Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN
2.1.    Pengertian Merger, Konsolidasi, Akuisisi, Dan Divestasi
A. Merger
Merger adalah penggabungan dari 2 (dua) Bank atau lebih, dengan cara tetap
mempertahankan berdirinya salah satu Bank dan membubarkan Bank-bank lainnya tanpa
melikuidasi terlebih dahulu. Merger adalah salah satu strategi ekspansi perusahaan atau
restrukturisasi perusahaan dengan cara menggabungkan dua perusahaan atau lebih. Dalam
merger hanya ada satu perusahaan yang dibiarkan hidup, sementara perusahaan lainnya
dibubarkan tanpa likuidasi. Merger adalah penggabungan dua perusahaan menjadi satu,
dimana perusahaan yang me-merger mengambil/membeli semua assets dan liabilities
perusahaan yang di-merger dengan begitu perusahaan yang me-merger memiliki paling tidak
50% saham dan perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan pemegang sahamnya
menerima sejumlah uang tunai atau saham di perusahaan yang baru ( (Brealy, 1999). Definisi
merger yang lain yaitu sebagai penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan yang lain.
Dalam hal ini perusahaan yang membeli akan melanjutkan nama dan identitasnya. Perusahaan
pembeli juga akan mengambil baik aset maupun kewajiban perusahaan yang dibeli. Setelah
merger, perusahaan yang dibeli akan kehilangan/berhenti beroperasi (Harianto, Merger Dan
Akuisis, 2001)
B. Konsolidasi
Konsolidasi adalah penggabungan dari 2 (dua) Bank atau lebih, dengan cara mendirikan Bank
baru dan membubarkan Bank-bank tersebut tanpa melikuidasi terlebih dahulu.
Konsolidasi adalah situasi di mana perusahaan yang terpisah menjadi satu. Kadang-kadang
digambarkan sebagai merger, meskipun secara teknis ini adalah dua situasi yang berbeda.
Dalam merger, baru bisnis terbentuk ketika satu perusahaan menyerap yang lain, dalam
konsolidasi, perusahaan bergabung pada istilah yang relatif sama untuk membentuk satu
perusahaan baru..Namun, kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian. Konsolidasi
dapat juga dikatakan menyatukan seluruh sumber daya, peluang dan kekuatan untuk
memenangkan persaingan jangka panjang, Memenangkan persaingan berarti menjadi yang
terbaik dalam melayani kebutuhan konsumen/klien saat ini dan dimasa datang.  Konsolidasi
dilakukan dengan mengevaluasi kondisi usaha saat ini, diteruskan dengan pengembangan
strategi usaha jangka panjang, strategi tersebut dibuat lebih terperinci dalam bentuk
perencanaan dengan sasaran bergerak ke jangka menengah dan panjang yang meliputi
pengembangan sistem manajemen agar perencanaan dan implementasi bisa sejalan,
memberikan perioritas pada pengembangan yang dilakukan secara terus menerus,
pengembangan pasar dilakukan sistimatis dan efisiensi menjadi acuan prestasi. Berdasarkan
Pasal 1 angka 10 UU RI Nomor 40 Tahun 2007, peleburan (konsolidasi) adalah perbuatan
hukum yang dilakukan oleh dua perseroan terbatas atau lebih, untuk meleburkan diri dengan
cara mendirikan satu perseroan tebatas yang baru yang karena hukum memperoleh akitva dan
pasiva dari perseroan terbatas yang meleburkan diri dan status badan hukum perseroan
tebatas yang meleburkan diri berakhir karena hukum. Sementara Pasal 1 angka PP Nomor 27
Tahun 1998, peleburan (konsolidasi), adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua
perseroan terbatas atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara membentuk satu perseroan
terbatas baru dan masing-masing perseroan terbatas yang meleburkan diri menjadi bubar.
 Contoh : pembentukan Bank Mandiri yang berasal dari peleburan empat Bank BUMN yang
sedang sekarat akibat dampak krisis moneter 1997/1998, yaitu Bank BDN, Bank Bumi Daya,
Bank Ekspor Impor, dan Bank Bapindo. Kebijakan peleburan empat Bank BUMN tersebut
diambil pemerintah guna menyelematkan bank dari risiko kebangkrutan karena pada saat itu
modal keempat Bank BUMN tersebut sudah negatif.
C. Akuisisi
Akuisisi adalah pengambil-alihan (takeover) sebuah perusahaan dengan membeli saham atau
aset perusahaan tersebut, perusahaan yang dibeli tetap ada. (Brealey, Myers, & Marcus, 1999,
p.598). Akuisisi dilakukan dengan cara mengambil alih seluruh atau sebagian saham yang
mengakibatkan beralihnya pengendalian Bank kepada pihak yang mengakuisisi.
Pengambilalihan saham Bank baik secara langsung maupun melalui Bursa Efek, yang
mengakibatkan kepemilikan saham oleh pemegang saham perorangan atau badan hukum
menjadi lebih dari 25% dari saham Bank yang telah dikeluarkan dan mempunyai hak suara,
dianggap mengakibatkan beralihnya pengendalian Bank, kecuali yang bersangkutan dapat
membuktikan sebaliknya.
D. Disvestasi
Dalam finansial dan ekonomi, divestasi adalah pengurangan beberapa jenis aset baik dalam
bentuk finansial atau barang, dapat pula disebut penjualan dari bisnis yang dimiliki oleh
perusahaan. Ini adalah kebalikan dari investasi pada aset yang baru.

