Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Cedera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau
penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan
(accelerasi - decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh
perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta
notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat
perputaran pada tindakan pencegahan.
B. PATOFISIOLOGI
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat
terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui
proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran
darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian
pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh
kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa
sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa
plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan
oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi
pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi
penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan
asidosis metabolik.
Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml / menit /
100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output. Trauma kepala
meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial,
perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi
ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan
vebtrikel, takikardia.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana
penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan
berkontraksi . Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh
darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar.
Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua :
CEDERA KEPALA PRIMER
Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi - decelerasi rotasi ) yang
menyebabkan gangguan pada jaringan.
Pada cedera primer dapat terjadi :
1. Gegar kepala ringan
1. Memar otak
2. Laserasi

CEDERA KEPALA SEKUNDER


1. Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti :
1. Hipotensi sistemik
2. Hipoksia
3. Hiperkapnea
4. Udema otak
5. Komplikasi pernapasan

C. PERDARAHAN YANG SERING DITEMUKAN


Epidural Hematoma
Terdapat pengumpulan darah di antara tulang tengkorak dan duramater akibat
pecahnya pembuluh darah / cabang - cabang arteri meningeal media yang terdapat
di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat
berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1-2 hari. Lokasi yang paling
sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis.

Gejala-gejala yang terjadi :


1. Penurunan tingkat kesadaran
2. Nyeri kepala
3. Muntah
4. Hemiparesis
5. Dilatasi pupil ipsilateral
6. Pernapasan dalam cepat kemudian dangkal irreguler
7. Penurunan nadi
8. Peningkatan suhu
Subdural Hematoma
Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut
dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang
biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut
terjadi dalam 48 jam - 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2
minggu atau beberapa bulan.
Tanda-tanda dan gejalanya adalah :
1. Nyeri kepala
2. Bingung
3. Mengantuk
4. Menarik diri
5. Berfikir lambat
6. Kejang
7. Udem pupil

Perdarahan intracerebral
berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri;
kapiler; vena.
Tanda dan gejalanya :
1. Nyeri kepala
2. Penurunan kesadaran
3. Komplikasi pernapasan
4. Hemiplegia kontra lateral
5. Dilatasi pupil
6. Perubahan tanda-tanda vital

Perdarahan Subarachnoid
Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan
permukaan otak, hampir selalu ada pad cedera kepala yang hebat.
Tanda dan gejala :
1. Nyeri kepala
2. Penurunan kesadaran
3. Hemiparese
4. Dilatasi pupil ipsilateral
5. Kaku kuduk
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan data klien baik subyektif atau obyektif pada gangguan sistem
persarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk, lokasi,
jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya.
1. Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab): nama, umur, jenis kelamin,
agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat, golongan darah, pengahasilan,
hubungan klien dengan penanggung jawab.
2. Riwayat kesehatan :
a) Tingkat kesadaran / GCS ( < 15 )
b) Convulsi
c) Muntah
d) Dispnea / takipnea
e) Sakit kepala
f) Wajah simetris / tidak
g) Lemah
h) Luka di kepala
i) Paralise
j) Akumulasi sekret pada saluran napas
k) Adanya liquor dari hidung dan telinga
l) Kejang

Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan


sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. demikian pula
riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular.
Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai data
subyektif. Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi prognosa
klien.

3. Pemeriksaan Fisik
Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS <
15, disorientasi orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang
positif, perubahan nilai tanda-tanda vital kaku kuduk, hemiparese. Nervus
cranialis dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak
karena udema otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V,
VII, IX, XII.
4. Pemeriksaan Penujang
a) CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) : mengidentifikasi luasnya lesi,
perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak.
Catatan : Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan
pada 24 - 72 jam setelah injuri.
b) MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras
radioaktif.
c) Cerebral Angiography: Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti :
perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan
trauma.
d) Serial EEG: Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
e) X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan
struktur garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
f) BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
g) PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
h) CSF, Lumbal Punksi :Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan
subarachnoid.
i) ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan
(oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial
j) Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai
akibat peningkatan tekanan intrkranial
k) Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga
menyebabkan penurunan kesadaran.

