Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN

KEPERAWATAN PADA PASIEN PNEUMONIA

OLEH
I GEDE PATRIA PRASTIKA
NIM. P07120319048

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI NERS
2020
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas
setempat (Zul, 2001).
Pneumonia adalah salah satu penyakit peradangan akut parenkim paru yang
biasanya terjadi dari suatu infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISNBA), dengan
gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen infeksius seperti
virus, bakteri, mycoplasma (fungsi), dan aspirasi substansia asing, berupa radang paru
– paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi, dan dapat dilihat melalui gambaran
radiologis.
Pneumonia merupakan penyakit umum yang terjadi pada semua kelompok umur
dan merupakan penyebab utama kematian di antara orang tua dan orang-orang dengan
penyakit kronis. Selain itu, pneumonia juga merupakan penyebab utama kematian
pada anak di bawah lima tahun di seluruh dunia. Terjadinya pneumonia pada anak
seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut
bronchopneumonia) (News Medical, 2012).

2. Etiologi Pneumonia
Menurut Misnadiarly (2008), pneumonia yang ada di kalangan masyarakat
umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, mikoplasma (bentuk peraliha antara bakteri
dan virus) dan protozoa.
a. Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum
(Streptococcus pneumonia) sudah ada di kerongongan manusia sehat. Begitu
pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri segera
memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Balita yang terinfeksi
pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah dan denyut
jantungnya meningkat cepat.
b. Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus yang
tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV).
Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas,
pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya sebagian
besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun
bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza gangguan bisa berat dan
kadang menyebabkan kematian.
c. Mikoplasma
Mikoplasia adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada
manusi. Mikoplasia tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri,
meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya
berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia.,
tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat
rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
d. Protozoa
Pneumonia yang disebabhkan oleh protozoa sering disebut pneumonia
pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia
(PCP). Pneumonia pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang premature.
Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa
bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika
ditemukan P. Carini pada jaringan paru atau specimen yang berasal dari paru.

3. Manifestasi Klinis Pneumonia


a. Demam, sering tampak sebagai tanda infeksi yang pertama. Paling sering terjadi
pada usia 6 bulan – 3 tahun dengan suhu mecapai 39,5-40,5 bahkan dengan
infeksi ringan.
b. Meningismus, yaitu tanda-tanda meningeal tanpa infeksi meninges. Terjadi saat
demam yang tiba-tiba disertai sakit kepala, nyeri dan kekakuan pada punggung
dan leher, adanya tanda kernig dan akan berkurang saat suhu tubuh turun.
c. Anoreksia
d. Biasanya didahului infeksi saluran nafas akut bagian atas selama beberapa hari,
kemudian diikuti dengan demam, menggigil, suhu tubuh kadang melebihi 40oC,
sakit tenggorokan, nyeri pada otot- otot dan sendi. Kadang disertai batuk, dengan
sputum mukoid atau purulen dan dapat disertai dahak.
e. Peningkatan tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan, TD)
f. Diaforesis, mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang terinfeksi dalam
tubuh dengan cara berkeringat.
g. Nyeri dada pleura, myalgia, dan nyeri sendi
h. Sputum purulent berlebih
i. Sesak napas dan dyspnea
j. Hemoptysis
k. Suara napas tambahan : crackles (rales), gurgling, wheezing, dan gesekan friksi.

4. Pathway Pneumonia

Etiologi (virus, bakteri, mokoplasma, protozoa)

Ketidakefektifan
Droplet terhirup Bersihan Jalan Nafas

Merangsang IL-1
Masuk pada alveoli Sesak, ronkhi

Zat endogen pyrogen


Reaksi peradangan Obstuksi saluran nafas

Prostaglandin
PMN (leukosit & Konsolidasi-
makrofag penumpukkan eksudat
Berdistribusi ke meningkat) di alveoli
hipotalamus

Kurang pengetahuan, Gangguan difusi O2


Suhu tubuh meningkat informasi

Defisit Pengetahuan BGA abnormal


Hipertermi
Konfusi, iritabilitas, Respon batuk
sianosis, dispneu,
pernafasan cuping
hidung