2.3.   Alasan-Alasan perusahaan mengambil keputusan Merger, Konsolidasi,


Akuisisi dan Divestasi.
Ada beberapa alasan perusahaan melakukan penggabungan baik melalui merger maupun
akuisisi,     yaitu :
a. Pertumbuhan atau diversifikasi
Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun
diversifikasi usaha dapat melakukan merger maupun akuisisi. Perusahaan tidak memiliki resiko
adanya produk baru. Selain itu, jika melakukan ekspansi dengan merger dan akuisisi, maka
perusahaan dapat mengurangi perusahaan pesaing atau mengurangi persaingan.
b.  Sinergi
Sinergi dapat tercapai ketika merger menghasilkan tingkat skala ekonomi (economies of scale).
Tingkat skala ekonomi terjadi karena perpaduan biaya overhead meningkatkan pendapatan
yang lebih besar daripada jumlah pendapatan perusahaan ketika tidak merger. Sinergi tampak
jelas ketika perusahaan yang melakukan merger berada dalam bisnis yang sama karena fungsi
dan tenaga kerja yang berlebihan dapat dihilangkan.
c. Meningkatkan dana
Banyak perusahaan tidak dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi internal, tetapi
dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi eksternal. Perusahaan tersebut
menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi sehingga menyebabkan
peningkatan daya pinjam perusahaan dan penurunan kewajiban keuangan. Hal ini
memungkinkan meningkatnya dana dengan biaya rendah.
d. Menambah ketrampilan manajemen atau teknologi
Beberapa perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya efisiensi pada
manajemennya atau kurangnya teknologi. Perusahaan yang tidak dapat mengefisiensikan
manajemennya dan tidak dapat membayar untuk mengembangkan teknologinya, dapat
menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki manajemen atau teknologi yang ahli.
e. Pertimbangan pajak
Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai lebih 20 tahun ke depan atau sampai
kerugian pajak dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan
akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba untuk memanfaatkan kerugian pajak.Pada
kasus ini perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi pendapatan setelah pajak
dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi. 
Bagaimanapun merger tidak hanya dikarenakan keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan dari
tujuan memaksimisasi kesejahteraan pemilik.
f. Meningkatkan likuiditas pemilik
Merger antar perusahaan memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang lebih besar. Jika
perusahaan lebih besar, maka pasar saham akan lebih luas dan saham lebih mudah diperoleh
sehingga lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil.
g. Melindungi diri dari pengambilalihan
Hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang tidak
bersahabat. Target firm mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai pengambilalihannya
dengan hutang, karena beban hutang ini, kewajiban perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk
ditanggung oleh bidding firm yang berminat (Gitman, 2003)

