Anda di halaman 1dari 18

Profil Guru Ideal

Mata kuliah : Manajemen Kelas


Dosen Pengampu : Sudanto SE, MM

Disusun Oleh Kelompok 1 (satu) :


Dedi Setiawan (18.0983)
Sarifah (18.1038)
Reni (18.1033)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SULTAN ABDURRAHMAN KEPULAUAN RIAU
2019
KATA PENGANTAR

Pertama-tama, marilah kita mengucapkan segala panjat puji syukur


kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat kepada kita semua, berupa
kesehatan dan kelancaran dalam segala hal, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini tanpa halangan apa pun.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada
seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga
makalah ini mampu memberikan manfaat dan mampu memberikan nilai tambah
kepada para pembaca dan pemakainya.
Kami sebagai penyusun makalah ini menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
ada relevansinya dengan penyempurnaan makalah ini sangat kami harapkan dari
para pembaca. Kritik dan saran sekecil apapun akan kami perhatikan dan
pertimbangkan guna perbaikan di masa datang.

                                                                       Bintan , 2 Februari 2020


                                                                                                                 
                                                                      

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Isi Halaman
Cover...................................................................................................................i
Kata Pengantar....................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................1
C. Tujuaan Penulisan...................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Profil keribadian guru ideal.....................................................................3
B. Kepribadian guru di sekolah dan madrasah............................................8
C. Kontribusi teori kepribadian dan etika dalam pengembangan
kepribadian guru......................................................................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..............................................................................................17
B. Saran........................................................................................................17
Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Seperti yang kita tahu anak didik sedikit banyak akan mengikuti
kepribadian gurunya yang mereka anggap sebagai anutannya. Secara tidak sadar
kita sebagai guru dijadikan idola oleh anak didik kita. Penting sekali bagi guru
atau calon guru untuk mengetahui hal ini. Sehubungan dengan mereka sebagai
pendidik, Kita harus memiliki kepribadian yang baik jika ingin anak didik kita
juga baik. Terutama guru-guru yang mendidik anak-anak sekolah dasar, mengapa
demikian karena anak-anak umur sekolah dasar mudah sekali mengikuti
kepribadian guru mereka karena mereka masih polos. Sebagai calon guru agar kita
nanti menjadi guru yang di sukai oleh anak didik maka mulai sekaranglah kita
melihat kembali apakah kita punya kepribadian yang baik atau tidak. Anak-anak
suka dengan guru yang perhatian pada mereka dan tidak pilih kasih. Kita
harus mengenal terlebih dahulu kondisi kejiwaan anak-anak agar kita bisa
memahami mereka dan membuat mereka merasa nyaman dengan kita, Kalau kita
punya kepribadian yang baik InsyaAllah anak-anak senang dengan kita dan materi
yang kita berikan pun akan mudah mereka serap, beda kalau guru yang tidak
punya kepribadian yang baik pasti akan di benci oleh anak didik. Dan materi yang
di sampaikan pun akan sulit dicerna meskipun anak tersebut cerdas.
 Selain kepribadian baik yang harus dimiliki oleh seorang guru,
profesionalisme guru juga merupakan hal yang penting dalam keberlangsungan
pendidikan. Saat ini profesionalisme guru sudah sangat menurun jadi untuk
mencapai tujuan pendidikan kita harus meningkatkan kembali profesionalisme
guru. Untuk itulah sebagai seorang guru terutama kita calon guru harus
mempersiapkan diri agar menjadi guru yang profesional dan mempunyai
kepribadian yang baik, guna menghasilkan anak-anak didik penerus bangsa yang
berkualitas tinggi.

1
B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana profil keribadian guru ideal?
2.   Bagaimana kepribadian guru di sekolah dan madrasah?
3.   Bagaimana kontribusi teori kepribadian dan etika dalam pengembangan
kepribadian guru?