Penatalaksanaan
Konservatif:
a) Bedrest total
b) Pemberian obat-obatan
c) Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran)

Prioritas Perawatan:
1. Maksimalkan perfusi / fungsi otak
1. Mencegah komplikasi
2. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal
3. Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga
4. Pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana pengobatan,
dan rehabilitasi.

Tujuan:
1. Fungsi otak membaik : defisit neurologis berkurang/tetap
1. Komplikasi tidak terjadi
2. Kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi sendiri atau dibantu orang lain
3. Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan
4. Proses penyakit, prognosis, program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga
sebagai sumber informasi.

B. DIAGNOSA
Diagnosa Keperawatan yang bisa muncul adalah:
1. Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
1. Tidak efektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan
sputum.
2. Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak
3. Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma)
4. Potensial gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak
adekuatnya sirkulasi perifer.
Kecemasan keluarga sehubungan keadaan yang kritis pada pasien
ASUHAN KEPERAWATAN

Dx. Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi


Gangguan perfusi Mempertahankan Independent:
jaringan otak dan memperbaiki Monitor dan catat status Refleks membuka mata
sehubungan dengan tingkat kesadaran neurologis dengan meng- menentukan pemulihan
udem otak fungsi motorik. gunakan metode GCS. tingkat kesadaran.
Ditandai dengan: Respon motorik menen-
Subyektif: Kriteria hasil : tukan kemampuan beres-
Tanda-tanda vital pon terhadap stimulus
stabil, tidak ada eksternal dan indikasi
peningkatan keadaan kesadaran yang
intrakranial baik.
Reaksi pupil digerakan
oleh saraf kranial oculus
motorius dan untuk
menentukan refleks ba-
tang otak.
Pergerakan mata mem-
bantu menentukan area
cedera dan tanda awal
Monitor tanda--tanda peningkatan tekanan
vital tiap 30 menit. intracranial adalah ter-
ganggunya abduksi mata.

Peningkatan sistolik dan


penurunan diastolik serta
penurunan tingkat kesa-
daran dan tanda-tanda
peningkatan tekanan
intrakranial. Adanya per-
napasan yang irreguler
indikasi terhadap adanya
Pertahankan posisi ke- peningkatan metabolisme
pala yang sejajar dan sebagai reaksi terhadap
tidak menekan. infeksi. Untuk menge-
tahui tanda-tanda keada-
an syok akibat per-
darahan.
Perubahan kepala pada
Hindari batuk yang satu sisi dpt menim-
berlebihan, muntah, me- bulkan penekanan pada
ngedan, pertahankan pe- vena jugularis dan
ngukuaran urin dan menghambat aliran darah
hindari konstipasi yang otak, untuk itu dapat
berkepanjangan. meningkatkan tekanan
intrakranial.

Dapat mencetuskan res-


Observasi kejang dan pon otomatik pening-
lindungi pasien dari katan intrakranial.
cedera akibat kejang.

Kolaborasi: Kejang terjadi akibat


Berikan oksigen sesuai iritasi otak, hipoksia, dan
dengan kondisi pasien. kejang dpt meningkatkan
tekanan intrakrania.
Berikan obat-obatan yang
diindikasikan deng- an
tepat dan benar . Dapat menurunkan hi-
poksia otak.

Membantu menurunkan
tekanan intrakranial se-
cara biologi / kimia
seperti osmotik diuritik
untuk menarik air dari
sel-sel otak sehingga
dapat menurunkan udem
otak, steroid (dexame-
tason) utk menurunkan
inflamasi, menurunkan
edema jaringan. Obat anti
kejang utk menu-runkan
kejang, analgetik untuk
menurunkan rasa nyeri
efek negatif dari
peningkatan tekanan
intrakranial. Antipiretik
untuk menurunkan panas
yang dapat mening-katkan
pemakaian ok-sigen otak.

