Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini, sediaan tablet semakin populer pemakaiannya dan merupakan sediaan
yang paling banyak diproduksi. Parasetamol dalam bentuk sediaan tablet beredar luas
antara lain karena kelebihan tentang kemudahan pemakaian, dosis yang akurat,
stabilitas yang bagus, mudah diproduksi dan harga yang terjangkau (Pahwa dan
Gupta, 2011 ). Tablet dibuat dengan menambahkan bahan pengikat untuk
meningkatkan kekompakan tablet sehingga mudah untukdicetak. Tablet
parasetamol (C8H9NO2) tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%
darijumlah yang tertera pada etiket. Tablet Parasetamol memiliki kompaktibilitas
yang buruk, sehingga untuk menghasilkan tablet dengan kualitas fisik yang
memuaskan maka pembuatan tablet parasetamol menggunakan metode granulasi.
Granul akan memperbaiki fluiditas dan kompaktibilitas parasetamol dalam proses
pengempaan (Siregar dan Wikarsa, 2010)

Metode yang digunakan dalam pembuatan tablet parasetamol ini adalah metode
granulasi basah. Obat-obat yang dibuat dengan metode granulasi basah adalah obat
yang tidak memiliki sifat alir yang baik. Karakteristik utama dari metode granulasi
basah adalah pencampuran bahan aktif, bahan pembantu atau bahan tambahan dan
bahan pengikat sehingga akan membentuk massa elastis selanjutnya diayak dengan
ayakan yang sesuai sehingga terbentuk granul basah yang dikeringkan (Hermawan
dan Heru, 2012).

Berdasarkan latar belakang diatas, sangatlah perlu dikaji dan dipelajari untuk
menambah wawasan dan pengetahuan ini maka praktikum formulasi tablet
dilaksanaka, disamping sebagai kurikulum, juga mahasiswa lebih memahami bentuk
pembuatan tablet.

1.2 Prinsip Percobaan

Berdasarkan proses pencampuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel
yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat
sehingga massa lembab dapat di granulasi.
1.3 Tujuan Percobaan

1. Mengetahui studi preformulasi sebelum membuat bentuk sediaan, seperti data zat
aktif dan eksipien, interaksi fisik atau kimia antar zat aktif dan zat aktif dengan
eksipien, serta stabilitas zat aktif.

2. mengetahui cara pembuatan tablet dengan metode granulasi basah.

3. Mengetahui dan mampu melaksanakan SOP dan intruksi kerja dalam pembuatan
tablet.

4. mengetahui evaluasi terhadap granul dan sediaan tablet paracetamol.

1.4 Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui pembuatan dan evaluasi terhadap granul dan
sediaan tablet paracetamol.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tablet

Menurut Farmakope Indonesia edisi V (2014), tablet merupakan sediaan padat yang
mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode
pembuatan, tablet dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.

Hal-hal berikut merupakan keungguan utama tablet :

1. Tablet merupakan sediaan yang utuh untuk ketepatan ukuran serta variabilitas
kandungan yang paling rendah.
2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah.
3. Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus, seperti pelepasan di
usus atau produk lepas lambat.
4. Tablet merupakan sediaan yang paling ringan dan kompak
5. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia,
mekanik dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. (Lachman, halaman 646)

Selain keunggulan diatas, tablet juga memiliki kerugian sebagai berikut :

1. Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantuk pada sifat
fisikokimianya.
2. Obat yang memiliki sifat fisikokimia yang buruk tidak mungkin diformulasi dan
difabrikasi dalam bentuk tablet.
3. Obat yang rasanya pahit, bau yang tidak dapat dihilangkan, atau peka terhadap
oksigen, sebelum dikempa memerlukan penyalutan terlebih dahulu. (Lachman,
halaman 647-468)
2.2 Komponen penyusun tablet

Komponen formulasi tablet terdiri dari bahan berkhasiat (API) dan bahan
pembantu (eksipien). Bahan eksipien yang digunakan dalam mendesain formulasi
tablet dapat dikelompokan berdasarkan fungsionalitas eksipien sebagai berikut :

1. Pengisi (diluent) : berupa bahan inert yang digunakan untuk mengisi ketersediaan
akhir tablet.
2. Pengikat (binder) :digunakan untuk meningkatkan sifat kohesifitas serbuk dalam
pembentukan granul yang pada pengempaan membentuk masa kohesi.
3. Penghancur (desintegran) : untuk memfasilitasi kehancuran tablet sesaat setelah
ditelan pasien.
4. Pelincir (lubrikan): untuk mengurangi friksi yang meningkat pada antarmuka tablet
dan dinding cetakan logam selama pengempaan.
5. Pelicin (glidan) : untuk meningkatkan aliran granul dari hoper ke dalam lobang
lumpang. (Goeswin, halaman 288-291)

2.3 Granulasi basah

Granulasi basah adalah proses menambahkan cairan pada suatu serbuk atau
campuran serbuk dalam suatu wadah yang dilengkapi dengan pengadukan yang
akan menghasilkan granul (Charles J.P Siregar, 2008).

Dalam proses granulasi basah, zat berkhasiat, pengisi, dan penghancur


dicampur homogen, lalu dibasahi dengan larutan pengikat, bila perlu ditambahkan
pewarna. Diayak menjadi granul dan dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu
40-50°C. Proses pengeringan diperlukan oleh seluruh cara granulasi basah untuk
menghilangkan pelarut yang dipakai pada pembentukan gumpalan gumpalan dan
untuk mengurangi kelembaban sampai pada tingkat yang optimum (Lachman,
1986). Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang
diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin dan dicetak dengan mesin tablet (Anief,
1994).

