Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Definisi Imunisasi


Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen
yang serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat
dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif
adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh tubuh itu
sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau
kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan immunoglobulin.
Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh.
Waktu paruh IgG 28 hari, sedangkan waktu paruh immunoglobulin lainnya lebih
pendek. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat
terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah.
Kekebalan aktif berlangsung lebih lama daripada kekebalan pasif karena adanya
memori imunologik.(1)(3)(5)(7)

1.2 Tujuan Imunisasi


Tujuan dari diberikannya imunisasi adalah untuk mengurangi angka
penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa
menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat
dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri,
tetanus, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.(5)(6)(7)

(4)
1.3 Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI 2011

1
Gambar 1. Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI 2011

1.4 Imunisasi yang Diwajibkan

2
Imunisasi yang diwajibkan meliputi BCG, polio, hepatitis B, DTP, dan
campak.

BCG(Bacillus Calmette Guerine)


Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosis.
Kontra indikasi:
 Adanya penyakit kulit yang berat/menahun seperti: eksin, furunkulosis
dan sebagainya.
 Mereka yang sedang menderita TBC.

Gambar 2. Vaksin BCG & Pelarut

Reaksi sesudah imunisasi BCG


1.Reaksi normal lokal
 2 minggu :indurasi, eritema kemudian menjadi pustula
 3 - 4 minggu :pustula pecah menjadi ulkus (tidak perlu
pengobatan)
 8 - 12 minggu :ulkus menjadi scar diameter 3 - 7 mm
2.Reaksi pada kelenjar
 Merupakan respon selular pertahanan tubuh
 Kadang terjadi di kel.axilla dan supraklavikula
 Timbul 2 - 6 bulan sesudah imunisasi
 Kelenjar berkonsistensi padat, tidak nyeri, demam (-)
 Akan mengecil 1 - 3 bulan kemudian tanpa pengobatan
Komplikasi

3
1. Abses ditempat suntikan
 Abses bersifat tenang (cold abses) sehingga tidak perlu terapi
 Abses matang aspirasi
2. Limfadenitis Supurativa
 Oleh karena suntikan subkutan atau dosis tinggi
 Terjadi 2 - 6 bulan sesudah imunisasi
 Bila telah matang di aspirasi
 Terapi tuberkulostatika mempercepat pengecilan

Reaksi pada yang pernah tertular TBC:


 Koch phenomen-Reaksi lokal BCG berjalan cepat (2 - 3 hari sesudah
imunisasi),4 - 6 minggu timbul scar.

Imunisasi bayi > 2 bulan, dilakukan tes Tuberkulin (Mantoux):


 Untuk menunjukkan apakah pernah kontak dengan kuman TBC
 Menyuntikkan 0,1 ml PPD didaerah flexor lengan bawah secara
intrakutan
 Pembacaan dilakukan setelah 48 - 72 jam penyuntikan
 Diukur besarnya diameter indurasi ditempat suntikan
 < 5 mm : negatif
 6 - 9 mm : meragukan
 > 10 mm : positif
 Test Mantoux (-) : Imunisasi
(+) :pemeriksaan TBC
 Meragukan: Ulang 2 minggu

 Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 2 bulan. Pada dasarnya


untuk mencapai cakupan yang lebih luas, pedoman Depkes perihal
imunisasi BCG, pada umur 0-l2 bulan, tetap disetujui.
 Dosis untuk bayi kurang dari 1 tahun adalah 0,05 ml dan untuk anak
0,10 ml, diberikan secara intrakutan di daerah insersio M.deltoidus
kanan. WHO tetap menganjurkan pemberian vaksin BCG di insersio
M.deltoidus kanan dan tidak di tempat lain (bokong. paha),
penyuntikan secara intradermal di daerah deltoid lebih mudah
dilakukan (tidak tepat lemak subkutis yang tebal), ulkus yang

4
terbentuk tidak membantu struktur otot setempat (dibandingkan
pemberian di daerah gluteal lateral atau paha anterior), dan sebagai
tanda baku untuk keperluan diagnosis apabi!a diperlukan.
 Vaksin BCG ulang tidak dianjurkan oleh karena menfaatnya diragukan
mengingat (1) efektivitas perlindungan hanya 40%, (2) sekitar 70%
kasus Tuberkulosis berat (meningitis) ternyata mempunyai parut BCG,
dan (3) kasus dewasa dengan BTA (bakteri tahan asam) positif di
Indonesia cukup tinggi (23-36%) walaupun mereka telah mendapat
BCG pada masa kanak-kanak. Saat ini sedang dikembangkan vaksin
BCG baru yang lebih efektif.
 Vaksin BCG merupakan vaksin hidup, mereka tidak diberikan pada
pasien munokompromais (leukemia, dalam pengobatan steroid jangka
panjang, atau pada infeksi HIV).
 Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya
dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.(1)(5)(6)(7)