C.  Tujuan Masalah
Tujuan masalah dari rumusan masalah di atas adalah:
1.   Mengetahui profil keribadian guru ideal
2.   Mengetahui kepribadian guru di sekolah dan madrasah
3. Mengetahui kontribusi teori kepribadian dan etika dalam pengembangan
kepribadian guru

2
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Profil Kepribadian Guru Ideal


Mendiskusikan sikap profesional keguruan tidak bisa dilepaskan dari
asumsi yang melandasi keberhasilan guru itu sendiri. Sikap ideal yang dimaksud
dapat mengacu kepada perilaku Nabi Muhammad saw. Karena beliau satu-satunya
pendidik yang berhasil. Dalam Al-Quran surah al-Ahzab ayat 21 dinyatakan
bahwa pada pribadi Muhammad saw, terdapat teladan yang dapat dipraktikkan
oleh umat manusia.
Untuk itu, asumsi keberhasilan pendidik perlu meneladani beberapa hal
yang dianggap esensial, yang diharapkan dapat mendekatkan realitas perilaku
pendidik dan idealitas (perilaku Nabi Muhammad saw, sebagai pendidik). Sebab
beliau dikenal sebagai seorang yang berbudi luhur, berkepribadian unggul
sehingga beliau dijuluki al-amin ‘orang yang sangat jujur, dapat dipercaya’, dan
sangat dicintai semua orang.
Hampir seluruh kegiatan yang dikelola sekolah selalu berkaitan dengan
tenaga guru. Kegiatan pokok sekolah tidak akan berjalan lancar bila tidak
didukung oleh tenaga guru yang berkualitas. Agar guru sebagai aspek sumber
daya manusia yang berperan di sekolah dapat berfungsi efektif dan efisien maka
perlu dideskripsikan profil guru ideal yang dibutuhkan di sekolah, yang tentunya
harus sesuai dengan peraturan yang mengatur tentang persyaratan tenaga guru.

Profil ideal tersebut meliputi:

1. Memiliki Kompetensi Kepribadian, yaitu kemampuan personal yang


mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa,
menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia, dengan indikator :
1) Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil.
2) Memiliki kepribadian yang dewasa.
3) Memiliki kepribadian yang arif.

3
4) Memiliki kepribadian yang berwibawa.
5) Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan.
2. Memiliki Kompetensi Pedagogik, yaitu kemampuan yang berkenaan dengan
pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan
dialogis, dengan indikator sebagai berikut :
1) Memahami peserta didik.
2) Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan
3) untuk kepentingan pembelajaran.
4) Melaksanakan pembelajaran.
5) Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran.
6) Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya.
3. Memiliki Kompetensi Profesional, merupakan kemampuan yang berkenaan
dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam
yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum mata pelajaran di
sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta
menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Indikatornya adalah :
1) Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi.
2) Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk menambah
wawasan dan memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.
4. Memiliki Kompetensi Sosial, yaitu berkenaan dengan kemampuan pendidik
sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif
dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali
peserta didik, dan masyarakat sekitar, dengan indikator :
Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik.
1) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik
dan tenaga kependidikan.
2) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali
peserta didik dan masyarakat sekitar.

4
Secara konseptual guru yang diharapkan adalah sosok guru yang ideal
diidamkan oleh setiap pihak yang terkait. Berikut akan dijabarkan profil guru
yang ideal dilihat dari berbagai sudut pandang:

      Dilihat dari sudut pandang siswa, guru ideal adalah guru yang dapat
dijadikan sebagai sumber motivasi belajar, sumber keteladanan, ramah dan penuh
kasih sayang. Guru adalah mitra anak didik dalam kebaikan. Kalau kita
mencermati kata keteladanan, kita pasti ingat dengan istilah guru yaitu digugu dan
ditiru. Maksudnya, seorang guru seyogyanya harus dapat menjadi teladan,
memberi contoh yang baik bagi murid-muridnya dan lingkungan masyarakat pada
umumnya. Sebagai teladan guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan
profil dan idola, seluruh kehidupannya adalah figur bagi anak didik dan
masyarakat. Guru ideal adalah guru yang tidak materialistis. Artinya guru dalam
perlakuannya terhadap anak didik tidak membedakan murid yang kaya dan
miskin. Selain itu guru juga tidak pilih kasih dan obyektif dalam segala hal, dapat
menjawab pertanyaan secara gamblang, jelas dan mudah diterima. Guru dalam
penampilannya rapi, tidak lusuh, tapi juga tidak terlalu berlebihan sehingga murid
merasa nyaman saat melihatnya. Sedikit saja guru berbuat yang tidak baik atau
kurang baik, akan mengurangi kewibawaannya dan kharisma pun secara perlahan
lebur dari jati diri.

