Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN


BIAYA MODAL
(COST OF CAPITAL)

DOSEN : DR. FITRI SANTI, M.S.M

NAMA : DWI NUGRAHA HUTAMA S.T

MANAJEMEN 41

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS BENGKULU
2020
BIAYA MODAL (COST OF CAPITAL)

Biaya modal (cost of capital) adalah biaya riil yang harus dikeluarkan perusahaan
untuk memperoleh dana, baik yang berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa
maupun laba ditahan untuk mendanai investasi dan operasional perusahaan. Perhitungan
biaya penggunaan modal adalah penting berdasarkan tiga alasan berikut:
1. Maksimisasi nilai perusahaan mengharuskan biaya-biaya (termasuk biaya modal)
diminimumkan.
2. Capital budgeting memerlukan estimasi tentang biaya modal.
3. Keputusan lain juga memerlukan estimasi biaya modal, misal leasing, modal kerja.
Konsep biaya modal erat hubungannya dengan konsep mengenai pengertian tingkat
keuntungan yang disyaratkan (required rate of return). Biaya modal biasanya digunakan
sebagai ukuran untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi (discount
rate), yaitu dengan membandingkan rate of return dari usulan investasi tersebut dengan
biaya modalnya (overall cost of capital). Biaya modal yang tepat untuk semua keputusan
adalah rata-rata tertimbang dari seluruh komponen modal (weighted average cost of capital
atau WACC).
Perhitungan biaya modal secara keseluruhan (overall cost of capital) bertujuan
untuk menentukan biaya modal dalam hal penganggaran modal (capital budgeting).
Konsep ini mengarah pada Weighted Average Cost of Capital (WACC). Perhitungan
WACC sangat terkait dengan pertimbangan bagaimana suatu proyek didanai, atau dengan
kata lain, dari sumber pendanaan atau keuangan apa sajakah modal itu berasal. Untuk
mengestimasikan WACC, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memutuskan tipe modal
yang mana yang digunakan. Mengingat cost of capital utamanya digunakan dalam proses
pembuatan keputusan investasi jangka panjang, fokus pembahasan adalah pada perhitungan
cost of capital yang digunakan untuk pengambilan keputusan dalam hal capital budgeting.
Asumsi yang berlaku dalam pembahasan investasi jangka panjang adalah sumber modal
yang bersifat jangka pendek, digunakan untuk menunjang jalannya operasi perusahaan.
Dengan kata lain, perusahaan umumnya menggunakan short-term liabilities sebagai sumber
dana bagi working capital yang bersifat siklus atau musiman.
Dengan demikian, hutang jangka pendek tidak termasuk dalam perhitungan cost of
capital yang digunakan dalam konteks capital budgeting, dan mempertimbangkan
penggunaan long-term debt, saham preferen dan modal sendiri (saham biasa plus laba
ditahan) sebagai sumber utama modal. Jadi sumber modal jangka panjang itulah yang
termasuk dalam perhitungan WACC. Untuk itu, untuk menentukan WACC perlu
perhitungan biaya modal masing-masing sumber modal secara individual.

Biaya Modal Individual


Perhitungan biaya modal atas perusahaan adalah biaya modal rata-rata dari biaya
tiap jenis modal. Jenis biaya modal individual antara lain:
1. Biaya modal hutang / Cost of Debt (kd)
Dalam periode awal atau tahap perencanaan, manajer keuangan harus mengetahui
dengan tepat tipe dan jumlah hutang jangka panjang (debt) yang akan digunakan untuk
mendanai proyek dalam capital budgeting. Tipe hutang akan sangat ditentukan oleh asset
yang akan didanai serta kondisi pasar modal dalam satu periode. Dengan demikian, manajer
keuangan diharapkan mampu memahami tipe hutang yang cocok dengan bidang usaha
perusahaan. Biaya hutang setelah pajak (kd) dihitung untuk mencerminkan tingkat bunga
atas hutang dikurangi dengan penghematan pajak yang timbul karena pembayaran bunga
(pembayaran bunga bersifat mengurangi pajak) atau dengan kata lain biaya bunga obligasi
didasarkan pada prinsip after tax basis. Dikatakan penghematan pajak karena logika yang
digambarkan dari persamaan di bawah ini.
Biaya hutang setelah pajak (kd) = Tingkat bunga atas hutang – penghematan pajak
= ki – ( kd.t )
= ki ( 1 - t )
2. Biaya modal saham preferen / Cost of Preferred Stock (kp)
Sejumlah perusahaan menggunakan saham prioritas sebagai bagian dari permanent
financing mix mereka. Untuk menghitung biayanya, data utama yang digunakan adalah
berapa besarnya deviden saham preferen. Karena deviden ini tidak mengurangi pajak (non
tax deductible), atau pembayaran dilakukan setelah pajak, maka tidak ada penyesuaian
terhadap pajak (tax adjustment) dalam menghitung biaya modal saham preferen,
sebagaimana dilakukan penyesuaian pajak terhadap biaya modal obligasi. Biaya modal
saham preferen dihitung dengan cara membagi deviden saham preferen per tahun (dp)
dengan keuntungan bersih penjualan saham preferen.

