Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

CEREBROVASCULAR ACCIDENT INTRA CEREBRAL HEMORRHAGE

(CVA ICH)

A. Pengertian
Stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab
lain yang jelas selain vaskular (Muttaqin, 2011).
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di
otak pecah sehingga timbul iskemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke
hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa.
Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga
terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Ria Artiani, 2009).
Stroke ini, pada lesi vaskuler intraserebrum mengalami ruptur sehingga
terjadi perdarahan langsung ke dalam jaringan otak. Peradarahan secara cepat
menimbulkan gejala neurogenik karena tekanan pada struktur-struktur saraf di
dalam tengkorak. Iskemia adalah konsekuensi sekunder dari perdarahan baik
yang spontan maupun traumatik. Mekanisme terjadinya iskemia tersebut karena
adanya tekanan pada pembuluh darah akibat ekstravasasi darah ke dalam
tengkorak yang volumenya tetap dan vasopasme reaktif pembuluh-pembuluh
darah yang terpajan di dalam ruang antara lapisan arknoid dan piameter
meningen. Biasanya stroke hemoragik secara cepat menyebabkan kerusakan
fungsi otak dan kehilangan kesadaran (Price & Wilson, 2013).
Kesimpulannya, stroke hemoragik adalah salah satu jenis stroke yang
disebabkan karena pecahnya pembuluh darah di otak sehingga darah tidak dapat
mengalir secara semestinya yang menyebabkan otak mengalami hipoksia dan
berakhir dengan kelumpuhan.

B. Etiologi

a. Perdarahan intraserebral
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi
memgakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa yang
menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. peningkatan TIK yang
terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak.
Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hipertensi sering di jumpai
di daerah putamen, thalamus, pons, dan serebelum.
b. Perdarahan Subarakhnoid
Dapat terjadi karena trauma atau hipertensi, penyebab tersering adalah
kebocoran anurisma pada area sirkulus Willisi dan Malvormasi arteri-vena
kongenital. Gejala-gejala pada umumnya mendadak, peningkatan intracranial
(TIK), perubahan tingkat kesadaran, sakit kepala (mungkin hebat), vertigo,
kacau mental, stupor sampai koma, gangguan ocular, hemiparesis atau
hemiplegic, mual muntah, iritasi meningeal (kekakuan nukhal, kernig’s,
Brudzinski’s positif, Fotofobia, penglihatan ganda, peka rangsang,
kegelisahan, peningkatan suhu tubuh)
c. Perdarahan Serebral

Beberapa faktor resiko stroke antara lain:


1) Hipertensi, merupakan faktor resiko utama
2) Penyakit kardiovaskular-embolisme serebral berasal dari jantung.
3) Kolesterol dalam darah tinggi.
4) Obesitas atau kegemukan.
5) Peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark serebral.
6) Diabetes mellitus terkait dengan aterogenesis terakselerasi.
7) Kontrasepsi oral (khususnya dengan hipertensi,merokok,dan kadar estrogen
tinggi)
8) Merokok
9) Penyalahgunaan obat (khususnya kokain)
10) Konsumsi alkohol
(Muttaqin, 2011)

C. Manifestasi Klinik
Stroke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi
(pembuluh darah mana yang tersumbat) ukuran area yang perfusinya tidak
adekuat dan jumlah aliran darah kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala
sisa karena fungsi otak tidak akan membaik sepenuhnya:
1. Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau hemiplegia).
2. Tonus otot lemah atau kaku.
3. Menurun atau hilangnya rasa.
4. Gangguan lapang pandang “Homonimus Hemianopsia”
5. Gangguan bahasa (Disatria: kesulitan dalam membentuk kata; afhasia atau
disafhasia: bicara defeksif/kehilangan bicara).
6. Gangguan persepsi
7. Gangguan status mental.
(Joyce & Jane, 2014)

