Anda di halaman 1dari 19

KEPERAWATAN MATERNITAS

“KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN INDUKSI PERSALINAN ”

DOSEN PEMBIMBING :

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 7

1. BELLA SAMYA DWI PUTRI (P05120218052)


2. IKHTIAR WAHYUDI (P05120218070)
3. MURDANI FURIYATI (P05120218073)
4. VANNY PUSPITA (P05120218083)

KELAS : 2B DIII KEPERAWATAN

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
DIII KEPERAWATAN
2019/2020
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rezeki dan kesehatan kepada kami sehingga kami mempunyai
kesempatan untuk menyelesaikan pembuatan Asuhan Keperawatan yang dibuat
untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Maternitas. Adapun
materi yang kami buat adalah "Asuhan Keperawatan Induksi Persalinan”
Kami menyadari dan meyakini bahwa tugas ini masih jauh dari kata
sempurna. Masih banyak kekurangan dan kesalahan yang kami sadari atau pun
yang tidak kami sadari. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran, agar
di masa yang akan datang kami bisa membuat Asuhan Keperawataan yang lebih
baik lagi. Namun begitu, meskipun tugas ini jauh dari kata sempurna kami
berharap agar sedikit banyaknya dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam pembuatan Asuhan Keperawatan ini. Demikian
sedikit kata pengantar dari kami atas perhatian para pembaca sekalian kami
mengucapkan terima kasih.

Bengkulu, 04 April 2020

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan adalah proses alami yang akan berlangsung dengan
sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit
yang membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan
pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai.
Selama kehamilan berlangsung dapat terjadi kontraksi ringan pada seluruh
rahim, tanpa rasa sakit dan koordinasi yang di sebut Braxton Hiks.
Kontraksi ini lebih lanjut akan menjadi kekuatan untuk persalinan.
Induksi persalinan adalah tindakan terhadap ibu hamil untuk
merangsang timbulnya kontraksi rahim agar terjadi persalinan. Indikasi
dilakukan persalinan induksi yang berasal dari janin yaitu postmaturitas,
ketuban pecah dini, dan inkompatibilitas rhesus. Sedangkan faktor dari ibu
yaitu intra uterine fetal death (IUFD) dan dari faktor ibu serta janin yaitu
preeklamsia berat.
Persalinan merupakan proses fisiologis yang terjadi pada setiap
wanita hamil. Akan tetapi proses fisiologis tersebut dapat menjadi
patologis, dan bila dalam penatalaksanaannya salah dapat mengakibatkan
komplikasi dalam persalinan, sehingga dapat meningkatkan angka
kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Proses persalinan tidak selalu
akan berlangsung secara normal, akan tetapi dapat berlangsung dengan
risiko atau bahkan telah terjadi gangguan proses persalinan yang disebut
dengan distocia. Distocia erat kaitannya dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi proses persalinan, beberapa diantaranya yaitu power dan
passageway. Salah satu cara mengatasi gangguan proses persalinan
(distocia) khususnya terkait dengan faktor-faktor tersebut diatas, yakni
dengan induksi persalinan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian persalinan induksi?