3. Biaya modal saham biasa / Cost of Common Stock (ke)


Perusahaan dapat meningkatkan modal saham melalui dua cara, yaitu dengan
menahan laba dan menerbitkan saham biasa baru. Jika ekspansi perusahaan berlangsung
secara cepat hingga laba ditahan sudah digunakan seluruhnya, perusahaan akan
menerbitkan saham baru. Jika demikian, saham biasa akan memiliki biaya modal yang
lebih tinggi dibandingkan laba ditahan, karena melibatkan adanya biaya emisi (flotation
cost). Adanya biaya emisi akan memperkecil jumlah rupiah yang dapat digunakan dari
penjualan saham biasa, dan akibatnya akan memperbesar biaya modal. Berikut ini adalah
formula untuk menghitung biaya modal dari saham biasa.
4. Biaya modal laba ditahan / Cost of Retained Earning (kr)
Seperti halnya biaya hutang, saham preferen serta saham biasa, biaya modal untuk
laba ditahan didasarkan pada tingkat pengembalian yang dipersyaratkan atau diinginkan
oleh investor. Jadi biaya modal untuk laba di tahan sama dengan tingkat pengembalian
yang diinginkan pemegang saham atas modal ekuitas yang bersumber pada laba ditahan.
Pemegang obligas mendapat imbalan dari pembayaran bunga, sementara pemegang saham
preferen mendapat deviden preferen. Akan tetapi laba setelah pajak dan deviden preferen
merupakan hak pemegang saham biasa atas modal yang investor tanamkan. Manajemen
memiliki pilihan untuk membagikan laba tersebut sebagai deviden atau menahannya untuk
diinvestasikan kembali dalam bisnis. Jika manajemen memutuskan untuk menahan laba
tersebut, maka terdapat biaya oportunitas (dibandingkan dengan jika laba dibagi dalam
bentuk deviden), karena akan terbuka kesempatan bagi pemegang saham untuk
mendapatkan laba dari tambahan investasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung
biaya
modal untuk laba ditahan sama halnya dengan rumus perhitungan biaya modal saham biasa,
yaitu:

Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (Weighted average cost  of capital/ WACC)


Biaya modal secara keseluruhan merupakan biaya modal yang memperhitungkan
seluruh biaya atas modal yang digunakan oleh perusahaan. Karena biaya modal dari
masing-masing sumber dana berbeda-beda, maka untuk menetapkan biaya modal
dari perusahaan secara keseluruahn perlu dihitung biaya modal rata-rata tertimbangnya
(Weighted average cost of capital / WACC). Jika pembiayaan suatu investasi berasal dari
berbagai sumber pendanaan, maka biaya modal dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang. 

WACC = [Wd x Kd (1- tax)] + [Wp x Kp] + [Ws x (Ks atau Ksb)]

WACC = biaya modal rata-rata tertimbang
Wd = proporsi hutang dari modal
Wp = proporsi saham preferen dari modal
Ws = proporsi saham biasa atau laba ditahan dari modal
Kd = biaya hutang
Kp = biaya saham preferen
Ks = biaya laba ditahan
Ksb = biaya saham biasa baru

Weighted Marginal Cost of Capital (WMCC)


Biaya modal marginal berbeda dengan biaya modal rata-rata. Biaya modal marginal
merupakan biaya modal yang diperoleh sebagai akibat bertambahnya dana modal yang
diperoleh. Biaya marginal diartikan sebagai biaya untuk setiap unit tambahan. Biaya
marginal akan meningkat bila penambahan modal berlangsung terus menerus selama
periode tertentu. Pada umumnya perusahaan akan menggunakan laba ditahan untuk
menambah modal baru menerbitkan saham biasa baru. Dengan demikian diperlukan suatu
titik dimana kebutuhan modal sendiri harus dipenuhi dengan penjualan saham biasa baru.
Titik dimana marginal cost of capital naik sering disebut Break Point.
Dalam perhitungan biaya modal, biaya modal marginal adalah biaya modal yang
relevan, karena biaya tersebut mencerminkan biaya di masa mendatang (yang akan
diperoleh). Biaya modal rata-rata mencerminkan informasi masa lampau, yang tidak
relevan  lagi. Tetapi dalam beberapa situasi kita menggunakan biaya modal masa lampau,
karena beberapa alasan, seperti mudah dilakukan, biaya modal masa lampau bisa dipakai
untuk estimasi biaya modal marginal (masa mendatang).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Biaya Modal


