Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan pengumpulan pus
(bakteri, jaringan nekrotik). Sedangkan menurut Dongoes (2010), abses (misalnya bisul)
biasanya merupakan titik “mata”, yang kemudian pecah, rongga abses kolaps dan terjadi
obliterasi karena fibrosis, meninggalkan jaringan perut yang kecil.
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati)
yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya
oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka
peluru, atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk
mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah infeksi
kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.(Siregar, 2004).
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi
yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan
nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim
autolitik. (Morison, 2003)

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa abses adalah suatu infeksi kulit
yang disebabkan oleh bakteri / parasit atau karena adanya benda asing (misalnya luka
peluru maupun jarum suntik) dan mengandung nanah yang merupakan campuran dari
jaringan nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh
enzim autolitik.

B. Klasifikasi Abses
1. Abses septic
Kebanyakan abses adalah septik, yang berarti bahwa mereka adalah hasil dari
infeksi. Septic abses dapat terjadi di mana saja di tubuh. Hanya bakteri dan respon
kekebalan tubuh yang diperlukan. Sebagai tanggapan terhadap bakteri, sel-sel darah
putih yang terinfeksi berkumpul di situs tersebut dan mulai memproduksi bahan kimia
yang disebut enzim yang menyerang bakteri dengan terlebih dahulu tanda dan kemudian
mencernanya. Enzim ini membunuh bakteri dan menghancurkan mereka ke potongan-
potongan kecil yang dapat berjalan di sistem peredaran darah sebelum menjadi
dihilangkan dari tubuh. Sayangnya, bahan kimia ini juga mencerna jaringan tubuh.
Dalam kebanyakan kasus, bakteri menghasilkan bahan kimia yang serupa. Hasilnya
adalah tebal, cairan-nanah kuning yang mengandung bakteri mati, dicerna jaringan, sel-
sel darah putih, dan enzim.

Abses adalah tahap terakhir dari suatu infeksi jaringan yang diawali dengan
proses yang disebut peradangan. Awalnya, seperti bakteri mengaktifkan sistem
kekebalan tubuh, beberapa kejadian terjadi:

* Darah mengalir ke daerah meningkat.

* Suhu daerah meningkat karena meningkatnya pasokan darah.

* Wilayah membengkak akibat akumulasi air, darah, dan cairan lainnya.

* Ternyata merah.

* Rasanya sakit, karena iritasi dari pembengkakan dan aktivitas kimia.

Keempat tanda-panas, bengkak, kemerahan, dan sakit-ciri peradangan. Ketika


proses berlangsung, jaringan mulai berubah menjadi cair, dan bentuk-bentuk abses. Ini
adalah sifat abses menyebar sebagai pencernaan kimia cair lebih banyak dan lebih
jaringan. Selanjutnya, penyebaran mengikuti jalur yang paling resistensi, umum, jaringan
yang paling mudah dicerna. Sebuah contoh yang baik adalah abses tepat di bawah kulit.
Paling mudah segera berlanjut di sepanjang bawah permukaan daripada bepergian
melalui lapisan terluar atau bawah melalui struktur yang lebih dalam di mana ia bisa
menguras isi yang beracun. Isi abses juga dapat bocor ke sirkulasi umum dan
menghasilkan gejala seperti infeksi lainnya. Ini termasuk menggigil, demam, sakit, dan
ketidaknyamanan umum.

2. Abses steril
Abses steril kadang-kadang bentuk yang lebih ringan dari proses yang sama
bukan disebabkan oleh bakteri, tetapi oleh non-hidup iritan seperti obat-obatan. Jika
menyuntikkan obat seperti penisilin tidak diserap, itu tetap tempat itu disuntikkan dan
dapat menyebabkan iritasi yang cukup untuk menghasilkan abses steril. Seperti abses
steril karena tidak ada infeksi yang terlibat. Abses steril cukup cenderung berubah
menjadi keras, padat benjolan karena mereka bekas luka, bukan kantong-kantong sisa
nanah.
C. Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara:

1. Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak
steril
2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.

Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :

1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi


2. Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
3. Terdapat gangguan sistem kekebalan
Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus
D. Patofisiologi
Jika bakteri masuk ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi suatu infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang
terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi,
bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan
mati, sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi rongga
tersebut.

Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong.


Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi
dinding pembatas.Abses dalam hal ini merupakan mekanisme tubuh mencegah
penyebaran infeksi lebih lanjut.Jika suatu abses pecah di dalam tubuh, maka infeksi bisa
menyebar kedalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi
abses. (Utama, 2001)
E. Manifestasi Klinis
Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika
timbul diwajah.
Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa:
1. Nyeri
2. Nyeri tekan
3. Teraba hangat
4. Pembengakakan
5. Kemerahan
6. Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai
benjolan. Adapun lokasi abses antaralain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses
akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis.
Suatu abses di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh
lebih besar.Paling sering, abses akan menimbulkan nyeri tekan dengan massa yang
berwarna merah, hangat pada permukaan abses , dan lembut.

