Anda di halaman 1dari 8

Kebijakan Dividen (Dividend Policy)

A. Definisi Kebijakan dividen (dividend policy)


Kebijakan dividen (dividend policy) adalah kebijakan yang memutuskan apakah laba
yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau
akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang. Apabila
perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen maka akan mengurangi laba
yang ditahan dan selanjutnya akan mengurangi total sumber dana intern atau internal
financing. Laba ditahan merupakan salah satu sumber dana yang paling penting untuk
membiayai pertumbuhan perusahaan, sedangkan dividen merupakan aliran kas keluar yang
dibayar kepada pemegang saham. Dalam penentuan besar kecilnya deviden yang akan
dibayarkan pada perusahaan yang sudah merencanakan dengan menetapkan target Dividend
Payout Ratio didasarkan atas perhitungan keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi pajak.
Penentuan besarnya Dividend Payout Ratio akan menentukan besar kecilnya laba yang
ditahan.
Kebijakan dividen merupakan salah satu bagian yang mempengaruhi keputusan
pendanaan perusahaan sehingga menjadi suatu hal yang penting dan harus dipertimbangkan
secara seksama. Bagi para pemegang saham atau investor, dividen merupakan tingkat
pengembalian investasi yang dilakukan investor pada suatu perusahaan. Bagi pihak
manajemen, membagi laba yang diperoleh sebagai dividen berarti akan mengurangi jumlah
laba ditahan yang akhirnya mengurangi sumber kas perusahaan. Oleh karenanya kesempatan
untuk melakukan investasi dengan kas perusahaan tersebut menjadi berkurang. Dividend
policy dikatakan optimal pada suatu perusahaan ketika kebijakan tersebut dapat menciptakan
keseimbangan antara dividen saat ini dengan laba ditahan untuk dapat memaksimalkan harga
saham perusahaan.
B. Teori Kebijakan Dividen
1. Dividend Irrelevance Theory (ketidakrelevanan dividen)
Teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai
pengaruh terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. Peningkatan pembayaran
dividen hanya dimungkinkan apabila laba yang diperoleh perusahaan juga meningkat.
Keuntungan yang diperoleh atas kenaikan harga saham akibat pembayaran dividen akan
diimbangi dengan penurunan harga saham karena adanya penjualan saham baru. Oleh
karenanya pemegang saham dapat menerima kas dari perusahaan saat ini dalam bentuk
pembayaran dividen atau menerimanya dalam bentuk capital gain atau keuntungan modal.
Kemakmuran pemegang saham sekali lagi tidak dipengaruhi oleh kebijakan dividen saat ini
maupun dimasa datang.
2. The Bird in Hand Theory
Teori ini sependapat dengan Gordon dan Lintner (1992) yang berpendapat bahwa
investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran dividen
daripada menunggu capital gain atau keuntungan modal.
3. Tax Preferance Theory
Teori ini menyatakan bahwa investor menghendaki perusahaan untuk menahan laba
setelah pajak dan dipergunakan untuk pembiayaan investasi dari pada dividen dalam bentuk
kas. Oleh karenanya perusahaan sebaiknya menentukan dividen payout ratio yang rendah
atau bahkan tidak membagikan dividen. Karena dividen cenderung dikenakan pajak yang
lebih tinggi dari pada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang
lebih tinggi untuk saham dengan dividen yield yang tinggi.
C. Bentuk-bentuk Dividen
1. Cash Dividend
Cash dividend yaitu dividen yang dibayarkan secara tunai, umumnya dibagikan secara
berkala yang diambil dari laba perusahaan setelah pajak.
2. Stock Dividend
Stock dividend merupakan dividend payment yang diberikan kepada pemegang saham
dalam bentuk lembaran saham. Stock dividend umumnya digunakan secara rutin tiap tahun
guna menjaga dan membatasi kenaikan atau penurunan harga saham. Stock dividend tidak
lebih dari penyusunan kembali modal perusahaan, sedangkan proporsi kepemilikan tidak
mengalami perubahan. Tujuan perusahaan memberikan stock dividend adalah untuk
menghemat kas karena ada kesempatan investasi yang lebih menguntungkan, namun hal ini
dapat mengecewakan shareholders, akan adanya kesempatan investasi di masa datang.
