Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

“OBAT TRADISIONAL”
PEMANFAATAN RIMPANG KUNYIT (CURCUMA
DOMESTIKA VAL.) SEBAGAI PERAWATAN
KECANTIKAN KULIT
dan
IL-17A INHIBITIONS OF INDOLE, ALKALOIDS
FROM TRADITIONAL CHINESE MEDICIN QING
DAI

KELOMPOK : A

DOSEN : BUNGA RIMTA BARUS, S.Farm., Msi., Apt.

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA

DELI TUA

2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Obat
tradisional.
Dalam penulisan makalah ini banyak sekali hambatan-hambatan yang
disebabkan karena kurangnya referensi yang dapat saya pakai sebagai pedoman
dalam penulisan makalah ini. Namun, berkat kerja sama dan dukungan  dari
teman-teman yang lain maka makalah ini akhirnya dapat diselesaikan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar mata kuliah
karena dengan tugas yang diberikannya maka saya dapat lebih banyak mengetahui
tentang Obat Tradisional. Dan juga saya ucapkan terima kasih kepada teman-
teman mahasiswa yang telah memberikan dukungan sehingga terselesaikannya
makalah ini.
Saya sadar bahwa dalam penulisan makalah ini tentunya masih banyak
kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari dosen dan teman-
teman sangat berguna untuk memperbaiki penulisan makalah yang selanjutnya.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan
terutama bagi saya sendiri.

Delitua, 12 April 2020

2
DAFTAR ISI

KATA PENGATAR 2

DAFTAR ISI 3
PEMANFAATAN RIMPANG KUNYIT PERAWATAN
KECANTIKAN KULIT

BAB I : Pendahuluan 4
BAB II : Tinjauan Pustaka 5
BAB III : Hasil Dan Pembahasan
1.1. Hasil 7
1.2. Pembahasan 8
BAB IV : Kesimpulan 9

IL-17A MENGHAMBAT ALKALOID INDOLE DARI


PENGOBATAN TRADISIONAL TIONGKOK QING DAI

BAB I : Pendahuluan 10
BAB II : Tinjauan Pustaka 11
BAB III : Hasil dan pembahasan
1.1. Hasil 13
1.2. Pembahasan 14
BAB IV: Kesimpulan 15
DARTAR PUSTAKA 16

3
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan kekayaan tradisi baik yang tradisi yang tertulis
maupun tradisi turun-temurun yang disampaikan secara lisan. Hal ini menandakan
bahwa masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu telah mengenal ilmu
pengetahuan berdasarkan pengalaman sehari-hari mereka. Pengetahuan tersebut
antara lain perbintangan, arsitektur, pengobatan tradisional, kesusasteraan, dan
lain sebagainya Indonesia kaya akan pengetahuan mengenai pengobatan
tradisional. Hampir setiap suku bangsa di Indonesia memiliki khasanah
pengetahuan dan cara tersendiri mengenai pengobatan tradisional. Sebelum
dituliskan ke dalam naskah kuno, pengetahuan tersebut diturunkan secara turun-
temurun melalui tradisi lisan.
Menurut Djojosugito (1985), dalam masyarakat tradisional obat
tradisional dibagi menjadi 2 yaitu obat atau ramuan tradisional dan cara
pengobatan tradisional. Obat tradisional adalah obat yang turun-temurun
digunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit tertentu dan dapat
diperoleh secara bebas di alam. Perkembangan obat tradisional dan pengobatan
tradisional saat ini berkembang pesat sekali khususnya obat tradisional yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan
bahan-bahan tersebut, yang secara traditional telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 246/Menkes/Per/V/1990, tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan
Pendaftaran Obat Tradisional. Menurut UU Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan, dan Sediaan Farmasi. Dalam Undang Undang ini yang
dimaksud Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan
kosmetika. Dalam Undang-undang ini juga disebutkan bahwa hakekat obat atau
pengertian obat adalah bahan atau campuran yang dipergunakan untuk diagnosa,
mencegah, mengurangi, menghilangkan atau menyembuhkan penyakit, luka atau
kelainan badaniah dan mental pada manusia atau hewan, mempercantik badan
atau bagian badan manusia.

