Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN MANAJEMEN Januari, 2018

PROGRAM PENANGGULANGAN DIARE

Disusun Oleh :
Sahar
N 111 16 082

Pembimbing :
dr. Benny Siyulan, M.Kes
drg. Elli Yane Bangkele, M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu langkah dalam pencapaian target MDG’s (Goal ke-4)
adalah menurunkan kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990
sampai pada 2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT),
Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui
bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia.
Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak
tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan
kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat.1
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan
mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh
Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat
kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/1000
penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374/1000 penduduk, tahun 2006 naik
menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk.
Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR
yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan
jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009
terjadi KLB di 24 kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan
kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare
di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang
(CFR 1,74 %).2
Prevalensi diare dalam Riskesdas 2007 diukur dengan menanyakan
apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam

1
WHO, Pelayanan Kesehatan Anak di RS (Jakarta: 2009).
2
IDI, Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (Jakarta :
2014).

1
satu bulan terakhir. Responden yang menyatakan tidak pernah, ditanya
apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali
sehari dengan kotoran lembek/cair. Responden yang menderita diare ditanya
apakah minum oralit atau cairan gula garam.3
Prevalensi diare klinis adalah 9,0% (rentang: 4,2% - 18,9%), tertinggi
di Provinsi NAD (18,9%) dan terendah di DI Yogyakarta (4,2%). Beberapa
provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD, Sumatera Barat,
Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tengara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, Papua Barat dan Papua). Bila dilihat per kelompok umur diare
tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi
pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin
prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki
dan 9,1% pada perempuan.3
Walaupun lebih dari 90 persen ibu mengetahui tentang paket oralit,
hanya satu dari tiga (35%) anak yang menderita diare diberi oralit, hasil
tersebut sama dengan temuan SDKI 2002-2003. Pada 30 % anak yang diare
diberi minuman lebih banyak, 22% diberi Larutan Gula Garam (LGG), dan
61% diberi sirup/pil, sementara 14% diberi obat tradisonal atau lainnya.
Sedangkan 17% anak yang menderita diare tidak mendapatkan pengobatan
sama sekali.32
Beberapa wilayah kerja Puskesmas Talise merupakan daerah rawan
diare, mengingat pentingnya penanggulangan penyakit diare yang
merupakan salah satu program pencegahan penyakit menular maka program
pencegahan maupun tatalaksananya sangat penting untuk menanggulangi
angka kejadian penyakit ini. Diantara beberapa program yang ada di
Puskesmas Talise, salah satu diantaranya adalah program pencegahan
penyakit diare. Dengan adanya program ini diharapkan dapat mencegah
terjadinya diare di wilayah kerja Puskesmas Talise.4

23
Depkes RI, Buku Saku Petugas Kesehatan – Lintas Diare (Jakarta: 2011).
4
Puskesmas Talise, Profil Kesehatan (Palu: 2016).

2
1.2 Rumusan Masalah
Pada laporan manajemen ini, permasalahan terkait program
penanggulangan diare yang akan dibahas antara lain:
1. Bagaimana pelaksanaan program penanggulangan diare di Puskesmas
Talise?
2. Apa saja permasalahan yang menjadi kendala dalam mencapai target
cakupan program penanggulangan diare di Puskesmas Talise?

3
BAB II

IDENTIFIKASI MASALAH

2.1. Gambaran Umum UPTD Puskesmas Talise


A. Keadaan Umum
1. Pemerintahan
Puskesmas Talise berada di wilayah kecamatan Palu Timur yang
memiliki luas wilayah 82.53 km2 dan secara administratif pemerintahan
terdiri atas 4 kelurahan, 29 RW serta 102 RT.
Wilayah kerja Puskesmas Talise mencakup empat kelurahan yaitu :
A. Kelurahan Talise
B. Kelurahan Valangguni
C. Kelurahan Tondo
D. Kelurahan Layana

Gambar. II.1 Peta Wilayah Kerja UPTD Urusan Puskesmas Talise

4
Adapun penyebaran jumlah RW dan RT dapat dilihat pada tabel di bawah
ini :
Tabel II.1 Luas Wilayah, RW dan RT dirinci menurut kelurahan
UPTD Urusan Puskesmas Talise Tahun 2016
Luas Wilayah