Tidak efektifnya pola Mempertahankan Independent:


napas sehubungan pola napas yang Hitung pernapasan pasien Pernapasan yang cepat
dengan depresi pada efektif melalui dalam satu menit dari pasien dapat me-
pusat napas di otak. ventilator. nimbulkan alkalosis res-
Ditandai dengan: piratori dan pernapasan
Subyektif: Kriteria evaluasi lambat meningkatkan te-
Penggunaan otot kanan Pa Co2 dan me-
bantu napas tidak nyebabkan asidosis res-
ada, sianosis tidak Cek pemasangan tube piratorik.
ada atau tanda-
tanda hipoksia tdk Untuk memberikan ven-
ada dan gas darah tilasi yang adekuat dalam
dalam batas-batas pemberian tidal volume.
normal. Observasi ratio inspirasi
dan ekspirasi pada fase
ekspirasi biasanya 2 x Sebagai kompensasi ter-
lebih panjang dari perangkapnya udara ter-
inspirasi hadap gangguan pertu-
karan gas.
Perhatikan kelembaban
dan suhu pasien
Keadaan dehidrasi dapat
mengeringkan sekresi /
cairan paru sehingga
Cek selang ventilator menjadi kental dan
setiap waktu (15 menit) meningkatkan resiko
infeksi.

Adanya obstruksi dapat


menimbulkan tidak ade-
kuatnya pengaliran
Siapkan ambu bag tetap volume dan menimbul
berada di dekat pasien kan penyebaran udara
yang tidak adekuat.
Membantu memberikan
ventilasi yang adekuat
bila ada gangguan pada
ventilator.

Tidak efektifnya Mempertahankan Independent:


kebersihan jalan jalan napas dan Kaji dengan ketat (tiap 15 Obstruksi dapat dise-
napas sehubungan mencegah aspirasi menit) kelancaran jalan babkan pengumpulan
dengan penumpukan napas. sputum, perdarahan,
sputum Kriteria Evaluasi bronchospasme atau
Suara napas ber- masalah terhadap tube.
Ditandai dengan : sih, tidak terdapat
Subyektif: suara sekret pada Evaluasi pergerakan dada Pergerakan yang simetris
selang dan bunyi dan auskultasi dada (tiap dan suara napas yang
alarm karena pe- 1 jam ). bersih indikasi pema-
ninggian suara sangan tube yang tepat
mesin, sianosis dan tidak adanya penum-
tidak ada. pukan sputum.
Lakukan pengisapan lendir Pengisapan lendir tidak
dengan waktu kurang dari selalu rutin dan waktu
15 detik bila sputum harus dibatasi untuk
banyak. mencegah hipoksia.

Lakukan fisioterapi dada Meningkatkan ventilasi


setiap 2 jam. untuk semua bagian paru
dan memberikan kelan-
caran aliran serta pele-
pasan sputum.

Keterbatasan aktifitas Kebutuhan dasar Independent : Penjelasan dapat mengu-


sehubungan dgn pasien dapat ter- Berikan penjelasan tiap rangi kecemasan dan
penurunan kesadaran penuhi secara kali melakukan tindakan meningkatkan kerja sama
(soporos - coma ) adekuat. pada pasien. yang dilakukan pada
Ditandai dengan : pasien dengan kesadaran
Subyektif: Kriteria hasil : penuh atau menurun.
Kebersihan terja-
ga, kebersihan Beri bantuan untuk Kebersihan perorangan,
lingkungan ter- memenuhi kebersihan eliminasi, berpakaian,
jaga, nutrisi ter- diri. mandi, membersihkan
penuhi sesuai mata dan kuku, mulut,
dengan kebutuh- telinga, merupakan ke-
an, oksigen ade- butuhan dasar akan
kuat. kenyamanan yang harus
dijaga oleh perawat untuk
meningkatkan rasa
nyaman, mencegah in-
feksi dan keindahan.
Berikan bantuan untuk
memenuhi kebutuhan Makanan dan minuman
nutrisi dan cairan. merupakan kebutuhan
sehari-hari yang harus
dipenuhi untuk menjaga
kelangsungan perolehan
energi. Diberikan sesuai
dengan kebutuhan pasien
baik jumlah, kalori, dan
Jelaskan pada keluarga waktu.
tindakan yang dapat
dilakukan untuk menjaga Keikutsertaan keluarga
lingkungan yang aman diperlukan untuk menjaga
dan bersih. hubungan klien -
keluarga. Penjelasan perlu
agar keluarga dapat
memahami peraturan
Berikan bantuan untuk yang ada di ruangan.
memenuhi kebersihan dan
keamanan ling-kungan.
Lingkungan yang bersih
dapat mencegah infeksi
dan kecelakaan.

