Anda di halaman 1dari 9

UJI SANITASI MEJA DAN LANTAI MENGGUNAKAN

PENGOLESAN COTTON SWAB STERILE DENGAN MEDIA PCA &


PDA

1 2
Assyifa Nurul Izzati (2016340113) , Arifin Aziz (2018239016) , Ary Savarudin
3
(2018 349018) , Afni Tri Dilliani (2017340045)4
Kelompok 5

Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan Universitas
Sahid Jakarta. 2019.

Jl. Prof. DR. Soepomo No.84, Menteng Dalam, Tebet, Kota Jakarta Selatan

Abstrak

Pengujian sanitasi meja dan lantai dilakukan dengan cara menyeka permukaan
meja dan lantai dengan cotton swab steril homogenkan, tuang larutan dalam media PCA
dan media PDA pada cawan petri steril. Cawan petri dengan sampel di inkubasi selama
2 hari pada suhu 30oC. Koloni bakteri yang tumbuh pada media PCA di meja dan lantai
sebesar 0,39 cfu/cm2, 0,00 cfu/cm2 dan koloni jamur yang tumbuh pada media PDA di
alat panic, ayakan, dan juice dispenser sebesar tak terhingga, 0 cfu/cm2 dan 0,03
cfu/cm2.
Kata kunci : sanitasi, alat, PCA, PDA, koloni.

PENDAHULUAN

Sanitasi dapat didefinisikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara


menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai
perpindahan penyakit tersebut. Secara luas, ilmu sanitasi adalah penerapan dari prinsip
prinsip yang akan membantu dalam memperbaiki, mempertahankan atau
mengembalikan kesehatan yang baik bagi manusia (Jaya 2008). Kata hygiene berarti
kondisi atau tindakan untuk meningkatkan kesehatan atau ilmu yang berkaitan dengan
pemeliharaan kesehatan.
Udara di dalam suatu ruangan dapat merupakan sumber kontaminasi udara.
Udara tidak mengandung mikroflora secara alami, akan tetapi kontaminasi dari
lingkungansekitar mengakibatkan udara mengandung berbagai mikroorganisme,
misalnya debu, air, proses aerasi dari penderita yang mengalami infeksi saluran
pencernaan dan dari ruangan yang digunakan untuk fermentasi. Mikroorganisme yang
terdapat dalam udara biasanya melekat pada bahan padat, misalnya debu atau terdapat
dalam droplet air (Volkdan Whleer, 1984).
Udara mengandung campuran gas-gas yang sebagian besar terdiri dari Nitrogen
(N2) 23%, Oksigen (O2) 21 % dan gas lainnya 1%. Selain gas jugaterdapat debu,
kapang, bakteri, khamir, virus dan lain-lain. Walaupun udara bukanmedium yang baik
untuk mikroba tetapi mikroba selalu terdapat di udara. Adanyamikroba disebabkan
karena pengotoran udara oleh manusia, hewan, zat-zatorganik dan debu. Jenis-jenis
mikroba yang terdapat di udara terutama jenis Bacillus subtilis dapat membentuk spora
yang tahan dalam keadaan kering(Pelczar, 1988)

1.1 Tujuan
Untuk memberikan pemahaman dan keterampilan mahasiswa mengenai metode
pengujian sanitasi serta untuk mengetahui jumlah mikroba yang terdapat pada meja dan
lantai.

2
BAHAN DAN METODE

2.1. Alat dan Bahan

Dalam praktikum pengamatan sanitasi meja dan lantai dalam ruang Sekretariat
Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Sahid Jakarta ini menggunakan bahan dari
media agar dalam cawan petri steril yaitu Plate Count Agar (PCA) dan Potato Dekstrose
Agar (PDA), dan buffer phosphate. Sedangkan alat yang digunakan adalah cotton swab
steril, tabung reaksi, cawan petri steril, inkubator, dan spiritus

2.2. Waktu dan Tempat

Praktikum Sanitasi dan Keamanan Pangan ini dilakukan di Laboratorium


Mikrobiologi, Universitas Sahid Jakarta, dan ruang peralatan praktikum Satuan Operasi
& Keteknikan Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Sahid Jakarta. Penelitian
dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 12 Oktober 2019, pada jam 16.00 WIB sampai
18.00 WIB.

2.3. Metode

Metode penelitian dalam praktikum Sanitasi dan Keamanan Pangan ini adalah
metode uji sanitasi meja dan lantai dengan cawan media agar. Metode yang dilakukan
dengan kapas swab steril untuk menyeka permukaan meja dan lantai secara zigzag dan
di celupkan ke dalam larutan buffet fosfat steril. Ruang yang digunakan untuk
melakukan penelitian ini adalah ruang, Universitas Sahid Jakarta. Di ruang Sekretariat
Fakultas Teknologi Pangan tempat pengambilan sampel sanitasi meja dan lantai.