Hepatitis B
Program vaksin hepatitis B (hepB) segera setelah lahir perlu lebih
digalakkan, mengingat vaksinasi ini merupakan upaya yang sangat efektif untuk
memutuskan rantai transmisi maternal dari ibu kepada bayinya.

Gambar 3. Kemasan Vaksin Hep B

5
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan
oleh virus hepatitis B.
Kontra indikasi:
Hipersensitif terhadap komponen vaksi. Sama halnya seperti
vaksin-vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita
infeksi berat
Efek Samping
Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembekakan
disekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan
biasanya hilang setelah 2 hari.
 Jadwal imunisasi hepatitis B
 Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir,
mengingat paling tidak 3,9% ibu hamil merupakan pengidap
hepatitis dengan resiko transmisi maternal kurang lebih sebesar
45%.
 Hepatitis B-2 diberikan dengan interval 1 bulan dari hep B-1 (saat
bayi berumur 1 bulan). Untuk mendapatkan respons imun optimal
interval hepB-2 dan hepB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka
hepB-3 diberikan 2-5 bulan setelah hepB-2 yaitu pada umur 3-6
bulan.
 Jadwal pemberian hepB-l saat bayi lahir, dibuat berdasarkan status
HbsAG positif yaitu ibu dengan status HbsAG yang tidak diketahui,
ibu HbsAG positif atau ibu HbsAG negatif.
 Departemen Kesehatan mulai tahun 2005 memberikan vaksin
hepB-1 monoivalen (uniject) saat lahir, dilanjutkan dengan vaksin
kombinasi DTwP/HepB pada umur 2-3-4 bulan.
 Hepatitis B saat bayi lahir
o Baru lahir dari ibu dengan status HbsAG yang tidak diketahui,
hepB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dan
dilanjutkan pada umur 1 dan atara umur 3-6 bulan. Apabila semula
status HbaAG ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan
selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAG positif maka dapat
diberikan HBIg (hepatitis B imunoglobulin) 0,5 ml sebelum bayi
berumur 7 hari.

6
o Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAG-B ibu positif, dalam waktu
24-48 jam setelah lahir bersamaan dengan vaksin HepB-I diberikan
juga HBIg 0,5 ml.
 Ulangan vaksinasi hepatitis B
o Telah dilakukan suatu penelitian multisenter di Thailand dan Taiwan
terhadap anak dari ibu pengidap hepatitis B yang telah memperoleh
imunisasi dasar 3x pada masa bayi. Pada umur 5 tahun, sejumlah
90,7% diantaranya masih memiliki titer antibodi anti HBs yang
protektif (titer anti HBs>10ug/ml). Mengingat pola epidemiologi
hepatitis B di Indonesia mirip dengan pola epidemiologi di Thailand,
maka dapat disimpulkan bahwa imunisasi ulang (booster) pada usia
5 tahun tidak diperlukan. Idealnya, pada usia ini dilakukan
pemeriksaan anti HBs.
o Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah
memperoleh imunisasi hepatitis B, maka secepatnya diberikan
(catch-up vaccination).
o Ulangan imunisasi hepatitis B dapat dipertimbangkan pada umur
10-12 tahun. apabila titer pencegahan tercapai (catch-
upimmunization).(1)(5)(6)(7)

DPT (Difteri Pertusis Tetanus)


Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis dan
tetanus.
Cara pemberian dan dosis:
 Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen.
 Disuntikkan secara intramuskuler dengan dosis pemberian 0,5 ml sebanyak
3 dosis.

7
 Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan
dengan interval paling cepat 4 minggu (1 bulan).
Kontra indikasi
Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala
serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi pertusis. Anak yang
mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus
dihindarkan pada dosis kedua, dan untuk meneruskan imunisasinya dapat
diberikan DT.