2.4 Paracetamol

Parasetamol atau asetominofen memiliki khasiat dari sebagai analgetis dan


antipiretis, tetapi tidak antiradang (Rahardja, 2007). Aksi dari parasetamol yaitu
menghambat prostaglandin di SSP tetapi tidak memiliki efek anti-inflamasi diperifer ;
mengurangi demam melalui tindakan langsung pada hipotalamus pengatur pusat
panas. Parasetamol diindikasikan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang ;
pengobatan demam. Penggunaan berlabel (s): Nyeri dan demam setelah vaksinasi
profilaksis (Tatro, 2003).

Dosis dari parasetamol untuk nyeri dan deman oral 2 - 3 dd 0,5-1 g, maks 4
g/hari, pada penggunaan kronis maks. 2,5 g/hari. Anak – anak 4 – 6 dd 10 mg/kg,
yakni rata – rata usia 3 -12 bulan 60 mg, 1 - 4 tahun 240 – 360 mg, 4 – 5x sehari
(Rahardja, 2007).
BAB III

ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat
Alat yang digunakan :
a. Beaker gelas
b. Gelas Ukur
c. Batang pengaduk
d. Oven
e. Labu takar 50 ml
f. Labu takar 25 ml
g. Labu takar 100 ml
h. Corrong
i. Erlenmeyer
j. Pipet
k. Pengayakan
l. Piknometer
m. Spektofotometri UV-visibel
n. Pencetak tablet
o. Granul flow tester
p. Moisture balance
q. Electric sieve tester

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan :

a. Parasetamol
b. Amprotab
c. Laktosa
d. Muslago amili
e. Mg.Stearat
f. Talcum
g. Aquadestilata
BAB IV
PROSEDUR PERCOBAAN

4.1. Pembuatan Larutan Pengikat : Musilago Amili 10%


1. Timbang gelas piala (I) dan batang pengaduk
2. Masukkan dan timbang air sebanyak 100ml kedalam gelas piala (I), panaskan
hingga mendidih
3. Timbang 20 gram musilago amili, dimasukkan kedalam gelas piala (II)
4. Tambahkan aquadestilata sebanyak 20ml, aduk hingga homogenn, terbentuk
suspense
5. Kemudian masukaan gelas piala (II) yang sudah mendidih kedalam gelas piala
(I), terus aduk sampai bening
6. Timbang kembali gelas piala (I), ad dengan air (sebagian sisa air digunakan
untuk membilas gelas piala II) sampai bobot total (+gelas piala I).

4.2. Granulasi hingga Tabletasi


1. Parasetamol, amilum kering dan lakstosa dicampur hingga homogen, kemudian
tambahkan musilago amili sedikit-sedikit sambil diaduk sampai terbentuk massa
basah yang sesuai untuk dibuat granul (massa harus dikepal, namun dapat
dipatahkan)
2. Massa basah kemuudian diayak dengan ayakn mesh 10 atau 12 (untuk tablet besar)
3. Granul basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 60O C sampai kandungan
lembab kurang dari 3%
4. Granul yang telah kering (kandungan lembab kurang dari 3%) diayak kembali
dengan ayakan mesh 14 atau 16 (Untuk tabet besar)
5. Granul kering kemudian ditimbang dan dievaluasi
6. Granul yang telah memenuhi syarat dapat dicampur dengan fase luar (talk dan
amilum kering) aduk sekitar 10 menit hingga homogen, kemudian tambahkan mg
stearate , aduk selama 2 menit
7. Massa siap cetak dievaluasi kemudian ditabletasi dengan menggunakan punch
13mm sesuai dengan bobot yang telah ditentukan (dari hasil perolehan granul)
8. Tablet dievaluasi menurut persyaratan yang berlaku

4.3. Pembuatan larutan bahan baku standar parasetamol


1. Buatlah larutan induk bahan baku 1000πg/ml dengan cara timbang seksama
100,0mg bahan baku dan dilarutkan dalam labu takar 100ml dengan sebagian
pelarut aquadestilata.
2. Dari larutan standar induk tersebut, lakukan pengenceran untuk 100πg/ml dengan
cara ambil 5mL larutan standar dan tambahkan aquasetilata hingga 50ml
3. Dari larutan 100πg/ml, rancanglah dan lakukanlah pengenceran hingga diperoleh
konsentrasi 4ppm, 6ppm, 8ppm, 10ppm, 12ppm dan 14 ppm
4. Lakukan pengukuran serapan lakukan standar diatas pada ԓ maks masing-masing
kosentrasi, kemudian dibuat kurva kalibrasi dan tentukan persamaan kurva
kalibrasi

4.4. Evaluasi granulasi parasetamol


A) Granulometri
1. Susun ayakan dengan bukaan terbesar di bagian paling atas dan pengayak
dengan bukaan terkecil dibagian bawah
2. Timbang granul parasetamol sebanyak 25 gram - 100 gram, sesuai dengan
kerapatan urah yang diperoleh
3. Masukkan granul parasetamol yang telah ditimbang, kemudian ditempatkan
diatas mesin vibriator
4. Dilakukan pengayakan, dan dihitung bobot granul yang tertinggal dalam setiap
mesh/pengayakan
5. Dilakukan bobot perhitungan bobot yang lolos dalam ayakan.
B) Bobot Jenis
1) Menentukan kerapatan bulk
a. Timbang granul parasetamol sebanyak 10 gram, kemudian masukkan ke dalam
gelas ukur 50ml
b. Ukur volume zat padat
c. Hitunglah kerapatan bulk
2) Menentukan kerapatan mampat
a. Timbang zat padat sebanyak 10 gram
b. Dimasukkan kedalam gelas ukur
c. Dilakukan ketukan sebanyak 100 kali ketukan
d. Diukur volume yang terbentuk
e. Dihitung kerapatan mampat
3) Menentukan kerapatan sejati
a. Digunakan piknometer yang bersih dan kering, ditimbang bobot kosong
piknometer dengan tutupnya (W1),
b. Dimasukkan granul parasetamol kedalam piknometer kira-kira 2/3 bagian,
ditimbang piknometer berisi zat padat beserta tutupnya (W3)
c. Isikan paraffin cair perlahan-lahan kedalam piknometer berisi zat padat, kocok-
kocok, dan isi sampai penuh sehingga tidak ada gelembung udara didalamnya
d. Ditimbang piknometer berisi zat padat dan parafin cair tersebut beserta tutupnya
(W4)
e. Dibersihkan piknometer dan isi penug dengan parrafin cair dan tutupnya (W2)
f. Dihitung kerapatan sejati

