Anda di halaman 1dari 23

BAB l

LATAR BELAKANG

A. Latar Belakang
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara
yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan pangan
atau bahan kimia.
Bukan hanya bahan kimia saja yang bisa menyebabkan keracunan tetapi ada racun
alam yang terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya gigitan ular
berbisa maupun akibat gas beracun.
Keracunan adalah salah satu kasus darurat yang paling sering terjadi. Masalah
keracunan masih menjadi kekhawatiran bermakna dalam bidang kesehatan (wong, 2008)

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keracunan?
2. Bagaimana cara pertolongan pertama pada orang keracunan gigitan ular berbisa,
keracunan akibat zat kimia karbonmonoksida, dan keracunan makanan?
3. Bagaimana Standar operasional prosedur (SOP) keracunan gigitan ular berbisa,
keracunan akibat zat kimia karbonmonoksida, dan keracunan makanan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan keracunan.
2. Untuk mengetahui Bagaimana cara pertolongan pertama pada orang keracunan
gigitan ular berbisa, keracunan akibat zat kimia karbonmonoksida, dan keracunan
makanan.
3. Untuk mengetahui Bagaimana Standar operasional prosedur (SOP) keracunan
gigitan ular berbisa, keracunan akibat zat kimia karbonmonoksida, dan keracunan
makanan.

1
BAB
II PEMBAHASAN

A. Definisi Keracunan

Keracunan berarti bahwa suatu zat kimia telah mengganggu proses


fisiologis, sehingga keadaan badan organisme itu tidak lagi dalam keadaan sehat.
Dengan kata lain organisme itu menjadi sakit ( Koeman, 1987). Keracunan adalah
keadaan sakit yang ditimbulkan oleh racun. Bahan racun yang masuk kedalam
tubuh dapat langsung mengganggu organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati,
ginjal dan lainnya .
keracunan adalah masuknya zat racun kedalam tubuh baik melalui saluran
penceraan, saluran pernafasan, atau melalui kulit atau mukosa yang menimbulkan
gejala klinis (sartono, 2002)

B. Klasifikasi Racun
Racun diklasifikasikan menurut aksinya sebagai berikut :
a. Racun korosif
Racun ini adalah agen pengiritasi yang sangat aktif yang menghasilkan
peradangan dan ulserasi jaringan. Kelompok ini terdiri dari asam kuat dan basa.
b. Racun iritan
Racun ini menghasilkan gejala sakit di perut dan juga muntah, racun ini
terdiri dari :
1) Racun Anorganik
Logam contohnya : Arsen, merkuri, timbal, tembaga dan antimony
Non logam contohnya :Fosfor, klorin, bromin dan iodin
2) Racun Organik
Tumbuh-tumbuhan contohnya : minyak jarak
Hewan contohnya : Ular, kalajengking, laba-laba

2
3) Racun mekanik contohnya : bubuk kaca, debu berlian
c. Racun saraf

Racun ini bereaksi di system saraf pusat. Gejala yang ditimbulkan biasanya
sakit kepala, ngantuk, pusing, delirium, stupor, koma dan kejang. Contoh racun
saraf :

1) Racun serebral contohnya : opium, alcohol, agen sedative, agen hipnotik,


anastetik.
2) Racun soinal contohnya : strychinine
3) Periferal contohnya : curare