Langkah awal sebelum pengambilan sempel sanitasi meja dan lantai di ruang
Sekretariat Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Sahid Jakarta tersebut, yaitu
penyiapan media agar pada cawan. Menurut (Andriani, 2016), Langkah awal yang
dilakukan ialah pensterilan cawan petri dengan oven. Cawan petri disterilkan dengan
cara dipanaskan dengan suhu 160°C - 170°C selama 1 – 2 jam. Langkah tersebut
diaplikasikan dalam penelitian yang dilakukan saat ini. Setelah cawan petri selesai
disterilkan, cawan petri diambil dan didinginkan, kemudian cawan petri diisikan dengan
media agar yang sudah disiapkan, yaitu Plate Count Agar (PCA) dan Potato Dekstrose
Agar (PDA). Masing masing agar diisikan kedalam dua cawan petri sebanyak kurang

3
lebih 20-25ml, sehingga total ada 4 cawan petri yang terdiri dari 2 cawan berisi PCA
dan 2 cawan berisi PDA. Setelah ditambahkan media, cawan didinginkan selama 30
menit, atau hingga agarnya membeku. Selanjutnya basahi kapas swab steril ke dalam
larutan buffer fosfat steril untuk menyeka permukaan meja dan lantai dengan cara
zigzag kemudian masukkan kembali dalam larutan buffer fosfat steril, homogenkan.
Ambil media agar PCA dan PDA tuang larutan buffer masing-masing 1 ml. setelah
semua agar dalam cawan pentri membeku, inkubasikan cawan-cawan pentri tersebut
o
secara terbalik pada suhu 30 C selama 48 jam.

Prosedur terakhir dari metode cawan petri dengan media agar PCA & PDA ini
adalah menghitung hasil dari pengamatan. Penghitungan mikroba dan jamur yang
terdapat pada media agar dilakukan dengan penghitungan manual dengan penandaan
dengan spidol dan dilakukan penghitungan kedua dengan colony counter agar data lebih
akurat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Tabel 1 Jumlah Koloni Bakteri Sampel Pada Media

Sampel PCA PDA

Meja 4 4

Lantai TBUD 1

Sumber : Hasil Praktikum

3.2. Pembahasan

1) Rumus Perhitungan
• Luas Persegi Panjang = [p . l]

2
2
Luas Permukaan Meja = 72 × 35 = 2,520 cm
2
Luas Permukaan Lantai = 20 × 20 = 400 cm

2) Pengambilan Sampel
Proses pengambilan sampel seperti yang sudah dijelaskan pada metode dan
prosedur disub bab sebelumnya. Kapas swab steril yang sudah dicelupkan ke 2
larutan buffer fosfat steril dioleskan pada permukaan yang akan diuji, yaitu
permukaan meja dan lantai. Setiap alat yang akan dioles menggunakan kapas swab
masing – masing satu kapas, jadi total kapas swab steril yang digunakna ada 2 buah
untuk. Seperti menurut Nurjanah (2006), Pengujian sanitasi peralatan dilakukan
dengan menggunakan metode swab meja dan lantai yang terlihat bersih. Dilakukan
pengenceran dan pemupukan dengan menggunakan agar PCA, PDA dan metode
tuang dengan bantuan mikropipet dengan jumlah sebanyak 1 mL.

3) Penanaman Bakteri
Bakteri yang sudah diambil dengan swab kapas steril dan sudah dimasukkan
ke dalam larutan buffer fosfat, kemudian diambil 1 mL untuk dimasukkan ke dalam
cawan petri yang sudah terisi dengan media agar PCA dan PDA. Seperti menurut
Wati (2018), Media Plate Count Agar (PCA) digunakan sebagai media tumbuh
mikroba pada uji TPC (Total Plate Count). Media ini mengandung agar sehingga
setelah dingin media tersebut akan menjadi padat. Metode TPC dibedakan atas dua
cara, yakni metode tuang (pour plate), dan metode permukaan (surface / spread
plate). Pada metode tuang, sejumlah sampel (1ml atau 0,1ml) dari pengenceran
yang dikehendaki dimasukkan kecawan petri, kemudian ditambah agar-agar cair
steril yang didinginkan (47 °C – 50°C) sebanyak 15 – 20 ml dan digoyangkan
supaya sampelnya menyebar. Pada penanaman dengan metode permukaan, terlebih
dahulu dibuat agar cawan kemudian sebanyak 0,1 ml sampel yang telah diencerkan
dipipet pada permukaan agar-agar tersebur. Kemudian diratakan dengan batang
gelas melengkung yang steril.
Untuk media PDA sendiri menurut Wati 2018 yaitu, PDA (Potato Dextrose
Agar) adalah media yang umum untuk pertumbuhan jamur dari sampel peralatan
yang berada di lab karena memiliki pH yang rendah (pH 4,5 – 5,6) sehingga

3
menghambat pertumbuhan bakteri yang membutuhkan lingkungan yang netral
dengan pH 7,0 dan suhu optimum untuk pertumbuhan antara 25-30°C. Seperti juga
menurut Andriani (2016), Pengujian total mikroba dilakukan dengan menggunakan
metode cawan. Metode hitungan cawan paling banyak digunakan untuk
menghitung jumlah mikroba pada bahan pangan. Medium yang digunakan antara
lain, medium plate count agar (PCA), tabung reaksi, cawan petri, pipet, inkubator.