Gambar 4. Vaksin DPT

Efek Samping
Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti: lemas, demam,
kemerahan, pada tempat penyuntikan. Kadang-kadang terjadi gejala berat
seperti demam tinggi, iritabilitas, dan merancau yang biasanya terjadi 24 jam
setelah imunisasi.
Jadwal Imunisasi
 Imunisasi DTwP dan DTaP dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan
(DTwP atau DTaP tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan
interval 4-6 minggu, DTwP atau DTaP-1 diberikan pada umur 2 bulan,
DTwP atau DTaP-2 pada umur 3 bulan dan DTwP atau DTaP-3 pada umur
4 bulan. Ulangan selanjutnya (DTwP atau DTaP-4) diberikan satu tahun
setelah DTwP atau DTaP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DTwP atau
DTaP-5 pada saat masuk sekolah umur 5 tahun.

Vaksinasi ulangan
 Pada booster umur 5 tahun dianjurkan tetap diberikan vaksin dengan
komponen partusis (DTwP atau DTaP), mengingat kejadian pertusis pada
dewasa muda penularan pada bayi dan anak.

8
 Sejak tahun 1998, DT-5 diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah.
Ulangan DT-6 diberikan pada usia 12 tahun, mengingat masih dijumpai
kasus difteria pada umur lebih dari 10 tahun.
 Sebaiknya ulangan DT-6 pada umur 12 tahun diberikan dT (adult dose),
(1)(3)(5)(6)(7)
tetapi di Indonesia dT tidak ada di pasaran.

TT (TetanusToksoid)
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus.
Cara pemberian dan dosis:
 Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen.
 Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang
disuntikkan secara intra muskular atau subkutan dalam, dengan dosis
pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis
ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan
terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5
dosis. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1
tahun setelah pemberian dosis ketiga dan keempat. Imunisasi TT dapat
diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode
trimester pertama.
Kontra indikasi:
Gejala-gejala berat karena dosis pertama TT.
Efek Samping
Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan. Gejala-gejala seperti
lemas, dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara, dan
kadang-kadang gejala demam.

Gambar 5. Vaksin TT

9
Jadwal Imunisasi
 Jadwal imunisasi tetanus, sesuai dengan imunisasi difteria dalam vaksin
DTwP atau DtaP
 Perkiraan lama waktu perlindungan antibodi tetanus.
Program imunisasi mengharuskan seorang anak minimal mendapat vaksin
tetanus toksoid sebanyak 5 kali untuk memberikan perlindungan seumur
hidup. Dengan demikian, pada saat wanita usia subur telah mendapat
perlindungan untuk beyi yang akan dilahirkan terhadap bahaya tetanus
neonatorum. Perlindungan tersebut dapat diperoleh dengan cara sebagai
berikut:
o Imunisasi DTwP atau DTaP pada bayi 3 kali (3 dosis) akan
memberikan imunitas selama 1-3 tahun. Dari 3 dosis toksoid tetanus
pada bayi tersebut, diperkirakan setara dengan 2 dosis toksoid pada
anak yang lebih besar atau dewasa.
o Ulangan DTP pada umur 18-24 bulan (DTP 4) akan memperpanjang
imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun, pada umur
dewasa dihitung setara dengan 3 dosis toksoid.
o Dosis toksoid tetanus kelima (DTP/DT 5) bila diberikan pada usia
masuk sekolah akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi yaitu
pada sampai umur dewasa dihitung setara 5 dosis toksoid.
o Upaya ETN dengan target sasaran TT 5 kali juga dilakukan pada anak
sekolah.
o Dosis vaksin DTP dan TT diberikan dengan dosis 0,5 ml secara
(1)(3)(5)(6)(7)
intrmaskular.

Polio
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis.
Cara pemberian dan dosis:
 Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes
sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4
minggu.

10
 Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dopper) yang
baru.
Kontra indikasi:
Pada individu yang menderita “immune deficiency” tidak ada efek yang
berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit.
Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis
ulangan dapat diberikan setelah sembuh.
Efek Samping
Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa paralis
yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi.