C. Mekanisme Terjadinya Keracunan


Absorpsi racun ditandai oleh masuknya racun dari tempat paparan menuju
sirkulasi sistemik tubuh atau pembuluh limfe. Absorpsi didefinisikan sebagai
jumlah racun yang mencapai system sirkulasi sistemik dalam bentuk tidak berubah.
Racun dapat terabsorpsi umumnya apabila berada dalam bentuk terlarut atau
terdispersi molecular. Jalur utama absorpsi racun adalah saluran cerna, paru-paruu
dan kulit. Setelah racun mencapai sistemik, ia bersama darah akan diedarkan
keseluruh tubuh. Dari system sirkulasi sistemik ia akan terdistribusi lebih jauh
melewati membrane sel menuju system organ atau ke jaringan-jaringan tubuh.
Selanjutnya racun akan mengalami reaksi biotransformasi ( metabolism ) dan
ekskresi racun melalui ginjal, empedu, saluran pencernaan, dan jalur eksresi lainya (
kelenjar keringat, kelenjar mamae, kelenjar ludah, dan paru-paru ). Jalur eliminasi
yang paling penting adalah eliminasi melalui hati ( reaksi metabolism ) dan eksresi
melalui ginjal .
1) Kulit
Bahan – bahan kimia yang membahayakan kulit menyebabkan kulit memerah,
sakit ketika kulit disentuh, tapi tidak menyebabkan rasa terbakar ketika sudah
dicuci.agen korosif dapat dengan cepat menyebabkan rasa sakit dan terbakar

3
membahayakan kulit mungkin ada rasa melepuh dan kulit berubah warna
menjadi abu-abu, putih atau coklat.
2) Mata Agen pengiritasi atau agen korosif
Dapat menyebabkan sakit yang parah ketika terpapar dimata. Mereka dapat
dengan cepat membakar permukaan mata dan menyebabkan bekas luka
bahkan kebutaa. Mata akan terlihat merah dan berair. Pasien yang terkena
racun mungkin tidak ingin membuka matanya dan cahaya akan menyebabkan
rasa sakit dimata.
3) Usus
bahan kimia beracun dapat membahayakan mulut dan tenggorokan atau usus.
Pasien mungkin merasakan sakit perut, muntah dan diare serta muntah dan
fesesnya mungkin mengandung darah. Jika tenggorokan terbakar maka
dengan cepat membengkak dan menyebabkan pasien sulit bernafas.
4) Saluran udara dan paru-paru atau menyebabkan edema paru
Itulah mengapa sangat berbahaya untuk memberikan makanan, minuman atau
obat-obatan untuk pasien yang sadar. Bebrapa gas dan uap dapat mengiritasi
hidung, tenggorokan dan saluran udara bagian atas dan menyebabkan batuk
dan terjadi dengan cepat ketika pasien menghirup zat racun atau ketika setelah
48 jam. Cairan dalam paru-paru menyebabkan pasien tidak dapat bernafas
dengan benar dan harus segera dibawah kerumah sakit karena memiliki
udema. Beberapa gas beracun seperti karbon monoksida tidak memiliki efek
pada hidung dan tenggorokan. Gas beracun yang tidak menyebabkan batuk
dan tersedak sangat berbahaya karena pasien tidak tahu ketika sudah
menghirup zat tersebut. Ketika saluran udara pasien tidak menutup,
makanan,minumam atau muntah dapat masuk ke paru-paru dan menghalangi
saluran udara
5) Lokasi Injeksi
Racun yang mengiritasi yang disuntikkan kedalam kulit seperti racun dari
sengatan serangga dan gigitan ular, dapat menyebabkan rasa sakit dan

4
bengkak di tempat mereka disuntikkan. Pasien-pasien yang sengaja
menyuntikkan diri dengan produk hewan mungkin mendapatkan efek local