C) Kecepatan aliran
1. Timbang 100 gram granul parasetamol, dimasukkan ke dalam corong yang
terdapat pada alat
2. Disiapkan wadah penampung granul pada bagian bawah corong
3. Dilakukan pengukuran, tutup corong dalam keadaan terbuka sehingga granul
mulai meluncur melewati corong
4. Dicatat waktu yang diperlukan granul untuk mengalir melewati corong
5. Dihitung kecepatan alir membagi bobot granul (100gram) dengan waktu yag
dibutuhkan granul untuk melewati corong (g/detik)

D) Sudut Istirahat
1. Ditimbang granul parasetamol 100 gram
2. Dimasukkan kedalam corong yang terdapat pada alat, alasi bagian bawah
corong dengan kertas
3. Dilakukan pengukuran, tutup corong dalam keadaan terbuka sehingga granul
mulai meluncur melewati corong
4. Dihitung sudut istirahat

E) Kandungan lembab
1. Ditimbang granul parasetamol sebanyak 5 gram
2. Dimasukkan ke dalam piring (alumunium foil)
3. Diratakan lalu dimasukkan ke dalam alat moisture balance yang telah ditara
sebelumnya
4. Dipanaskan pada suhu 70oC, ditunggu hingga % kadar air pada alat
menunjukkan angka yang tetap

F) Penentuan kadar zat aktif parasetamol dalam granul


1. Buatlah larutan induk bahan baku 1000πg/ml dengan cara timbang seksama 82,2
mg bahan baku dan dilarutkan dalam labu takar 50ml dengan sebagian pelarut
aquadestilata, dilakukan secara triplo
2. Dari larutan standar induk tersebut, lakukan pengenceran untuk 100πg/ml dengan
cara ambil 5mL larutan standar dan tambahkan aquasetilata hingga 50ml,
dilakukan triplo
3. Dari larutan standar 100πg/ml tersebut, lakukan pengenceran untuk 10πg/ml
dengan cara ambil 5mL larutan standar dan tambahkan aquasetilata hingga 50ml,
dilakukan triplo
4. Lakukan pengukuran serapan lakukan standar diatas pada ԓ maks dari bahan baku
standar parasetamol (243,40 nm, kemudian lihat absorbansi dari setiap konsentrasi
10πg/ml.

4.5. Evaluasi Tablet Paracetamol


A) Organoleptis
1. Tablet diamati secara visual
2. apakah terjadi ketidakhomogenan zal wama atau tidak, bentuk tablet,
permukaan cacat atau tidak dan harus bebas dari noda atau binlik-bintik.

B) Keseragaman ukuran (FI III)


1. Diambil secara acak 20 tablet
2. diukur diameter dan tebalnya menggunakan jangka sorong

C) Kekerasan
1. Dilakukan menggunakan Hardness tester terhadap 20 tablet yang diambil
secara acak.
2. Kekerasan diukur berdasarkan luas pemukaan tablet dengan menggunakan
beban yang dinyatakan dalam kg
3. Ditentukankan kekerasan rata-rata dan standar deviasinya.

D) Friabilitas
1. Tablet yang bobotnya sama dengan atau kurang dari 650 mg. Ambil dan
timbang tablet dengan bobot mendekati atau memungkinkan hingga 6,5 gram.
Untuk tablet yang bobotnya melebihi 650 mg maka diambil tablet sebanyak
10 tablet.
2. Timbanglah sejumlah tablet diatas dan dicatat.
3. Simpan pada alat friabilitas.
4. Set alat dengan rotasi 100 kali.
5. Ambillah dan gunakan kuas untuk menghilangkan debu serbuk pada tablet
6. Timbang hasil yang terlah diuji
7. Hitung hasil friabilitas

E) Keseragaman Bobot
1. Diambil 20 tablet secara acak
2. Ditimbang masing-masing tablet
3. Dihitung bobot ratarata dan penyimpangan terhadap bobol rata-rata

F) Keseragaman Sediaan FI V
1. Diambil tidak kurang dari 30 satuan dan lakukan seperti berikut untuk bentuk
sediaan yang dimaksud.
2. Ditetapkan kadar masing-masing 10 satuan menggunakan metode analisis
yang sesuai.
3. Hitung nilai penenimaan

G) Keragaman Bobot
1. Diambil tidak kurang dari 30 satuan.
2. Ditimbang saksama 10 tablet satu per satu
3. Dihitung jumlah zat aktif dalam tiap tablet yang dinyatakan dalam persen dan
jumlah yang tertera pada etiket dari hasil Penetapan kadar masing-masing
tablet.
4. Dihitung nilai penerimaan

H)Waktu Hancur
1. Dimasukkan 1 tablet pada masing-masing 6 tabung dari kenanjang, jika
dinyatakan masukkan 1 cakram pada tiap tabung.
2. Dijalankan alat,gunakan air bersuhu 37°+2° sebagai media kecuali
dinyatakan menggunakan cairan lain dalam masing-masing monografi.
3. Pada akhir batas waktu sepenti tertera pada monografi, angkat kenanjang dan
amati semua tablet: semua tablet harus hancur sempurna.