D. Patofisiologi
Infark serebral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak.
Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya
pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai
oleh pembuluh darah yang tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin
lambat atau makin cepat) pada gangguan lokal (trombus, emboli, perdarahan dan
spasme vascular) atau karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru
dan jantung). Aterosklerosis sering sebagai faktor penyebab infark pada otak.
Trombus dapat berasal dari plak arterosklerotik, atau darah dapat beku pada area
stenosis, tempat aliran darah mengalami perlambatan atau terjadi turbulensi.
Trombus dapat dipecah dari dinding pembuluh darah terbawa sebagai
emboli dalam aliran darah. Trombus mengakibatkan iskemia jaringan otak yang
disuplai oleh pembuluh darah yang bersangkutan dan edema dan kogestri
disekitar area. Area edema ini menyebabkan disfungsi yang lebih besar daripada
area infark itu sendiri. Edema dapat berkurang dalam beberapa jam atau kadang-
kadang sesudah beberapa hari. Dengan berkurangnya edema klien mulai
menunjukkan perbaikan. Oleh karena trombosis biasanya tidak fatal, jika tidak
terjadi perdarahan massif. Oklusi pada pembuluh darah serebral oleh embolus
menyebabkan edema dan nekrosis diikuti trombosis. Jika terjadi septic infeksi
akan meluas pada dinding pembuluh darah maka akan terjadi abses atau
ensefalitis atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah yang tersumbat
menyebabkan dilatasi aneurisme pembuluh darah. Hal ini akan menyebabkan
perdarahan serebral, jika aneurisme pecah atau rupture.
Perdarahan pada otak disebabkan oleh rupture arteriosklerotik dan
hipartensi pembuluh darah.perdarahan intraserebral yang sangat luas akan lebih
sering menyebabkan kematian dibandingkan keseluruhan penyakit
serebrovaskular, karena perdarahan yang luas terjadi destruksi masa otak,
peningkatan tekanan intracranial dan yang lebih berat dapat mengakibatkan
herniasi otak pada falk serebri atau lewat foramen magnum.
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan
perdarahan sibatang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke bataang otak.
Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak
di nucleus kaudatus, talamus dan pons.
Jika sirkulasi serebral terhambat, dapat berkembang enuksia serebral.
Perubahan yang oleh enuksia serebral dapat reversible untuk waktu 4 sampai 6
menit. Perubahan irreversible jika anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebral
dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah satunya henti jantung.
Selain kerusakan parenkin otak, akibat volume perdarahan yang relativ
banyak akan mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial dan penurunan
tekanan perfusi otak serta gangguan drainase otak. Elemen-eleman vaso aktiv
darah yang keluar dan kaskade iskemik akibat menurunya tekanan perfusi,
menyebabkan saraf di area yg terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi.
((Joyce & Jane, 2014)
E. Pathway

CVA ICH

Hipertensi Merokok, Kolesterol Penyalahgunaan


dalam darah tinggi obat

Peningkatan tekanan Aterosklerosis ↑ kekakuan


pada sistem vaskular vaskuler
serebral
serebral

Penumpukan blood clot


pada pembuluh darah
dalam jangka waktu lama

Ruptur pembuluh darah

Darah masuk ke dalam


jaringan serebral

vasospasme Hemoragik serebral Rembesan darah mengenai


lobus motorik

↑ tahanan Metabolisme otak


vaskuler terganggu MK: Gangguan
mobilitas fisik

MK: Penurunan ↑ tekanan intrakranial Darah mengenai lobus


kapasitas adaptif speech
intrakranial

MK: Gangguan
Penekanan saluran komunikasi verbal
pernafasan Vasospasme arteri
cerebral

MK: Ketidakefektifan
pola nafas Iskemik

Defisit neurologi

MK: Defisit perawatan


diri Hemiparese

(Joyce & Jane, 2014)


F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:
1. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central jaringan otak,
sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih bisa diselematkan,
tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan sebanyak mungkin area
iskemik dengan memberikan O2, glukosa dan aliran darah yang adekuat
dengan mengontrol / memperbaiki disritmia (irama dan frekuensi) serta
tekanan darah.
2. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang
berlebihan, pemberian dexamethason.
3. Pengobatan
a. Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan kecederungan perdarahan
pada fase akut.
b. Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah peristiwa
trombolitik/emobolik.
c. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral
4. Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran darah otak.
Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga menderita beberapa
penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit kardiovaskular yang luas.
Tindakan ini dilakukan dengan anestesi umum sehingga saluran pernafasan
dan kontrol ventilasi yang baik dapat dipertahankan.
5. Menempatkan klien dengan posisi yang tepat, harus diubah setiap 2 jam
sekali dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
(Muttaqin, 2011)

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik menurut (Muttaqin, 2011) meliputi :
1. Angiografi cerebral, untuk menentukan penyebab stroke hemoragik. Seperti
perdarahan atau obstruksi arteri.
2. Lumbal pungsi, tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada
cairan lumbal menunjukan adanya hemoragik pada subarakhnoid atau
perdarahan pada intrakranial.
3. Computer topografi (CT) scan otak, untuk memperlihatkan adanya edema,
posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan
posisinya secara pasti.
4. Magnetic resonance imaging (MRI), menunjukan daerah yang mengalami
infark hemologi Malformasi Arteri Vena (MAV).
5. Ultrasonografi doppler, untuk mengidentifikasi penyakit arteri vena.
6. Electroencephalography (EEG), untuk mengidentifikasi masalah berdasarkan
pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik

