Anda di halaman 1dari 9

TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI

HIP DAN ACETABULUM

Disusun oleh:

Kelompok 3

DHEA EKA SAFITRI (32171004)

PUTRI VICADILLA (32171005)

YUSUF STEVEN HUBERT (32171007)

PROGRAM STUDI D3 RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMINA BINA MEDIKA JAKARTA

Jl. Bintaro Raya No. 10, Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, 12240

Tahun Ajaran 2017-2018


HIP JOINT

1. PROYEKSI AP

Ukuran film 10 x 12 inch (24 x 30 cm) vertical.


A. POSISI PASIEN
Pasien supine atau telentang.
B. POSISI OBJEK
Atur pelvis sehingga tidak ada rotasi, hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan
SIAS dengan jarak yang sama, lalu tempatkan lengan pasien pada posisi yang
nyaman, kemudian putar ke arah medial tungkai bawah dan kaki sekitar 15-20 derajat
untuk menempatkan leher femoral sejajar dengan IR. Kecuali jika kontra indikasi atau
instruksi lainnya diberikan. Gunakan shield gonads (pelindung).
C. CENTRAL RAY
Perpendicular.
D. CENTRAL POINT
2,5 inch (6 cm) distal pada sebuah garis yang ditarik tegak lurus ke titik tengah antara
SIAS dan symphysis pubis.
E. SRUKTUR GAMBARAN
Hasil gambaran akan menunjukan pangkal atau kepala trochanter dan batang ketiga
proximal tulang paha. Pemeriksaan pertama yang dilakukan pada hip adalah periksa
apakah ada traumatik atau kelainan patologis pada proyeksi AP, sering dibuat foto
cukup besar untuk mencakup keseluruhan kaset dan femur atas, dalam kesehariannya
biasanya dibatasi
F. KRITERIA
1) Ilium, acetabulum, caput femoris, collum femoris, corpus femoris.
2) Hip joint.
3) Trochanter major terlihat pada tempatnya.
4) Symphysis pubis.
5) Trochanter minor.

2
2. PROYEKSI LATERAL
(Mediolateral Metode Lauenstein dan Hickey)

Metode Lauenstein dan Hickey digunakan untuk menunjukkan persendian hip dan
hubungan pangkal femur dengan acetabulum. Karena berbahaya pergeseran pecahan pada
luka, posisi ini tidak dilakukan apabila pasien dalam keadaan trauma, fraktur yang tidak
sembuh, atau penyakit destruktif/perusak, posisi ini disebut juga sebagai “kaki kodok”.
A. POSISI PASIEN
Posisi tubuh pasien dimiringkan ke arah sisi yang diperiksa.
B. POSISI OBYEK
Atur tubuh dan pusatkan hip yang diperiksa ke garis tengah grid, lalu minta pasien
untuk memfleksikan kaki yang diperiksa dan tarik paha naik mendekati sisi kanan
tubuh. Objek yang diperiksa parallel terhadap meja pemeriksaan. Luruskan tungkai
yang tidak diperiksa dan di bawah lutut disupport setinggi hip. Atur posisi pelvis
sehingga sisi atas berotasi secara posterior untuk menjaga tidak terjadi superposisi
pada pinggul yang diperiksa. Gunakan shield gonads
C. CENTRAL RAY
Perpendicular.
D. CENTRAL POINT
Di tengah-tengah antara SIAS dan Symphysis pubis.
E. SRUKTUR GAMBARAN
Hasil gambaran akan menunjukkan sebuah proyeksi lateral hip yang menunjukkan
bagian acetabulum, ujung proximal tulang paha dan hubungan pangkal femoral ke
acetabulum.
F. KRITERIA
1) Hip joint terpusat pada pertengahan film.
2) Tergambar persendian hip, acetabulum, dan proximal femur.
3) Collum femur superposisi dengan trochanter.

3
3. PROYEKSI AXIOLATERAL
(Modifikasi Danelius-Miller Metode Loreaz)

Ukuran film 8 x 10 in (18 x 24 cm) memanjang.


A. POSISI PASIEN
1) Atur pasien dalam posisi supine atau telentang.
2) Ketika memeriksa objek yang kurus, angkat pelvis pasien dan beri bantal,
gunanya untuk memusatkan bagian yang menonjol dari trochanter major tepat
berada di pertengahan kaset.
3) Ganjal tungkai yang diperiksa setinggi hip dengan menggunakan sandbag saat
pelvis diangkat.
B. POSISI OBJEK
Fleksikan lutut pada sisi yang tidak diperiksa dan atur tungkai dalam posisi yang
tidak menggangu dengan arah sinar, sandarkan kaki yang tidak diperiksa, letakkan
paha yang tidak diperiksa pada posisi vertical, dan atur pelvis sehingga tidak rotasi.
Kecuali bila terjadi kontra indikasi, pegang lutut dan kaki dirotasikan internal
sehingga tungkai yang diperiksa oblique sekitar 15-30 derajat. Sandbag dapat
digunakan untuk menahan kaki dalam posisi ini, manipulasi prosedur terhadap pasien
bila pasien dalam keadaan fraktur yang belum sembuh maka harus dilakukan oleh
seorang dokter ahli. Gunakan sheild gonads.
C. CENTRAL RAY
Perpendicular.
D. CENTRAL POINT
Neck of femoral.
E. STRUKTUR GAMBARAN
Hasil gambaran akan menunjukkan kepala, leher dan trochanter tulang bawah.
F. KRITERIA
1) Leher femoral tanpa overlap dari trochanter major.
2) Hanya sebagian kecil dari trochanter minor pada permukaan posterior tulang
paha.
3) Persendian hip dan acetabulum.

