan persamaan:
Dimana:
Titik beku larutan merupakan titik beku pelarut murni dikurangi dengan penurunan titik
bekunya atau Tf = Tf o - ∆Tf.
Apakah yang dimaksud dengan penurunan titik beku? Air murni membeku pada suhu
o
0 C, dengan adanya zat terlarut misalnya saja ditambahkan gula kedalam air tersebut maka
titik beku larutan ini tidak akan sama dengan 0o C, melainkan akan turun dibawah 0o C, inilah
yang dimaksud sebagai“penurunan titik beku”.
Jadi larutan akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut
murninya. Sebagai contoh larutan garam dalam air akan memiliki titik beku yang lebih
rendah dibandingkan dengan pelarut murninya yaitu air, atau larutan fenol dalam alkohol
akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya yaitu
alkohol.
Mengapa hal ini terjadi? Apakah zat terlarut menahan pelarut agar tidak membeku?
Penjelasan mengapa hal ini terjadi lebih mudah apabila dijelaskan dari sudut pandang
termodinamik sebagai berikut.
Contoh, air murni pada suhu 0o C. pada suhu ini air berada pada kesetimbangan antara
fasa cair dan fasa padat. Artinya kecepatan air berubah wujud dari cair ke padat atau
sebaliknya adalah sama, sehingga bisa dikatakan fasa air dan fasa padat. Pada kondisi ini
memiliki potensial kimia yang sama, atau dengan kata lain tingkat energi kedua fasa adalah
sama.
Besarnya potensial kimia dipengaruhi oleh temperatur, jadi pada suhu tertentu
potensial kimia fasa padat atau fasa cair akan lebih rendah daripada yang lain, fasa yang
memiliki potensial kimia yang lebih rendah secara energi lebih disukai, misalnya pada suhu
2o C fasa cair memiliki potensial kimi yang lebih rendah dibanding fasa padat sehingga pada
suhu ini maka air cenderung berada pada fasa cair, sebaliknya pada suhu -1 o C fasa padat
memiliki potensial kimia yang lebih rendah sehigga pada suhu ini air cenderung berada pada
fasa padat.
Apabila ke dalam air murni kita larutkan garam dan kemudian suhunya kita turunkan
sedikit demi sedikit, maka dengan berjalannya waktu pendinginan maka perlahan-lahan
sebagian larutan akan berubah menjadi fasa padat hingga pada suhu tertentu akan berubah
menjadi fasa padat secara keseluruhan. Pada umumnya zat terlarut lebih suka berada pada
fasa cair dibandingkan dengan fasa padat, akibatnya pada proses pendinginan berlangsung,
larutan akan mempertahankan fasanya dalam keadaan cair, sebab secara energi
larutan lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan dengan fasa padat. Hal ini
menyebabkan potensial kimia pelarut dalam fasa cair akan lebih rendah (turun) sedangkan
potensial kimia pelarut dalam fasa padat tidak terpengaruh. Maka akan lebih banyak energi
yang diperlukan untuk mengubah larutan menjadi fasa padat karena titik bekunya menjadi
lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya. Inilah sebab mengapa adanya zat
terlarut akan menurunkan titik beku larutannya. Rumus untuk mencari penurunan titik beku
larutan adalah sebagai berikut:
∆Tf = Kf . m . i
Keterangan:
∆ m = molalilatis larutan
Jangan lupa untuk menambahkan faktor Van Hoff pada rumus di atas apabila larutan
yang ditanyakan adalah larutan elektrolit.
BAB 3
Praktikum
Bahan :
1) buah nanas 4 buah
2) Gula
3) Air
3.2 CARA KERJA
1) Bersihkan nanas dari kulitnya
2) Cuci Nanas yang sudah di bersihkan tadi dengan air panas
3) Potong nanas menjadi potongan kecil,pisahkan nanas sebagian untuk menjadi topping
4) Blender nanas tersebut sampai halus
5) Sambil menunggu nanas halus,larutkan 6 sedok gula diatasi kompor dengan ditambah
air sampai cair
6) Kemudian campurkan nanas halus tadi dengan air gula tadi sambil diaduk -aduk
(tambahkan gula jika kurang manis)
7) Masukkan sebagian potong nanas tadi kedalam kantong plastik kecil
8) Masukan campuran nanas dan gula tadi kedalam kantong plastik dengan
menggunakan corong air (jgn sampai penuh)
9) Ikat plastik tersebut dengan menggunakan tali rafia
10) Masukan kulkas
3.3 DATA
Biaya Pengeluaran :
1. Nanas 4 Rp.10.000
2. GULA ½ kg -
3. Tali rafia ½ ikat Rp.1000
4. Kantong plastik kecil 1 bgks Rp.3500
JUMLAH Rp.14.500
4.1 Kesimpulan
Dari penelitian yang kami telah lakukan, kami dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Proses terjadinya penurunan titik beku dikarenakan adanya perubahan dari tekanan uap,
biasanya diakibatkan oleh masuknya suatu zat terlarut lain maka titik bekunya akan berubah
(nilai titik beku akan berkurang).
2. Keadaan titik beku pelarut murni setelah dicampur zat terlarut akan menjadi lebih rendah
dibawah titik beku pelarut murni yang semula yaitu dibawah 0°C, zat terlarut akan
berpengaruh pada penurunan titik beku larutan karena pada suatu pelarut murni, zat terlarut
akan menyebabkan turunnya suhu titik beku dari pelarut murni tersebut
DAFTAR PUSAKA
https://www.studiobelajar.com/sifat-koligatif-larutan/
http://www.academia.edu/33224904/SIFAT_KOLIGATIF_LARUTAN
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sifat_koligatif
https://blog.ruangguru.com/mengetahui-proses-penurunan-titik-beku
http://chemistryb15.blogspot.com/2017/06/penurunan-titik-beku-larutan.html?m=1