Gambar 6. Vaksin Polio

 Jadwal Imunisasi Polio


o Polio-O diberikan saat bayi lahir, karena Indonesia merupakan daerah
endemik polio maka sesuai pedoman program imunisasi nasional untuk
mendapatkan cakupan imunisasi yang lebih tinggi diperlukan tambahan
imunisasi polio yang diberikan setelah lahir. Mengingat OPV berisi virus
polio hidup maka dianjurkan diberikan saat bayi meninggalkan rumah
sakit/ rumah bersalin agar tidak mencemari bayi lain karena virus polio
vaksin dapat diekskresi melalui tinja. Untuk keperluan ini , IPV dapat
menjadi alternatif.
o Untuk imunisasi dasar polio (polio 2,3,4), interval diantaranya tidak
kurang dari 4 minggu.
o Dosis OPV, 2 tetes per-oral sedangkan IPV dalam kemasan 0,5 ml,
intramuskular.
o Vaksin polio ulangan diberikan satu tahun sejak imunisasi polio-4,
(5)(6)(7)
selanjutnya saat masuk sekolah (5-6 tahun).

11
Campak
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
Cara pemberian dan dosis:
 Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan
dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut.
 Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri
atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun
(kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada anak Sekolah Dasar
kelas 1 – 6.
Kontra indikasi:
Individu yang mengidap penyakit Immune deficiency atau individu yang
diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma.
Efek Samping:
Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan
selama 3 hari yang dapat terjadi 8 – 12 hari setelah vaksinasi.

Gambar 7. Vaksin Campak

 Vaksin campak dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara


subkutan, pada umur 9 bulan.
 Hasil penelitian litbangkes Depkes 2000, didapatkan bahwa titer antibodi
campak pada anak usia sekolah 10-12 tahun hanya tinggal 50%
diantaranya yang masih mempunyai antibodi campak diatas ambang
pencegahan. Sedangkan 28,3% diantara kelompok usia 5-7 tahun pernah
menderita campak walaupun sudah diimunisasi saat bayi. Berdasarkan hal
tersebut dianjurkan pemberian imunisasi campak ulang pada saat masuk
sekolah dasar (5-6 tahun). Namun apabila telah mendapat vaksinasi MMR
(5)(6)(7)
pada usia 15-18 bulan, ulangan campak umur 5 tidak diperlukan.

12
1.5 Imunisasi yang Dianjurkan

MMR

Gambar 8. Vaksin MMR

 Virus campak Schwarz hidup dilemahkan dlm embrio ayam


 Virus gondong Urabe dibiak dalam telur ayam
 Virus rubela Wistar dibiak pada sel deploid manusia
 Simpan 2 - 8º C,
 Kontra indikasi
imunodepresi, alergi telur, hamil, pasca imunoglobulin, transfusi darah
(tunda 6 – 12 minggu), alergi neomisin, kanamisin.
 Vaksin MMR diberikan pada umur 15-18 bulan dengan dosis satu kali 0,5
ml, secara subkutan.
 MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau setelah penyuntikan
imunisasi lainnya.
 Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada umur 12-18
bulan imunisasi campak-2 pada umur 5-6 tahun tidak perlu diberikan.
(3)(5)(6)(7)
Ulangan diberikan pada umur 10-12 tahun atau 12-18 tahun.

Haemophilus Influenza tipe b (Hib)

Gambar 9. Vaksin Hib

13
Terdapat dua jenis vaksin Hib konjugasi yang beredar di Indonesia yaitu:
PRP-T dan PRP-OMP (PRP outer membrane protein complex)
 Jadwal imunisasi
o Vaksinasi PRP-T diberikan pada umur 2,4 dan 6 bulan.
o Vaksin PRP-OMP diberikan pada umur 2 dan 4 bulan, dosis ketiga (6
bulan) tidak diperlukan.
o Vaksin Hib dapat diberikan secara bersamaan dengan DTwP atau DTaP
dalam bentuk vaksinasi kombinasi.
 Dosis
o Satu dosis vaksin Hib berisi 0,5 ml, diberikan secara intramuskular.
o Tersedia vaksin kombinasi DTwP/Hib atau DTaP/Hib (vaksin kombinasi
berisi vaksin PRP-T) dalam kemasan Prefilled syringe 0,5 ml.
 Ulangan
o Vaksin Hib baik PRP-T ataupun PRP-OMP pada umur 18 bulan 16
o Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun, Hib hanya diberikan 1 kali.
(3)(5)(6)(7)

Deman Tifoid

Gambar 10. Vaksin Tifoid

Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin suntik (polisakarida) dan

14
oral. Vaksin capsular Vi polysaccharide diberikan intramuskular atau subkutan
pada umur lebih dari 2 tahun, ulangan di lakukan setiap 3 tahun.
Tifoid oral diberikan pada umur lebih dari 6 tahun, dikemas dalam 3 dosis
dengan interval selang sehari (hari 1,3, dan 5). Imunisasi ulangan dilakukan
setiap 3-5 tahun. Vaksin oral pada umumnya diperlukan untuk turis yang akan
(5)(6)(7)
berkunjung ke daerah endemis tifoid.