1. Faktor yang Tidak Dapat Dikendalikan Perusahaan
 Tingkat Suku Bunga. Jika suku bunga dalam perkonomian meningkat, maka biaya
utang juga akan meningkat karena perusahaan harus membayar pemegang obligasi
dengan suku bunga yang lebih tinggi untuk memperoleh modal utang.
 Tarif Pajak. Tarif Pajak digunakan dalam perhitungan biaya utang yang digunakan
dalam WACC
2. Faktor yang Dapat Dikendalikan Peusahaan.
 Kebijakan Struktur Modal. Perhitungan WACC didasarkan pada tarif bunga setiap
komponen modal dengan komposisi struktur modalnya. Sehingga jika struktur
modalnya berubah, maka biaya modalnya akan berubah.
 Kebijakan Dividen. Penurunan ratio pembayaran dividen mungkin dapat
menyebabkan biaya modal sendiri meningkat, sehingga WACC naik.
 Kebijakan Investasi. Akibat dari kebijakan investasi akan membawa dampak yang
berisiko. Besar kecilnya risiko inilah yang akan mempengaruhi biaya modal.

Variabel-variabel penting yang mempengaruhi biaya modal antara lain:


a) Keadaan-keadaan umum perekonomian. Faktor ini menentukan tingkat bebas risiko
atau tingkat hasil tanpa risiko.
b) Daya jual saham suatu perusahaan. Jika daya jual saham meningkat, tingkat hasil
minimum para investor akan turun dan biaya modal perusahaaan akan rendah.
c) Keputusan-keputusan operasi dan pembiayaan yang dibuat manajemen. Jika
manajemen menyetujui penanaman modal berisiko tinggi atau memanfaatkan utang
dan saham khusus secara ekstensif, tingkat risiko perusahaan bertambah. Para investor
selanjutnya meminta tingkat yang lebih tinggi sehingga biaya modal perusahaan
meningkat pula.
d) Besarnya pembiayaan yang diperlukan. Permintaan modal dalam jumlah besar akan
meningkatkan biaya modal perusahaan.

Asumsi-asumsi dalam model biaya modal diantaranya:


a) Risiko bisnis bersifat konstan. Risiko bisnis merupakan potensi tingkat perubahan
return atas suatu investasi. Tingkat risiko bisnis dalam suatu perusahaan ditentukan
dengan kebijakan manajemen investasi. Biaya modal merupakan suatu kriteria
investasi yang hanya tepat untuk suatu investasi yang memiliki risiko bisnis setingkat
dengan aktiva-aktiva yang telah ada.
b) Risiko keuangan bersifat konstan.
c) Kebijakan dividen bersifat konstan. Asumsi ini diperlukan dalam menaksir biaya
modal yang berkenaan dengan kebijakan dividen perusahaan. Asumsi ini menyatakan
bahwa rasio pembayaran dividen (dividen/laba bersih) juga konstan.
Fungsi Biaya Modal
a. Terkait dengan pajak yg dikenakan pada perusahaan.
Biaya modal yang dikenakan pada modal pinjaman berbeda dg biaya modal dari modal
sendiri. Konsep perhitungan biaya modal didasarkan pada perhitungan:
 Sebelum pajak (before tax basis) perlu disesuaikan dulu dengan pajak sebelum
dilakukan perhitungan biaya modal rata-ratanya seperti obligasi
 Setelah pajak (after tax basis).
b. Sebagai Discount Rate untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi
yaitu dengan membandingkan tingkat keuntungan  (rate of return) dari usulan investasi
tersebut dengan biaya modalnya.  
KESIMPULAN

1. Biaya Modal (Cost Of Capital) adalah biaya riil yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan untuk memperoleh dana baik yang berasal dari hutang, saham preferen,
saham biasa, maupun laba ditahan untuk mendanani suatu investasi atau operasi
perusahaan.
2. Faktor- faktor yang mempengaruhi biaya modal :
a. Faktor yang tidak dikendalikan perusahaan meliputi tingkat suku bunga dan tarif
pajak
b. Faktor yang dapat dikendalikan perusahaan meliputi kebijakan struktur modal,
kebijakan dividen dan kebijakan investasi.
3. Variabel-variabel penting yang mempengaruhi biaya modal antara lain keadaan umum
perekonomian, daya jual saham suatu perusahaan, keputusan operasi dan pembiayaan
yang dibuat manajemen serta besarnya pembiayaan yang diperlukan
4. Jenis biaya modal individual :
a. Biaya modal hutang / cost of debt (kd)
b. Biaya modal saham preferen / cost of preferred stock (kp)
c. Biaya modal saham biasa / cost of common stock (ke)
d. Biaya modal laba ditahan / cost of retained earning (kr)
5. Perhitungan biaya penggunaan modal adalah penting berdasarkan tiga alasan berikut
a) Maksimisasi nilai perusahaan mengharuskan biaya-biaya (termasuk biaya modal)
diminimumkan.
b) Capital budgeting memerlukan estimasi tentang biaya modal.
c) Keputusan lain juga memerlukan estimasi biaya modal, misal leasing, modal kerja.