2. Apa sama etiologi persalinan induksi?
3. Bagaimana patofisiologi persalinan induksi?
4. Apa saja Indikasi persalinan induksi ?
5. Apa saja Kontra indikasi persalinan induksi?
6. Apa saja faktor yang mempengaruhi persalinan induksi ?
7. Bagaimana risiko persalinan induksi?
8. Apa saja klasifikasi persalinan induksi ?
9. Bagaimana manifestasi klinis persalinan induksi?  
10. Apa komplikasi persalinan induksi ?
11. Apa saja pemeriksaan penunjang persalinan induksi?
12. Bagaimana Penatalaksanaan persalinan induksi?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian persalinan induksi
2. Untuk mengetahui etiologi persalinan induksi
3. Untuk mengetahui patofisiologi persalinan induksi
4. Untuk mengetahui apa saja Indikasi persalinan induksi
5. Untuk mengetahui Kontra indikasi persalinan induksi
6. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi persalinan induksi
7. Untuk mengetahui risiko persalinan induksi
8. Untuk mengetahui klasifikasi persalinan induksi
9. Untuk mengetahui manifestasi klinis persalinan induksi 
10. Untuk mengetahui komplikasi persalinan induksi
11. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang persalinan induksi
12. Untuk mengetahui Penatalaksanaan persalinan induksi
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Induksi persalinan adalah salah satu upaya stimulasi
mulainya proses kelahiran (dari tidak ada tanda-tanda persalinan,
kemudian distimulasi menjadi ada). Cara ini dilakukan sebagai
upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim
secara normal. Induksi persalinan adalah tindakan terhadap ibu
hamil untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim agar terjadi
perssalinan. (Arif Mansjoer, kapita selekta kedokteran ed.3, 2000)
Induksi persalinan adalah usaha agar persalinan mulai
berlangsung sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan
jalan merangsang timbulnya his (Israr, 2009)
Induksi Persalinan adalah dimulainya kontraksi persalinan
sebelum awitan spontannya untuk tujuan mempercepat kelahiran.
Induksi dapat diindikasikan untuk berbagai alasan medis dan
kebidanan, termasuk hipertensi akibat kehamilan, diabetes melitus
dan masalah medis maternal lain, kehamilan  pasca partum, bahaya
janin yang dicurigai(misalnya : pertumbuhan janin terhambat),
faktor-faktor logistik, jarak dari rumah sakit, dan kematian janin).
Dalam kondisi-kondisi tersebut, kelahiran anak tidak terlalu
berisiko untuk bayi  baru lahir atau janin daripada jika kehamilan
dilanjutkan (Dunn, 1990).
B. Etiologi
Induksi persalinan dilakukan disebabkan Kehamilannya
sudah memasuki tanggal perkiraan lahir bahkan lebih dari sembilan
bulan (kehamilan lewat waktu). Dimana kehamilan yang melebihi
waktu 42 minggu, belum juga terjadi persalinan. Permasalahan
kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak mampu memberikan
nutrisi dan pertukaran CO 2 /O2 sehingga janin mempunyai resiko
asfiksia sampai kematian dalam rahim. Makin menurunya sirkulasi
darah menuju sirkulasi plasenta dapat mengakibatkan:
1. Pertumbuhan janin makin melambat
2. Terjadi perubahan metabolisme janin
3. Air ketuban berkurang dan makin kental
4. Saat persalinan janin lebih mudah mengalami asfiksia