Kebijakan stock dividend yang tidak dapat dibenarkan apabila stock dividend dipergunakan
untuk mengatasi kesulitan finansial, karena perusahaan tidak dapat memanipulasi investornya
yang mengakibat harga saham akan turun.
3. Stock Splits
Stock split sebagai pemecahan nilai nominal saham ke dalam nilai nomilal yang lebih
kecil. Tujuannya agar harga pasar saham tetap berada pada trading range tertentu yang
menguntungkan. Dengan stock split ini tidak akan merubah komposisi atau struktur modal
perusahaan. Dengan demikian keputusan yang diambil perusahaan untuk meningkatkan
jumlah lembar saham yang beredar. Jumlah lembar saham yang beredar ditingkatkan dengan
cara melipatgandakan jumlah saham yang beredar tersebut dengan memberikan setiap
shareholders dua lembar saham baru untuk satu saham yang telah dimiliki. Stock splits
umumnya digunakan setelah terjadi kenaikan harga secara drastis atau pada saat terjadi
penurunan harga yang drastis.
4. Stock Repurchase
Stock Repurchase merupakan transaksi disaat perusahaan membeli kembali saham
perusahaan, dengan tujuan untuk mengurangi saham yang beredar, menaikkan laba per saham
dan meningkatkan harga saham. Tiga prinsip utama dari stock repurchase:
 Situasi dimana perusahaan mempunyai kas yang tersedia untuk di distribusikan
kepada shareholders dan mendistribusikannya dengan cara membeli kembali saham
dibandingkan dengan membayar cash dividend.
 Situasi dimana perusahaan menyimpulkan bahwa presentase struktur modal
perusahaan terlalu banyak pada modal dan perusahaan akan menjual hutang yang
akan digunakan untuk membeli kembali saham perusahaan.
 Situasi ketika perusahaan telah memberikan opsi kepada karyawan dan penggunaan
pasar terbuka, pembelian kembali untuk memperoleh saham digunakan ketika opsi
tersebut dilaksanakan.
Dengan repurchase of stock, maka jumlah lembar saham yang beredar akan berkurang
dan dividen per lembar saham (DPS) akan lebih besar yang pada akhirnya harga pasar saham
akan meningkat.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
1. Posisi Likuiditas Perusahaan
Posisi kas atau likuiditas perusahaan merupakan faktor yang penting yang harus
dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menetapkan besarnya dividen yang
akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Oleh karena dividen merupakan arus kas
keluar, maka semakin kuat posisi likuiditas perusahan berarti makin besar kemampuan
perusahaan untuk membayar dividen. Suatu perusahan yang sedang tumbuh secara rendabel
(perusahaan yang masih mencari keuntungan), mungkin tidak begitu kuat posisi likuiditasnya
karena sebagian besar dari dananya tertanam dalam aktiva tetap dan modal kerja sehingga
kemampuannya untuk membayarkan dividen pun sangat terbatas.
2. Kebutuhan Untuk Membayar Hutang
Perusahaan akan memperoleh hutang baru untuk menjual obligasi baru untuk
membiayai perluasan perusahaan, sebelumnya harus merencanakan terlebih dahulu
bagaimana cara untuk membayar kembali hutang tersebut. Apabila perusahaan menentukan
bahwa pelunasan utangnya akan diambilkan dari laba ditahan, berarti perusahaan harus
menahan dari sebagian besar pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang ini berarti hanya
sebagian kecil saja dari pendapatan yang dapat dibayarakan sebagai dividen.
3. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan
Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, makin besar kebutuhan dana
untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya. Perusahaan tersebut biasanya
akan lebih senang untuk menahan pendapatannya dari pada dibayarkan sebagai dividen
dengan mengingat batasan-batasan biayanya.
4. Pengawasan Terhadap Perusahaan
Perusahaan yang mempunyai kebijakan hanya membiayai ekspansi dengan dana yang
berasal dari intern saja. Kebijakan tersebut dijalankan atas pertimbangan bahwa kalau
ekspansi dibiayai dengan dana yang berasal dari hasil penjualan saham baru akan
melemahkan kontrol atau pengawasan dari kelompok dominan di dalam perusahaan.