D. Mengatasi Efek Dan Gejala Keracunan


Efek dan gejala keracunan pada manusia dapat timbul setempat (lokal)
atau sistemik setelah racun diabsorpsi dan masuk ke dalam sistem peredaran
darah atau keduanya.
Lokal. Racun yang bersifat korosif akan merusak atau mengakibatkan
luka pada selaput lendir atau jaringan yang terkena. Racun lain akan
menyebabkan radang selaput lendir saluran cerna secara tokal dan beberapa
racun lain lagi secara lokal mempunyai efek pada sistem saraf pusat dan organ
tubuh lain, seperti jantung, hati, paru, dan ginjal, tanpa sifat korosif dan iritan.
Sistemik. Setelah memberikan efek secara lokal, biasanya racun
diabsorpsi dan masuk ke dalam sistem peredaran darah dan akan mempengaruhi
organ-organ tubuh yang penting. Pada dasarnya, racun akan mempengaruhi
semua organ tubuh, hanya dengan tingkat yang berbeda, sehingga sukar untuk
menyatakan bahwa ada racun yang efeknya selektif.
E. Faktor-faktor yang mempengaruhi efek dan gejala keracunan pada manusia,
antara lain:
1) Bentuk dan cara masuk
Racun dalam bentuk larutan akan bekerja lebih cepat,
dibandingkan dengan yang berbentuk padat. Sedangkan racun yang masuk
ke dalam tubuh secara IV dan IM, akan memberikan efek lebih kuat
dibandingkan dengan melalui mulut.
2) Usia
Pada umumnya anak-anak dan bayi lebih mudah terpengaruh efek
racun dibandingkan dengan orang dewasa, tapi anak-anak justru tidak
mudah terpengaruh oleh efek beladon, kalomel, dan strichnin.

5
Makanan pada perut kosong efek racun akan bekerja lebih cepat jika
dibandingkan dengan perut yang berisi makanan Kebiasaan Jika terbiasa
kontak dengan racun dalam jumlah kecil mungkin dapat terjadi toleransi
terhadap racun yang sama dalam jumlah relatif besar tanpa menimbulkan
gejala keracunan, bahkan juga dapat mengakibatkan ketergantungan. Tapi,
toleransi terhadap racun tidak selalu terjadi. Mungkin dengan dosis sedikit
lebih besar dari dosis yang biasa digunakan akan menyebabkan keracunan,
bahkan kematian. Hal ini dapat menjelaskan mengapa orang yang sudah
ketagihan morfin dapat mati karena keracunan morfin.
3) Kondisi kesehatan
Seseorang yang sedang menderita sakit akan mudah terpengaruh
oleh efek racun dibandingkan dengan orang yang sehat.
4) Idiosinkrasi
Idiosinkrasi adalah reaksi seseorang terhadap racun tertentu yang
tidak biasa, bahkan mungkin berlawanan. Sebagai contoh, efek morfin pada
orang-orang tertentu tidak menyebabkan tidur, tapi bahkan akan terjaga
terus-menerus.
5) Jumlah racun
Jumlah racun sangat berkaitan erat dengan efek yang ditimbulkan.
Akan tetapi racun dalam jumlah besar akan menyebabkan muntah sehingga
yang tertinggal sedikit, demikian juga efeknya, Efek dan gejala yang
ditimbulkan akibat keracunan, terjadi antara lain pada sistem pencernaan
makanan, pernapasan, kardiovaskuler, urogenital, darah dan hemopoitika,
serta sistem saraf pusat. Selain mengatasi efek dan gejala keracunan,
dilakukan juga tindakan yang bersifat suportif.

F. Menangani Racun Dan Penyebabnya

6
Racun masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut, hidung (inhalasi),
kulit, suntikan, mata (kontaminasi mata), dan sengatan atau gigitan binatang
berbisa.

1) Melalui Mulut
Jika racun masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut, maka
tindakan dalam menangani racun yang telah masuk ke dalam tubuh ialah
mengurangi absorpsi racun dari saluran cerna, memberikan antidot, dan
meningkatkan eliminasi racun dari tubuh.
a. Mengurangi absorpsi
Upaya mengurangi absorpsi racun dari saluran cerna
dilakukan dengan merangsang muntah, menguras lambung,
mengadsorpsi racun dengan karbon aktif, dan membersihkan usus.

b. Memberikan antidot
Pemberian antidot dapat meningkatkan eliminasi racun
dari tubuh. Meskipun antidot kadang-kadang merupakan obat
penyelamat nyawa penderita keracunan; penanggulangan
keracunan tidak dapat diandalkan hanya dengan menggunakan
antidot saja.
c. Meningkatkan eliminasi racun
Meningkatkan eliminasi racun dapat dilakukan dengan
diuresis basa atau asam, dosis multipel karbon aktif, dialisis dan
hemoperfusi.