Terdapat beberapa alasan suatu bank atau suatu perusahaan untuk melakukan penggabungan
secara Konsolidasi. Alasan yang biasa dipakai yaitu antara lain :
1. Masalah Kesehatan
  Apabila bank sudah dinyatakan tidak sehat oleh Bank Indonesia setelah melalui beberapa
perbaikan sebelumnya, maka sebaik¬nya bank tersebut melakukan penggabungan. Pilihan
pengga¬bungan tentunya dengan bank yang sehat. Jika bank yang diga¬bungkan sama-sama
dalam kondisi tidak sehat maka sebaiknya pilihan penggabungan adalah konsolidasi atau dapat
pula diakui¬sisi oleh bank lain yang sehat.
2.  Masalah Permodalan
  Apabila modal suatu bank dirasakan kecil sehingga sulit untuk melakukan perluasan usaha,
maka bank dapat bergabung dengan satu atau beberapa bank sehingga modal dimiliki menjadi
besar. Sebagai contoh Bank Maras hanva memiliki modal 5 milyar dengan 12 buah cabang
bergabung dengan Bank Mangkol yang memiliki modal 10 milyar clan memiliki 20 cabang.
Gabungan kedua bank tersebut sekarang memiliki modal 15 milyar dan 32 cabang. Dengan
adanya penggabungan atau usaha peleburan otomatis lebih mudah untuk mengembangkan
usahanya. Yang jelas setelah melakukan penggabungan modal dan cabang dari beberapa bank
yang ikut bergabung akan bertambah besar.
3. Masalah Manajemen
  Manajemen bank yang sembrawut atau kurang profesional se¬hingga, perusahaan terus
merugi dan sulit untuk berkembang. Jenis bank inipun sebaiknya melakukan penggabungan
usaha atau peleburan usaha dengan bank yang lebih profesional yang terkenal dengan kualitas
manajemennya.
4. Teknologi dan Administrasi
Bank yang menggunakan teknologi yang masih tradisional sa¬ngat menjadi masalah. Dalam
perkembangan yang sedemikian cepat diperlukan teknologi yang canggih. Untuk memperoleh
teknologi yang canggih diperlukan modal yang tidak sedikit. Ja¬Ian keluar yang dipilih adalah
melakukan penggabungan dengan bank yang sudah memiliki teknologi yang canggih. Demikian
pula bagi bank yang kurang teratur dan masih tradisional dalam hal administrasinya, sebaiknya
bank melakukan penggabungan atau peleburan sehingga diharapkan administrasinya menjadi
lebih baik.
5. Ingin Menguasai Pasar
Tujuan ingin menguasai pasar tidak diumumkan secara jelas kepada pihak luar dan biasanya
hanya diketahui oleh mereka yang hendak ikut bergabung. Dengan adanya penggabungan dari
beberapa bank, maka jumlah cabang dan jumlah nasabah yang dimiliki bertambah. Tujuan ini
juga dilakukan untuk menghilangkan atau melawan pesaing yang ada.
(Suta, 2000) juga mengemukakan alasan-alasan perusahaan melakukan akuisisi yakni:
1. Keuntungan dari segi operasi (operating advantage), melalui kemungkinan pencapaian skala
ekonomis.
2.   Keuntungan dari segi finansial (financial advantage), yang didapat melalui manfaat di pasar
uang ataupun pasar modal.
3. Kemungkinan untuk meningkatkan pertumbuhan usaha, yakni dengan mengakselerasi tingkat
pertumbuhan dibandingkan dengan melalui ekspansi internal.
4.  Diversifikasi atas usaha perusahaan, sehingga dengan demikian dapat menjaga agar perolehan
tingkat keuntungan tidak mengalami fluktuasi. (Gurendrawati, 1999) menjelaskan,
bergabungnya perusahaan lebih dimungkinkan akan saling menunjang kegiatan usaha,
sehingga keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan jika melakukan sendiri-
sendiri.
 Ada lima alasan dilakukannya akuisisi, yaitu:
1. Keinginan untuk mengurangi kompetisi antar perusahaan atau ingin memonopoli salah satu
bidang usaha.
2. Untuk memanfaatkan kekuatan pasar yang belum sepenuhnya terbentuk
3. Untuk mencapai skala ekonomi tertentu sehingga dapat menjadi lower cost producer.
4. Untuk memperoleh sumber baku yang lebih murah.
5. Untuk mendapatkan akses pasar/dana yang relatif murah karena kapasitas hutang yang semakin
besar serta kemampuan baik dalam hal teknologi.
Alasan atau motif untuk melakukan devestasi adalah sebagai berikut :
1. Pertama, sebuah perusahaan akan melakukan divestasi (menjual) bisnis yang bukan merupakan
bagian dari bidang operasional utamanya sehingga perusahaan tersebut dapat berfokus pada
area bisnis terbaik yang dapat dilakukannya. Sebagai contoh, Eastman Kodak, Ford Motor
Company, dan banyak perusahaan lainnya telah menjual beragam bisnis yang tidak berelasi
dengan bisnis utamanya.
2. Motif kedua untuk divestasi adalah untuk memperoleh keuntungan. Divestasi menghasilkan
keuntungan yang lebih baik bagi perusahaan karena divestasi merupakan usaha untuk menjual
bisnis agar dapat memperoleh uang. Sebagai contoh, CSX Corporation melakukan divestasi
untuk berfokus pada bisnis utamanya yaitu pembangunan rel kereta api serta bertujuan untuk
memperoleh keuntungan sehingga dapat membayar hutangnya pada saat ini.
3. Motif ketiga bagi divestasi adalah kadang-kadang dipercayai bahwa nilai perusahaan yang telah
melakukan divestasi (menjual bisnis tertentu mereka) lebih tinggi daripada nilai perusahaan
sebelum melakukan divestasi. Dengan kata lain, jumlah nilai aset likuidasi pribadi perusahaan
melebihi nilai pasar bila dibandingkan dengan perusahaan pada saat sebelum melakukan
divestasi. Hal ini memperkuat keinginan perusahaan untuk menjual apa yang seharusnya
bernilai berharga daripada terlikuidasi pada saat sebelum divestasi.
4. Motif keempat untuk divestasi adalah unit bisnis tersebut tidak menguntungkan lagi. Semakin
jauhnya unit bisnis yang dijalankan dari core competence perusahaan, maka kemungkinan
gagal dalam operasionalnya semakin besar.
2.4.    Ciri –Ciri Dan Tata Cara Melakukan Merger, Konsolidasi, Akuisisi Dan
Divestasi
         Ciri-ciri MERGER perusahaan :