No. Kelurahan (km2) RW RT

1 Talise dan Valangguni 12,37 km2 8 45

2 Tondo 55,16 km2 15 38

3 Layana Indah 15,00 km2 6 19

  Puskesmas Talise 82,53 km2 29 102

2. Keadaan Iklim
a. Suhu Udara
Suhu udara di wilayah Puskesmas Talise sesuai dengan suhu udara
rata-rata di Kota Palu, yaitu musim panas dan musim hujan sebagaimana
daerah-daerah lain di Indonesia. Musim panas terjadi pada bulan April –
September, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan Oktober – Maret yang
rata-rata suhu terendah mencapai 22,1 0C, dengan kelembaban udara rata-rata
berkisar antara 72-82 %.

b. Curah Hujan dan Keadaan Angin

Curah hujan tertinggi sering terjadi pada bulan September dan curah
hujan terendah terjadi pada bulan Juni. Kecepatan angin rata-rata berkisar
antara 5–6 knots dan kecepatan angin maksimum mencapai 16-20 knots.
Arah angin pada Tahun 2004 masih berada pada posisi 315 0 sampai dengan
3600.

3. Sejarah Singkat Puskesmas Talise

Puskesmas Talise berdiri pada tahun 1983, tapi masih merupakan


Puskesmas Pembantu (Pustu) dari Puskesmas Singgani. Kemudian pada tanggal 1
April 1999 resmi menjadi puskesmas induk dengan memiliki 3 Pustu (Puskemas
Pembantu) dan 14 POSYANDU (Pos Pelayanan Terpadu). Pada tahun 2007

5
Puskesmas Talise memiliki 2 POLINDES (Pos Persalinan Desa), 3 POSKESDES
(Pos Kesehatan Desa) Pada tanggal 12 November 2011 Puskesmas Talise
meresmikan 1 buah POSKESDES yang letaknya di Lagarutu sehingga Puskesmas
Talise memiliki 4 POSKESDES dan 5 POSBINDU (Pos Pembinaan Terpadu
Usia Lanjut).

B. KEPENDUDUKAN
1. Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan data Dukcapil Kota Palu Tahun 2016, jumlah penduduk di


wilayah kerja Puskesmas Talise adalah 35.386 jiwa yang tersebar di tiga
Kelurahan antara lain Kelurahan Talise yang jumlah penduduknya masih bersatu
dengan Kelurahan Valangguni sekitar 19.414 jiwa, Kelurahan Tondo sekitar
12.212 jiwa dan Kelurahan Layana Indah sekitar 3.760 jiwa. Dengan
membandingkan jumlah penduduk tahun sebelumnya, maka jumlah penduduk
dari tahun 2015 ke 2016 mengalami penurunan sebanyak 523 atau 98,5 %

2. Distribusi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin


Komposisi penduduk di wilayah Puskesmas Talise berdasarkan
kelompok umur dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel II.2 Distibusi Penduduk di Wilayah UPTD UrusanPuskesmas


Talise Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2016

Jumlah Penduduk
No Kelompok umur Laki – laki Perempuan Laki - laki +
(Tahun) Perempuan
1 2 3 4 5
1 0–4 1.111 1.040 2.151
2 5-9 1.786 1.690 3.476
3 10 - 14 1.887 1.742 3.629
4 15 - 19 1.550 1.486 3.036
5 20 - 24 1.613 1.747 3.360
6 25 - 29 1.710 1.842 3.568
7 30 - 34 1.645 1.623 3.288
8 35 - 39 1.525 1.490 3.015
9 40 - 44 1.293 1.385 2.678
10 45 - 49 1.112 1.166 2.278
11 50 - 54 883 876 1.759
12 55 - 59 686 629 1.315
13 60 - 64 411 390 801
14 > 65 511 521 1.032

6
Jumlah 17.729 17.657 35.386

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa kelompok umur yang


tertinggi pada golongan 10-14 tahun yaitu sebesar 3.629 jiwa. Kelompok
umur yang terendah pada kelompok 60-64 tahun yaitu sebesar 801 Jiwa,
akan tetapi walaupun proporsinya kecil namun perlu mendapat perhatian
pada kelompok usia ini karena pada kelompok ini akan timbul masalah
kesehatan terutama penyakit-penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes,
jantung dan lain-lain.
3. Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data tahun 2016 kepadatan hunian rumah/kk wilayah kerja
PuskesmasTalise adalah sebagai berikut :

7
Table II.3 Jumlah Jiwa Per KK di Wilayah
UPTD Urusan Puskesmas Talise Tahun 2016
No Kelurahan Jumlah Jumlah Jiwa/KK
Penduduk
KK
1 Talise 19.414 3.442 17,72
2 Tondo 12.212 3.132 25,64
3 Layana Indah 3.760 755 20,07