4) Jumlah Koloni Terbentuk


• PCA

1
2
Jumalah koloni /cm = jumlah koloni × 10×
2
( )

2
Meja = 4 × 10 × 2,520 = 0,10 cfu/cm

Lantai = TBUD × 10 × 400 = Takter hingga

Pada Tabel 1 pada sampel lantai terdapat 4 koloni bakteri, dan meja sebesar bakteri
tak terhingga. Pada sampel meja terdapat koloni bakteri tak terhingga terjadi
karena pada saat perhitungan setelah masa inkubasi selama 48 jam (2 hari),
terdapat bakteri TBUDA (Terlalu Banyak Untuk Dihitung) pada media agarnya,
sehingga diputuskan bahwa jumlah koloni bakterinya tidak ter hingga.

• PDA

1
2
Jumalah koloni /cm = jumlah koloni × 10×
2
( )

2
Meja = 4 × 10 × 2,520 = 0,10 cfu/cm

Lantai = 1 × 10 × 400 = 0,40 cfu/cm2

2
Pada Tabel 1 pada sampel meja terdapat koloni bakteri sebanyak 0,10 cfu/cm ,
sedangkan pada lantai terdapat koloni bakteri sebanyak 0,40. Tidak seperti pada
PCA lantai dengan hasil TBUD, pada PDA lantai memiliki koloni.

4
Tingkat pencemaran di dalam ruangan praktikum Satuan Operasi &
Keteknikan oleh mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti laju ventilasi,
padat orang dan sifat serta saraf kegiatan orang-orang yang menempati ruangan
tersebut. Mikroorganisme terhembuskan dalam bentuk percikan dari hidung dan
mulut selama bersin, batuk dan bahkan bercakap-cakap titik-titik air terhembuskan
dari saluran pernapasan mempunyai ukuran yang beragam dari mikrometer sampai
milimeter. Titik-titik air yang ukurannya jatuh dalam kisaran mikrometer yang
rendah akan tinggal dalam udara sampai beberapa lama, tetapi yang berukuran
besar segera jatuh ke lantai atau permukaan benda lain. Debu dari permukaan ini
sebentar-sebentar akan berada dalam udara selama berlangsungnya kegiatan dalam
ruangan tersebut (Pelczar, 1994).

SIMPULAN

Pada proses sanitasi meja dan lantai, khususnya di laboratorium ini menggunakan
metode swab dengan kapas swab steril. Hasil yang ditunjukkan adalah alat yang diamati
kebersihannya ada yang mendapatkan hasil cukup bersih karena hanya mendapatkan
sedikit koloni yang tumbuh, contohnya meja, hanya terdapat 1 di PCA dan 1 di PDA.
Sedangkan pada sampel lantai di PCA terdapat koloni bakteri TUBUD (Terlalu Banyak
Yang Dihitung). Factor penentu adanya kontaminasi adalah hygiene/kebersihan ruangan
yang tidak memenuhi syarat dalam kebersihan ruangan yang dapat memberikan dampak
berupa penyakit.

5
DAFTAR PUSTAKA

Andriani, Ririn. 2016. Pengenalan Alat – Alat Laboratorium Mikrobiologi Untuk


Mengatasi Keselamatan kerja Dan Keberhasilan Praktikum. Jurnal Mikrobiologi.
Vol 1. No. 1.

Giyatmi dan Allen D. 2012. Modul Praktikum Sanitasi dan Keamanan Pangan.
Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Sahid : Jakarta

Jaya, Rosa. 2008. Kualitas udara dalam ruangan dan faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap kejadian SBS di gedung DepKes RI. Jakarta.

Lisyastuti, E. 2010. Jumlah Kooloni Mikroorganisme Udara Dalam Ruang dan


Hubungannya Dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) Pada pekerja
Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) BPPT di Kawasan Puspitek
Serpong. Universitas Indonesia. Depok.

Nurjanah, Siti. 2006. Kajian Sumber Cemaran Mikrobiologis Pangan Pada Beberapa
Rumah Makan Di Lingkar Kampus IPB, Darmaga, Bogor. Jurnal Ilmu Pertanian
Indonesia. Vol. 11. No. 3.

Pelczar, Michael W., 1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi 1, UI Press, Jakarta.

Wati, Risa Yudi. 2018. Pengaruh Pemanasan Media Plate Count Agar (PCA) Berulang
Terhadap Uji Total Plate Count (TPC) di Laboratorium Mikrobiologi Teknologi
Hasil Pertanian Unand. ISSN 2621-0878. Vol 1. No. 2.

6
LAMPIRAN

Gambar 1 PCA & PDA Lantai

Gambar 2 PCA & PDA Meja

Anda mungkin juga menyukai