Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH MODIFIKASI PERILAKU

“STIMULUS CONTROL”

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk


Memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Modifikasi Perilaku Psikologi

Dosen Pengampu : Isnaini Budi Hastuti, M.Psi., PSIKOLOG


Disusun oleh : Kelompok 4

1. Andarmani (181141031)
2. Khoirun Nisa’ Nur Ramadhani (181141033)
3. Sri Ayu Ratnasari (181141034)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SURAKARTA
2020
DAFTAR ISI

BAB I
Pendahuluan..........................................................................................3
Latar Belakang................................................................................3
A. Rumusan Masalah.....................................................................3
B. Tujuan Penulisan.......................................................................3
BAB II
Pembahasan...........................................................................................4
A. Pengertian Stimulus Control..................................................... 4
B. Perkembangan Stimulus Control………………………………4
C. Macam- macam Stimulus Control……………………………..6
BAB III
Penutup ..............................................................................................11
A. Simpulan...................................................................................11
Daftar Pustaka.......................................................................................12

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perilaku manusia adalah suatu fungsi dan interaksi antara individu dengan
lingkungannya. Individu membawa kedalam tatanan organisasi, kemampuan,
kepercayaan, pribadi, penghargaan kebutuhan dan pengalaman masa lalunya.

Bagi individu yang mempunyai karaktristik yang berbeda satu sama lain
biasanya terdapat satu ketentuan-ketentuan atau pola perilaku yang menurut
khalayak merupakan perilaku baku yang harus diikuti oleh semua individu yang
tergabung dalam satu komunitas yang ditetapakan dalam peraturan . Jikalau
karakteristik orarganisasi maka akan terwujud perilaku individu dalam
organisasi. Oleh karena itu penulis mencoba untuk membahas  tentang perubahan
perilaku seorang individu, melalui stimulus yang diberikan orang lain kepada
seorang individu.

B. Rumusan Masalah
a) Apa Pengertian dari Stimulus Control ?
b) Bagaimana Perkembangan Stimulus Control?
c) Bagaimana Pembagian Stimulus Conntrol?

C. Tujuan Penulisan
a) Mengetahui Pengertian dari Stimulus Control
b) Mengetahui Perkembangan Stimulus Control
c) Mengetahui Pembagian Stimulus Control

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Stimulus Control


Stimulus control  adalah sebuah fenomena dalam pengkondisian operan (juga
disebut manajemen kontingensi ) yang terjadi ketika suatu organisme berperilaku
dalam satu cara di hadapan stimulus yang diberikan dan cara lain dalam
ketiadaan. Stimulus yang memodifikasi perilaku dengan cara ini adalah stimulus
diskriminatif (Sd) atau stimulus delta (S-delta). Kontrol perilaku berbasis-
stimulus terjadi ketika ada atau tidak adanya Sd atau S-delta mengendalikan
kinerja perilaku tertentu. Misalnya, keberadaan tanda berhenti(S-delta) di
persimpangan lalu lintas memperingatkan pengemudi untuk berhenti mengemudi
dan meningkatkan kemungkinan perilaku "pengereman" akan terjadi. Perilaku
tersebut dikatakan dipancarkan karena tidak memaksa perilaku terjadi karena
kontrol stimulus adalah akibat langsung.

B. Pengembangan Stimulus Kontrol

Stimulus Discrimination Training


Stimulus kontrol berkembang karena tingkah laku diperkuat hanya jika stimulus
antesedent yang spesifik hadir/ada. Oleh karena itu, tingkah laku akan kembali
muncul/berlanjut dimasa yang akan datang hanya jika stimulus antesedent hadir.
Antecedent stimulus yang muncul/hadir saat tingkah laku diperkuat di berinama
discriminative stimulus (SD). Secara sederhana SD/discriminative stimulus dapat
dipahami sebagai stimulus spesifik yang memicu timbulnya sebuah tingkah laku,
tingkah laku tidak muncul kecuali stimulus spesifik ini terjadi. Jadi SD
merupakan stimulus spesifik (hanya dengan stimulus ini, bukan stimulus lain)
yang menyebabkan sebuah tingkah laku muncul. Proses penguatan (reinforcing)
tingkah laku hanya disaat stimulus antesedent spesifik (discriminative stimulus)
hadir, disebut stimulus discrimination training.