4
BAB II
PEMANFAATAN RIMPANG KUNYIT SEBAGAI PERAWATAN
KECANTIKAN KULIT
2.1. TINJAUAN PUSTAKA

Rimpang kunyit juga menyimpan berbagai zat kimia di dalamnya.


Kandungan utama rimpang kunyit adalah kurkuminoid dan minyak atsiri.
Kurkuminoid dan turunannya yaitu demetoksikurkumin dan bismideksikurkumin
pada tanaman kunyit memiliki konsentrasi sebesar 3% sampai 5%. Kurkuminoid
memiliki bentuk kristal prisma atau batang pendek, membentuk emulsi atau tidak
larut dalam air, namun kurkumin dapat dengan mudah larut dalam aseton, etanol,
metanol, bensen, dan khloroform. Tinggi tanaman ini 1,0-1,5 meter, tumbuh tegap
dan membentuk rumpun. Daunnya tunggal dan bertangkai, berbentuk lancet yang lebar,
ujung dan pangkalnya meruning, bertulang menyirip, permukaannya licin, dan berwarna
hijau pucat. Panjang daunnya sekitar 20-40 cm dan lebarnya sekitar 15-30 cm. Bunganya
merupakan bunga majemuk yang berbentuk kerucut yang muncul dari batang semunya.
Panjang bunga berkisar antara 10-15 cm, berwarna putih sampai kuning muda atau
kemerahan. Setiap bunga memiliki tiga lembar kelopak dan tiga lembar tajuk.
Zat kurkumin yaitu senyawa anti bakteri, protein yang dapat
mempertahankan elastisitas kulit yang berfungsi untuk mencegah timbulnya kerut
pada wajah. Caprilic Acid yang berfungsi membunuh kuman-kuman dan bakteri
yang terdapat pada wajah. Eugenol dan Cinole memiliki fungsi sebagai anti
bakteri dan dapat mengeringkan luka. Menurut Coleman, Vitamin A yang
merupakan salah satu jenis zat makanan berfungsi sebagai penghambat produksi
hormone yang berlebih pada kulit sehingga membantu menjaga sel epitel pada
penderita jerawat tetap baik. Sedangkan menurut Achyar, Vitamin A berguna
untuk memeprtahankan pertumbuhan normal dari sel epitel, yaitu sebagai
keratinasi yang bersifat melicinkan, melunakkan, dan memlihara jaringan epitel
serta meremajakan kulit. Rumus vitamin A adalah C20H29OH yang merupakan
senyawa pelindung epitel, vitamin anti infeksi, dan diperlukan tubuh untuk
memberi makan lemak di bawah kulit.
Bahan yang memiliki fungsi yang sama dengan vitamin A adalah vitamin
C yang merupakan senyawa yang mudah larut dalam air, bersifat asam dan tidak

5
memiliki bau. Rumus empiris vitamin C adalah C6H6O6 dengan kimia asam
karbonat. Vitamin ini sangat berguna sebagai anti oksida yang berfungsi mengikat
dan menetralkan racun yang dihasilkan pada proses metabolism dalam tubuh
sehingga kemungkinan kerusakan jaringan tubuh dapat dikurangi. Selain itu,
kunyit juga mengandung zat pati yang dapat menumpukkan sel-sel yang saling
melekat ke permukaan kulit. Serta kunyit mengandung fosfor yang dapat
mengangkat sel-sel lapisan tanduk dan dapat melembutkan kulit wajah.