Kecemasan keluarga Kecemasan kelu- Independent:


sehubungan keadaan arga dpt ber- Bina hubungan saling Untuk membina hubung-
yang kritis pada pa- kurang percaya. an terapeutik perawat -
sien. keluarga.
Ditandai dengan: Kriteri evaluasi : Dengarkan dengan aktif
Subyektif: Ekspresi wajah dan empati, keluarga akan
tidak menunjang merasa diper-hatikan.
adanya kece-
masan. Keluarga Beri penjelasan tentang Penjelasan akan mengu-
mengerti cara semua prosedur dan rangi kecemasan akibat
berhubungan dgn tindakan yang akan ketidaktahuan.
pasien.Pengetahu- dilakukan pada pasien. Berikan kesempatan pada
an keluarga me- keluarga untuk bertemu
ngenai keadaan, dengan klien.
pengobatan dan Mempertahankan
tindakan hubungan pasien dan
meningkat. Berikan dorongan spiri- keluarga.
tual untuk keluarga.
Semangat keagamaan
dapat mengurangi rasa
cemas dan meningkatkan
keimanan dan ketabahan
dalam menghadapi krisis.
Potensial gangguan Gangguan Independent:
integritas kulit integritas kulit Kaji fungsi motorik dan
sehubungan dengan tidak terjadi sensorik pasien dan
immobilisasi, tidak sirkuasi perifer
adekuatnya sirkulasi Kaji kulit pasien setiap 8 Untuk menetapkan ke-
perifer. jam : palpasi pada daerah mungkinan terjadinya
yang tertekan. lecet pada kulit.

Ganti posisi pasien setiap Dalam waktu 2 jam


2 jam. Berikan posisi diperkirakan akan terjadi
dalam sikap anatomi dan penurunan perfusi ke
gunakan tempat kaki jaringan sekitar. Maka
untuk daerah yang dengan mengganti posisi
menonjol. setiap 2 jam dapat
memperlancar sirkulasi
tersebut. Dengan posisi
anatomi maka anggota
tubuh tidak mengalai
gangguan, khususnya
masalah sirkulasi /perfusi
jaringan. Mengalas bagian
yang menonjol guna
mengurangi pe- nekanan
yang meng- akibatkan lesi
Pertahankan kebersihan kulit.
dan kekeringan pasien :
Keadaan lembab akan
memudahkan terjadinya
Massage dengan lembut kerusakan kulit.
di atas daerah yang
menonjol setiap 2 jam Meningkatkan sirkulasi
sekali. dan elastisitas kulit dan
mengurangi kerasakan
Pertahankan alat-alat kulit.
tenun tetap bersih dan
tegang. Dapat mengurangi proses
penekanan pada kulit dan
menjaga kebersihan kulit.
Kaji daerah kulit yang
lecet untuk adanya Sebagai bagian untuk
eritema, keluar cairan memperkirakan tindakan
setiap 8 jam. selanjutnya.
Berikan perawatan kulit Untuk mencegah ber
pada daerah yang rusak / tambah luas kerusakan
lecet setiap 4 - 8 jam kulit.
dengan menggunakan
H2O2.
Tidak efektifnya pola napas sehubungan Mempertahankan pola napas yang Independent:
dengan depresi pada pusat napas di otak. efektif melalui ventilator. Hitung pernapasan pasien dalam satu menit
Ditandai dengan:
Subyektif: Kriteria evaluasi Cek pemasangan tube
Penggunaan otot bantu napas tidak
ada, sianosis tidak ada atau tanda- Observasi ratio inspirasi dan ekspirasi pada fase ekspirasi biasanya 2 x
tanda hipoksia tdk ada dan gas lebih panjang dari inspirasi
darah dalam batas-batas normal.
Perhatikan kelembaban dan suhu pasien

Cek selang ventilator setiap waktu (15 menit)