Demikian pula kalau membiayai ekspansi dari utang akan menambah risiko finansialnya.
5. Keadaan Pemegang Saham
Jika hampir semua pemegang saham berada dalam golongan high tax (pajak yang
lebih tinggi) dan lebih suka memperoleh capital gains, maka perusahaan dapat
mempertahankan dividen payout ratio yang rendah. Dengan dividend payout ratio yang
rendah tentunya dapat diperkirakan apakah perusahaan akan menahan laba untuk kesempatan
investasi yang profitable. Untuk perusahaan yang jumlah pemegang sahamnya besar hanya
dapat menilai dividen yang diharapkan pemegang saham dalam konteks pasar.
6. Stabilitas Dividen
Bagi para investor faktor stabilitas dividen akan lebih menarik daripada dividend
payout ratio yang tinggi. Stabilitas disini dalam arti tetap memperhatikan tingkat
pertumbuhan perusahaan yang ditujukan oleh koefisien arah positif. Bagi investor
pembayaran dividen yang stabil merupakan indikator prospek perusahaan yang stabil pula
dengan demikian resiko perusahaan juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan
perusahaan-perusahaan yang membayar dividen tidak stabil.
E. Syarat Pembayaran Dividen
Jika suatu perusahan mempertimbangkan pembagian dividen, ada dua persyaratan
utama yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Legalitas Dividen
Legalitas dividen dapat ditentunkan dengan melihat hukum suatu negara yang
berlaku. Sebagai contoh, hukum disuatu negara yang ada menekankan pada solven atau
tidaknya suatu perusahaan sebelum perusahaan mengadakan pembagian dividen dan ada yang
menekankan bahwa pembagian dividen tidak boleh melebihi nilai wajar dari aset neto,
bahkan ada yang menggunakan kombinasi keduanya.
2. Kondisi Keuangan
Pengelolaan perusahaan yang baik memerlukan perhatian yang lebih daripada
legalitas pembagian dividen. Pertimbangan harus diberikan pada kondisi ekonomi tertentu,
terutama likuiditas. Jadi, sebelum dividen diumumkan manajemen harus mempertimbangkan
ketersediaan dana untuk membayar dividen. Para direktur juga harus mempertimbangkan
pengaruh inflasi dan biaya pengganti sebelum melakukan komitmen dividen.
F. Kendala Pembagian Dividen
1. Perjanjian Kredit atau Surat Pengakuan Utang
Perjanjian kredit biasanya membatasi pembagian dividen dari laba yang dihasilkan
sebelum pinjaman dilunasi. Disamping itu perjanjian kredit sering kali mensyaratkan bahwa
tidak ada dividen yang tidak dapat dibagikan kecuali rasio lancar, rasio kemampuan
membayar bunga dan rasio-rasio pengaman lainnya melebihi batas minimum yang
ditetapkan.
2. Ketidakcukupan Laba
Pembagian dividen tidak boleh melebihi laba ditahan pada pos neraca. Pembatasan ini
disebut impairment of capital rule, dirancang untuk melindungi kreditur. Tanpa peraturan
tersebut, suatu perusahaan yang tengah dilanda masalah mungkin mendistribusikan sebagian
besar asetnya kepada pemegang saham dan membiarkan kreditur membatasi sendiri
persoalannya.
3. Ketersediaan Dana
Dividen tunai hanya dapat dibagiakan dengan ketersediaan uang tunai. Jadi,
kekurangan uang tunai di bank dapat membatasi pembagian dividen. Akan tetapi, hal ini
biasanya diatasi bila perusahaan dapat memperoleh pinjaman.
4. Denda Pajak Atas Penimbunan Laba yang Tidak Wajar
Untuk mencegah agar orang kaya tidak menggunakan perusahaan untuk menghindari
pajak pribadi, peraturan pajak membuat peraturan khusus mengenai penimbunan penghasilan
yang tidak wajar.
G. Prosedur Pembayaran Dividen (dividend payment)
Mekanisme dividend payment adalah sebagai berikut :
1. Tanggal pengumuman (Declaration date)
Tanggal pengumuman akan dilakukan dividend payment yang ditetapkan oleh Dewan
Komisaris atau Rapat Tahunan Pemegang Saham (RUPS), dimana memutuskan tentang
jumlah dividen yang akan dibagikan kepada shareholders.