Kunyit sebagai Obat Jerawat. Di dalam kunyit terdapat zat yang disebut
kurkumin, yaitu senyawa anti bakteri, caprilic acid yang dapat membunuh kuman,
eugenol dan cinole yang dapat melawan berkembangnya bakteri. Zat-zat inilah
yang berperan di dalam tahap pertama yaitu membunuh bakteri dan kuman
dahulu, sehingga peradangan dapat berkurang dan tidak berkembang. Karena
peradangan berkurang, jerawat akan mengering. Untuk mengembalkan kulit ke
dalam kondisi semula, di dalam kunyit juga mengandung Vitamin A yang
memiliki kecepatan dalam melawan penyakt kulit dan infeksi, protein yang
berguna untuk mempertahankan elastisitas kulit, fosfor yang dapat membuat kulit
halus dan lembut, karbohidrat yang berguna mengangkat pemupukan sel-sel yng
seling melekat di permukaan kulit. Zat lain yang berpengaruh yaitu Vitamin C.

Di Indonesia, kunyit digunakan sebagai salah satu bumbu rimpang yang


populer. Kunyit umumnya di masyarakat terdapat 2 macam yaitu kunyit kuning
dan kunyit putih. Keduanya memiliki aroma yang khas. Ukuran kunyit putih lebih
kecil jika dibandingkan dengan kunyit kuning. Kunyit kuning digunakan sebagai
bahan dasar pembuatan lulur Jawa. Lulur membuat sel-sel kulit mati terangkat
sehingga kulit menjadi bersih dan mulus. Kunyit juga dimanfaatkan untuk
menyembuhkan infeksi kulit seperti eksim. Selain sebagai lulur, kunyit juga
merupakan salah satu bahan dasar minuman tradisional jamu. Agar memiliki kulit
yang sehat luar dan dalam, minum air kunyit secara teratur. Cara membuatnya
yaitu parut 50 gram kunyit, didihkan dalam air, dan campur dengan gula jawa
secukupnya. Biarkan mendidih dengan api kecil sampai air tinggal setengahnya.
Saring ramuan kunyit. Siap diminumyang berguna sebagai zat pengatur untuk
kesehatan kulit.

6
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. HASIL
Hasil dari penelitian menunjukkan pemanfaatan rimpang kunyit (Curcuma
domestica) sebagai perawatan kecantikan kulit telah diakui sejak masa yang lama.
Pemanfaatan rimpang kunyit sebagai perawatan kecantikan kulit diaplikasikan
atau dapat dikonsumsi melalui dalam dan luar tubuh. Perawatan dari dalam tubuh
yang dimaksud yaitu mengonsumsi rimpang kunyit dengan cara diminum. Zat
yang dikonsumsi dengan diminum akan masuk ke dalam tubuh yang kemudian
akan berkhasiat sesuai dengan yang zat yang terkandung dalam zat tersebut. Pada
penulisan tugas akhir ini, maka kunyit yang dikonsumsi dengan cara diminum
akan berkhasiat terhadap tubuh untuk kecantikan kulit karena menyehatkan tubuh.
Sebagai perawatan kecantikan kulit telah diakui sejak masa yang lama.
Dibuktikan dengan adanya peninggalan koleksi lumpung dan lesung serta alu dan
cobeknya yang terbuat dari batu zaman Neolitik, yang dipakai untuk menggiling
atau untuk menumbuk dedaunan menjadi ekstrak dan serbuk. Pemanfaatan
rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.) sebagai perawatan kecantikan kulit
diaplikasikan atau dapat dikonsumsi melalui dalam dan luar tubuh. Jika melalui
dalam tubuh, dapat dikonsumsi sebagai minuman segar. Jika dikonsumsi sebagai
perawatan dari luar tubuh akan memberikan 7 manfaat berdasarkan studi pustaka
yang dilakukan penulis sebagai berikut: obat jerawat, aromatherapy, lulur dan
mangir, boreh/parem, masker, rempah mandi, penghapus area hitam ketiak dan
leher.