I) Disolusi
1. Dimasukkan 1 unit sediaan ke dalam masing-masing wadah, jaga agar
gelembung udara tidak menempel pada permukaan sediaan, dan segera
operasikan alat pada kecepatan yang sesuai dengan yang tertera nada
masing-masing monografi.
2. Dalam interval waktu yang ditentukan, atau pada tiap waktu yang tertera
ambil sejumlah sampel pada daerah pertengahan antara permukaan Media
disolusi dan bagian atas keranjang atau dayung tidak kurang dari 1 cm dari
dinding wadah
3. Lakukan analisis seperti tertera pada masing-masing monografi,
menggunakan metode penetapan kadar yang sesuai.
4. Ulangi pengujian menggunakan sediaan uji tambahan bila diperlukan. Bila
digunakan alat otomatis untuk pengambilan sampel ataupun peralatan yang
dimodifikasi, hasil verifikasi alat tersebut harus menunjukkan basil yang
sama dengan alat yang baku seperti tertera pada ketentuan umum.
BAB V

HASIL PERCOBAAN
BAB VI

PEMBAHASAN

Menurut Farmakope IV (1995), tablet adalah sediaan padat yang mengandung


bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi .

Pada praktikum kali ini akan dibuat sediaan tablet dengan menggunakan
bahan aktif yaitu parasetamol atau asetominofen. Khasiat dari parasetamol yaitu
sebagai analgetis dan antipiretis, tetapi tidak antiradang.(Obat – Obat Penting , hlm :
318)

Aksi dari parasetamol yaitu menghambat prostaglandin di SSP tetapi tidak


memiliki efek anti-inflamasi diperifer ; mengurangi demam melalui tindakan
langsung pada hipotalamus pengatur pusat panas. Parasetamol diindikasikan untuk
menghilangkan nyeri ringan sampai sedang ; pengobatan demam. Penggunaan berlabel (s):
Nyeri dan demam setelah vaksinasi profilaksis. (A to Z Drug fact)

. Pada metode granulasi basah, tiap bahan tambahan dibagi kedalam 2 fase
yaitu fase dalam dan fase luar. Fase dalam terdiri dari zat aktif, pengikat, pengisi, dan
10% penghancur. Fase luar terdiri dari 5% penghancur, pelicin, dan glidan. Fase
dalam adalah campuran yang kemudian akan dibuat menjadi massa granul, sedangkan
fase luar adalah bahan yang membantu aliran granul fase dalam yang telah dibuat.
Pembuatan tablet dapat dilakukan dengan metode cetak langsung dan metode
granulasi. Granulasi merupakan proses peningkatan ukuran partikel dengan cara
melekatkan partikel-partikel sehingga bergabung dan membentuk ukuran yang lebih
besar . Metode granulasi ini terdiri dua metode yaitu metode granulasi basah dan
metode granulasi kering. Metode yang digunakan pada praktikum pembuatan sediaan
tablet parasetamol yaitu dengan metode granulasi. Pembuatan sediaan tablet dengan
menggunakan prinsip granulasi basah pada prinsipnya partikel bahan aktif yang
terlebih dahulu dicampur dengan pengencer atau pengisi akan bersatu/lengket dengan
adanya pengikat (adhesif) dengan pembawa pada umumnya air.(Goeswin Agoes
halaman : 306)

Tahapan atau prosedur yang dilakukan pada pembuatan tablet parasetamol


dengan menggunakan metode granulasi basah yaitu :

1. Membuat larutan pengikat


Larutan pengikat yang digunakan dalam formula yaitu mucilage amili, dalam
praktikum ini digunakan pengikat mucilage amili sebanyak gram. Pembuatan larutan
pengikat ini dengan cara 20 gram musilago amili dimasukkan kedalam gelas piala (II)
kemudian ditambahkan aquadestilata sebanyak 20ml, aduk hingga homogenn,
terbentuk suspense, Kemudian masukaan gelas piala (II) yang sudah mendidih
kedalam gelas piala (I) yang telah berisi air mendidih 100ml , terus aduk sampai
bening, kemudian ditimbang kembali gelas piala (I), ad dengan air (sebagian sisa air
digunakan untuk membilas gelas piala II) sampai bobot total (+gelas piala I). Larutan
pengikat yang dihasilkan berwarna jernih dan transparan.

2. Mixing
Mixing dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan bertujuan untuk
menggabungkan dua atau lebih komponen, yang awalnya dalam keadaan tidak dicampur
atau sebagian campuran, sehingga masing-masing unit (partikel, molekul dll) dari
komponen terletak sedekat mungkin atau bercampur dengan unit atau partikel masing-
masing komponen lainnya. Tujuan dari proses mixing adalah untuk mendapatkan/menjamin
homogenitas campuran serbuk sehingga tablet yang dihasilkan merupakan campuran
homogen. Pada tahap ini dilakukan mixing terhadap fase dalam bahan aktif yaitu
parasetamol, pengisi laktosa sebanyak dan disintegrant 10% yaitu amylum.