Hepatitis A

Gambar 11. Vaksin Hepatitis A

Vaksin hepatitis A diberikan pada daerah yang kurang terpajan (under


exposure).
 Jadwal imunisasi
o Vaksin hep A diberikan pada umur lebih dari 2 tahun.
o Vaksin kombinasi hepB/hepA tidak diberikan pada bayi kurang dari 12
bulan. Maka vaksin kombinasi diindikasikan pada anak umur lebih dari
12 bulan, terutama untuk catch-up immunization yaitu mengejar
imunisasi hepB sebelumnya atau vaksin hepB yang tidak lengkap.
 Dosis pemberian
o Dosis 720 U diberikan dua kali dengan interval 6 bulan, intramuskular
di daerah deltoid.
Kombinasi hepB/hepA (berisi hepB 10 mgr dan hepA 720 ) dalam
(5)(6)(7)
kemasan prefilled syringe 0,5 ml intramuskular.

Varisela

15
Gambar 12. Vaksin Varicella

 Efektif vaksin tidak diragukan lagi, namun cakupan imunisasi tinggi oleh
karena harganya masih mahal sehingga belum terjangkau oleh semua
lapisan masyarakat, maka imunisasi rutin belum dapat terlaksana.
 Pada cakupan yang rendah, dapat mengubah epidemiologi penyakit dari
masa anak ke dewasa (pubertas), sehingga akibatnya angka kejadian
varisela orang dewasa akan meningkat dibandingkan anak.
 Diketahui bahwa dampak penyakit varisela pada orang dewasa lebih berat
daripada anak, apalagi terjadi pada masa kehamilan dapat mengakibatkan
bayi menderita sindrom varisela konginetal dengan angka yang tinggi.
 Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka imunisasi varisela diberikan
pada anak yang lebih besar, namun kurang dari 13 tahun.
 Jadwal imunisasi
o Untuk menghindarkan perubahan penyakit tersebut, pada saat ini
imunisasi varisela direkomendasikan pada umur 10-12 tahun yang
belum terpajan.
o Untuk anak yang mengalami kontak dengan pasien varisela, vaksinasi
dapat mencegah apabila diberikan dalam kurung 72 jam setelah kontak.
 Dosis
Dosis 0,5 ml, subkutan, satu kali. Untuk umur lebih dari 13 tahun atau
(5)(6)(7)
dewasa, diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu.

Vaksin Pneumokokus

16
Gambar 13. Vaksin Pneumokokus

 Mencegah IPD (Invasive Pneumococcus Diseases)


o Septikemia / bakteremia
o Pneumonia
o Meningitis
 Mencegah Non IPD :
o Otitis media
o Sinusitis
 Konjugasi antigen dengan protein difteria
o T cell dependent  cell memory (+)
o kekebalan bertahan lama
(5)(6)(7)
 Jadwal : 2, 4, 6, 12 -15 bulan.
Vaksin kombinasi

Gambar 14. DPaT + Hib Gambar 15. DPwT + Hib

(Infanrix-Hib ®,Tetract-Hib ®)
 Tetract-Hib : kombinasi DPwT+Hib
 Infanrix-Hib : kombinasi DPaT+Hib
o DPwT/DPaT : dalam vial
o Hib dalam PFS (prefilled syringe)
 Sebelum disuntikkan, dicampur dengan menyedot DPwT/DPaT ke dalam
PFS Hib
 Kontra indikasi
(5)(6)(7)
o Sama dengan komponen masing-masing vaksin.