N BAHAN AKTIF JUMLAH


O
1 Protein 0.090 g
2 Lemak 0.008 g
3 Karbohidrat/pati 11.250 g
4 kurkumin 1.205 g
5 tanin 0.003 g
6 Vitamin c 3.250 g
7 hidroksiracaikol 0.005 g

7
3.2 PEMBAHASAN

Zat kurkumin yaitu senyawa anti bakteri, protein yang dapat


mempertahankan elastisitas kulit yang berfungsi untuk mencegah timbulnya kerut
pada wajah. Caprilic Acid yang berfungsi membunuh kuman-kuman dan bakteri
yang terdapat pada wajah. Eugenol dan Cinole memiliki fungsi sebagai anti
bakteri dan dapat mengeringkan luka. Menurut Coleman, Vitamin A yang
merupakan salah satu jenis zat makanan berfungsi sebagai penghambat produksi
hormone yang berlebih pada kulit sehingga membantu menjaga sel epitel pada
penderita jerawat tetap baik. Sedangkan menurut Achyar, Vitamin A berguna
untuk memeprtahankan pertumbuhan normal dari sel epitel, yaitu sebagai
keratinasi yang bersifat melicinkan, melunakkan, dan memlihara jaringan epitel
serta meremajakan kulit. Rumus vitamin A adalah C20H29OH yang merupakan
senyawa pelindung epitel, vitamin anti infeksi, dan diperlukan tubuh untuk
memberi makan lemak di bawah kulit. Bagian utama tanaman kunyit adalah
rimpangnya yang merupakan tempat tumbuhnya tunas. Kulit rimpang berwarna
kecoklatan dan bagian dalamnya berwarna kuning tua, kuning jingga, atau kuning
jingga kemerahan sampai kecoklatan. Rimpang utama berbentuk bulat panjang
seperti telur yang merupakan induk rimpang (bulb) yang biasa disebut empu atau
kunir lelaki. Rimpang induk membentuk cabang yang letaknya lateral dan
berbentuk seperti jari (fingers) yang lurus atau melengkung. Induk rimpang
rasanya agak pahit, getir, kaya akan pigmen dan resin. Sedangkan anak rimpang
rasanya agak manis dan berbau aromatis. Kurkuminoid berbentuk kristal prisma
atau batang pendek, membentuk emulsi atau tidak larut dalam air, dan mudah
larut dalam aseton, etanol, metanol, bensen, dan khloroform. Senyawa tersebut
memberikan flouresensi warna kuning, jingga, sampai jingga kemerahan yang
kuat di bawah sinar ultra violet yang tidak stabil jika terkena sinar matahari dan
menjadi stabil apabila dipanaskan. Kandungan minyak atsiri rimpang kunyit
berkisar antara 2,5-6,0 , yang terdiri dari komponen artumeron, alfa dan beta
tumeron, tumerol, alfa atlanton, beta kariofilen, linalol, 1,8 sineol, zingiberen, dd
felandren, d-sabinen, dan borneol. Selain kurkuminoid dan minyak atsiri, rimpang

8
kunyit juga mengandung senyawa lain seperti pati, lemak, protein, kamfer, resin,
damar, gom, kalsium, fosfor, dan zat besi.