2) Melalui Hidung
Dalam menangani racun yang masuk melalui hidung (inhalasi),
tindakan yang segera dilakukan ialah:
a. Memindahkan penderita keracunan dari tempat atau ruangan yang
tercemar racun.

7
b. Trakeotomi dapat dilakukan, jika dipandang perlu.
c. Jika menggunakan alat resuscitator dengan tekanan positif,
tekanan darah perlu dikontrol terus-menerus.

3) Kontaminasi Kulit
Jika kulit terkontamiasi atau terkena racun, segera disiram dengan air
untuk mengencerkan atau mengusir racun. Kecepatan dan volume air yang
digunakan sangat menentukan kerusakan kulit yang terjadi, terutama jika
terkena racun yang bersifat korosif dan bahan-bahan atau racun yang
merusak kulit.

4) Kontaminasi Mata
Mata yang terkontaminasi atau terkena bahan kimia harus dibilas atau
dialiri air selama 15 menit. Dapat juga digunakan gelas pencuci mata, yang
airnya sering diganti. Jangan sekali-kali diteteskan antidot senyawa kimia,
karena panas yang akan timbul dapat mengakibatkan kerusakan mata yang
lebih parah. Selanjutnya, segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan
pemeriksaan dan pengobatan.
5) Sengatan dan Gigitan Binatang Berbisa
Jika terkena gigitan ular berbisa, maka tindakan untuk mencegah
penjalaran bisa dilakukan dengan menggunakan torniket di daerah atau
diatas luka gigitan, sampai dapat diberikan antidot yang spesifik terhadap
bisa ular penyebabnya. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, torniket
dikendorkan setiap 15 menit selama 30 detik. Torniket tidak digunakan
pada jari tangan atau kaki yang terkena gigitan ular berbisa. Sebagai,
alternatif dapat dilakukan pembalutan dengan yang kuat atau dengan
tekanan yang dapat dibiarkan beberapa jam.
Usaha lain untuk memperlambat penjalaran bisa, yaitu dengan
pendinginan lokal menggunakan es batu. Cara ini dapat berbahaya jika

8
terjadi radang karena kedinginan. Cara lain lagi dengan mengisap bisa dari
luka gigitan, setelah luka disayat sepanjang 1,5 cm dan kedalaman 0,5 cm.
Jika gigitan terjadi lebih dari
setengah jam, sebaiknya tidak dilakukan pengisapan. Pengisapan
yang dilakukan dalam waktu 10 menit setelah terjadi gigitan dapat
mengeluarkan racun sampai 20%.

9
Topik 1
Keracunan akibat Gigitan Ular Berbisa

A. Penanganan Pasien Keracunan Akibat Gigitan Ular Berbisa


1) Pertolongan pertama harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi
gigitan ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat
dilakukan oleh korban sendiri atau orang lain yang ada ditempat
kejadian. Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat
penyerapan bisa, mempertahankan hidup korban dan menghindari
komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit
serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Kemudian segera
bawa korban ke tempat perawatan medis.
Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban
yang cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh
yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu
agar tidak terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi
otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah
dan getah bening; pertimbangkan pressure-immobilisation pada
gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap luka gigitan karena
dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan pendarahan
lokal.

10
2) Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara
yang aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau
kontraksi otot untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa.
3) Pengobatan gigitan ular Pada umumnya terjadi salah pengertian
mengenai pengelolaan gigitan ular. Metode penggunaan torniket
(diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran darah), insisi
(pengirisan dengan alat tajam), pengisapan tempat gigitan, pendinginan
daerah yang digigit, pemberian antihistamin dan kortikosteroid harus
dihindari karena tidak terbukti manfaatnya.
B. Terapi Yang Diberikan Untuk Pasien Yang Keracunan Akibat Gigitan Ular
Berbisa
a. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.
Imobilisasi bagian tubuh menggunakan perban.
b. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban
katun elastis dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang
dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari
ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan.
Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang
terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak
terganggu.
c. Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu
aliran darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik
yang lebih berat.
d. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi
penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan;
penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaanresusitasi perlu dilaksanakan
bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock,
shockperdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-
tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban, hiperkalaemia