BAB II
17
KETERLAMBATAN IMUNISASI

Imunisasi, tak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tapi juga ampuh
untuk mencegah dan menangkal timbulnya penyakit serta kematian pada anak-
anak. Namun, kadangkala orangtua kerap mengabaikan tindakan penting
tersebut.
Sesuai dengan yang diprogramkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO
(Badan Kesehatan Dunia), Pemerintah Indonesia menetapkan ada 12 imunisasi
yang harus diberikan kepada anak-anak. 5 Diantaranya merupakan imunisasi
yang wajib diberikan sebab fungsinya adalah untuk mencegah anak dari
serangan penyakit – penyakit tertentu. Adapun penyakit yang dapat ditimbulkan
(6)
jika anak kita tidak memperoleh imunisasi dengan tepat antara lain :

1. Tuberkulosis (TBC)
Tuberkulosis, terutama TB paru, merupakan masalah yang timbul tidak
hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Tuberkulosis tetap
merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian, baik
di negara berkembang maupun di negara maju faktor resiko infeksi dan faktor
resiko progresi infeksi menjadi penyakit ( resiko penyakit ).
Resiko Infeksi TB Faktor resiko terjadinya infeksi TB antara lain adalah :
anak yang memiliki kontak dengan orang dewasa dengan TB aktif, daerah
endemis, penggunaan obat-obat intravena, kemiskinan, serta lingkungan yang
(5)(6)(7)
tidak sehat.

2. Hepatitis B
Prevalensi penyakit hepatitis B pada bayi lebih besar (lebih dari 90
persen) dibandingkan pada orang dewasa. Oleh karena itu, bagi bayi vaksin
hepatitis B mutlak perlu diberikan.
Ciri-ciri penderita hepatitis B umumnya tak diketahui secara jelas karena
penderita seperti orang sehat. Akibatnya ia tak segera menyadari dirinya telah
tertular virus hepatitis B, bahkan sudah menularkannya kepada orang lain. Jika
didapatkan gejala kuning pada mata, kulit, lesu, tak memiliki nafsu makan serta
sakit lambung-seperti maag yang tak sembuh dalam tempo enam bulan pada
anak, segera periksa ke dokter.

18
Virus hepatitis B diketahui sebagai salah satu virus yang paling mudah
menular. Bahkan, penularan virus ini 100 kali lebih menular daripada HIV (virus
penyebab AIDS), dan diperkirakan menginfeksi 10 kali lebih banyak daripada
HIV. Virus itu menyerang hati dan merusak organ tubuh secara tak langsung
melalui gangguan sistem kekebalan. Pada serangan tahap awal masih bisa
disembuhkan jika segera diobati. Namun, jika penyakit berkembang lebih berat
maka ia akan mencapai tahap hepatitis akut, sirosis (pengerasan hati), sampai
(5)(6)(7)
kemudian mengakibatkan munculnya kanker hati.

3. Penyakit polio.
Penyakit ini disebabkan virus, menyebar melalui tinja/kotoran orang yang
terinfeksi. Anak yang terkena polio dapat menjadi lumpuh layuh. Poliomyelitis
atau Polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus.
Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV),
masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat
memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan
melemahnya otot dan kadang kelumpuhan. Polio menular melalui kontak
antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang
memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses.
Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan
amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat
terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh
persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Penyebab
penyakit polio terdiri atas tiga strain yaitu strain 1 (brunhilde) strain 2 (lanzig),
dan strain 3 (Leon). Strain 1 adalah yang paling paralitogenik atau yang paling
ganas dan sering kali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Sedangkan
Strain 2 adalah yang paling jinak.
Penyakit Polio terbagi atas tiga jenis yaitu Polio non-paralisis, Polio
paralisis spinal, dan Polio bulbar. Polio non-paralisis menyebabkan demam,
muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan
punggung, otot terasa lembek jika disentuh.
Polio Paralisis Spinal Jenis Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang
belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada
batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan
kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan

19
mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki.
Setelah poliovirus menyerang usus, virus ini akan diserap oleh kapiler darah
pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh.

Gambar 16. Anak dengan polio

Poliovirus menyerang saraf tulang belakang dan neuron motor yang


mengontrol gerak fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun,
pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini
biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan
batang otak. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat menyebar
sepanjang serabut saraf. Seiring dengan berkembang biaknya virus dalam
sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan neuron motor. Neuron motor
tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya
tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada
kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas, kondisi ini disebut acute flaccid
paralysis (AFP). Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan
kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan abdomen
(perut), disebut quadriplegia.
Polio Bulbar Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami
sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung neuron motor
yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai
otot yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka
yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf
auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu
proses menelan dan berbgai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa;
dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf
tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio
bulbar dapat menyebabkan kematian. 5 – 10% penderta yang menderita polio
bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja.