a) Ada perusahaan yang menggabungkan diri dan ada perusahaan yang menerima penggabungan

b) Perusahaan yang menerima penggabungan tetap eksis, sedangkan perusahaan yang


menggabungkan diri bubar demi hukum tanpa likuidasi.

c) Rancangan merger dan konsep akta merger harus disetujui RUPS.

d) Konsep akta merger yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta merger yang dibuat di
hadapan notaris dalam bahasa Indonesia.

e) Merger ada yang diikuti dengan perubahan AD (Anggaran Dasar) dan ada yang tidak diikuti
perubahan AD.

f) Merger yang diikuti perubahan AD ada yang perlu persetujuan Menhukham, dan ada pula yang
cukup diberitahukan kepada Menhukham.

g) Merger yang diikuti perubahan AD dan butuh persetujuan Menhukham, dianggap mulai berlaku
sejak tanggal persetujuan oleh Menhukham. Pada tanggal tersebut perusahaan yang
menggabungkan diri dianggap bubar demi hukum tanpa proses likuidasi.

h) Merger yang diikuti perubahan AD yang cukup diberitahukan kepada Menhukham, dianggap
mulai berlaku sejak tanggal pendaftaran akta merger dan akta perubahan AD dalam daftar
perusahaan. Pada tanggal tersebut perusahaan yang menggabungkan diri dianggap bubar
demi hukum tanpa proses likuidasi.