3. Granulasi
Granulasi merupakan proses peningkatan ukuran partikel dengan cara
melekatkan partikel-partikel sehingga bergabung dan membentuk ukuran yang lebih
besar . Pada tahap ini dilakukan pencampuran larutan pengikat dengan serbuk yang
sudah di mixing pada proses mixing untuk membentuk massa basah. Larutan
pengikat kemudian ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran bahan
sambil diaduk hingga massa dapat dikepal dan dipatahkan.
4. Pengayakan
Granul yang telah terbentuk pada saat proses granulasi kemudian diayak dengan
menggunakan ayakan mesh 14. Pengayakan ini bertujuan untuk menyeragamkan
ukuran granul.
5. Pengeringan
Sesudah dilakukan proses granulasi, hasil granulasi berada dalam bentuk massa
basah di mana cairan (liquid) harus dihilangkan karena keberadaan air akan
menimbulkan masalah pada sifat aliran dan ketidakstabilan secara kimiawi. (Goeswin
Agoes, halaman: 310)
Pengeringan dilakukan pada oven bersuhu < 450C. Pemilihan suhu ini
berdasarkan pada stabilitas parasetamol yang dapat terurai pada suhu diatas 450C.
6. Mixing
Dapat dihitung jumlah fase luar yang akan ditambahkan. proses mixing ini
dilakukan pencampuran granul yang sudah dikeringkan dengan fase luar yaitu talk
sebagai glidan, Mg Stearat sebagai lubrikan dan amylum sebagai disintegran.
Fungsi dari penambahan fase luar utamanya adalah untuk memperbaiki sifat alir
granul dan mencegah friksi antara serbuk dengan die dari mesin pencetak tablet.
Pengadukan pada fase luar tidak lebih dari 5 menit yaitu sekitar 2 – 3 menit. Hal itu
disebabkan karena salah satu zat yang merupakan fase luar yaitu magnesium stearate
sangat berpengaruh terhadap disolusi dari tablet di saluran cerna. Jika proses mixing
dilakukan terlalu lama, maka kehomogenitasan magnesium stearate dengan bahan
lain menjadi tinggi dan menyebabkan granul dilapisi oleh magnesium stearate yang
memiliki sifat hidrofob (suka minyak). Sifat hidrofob yang dihasilkan oleh
magnesium stearate ini akan menyulitkan tablet melarut di saluran cerna yang banyak
mengandung air, sehingga dapat menyebabkan disolusi tablet berkurang dan
menyebabkan waktu mula kerja obat lambat.
7. Evaluasi granul
Setelah diperoleh granul, langkah selanjurtnya yaitu dilakukan evaluasi
granul. Evaluasi granul yang dilakukan meliputi :
a. Penetapan kadar zat aktif pada granul
Pada praktikum granulasi basah diuji evaluasi granuk penentuan kadar zat
aktif dalam parasetamol pada granul bertujuan untuk menentukan kadar zat dalam
granul memenuhi persyaratan atau tidak memenuhi persyaratn pada lietratur
(Farnakoope indonesia) dan menentukan bobot tablet yang akan dicetak. Pada
percobaan ini menggunakan alat spektrofotometri Uv-Visibel dengan prinsipnya
secara fotometri berdasarkan absorpsi cahaya oleh molekul molekul dengan sinar
visibel dan sinar serap dan analisis berdasarkan kualitatif dengan bentuk spekrum uv-
visibel pada panjang gelombang maksimal dari sampel dan panjang gelombang
maksimal dari larutan baku. Sampel yang digunakan yaitu paraetamol dan pelarut
yang digunakan adalah aquadest.
Pada sampel bahan baku parasetamol dengan pelarut aquadetilata
diperoleh panjang gelombang maksimal 243,30 nm. Hasil yang diperoleh dengan
literatur dimana panjang gelombang maksimal parasetamol yaitu 247 nm. Hasil yang
diperoleh sampel denga literatr untuk panjang gelombangnya sama sedangkan dengan
baku pembading berbeda dengan literaur. Hal ini dikarenakan adanya factor
lingkungan elektronik (gugus kromofor) dan pelarut yang digunakan gugus ausokrom
sehingga terjadi pergeseran panjang gelombang dan dinyatakan dalam farmakope
bahwa parasetamol tidak larut dalam methanol sehingga terjadi hipsokromik atau
penurunan panjang gelombang. Pada percobaan pembuatan larutan standar,
parasetamol dengan konsentrasi yaitu 4,6,8,10,12,14 ppm. Hasil data kami masukkan
dalam persamaan garis regresi (linier) yaitu y = a + bx yaitu y = 0,0623x - 0,0046
dengan R² = 0,9994 dan r = 0,9996 Kemudian dilakukan penetapan kadar zat aktif
dalam granul dengan melihat nilai absorbansi dari konsentrasi 10 ppm yang dilakukan
secara tiga kali pengujian (triplo). Nilai absorbansi yang di dapat yaitu 0,632 ;
0,636 ; dan 0,632 dengan nilai persentase kadar yaitu 102,98% ; 102,8 % ; dan 102,1
%. Nilai persentase kadar rata-rata yang diperoleh adalah 102,636% yang berarti
memenuhi persyaratan rentang kadar kemurnian parasetamol yaitu 90% - 110%.
Dalam data rentang persentase parasetamol tersebut diperoleh rentang untuk
mencetak tablet parasetamol 250mg berada pada rentang 360,5 mg hingga 440,6 mg
per tablet agar kandungan parasetamol memenuhi persyaratan kemurnian tablet
parasetamol.

b. Granulometri
Pada evaluasi granulometri ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kisaran
ukuran partikel granul, dan penyebaran ukuran partikel yang dapat diketahui dari
beberapa banyak yang tertinggal pada setiap nomor mesh. Dengan makin kecilnya
ukuran granul akan memperbesar luas permukaan sehingga akan mempercepat granul
untuk melarut. Percobaan ini menggunakan alat electric sieve shaker. Satu seri dari
delapan ayakan standar analyzer dengan nomor ayakan 10, 30, 35, 60, 120, 200, 230
yang disusun secara menurun dari ukuran ayakan paling besar, granul yag telah
ditimbang ditemaptkan dalam ayakan dan mesin sieve shaker dijalankan selama 5-10
menit. Prinsip kerja dari alat sieve shaker yaitu adanya getaran vibrator menyebabkan
granul diatas pemukaan akan bergerak maju dan membentuk stratifikasi. Granul yang
menempati bagian bawah dan ukurannya lebih kecil daripada lubang ayakan segera
lolos melewati lubang, sedangkan granul yang berada di bagian atas dan memiliki
ukuran lebih besar daripada lubang ayakan akan tetap tertinggal. Hasil evaluasi
granulometri menunjukan bahwa ukuran partikel memiliki granul yang paling banyak
tertinggal pada ayakan no. 30 sejumlah 54,74 gram dan memiliki persentase jumlah
bobot yang lolos ayakan sebesar 98,02%. Hal ini menunjukkan bahwa uji
granulometri ini sudah memenuhi persyaratan pada farmakope Indonesia yaitu tidak
leih dari dari 95-100%. Dan menunjukan bahwa formula memiliki ukuran partikel
dimana partikel yang lebih besar kurang dari 150 μm , ukuran partikel mempengaruhi
sifat fisika dan kimia dari obat yakni laju disolusi obat, tekstur dan keseragaman isi
yang homogeny tergantung pada ukuran partikel.
c. BJ nyata,BJ mampat dan % komprebilitas (% K)