4
 Dua langkah yang terdapat pada stimulus discrimination training:
1. Saat discriminative stimulus (SD) muncul/hadir, tingkah laku diperkuat.
2. Saat antecedent stimulus yang lainnya diberikan (bukan discriminative
stimulus (SD)), tingkah laku tersebut tidak mengalami penguatan (tidak
diperkuat). Selama discrimination training berlangsung, antecedent
stimulus lain yang muncul saat tingkah laku tidak diperkuat disebut S-
delta (S∆).
Sebagai hasil dari discrimination training, tingkah laku cenderung untuk
muncul kembali dimasa mendatang saat SD dimunculkan/tampil tapi akan
cenderung untuk tidak muncul saat S∆ dimunculkan.

a. The Three-Term Contingency


Berdasar pada Skinner (1969), stimulus discrimination training
melibatkan three-term contingency, dimana konsekuensi (penguat atau
punisher) adalah bagian dari munculnya tingkah laku hanya saat
spesifik stimulus antecedent muncul. Three-Term Contingency
melibatkan hubungan antara stimulus antecedent, tingkah laku, dan
konsekuensi dari tingkah laku. Analis behavior biasanya menyebutnya
ABCs (antecedents, behavior, consequences) dari tingkah laku
(Arndorfer & Miltenberger, 1993; Bijou, Peterson, & Ault, 1968).
Stimulus antecedent berkembang menjadi stimulus control karena
tingkah laku diperkuat atau dipunis hanya jika stimulus antecedent
muncul. Notasi yang digunakan untuk mendeskripsikan three-term
contingency yang menyertakan reinforcement adalah:
SD R SR
Dimana SD = discriminative stimulus, R = respos, dan SR = reinfocer
(reinforcing stimulus) . Sedangkan notasi three-term contingency yang
menyertakan punishment adalah:
SD R Sp
SP = punisher ( punishing stimulus)

5
b. Generalization
Pada kasus tertentu, kondisi antecedent dimana tingkah laku tersebut
diperkuat (dengan reinforcement) atau terhenti (dengan extinction atau
punishment) adalah spesifik namun di kasus lain, kondisi antecedent
meluas dan tervariasi. Ketika control stimulus dari sebuah tingkah laku
menjadi meluas hal ini, saat tingkah laku terjadi dalam cakupan situasi
antecedent kita katakan bahwa generalisasi stimulus (stimulus
generalization) sedang terjadi.
Generalization mengambil tempat saat suatu tingkah laku
muncul/terjadi ketika stimulus yang serupa dengan SD (yang
dimunculkan selama Stimulus Discrimination Training) diberikan
(Stokes & Osnes, 1989).
Contoh:
Amy belajar untuk mengenal warna merah. Saat gurunya
menunjukkan sebuah buku yang berwarna merah, Amy dapat
mengatakan ”merah”. Generalization dikatakan telah terjadi saat Amy
juga berkata “merah” saat gurunya menunjukkan kepada Amy sebuah
bola yang berwarna merah, buku yang berwarna merah, atau objek
lainnya yang berwarna merah.

C. Pembagian Stimulus Control

Dalam psikologi behavioral, stimulus kontrol adalah sebuah fenomena


yang terjadi ketika seorang individu berperilaku tertentu karena adanya stimulus
yang diberikan dan berperilaku berbeda ketika stimulus tersebut tidak ada.
Stimulus apapun yang mampu memodifikasi perilaku disebut discriminative
stimulus.

Stimulus kontrol dalam perilaku terjadi ketika munculnya perilaku tertentu


dikendalikan oleh keberadaan atau ketidakadaan discriminative stimulus ini.
Keberadaan stimulus kontrol dibutuhkan untuk bisa memicu respon yang
diharapkan ketika stimulus yang telah terkontrol diberikan. Misalnya, stimulus
6
berupa lampu merah yang mengharapkan adanya respon berupa menghentikan
kendaraan. Keberadaan lampu merah merupakan stimulus yang sengaja dibuat
oleh pengendali lalu lintas untuk membuat lalu lintas menjadi teratur.

