Anda di halaman 1dari 11

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN DENGUE HAEMORAGIC FEVER

A. PENGKAJIAN.
1. Identitas Klien.

Nama, umur (Secara eksklusif, DHF paling sering menyerang anak – anak
dengan usia kurang dari 15 tahun. Endemis di daerah tropis Asia, dan
terutama terjadi pada saat musim hujan (Nelson, 1992 : 269), jenis
kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan.

2. Keluhan Utama.
Panas atau demam.
3. Riwayat Kesehatan.
a) Riwayat penyakit sekarang.

Ditemukan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil


dengan kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3
dan ke 7 dan keadaan anak semakin lemah. Kadang disertai keluhan batuk
pilek, nyeri telan, mual, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot, serta
adanya manifestasi pendarahan pada kulit

b) Riwayat penyakit yang pernah di derita.

Penyakit apa saja yang pernah di derita klien, apa pernah mengalami
serangan ulang DHF.

c) Riwayat imunisasi.

Apabila mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan


timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
d) Riwayat gizi.

Status gizi yang menderita DHF dapat bervariasi, dengan status gizi yang
baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya.
Pasien yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan
nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai
dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka akan mengalami
penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.

4. Acitvity Daily Life (ADL)


a) Nutrisi : mual,muntah,anoreksia, sakit saat menelan
b) Aktivitas : Nyeri pada anggota badan, punggung sendi, kepala ulu hati
pegal - pegal pada seluruh tubuh, menurunnya aktivitas sehari-hari.

5. Pemeriksaan fisik
Pada kasus DHF, hasil pemeriksaan fisik sering menunjukkan gejala
demam yang terjadi secara mendadak berlangsung selama 2–7 hari, yang
dapat diserta dengan anoreksia, nyeri punggung, nyeri tulang dan
persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah. Selain itu mudah ditemukan
tanda-tanda perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi dan purpura, serta perdarahan ringan hingga
sedang pada saluran cerna bagian atas sehingga menyebabkan
haematemesis, dengan biasanya didahului dengan nyeri perut hebat. bila
terjadi syok, hasil pemeriksaan fisik akan menunjukkan tanda gejala berupa
kulit dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki,
gelisah dan sianosis disekitar mulut, nadi cepat, lemah, sampai tidak teraba,
serta tekanan darah menurun (tekanan sistolik≤80 mmHg, diastolik≤20
mmHg).
Inspeksi, adalah pengamatan secara seksama terhadap status kesehatan
klien (inspeksi adanya lesi pada kulit). Perkusi, adalah pemeriksaan fisik
dengan jalan mengetukkan jari tengah ke jari tengah lainnya untuk
mengetahui normal atau tidaknya suatu organ tubuh. Palpasi, adalah jenis
pemeriksaan fisik dengan meraba klien. Auskultasi, adalah dengan cara
mendengarkan menggunakan stetoskop (auskultasi dinding abdomen untuk
mengetahu bising usus).

Adapun pemeriksaan fisik pada anak DHF diperoleh hasil sebagai berikut:

a) Keadaan umum :

Berdasarkan tingkatan (grade) DHF keadaan umum adalah sebagai berikut

1) Grade I : Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, tanda –


tanda vital dan nadi lemah.
2) Grade II : Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, ada
perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah,
kecil, dan tidak teratur.
3) Grade III : Keadaan umum lemah, kesadaran apatis, somnolen, nadi
lemah, kecil, dan tidak teratur serta tensi menurun.
4) Grade IV : Kesadaran koma, tanda – tanda vital : nadi tidak teraba,
tensi tidak terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas dingin berkeringat
dan kulit tampak sianosis.

b) Kepala dan leher.


1) Wajah : Kemerahan pada muka, pembengkakan sekitar mata, lakrimasi dan
fotobia, pergerakan bola mata nyeri.
2) Mulut : Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor, (kadang-
kadang) sianosis.
3) Hidung: Epitaksis
4) Tenggorokan : Hiperemia
5) Leher: Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas rahang daerah
servikal posterior.

c) Dada (Thorax).

Nyeri tekan epigastrik, nafas dangkal.

Pada Stadium IV :

Palpasi : Vocal – fremitus kurang bergetar.

Perkusi : Suara paru pekak.

Auskultasi : Didapatkan suara nafas vesikuler yang lemah.

d) Abdomen (Perut).

Palpasi : Terjadi pembesaran hati dan limfe, pada keadaan dehidrasi


turgor kulit dapat menurun, suffiing dulness, balote ment point (Stadium
IV).

e) Anus dan genetalia.

Eliminasi alvi : Diare, konstipasi, melena.

Eliminasi uri : Dapat terjadi oligouria sampai anuria.

f) Ekstrimitas atas dan bawah.

Stadium I : Ekstremitas atas nampak petekie akibat RL test.

Stadium II – III : Terdapat petekie dan ekimose di kedua ekstrimitas.

Stadium IV : Ekstrimitas dingin, berkeringat dan sianosis pada jari


tangan dan kaki.
6. Pemeriksaan laboratorium.

Pada pemeriksaan darah klien DHF akan dijumpai :

a. Hb dan PCV meningkat ( ≥20%).


b. Trambositopenia (≤100.000/ml).
c. Leukopenia.
d. Ig.D. dengue positif.
e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
f. Urium dan Ph darah mungkin meningkat.
g. Asidosis metabolic : Pco2<35-40 mmHg.
h. SGOT/SGPT mungkin meningkat.