BAB IV
KESIMPULAN
Setelah melakukan studi pustaka dari berbagai sumber, penulis
mendapatkan hasil bahwa pemanfaatan rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.)
sebagai perawatan kecantikan kulit telah diakui sejak masa yang lama. Dibuktikan
dengan adanya peninggalan koleksi lumpung dan lesung serta alu dan cobeknya
yang terbuat dari batu zaman Neolitik, yang dipakai untuk menggiling atau untuk
menumbuk dedaunan menjadi ekstrak dan serbuk. Serta bukti lain pada
peninggalan di Candi Borobudur yang terdapat ukiran bermakna pemakaian
tanaman dan rempah-rempah sebagai obat dan perawatan kesehatan dan
kecantikan. Pemanfaatan rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.) sebagai
perawatan kecantikan kulit diaplikasikan atau dapat dikonsumsi melalui dalam
dan luar tubuh. Jika melalui dalam tubuh, dapat dikonsumsi sebagai minuman
segar. Jika dikonsumsi sebagai perawatan dari luar tubuh akan memberikan 7
manfaat berdasarkan studi pustaka yang dilakukan penulis sebagai berikut: 1) obat
jerawat 2) aromatherapy 3) lulur dan mangir 4) boreh/parem 5) masker 6) rempah
mandi 7) penghapus area hitam ketiak dan leher. Kesimpulan harus mengindikasi
secara jelas hasil-hasil yang diperoleh, kelebihan dan kekurangannya, serta
kemungkinan pengembangan selanjutnya.

9
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan hayati yang cukup
besar yang dapat dikembangkan untuk obat1 tradisional yang merupakan bahan
atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan
sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun
telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Dokumen kebijakan
Obat tradisional (Kotranas) tahun 2006 mencatat ada 30.000 jenis tumbuhan yang
teridentifikasi di Indonesia, 7.500 diantaranya tergolong tananam obat. Indonesia
dengan memiliki 30.000 species tumbuhan dan diketahui sekurang-kurangnya
9.600 species tumbuhan berkhasiat sebagai obat dan kurang lebih 300 species
telah digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh Industri obat tradisional,
merupakan pasar yang potensial bagi pengembangan Bahan Baku Obat
Tradisional. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2001 mencatat
sebanyak 57, 7 % penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri tanpa
bantuan medis, 31, 7 % diantaranya menggunakan tumbuhan obat tradisional dan
9,8 % memilih bentuk pengobatan tradisional lainnya. Keadaan demikian tidak
hanya terjadi di Indonesia bahkan di sebagian besar negara berkembang.
Obat tradisional, termasuk obat herbal4, telah, dan terus digunakan di
setiap negara di seluruh dunia dalam beberapa kapasitas. Di sebagian besar negara
berkembang, 7095% dari populasi bergantung pada obat-obat tradisional untuk
perawatan primer. Di beberapa negara industri, penggunaan obat tradisional
adalah sama penting; Kanada, Perancis, Jerman dan Italia misalnya, melaporkan
bahwa antara 70% dan 90% dari populasi mereka telah menggunakan obat
tradisional Obat tradisional selalu memainkan peran penting dalam kesehatan
dunia dan terus digunakan untuk mengobati berbagai macam keluhan. Obat
tradisional digunakan di setiap negara di dunia, dan telah menjadi andalan dengan
mendukung, mempromosikan, mempertahankan dan memulihkan kesehatan
manusia. WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk obat herbal
dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit,

10
terutama untuk kronis, penyakit degeneratif dan kanker. Dukungan WHO tersebut
lebih menguntungkan bagi Indonesia dalam mengembangkan produk herbalnya.
BAB II
IL-17A MENGHAMBAT ALKALOID INDOLE DARI PENGOBATAN
TRADISIONAL TIONGKOK QING DAI
2.1 TINJAUAN PUSTAKA