Berikut ini 10 stimulus kontrol dalam modifikasi perilaku yang dapat diketahui :

 Stimulus Diskriminasi Pelatihan

Pelatihan diskriminasi, atau discrimination training, adalah dasar dari


stimulus kontrol operan. Dalam hal ini, kontrol stimulus dapat berkembang
karena perilaku diperkuat di depan stimulus tertentu saja. Perilaku ini akan
terus muncul di masa depan hanya jika stimulus kontrol yang diberikan telah
ada terlebih dahulu. Dalam pelatihan diskriminasi stimulus ini terdapat dua
langkah yang terlibat. Langkah yang pertama adalah keberadaan stimulus
diskriminasi (SD) yang membuat perilaku menjadi lebih kuat. Langkah
kedua adalah ketika ada stimulus lain yang muncul namun SD tidak ada,
perilaku menjadi tidak diperkuat. Selama pelatihan diskrimasi, setiap
kemunculan stimulus tanpa ada perilaku yang diperkuat disebut S-delta.

 S Delta

S Delta adalah stimulus yang muncul ketika perilaku tidak mengalami


penguatan. Dalam pelatihan diskriminasi, perilaku diperkuat ketika perilaku
tersebut muncul dengan adanya stimulus diskriminasi, namun tidak muncul
ketika ada S Delta ini.

 Stimulus Class

Stimulus class adalah kumpulan dari stimulus yang memiliki efek


fungsional yang sama dalam sebuah perilaku tertentu.

7
 Antecedent Stimulus

Antecedent stimulus adalah stimulus yang ada di organisme untuk


menunjukkan perilaku yang telah diperlajari. Ketika sebuah organisme atau
individu merasakan antecedent stimulus, dia akan memberi respon yang akan
memaksimalkan konsekuensi yang memperkuatnya dan meminimalisir
konsekuensi berupa hukuman.

 Stimulus Diskriminasi Hukuman

Stimulus diskriminasi juga bisa terjadi dengan pemberian hukuman.


Ketika sebuah perilaku diberi hukuman di depan individua tau organisme yang
diberi stimulus, maka perilaku tersebut akan menurun, bahkan berhenti di masa
depan, meskipun stimulus yang sama dia dapatkan kembali. Namun, hal ini
tidak berarti perilaku tersebut hilang sepenuhnya. Bisa saja perilaku yang
diberi hukuman kembali muncul di masa depan ketika terdapat stimulus lain
yang dirasakan. Sebagai contoh, Anda mungkin tetap akan mengulangi
memakan makanan terlalu panas, meski sebelumnya Anda telah melakukan
kesalahan hingga membakar lidah Anda dengan sup mendidih.

 Kontingensi Tiga Jangka

Menurut seorang tokoh psikologi bernama Skinner (1969), pelatihan


diskriminasi melibatkan kontingensi tiga jangka, yaitu konsekuensi yang
memperkuat memiliki ketergantungan terhadap terjadinya perilaku hanya di
depan stimulus yang spesifik. Dalam kontingensi tiga jangka, ada keterlibatan
hubungan antara stimulus, perilaku dan konsekuensi yang terjadi akibat
perilaku. Para analis perilaku sering menyebut hal ini sebagai kontingensi
ABC (Antecedent, Behavior, Consequences) dari perilaku.

8
 Stimulus Kontrol Penelitian

Stimulus kontrol dalam modifikasi perilaku berikutnya adalah stimulus


kontrol penelitian. Artinya telah ada prinsip kontrol stimulus yang dibentuk
dan dilakukan eksplorasi pengaplikasiannya untuk bisa mengubah perilaku
atau kebiasaan seseorang. Sebagai contoh adalah Azrin dan Powell (1968)
yang melakukan penelitian untuk mengubah perilaku atau kebiasaan
perokok berat. Perokok berat ini dibuat untuk mengurangi konsumsi rokok
mereka per hari. Caranya adalah dengan mengunci jangka waktu kapan
perokok bisa mendapatkan sebatang rokok. Kontrol stimulus yang diberikan
adalah ketika terdapat sinyal tertentu (SD), di saat itulah perokok dapat
mengambil sebatang rokok. Maka, ketika sinyal SD tidak ada, perokok tidak
mendapat penguat untuk mendapatkan rokok.