Tujuan dilakukannya evaluasi BJ mampat, BT nyata, dan % kompresibilitas ialah


untuk menjamin aliran granul yang baik. Berdasarkan hasil uji evaluasi granul
didapatkan pada jumlah ketukan BJ mampat, semakin besar jumlah ketukan yang
diberikan maka sampel uji akan semakin mampat sehingga volume zat berkurang dan
hal tersebut akan meningkatkan kerapatannya.

Lalu aliran serbuk dari sampel yang akan diuji dapat diketahui dari rasio Hausner,
dimana rasio Hausner didapatkan dengan membandingkan antara kerapatan mampat
dengan kerapatan curah. Jika rasio Hausner lebih kecil dari 1,25 maka aliran serbuk
tersebut baik, tetapi jika aliran serbuk lebih dari 1,5 maka aliran serbuk tersebut
buruk. Berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh, rasio Hausner pada granul
parasetamol ialah 1,09.

Berdasarkan perbandingan kerapatan curah (ruah) dan kerapatan mampat maka dapat
pula ditentukan nilai kompresibilitas, dimana hal ini berhubungan dengan sifat aliran
dari suatu sebuk. Pedoman empiris mengalirnya serbuk diberikan melalui indeks
kompresibilitas (konsolidasi). Pada hasil evaluasi granul, didapatkan nilai
kompresibilitas 8,58%. Menurut indeks Carr nilai 8,56% termasuk ke dalam aliran
serbuk yang sangat baik.

d. Kecepatan aliran dan sudut istirahat

Evaluasi kecepatan alir garnul ini bertujuan untuk menjamin keseragaman pengisian
kedalam cetakan. Pengujian kecepatan alir menggunakan alat Granul flow tester
dengan cara dimasukkan granul parasetamol ke dalam corong yang terdapat pada alat
kemudian dibuka tutup corong sehingga granul mulai meluncur melewati corong,
dicatat waktu yang diperlukan granul untuk mengalir melewati corong dan dihitung
kecepatan alir membagi bobot granul (100gram) dengan waktu yag dibutuhkan
granul untuk melewati corong (g/detik). Aliran campuran serbuk sangat penting untuk
pembuatan tablet untuk memastikan pencampuran yang efisien. Kecepatan alir
campuran serbuk berhubungan dengan sifat alir campuran serbuk, dimana
mempengaruhi pengisian yang seragam baik bobot maupun obat dalam tablet ke
dalam lubang cetak mesin tablet dan untuk memudahkan gerakan bahan.

Berikut merupakan hubungan antara kecepatan alir dengan sifat alir campuran
serbuk:

Tabel Hubungan antara Kecepatan Alir dengan Sifat Alir

Kecepatan alir (gram/detik) Sifat aliran


> 10 Sangat baik
4 – 10 Baik
1,6 – 4 Sukar
< 1,6 Sangat sukar

Dari hasil pengukuran kecepatan alir terhadap tablet parasetamol,diperoleh hasil


5,411 g/s

Artinya memiliki kecepatan alir campuran serbuk yang baik.

Sudut istirahat

Pengujian sudut istirahat menggunakan alat Granul flow tester dengan cara
dimasukkan granul parasetamol ke dalam corong yang terdapat pada alat kemudian
dibuka tutup corong sehingga granul mulai meluncur melewati corong,kemudian
dihitung sudut istirahatnya Sudut istirahat digunakan untuk mengetahui kohesifitas
partikel campuran serbuk.

Berikut merupakan Hubungan antara Sudut Diam dengan Sifat Alir

Tabel Hubungan antara Sudut Diam dengan Sifat Alir

Sifat Alir
Sudut Diam (θ)
Sangat baik
<20
Baik
20-30
Cukup
30-34
>34 Sangat sukar
Dari hasil pengukuran sudut diam terhadap tablet parasetamol, diperoleh hasil 18,77
Artinya memiliki sifat alir yang baik. Sudut istirahat merupakan ukuran kohesifitas
serbuk yang ditunjukkan pada momen gaya interaksi antar partikel melebihi gaya
tarik gravitasi partikel tersebut.

e. Kandungan lembab

Kandungan lembab ini dapat di ukur dengan menggunakan alat bernama


moisture balance. Dilakukan dengan memasukan sejumlah granul ke piring yang
berada dalam alat kemudian alat ditutup dan ditunggu hingga pengukuran selesai
yang ditandai dengan berhentinya waktu di layar display, lalu dicatat hasil.
Kandungan lembab ini di ukur pada granul sebelum dan setelah ditambahkan fase
luar. Didapat hasil kandungan lembab granul sebelum diambah fase luar yaitu 1,39%
sedangkan kandungan lembab granul setelah di tambah fase luar adalah 2,40%.
Granul yang dimasukkan ke dalam alat tidak dapat dipakai kembali karena
parasetamol sebagai zat aktif hanya stabil pada pemanasan <45◦C sedangkan alat
moisture balance bersuhu 86-88◦C sehingga zat aktif paracetamol tersebut rusak.
Kandungan lembab ini perlu dilakukan karena kandungan air dalam granul
dapat mempengaruhi stabilitas dan daya ikat granul. Persyaratan kandungan lembab
granul adalah <3% dan harus lebih dari 0%. Hal ini dikarenakan jika granul tidak
memiliki kelembaban sama sekali (0%) maka granul tidak akan bisa di kempa
menjadi tablet atau massa yang kompak, sedangkan jika kelembaban granul melebihi
3% dikhawatirkan stabilitas granul akan menurun atau bahkan ditumbuhi mikroba.
Berdasarkan hasil percobaan, granul parasetamol yang kami produksi memenuhi
syarat karena berada di bawah 3%.
8. Kompresi
Tahap – tahap pembuatan tablet yaitu pengisian , pengempaan dan
pelemparan. Pembuatan tablet pada praktikum ini dilakukan dengan menggunakan
alat pencetak tablet single punch.