      Dari sudut pandang orang tua, guru yang diharapkan adalah sosok yang
dapat menjadi mitra pendidik bagi siswa. Di sini orang tua memiliki harapan pada
guru agar mereka dapat menjadi orang tua kedua di sekolah. Selain itu, guru ideal
bagi orang tua yaitu guru yang dapat berkomunikasi baik dengan orang tua
mengenai perkembangan prestasi belajar anak didik dan juga dapat memberikan
solusi atau jalan keluar bagi anak didik yang mengalami masalah atau problem
dalam belajar, sosialisasi dengan teman, adaptasi dengan lingkungan dan juga
masalah perkembangan anak. Orang tua merupakan bagian dari masyarakat.
Masyarakat akan melihat dan menilai perbuatan guru, bagaimana guru
meningkatkan kualitas layanan pendidikannya dan bagaimana guru memberi
arahan serta dorongan kepada peserta didiknya.

5
      Sedangkan dilihat dari sudut pandang pemerintah, guru yang ideal yaitu
guru yang dapat dituntut untuk profesional dan proposional sebagai unsur
penunjang kebijakan pemerintah terutama di bidang pendidikan. Guru yang
profesional adalah guru yang dapat menempatkan dirinya pada profesinya. Guru
adalah orang yang profesional, artinya secara formal mereka disiapkan oleh
lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Mereka dididik secara khusus
memperoleh kompetensi sebagai guru, yaitu meliputi pengetahuan, keterampilan,
kepribadian, serta pengalaman dalam bidang pendidikan. Kompetensi mengacu
pada kemampuan menjalankan tugas-tugas pelayanan pendidikan secara mendiri.
Kemampuan yang dimaksud berbentuk perbuatan nampak, yang dapat diamati,
dan dapat diukur. Perbuatan yang nampak tersebut didasari antara lain oleh
pengetahuan, asas, konsep, prosedur, teknik, keputusan, pertimbangan, wawasan,
sikap serta sifat-sifat pribadi. Selain itu dilihat dari tingkat pengetahuan, guru
hendaknya memiliki wawasan yang luas, mampu menguasai semua metode
pembelajaran yang secara psikologis dapat diterima muridnya. Seorang guru
mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik. Guru tidak hanya
dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu pengetahuan kepada
peserta didik (cognitive domain) dan aspek keterampilan (pysicomotoric domain),
akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengajarkan dan mendidik
hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).

      Dari segi budaya, guru merupakan subyek yang berperan dalam proses


pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam pelestarian
nilai-nilai budaya. Hal ini berarti, guru yang ideal adalah guru yang dapat
mewariskan dan menjaga nilai-nilai budaya bangsa kepada anak didiknya. Dan
secara otomatis guru tersebut hendaknya dalam dirinya juga tertanam nilai-nilai
budaya bangsa yang luhur. Seorang guru dalam memberikan ilmu kepada
muridnya , dituntut untuk memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang
diajarkan dalam kehidupan pribadinya. Dengan kata lain, seorang guru harus
konsekuen serta konsisten dalam menjaga keharmonisan antara ucapan, larangan,
dan perintah dengan amal perbuatannya sendiri.

6
      Secara umum, guru ideal adalah guru yang memiliki keberdayaan
mewujudkan kinerja yang dapat mewujudkan fungsi dan peranannya secara
optimal. Perwujudan tersebut tercermin melalui keunggulannya dalam mengajar,
hubungan dengan siswa, hubungan sesama guru, pihak lain, sikap dan
keterampilan profesionalnya. Profesionalisme guru hendaknya dapat ditunjukan
oleh lima unjuk kerja, yaitu keinginan berperilaku standar ideal, memelihara
profesi, mengembangkan profesionalitas serta meningkatkan kualitas pengetahuan
dan keterampilannya, mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi serta bangga
terhadap profesinya. Semua penampilan itu dapat terwujud apabila didukung
kompetensi yang meliputi kompetensi intelektual, sosial, pribadi, moral-spiritual,
fisik, dan sebagainya.