Resiko kematian perinatal kehamilan lewat waktu bisa


menjadi tiga kali dibandingkan dengan kehamilan aterm. Ada
komplikasi yang lebih sering menyertainya seperti; letak defleksi,
posisi oksiput posterior, distosia bahu dan pendarahan postpartum.
Pada kehamilan lewat waktu perlu mendapatkan perhatian dalam
penanganan sehingga hasil akhir menuju well born baby dan well
health mother dapat tercapai. Induksi juga dilakukan dengan
alasan kesehatan ibu, misalnya si ibu terkena infeksi serius, atau
menderita diabetes. Wanita diabetik yang hamil memiliki resiko
mengalami komplikasi. Tingkat komplikasi secara langsung
berhubungan dengan kontrol glukosa wanita sebelum dan selama
masa kehamilan dan dipengaruhi oleh komplikasi diabetik
sebelumnya. Meliputi:
1. Aborsi spontan(berhubungan dengan kontrol glikemia yang
buruk pada saat konsepsi dan pada minggu-minggu awal
kehamilan).
2. Hipertensi akibat kehamilan, mengkibatkan terjadinya
preeklamsi dan eklamsi. Preeklamsia merupakan suatu
kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi
setelah minggu ke-20 pada wanita yang memiliki tekanan
darah normal. Preeklamsia merupakan suatu penyakit
vasospastik, yang ditandai dengan hemokosentrasi,
hipertensi, dan proteinuria. Tanda dan gejala dari
preeklamsi ini timbul saat masa kehamilan dan hilang
dengan cepat setelah janin dan plasenta lahir. Kira-kira
85% preeklamsia ini terjadi pada kehamilan yang pertama.
Komplikasi meliputi nyeri kepala, kejang, gangguan
pembuluh darah otak, gangguan penglihatan (skotoma),
perubahan kesadaran mental dan tingkat kesadaran.
Eklamsia adalah terjadinya konvulsi atau koma pada pasien
disertai tanda dan gejala preeklamsia. Konvulsi atau koma
dapat terjadi tanpa didahului ganguan neurologis.
3. Infeksi, terutama infeksi vagina, infeksi traktus urinarius;
infeksi ini bersifat serius karena dapat menyebabkan
peningkatan resistensi insulin dan ketoasidosis.
Ketoasidosis, sering pada trimester dua dan tiga, yakni saat
efek diabetogenik pada kehamilan yang paling besar
karena resistansi insulin meningkat.Dapat mengancam
kehidupan dan mengakibatkan kematian bayi,
mengakibatkan cacat bawaan Ukuran janin terlalu kecil,
bila dibiarkan terlalu lama dalam kandungan diduga akan
beresiko/membahayakan hidup janin/kematian janin.
Membran ketuban pecah sebelum adanya tanda-tanda awal
persalinan (ketuban pecah dini). Ketika selaput ketuban
pecah, mikroorganisme dari vagina dapat masuk ke dalam
kantong amnion. Temperatur ibu dan lendir vagina sering
diperiksa (setiap satu sampai dua jam) untuk penemuan
dini infeksi setelah ketuban ruptur.
4. Mempunyai riwayat hipertensi. Gangguan hipertensi pada
awal kehamilan mengacu berbagai keadaan, dimana terjadi
peningkatan tekanan darah maternal disertai resiko yang
berhubungan dengan kesehatan ibu dan janin. Preeklamsi,
eklamsia, dan hipertensi sementara merupakan penyakit
hipertensi dalam kehamilan, sering disebut dengan
pregnancy-induced hypertensio (PIH). Hipertensi kronis
berkaitan dengan penyakit yang sudah ada sebelum hamil.
Hipertensi sementara adalah perkembangan hipertensi
selama masa hamil atau 24 jam pertama nifas tanpa tanda
preeklamsia atau hipertensi kronis lainnya. Hipertensi
kronis didefenisikan sebagai hipertensi yang sudah ada
sebelum kehamilan atau didiagnosis sebelum kehamilan
mencapai 20 minggu. Hipertensi yang menetap lebih dari
enam minggu pascapartum juga diklasifikasikan sebagai
hipertensi kronis.
C. Patofisiologi
Induksi persalinan terjadi akibat adanya kehamilan lewat
waktu, adanya penyakit penyerta yang menyertai ibu misalnya
hipertensi dan diabetes, kematian janin, ketuban pecah dini.
Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan
oksitosin tubuh, dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot
rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat
waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap
rangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada
rahim. Kekhawatiran dalam menghadapi kehamilan lewat waktu
adalah meningkatnya resiko kematian dan kesakitan perinatal.
Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu
dan kemudian mulai menurun setelah 42 minggu, ini dapat
dibuktikan dengan adanya penurunan kadar estriol dan plasental
laktogen.
D. Indikasi persalinan induksi
1. Indikasi Janin
a) Kehamilan Lewat Waktu
b) Ketuban Pecah Dini Indikasi Ibu  
Berdasarkan penyakit yang diderita :
a) Kehamilan dengan hipertensi
b) Kehamilan dengan diabetes mellitus
c) Penyakit jantung
d) Penyakit ginjal
e) Keganasan mammae dan portio
2. Indikasi Kontra
a) Malposisi dan malpresentasi janin
b) Insufisiensi plasenta
c) Disproposi sefalopevik 
d) Cacat rahim, misalnya pernah mengalami sectio caesaria,
enukleasi miom.
e) Grade multipara.
f) Gemelli
g) Distensi rahim yang berlebihan misalnya pada
hidroamnion.
h) Plasenta previa
3. Indikasi Berdasarkan Tingkat Kebutuhan Penanganan
Indikasi Darurat:
a) Hipertensi gestasional yang berat
b) Diduga komplikasi janin yang akut
c) PJT (IUGR) yang berat
d) Penyakit maternal yang bermakna dan tidak respon
dengan pengobatan
e) APH yang bermakna dan Korioamnionitis

Indikasi Segera (Urgent)


a) KPD saat aterm atau dekat aterm
b) PJT tanpa bukti adanya komplikasi akut
c) DM yang tidak terkontrol
d) Penyakit iso-imun saat aterm atau dekat aterm