 Abses yang progresif, akan timbul       “titik” pada       kepala abses sehingga
Anda dapat melihat materi dalam dan kemudian secara spontan akan terbuka (pecah).
 Sebagian besar akan terus bertambah buruk tanpa perawatan. Infeksi dapat
menyebar ke jaringan di bawah kulit dan bahkan ke aliran darah.
 Jika infeksi menyebar ke jaringan yang lebih dalam, Anda mungkin
mengalami demam dan mulai merasa sakit. Abses dalam mungkin lebih menyebarkan
infeksi keseluruh tubuh.
F. Pemeriksaan Diagnostik
Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses dalam
seringkali sulit ditemukan. Pada penderita abses biasanya pemeriksaan darah
menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menentukan ukuran dan lokasi
abses dalam, bisa dilakukan pemeriksaan rontgen, USG, CT scan atau MRI.

G. Komplikasi
Komplikasi mayor dari abses adalah penyebaran abses ke jaringan sekitar atau
jaringan yang jauh dan kematian jaringan setempat yang ekstensif (gangren). Pada sebagian
besar bagian tubuh, abses jarang dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tindakan medis
secepatnya diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan adanya abses. Suatu abses dapat
menimbulkan konsekuensi yang fatal.Meskipun jarang, apabila abses tersebut mendesak
struktur yang vital, misalnya abses leher dalam yang dapat menekan trakea. (Siregar, 2004)

H. Penatalaksanaan Medis
a. Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik.
Namun demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan intervensi
bedah,debridemen, dan kuretase. hal yang sangat penting untuk diperhatikan bahwa
penanganan hanya dengan menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan jarang
merupakan tindakan yang efektif. Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering tidak
mampu masuk ke dalam abses, selain bahwa antibiotik tersebut seringkali tidak dapat
bekerja dalam pH yang rendah.
b. Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebabnya,
utamanya apabila disebabkan oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus
diambil. Apabila tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu dipotong
dan diambil absesnya, bersamaan dengan pemberian obat analgesik dan mungkin
jugaantibiotik.
c. Drainase abses dengan menggunakan pembedahan biasanya diindikasikan apabila
abses telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah yang
lebih lunak.
d. Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area yang kritis, tindakan
pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan sebagai tindakan terakhir yang perlu
dilakukan.
e. Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, antibiotik
antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan. Dengan
adanya kemunculan Staphylococcus aureus resisten Methicillin (MRSA) yang didapat
melalui komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk menangani
MRSA yang didapat melalui komunitas, digunakan antibiotik
lain: clindamycin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan doxycycline.
.
 
I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Adapun hal yang perlu diperhatikan bahwa penanganan hanya dengan
menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan jarang merupakan tindakan
yang efektif.Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering tidak mampu masuk ke dalam
abses, selain itu antibiotik tersebut seringkali tidak dapat bekerja dalam pH yang rendah.
A. Pengkajian Keperawatan
Menurut Smeltzer & Bare (2001), Pada pengkajian keperawatan, khususnya sistem
integumen, kulit bisa memberikan sejumlah informasi mengenai status kesehatan
seseorang dan merupakan subjek untuk menderita lesi atau terlepas. Pada pemeriksaan
fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki, kulit merupakan hal yang menjelaskan pada
seluruh pemeriksaan bila bagian tubuh yang spesisifik diperiksa.Pemeriksaan spesifik
mencakup warna, turgor, suhu, kelembaban, dan lesi atau parut. Hal yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001). Berikut ini
merupakan data-data pokok yang perlu dikaji pada klien pada abses:
a. Pemeriksaan fisik

Inspeksi dan diklasifikasikan berdasarkan morfologi Ukuran, warna, tekstur,


kekerasan, konfigurasi lokasi dan distribusi kulit.

- Data subjek: gatal, nyeri, kemerahan, panas dan perubahan warna kulit.
- Data objektif: warna, tugor, kemerahan, kebersihan dan edema.
b. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pernyataan yang menjelaskan status atau masalah
kesehatan aktual atau potensial. Adapun tujuannya adalah mengidentifikasi adanya
masalah aktual berdasarkan respon klien mencegah atau menghilangkan masalah (la ode
jumadi Gaffar, 1997). Adapun diagnosa keperawatannya adalah:
- Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi jaringan.
- Nyeri berhubungan dengan inflamasi jaringan
- Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri
- Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang kurang
- Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnmya informasi mengenai
penyakit.
c. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan
keperawatan. Tujuan perencanaan adalah mengurangi, menghilangkan dan mencegah
masalah keperawatan klien. Tahap perencanaan keperawatan adalah penentuan prioritas
diagnosa keperawatan, penetapan tujuan, penetapan kriteria dan merumuskan intervensi
keperawatan. Adapun intervensi dari diagnosa yang muncul pada abses adalah:
1). Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi jaringan.