Siapkan ambu bag tetap berada di dekat pasien

Tidak efektifnya kebersihan jalan napas Mempertahankan jalan napas dan Independent:
sehubungan dengan penumpukan mencegah aspirasi Kaji dengan ketat (tiap 15 menit) kelancaran jalan napas.
sputum
Kriteria Evaluasi Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi dada (tiap 1 jam ).
Ditandai dengan : Suara napas ber-sih, tidak terdapat
Subyektif: suara sekret pada selang dan bunyi Lakukan pengisapan lendir dengan waktu kurang dari 15 detik bila
alarm karena pe-ninggian suara sputum banyak.
mesin, sianosis tidak ada.
Lakukan fisioterapi dada setiap 2 jam.

Keterbatasan aktifitas sehubungan dgn Kebutuhan dasar pasien dapat ter- Independent :
penurunan kesadaran (soporos - coma ) penuhi secara adekuat. Berikan penjelasan tiap kali melakukan tindakan pada pasien.
Ditandai dengan :
Subyektif: Kriteria hasil : Beri bantuan untuk memenuhi kebersihan diri.
Kebersihan terja-ga, kebersihan
lingkungan ter- jaga, nutrisi ter- Berikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
penuhi sesuai dengan kebutuh- an,
oksigen ade- kuat. Jelaskan pada keluarga tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga
lingkungan yang aman dan bersih.

Berikan bantuan untuk memenuhi kebersihan dan keamanan ling-


kungan.
Kecemasan keluarga sehubungan Kecemasan kelu-arga dpt ber- Independent:
keadaan yang kritis pada pa-sien. kurang Bina hubungan saling percaya.
Ditandai dengan:
Subyektif: Kriteri evaluasi : Beri penjelasan tentang semua prosedur dan tindakan yang akan
Ekspresi wajah tidak menunjang dilakukan pada pasien.
adanya kece-masan. Keluarga
mengerti cara berhubungan dgn Berikan dorongan spiri-tual untuk keluarga.
pasien.Pengetahu-an keluarga me-
ngenai keadaan, pengobatan dan
tindakan meningkat.
Potensial gangguan integritas kulit Gangguan integritas kulit tidak Independent:
sehubungan dengan immobilisasi, tidak terjadi Kaji fungsi motorik dan sensorik pasien dan
adekuatnya sirkulasi perifer. sirkuasi perifer
Kaji kulit pasien setiap 8 jam : palpasi pada daerah yang tertekan.

Ganti posisi pasien setiap 2 jam. Berikan posisi dalam sikap anatomi dan
gunakan tempat kaki untuk daerah yang menonjol.

Pertahankan kebersihan dan kekeringan pasien :

Massage dengan lembut di atas daerah yang menonjol setiap 2 jam


sekali.

Pertahankan alat-alat tenun tetap bersih dan tegang.

Kaji daerah kulit yang lecet untuk adanya eritema, keluar cairan setiap 8
jam.

Berikan perawatan kulit pada daerah yang rusak / lecet setiap 4 - 8 jam
dengan menggunakan H2O2.

Dx. Keperawatan Tujuan Rencana Tindakan


Gangguan perfusi jaringan otak Mempertahankan dan Independent:
sehu-bungan dengan ude-ma otak memperbaiki tingkat kesadaran Monitor dan catat status neurologis dengan menggunakan metode
fungsi motorik. GCS.
Ditandai dengan:
Subyektif: Kriteria hasil : Monitor tanda-tanda vital tiap 30 menit.
Tanda-tanda vital stabil, tidak
ada peningkatan intrakranial Pertahankan posisi kepala yang sejajar dan tidak menekan.
Hindari batuk yang berlebihan, muntah, mengedan, pertahankan
pe-ngukuran urin dan hindari kon-stipasi yang berkepanjangan.

Observasi kejang dan lindungi klien dari cedera akibat kejang.

Kolaborasi:
Berikan oksigen sesuai dengan kondisi klien.

Berikan obat-obatan yang di-indikasikan dengan tepat dan benar .


DAFTAR PUSTAKA

Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd
ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company.

Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing


Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.

Asikin Z (1991) Simposium Keperawatan Penderita Cedera Kepala.


Panatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas, Jakarta.

Harsono (1993) Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University Press