Anda di halaman 1dari 2

Well-Being Mahasiswa ditengah Pandemi Wabah Covid-19

Belakangan ini, dunia sedang menghadapi pandemi wabah yang dijuluki Covid-19
(Coronavirus disease-2019). Seluruh aktivitas banyak yang dihentikan sebagai usaha untuk
memutus rantai penularan virus Covid-19 tersebut. Banyak daerah di Indonesia yang sudah
ditetapkan sebagai zona merah, aktivitas apapun mulai dialihkan ke sistem daring (dalam
jaringan) atau yang biasa dikenal dengan istilah “online”, termasuk dunia perkuliahan yang
dialihkan ke kuliah daring dengan memakai aplikasi atau sistem yang mendukung. Namun,
dibalik itu semua ada banyak keluhan yang disampaikan oleh para mahasiswa melalui meme,
pamflet, curhatan di medsos, dan lain sebagainya. Sejumlah mahasiswa menilai sistem
perkuliahan yang dilakuakan secara daring ditengah eskalasi wabah pandemi Covid-19 ini
perlu dikaji/disesuaikan, mahasiswa juga mengeluhkan terkait kebutuhan paket data yang
otomatis akan meningkat dari hari-hari biasanya.

Menangggapi keluhan mahasiswa terkait kuliah daring, dalam ilmu psikologi ada
pembahasan terkait well-being, dalam hal ini kita bisa mengamati lebih lanjut terkait
pengaruh well-being dalam diri mahasiswa dengan adanya kebijakan physicial distancing dan
juga kuliah daring. Psychological well-being merujuk pada perasaan seseorang mengenai
aktivitas hidup sehari-hari. Segala aktifitas yang dilakukan oleh individu yang berlangsung
setiap hari dimana dalam proses tersebut kemungkinan mengalami fluktuasi pikiran dan
perasaan yang dimulai dari kondisi mental negatif sampai pada kondisi mental positif.
(Bradburn dalam Ryff & Keyes,1995). Ryff (1989) juga menyatakan ada enam dimensi yang
membentuk psychological well-being yakni penerimaan diri (self-acceptance), hubungan
positif dengan orang lain (positif relation with others), otonomi (autonomy), penguasaan
lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), dan pertumbuhan pribadi
(personal growth).

Dari sini, kita dapat melihat adanya pengaruh well-being pada diri mahasiswa dalam
menghadapi keadaan yang serba “online”. Pendapat mahasiswa mengenai kebijakan kuliah
online ini sangat beragam, dilansir dari tirto.id “kuliah offline ataupun online sama saja. Tapi
kalau kuliah online ada sesuatu yang berbeda, contohnya adalah ada sebuah kedekatan
emosional dosen dan mahasiswa lewat chat. Karena kebanyakan dosen kan cuek ketika di-
chat maupun ditanya. Tapi dengan adanya hal demikian (kuliah online), dosen sendiri bisa
terbuka kepada mahasiswa meskipun lewat chat”. (Tirto.id). Ada pula yang menganggap
bahwa kebijakan kuliah online kurang efektif, seperti yang dilansing dari kompas.com
“Harusnya ada penugasan. Ya seperti di Malaysia juga gitu. Penugasan itu bisa bersifat
offline. Merekam kuliah di Youtube lebih efektif, atau merekam di Soundcloud, atau podcast.
Mahasiswa tidak harus segera hadir secara online. Ini pandemi, bukan perlombaan
produktivitas, waktunya jeda buat semua untuk jaga kesehatan diri juga”. (Kompas.com)

Dari pemaparan diatas, bisa diketahui bahwa weil-being dalam diri seseorang akan
mempengaruhi penyikapannya terhadap suatu hal yang terjadi. Konsep kesejahteraan terdiri
dari dua elemen utama: merasa baik dan berfungsi dengan baik. Perasaan bahagia, puas,
senang, ingin tahu, dan keterlibatan adalah karakteristik seseorang yang memiliki
pengalaman positif dan selalu berpikir positif dalam hidup mereka. Mengalami hubungan
positif, memiliki kendali atas kehidupan seseorang dan memiliki perasaan memiliki tujuan
adalah semua atribut penting dari kesejahteraan.