Tujuan : integritas kulit membaik.


Intervensi :
- kaji kerusakan, ukuran, kedalaman, warna, cairan setiap 4 jam.
Rasionalisasi: untuk mengetahui seberapa besar kerusakan
jaringan kulit.
- Pertahankan istirahat di tempat tidur dengan peninggian ekstrimitas dan
imobilisasi.
Rasionalisasi : untuk mengurangi edema dan meningkatkan
sirkulasi.
- Pertahankan teknik aseptik
Rasionalisasi : perawatan kurang resiko infeksi dan kerusakan jaringan semakin
meluas.
- Gunakan kompres dan balutan.
Rasionalisasi : sirkulasi darah lancar
- Pantau suhu setiap 4 jam, laporkan kedokter jika ada peningkatan
Rasionalisasi : mengetahui tanda-tanda infeksi

2). Nyeri berhubungan dengan inflamasi jaringan.


Tujuan : gangguan rasa nyaman nyeri teratasi (hilang)
Intervensi :
- kaji intensitas nyeri menggunakan skala nyeri
Rasionalisasi : untuk mengetahui seberapa besar nyeri.
- Pertahankan ekstrimitas yang dipengaruhi dalam posisi yang ditentukan.
Rasionalisasi : mengurangi nyeri.
- Berikan analgesik jika diperlukan
Rasionalisasi : mengurangi nyeri.
- Bantu dan ajarkan penanganan terhadap nyeri misalnya relaksasi.
Rasionalisasi : mengurangi nyeri.
- Tingkatkan aktivitas distraksi
Rasionalisasi : mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

3). Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri


Tujuan : kebutuhan tidur terpenuhi.
Intervensi :
- Kaji tingkat kebutuhan tidur
Rasionalisasi : mengetahui lamanya kebutuhan tidur
- Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Rasionalisasi : memudahkan klien untuk tidur.
- Berikan kesempatan pada klien untuk beristirahat
Rasionalisasi : agar klien dapat beristirahat
- Kolaborasi tentang pemberian analgetik
Rasionalisasi : dapat mengurangi nyeri dan memudahkan klien untuk istirahat tidur.

4). Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang kurang.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Intervensi :
- Kaji turgor kulit
Rasionalisasi : ketidakadekuatan volume cairan di dalam tubuh menyebabkan kulit
kering.
- Kaji perubahan tanda vital, peningkatan suhu tubuh
Rasionalisasi : peningkatan suhu tubuh dapat meningkatkan laju metabolik dan
kehilangan cairan melalui evaporasi.
- Catat jumlah makanan yang dihabiskan
Rasionalisasi : untuk mengetahui seberapa banyak klien makan
- Timbang berat badan setiap hari
Rasionalisasi : untuk mengetahui penurunan dari status nutrisi
- Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering dan banyak
mengandung zat gizi.
Rasionalisasi : untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

5). Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai proses


penyakit.
Tujuan : agar klien mengetahui proses terjadinya penyakit
Intervensi :
- Kaji tingkat kecemasan
Rasionalisasi : untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecemasan
- Kaji tingkat pengetahuan klien tentang proses terjadinya penyakit
Rasionalisasi : untuk mengetahui pengetahuan klien tentang proses terjadinya
penyakit.
- Informasikan secara akurat tentang kondisi klien dan tindakan yang akan
diberikan
Rasionalisasi : klien mengerti sehingga dapat mengurangi cemas.
- Informasikan secara akurat tentang proses terjadinya penyakit
Rasionalisasi : agar klien mengetahui tentang proses terjadinya penyakit.

d. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan perawatan merupakan tindakan dalam memberikan asuhan
keperawatan yang dilakukan secara nyata untuk membantu klien mencapai tujuan
rencana tindakan yang telah dibuat. Prinsip yang digunakan dalam memberikan
tindakan keperawatan adalah cara pendekatan yang efektif dan teknik komunikasi
yang terapeutik serta penjelasan untuk setiap tindakan yang dilakukan terhadap klien.

e. Evaluasi
Evaluasi dan penilaian asuhan keperawatan adalah untuk mengetahui
keberhasilan atas tindakan yang akan dilaksanakan. Ada dua kemungkinan yang akan
terjadi yaitu masalah belum dapat teratasi atau mungkin timbul masalah baru.
Evaluasi yang digunakan mencakup dua bagian yaitu evaluasi proses
(formatif) dan evaluasi hasil (sumatif). Evaluasi proses adalah evaluasi yang
dilaksanakan secara terus menerus terhadap tindakan yang telah dilakukan.
Sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi hasil tindakan secara keseluruhan untuk
menilai keberhasilan tindakan yang dilakukan dan menggambarkan perkembangan
dalam mencapai sasaran yang telah ditentukan.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta


Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC,
Jakarta
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI: Jakarta
Nanda International. 2012. Nursing Diagnoses : Definition and classification 2010-2012.
Wiley-Blackwell: United Kingdom