 Indikasi Tidak Segera ( Non Urgent )


a) Kehamilan „post-term‟
b) DM terkontrol baik 
c) Kematian intrauterin pada kehamilan sebelumnya
d) Kematian janin
e) Problem logistik (persalinan cepat, jarak ke rumah sakit)
Uddntuk dapat melakukan induksi persalinan perlu
dipenuhi beberapa kondisi dibawah ini, yaitu:

a) Sebaiknya serviks uteri sudah matang, yakni serviks


sudah mendatar dan menipis dan sudah dapat dilalui oleh
sedikitnya 1 jari, serta sumbu serviks mengarah ke depan.
b) Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD).
c) Tidak terdapat kelainan letak janin yang tidak dapat
dibetulkan.
d) Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun ke dalam
rongga panggul.

Apabila kondisi-kondisi di atas tidak terpenuhi maka


induksi persalinan mungkin tidak memberikan hasil yang
diharapkan. Untuk menilai keadaan serviks dapat dipakai skor
bishop. Bila nilai lebih dari 8 induksi persalinan kemungkinan
akan berhasil.

E. Kontra indikasi persalinan induksi


13. Terdapat Distosia Persalinan
a) Panggul sempit atau disprorosi sefalopelvik
b) Kelainan posisi kepala janin
c) Terdapat kelainan letak janin dalam rahim
d) Kesempitan panggul absolut (CD 4000 gr.
14. Terdapat Kedudukan Ganda
a) Tangan bersama kepala
b) Kaki bersama kepala
c) Tali pusat menumbung terkemuka
15. Terdapat “Overdistensi” Rahim
a) Kehamilan ganda
b) Kehamilan dengan hidramnion
16. Terdapat Anamnesa Pendarahan Antepartum
17. Terdapat Bekas Operasi Pada Otot Rahim
a) Bekas seksio sesarea
b) Bekas oprasi mioma uteri
18. Pada Grandmultipara Atau Kehamilan > 5 Kali.
19. Terdapat Tanda-Tanda Atau Gejala Intrauterine Fetal Distress
F. Faktor yang mempengaruhi persalinan induksi
1. Kedudukan Bagian Terendah Semakin rendah kedudukan
bagian terendah janin kemungkinan keberhasilan induksi akan
semakin besar, oleh karna dapat menekan pleksus
frankenhauser.
2. Penempatan (Presentasi) Pada letak kepala lebih berhasil
dibandingkan dengan kedudukan bokong, kepala lebih
membantu pembukaan dibandingkan dengan bokong.
3. Kondisi Serviks - Serviks yang kaku, menjurus kebelakang
sulit berhasil dengan induksi persalinan - Serviks lunak, lurus
atau kedepan lebih berhasil dalam induksi.
4. Paritas Dibandingkan dengan primidravida, induksi pada
multipara akan lebih berhasil karena sudah terdapat
pembukaan.
5. Umur Penderita Dan Umur Anak Terkecil - Ibu dengan umur
yang relatif tua (diatas 30-35 tahun) dan umur anak  terakhir
yang lebih dari 5 tahun kurang berhasil - Kekuatan serviks
menghalangi pembukaan sehingga lebih banyak  dikerjakan
tindakan oprasi.
6. Umur Kehamilan Pada kehamilan yang semakin aterm induksi
persalinan per vagina akan semakin berhasil
G. Risiko persalinan induksi
1. Adanya kontraksi rahim yang berlebihan. Itu sebabnya induksi
harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat dari dokter yang
menangani. Jika ibu merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang
ditimbulkan, biasanya proses induksi dihentikan dan dilakukan
operasi caesar.
2. Janin akan merasa tidak nyaman sehingga dapat membuat bayi
mengalami gawat janin (stress pada bayi). Itu sebabnya selama
proses induksi berlangsung, penolong harus memantau gerak
janin. Bila dianggap terlalu beresiko menimbulkan gawat
janin, proses induksi harus dihentikan.
3. Dapat merobek bekas jahitan operasi caesar. Hal ini bisa
terjadi pada yang sebelumnya pernah dioperasi caesar, lalu
menginginkan kelahiran normal.
4. Emboli. Meski kemungkinannya sangat kecil sekali namun
tetap harus diwaspadai.  Emboli terjadi apabila air ketuban
yang pecah masuk ke pembuluh darah dan menyangkut di otak
ibu, atau paru-paru. Bila terjadi, dapat merenggut nyawa ibu
seketika.