i) Merger yang tidak diikuti perubahan AD, dianggap mulai berlaku sejak tanggal penandatanganan
akta merger di hadapan notaris. Pada tanggal tersebut perusahaan yang menggabungkan diri
dianggap bubar demi hukum tanpa likuidasi. Salinan akta merger disampaikan kepada
menhukham untuk dicatat dalam daftar perusahaan.

j) Aktiva dan Pasiva perusahaan yang menggabungkan diri akan beralih demi hokum ke dalam
perusahaan hasil merger berdasarkan titel umum.
Tata Cara MERGER :

a) Direksi PT yang akan menggabungkan diri dan direksi PT yang menerima penggabungan
masing-masing menyusun usulan rencana merger. Usulan rencana merger wajib disetujui
komisaris masing-masing PT.

b)  Usulan rencana merger dijadikan bahan menyusun rancangan merger yang disusun bersama
oleh direksi PT yang akan melakukan penggabungan.

c)  Ringkasan atas rancangan merger wajib diumumkan direksi dalam dua surat kabar harian dan
diumumkan secara tertulis kepada karyawan PT yang akan melakukan penggabungan paling
lambat 14 hari sebelum pemanggilan RUPS.

d) Rancangan merger dan konsep akta merger wajib disetujui RUPS masing-masing. Konsep akta
merger yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta merger yang dibuat dihadapan notaris
dalam bahasa Indonesia. Salinan akta merger selanjutnya digunakan mengurus izin atau
pemberitahuan ke Menkumham.

e) Apabila merger PT disertai perubahan AD yang membutuhkan persetujuan Menkumham, merger


dianggap mulai berlaku sejak tanggal persetujuan perubahan AD oleh Menkumham. Apabila
merger PT disertai perubahan AD yang tidak perlu persetujuan Menkumham, maka merger
dianggap mulai berlaku sejak tanggal pendaftaran Akta merger dan Akta perubahan Anggaran
Dasar dalam daftar perusahaan.

f) Apabila merger PT tanpa disertai perubahan AD, maka merger dianggap mulai berlaku sejak
tanggal penandatangan akta merger di hadapan notaris. PT yang menggabungkan diri bubar
demi hokum tanpa melalui proses likuidasi. Salinan akta merger selanjutnya diberitahukan
kepada Menkumham untuk dimasukkan dalam daftar perusahaan.

Ciri-ciri KONSOLIDASI perusahaan (peleburan) :

a) Ada dua atau lebih perusahaan yang meleburkan diri untuk membentuk perusahaan baru

b) Perusahaan yang meleburkan diri, bubar demi hukum tanpa likuidasi.

c) Perusahaan baru hasil peleburan harus mendapatkan status badan hokum yang baru dari
menhukham.

d) Rancangan konsolidasi dan konsep akta konsolidasi wajib disetujui RUPS di masing-masing
perseroan.

e) Konsep akta konsolidasi yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta konsolidasi yang
dibuat di hadapan notaris dalam bahasa Indonesia.

f) Salinan akta konsolidasi dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk mendapatkan


keputusan Menhukham mengenai pengesahan badan hukum perseroan hasil peleburan.

g) Perseroan hasil konsolidasi memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya
keputusan Menhukham mengenai perusahaan yang meleburkan diri bubar demi hokum tanpa
proses likuidasi.
h) Aktiva dan pasiva perusahaan yang meleburkan diri demi hokum akan beralih ke dalam
perusahaan baru hasil konsolidasi berdasarkan titel umum.