11
akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan komplikasi
nekrosis lokal.

e. .Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah mendapatkan


toksoid maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.

f. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara


intramuskular.
g. Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut
cepat mati/panik.
h. Pemberian serum antibisa. Karena bisa ularsebagian besar terdiri atas
protein, maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari
serum kuda. Di Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang
mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. Serum antibisa ini
hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan lokal yang luas.
C. kontraindikasi dan indikasi
1. Indikasi
 Disiram dengan air
2. kontraindikasi
 Jangan lakukan pembebatan karna akan menghambat aliran darah
 Jangan di message karena akan mempercepat penyebaran racun

12
Topik II

Keracunan Akibat Zat Kimia Karbon Monoksida

1. Definisi
Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senjawa karbon
monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon
dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan
senyawa yang tidak berbau, tidak berasal dan pada suhu udara normal berbentuk gas
yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun
yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah
yaitu hemoglobin.
2. Penyebab Keracunan Gas Monoksida
Keracunan terjadi karena sel-sel darah merah mengikat karbon monoksida
lebih cepat dibandingkan dengan oksigen. Sehingga jika ada banyak karbon
monoksida di udara, tubuh akan mengganti oksigen dengan karbon monoksida
tersebut. Oksigen dihambat oleh tubuh sehingga bisa merusak jaringan dan
menyebabkan kematian.
a) Menggunakan kendaraan atau berada dekat kendaraan. Sejak gas arang
(mengandung 7% CO) dengan gas alam, kejadiaan bunuh diri berkurang
seperti meletakkan kepala di dalam oven untuk mencelakai diri sendiri,
banyak terjadi di Britain dan kota lainnya. Tahun 1961 di UK, terdapat 2711
kasus bunuh diri dan 1014 kasus kecelakaan/kematian mendadak dengan
CO. Dan juga ditemukan CO pada kasus bunuh diri dengan bakar diri akibat
mesin. Bensin menghasilkan 5-7% CO yang terdapat dalam asap, dalam
mesin yang tidak digunakan, juga yang tidak layak pakai. Diesel
menghasilkan CO lebih sedikit dibandingkan bensin, seharusnya CO terurai
ke atmosfer sehingga penyebaran atau distribusi CO dalam jumlah kecil
dalam kota besar dan polisi lalu lintas mungkin sekitar 10% saturasi dalam

13
hemoglobinnya. Tapi jika dalam tempat yang kecil dan sempit akan sangat
berbahaya. Misalnya 1500cc bensin dalam kendaraan yangtidak digunakan
berada di garasi, dapat menghasilkan CO dengan konsentrasi tinggi dapat
mematikan dalam 10 menit. Suatu percobaan bunuh diri lainnya, dengan
hanya duduk dikendaraan dengan jendela terbuka dan kendaraan dalam
garasi. Ada juga akibat terbakarnya mesin kendaraan, yang efek toksisnya
dapat menyebabkan stupor dan koma. Efek CO juga dapat mengenai supir
atau pegendara kendaraan yang dijalankan. Biasanya disebabkan mesin
kendaraan yang rusak dan penyaringnya bocor, sehinngga CO masuk
kedalam lendaraan. Pada pesawat kecil, biasanya mesin berdekatan dengan
kokpit. Dan jika terjadi kebocoran dapat menyebabkan pilot menjadi lemah
dan mati, tetapi tabrakan lebih dari keracunan CO.
b) Alat-alat rumah tangga yang panas dapat menghasilkan CO. Bahan bakar
berasal dari gas alami yang terbebas dari monoksida, yaitu sebagian oksidasi
dari suatu kerusakan, atau hasil dari gas itu tersendiri. Bahan bakar padat
dipakai untuk sumber panas jika ada kerusakan pada cerobong asap. Parafin
yang panas mungkin terbakar dengan CO yag tidak adekuat dan hidokarbon
lainnya, dan malfungsi ini dapat menyebabkan kebakaran akibat monoksida.
Penyebab lain, karena instalasi gas alami misalnya tidak adanya timah atau
ventilasi yang tidak adekuat , ini dapat menyebabkan monoksida kembali
keruangan. Gas alat rumah tangga, khususnya pemancar air panas dapat
memproduksi CO.
c) Penyebab utama dari kematian monoksida karena struktur
kebakaran  dirumah atau gedung lain, penyebab terbesar kematian pada
kebakaran rumah tidak disebabkan karena terbakar tapi karena  menghirup
asap. Keadaan fatal ini disebabkan karena keracunan CO, walaupun gas-gas
lain seperti sianida, phosgene dan acrolein sebagian turut berperan.
Kebanyakan korban  dari kebakaran rumah, mati jauh dari pusat api, yang
mungkin terdapat pada ruangan berbeda atau lantai yang berbeda, jaringan