B. DIAGNOSA.

Nursalam (2001) dan Nanda (2009) menyatakan, diagnosa keperawatan yang


dapat timbul pada klien dengan DHF adalah :

1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan peningkatan laju


metabolisme. Ditandai oleh :
a. Konvulsi.
b. Kulit kemerahan.
c. Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal.
d. Kejang.
e. Takikardi.
f. Takipnea.
g. Kulit terasa hangat.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
a. Pengeluaran haluaran urine.
b. Membrane mukosa kering.
c. Kulit kering.
d. Peningkatan hematokrit.
e. Peningkatan suhu tubuh.
f. Peningkatan frekuensi nadi.
g. Peningkatan konsentrasi urine.
h. Penurunan berat badan tiba-tiba.
i. Haus.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna makanan.
a. Kram abdomen.
b. Nyeri abdomen.
c. Menghindari makanan.
d. Berat badan turun 20 % atau lebih di bawah berat badan ideal.
e. Kerapuhan kapiler.
f. Diare.
g. Kehilangan rambut berlebihan.
h. Bising usus hiperaktif.
i. Kurang makanan.
j. Kurang informasi.
k. Kurang minat pada makanan.
l. Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat.
m. Kesalahan konsepsi.
n. Kesalahan informasi.
4. Perubahan perfusi jaringan kapiler berhubungan dengan perdarahan.
a. kematian jaringan pada ekstremitas seperti dingin, nyeri, pembengkakan
kaki.
5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber
informasi.
a. Perilaku hiperbola.
b. Ketidakakuratan mengikuti perintah.
c. Ketidakakuratan melakukan tes.
d. Perilaku tidak tepat.
e. Pengungkapan masalah.

C. INTERVENSI.

Nanda (2009) dan Doenges (2000), menyatakan bahwa rencana tindakan


keperawatan yang dapat disusun untuk setiap diagnose adalah :

1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan peningkatan laju


metabolisme.

NOC NIC
 Thermoregulation Temperature Regulation
 Kriteria hasil :  Monitor suhu minimal tiap 2 jam
Suhu tubuh dalam rentang normal  Rencanakan monitoring kontinyu
Nadi dan RR dalam rentang normal  Monitor TD,Nadi,RR
Tidak ada perubahan warna dan  Monitor warna dan suhu kulit
tidak ada pusing  Monitor tanda – tanda hipertermi
dan hipotermi
 Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
 Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
 Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negative dari
kedinginan
 Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
 Ajarkan indikasi dari hiportermi
dan penangnanan yang diperlukan
 Berikan anti piretik jika perlu

2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.

NOC NIC
 Fluid Balance  Fluid Management
 Fluid Intake  Pertahankan catatan intake dan
 Hydration output yang akurat
 Kriteria hasil :  Monitor status hidrasi
Mempertahankan urine output ( kelembaban membrane
sesuai dengan usia dan mukosa,nadi adekuat,tekanan
BB,BJ,urine normal,HT normal darah ortostatik ), juka
Tekanan darah,nadi,suhu tubuh diperlukann
dalam batas normal  Monitor vital sign
Tidak afa tanda – tanda  Monitor masukan makanan/
dehidrasi,elastisitas turgor kulit cairan dan hitung intake kalori
baik,merman mukosa lembab,tidak harian
ada rasa haus yang berlebihan  Kolaborasi pemebrian cairan IV
 Monitor status nutrisi
 Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
 Dorong masukan oral
 Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
 Atur kemungkinan transfusi
 Kolaborasi dengan dokter
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna makanan.
DAFTAR PUSTAKA

Aquilino, M.L., et al. (2004). Nursing Outcomes Classification (NOC), Fourt


Edition. Missouri: Mosby Elsevier.
Candra, Aryu. (2010). Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan
Faktor Risiko Penularan. Semarang: UNDIP.
Directorate of National Vector Borne Diseases Control Programme. (2008).
Guidelines for Clinical Management of Dengue Fever, Dengue Haemorrhagic
Fever and Dengue Shock Syndrome. (online), diakses melalui
http://nvbdcp.gov.in/doc/clinical%20guidelines.pdf, pada tanggal 13 Juli 2015.
Hastuti, Oktri. (2012). Demam Berdarah Dengue. Yogyakarta: Kanisius. (online),
diakses melalui
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16366/2/Chapter%20II.pdf,
pada tanggal 12 juli 2015.
Mansjoer, Arif. (1999). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga. Jakarta: Media
Aesculapius.
McCloskey, J.C. (2004). Nursing Interventions Classification (NIC), Fourth Edition.
Missouri: Mosby Elsevier.
Nanda International. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2015-2017,
Tenth Edition. Oxford: Wiley Blackwell.
Price and Wilson. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Vol.
1, Ed. 6. Jakarta: EGC..
Shepherd, Suzanne Moore. (2013). Dengue. (online), diakses melalui
http://emedicine.medscape.com/article/215840-workup#showall, pada tanggal
12 Juli 2015.
Sudoyo, A. W., dan Setiyohadi, B. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II,
Ed. 4. Jakarta: FKUI.
WHO. (1986). Demam Berdarah Dengue Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, dan
Pengendalian. Jakarta: EGC.
Perry, Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta.

M. Nurs, Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan pada bayi dan anak. Salemba
Medika. Jakarta.

Ngastiyah (1995), Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa


Keperawatan, EGC ; Jakarta.