Langkah selanjutnya setelah diperoleh tablet parasetamol , kemudian


dilakukan evaluasi tablet , meliputi :
a. Organoleptis
Uji organoleptis dilakukan dengan tujuan untuk penerimaan oleh konsumen.
Karena, secara visual tablet yang baik harus memiliki warna yang homogen dan tidak
mengandung pengotor. Evaluasi ini dilakukan dengan cara pemeriksaan secara
organoleptis meliputi warna, bau, dan rasa. Dari hasil evaluasi tablet yang telah
dicetak menghasilkan bentuk tablet bulat pipih, berwarna putih, tidak berbau dan
memiliki rasa pahit. Tablet yang dicetak juga memiliki permukaan yang tidak
mengkilap (glossy). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi tablet
memenuhi syarat organoleptis karena tidak adanya kecacatan pada bentuk sediaan
tablet.

b. Keseragaman Ukuran
Mengukur keseragaman ukuran dilakukan dengan menghitung tebal serta
diameter tablet dengan menggunakan jangka sorong. Uji keseragaman ukuran
memenuhi syarat apabila diameter tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang
dari satu setengah kali tebal tablet. Berdasarkan hasil evaluasi keseragaman ukuran,
diketahui bahwa semua tablet yang telah dicetak memenuhi persyaratan tablet, karena
semua tablet yang dihasilkan memiliki diameter yang tidak lebih dari tiga kali tebal
tablet atau tidak lebih dari nilai yang tertera pada syarat diameter tablet.

c. Kekerasan
Uji kekerasan tablet didefinisikan sebagai uji kekuatan tablet yang
mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberi
tekanan terhadap diameter tablet. Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan
tertentu serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik pada saat pembuatan,
pengepakan dan transportasi. Alat yang digunakan adalah hardness tester terhadap 20
tablet yang diambil secara acak. Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan
ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan
terjadi keretakan talet selama pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan tablet adalah tekanan kompresi dan sifat
bahan yang dikempa. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan
pengempaan. Semakin besar tekanan yang diberikan saat penabletan akan
meningkatkan kekerasan tablet. Pada umumnya tablet yang keras memiliki waktu
hancur yang lama (lebih sukar hancur) dan disolusi yang rendah, namun tidak
selamanya demikian. Pada umumnya tablet yang baik dinyatakan mempunyai
kekerasan antara 4-6 kg/cm2 untuk ukuran tablet kecil sedangkan 7-10 kg/cm2 untuk
ukuran tablet besar. Namun hal ini tidak mutlak, artinya Kekerasan tablet kurang dari
4 kg masih dapat diterima asalkan kerapuhannya tidak melebihi batas yang
ditetapkan. Tetapi biasanya tablet yang tidak keras akan mengalami kerapuhan pada
saat pengemasan dan transportasi. Kekerasan tablet yang lebih dari 10 kg masih dapat
diterima, asalkan masih memenuhi persyaratan waktu hancur/desintegrasi dan
disolusi yang dipersyaratkan .Pada pengujian ini tablet digunakan 20 tablet
paracetamol memiliki rata-rata kekerasan tablet sebesar 4 kg/cm2 dan memiliki nilai
standar deviasi sebesar
Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa tablet yang digunakan dalam
pengujian telah memenuhi persyaratan atau memenuhi parameter yang ditetapkan
diatas yaitu memiliki nilai sebesar 4-6 kg/cm2.

d. Friablilitas
Kerapuhan yaitu parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan
permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan
pengiriman. Kerapuhan diukur dengan friabilator. Prinsip kerjanya adalah
menetapkan bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator
selama waktu tertentu. Pada proses pengukuran kerapuhan, alat diputar dengan
kecepatan 100 putaran per menit dan waktu yang digunakana dalah 5 menit.Tablet
yang akan diuji sebanyak 10 tablet, terlebih dahulu ditimbang dengan seksama hingga
bobot mendekati 6,5 gram. Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam
friabilator, dan diputar sebanyak 100 putaran selama 5 menit. Setelah selesai,
keluarkan tablet dari alat, bersihkan dari debu dan timbang kembali dengan seksama.
Kemudian dihitung persentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan.
Syarat uji friabilitas ini tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1% . Uji
kerapuhan berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada
permukaan tablet. Semakin besar harga persentase kerapuhan, maka semakin besar
massa tablet yang hilang. Kerapuhan yang tinggi akan mempengaruhi
konsentrasi/kadar zat aktif yang masih terdapat pada tablet. Tablet dengan konsentrasi
zat aktif yang kecil (tablet dengan bobot kecil), adanya kehilangan massa akibat
rapuh akan mempengaruhi kadar zat aktif yang masih terdapat dalam tablet. Pada
pengujian friabilitas pada beberapa tablet diperoleh hasil bobot sebelum uji sebesar
6,51 gram dan bobot setelah uji sebesar 6,45 gram. Pengujian ini memiliki nilai
friabilitas sebesar 0,009%. Berdasarkan data tersebut bahwa tablet memiliki
presentase yang kurang dari 1%. Sehingga presentase bobot yang hilang hanya
sedikit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tablet yang digunakan dalam
pengujian ini memenuhi persayaratan uji friabilitas.