Puskesmas 35.386 7.329


20,71

Kepadatan penduduk berdasarkan hunian rumah (Jumlah jiwa per


KK) yang terpadat penduduknya adalah Kelurahan Talise, yang
kedua Kelurahan Tondo dan ketiga adalah Kelurahan Layana Indah.
Berikut ini adalah data kepadatan penduduk berdasarkan luas
wilayah di wilayah Puskesmas Talise tahun 2016.
Table II.4 Kepadatan Penduduk di Wilayah
UPTD Urusan Puskesmas Talise Tahun 2016
No Kelurahan Jumlah Luas Kepadatan
Penduduk Wilayah Pendududuk
(Km²) (Jiwa/Km²)

1 Talise 19.414 12,37 1.569


2 Tondo 12.212 55,16 221
3 Layana Indah 3.760 15,00 250

Puskesmas 35.386 82.53 2.040

Wilayah kelurahan yang terluas secara berurutan adalah Kelurahan


Talise, Keluran Tondo dan yang terkecil adalah Kelurahan Layana.

2.2 Diare

8
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut
dilakukan upaya -upaya kesehatan. Salah satu upaya kesehatan yang
dilakukan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan yang
optimal adalah program pencegahan dan pengendalian penyakit
menular. Penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi
program pemerintah di antaranya adalah program pengendalian penyakit
diare yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
karena diare bersama lintas program dan sektor terkait.33
Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan
konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan
menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air
besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak
berdarah dalam waktu 24 jam.5
Penyakit diare masih termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di
Poliklinik Puskesmas Talise tahun 2016, yaitu menempati urutan ke 3 dari
10 penyakit terbanyak. Jumlah kasus tahun 2016 yaitu berjumlah 937 orang,
tahun 2015 yaitu 829 orang, tahun 2014 yaitu 898 orang, tahun 2013 yaitu
971 orang dan pada tahun 2012 sebanyak 637 orang. Hal ini menunjukkan
bahwa penyakit diare masih banyak terjadi di wilayah kerja Puskesmas
Talise.4

Tabel III.1 Data 10 Penyakit Terbesar UPTD Urusan Puskesmas Talise Tahun 2016

33
Depkes RI, Buku Saku Petugas Kesehatan – Lintas Diare (Jakarta: 2011).
4
Puskesmas Talise, Profil Kesehatan (Palu: 2016).

9
NO JUMLAH
JENIS PENYAKIT
KASUS

1 Infeksi Akut Lain pada Saluran Pernafasan Bagian Atas 2.395

1.138
2 Infeksi akut lain pada saluran pernafasan bagian atas
3 Diare 937

4 Penyakit Kulit Alergi 807


5 Gastritis 798

6 Penyakit dan kelaian susunan syaraf lainnya 492

7 Hipertensi 471

8 Bronchitis 442

9 Tonsilitis 393

Penyakit Pada Otot dan Jaringan Penyekat ( Peny.


10 287
Tulang belulang, randang sendi termasuk rematik)

Jumlah
Kelurahan
NO Target Pencapaian %

Talise 315 315 100


1.

Tal. Valangguni 190 190 100


2.

Tondo 300 288 96


3.

Layana 150 144 96


4.

PKM. Talise 955 937 98,1


Gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan usus
halus yang ditandai dengan diare dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam
waktu 24 jam. Apabila diare > 30 hari disebut kronis. WHO (World Health
Organization) mendefinisikan diare akut sebagai diare yang biasanya
berlangsung selama 3 – 7 hari tetapi dapat pula berlangsung sampai 14 hari.

10
Diare persisten adalah episode diare yang diperkirakan penyebabnya adalah
infeksi dan mulainya sebagai diare akut tetapi berakhir lebih dari 14 hari,
serta kondisi ini menyebabkan malnutrisi dan berisiko tinggi menyebabkan
kematian.5
Gastroenteritis lebih sering terjadi pada anak-anak karena daya tahan
tubuh yang belum optimal. Diare merupakan salah satu penyebab angka
morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada anak di bawah umur lima tahun
di seluruh dunia, yaitu mencapai 1 milyar kesakitan dan 3 juta kematian per
tahun. Penyebab gastroenteritis antara lain infeksi, malabsorbsi, keracunan
atau alergi makanan dan psikologis penderita. Infeksi yang menyebabkan
GE akibat Entamoeba histolytica disebut disentri, bila disebabkan oleh
Giardia lamblia disebut giardiasis, sedangkan bila disebabkan oleh Vibrio
cholera disebut kolera.5 4
Pada pasien anak ditanyakan secara jelas gejala diare:2
1. Perjalanan penyakit diare yaitu lamanya diare berlangsung, kapan diare
muncul (saat neonatus, bayi, atau anak-anak) untuk mengetahui, apakah
termasuk diare kongenital atau didapat, frekuensi BAB, konsistensi dari
feses, ada tidaknya darah dalam tinja. Mencari faktor-faktor risiko
penyebab diare.
2. Gejala penyerta: sakit perut, kembung, banyak gas, gagal tumbuh.
3. Riwayat bepergian, tinggal di tempat penitipan anak merupakan risiko
untuk diare infeksi.2
Faktor Risiko:
1. Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.
2. Riwayat intoleransi laktosa, riwayat alergi obat.2