Sebuah pengobatan yang terkenal dari cina (TCM), di persiapkan melalui


proses fermentasi secara singkat dan dramatis dengan bagian udara dari
steobilanthes custa. TCM dapat mengobati berbagai penyakit radang kllinis,
seperti ulcerative colitis dan psoriasis, namun komponen bioaktif dari qing dai
tidak diketahui dengan jelas. Tujuan penelitian ini untik mengisolasi dan
mengidentifikasi komponen anti-IL-17A dari oing dai bahan dan metode silica,
RP-18 gels, dan getah luar yang berukuran digunakan untuk colomn
kromatosraphy guna memisahkan senyawanya.
Struktur isolasinya bercluciasi oleh NMR, MS, UV, IR spectra dan rotasi
optik. IL-17A ekspresi protein dan gen juga dievaluasi dalam model sel Th17 dan
dan lucuferase reporter assay. Hasilnya adalah dua indole alkaloid, termasuk satu
indigodole D dan cephalandole B baru, terisolasi dari qing dai. Indigodole D bisa
menghambat IL-17A produksi protein selama Th17 polarisasi atau setelah
polarisasi. Tanpa sitositas terhadap sel Th17 cephalandole B tak menghambat I-
17A sekresi protein. Keduanya mengisolasi IL-17A ekpresi gen yang
menghambat noably, terutama ce phalandole B, dengan cara tergantung pada sel
jukad dengan IL-17A reporter luciferasi D, triptantrin, dan initibin bisa
berkontribusi untuk anti-IL-17A QING DAI. Kemungkinan adanya mekanisme
blogentik yang di sebut-sebuut di atas juga berspekkulasi dalam penyelidikan
TCM adalah obat tradisional yang terkenal dicina, berisi bubuk kering
yang ke abuan yang dipersiapkan oleh proses fermenta tradisional. TM ini dapat
teat varoun cinical inamasis, seperti ukcereative colits dan pworiasis. Obat
tradisional ini terdapat di apotek Taiwan satu dari kandidat yang digunakan untuk
memproduksi qing dal. Ekstraksi dan phytochemicals murni S cusia
meninggalkan akar dan memperlihatkan banyak khasiat farmakologi,
menghambat virus anti herpes type-1, anti influenza A virus , anti sindrom

11
pernnafasan akut dan parah (SARS), anti jamur, anti-inflamasi, antinociceptive,
dan efek antipiretik.

Banyak metabolis sekunder seperti alkaloid, pena oid, flavonoid, kejang,


lignans, fenylethanoids, dan isocoumarin telah terisolasi dari spesies ini. Namun
hambatan dari interleukin 17(IL-17) dari S. Cusia dan obat yang dpat di proses
qing dai. Qing dai dapat memberikan pendekatan yang sangat efektif untuk tidak
hanya perut api (IBD) penggunaan mulut dalam trapi klinis. Selain itu minyak
yang qing dai dapat secara signifikan memebalikan ekspresi gen IL-17A dalam
lesioris kulit psoriatik dalam studi kami sebelumnya. Oleh karena itu, qing dai anti
IL-17A komponen yang menarik bagi kami dan TCM ini diperlukan untuk
mengklarifikasi fitur-fitik aktif untuk tahap klinis appli cationt lebih lanjut.
Penyelidikan kami sebelumnya menunjukkan bahwa indole alkaloid bisa
berkontrubusi terhadap anti IL-17A sifat qing dai yang di persiapkan dari bagian
udara S. Cusia.Dikenakan kolok silika gel untuk menghasilakn tujuh subfraksi,
subpraksi murni, yang dimurnikan denganRP-18 colunn. Untuk mendapatkan
subfraksi stx, subfraksi INEA menjadi sasaran kromatografi gel RP-18 umtuk
mendapatkan 4 subpraksi. Selanjutnya dipisahkan oleh kromatografi gel HW-40P
dan letak subfraksi IN 231. Indigodole D (1) bubuk kuning.

Obat yang di proses dari tanaman indigo, telah digukan trapi klinis ini
model untuk banyak penyakit radang. Tapi komponen ac yang di laporkan hanya
jarang dan kami percaya mereka layak untuk penyelidikan lebih lanjut. Dalam
studi ini, dua indole alkaloid, dalm cluding indgodole D baru (1), dipilih dari king
dan kedua isolat menunjukan hambatan ketergantungan pada LL-17A indigodole
A, indigodole C, triptanthrin, dan inkedatbin bisa berkontribusi untuk anti IL-17A
sifat dari qing dai juga. Sampai poadble blogenctie mekanisme dari abave di
sebutkan oleh kami juga bespekulasi oleh kami dan dapat memberikan informasi.
Berbagai poduk herbal merupakan hasil olahan dan pengetahuan
tradisional masyarakat Indonesia. Produk obat herbal7 dan jenis obat-obatan
tradisional lainnya dibuat dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh
masyarakat Indonesia secara turun temurun. Pengetahuan tradisional tersebut
merupakan suatu pengetahuan yang digunakan dan dikembangkan oleh