Gangguan
Pertukaran Gas
5. Pemeriksaan Diagnostik
1. Sinar X
Mengidentifikasikan distribusi strukstural (mis. Lobar, bronchial); dapat juga
menyatakan abses luas/infiltrate, empiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar
atau terlokalisasi (bacterial); atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (lebih
sering virus). Pada pneumonia mikroplasma, sinar x dada mungkin bersih.
2. GDA (Gas Darah Arteri)
Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada
3. Pemeriksaan darah.
Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis
(meningkatnya jumlah netrofil) (Sandra M. Nettina, 2001 : 684). Secara
laboratorik ditemukan leukositosis biasa 15.000-40.000/m dengan pergeseran
LED meninggi.
4. LED meningkat.
Fungsi paru hipoksemia, volume menurun, tekanan jalan nafas meningkat dan
komplain menurun, elektrolit Na dan Cl mungkin rendah, bilirubin meningkat,
aspirasi biopsy jaringan paru
5. Rontegen dada
Ketidaknormalan mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada. Foto thorax bronkopeumoni terdapat bercak-bercak
infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat
adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.
6. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah
Dapat diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal,bronskoskopi fiberoptik,
atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab, seperti
bakteri dan virus. Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk
preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari
etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar.
7. Tes fungsi paru
Volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar), tekanan jalan nafas
mungkin meningkat dan complain menurun. Mungkin terjadi perembesan
(hipokemia)
8. Elektrolit
Natruim dan klorida mungkin rendah.
9. Aspirasi perkutan biopsi jaringan paru terbuka
Dapat menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMV),
karakteristik sel raksasa (rubeolla). (NANDA NIC-NOC Jilid 3, 2015)

6. Penatalaksanaan Medis
Institute of Healthcare Improvement merekomendasikan 4 langkah keperawatan
(Bundle of Care) pada pasien pneumonia :
a. Penentuan posisi. Pertahankan kepala tempat tidur pasien terelevasi setidaknya
300, putar dan reposisi jika perlu.
b. Penanganan sedasi. Bantu pasien untuk “keluar” dari pengobatan yang membuat
paralisis untuk mengkaji kebutuhan akan MV (Mekanik Ventilator).
c. Pencegahan tukak lambung
d. Pencegahan thrombosis vena dalam
Dalam hal penatalaksanaan penderita pneumonia perlu diperhatikan keadaan
klinisnya. Jika keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi untuk dirawat, maka dapat
dilakukan rawat jalan. Juga perlu diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi yaitu
keadaan yang dapat meningkatkan risiko infeksi dengan mikroorganisme patogen
yang spesifik, misalnya Streptococcus pneumoniae yang resisten penisilin. 
Penderita pneumonia berat yang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD)
diobservasi tingkat kegawatannya. Bila dapat distabilkan maka penderita dirawat inap
di ruang rawat biasa; bila terjadi respiratory distress maka penderita dirawat di ruang
rawat intensif.
Antibiotik masih tetap merupakan pengobatan utama pada pneumonia
aspirasi.  Pemilihan antibiotik dan durasi pengobatan bergantung pada suspek
organisme ataupun yang telah terbukti. Bakteri patogen yang umumya menyebabkan
pneumonia aspirasi adalah stafilokokkus aureus, Escherichia coli, klebsiella, dan juga
enterobacter maupun pseudomonas.  Klindamisin merupakan antibiotik pilihan
pertama, alternatif lainnya adalah amoxicilin dan asam klavulanat, dan juga
metronidazole. Penggunaan metronidazol dapat merupakan alternatif pengobatan
secara tunggal tidak dianjurkan karena tingkat kegagalan yang tinggi. Golongan
makrolid, sefalosporin dan fluorokuinolon merupakan alternatif  lini kedua.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Pengkajian Primer (Primary Survey)
1) Airway
Kaji batuk yang dialami oleh pasien; batuk kering berdarah atau batuk yang
mengeluarkan sputum. Selanjutnya dikaji warna sputum yang dikeluarkan;
bewarna hijau atau kental.
2) Breathing
Kaji irama nafas klien; nafas cepat dan dangkal (50 – 80) disertai dengan
perkusi: pekak datar area yang konsolidasi. Bunyi nafas menurun, pernapasan
mendengkur, pernapasan cuping hidung, dan penggunaan otot bantu
pernafasan
3) Circulation
Nadi biasanya meningkat sekitar 10x/menit untuk setiap kenaikan satu derajat
celcius atau mengalami Bradikardia apabila disebabkan oleh infeksi virus,
infeksi Mycoplasma, atau infeksi dengan spesies Legionella.Dikaji pula warna
kemerahan pada pipi, warna mata yang menjadi lebih terang, dan bibir serta
bidang kuku sianotik.Serta kaji apakah pasien mengeluarkan keringat yang
banyak karena pada umumnya pasien pneumonia banyak mengeluarkan
keringat.
4) Dissability
Kaji GCS pasien, pupil dan tonus otot.
b. Pengkajian Sekunder (Secondary Survey)
1) Pemeriksaan head to toe
2) Pemeriksaan TTV
3) Riwayat penyakit sekarang
4) Riwayat penyakit sebelumnya
5) Riwayat penyakit keluarga
6) Riwayat sosial ekonomi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d
b. Gangguan pertukaran gas b.d. perubahan membrane alveolus - kapiler
c. Hipertermi b.d infeksi
3. Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
No Diagnosa Keperawatan Intervensi (SIKI)
(SLKI)
1 Bersihan jalan napas tidak Setelah diberikan asuhan Manajemen jalan nafas
efektif b.d hipersekresi jalan keperawatan selama … x … jam, 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
napas diharapkan bersihan jalan nafas 2. Monitor bunyi napas tambahan (gurgling, mengi,
efektif dengan kriteria hasil : wheezing, ronkhi kering)
Bersihan jalan nafas 3. Posisikan semi fowler atau fowler
1. Tidak ada sputum 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
2. Tidak ada suara nafas ronchi 5. Lakukan suction, jika perlu
3. Tidak ada suara nafas wheezing 6. Berikan oksigen, jika perlu
4. Tidak ada dispnea 7. Ajarkan teknik batuk efektif
5. Frekuensi nafas normal (16 – 8. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
20 x/menit) mukolitik, jika perlu
6. Pola nafas normal (kedalaman, Pemantauan respirasi
kwalitas) 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya nafas
2. Monitor pola nafas (seperti bradypnea, takipnea,
hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes, biot, ataksis)
3. Monitor adanya produksi sputum
4. Monitor saturasi oksigen
5. Monitor nilai AGD
6. Monitor hasil x-ray toraks
2 Gangguan pertukaran gas b.d Setelah dilakukan asuhan Pemantauan respirasi
perubahan membrane keperawatan selama ….. x …. jam, 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya nafas
alveolus - kapiler diharapkan tidak terjadi gangguan 2. Monitor pola nafas (seperti bradypnea, takipnea,
pertukaran gas dengan kriteria hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes, biot, ataksis)
hasil: 3. Monitor adanya produksi sputum
Pertukaran gas: 4. Monitor saturasi oksigen
1. Tingkat kesadaran baik (CM) 5. Monitor nilai AGD
2. Tidak ada dispnea 6. Monitor hasil x-ray toraks
3. Tidak ada bunyi nafas
tambahan Terapi oksigen
4. Tidak pusing 1. Monitor tanda-tanda hipoventilasi
5. Penglihatan tidak kabur 2. Monitor tanda dan gejala toksilasi oksigen dan
6. Tidak gelisah atelectasis
7. PCO2 normal (35 – 45 mmHg) 3. Bersihkan secret pada mulut, hidung dan trakea, jik perlu
8. PO2 normal (80 – 100 mmHg) 4. Pertahankan kepatenan jalan nafas
9. Tidak ada takikardia 5. Berikan oksigen tambahan, jika perlu
10. pH arteri normal (7.35 – 7.45)
11. Tidak sianosis
12. Pola nafas normal (frekuensi,
kwalitas)