Tata Cara KONSOLIDASI :

a) Direksi PT yang akan meleburkan diri menyusun usulan rencana Konsolidasi. Usulan rencana
konsolidasi wajib disetujui komisaris masing-masing PT.

b) Usulan rencana konsolidasi dijadikan bahan menyusun rancangan konsolidasi yang disusun
bersama oleh direksi PT yang akan melakukan peleburan.

c)  Ringkasan atas rancangan konsolidasi wajib diumumkan direksi dalam dua surat kabar harian
dan diumumkan secara tertulis kepada karyawan PT yang akan melakukan peleburan paling
lambat 14 hari sebelum pemanggilan RUPS.

d) Rancangan konsolidasi dan konsep akta konsolidasi wajib disetujui RUPS masing-masing.
Konsep akta konsolidasi yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta konsolidasi yang
dibuat dihadapan notaris dalam bahasa Indonesia. Akta konsolidasi yang sudah disahkan
notaris selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar pembuatan akta pendirian PT hasil
peleburan.

e) Direksi PT yang meleburkan diri wajib mengajukan permohonan pengesahan akta pendirian PT
hasil peleburan kepada Menkumham paling lambat 14 hari sejak tanggal keputusan RUPS.

f) Menkumham memberikan pengesahan paling lama 60 hari setelah permohonan diterima. PT


yang meleburkan diri dianggap bubar terhitung sejak tanggal akta pendirian PT hasil peleburan
disahkan oleh Menkumham.

g) Setelah mendapat pengesahan Menkumham, akta pendirian PT hasil peleburan wajib


dimasukkan dalam daftar perusahaan serta diumumkan dalam tambahan berita Negara RI.

Ciri-ciri AKUISISI perusahaan (Pengambilalihan) :

a) Ada perusahaan yang mengambil alih (perusahaan pengakuisisian da nada perusahaan yang
diambilalih (perusahaan yang diakuisisi perusahaan target).

b) Akuisisi bisa dilakukan terhadap saham atau asset milik perusahaan target.

c) Akuisisi saham hanya dapat dilakukan terhadap perusahaan target berbentuk PT sebab
kepemilikannya diwujudkan dalam bentuk saham

d) Akuisisi asset dapat dilakukan terhadap perusahaan perseorangan (UD dan PD), persekutuan
(CV dan firma), badan hokum (PT dan Koperasi).

e) Pihak pengakuisisi berbentuk perseroan terbatas sebelum melakukan akuisisi harus lebih dahulu
mendapat persetujuan dari RUPS perusahaan pengakuisisi.

f) Akuisisi saham berbeda dengan pembelian saham biasa karena dalam akuisisi saham jumlah
saham yang dibeli relative banyak sehingga dapat mengubah posisi pemegang saham
moyoritas atau pemegang saham pengendali.
g) Perusahaan pengakuisisi dan perusahaan yang diakuisisi sama-sama tetap hidup. Namun, ada
pula akuisisi yang diikuti dengan merger sehingga perusahaan yang diakuisisi digabungkan dan
kemudian bubar demi hokum tanpa likuidasi.

h)  Akuisisi terhadap saham perusahaan perbankan harus mendapat persetujuan Bank Indonesia,
sedangkan akuisisi terhadap saham perusahaan terbuka harus mendapat persetujuan
Bapepam-LK.

Tata Cara AKUISISI :

a) Pihak yang akan mengakuisisi PT menyampaikan maksud dan tujuannya kepada direksi PT
yang akan diakuisisi. Pihak pengakuisi dapat berbentuk PT, koperasi yayasan, CV, Firma, atau
Perorangan.

b)  Direksi PT yang akan diakuisisi dan pihak pengakuisisi masing-masing menyusun usulan
rencana akuisisi. Usulan rencana akuisisi wajib mendapat persetujuan komisaris PT yang akan
diakuisisi atau lembaga serupa dari pihak pengakuisisi.

c) Usulan rencana akuisisi digunakan sebagai bahan penyusunan rancangan akuisisi yang disusun
secara bersama-sama antara direksi PT yang akan diakuisisi dengan pihak pengakuisisi.
Ringkasan rancangan akuisisi wajib diumumkan direksi PT pengakuisisi dalam dua surat kabar
harian serta diberitahukan secara tertulis kepada karyawan PT pengakuisisi paling lambat 14
hari sebelum pemanggilan RUPS.