2. Tanggal pencatatan pemegang saham (Holder of record date)
Hari terakhir untuk mendaftarkan diri sebagai pemegang saham agar berhak
menerima dividen yang akan dibagikan perusahaan.
3. Tanggal ex dividend (Ex-dividend date)
Tanggal dimana hak atas dividen saat ini tidak lagi menyertai saham umumnya
berlaku pada dua hari kerja sebelum tanggal pencatatan dan penetapan shareholders yang
akan mendapatkan dividen.
4. Tanggal pembayaran dividen (Payment Date)
Tanggal dimana perusahaan melakukan dividend payment melalui cek yang telah
dikirimkan kepada shareholders. Dengan begitu tanggal pembayaran merupakan prosedur
terakhir dalam melakukan pelaksanaan dividend payment.
Internal Financing

Internal financing adalah pemenuhan kebutuhan dana yang diperoleh dari hasil sendiri
di dalam perusahaan, yaitu dana yang berasal dari kegiatan operasional perusahaan melalui
penghimpunan laba ditahan dan dana yang berasal dari akumulasi penyusutan (depresiasi).
Lawan dari Internal financing ini adalah external financing yaitu pemenuhan kebutuhan
modal yang berasal dari luar perusahaan, yaitu yang berasal dari pemilik perusahaan
(ownership financing), penjualan saham (equity financing), penjualan obligasi (bond
financing) atau kredit dari supplier, bank maupun perusahaan asuransi (debt financing).
Semakin besar bagian kebutuhan modal yang dipenuhi dengan laba ditahan, berarti semakin
kuat posisi keuangan perusahaan, dan semakin kecil ketergantungan perusahaan terhadap
sumber modal eksternal.
Suatu perusahaan dapat menggunakan dananya atau modalnya sendiri untuk
membiayai operasional perusahaan daripada mencari pinjaman dari bank. Melalui internal
financing, suatu perusahaan dapat menggunakan dana dengan lebih efisien. Pasalnya,
perusahaan tidak perlu memikirkan biaya transaksi seperti bunga pinjaman. Akan tetapi,
internal financing juga dapat menjadi faktor penghambat bagi perusahaan untuk melakukan
ekpansi bisnis karena terbatasnya dana yang dimiliki. Jika sudah demikian, perusahaan
tersebut akan menutupi kekurangan dana tersebut melalui external
financing  (pembiayaan eksternal).
Dana yang berasal dari internal financing jumlahnya relatif terbatas. Oleh karena itu,
umumnya internal financing hanya digunakan untuk mendanai operasional perusahaan yang
sedang berlangsung. Sementara itu, untuk pembiayaan yang sifatnya jangka panjang, seperti
pabrik, peralatan, dan ekspansi dalam skala besar, perusahaan akan mengandalkan
pembiayaan ekstenal. Beberapa ladang modal yang digunakan perusahaan untuk
mendapatkan internal financing adalah sebagai berikut:
 Laba Ditahan
Laba ditahan merujuk pada laba perusahaan yang tersisi setelah pembayaran dividen
kepada para pemegang saham. Laba tersebut akan menjadi alternatif pembiayaan bagi
perusahaan dalam melakukan kegiatan operasional. Melalu laba ditahan yang dimiliki,
perusahaan dapat membiayai bisnisnya tanpa mengambil pinjaman dari pihak luar.
 Penjualan Aset
Selain laba ditahan, pendapatan yang berasal dari penjualan aset perusahaan juga menjadi
sumber untuk mendapat internal financing. Aset-aset yang dinilai tidak lagi produktif atau
hanya membebani keuangan perusahaan akan dijual dan hasil penjualannya akan dijadikan
sebagai modal kerja perusahaan.
 Pengurangan Modal Kerja
Pengurangan modal kerja mengacu pada strategi perusahaan dalam mengelola keuangan
dengan lebih cermat. Perusahaan akan menyimpan lebih sedikit persediaan dan membeli
barang-barang yang memang sangat dibutuhkan sebagai upaya untuk mengurangi kebutuhan
modal kerja. Selain itu, pengurangan modal kerja juga dapat dilakukan dengan mempercepat
siklus piutang dan persediaan atau dengan memperpanjang siklus akun utang.