Anda di halaman 1dari 3

“KIKAGADA”

Pernah dengar nama “kikagada”? Dimana? Kapan? Apa? Ya, kami menyebut diri
kami sebagai kikagada, singkatan dari -Kita Kamar Tiga Dua- karena susah senang kami
selama tiga tahun ini selalu bersama dan terabadikan di kamar ini.

Ketika dikenang, ini sudah 2 tahun berlalu tanpa mereka. Formasi kami yang selalu
lengkap bersebelas, kesana dan kemari berseragam dan beriringan bersama. Serunya hari-hari
itu selalu terbayang di kepala kecilku. Bahkan terkadang ada sesuatu terjebak di bola mataku,
seakan ingin turun dan menyebabkan hujan. Sebenarnya aku bukan bagian dari mereka dari
awal, namun aku memutuskan untuk bersama di tahun kedua masa putih abu-abu kami. Di
awal pertemuan ini, kami berempat belas, dengan empat ruang kamar yang disekat-sekat.
Memang, tinggal di asrama tidaklah senyaman di rumah pribadi. Hari-hari kami harus
mendengar keluh kesah, teriakan, tawa canda, bahkan tangisan. Kesebelasan kami bermula
pada tahun awal tahun ketiga, dua dari kami merayakan kelulusan dan seorang dari kami
harus berpindah ke tempat asalnya.

Pagi hari kami, bukan, dini hari kami selalu dipenuhi dengan antrian. Ya, antrian
kamar mandi. Seperti yang kau tahu, kami tidak tinggal di hotel dengan fasilitas yang diatas
rata-rata. Siapapun yang bangun dahulu, dia bisa memasang antrian kamar mandi paling
depan. Rutinitas kami sama saja seperti rutinitas santriwati pada umumnya, berjama’ah-
mengaji-sekolah dan terus seperti itu secara berkelanjutan. Kebersamaan kami di pagi hari
selalu menyenangkan. Berkumpul diruang tengah, berbagi makanan apapun untuk sarapan,
saling menatap sambil bergurau atau mungkin saling mengejek. Ini sangat menyenangkan,
bahkan lebih dari kata itu. Ketika jam sekolah sudah mendekati, kami pun bersiap bersama.
Tahu hal yang paling menyenangkan dari ini? Ya, mengaca bersama. Ketika kami harus
memilih mengantri dan terlambat atau berdesakan dan bersiap dengan cepat, mengaca
bersama adalah pilihan paling tepat. Tapi hal ini lah kebahagiaan sederhana kami,
kebersamaan. Keseruan kami tidak berhenti disitu, perjalanan kami ke sekolah selalu dihiasi
gurauan ringan hingga tak pernah terdenga cuitan lelah dari kaki-kaki kecil kami.

Bagian waktu yang paling aku suka dari 24 jam adalah malam hari. Kenapa? Karna di
malam hari kami bisa saling berbagi kata kesal, lelah, atau rindu rumah. Kami ingin selalu
mengungkapkan hal-hal kecil yang terjadi hari ini di sekolah, karena terkadang mereka tak
tahu apa yang terjadi padaku hari ini dan aku tak tahu apa yang terjadi kepada mereka hari
ini. Pernah sesekali kami saling mengungkap emosi. Semua yang sedang menyelinap di hati,
keluar dari mulut-mulut kami. Kata maaf memang sering terdengar, tapi keheningan paling
menguasai. Suatu hari bahkan, emosi kami pada salah seorang diantara kami sedang
memuncak, hingga tak bisa terkendali. Amarah yang meledak sebanding dengan air mata
yang menetes. Tak lagi kami saling menatap, tangan sibuk mencari genggaman, hingga usai
karna lelah. Bila dikenang memang itu pertama dan terakhir kalinya adegan menegangkan
dalam drama kami.

Bila malam Jum’at tiba, kami akan menggelar arisan. Tentunya bukan uang yang akan
dimenangkan. Tapi nama-nama yang esok akan ro’an (bersih-bersih) di kamar. Kegiatan ini
yang paling kami benci. Dua dari kami haru rela membersihkan seluruh kamar sedangkan
yang lainnya akan membersihkan bagian asrama bersama anak-anak dari berbagai kamar.
Seperti yang kau tahu, hari libur kami bermigrasi di hari jum’at, jadi akan ada kebebasan di
malam hari sebelum Jum’at sampai keesokan harinya. Tetapi agenda rutin ini menjadi
pengingat bagi kami untuk tidak bermalas-malasan meskipun pada hari libur, dan ya ini
sedikit mengganggu jatah libur kami. Yang paling menyenangkan adalah kami akan berlama-
lama berdiam diri di kamar untuk menunggu para uztadzah melakukan aksi “obrak-obrak”
dari kamar ke kamar. Setiap kamar akan digedor dengan senjata andalan -gastok- yang
suaranya sangat memecah keheningan satu gedung. Ada rasa menyenangkan menjahili
ustadzah-ustadzah ini, sampai-sampai menjadi kebiasaan hari Jum’at kami.

3x3651/4 hari sudah berlalu, malam ini malam terakhir kami bersama. Ada rasa senang
dan bahagia yang sedang menyelimuti, tapi tersirat rasa khawatir di raut muka kami.
Bagaimana kita bertemu lagi nanti? Bagaimana kehidupan tanpa mereka nanti? Berbagai hal
perlu dipertanyakan setelah perpisahan esok hari. Pasti yang aku tahu, mereka mecoba
menyembunyikan kekhawatiran-kekhawatiran kecil itu. Berdalih dengan rasa kagu terhadap
baju wisuda esok, berdalih dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam, bahkan seseorang
berdalih dengan tawa kerasnya, menertawai baju yang terlalu besar dipasangkan pada diriku
yang kecil. Sampai esok hari tiba, rasanya senang sekali menghadapi hari. Semua orang
sedang sibuk bersiap, bersiap mengenakan riasan-riasan di wajah. Ya, hari ini kami menjadi
wisudawati. Setelah berbagai hal yang kami lalui, kami sebut ini pencapaian kami. Berbekal
pengalaman dan syahadah, kami berjanji bersama. Wahai teman, setelah ini kenanglah aku,
hubungi aku jika perlu, menangislah melalui suaramu, karna mungkin nanti kita tak akan
sempat untuk bertemu. Wahai teman, hari ini eppisode terakhir drama hidup kita, esok adalah
nyata, ingat-ingatlah pesanku, ingatlah janji kita, tak ada air mata. Wahai teman, lanjutkanlah
perjuanganmu, buktikan lalu tunjukkan padaku, sebesar apa pencapaianmu.
Untukmu sahabatku, yang sedang kutunggu, salam hangat dan teramat rindu,

KIKAGADA