d) Rancangan akuisisi wajib disetujui RUPS dari PT yang akan diakuisisi. Rancangan akuisisi juga
harus disetujui oleh pemegang kekuasaan dari pihak pengakuisisi. Apabila pihak pengakuisisi
berbentuk PT, rancangan akuisisi harus disetujui RUPS. Pada pihak pengakuisisi berbentuk
koperasi, rancangan akuisisi harus disetujui rapat anggota koperasi. Jika pihak pengakuisisi
berbentuk yayasan maka rancangan akuisisi harus disetujui rapat dewan Pembina yayasan.
Untuk pihak pengakuisisi berbentuk CV dan Firma, rancangan akuisisi harus disetujui oleh para
sekutu atau pemilik CV dan Firma

e) Rancangan akuisisi yang telah disetujui selanjutnya dituangkan dalam akta akuisisi yang dibuat
di hadapan notaris dan ditulis dalam Bahasa Indonesia. Akta akuisisi yang sudah disahkan
notaris selanjutnya didaftarkan kepada Menkumham .

f) Apabila akuisisi PT diikuti perubahan AD yang membutuhkan persetujuan Menkumham, akuisisi


dianggap mulai berlaku sejak tanggal persetujuan AD oleh Menkumham. Apabila akuisisi PT
disertai perubahan AD yang tidak memerlukan persetujuan Menkumham, akuisisi dianggap
mulai berlaku sejak tanggal pendaftaran akta akuisisi dalam daftar perusahaan. Di sisi lain,
apabila akuisisi PT tidak mengakibatkan perubahan AD, akuisisi dianggap mulai berlaku sejak
tanggal penandatanganan akta akuisisi di hadapan notaris.

Tata Cara Metode divestasi

Beberapa perusahaan menggunakan teknologi untuk memfasilitasi proses divestasi


beberapa divisi. Mereka mempublikasikan informasi tentang divisi mana saja yang ingin mereka
jual pada situs resmi mereka sehingga dapat dilihat oleh perusahaan lain yang sekiranya
tertarik untuk membeli divisi tersebut. Sebagai contoh, Alcoa telah mendirikan sebuah online
showroom yang menampilkan divisi yang mereka jual. Dengan melakukan komunikasi
secara online, Alcoa telah mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk membiayai divisi yang
bergerak pada hotel, usaha transportasi, dan urusan pertemuan.