20
Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang
bertugas mengirim ''perintah bernapas'' ke paru-paru. Penderita juga dapat
meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan. korban dapat tidak
bernapas akibat sekresi mucus yang berlebihan pada traktus respiratorius
kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot
mukus yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru.
Penyakit Polio dapat ditularkan oleh infeksi droplet dari oro-faring (mulut
dan tenggorokan) atau dari tinja penderita yang telah terinfeksi selain itu juga
dapat menular melalui oro-fecal (makanan dan minuman) dan melalui percikan
ludah yang kemudian virus ini akan berkembangbiak di tengorokan dan usus lalu
kemudian menyebar ke kelenjar getah bening, masuk ke dalam darah serta
menyebar ke seluruh tubuh.
Penularan terutama sering terjadi langsung dari manusia ke manusia
melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut). Virus Polio dapat bertahan lama pada air
limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber
penularannya. Penularan terutama terjadi akibat tercemarnya lingkungan oleh
virus polio dari penderita yang telah terinfeksi, namun virus ini hidup di
lingkungan terbatas.(5)(6)(7)

4. Penyakit campak
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus
yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis
(peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini
disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus. Penularan
infeksi terjadi karena menghirup droplet penderita campak. Penderita bisa
menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4
hari setelah ruam kulit ada. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala
muncul.

21
Gambar 16. Anak dengan campak

Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, imunisasi aktif


dan kekebalan pasif yang diperoleh bayi yang lahir ibu yang telah kebal
(berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak
adalah bayi berumur lebih dari 1 tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi,
remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu
berupa:
 Panas badan
 nyeri tenggorokan
 hidung meler ( Coryza )
 batuk ( Cough )
 nyeri otot
 mata merah ( conjuctivitis ), 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil
di mulut bagian dalam (bintik Koplik).
Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari
setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam
kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol).
Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta
di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang
tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.
Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas
serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya
turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.
Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama
beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan
(1)(3)(5)(6)(7)
merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.

22
5. Difteri, pertusis dan tetanus.
Difteri disebabkan bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat
menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Difteri merupakan penyakit
menular yang sangat berbahaya pada anak anak. Penyakit ini mudah menular
dan menyerang terutama daerah saluran pernafasan bagian atas. Penularan
biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke
orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda
atau makanan yang terkontaminasi.
Difteri disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae, suatu bakteri
gram positif yang berbentuk polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk
spora.
Gejala utama dari penyakit difteri yaitu adanya bentukan pseudomembran
yang merupakan hasil kerja dari kuman ini. Pseudomembran sendiri merupakan
lapisan tipis berwarna putih keabu abuan yang timbul terutama di daerah
mukosa hidung, mulut sampai tenggorokan. Disamping menghasilkan
pseudomembran, kuman ini juga menghasilkan sebuah racun yang disebut
eksotoxin yang sangat berbahaya karena menyerang otot jantung, ginjal dan
jaringan syaraf (www.blogdokter.net).
Difteri dapat menyerang seluruh lapisan usia tapi paling sering menyerang
anak-anak yang belum diimunisasi. Pada tahun 2000, di seluruh dunia
dilaporkan 30.000 kasus dan 3.000 orang diantaranya meninggal karena
penyakit ini
Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang
berarti menegang. Penyakit ini adalah penyakit infeksi di mana spasme otot
tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw), spasme otot umum,
melengkungnya punggung (opistotonus), spasme glotal, kejang dan spasme dan
paralisis pernapasan.
Penyakit tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang terdapat
ditanah, kotoran hewan, debu, dan sebagainya. Bakteri ini masuk ke dalam
tubuh manusia melalui luka yang tercemar kotoran. Di dalam luka bakteri ini
akan berkembang biak dan membentuk toksin (racun) yang menyerang saraf.
UNICEF (United Nations Children’s Fund/Dana PBB untuk Anak-Anak)
menyebutkan dalam situsnya bahwa tetanus sangat berisiko terkena pada bayi-
bayi yang dilahirkan dengan bantuan dukun bayi di rumah dengan peralatan