4
4. PROYEKSI AXIOLATERAL
Metode Clements-Nakayama

Ketika pasien didapatkan mengalami fraktur hip bilateral, arthropolasiv hip bilateral
(pembedahan plastic persendian pelvis) atau pembatasan gerak kaki yang tidak diperiksa,
pendekatan dengan cara sebelumnya tidak dapat dilakukan. Clements dan Nakayama
menjelaskan sebuah modifikasi dengan menggunakan sebuah penyudutan 15 derajat ke
arah posterior.
Ukuran film 10 x 12 in (24 x 30 cm).
A. POSISI PASIEN
Posisikan pasien di atas meja pemeriksaan dalam posisi supine dengan sisi yang
diperiksa mendekati tepi meja.
B. POSISI OBJEK
Untuk posisi ini tungkai bawah tidak dirotasikan secara internal tetapi tetap dalam
posisi netral atau sedikit berotasi eksternal. Posisi kaki ini akan menghasilkan
gambaran lateral hip karena central ray disudutkan 15 derajat ke arah posterior,
kecuali jari-jari kaki yang dirotasikan internal. Support grid kaset di atas bucky tray,
letakkan grid pada pertengahan garis grid pada film parallel dengan lantai. Atur
permukaan grid agar tegak lurus terhadap central ray, sehingga harus dimiringkan 15
derajat ke belakang. Gunakan shield gonads.
C. CENTRAL RAY
15 derajat posterior dan tegak lurus terhadap collum femoris
D. CENTRAL POINT
Collum Femoris.
E. STRUKTUR GAMBARAN
Hasil gambaran akan memperlihatkan tulang paha bagian proximal yang mencakup
kepala, leher, dan trochanter dalam posisi lateral. Modifikasi Clements dan
Nakayama dapat dibandingkan dengan pendekatan Metode Danelius-Miller yang
telah dijelaskan sebelumnya.

5
F. KRITERIA
1) Hip joint dan acetabulum.
2) Kepala, leher, dan trochanter dari femoral.
3) Soft tissue paha yang tidak diperiksa tidak overlap dengan hip joint dan bagian
proximal femur.

ACETABULUM

1. PROYEKSI PA AXIAL OBLIQUE (RAO DAN LAO)


(Metode Teufel)

Ukuran film 8 x 10 inch (18 x 24 cm) memanjang.


A. POSISI PASIEN
Pasien diperintahkan dalam posisi setengah telungkup pada sisi yang diperiksa.
B. POSISI OBYEK
Tinggikan sisi yang tidak diperiksa sehingga permukaan anterior tubuh membentuk
sudut 38 derajat dengan meja pemeriksaan. Dengan kaset berada di dalam bucky tray,
atur posisi sehingga titik tengah film bertepatan dengan central ray. Shield gonads
dengan menggunakan kolimasi tertutup. Pasien diperintahkan untuk menahan nafas
selama eksposi.
C. CENTRAL RAY
Arahkan central ray pada acetabulum dengan sudut 12 derajat cephalad.
D. CENTRAL POINT
Central ray menembus tubuh bagian belakang setinggi coccyx dan kira-kira 2 inch
arah lateral dari medial sagittal plane kearah sisi yang diperiksa.
E. STRUKTUR GAMBARAN
Hasil gambaran akan menunjukkan fovea cavity dan terutama dinding acetabulum
F. KRITERIA
1) Hip joint dan acetabulum pada pertengahan film radiografi
2) Profile kepala femoral akan menunjukan concafe dari fovea capitis.

6
2. PROYEKSI AP OBLIQUE

(JUDET METHOD1 MODIFIED JUDET METHOD2 LPO position)

Judet menjelaskan dua buah posisi oblique posterior yang berguna untuk mendiagnosa
fraktur acetabulum. Kedua posisi oblique posterior 45 derajat, yaitu oblique rotasi
internal (sisi yang diperiksa) dan oblique rotasi eksternal (sisi yang diperiksa). Pada
kedua sisi tersebut central ray diarahkan tegak lurus ke acetabulum.

LPO Position

A. POSISI PASIEN
Tempatkan pasien dalam posisi oblique posterior dengan pinggul menempel pada
kaset.
B. POSISI OBYEK
Sejajarkan tubuh, dan pusatkan pinggul yang diperiksa ke tengah IR, kemudian
angkat sisi yang terkena sehingga permukaan anterior tubuh membentuk sudut 45
derajat dari meja.

C. CENTRAL RAY
Perpendicular.

D. CENTRAL POINT
2 inci (5 cm) lebih rendah dari  SIAS.

F. KRITERIA

1) Acetabulum berpusat pada IR.


2) Menggambarkan area columna Iliopubica dan rima posterior acetabulum dalam
posisi oblique internal (oblique kea rah dalam).
3) Soft tissue and bony trabecular.

RPO Position

A. POSISI PASIEN

Tempatkan pasien dalam posisi oblique posterior dengan pinggul menempel pada kaset.

7
B. POSISI OBJEK
Sejajarkan tubuh, dan pusatkan pinggul yang diperiksa ke tengah IR, kemudian
tinggikan sisi yang tidak diperiksa sehingga permukaan anterior tubuh membentuk
sudut 45 derajat dari meja.
C. CENTRAL RAY
Tegak lurus.
D. CENTRAL POINT
Symphysis Pubis.
E. KRITERIA
1) Acetabulum berpusat pada IR.
2) Menggambarkan area columna ilioishica dan rima anterior acetabulum dalam
posisi oblique eksternal (oblique ke arah luar).
3) Soft tissue dan serat-serat tulang tergambar jelas.