14
monoksida pada jarak jauh dan membunuh manusia walaupun sedang tidur
atau terperangkap pada saat di dalam gedung.
d)  Pada proses industri dapat meninggalkan keracunan monoksida khususnya
pada pekerja besi dan baja, yang menhasilkan gas dan gas air yang dengan
sengaja dihasilkan dari hasil pabrik. Gas air dapat terdiri dari > 40% CO dan
tiap harinya membentuk gas kekota untuk kebutuhan rakyat, yang
menambah kadar monoksida 7% dari batubara. Proses industri lain seperti
metode “the Mond“ yang memproduksi nikel, menggunakan CO, sama
seperti pada umumnya bahaya dari pemanasan proses produksi dimana
pembentukan gas selama pembakaran pada penambangan batu bara, CO
adalah salah satu gas yang menghasilkan ancaman yang jelas, yang keluar
dari lapisan-lapisan batu bara tapi yang dihasilkan dari asap hasil
pembakaran pada proses penambangan.
e) Pembakaran yang tidak sempurna pada gas api dari beberapa bahan bakar
gas yang menghasilkan CO, seperti api mengenai permukaan logam dingin
atau permukaan yang dilapisi dengan jelaga, oksidasi sebagian dari batubara
mengasilkan monoksida. Pada pemakaian batubara dari sumber butane atau
propane, camper dan boats, dapat memperburuk ventilasi yang secara lambat
dan berbahaya menghasilkan monoksida. Kematian seluruh keluarga pernah
terjadi pada keadaan ini, dimana mereka terekspos sepanjang malam
terakumulasi secara lambat oleh CO dari refrigerator dan alat lain.
3. Pencegahan Keracunan Karbon Monoksida

Lakukanlah beberapa hal berikut ini untuk mencegah terjadinya keracunan


karbon monoksida:

a) Hindari menyalakan mesin mobil di dalam garasi untuk waktu yang lama,
meskipun pintu garasi terbuka.

15
b) Jangan tidur di dalam mobil dengan keadaan mesin menyala dan semua
pintu serta jendela tertutup.
c) Hindari berenang atau berada di dekat jet ski atau kapal dengan mesin yang
menyala.
d) Hindari duduk untuk waktu yang lama di dekat alat pemanas yang
menggunakan gas atau minyak tanah.
e) Jangan membakar atau memanggang apa pun di dalam ruangan tertutup.
f) Pastikan Anda memasang ventilasi yang cukup, terutama untuk ruangan
yang memiliki alat yang bekerja dengan bahan bakar, seperti water heater.
g) Memasang alat detektor karbon monoksida di area yang berpotensi
mengalami kebocoran karbon monoksida serta menggantinya setiap 5 tahun
sekali.
h) Melakukan pemeriksaan berkala setahun sekali untuk memastikan semua
alat pemanas atau alat yang menggunakan bahan bakar masih dalam kondisi
baik.
i) Meletakkan genset di luar rumah, atau di ruangan yang memiliki jarak dari
ventilasi rumah, agar tidak menimbulkan polusi.