    Suksesnya seorang guru tergantung dari kepribadian, luasnya ilmu tentang
materi pelajaran serta banyaknya pengalaman. Tugas seorang guru itu sangat
berat, tidak mampu dilaksanakan kecuali apabila kuat kepribadiannya, cinta
dengan tugas, ikhlas dalam mengerjakan, memelihara waktu murid, cinta
kebenaran, adil dalam pergaulan. Ada yang mengatakan bahwa masa depan anak-
anak di tangan guru dan di tangan gurulah terbentuknya umat.
Ditulis Athiyah Al-Abrosy (dalam Slamet Yusuf:42) bahwasannya sifat-
sifat yang seyogyanya dimiliki seorang guru:Guru harus menjadi bapak sebelum
ia menjadi pengajar.
a)    Hubungan guru dengan murid harus baik.
b)   Guru harus selalu memperhatikan murid serta pelajaran mereka.
c)    Guru harus peka terhadap lingkungan sekitar murid.
d)   Guru wajib menjadi contoh/teladan di dalam keadilan dan keindahan serta
kemuliaan.
e)    Guru wajib ikhlas di dalam pekerjaannya.
f)     Guru wajib menghubungkan masalah yang berhubungan dengan
kehidupan.
g)   Guru harus selalu membaca dan mengadakan penyelidikan.

7
h)   Guru harus mampu mengajar bagus penyiapannya dan bijaksana dalam
menjalankan tugasnya.
i)     Guru harus sarat dengan ide sekolah yang modern.
j)     Guru harus punya niat yang tetap.
k)    Guru harus sehat jasmaninya.
l)     Guru harus punya pribadi yang mantap.
B.  Kepribadian Guru di Sekolah dan Madrasah
Pembelajaran guru di sekolah dan madrasah dapat ditingkatkan mutunya
oleh adanya guru yang memiliki kepribadian unggul sebagai pendidik. Acuan
pribadi tersebut tentu tepat bila dikonfirmasikan dengan pribadi Rasul
Muhammad saw. yang memiliki sejumlah sifat unggul yakni: shiddiq (jujur dan
benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (mentransformasikan dan
menginternalisasikan nilai), serta fathonah (cerdas).
Pribadi guru yang diharapkan oleh siswa siswi di sekolah adalah pribadi
yang menarik secara fisik, gagah, berani, berwibawa, dan secara intelektual
memiliki kecerdasan tinggi, tidak mudah lupa, mampu menganalisis persoalan
kehidupan manusia secara integrative, serta mampu mencari jalan keluar atas
problema yang dihadapi yaitu pribadi guru yang memiliki keseimbangan antara
aqal, jasmani, dan rohani. Aqalnya cerdas, jasmaninya kuat, serta rohaninya
memiliki kecerdasan emosional dan spiritual.
Kita sebagai calon guru hendaknya mengetahui dan mengerti betul bahwa
kepribadian yang tercermin dalam berbagai penampilan itu ikut menentukan
tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan lembaga
pendidikan tempat kita mengajar pada khususnya. Tujuan tersebut dapat dipelajari
dalam kurikulum lembaga pendidikan yang bersangkutan. Kita perlu tahu bahwa
kepribadian kita sebagai guru sedikit banyak  akan diserap dan dimbil oleh anak
didik menjadi unsur dalam kepribadiannya yang sedang bertumbuh dan
berkembang itu. Persyaratan kepribadian bagi guru madrasah, jauh lebih perlu
mendapat perhatian, jika tujuan madrasah dalam pembinaan anak didik tersebut
ingin dicapai.