12
masyarakat Indonesia di masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
Pengetahuan tradisional merupakan pengetahuan masyarakat yang telah diketahui
secara turun temurun.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. HASIL
Dua alkaloid indol, termasuk 1 indigodole D dan cephalandole B yang
baru, diisolasi dari Qing Day. Indigodole D dapat menghambat produksi protein
IL-17A selama polarisasi Th 17 (EC50: 2,16 mcg/ml) atau setelah polarisasi
(EC50: 5,99 mcg/ml) tanpa sitotoksisitas terhadap sel Th 17.
Cephalandole B tidak menghambat sekresi protein IL-17A. Namun
demikian, kedua isolat terutama menghambat ekspresi gen IL-17A, terutama
phalandole B, dalam cara yang tergantung dosis pada sel jukat dengan reporter
IL-17A luciferase.

13
3.2 PEMBAHASAN

Ekstrak MeOH atau bubuk qing dai dipartisi menjadi EOAc. Dan Ho
ekstrak larut, kemudian satu formet adala vepa lebih jauh dinilai ke heuane dan
fraktur larut MeoH. Fraksinasi kromatografi dari akrive MeoH larut satu
indigodole D1 baru dan dikenal sefalandol B2. Masing-masing mendukung
adanya NH dan gugus karbonil. Penyerapan IR lainnya pada 1605, 1487, dan
1462 cm 199.9 dan 200.3 1D NMR, HSOC, dan asio data yang nyaman
menunjukkan adanya tiga set cicin bnzena yang dileburkan. Data MS dan NMR 1
sama dengan indigodole A, kecuali bahwa 1 memiliki etil moie 2m ini dan
koneksi HMBC utama lainya ditunjukan pada spektrum NOESY menunjukan
korelasi NH-1, H-2 dan H-1.
Pengaruh dari lulats L-17A nhbein limfosit utama C, adalah polaried into
Th17 sel untuk menyelidiki efek rwo indole alkaloid 1 dan 2 pada Th17 kutub dan
L-17A cretion setelah 17 kutup. Kami berhasil menemukan te levd dari L-17A
fron prith 17 CTL dengan adling ceupsud 1 dan 2 untuk 16 h setelah Th17 polar
inaton. Senyawa 1 bisa sigoy inhitit L-17 poadukty untuk mi7 cil 4C dan D.

14
BAB IV
KESIMPULAN
Alkaloid indol, indigodol A, C, D, tryptanthrin, dan indirubin dapat
berkontribusi terhadap anti IL-17A dari Qing Dai. Mekanisme biogenetik yang
mungkin dari indol yang juga berspekulasi dalam investigasi ini untuk
pengembangan obat timah anti IL-17A. Obat ini juga harus mengindikasi secara
jelas hasil-hasil yang diperoleh, kelebihan dan kekurangannya, serta kemungkinan
pengembangan selanjutnya. Obat yang di proses dari tanaman indigo, telah
digunakan terapi klinis untuk banyak penyakit radang.

15
DAFTAR PUSTAKA

Lee Chia-Lin, Wang Chien-Ming (2020). IL-17A Inhibitions of Indole, Alkaloids

From Traditional Chinese Medicin Qing Dai. Journal Of

Etmopharmacology. 225

Asnia Marisa, dkk (2019). Pemanfaatan Rimpang Kunyit (Curcuma Domestica

Val) Sebagai Perawatan Kecantikan Kulit. Universitas Negri Jakarta.

16