H. Klasifikasi persalinan induksi


1. Secara Medis
a) Metode Steinsche
Metode steinsche merupakan metode lama, tetapi masih
perlu diketahui, yaitu:
1) Penderita diharapkan tenang pada malam harinya.
2) Pada pagi harinya diberikan enema dengan caster oil
atau sabun panas.
3) Diberikan pil kinine sebesar 0,002 gr, setiap jam
sampai mencapai dosis 1,200 gr.
4) Satu jam setelah pemberian kinine pertama, di
suntikan oksitosin 0,2 unit/jam, sampai tercapai his
yang adekuat.
b) Oksitosin
Oksitosin adalah obat yang merangsang kontraksi
uterus, banyak  obat memperlihatkan efek Oksitosin, tetapi
hanya beberapa saja yang kerjanya cukup selektif dan
dapat berguna dalam praktek kebidanan. (Sulistia -1995)
c) Prostaglandin
Prostaglandin dapat merangsang otot-otot polos
termasuk juga otototot rahim. Prostaglandin yang spesifik
untuk merangsang otot rahim ialah PGE2 dan PGF2 alpha.
Untuk induksi persalinan prostaglandin dapat diberikan
secara intravena, oral, vaginal, rektar dan intra amnion.
Pada kehamilan aterm, induksi persalinan dengan
prostaglandin cukup efektif. Pengaruh sampingan dari
pemberian prostaglandin ialah mual, muntah & diare.
d) Cairan Hipertonik Intrauterin
Pemberian cairan hipertonik intraamnion dipakai
untuk merangsang kontraksi rahim pada kehamilan dengan
janin mati. Cairan hipertonik  yang dipakai dapat berupa
cairan garam hipertonik 20%, urea dan lain-lain. Kadang-
kadang pemakaian urea dicampur dengan prostaglandin
untuk memperkuat rangsangan pada otot-otot rahim. Cara
ini dapat menimbulkan penyulit yang cukup berbahaya,
misalnya hipernatremia, infeksi dan gangguan pembekuan
darah
2. Secara Manipulatif 
a) Amniotomi artifasialis dilakukan denga cara
memecahkan ketuban baik dibagian bawah depan (fore
water) maupun dibagian belakang (hind water) dengan
suatu alat khusus (Drewsmith cateter - macdonald
klem). Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti
bagaimana pengaruh amniotomi dalam merangsang
timbulnya kontraksi rahim.
b) Stripping of the Membrane (Melepaskan Ketuban Dari
Bagian Bawah Rahim)
Melepaskan ketuban dari dinding segmen bawah
rahim secara menyeluruh setinggi mungkin dengan jari
tangan. Cara ini dianggap cukup efektif dalam
merangsang timbulnya his.
c) Pemakaian Rangsangan Listrik
Dengan dua elektrode, yang satu diletakkan
dalam serviks, sedang yang lain ditempelkan pada kulit
dinding perut, kemudian dialirkan listrik yang akan
memberi rangsangan pada serviks untuk menimbulkan
kontraksi rahim, bentuk alat ini bermacam-macam
bahkan ada yang ukurannya cukup kecil sehingga dapat
dibawa-bawa dan ibu tidak perlu tinggal di rumah sakit.
Pemakaian alat ini perlu dijelaskan dan disetujui pasien.
d) Rangsangan Pada Puting Susu 1
Sebagaimana diketahui rangsangan puting susu
dapat mempengaruhi hipofisis posterior untuk
mengeluarkan oksitosin sehingga terjadi kontraksi
rahim. Dengan pengertian ini maka telah dicoba
dilakukan induksi persalinan pada kehamilan dengan
merangsang puting susu
e) Pemasangan Laminaria Stiff  Induksi
persalinan sengan memasang laminaria stiff
hampir seluruhnya dilakukan pada janin yang telah
meninggal. Pemasangan lamunaria stiff untuk janin
hidup tidak diindikasikan, karena bahaya infeksi.