2.5.   Kelebihan dan kekurangan Merger, Konsolidasi, Akuisisi Dan Divestasi


A. Kelebihan dan Kekurangan Merger:
a) Kelebihan Merger
Pengambilalihan melalui merger lebih sederhana dan lebih murah dibanding pengambilalihan
yang lain (Harianto, Merger Dan Akuisisi, 2001)
b) Kekurangan Merger
Merger memiliki beberapa kekurangan, yaitu harus ada persetujuan dari para pemegang saham
masing-masing perusahaan,sedangkan untuk mendapatkan persetujuan tersebut diperlukan
waktu yang lama. (Harianto, Merger dan Akuisisi, 2001)
B. Kelebihan dan Kekurangan Akuisisi
a) Kelebihan Akuisisi
1. Akuisisi Saham tidak memerlukan rapat pemegang saham dan suara pemegang saham
sehingga jika pemegang saham tidak menyukai tawaran Bidding firm, mereka dapat menahan
sahamnya dan tidak menjual kepada pihak Bidding firm.
2. Dalam Akusisi Saham, perusahaan yang membeli dapat berurusan langsung dengan pemegang
saham perusahaan yang dibeli dengan melakukan tender offer sehingga tidak diperlukan
persetujuan manajemen perusahaan.
3. Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen dan komisaris perusahaan, akuisisi saham
dapat digunakan untuk pengambilalihan perusahaan yang tidak bersahabat (hostile takeover).
4. Akuisisi Aset memerlukan suara pemegang saham tetapi tidak memerlukan mayoritas suara
pemegang saham seperti pada akuisisi saham sehingga tidak ada halangan bagi pemegang
saham minoritas jika mereka tidak menyetujui akuisisi
(Harianto, Merger dan Akuisisi, 2001)
b) Kekurangan Akuisisi
1. Jika cukup banyak pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui pengambilalihan tersebut,
maka akuisisi akan batal. Pada umumnya anggaran dasar perusahaan menentukan paling
sedikit dua per tiga (sekitar 67%) suara setuju pada akuisisi agar akuisisi terjadi.
2. Apabila perusahaan mengambil alih seluruh saham yang dibeli maka terjadi merger.
3. Pada dasarnya pembelian setiap aset dalam akuisisi aset harus secara hukum dibalik nama
sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi
C. Kelebihan dan kekurangan Konsolidasi
a) Kelebihan Konsolidasi
1. Perusahaan-perusahaan yang melakukan konsolidasi akan memiliki kekuatan yang lebih besar
untuk bersaing dengan perusahaan yang lain karena biasanya proses konsolidasi dilakukan
oleh lebih dari dua perusahaan yang melebur menjadi satu.
2. Dengan melakukan konsolidasi perusahaan yang mengalami kesulitan modal tidak harus
dilikuidasi, akan tetapi masih tetap bisa bertahan meski dengan perusahaan yang baru
b) Kekurangan Konsolidasi
1. Dengan melakukan konsolidasi perusahaan yang lama akan hilang karena melebur menjadi
satu.
2. Untuk mengenalkan perusahaan yang baru (hasil konsolidasi) kepada masyarakat butuh waktu
yang relatif lama.
D. Kelebihan Dan Kekurangan Divestasi
a) Kelebihan Divestasi
Dengan melihat motif diatas jelas bahwa keuntungan divestasi akan menambah penghasilan bagi
perusahaan yang menjual sebagian asetnya. Selain itu, keuntungan dari divestasi bisa meningkatkan
daya saing dari perusahaan yang mengalami divestasi karena dapat meningkatkan kinerja dari
perusahaan itu. Selain itu divestasi membuat perusahaan yang sedang tumbuh menjadi go internasional
b) Kekurangan Divestasi
Kerugian dari divestasi yaitu berkurangnya aset kepemilikan dari perusahaan yang menjual
perusahaannya kepada swasta. Jika dikaitkan dengan isu di atas, aset BUMN akan berkurang dan
berpindah kepada pihak swasta. Kerugian yang ditimbulkan yaiitu dapat memicu ketidaktransparansian
yang dapat berakibat munculnya korupsi.
2.6. Contoh Merger, Akuisisi, Konsolidasi dan Divestasi
a. Contoh merger  

Contoh Merger yang dilakukan Oleh Bank Lippo dan Bank Niaga. Mereka Menyetujui untuk
menggabungkan perusahaan dengan kriteria Merger. Dari Merger kali ini Perusahaan yang
relative lebih kecil ukuranya adalah Bank Lippo. sehingga bank Lippo merelakan untuk diganti
saham yang beredar dengan saham Bank Niaga.  Dengan demikian dengan harga tertentu
yang telah disepakati mereka berdua. tiap saham Bank Lippo dihargai dengan harga tertentu
sehingga mendapatkan nilai yang cocok untuk dibeli oleh Bank Niaga. Sehingga saham Bank
Lippo berganti nama dengan Saham Bank Niaga. Setelah kesepakatan keduanya. Kedua Bank
ini menyetujui untuk mengubah nama mereka after merger menjadi Bank CIMB Niaga.
b. Contoh Akuisisi
Contoh: Semen Padang yang diakuisisi oleh Semen Gresik.
Di dalam hal ini, pihak Semen Gresik melakukan pembelian terhadap sebagian besar Saham
Semen Padang sehingga, Semen Gresik memiliki kekuasaan terhadap manajemen perusahaan
Semen Padang. Tetapi operasi kedua perusahaan masih bediri sendiri-sendiri.
c. Contoh Konsolidasi
Bank Exim melakukan konsolidasi menghasislkan  Bank Mandiri.
d. Contoh Divestasi
CSX Corp yang membangun pembangunan rel kereta api demi membayar
piutangnya. Perusahaan yang mengalami divestasi akan meningkat pamornya