23
yang tidak steril; mereka juga beresiko ketika alat-alat yang tidak bersih
digunakan untuk memotong tali pusar dan olesan-olesan tradisional atau abu
digunakan untuk menutup luka bekas potongan. Angka kematian yang
diakibatkan oleh tetanus berkisar antara 15-25%.
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi bakterial yang
menyerang sistem pernapasan yang melibatkan pita suara (larinks), trakea dan
bronkial. Infeksi ini menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan sehingga
menyebabkan serangan batuk yang parah. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri
Bordetella pertussis yang bersarang di saluran pernapasan dan sangat mudah
tertular.
Pertusis dapat menyerang segala umur, 60 % menyerang anak-anak yang
berumur kurang dari 5 tahun. Penyakit ini akan menjadi serius jika menyerang
bayiberumur kurang dari 1 tahun. Biasanya pada bayi yang baru lahir dan
keadaannya menjadi lebih parah. Pada tahun 2000 diperkirakan 39 juta kasus
terjadi dan 297.000 kematian terjadi didunia yang diakibatkan oleh pertusis.

Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan


jadwal yang sudah disepakati. Keadaan ini tidak merupakan hambatan untuk
melanjutkan imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak menjadi
hilang manfaatnya tetapi tetap sudah menghasilkan respons imunologi
sebagaimana yang diharapkan tetapi belum mempunyai antibodi yang optimal.
Dengan perkataan lain anak belum mempunyai antibodi yang optimal karena
belum mendapat imunisasi lengkap, sehingga kadar antibodi yang dihasilkan
masih dibawah kadar ambang perlindungan untuk kurun waktu yang panjang
(life long immunity) sebagaimana bila imunisasinya lengkap. Dengan demikian
kita harus menyelesaikan jadwal imunisasi dengan melanjutkan imunisasi yang
(3)(5)(6)(7)
belum selesai.

24
Tabel : Rekomendasi jadwal untuk vaksinasi yang tidak teratur.

25
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Imunisasi merupakan hal yang terpenting dalam usaha melindungi
kesehatan anak. Imunisasi bekerja dengan cara merangsang timbulnya
kekebalan tubuh yang akan melindungi anak dari penyakit-penyakit seperti
polio, campak, influenza, tetanus, difteri dan pertusis (batuk rejan).
Tanpa pemberian vaksin, jumlah kematian anak-anak yang ditimbulkan
oleh penyakit tersebut meningkat dan banyak orang yang mengalami komplikasi
kronik setelah menderita penyakit tersebut.
Pada keadaan tertentu juga imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai
dengan jadwal yang sudah disepakati. Keadaan ini tidak merupakan hambatan
untuk melanjutkan imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak
menjadi hilang manfaatnya tetapi belum mempunyai antibodi yang optimal.
Dengan demikian kita harus menyelesaikan jadwal imunisasi dengan
melanjutkan imunisasi yang belum selesai.

3.2 Saran
1. Pengetahuan ibu mempunyai pengaruh positif terhadap kelengkapan
imunisasi dasar, yang berarti bahwa semakin baik pengetahuan ibu tentang
manfaat imunisasi akan berpengaruh meningkatkan kelengkapan imunisasi
dasar pada bayi.
2. Motivasi ibu mempunyai pengaruh positif terhadap kelengkapan imunisasi
dasar. Yang berarti bahwa semakin baik motivasi ibu akan berpengaruh
meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi.

26
Ringkasan Imunisasi Berdasarkan Umur Pemberian

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Gold, Ronald. Immunization. In: Feldman, William, editors.


Evidence-Based Pediatric. University of Toronto, Canada:2000.p.39-
56
2. Roberts MC, Brown KJ, Boles RE, Mashunkashey JO. Prevention and
Health Promotion. In: Brown, Ronald T, editors. Handbook of
Pediatric Psycology in School Setting.Medical University of South
Carolina, London:2004.p.65-159
3. Rajan S, Natalie N. Chapter 22 – Immunization Practices. In: Burg
FD, Polin RA, Gershon AA, Ingelfinger J, editors. Current Pediatric
Therapy 18th Edition. 2006.
4. Jadwal Imunisasi Anak - Rekomendasi Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI) 2011 [image on the Internet]. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia, 2011.

28
5. http://syehaceh.wordpress.com/2008/05/12/imunisasi-dan-faktor-

yangmempengaruhinya/
6. http://vinadanvani.wordpress.com/2008/02/20/jenis-imunisasi-

yangdiawajibkan-dan-dianjurkan/
7. http:// Imunisasi pada Anak _ Balita-Anda Online Ibu, Bayi, Balita
Sehat & Cerdas/

29