8
Jika sekolah ingin membina anak didik menjadi seorang muslim yang
bertaqwa dan berakhlak mulia, maka semua guru yang mengajar di sekolah itu
harus mempunyai kepribadian muslim, taqwa yang berakhlak mulia, karena anak
didik pada umur Ibtidayah (tingkat dasar) belum mampu berfikir logis,
pertumbuhan kecerdasannya masih dalam tahap permulaan dan pembinaan
kepribadian bagi mereka, lebih banyak melalui latihan dan contoh. Apabila guru
benar-benar memenuhi syarat sebagai contoh, maka pembinaan kepribadian anak
didik akan dapat dilaksanakan dengan mudah, sebab contoh yang disertai latihan,
secara berangsur-angsur dapat menanamkan kebiasaan mengamalkan agama
Islam, selanjutnya akan menumbuhkan rasa cinta kepada agama Islam.
Madrasah Ibtidayah di Indonesia bertujuan pula untuk mencetak anak
didik menjadi seorang warga Negara Indonesia yang baik,menerima dan mau
melaksanakan pancasila dan UUD 1945 serta menghargai kebudayaan nasional.
Untuk menanamkan sikap yang seperti itu diperlukan guru yang memahami UUD
1945 dan mempunyai kepribadian yang sesuai dengan UUD 1945
tersebut,sehingga  anak didik menemukan langsung contoh kepribadian muslim
Indonesia yang terpadu di dalamnya nilai-nilai Islam dan nilai-nilai pancasila dan
UUD 1945 secara serasi.
Madrasah Ibtidayah bertujuan juga untuk menumbuhkan nilai dan sikap
positif lainnya yang diperlukan bagi seorang muslim Indonesia yang baik sehat
jasmani dan rohaninya, berfikiran maju, berminat kepada ilmu pengetahuan,
berinisiatif, berdaya kreatif dan menghargai setiap jenis pekerjaan dan usaha yang
halal. Sikap dan penampilan kepribadian semua guru harus pula menggambarkan
semua nilai tersebut. Tanpa hidupnya nilai dan sikap tersebut dalam pribadi setiap
guru yang mengajar di Madrasah Ibtidayah, sukarlah mengharapkan pembinaan
nilai dan sikap yang diharapkan oleh kurikulum madrasah ibtidayah itu.
Sikap hidup sebagai manusia individu dan manusia sosial dari warga
Negara Indonesia muslim yang baik dan taqwa, yang tercermin dalam sikap
demokratis, tenggang rasa dan mencintai sesama manusia yang menghargai
waktu, hemat dan produktif dan lainnya yang tersebut dalam tujuan pendidikan

9
Madrasah Ibtidayah perlu pula tercermin dalam semua penampilan kepribadian
guru.
Pendek kata semua tujuan yang ingin di capai oleh Madrasah Ibtidayah
yang di jabarkan dalam kurikulumnya, harus benar-benar dipahami dan
dilaksanakan oleh semua guru dan tercermin dalam penampilan kepribadiannya.
Sebagai calon guru kita perlu tahu bahwa anak didik yang akan kita
bimbing dan bina bukanlah orang dewasa yang sudah matang pertumbuhannya,
akan tetapi ia adalah anak yang masih bertumbuh dalam segala hal, tingkat
pertumbuhan dan kematangan tiap tingkat umurmempunyai kekhususan sendiri,
berbeda dari tingkat lainnya. Maka cara kita menghadapi dan memperlakukan
anak didik yang bermacam-macam itu harus sesuai dengan kekhususan umur
tersebut. Guru yang mengerti dan memperlakukan anak didi dengan bijaksana
akan disenangi oleh anak didik dan akan berhasil usahanya untuk mendidik dan
membimbing anak didiknya.
Menurut Zakiah Daradjat (2005 : 49)  Kita sebagai guru juga mesti sadar
bahwa setiap anak  masuk ke sekolah membawa segala latar belakang kehidupan
dan pengalaman dari orang tua dan lingkungannya. Maka sebagai seorang guru
kita harus mampu menampung beraneka ragam sikap dan kelakuan anak didik,
semuanya harus mendapat perhatian dan pelayanan yang diperlukan sesuai dengan
kemampuannya untuk menerima dan sesuai pula dengan diri pribadi yang
dibawanya. Semua anak didik dengan latar belakang dan  pengalaman yang
bermacam-macam itu, harus dibimbing dan diarahkan kepada tujuan yang hendak
dicapai dalam kurikulum. Maka kelapangan dada, kebijaksanaan dan ketenangan
jiwa kita sangat diperlukan , agar kita tidak terombang-ambing oleh keadaan anak
didik yang beraneka ragam itu.
Anak didik pada tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidayah biasanya
disebut anak pada usia sekolah, yaitu yang berada pada umur antara enam dan dua
belas tahun. Umur tersebut mempunyai ciri dan kekhususan tertentu. Yang perlu
mandapat perhatian oleh setiap guru. Pada umur ini anak-anak sibuk dengan
pertumbuhan kecerdasan dan penangkapan atau persepsi, oleh karena itu bisa
dikatakan bahwa anak pada umur ini baik dan menyenangkan, tidak nakal dan