 Stimulus Kontrol dan Aturan

Stimulus kontrol bisa terjadi saat perilaku tertentu diperkuat dengan


keberadaan SD dan perilaku pada akhirnya akan muncul ketika ada SD
tersebut. Umumnya, penguatan perilaku bisa terjadi setelah diberi SD
beberapa kali sebelum akhirnya kontrol stimulus mengalami pengembangan.
Namun, sebenarnya penguatan perilaku dapat dipercepat dengan pemberian
aturan tertentu. Aturan adalah sebuah pernyataan lisan yang mendefinisikan
kontingensi, yaitu menyebutkan keadaan peserta ketika perilaku akan
diperkuat. Misalnya adalah yang dilakukan oleh Tiger dan Hanley (2004)
ketika melakukan penelitian tentang pengaruh aturan terhadap perilaku anak
prasekolah dalam ‘meminta perhatian’. Dalam hal ini, anak-anak prasekolah
diberi aturan hanya akan mendapat perhatian guru ketika mereka memakai
lei berwarna di lehernya. Maka, lei adalah SD dan mendapatkan perhatian
merupakan penguat perilaku.

9
 Stimulus Generalisasi

Setelah adanya stimulus diskriminasi, stimulus yang sama ditemukan


untuk membangkitkan respons yang terkontrol. Stimulus ini disebut dengan
stimulus generalisasi. Ketika stimulus menjadi semakin tidak mirip dengan
stimulus diskriminasi, kekuatan respon semakin menurun. Pengukuran
terhadap respon ini disebut sebagai gradien generalisasi. Sebuah percobaan
yang dilakukan oleh Hanson (1959) menyediakan contoh awal yang
berpengaruh di antara banyaknya eksperimen yang mengeksplorasi
fenomena generalisasi. Misalnya, pada kasus-kasus tertentu, terdapat
kondisi antecedent, dimana perilaku diperkuat atau terhenti akibat extinction
atau punishment adalah spesifik, namun pada kasus lainnya kondisi
antecedent ini meluas dan mejadi bervariasi.

 Matching to Sample (Diskriminasi Stimulus Kondisional)

Dalam tugas matching to sample yang khas, sebuah stimulus


disajikan di satu lokasi (sebagai contoh) dan subjek memilih stimulus di
lokasi lain yang cocok dengan contoh yang diberikan, misalnya memilih
objek berdasarkan warna yang sama atau bentuk yang sama. Namun, dalam
prosedur pencocokan yang berbeda, subjek akan diminta untuk memilih
objek yang tidak sama dengan contoh. Hal ini disebut sebagai diskriminasi
kondisional karena stimulus yang diberi respon tergantung pada sample atau
contoh yang diberikan.

10
BAB III
PENUTUP

A. PENUTUP
Stimulus control adalah sebuah fenomena dalam pengkondisian operan (juga
disebut manajemen kontingensi ) yang terjadi ketika suatu organisme berperilaku
dalam satu cara di hadapan stimulus yang diberikan dan cara lain dalam ketiadaan.
Stimulus Control dibagi menjadi 10:
- Stimulus Diskriminasi Pelatihan

- S Delta

- Stimulus Class

- Antecedent Stimulus

- Stimulus Diskriminasi Hukuman

- Kontingensi Tiga Jangka

- Stimulus Kontrol Penelitian

- Stimulus Kontrol dan Aturan

- Stimulus Generalisasi

- Matching to Sample

Dua langkah yang terdapat pada stimulus discrimination training:


1. Saat discriminative stimulus (SD) muncul/hadir, tingkah laku diperkuat.
2. Saat antecedent stimulus yang lainnya diberikan (bukan discriminative
stimulus(SD)
Setiap macam dari stimulus control memiliki cara tersendiri untuk
menstimulus individu melakukan suatu hal. Dan setiap individu bisa menerapkan
stimulus yang diberikan dari seseroang untuk melakukan sesuatu atau suatu hal.

11
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Edi Purwanta, M. (2012). Modifikasi Perilaku. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Wikipedia. (2020, April Kamis). Retrieved from https://en.m.wikipedia.org/wiki/Stimulus_control

12