H. Komplikasi
Komplikasi Stroke hemoragik dapat menyebabkan beberapa hal yaitu :
1. Infark Serebri
2. Hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi hidrosephalus normotensif
3. Fistula caroticocavernosum
4. Epistaksis
5. Peningkatan TIK, tonus otot abnormal
(Price & Wilson, 2013).
I. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Data demografi
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,
suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.
2. Keluhan utama
Didapatkan keluhan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan
tidak dapat berkomunikasi.
3. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada
saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual,
muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan
separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. Sedangkan stroke infark
tidak terlalu mendadak, saat istirahat atau bangun pagi, kadang nyeri copula,
tidak kejang dan tidak muntah, kesadaran masih baik.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat
trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti
koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes
militus.
6. Riwayat psikososial
Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan,
pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga
faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan
keluarga
7. Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat
kontrasepsi
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya gejala nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut,
kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan, disfagia
ditandai dengan kesulitan menelan, obesitas
3) Pola eliminasi
Gejala menunjukkan adanya perubahan pola berkemih seperti
inkontinensia urine, anuria. Adanya distensi abdomen (distesi bladder
berlebih), bising usus negatif (ilius paralitik), pola defekasi biasanya
terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
4) Pola aktivitas dan latihan
Gejala menunjukkan danya kesukaran untuk beraktivitas karena
kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah.
Tanda yang muncul adalah gangguan tonus otot (flaksid, spastis),
paralitik (hemiplegia) dan terjadi kelemahan umum, gangguan
penglihatan, gangguan tingkat kesadaran.
5) Pola tidur dan istirahat
Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang
otot/nyeri otot
8. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
a.Kesadaran: umumnya mengelami penurunan kesadaran
b. Suara bicara: kadang mengalami gangguan : sukar dimengerti, tidak
bisa bicara
c. Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi
2) Pemeriksaan integumen
a. Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika
kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu
juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang
menonjol karena klien stroke hemoragik harus bed rest 2-3 minggu
b. Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
c. Rambut : umumnya tidak ada kelainan
3) Pemeriksaan kepala dan leher
a. Kepala : bentuk normocephalik
b. Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi
c. Leher : kaku kuduk jarang terjadi
4) Pemeriksaan dada
Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi,
wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat
penurunan refleks batuk dan menelan, adanya hambatan jalan nafas.
Merokok merupakan resiko.
5) Pemeriksaan abdomen
Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan
kadang terdapat kembung.
6) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus
Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine
7) Pemeriksaan ekstremitas
Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
8) Pemeriksaan neurologi
a. Pemeriksaan nervus cranialis: Umumnya terdapat gangguan nervus
cranialis VII dan XII central. Penglihatan menurun, diplopia,
gangguan rasa pengecapan dan penciuman, paralisis atau parese
wajah.
b. Pemeriksaan motorik : Hampir selalu terjadi kelumpuhan/
kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kelemahan, kesemutan,
kebas, genggaman tidak sama, refleks tendon melemah secara
kontralateral, apraksia
c. Pemeriksaan sensorik : Dapat terjadi hemihipestesi, hilangnya
rangsang sensorik kontralteral.
d. Pemeriksaan refleks : Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang
lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis
akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.
e. Sinkop/pusing, sakitkepala, gangguan status mental/tingkat
kesadaran, gangguan fungsi kognitif seperti penurunan memori,
pemecahan masalah, afasia, kekakuan nukhal, kejang, dll.

1. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b/d peningkatan tahanan vaskuler
b. Gangguan mobilitas fisik b/d adanya rembesan darah yang mengenai lobus
motorik
c. Gangguan komunikasi verbal b/d adanya darah yang mengenai lobus speech
d. Ketidakefektifan pola nafas b/d penekanan saluran pernafasan
e. Defisit perawatan diri b/d hemiparese

2. Intervensi Keperawatan
a. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b/d peningkatan tahanan vaskuler
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral teratasi dengan kriteria hasil:
No Kriteria Score

1 Tekanan systole dan diastole dbn 5

2 Tidak ada ortostatikhipertensi 5

3 Komunikasi jelas 5

4 Menunjukkan konsentrasi dan orientasi 5

5 Pupil seimbang dan reaktif 5

6 Bebas dari aktivitas kejang 5

7 Tidak mengalami nyeri kepala 5

NIC :

a. Monitor TTV
b. Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman, kesimetrisan dan reaksi
c. Monitor adanya diplopia, pandangan kabur, nyeri kepala
d. Monitor level kebingungan dan orientasi
e. Monitor tonus otot pergerakan
f. Monitor tekanan intrkranial dan respon nerologis
g. Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
h. Monitor status cairan
i. Pertahankan parameter hemodinamik
j. Tinggikan kepala 0-450 tergantung pada konsisi pasien dan order medis

b. Gangguan mobilitas fisik b/d adanya rembesan darah yang mengenai lobus
motorik
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, terjadi
peningkatan mobilisasi dengan kriteria hasil:
No NOC Score

1. ROM aktif / pasif meningkat 5

2. Perubahan posisi adekuat 5

NIC :

a. Kaji kemampuan klien dalam melakukan mobilitas fisik


b. Jelaskan kepada klien dan keluarga manfaat latihan
c. Kaji lokasi nyeri/ketidaknyamanan selama latihan
d. Jaga keamanan klien
e. Bantu klien utk mengoptimalkan gerak sendi pasif manpun aktif
f. Beri reinforcement ppositif setipa kemajuan
g. Ukur TTV sebelum sesudah latihan
DAFTAR PUSTAKA

Artiani, Ria. (2009). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Jakarta : EGC.

Black joyce. M & Jane Hokanse Hawks. (2014). Medical Surgical Nursingvol 2.
Jakarta: Salemba Medika

Muttaqin, Arif.(2011). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan GangguanSistem


Persarafan.Jakarta : Salemba Medika

Price, S.A., Wilson, L.M. (2013). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit.Edisi VI. Jakarta: EGC.