10
sudah mulai mengerti, tidak seperti anak antara umur dua dan lima tahun yang
sibuk dengan pertumbuan jasmani cepat dan emosi berubah-ubah dalam waktu
singkat, dan tidak pula seperti anak umur antara 13 dan 16  tahun yang mengalami
pertumbuhan jasmani cepat dan emosi goncang.
Pada umur tujuh dan Sembilan tahun anak mengalami Pertumbuhan
kecerdasan yang cepat, sehingga membuat mereka tertarik kepada cerita-cerita 
atau kisah-kisah baik kisah nyata atau khayal. Guru yang bijaksana  pandai
memulihkan kisah atau cerita yang cocok dan serasi dengan anak didik dan dapat
diambil oleh anak untuk menjadi bahan identifikasi dalam pertumbuhan
pribadinya.
Kepribadian guru yang tercermin dalam segala penampilannya itu
hendaknya menarik, menyenangkan dan stabil, agar anak didik mendapat teladan
yang baik dalam pertumbuhan pribadinya, serta tidak ragu-ragu bertindak dan
bertingkah laku.
Barangkali itulah sebabnya maka ada ahli yang berpendapat bahwa
hendakya yang menjadi guru pada tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah ibtidayah
terutama kelas satu dan dua, hendaknya guru yang berpengalman dan mempunyai
kepribadian yang benar-benar memenuhi syarat.
Sedangkan untuk pengembangan dan penguatan kompetensi kepribadian
seolah-olah dikembalikan lagi kepada pribadi masing-masing dan menjadi urusan
pribadi masing-masing. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama mengambil
tanggung jawab ini dengan berusaha belajar memperbaiki diri-pribadi kita untuk
senantiasa berusaha menguatkan kompetensi kepribadian kita. Meski dalam
berbagai teori kepribadian disebutkan bahwa kepribadian orang dewasa cenderung
bersifat permanen, DR. Uhar Suharsaputra, M.Pd. dalam bukunya “Menjadi
Guru Berkarakter”, disebutkan bahwa: “Jika yakin bisa berubah, maka
berubahlah… Jika Anda ingin menjadi guru yang baik dan lebih baik, katakanlah
terus pada diri sendiri bahwa saya adalah guru yang baik dan lebih baik, dan
bayangkan bahwa Anda adalah guru yang baik dan lebih baik dengan
kepribadian yang baik dan lebih baik.”

11
C.  Kontribusi Teori Kepribadian Dan Etika Dalam Pengembangan
Kepribadian Guru
Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat dalam diri seseorang yang
membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang
bersangkutan (Allport). Kepribadian juga berarti kesatuan sifat yang sempurna
atau kematangan sifat pada individu baik jasmani, akal sosial dan intelegensia
dalam interaksi sosial dan berbeda dengan yang lainnya secara jelas. Abdul
Madjid bin Masud mengartikan kepribadian yaitu sebagai sistem yang sempurna
atau pertumbuhan yang sempurna meliputi kematangan fisik, sikap dan
pengetahuan yang menentukan keinginan individu dan membedakannya dengan
yang lain. Dapat dinyatakan bahwa kepribadian guru adalah sifat hakiki seorang
guru yang tercermin pada sikap dan perbuatannya yang membedakannya dengan
orang lain.
Kepribadian (personality) merupakan salah satu kajian psikologi yang lahir
berdasarkan pemikiran, kajian, atau temuan-temuan (hasil praktik penanganan
kasus) para ahli. Objek kajian kepribadian adalah human behavior prilaku
manusia yang pembahasannya terkait dengan apa, mengapa, dan begaimana
prilaku tersebut. Dalam islam kepribadian sering diidentikan dengan akhlak.
Sementara itu , Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek
kepribadian, yang didalamnya mencakup:
a)      Karakter
b)      Temperamen
c)      Sikap
d)     Stabilitas emosi
e)      Responsibilitas (tanggung jawab)
f)       Sosiabilitas
Menurut Imam Al-Ghazali bahwa kepribadian dan etika guru adalah sebagai
berikut :
a) Kasih sayang kepada peserta didik dan memperlakukannya sebagaimana
anaknya sendiri