3. kontraindikasi dan indikasi

1. Indikasi
 Jauhkan pasien dari tempat kejadian
 Pakai APD sesuai tempat, kalo dirumah sakit pakai APD rumah sakit, kalo
dilapangan pakai APD lapangan
 Pemberian O2 100% dengan masker nonrebriting

2. kontraindikasi

16
Topik III
Keracunan Akibat Makanan
A. Cara Penanganan Keracunan Akibat Makanan

1. orang yang mengalami keracunan biasanya akan dehidrasi karena diare


dan muntah terus menerus. Supaya cairan tubuhnya tetap terjaga, maka ia
harus banyak-banyak minum air putih. Selain air putih, kamu juga
dapat mengkonsumsi air kelapa. Pasalnya, air kelapa memiliki manfaat
untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta menetralkan racun yang ada
pada tubuh.
2. untuk mengikat racun dalam saluran pencernaanmu, konsumsi saja tablet
karbon aktif yang diminum dengan air putih. Namun, jika tidak ada tablet
karbon aktif, kamu dapat mengkonsumsi susu untuk mengikat racun dan
merangsang orang yang keracunan untuk muntah, sehingga racun keluar
dan tidak beredar di dalam tubuh. Yang perlu kamu perhatikan, kamu
tidak dapat asal menggunakan susu. Susu yang bisa digunakan untuk
menetralkan racun, hanyalah susu murni tanpa bahan kimia.
3. eskipun kamu merasa tidak nyaman terus-menerus muntah atau diare,
jangan mengkonsumsi obat anti muntah maupun obat anti diare. Pasalnya,
muntah dan diare adalah mekanisme tubuh supaya racun-racun yang ada
dalam tubuhmu dapat dengan cepat keluar. Namun, jika memang kamu
telah mengalami dehidrasi parah dan muntah maupun diare tak juga
kunjung berhenti, lebih baik segeralah meminta pertolongan medis.
4. keracunan memang membuat banyak cairan dalam tubuhmu keluar dan
kamu merasa kelaparan. Namun, jangan memaksakan diri dengan
mengkonsumsi banyak makanan sekaligus. Sebagai gantinya, selain
banyak minum, kamu dapat mengkonsumsi makanan semacam sup
ayam. Hmmm, dimakan saat masih panas, sungguh terasa hangat di
badan.

17
5. istirahatlah yang cukup. 

B. Komplikasi Akibat Keracunan Makanan


1. Diare
2. Muntah Dan Mual
3. Perut Mulas Dan Kram
4. Demam
5. Sakit Kepala

C. kontraindikasi dan indikasi


1. Indikasi
 Minum air putih banyak-banyak
 Pemberian natrium bikarbonat
2. kontraindikasi
 Jangan berikan minuman bersoda, kopi, teh
 Jangan minum-minuman yang mengandung asam

18
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

KERACUNAN AKIBAT GIGITAN ULAR BERBISA


1) Pertolongan pertama harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan
ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh
korban sendiri atau orang lain yang ada ditempat kejadian. Tujuan
pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa,
mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum
mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini
yang membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan
medis.
Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang
cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang
tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak
terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat
meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening;
pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae; hindari
gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan
bisa dan menimbulkan pendarahan lokal.
2) Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yang aman
dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk
mencegah peningkatan penyerapan bisa.
3) Pengobatan gigitan ular Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai
pengelolaan gigitan ular. Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras
sehingga menghambat peredaran darah), insisi (pengirisan dengan alat tajam),
pengisapan tempat gigitan, pendinginan daerah yang digigit, pemberian
antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak terbukti manfaatnya.