e. Keseragaman Bobot
Uji Evaluasi keseragaman bobot dilakukan untuk menjamin keseragaman
kandungan zat aktif dalam sediaan tablet. Keseragaman bobot Uji yang digunakan
menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
661/MENKES/SK/VII/1994 yaitu, Dari 20 tablet , tidak lebih dari 2 tablet yang
masing- masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga
yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang
dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom B, yang
tertera pada daftar berikut : 

Bobot rata-rata tablet Penyimpangan bobot rata-rata dalam %

A B

< 25mg 15 30

26 - 150 mg 10 20
151 - 300 mg 7,5 15

>300 mg 5 10

Keseragaman Bobot ditetapkan dengan menimbang 20 tablet dan dihitung bobot


rata-ratanya. Kemudian timbang satu persatu dan tidak tidak boleh lebih dari 2 tablet
yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada
kolom A dan tidak boleh ada satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot
rata-rata lebih dari harga dalam kolom B.  Uji keseragaman bobot ini bertujuan untuk
mengetahui besarnya penyimpangan bobot per kapsul dan penyimpangan ini
berhubungan dengan penyimpangan dosis per kapsul. Untuk mendapatkan persen
persamaan menggunakan rumus :

bobot isi perkapsul−bobot rata−rata kapsul


% penyimpangan= x 100
bobot rata−rata kapsul

Berdasarkan hasil perhitungan dari 20 tablet dinyatakan lolos karena persen


persamaan yang didapat kurang dari kolom A (5%) dan kolom B (10%). Dari hasil
tersebut dapat dinyatakan bahwa tablet yang dibuat memenuhi persyaratan.
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk menjamin keseragaman proporsi zat aktif
disetiap bagian. Aliran granul yang buruk juga dapat mempengaruhi keseragaman
bobot. Menurut Farmakope Indonesia edisi 4, tablet dengan bobot >300 mg
memenuhi syarat uji apabila tidak lebih dari 2 tablet yang melebihi 5% dari bobot
rata-rata dan tidak ada satu tablet pun yang melebihi 10% bobot rata-rata.

f. Keseragaman sediaan

g. Kadar zat aktif dalam tablet

h. Waktu Hancur
Waktu hancur adalah waktu yang dibutuhkan sejumlah tablet untuk hancur
menjadi granul/partikel penyusunnya yang mampu melewati ayakan no.10 yang
terdapat dibagian bawah alat uji. Alat yang digunakan adalah disintegration tester,
yang berbentuk keranjang, mempunyai 6 tube plastik yang terbuka dibagian atas,
sementara dibagian bawah dilapisi dengan ayakan/screen no.10 mesh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu hancur suatu sediaan tablet yaitu sifat fisik
granul, kekerasan, porositas tablet, dan daya serap granul. Penambahan tekanan pada
waktu penabletan menyebabkan penurunan porositas dan menaikkan kekerasan tablet.
Dengan bertambahnya kekerasan tablet akan menghambat penetrasi cairan ke dalam
pori-pori tablet sehingga memperpanjang waktu hancur tablet. Kecuali dinyatakan
lain waktu hancur tablet bersalut tidak > 15 menit.
Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 tablet) dimasukkan dalam tiap tube,
ditutup dengan penutup dan dinaik-turunkan keranjang tersebut dalam medium air
dengan suhu 37° C. Dalam monografi yang lain disebutkan mediumnya merupakan
simulasi larutan gastrik (gastric fluid). Waktu hancur dihitung berdasarkan tablet
yang paling terakhir hancur. Persyaratan waktu hancur untuk tablet tidak bersalut
adalah kurang dari 15 menit, untuk tablet salut gula dan salut nonenterik kurang dari
30 menit, sementara untuk tablet salut enterik tidak boleh hancur dalam waktu 60
menit dalam medium asam, dan harus segera hancur dalam medium basa.
Untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang tertera dalam masing-
masing monografi. Untuk tablet parasetamol tidak bersalut pengujian dilakukan
dengan memasukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang, masukkan
satu cakram pada tiap tabung dan jalankan alat, gunakan air bersuhu 37º ± 2º sebagai
media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain dalam masing-masing monografi.
Pada akhir batas waktu seperti yang tertera dalam monografi, angkat keranjang dan
amati semua tablet : semua tablet hancur sempurna.
Waktu hancur untu sampel no 1 01.48 menit, sampel uji no 2 01.50 menit,
sampel uji no 3 01.53, sampel uji no 4 01.55, sampel uji no 05 01.57 dan sampel uji
01.48. rata-rata dari 6 sampel uji adalah 01.51 menit. Seluruh tablet hancur sempurna
berarti sudah memenuhi persyaratan dan waktu hancur <15 menit memenuhi
persyaratan uji waktu hancur.

i. Disolusi
BAB VII

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1994. Farmasetika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Agoes, Goeswin.2012. sediaan Farmasi Padat. Bandung : Penerbit ITB

Kementerian RI. 2014. Farmakope Indonesia edisi V. Jakarta : Kementerian


Kesehatan

Lachman, L., H. A. Lieberman dan J. L. Kanig (1986). Teori dan Praktek Farmasi
Industri, Edisi Ketiga. Jakarta : UI Press.

Siregar, Charles J.P. (2008). Teknologi Farmasi Sediaan Tablet : Dasar–Dasar.


Praktis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Hal. 90, 98-110.

Tatro, D.S. 2003. A to Z Drug Facts. San Fransisco : Facts and Comparisons.

Tjay dan K. Rahardja. 2007. Obat-obat Penting. Jakarta: PT Elex Media


Komputindo.

Anda mungkin juga menyukai