3 Hipertermia b.d infeksi Setelah dilakukan asuhan Manajemen hipertermia


keperawatan selama … x … jam, Regulasi temperatur
diharapkan tidak terjadi hipertermia 1. Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi,
dengan kriteria hasil: terpapar lingkungan panasm penggunaan incubator)
Termoregulasi 2. Monitor komplikasi akibat hipertermia
1. Warna kulit normal 3. Monitor suhu tubuh, tekanan darah, frekuensi pernapasan
2. Tidak kejang dan nadi
3. Tanda – tanda vital dalam batas 4. Monitor warna dan suhu kulit
normal 5. Berikan cairan oral
6. Anjurkan melakukan kompres hangat
7. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena
8. Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

Effendy. 2008. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumoniapada Balita, OrangDewasa, Usia
Lanjut. Pustaka. Jakarta: Obor Populer.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia :


Definisi dan Indikator diagnostik. Jakarta : DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia :


Definisi dan Kriteria hasil keperawatan. Jakarta : DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia :


Definisi dan tindakan keperawatan. Jakarta : DPP PPNI.

Potter, P.A. 1996. Pengkajian Kesehatan Ed. 3. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia A. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih bahasa: Peter
anugerah. Jakarta: EGC.

Sherwood, Lauralee. (2011). Fisiologi Manusia (Dari Sel ke Sistem ). Edisi ke-6. Jakarta: EGC.

Somantri, I. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Suddart, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Sudoyo, Aru W. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Terry, Cynthia Lee. 2013. Keperawatan Kritis. Yogyakarta : Rapha Publishing.

Ulfah, Anna, dkk. (2001). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta : Bidang Pendidikan
dan Pelatihan Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita
Bangli, …………. 2020
Nama Pembimbing / CI Nama Mahasiswa

……………………………….…… ……………………………………
NIP. NIM.

Nama Pembimbing / CT

...................................................................
NIP.