I. Manifestasi klinis persalinan induksi  


Manifestasi yang terjadi pada induksi persalinan adalah
kontraksi akibat induksi mungkin terasa lebih sakit karena
mulainya sangat mendadak  sehingga mengakibatkan nyeri.
Adanya kontraksi rahim yang berlebihan, itu sebabnya induksi
harus dilakukan dalam pengawasan ketat dari dokter yang
menangani. Jika ibu merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang
ditimbulkan, biasanya dokter akan menghentikan proses induksi
kemudian dilakukan operasi caesar.
J. Komplikasi persalinan induksi
Induksi persalinan dengan pemberian oksitosin dalam
infuse intravena jika perlu memecahkan ketuban, cukup aman bagi
ibu apabila syarat –  syarat di penuhi. Kematian perinatal agak
lebih tinggi daripada persalinan spontan, akan tetapi hal ini
mungkin dipengaruhi pula oleh keadaan yang menjadi indikasi
untuk melakukan induksi persalinan. Kemungkinan bahwa induksi
persalinan gagal dan perlu dilakukan seksio sesarea, harus selalu
diperhitungkan.
K. Pemeriksaan penunjang persalinan induksi
1. Hitung darah lengkap dengan diferensial: menentukan adanya
anemia dan infeksi, serta tingkathidrasi.
2. Golongan darah dan faktor Rh bila tidak
dilakukan sebelumnya
3. Urinalisis: Menunjukkan infeksi traktus
urinarius, protein, atau glukosa.
4. Rasio lesitin terhadap sfingomielin(rasio
L/S): Memastikan pecah ketuban.
5. pH kulit kepala: Menandakanderajat
hipoksia.
6. Ultrasonografi: Menentukan usia gestasi,
ukuran janin, adanya gerakan  jantung janin, dan lokasi
plasenta.
7. Pelvimetri: Mengidentifikasi disproporsi
sefalopelvik (CPD) atau posisi  janin.
8. Tes stres kontraksi atau tes nonstres:
Mengevaluasi janin/fungsi plasenta.
L. Penatalaksanaan
Infus oksitosin
1) Semalam sebelum drip oksitosin, hendaknya penderita sudah
tidur pulas
2) Pagi harinya penderita diberi pencahar
3) Infus oksitosin hendaknya dilakukan pagi hari dengan
observasi yang baik
4) Disiapkan cairan RL 500 cc yang diisi dengan sintosinon 5 IU
5) Cairan yang sudah mengandung 5 IU sintosinon dialirkan
secara intravena melalui aliran infuse.
6) Jarum abocath dipasang pada vena dibagian volar bawah
7) Tetesan dimulai dengan 8 mU permenit dinaikan 4 mU setiap
30 menit. Tetesan maksimal diperbolehkan sampai kadar
oksitosin 30-40 mU. Bila sudah mencapai kadar ini kontraksi
rahim tidak muncul juga, maka berapapun kadar oksitosin
yang diberikan tidak akan menimbulkan kekuatan kontraksi.
Sebaiknya infus oksitosin dihentikan.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Induksi persalinan adalah salah satu upaya stimulasi
mulainya  proses kelahiran (dari tidak ada tanda-tanda
persalinan, kemudian distimulasimenjadi ada). Cara ini
dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya
bayi dari rahim secara normal. Induksi persalinan dilakukan
disebabkan Kehamilannya sudah memasuki tanggal perkiraan
lahir bahkan lebih dari sembilan bulan (kehamilan lewat
waktu). Dimana kehamilan yang melebihi waktu 42 minggu,
belum  juga terjadi persalinan
B. Saran
Diharapkan dengan adanya konsep Asuhan
keperawatan induksi persalinan ini semoga dapat menambah
wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca khususnya
mahasiswa keperawatan. Semoga dengan dibuatnya tugas ini
dapat dijadikan sumber literatur yang layak digunakan untuk
mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arief. et. al. 2001.Kapita Selekta Kedokteran.


Edisi ke - 2. Jilid I. Media Aeusculapius. Jakarta.
Doengoes, Marilyn E, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien, Edisi 3, Jakarta: EGC.