19
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

KERACUNAN AKIBAT ZAT KIMIA KARBON MONOKSIDA

1) Pindahkan korban dari area ruangan yang penuh karbon monoksida atau buka
jendela di area yang tertutup agar oksigen bisa masuk.
2) Pindahkan korban ke area yang memiliki banyak oksigen.
3) Jika korban tak sadarkan diri, maka periksa terlebih dahulu kondisi fisiknya apakah
ada luka atau tidak. Salah penanganan awal akan berakibat fatal.
4) Hubungi layanan kesehatan darurat.
5) Cek pernapasan dan juga detak jantungnya sampai petugas kesehatan datang.
6) Jika korban tak sadarkan diri namun masih bernapas, maka posisikan mereka
dalam recovery position (pertolongan pertama posisi pemulihan) untuk menjaga
jalan napas korban yang tak sadar agar tetap terbuka. Posisi pemulihan adalah posisi
dengan satu lengan diluruskan dan tangan lainnya di area pipi dekat tangan lurus
7) Jika korban tak sadar dan tak bernapas lakukan CPR (harus dengan pelatihan
khusus).

20
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

KERACUNAN AKIBAT MAKANAN

1) orang yang mengalami keracunan biasanya akan dehidrasi karena diare dan
muntah terus menerus. Supaya cairan tubuhnya tetap terjaga, maka ia harus
banyak-banyak minum air putih. Selain air putih, kamu juga
dapat mengkonsumsi air kelapa. Pasalnya, air kelapa memiliki manfaat untuk
meningkatkan kekebalan tubuh serta menetralkan racun yang ada pada tubuh.
2) untuk mengikat racun dalam saluran pencernaanmu, konsumsi saja tablet karbon
aktif yang diminum dengan air putih. Namun, jika tidak ada tablet karbon aktif,
kamu dapat mengkonsumsi susu untuk mengikat racun dan merangsang orang
yang keracunan untuk muntah, sehingga racun keluar dan tidak beredar di dalam
tubuh. Yang perlu kamu perhatikan, kamu tidak dapat asal menggunakan susu.
Susu yang bisa digunakan untuk menetralkan racun, hanyalah susu murni tanpa
bahan kimia.
3) eskipun kamu merasa tidak nyaman terus-menerus muntah atau diare, jangan
mengkonsumsi obat anti muntah maupun obat anti diare. Pasalnya, muntah dan
diare adalah mekanisme tubuh supaya racun-racun yang ada dalam tubuhmu
dapat dengan cepat keluar. Namun, jika memang kamu telah mengalami
dehidrasi parah dan muntah maupun diare tak juga kunjung berhenti, lebih baik
segeralah meminta pertolongan medis.
4) keracunan memang membuat banyak cairan dalam tubuhmu keluar dan kamu
merasa kelaparan. Namun, jangan memaksakan diri dengan mengkonsumsi
banyak makanan sekaligus. Sebagai gantinya, selain banyak minum, kamu dapat
mengkonsumsi makanan semacam sup ayam. Hmmm, dimakan saat masih panas,
sungguh terasa hangat di badan.
5) istirahatlah yang cukup. 

21
BAB lll
PENUTUP
A. kesimpulan
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara
yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, penyakit, bahkan kematian
keracunan adalah masuknya zat racun kedalam tubuh baik melalui saluran
penceraan, saluran pernafasan, atau melalui kulit atau mukosa yang menimbulkan gejala
klinis
B. Saran
1. bagi penolong hendaknya mengetahui jenis-jenis anti dotum dan penanganan racun
berdasarkan jenis racunnya sehinga bisa memberikan pertolongan yang cepat dan
benar.
2. Begi penolong hendaknya melakukan penilaian terhadap tanda vital seperti jalan
nafas/pernafasan, sirkulasi dan penurunan kesadaran, sehingga penanganan tindakan
tidak terlambat dimulai.

22
DAFTAR PUSTAKA
Sartono. 2002. Racun dan keracunan cetakan 1. Jakarta : Widya Medika
Koeman, 1987 keracunan, yogyakarta : yayasan esentia medica
Hendrotomo. 1986. Keracunan dan penanggulangannya -1 PCCMI. SA.1., jakarta:konas-
PCCMI SA.1.

23