12
b) Meneladani Rasulullah sehingga tidak menuntut upah, imbalan maupun
penghargaan
c) Hendaknya tidak memberi predikat/martabat kepada peserta didik sebelum ia
pantas dan kompeten untuk menyandangnya, dan jangan memberi ilmu yang
samar (al-‘ilm al-khafy) sebelum tuntas ilmu yang jelas (al-‘ilm al-jaly)
d) Hendaknya mencegah peserta didik dari akhlak yang buruk (sedapat mungkin)
dengan cara sindiran dan tidak tunjuk hidung
e) Guru yang memegang bidang studi tertentu sebaiknya tidak menjelek-jelekkan
guruatau merendahkan bidang studi lain
f) Menyajikan pelajaran pada peserta didik sesuai dengan taraf kemampuan
mereka
g) Dalam menghadapi peserta didik yang kurang mampu, sebaiknya diberi ilmu-
ilmu yang global dan tidak perlu menyajikan dtailnya
h) Guru hendaknya mengamalkan ilmunya, dan jangan sampai ucapannya
bertentangan dengan perbuatannya.
M.Amin Abdullah (2005) mengartikan etika sebagai ilmu yang mempelajari
tentang baik danburuk. Jadi, bias dikatakan etika berfungsi sebagai teori perbuatan
baik dan buruk (ethis atau µilmal-akhlaq al-karimah),praktiknya dapat dilakukan
dalamdisiplin filsafat. Etika dapat dipakaidalam arti nilai yang menjadi pegangan
seseorang atau sekelompok dalam mengatur tingkahlakunya atau lazim dikenal
dengan istilah kode etik misalnya kode etik guru, kode etik pegawainegeri, kode
etik jurnalistik, dan lain-lain.Kata etika diidentikkan dengan kepribadian yang
berarti sifat hakiki seseorang yang tercerminpada sikap dan perbuatannya, yang
membedakan dirinya dengan orang lain (Muhibuddin S,1989).

13
BAB III
PENUTUP
A. keimpulan  
sikap profesional keguruan tidak bisa dilepaskan dari asumsi yang
melandasi keberhasilan guru itu sendiri. Sikap ideal yang dimaksud dapat
mengacu kepada perilaku Nabi Muhammad saw. Karena beliau satu-satunya
pendidik yang berhasil. Dalam Al-Quran surah al-Ahzab ayat 21 dinyatakan
bahwa pada pribadi Muhammad saw, terdapat teladan yang dapat dipraktikkan
oleh umat manusia.
Kita sebagai calon guru hendaknya mengetahui dan mengerti betul bahwa
kepribadian yang tercermin dalam berbagai penampilan itu ikut menentukan
tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan lembaga
pendidikan tempat kita mengajar pada khususnya. Tujuan tersebut dapat dipelajari
dalam kurikulum lembaga pendidikan yang bersangkutan. Kita perlu tahu bahwa
kepribadian kita sebagai guru sedikit banyak  akan diserap dan dimbil oleh anak
didik menjadi unsur dalam kepribadiannya yang sedang bertumbuh dan
berkembang itu. Persyaratan kepribadian bagi guru madrasah, jauh lebih perlu
mendapat perhatian, jika tujuan madrasah dalam pembinaan anak didik tersebut
ingin dicapai.

B. Saran

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini banyak sekali kekurangan,


maka oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
demi tercapainya kesempurnaan dilain waktu.

14
DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Nur. Materi Kuliah Pembentukan Kepribadian Guru PAI STIT Muhammadiyah


Wates
Nurdin, Syafruddin  . 2005. Guru Profesional & Implementasi Kurikulum.Ciputat :
Quantum Teaching
Sanjaya,Wina. 2006. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jakarta : Kencana
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.ed, 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Cet4.
Jakarta : Balai Pustaka
Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Yamin, Martinis. 2006. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP.Jakarta : Tim
Gaung Persada Press

15