2.3 Kebijakan Nasional Pengendalian Diare di Indonesia


Dalam rangka menunjang pelaksanaan program pengendalian diare
yang berbasis komunitas, upaya-upaya kesehatan perlu dilaksanakan
2
4
IDI, Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (Jakarta :
2014).
5
IDAI, Pedoman Pelayanan Medis Edisi II (Jakarta: 2011).

11
melalui pola-pola struktur organisasi. Besar atau kecilnya satu kesatuan
organisasi sangat berpengaruh terhadap kegiatan rutin dan pembangunan
dari pokok program, sehingga suatu struktur organisasi akan selalu berubah.
Pengorganisasian dalam pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko diare dimaksudkan agar program yang dilaksanakan dapat lebih
efektif, efisien dan berkualitas serta dapat memanfaatkan segala sumber
daya atau potensi yang ada di wilayah kerjanya. Gambaran
pengorganisasian harus dapat menyerap aspirasi yang berkembang
dimasyarakat.25
Tujuan umum program pengendalian penyakit diare yaitu
menurunkan angka kesakitan dan kematian karena diare bersama lintas
program dan sektor terkait. Adapun tujuan khususnya yaitu:3
1. Tercapainya penurunan angka kesakitan.
2. Terlaksananya tatalaksana diare sesuai standar.
3. Diketahuinya situasi epidemiologi dan besarnya masalah penyakit
diare di masyarakat, sehingga dapat dibuat perencanaan dalam
pencegahan, penanggulangan maupun pemberantasannya pada semua
jenjang pelayanan.
4. Terwujudnya masyarakat yang mengerti, menghayati dan
melaksanakan hidup sehat melalui promosi kesehatan kegiatan
pencegahan sehingga kesakitan dan kematian karena diare dapat
dicegah.
5. Tersusunnya rencana kegiatan pengendalian penyakit diare di suatu
wilayah kerja yang meliputi target, kebutuhan logistik dan
pengelolaanya.
Adapun kebijakan yang dilakukan dalam manajemen diare yaitu:3
1. Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar, baik di
sarana kesehatan maupun masyarakat/rumah tangga.

2
5
IDI, Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (Jakarta :
2014).
3
Depkes RI, Buku Saku Petugas Kesehatan – Lintas Diare (Jakarta: 2011).

12
2. Melaksanakan Surveilans Epidemiologi dan Penanggulangan KLB
diare.
3. Mengembangkan pedoman pengendalian penyakit diare.
4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dalam
pengelolaan program yang meliputi aspek manajerial dan teknis medis.
5. Mengembangkan jejaring lintas program dan sektor di pusat,
propinsi dan kabupaten/kota.
6. Meningkatkan pembinaan teknis dan monitoring untuk mencapai
kualitas pelaksanaan pengendalian penyakit diare secara maksimal.
7. Pelaksanaan evaluasi untuk mengetahui hasil kegiatan program dan
sebagai dasar perencanaan selanjutnya.36
Strategi program pencegahan dan penanggulangan diare yaitu:3
1. Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar di sarana
kesehatan melalui Lima Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE).
2. Meningkatkan tatalaksana penderita diare di rumah tangga yang
tepat dan benar.
3. Meningkatkan SKD dan penanggulangan KLB Diare.
4. Melaksanakan upaya kegiatan pencegahan yang efektif.
5. Melaksanakan monitoring dan evaluasi.
Pencegahan diare menurut Pedoman Tatalaksana Diare Depkes RI
(2006) adalah sebagai berikut:2
1. Pemberian ASI
2. Pemberian makanan pendamping ASI
3. Menggunakan air bersih yang cukup
4. Mencuci tangan
5. Menggunakan jamban
6. Membuang tinja bayi dengan benar
7. Pemberian imunisasi campak

2
6
IDI, Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (Jakarta :
2014).
3
Depkes RI, Buku Saku Petugas Kesehatan – Lintas Diare (Jakarta: 2011).

13
2.4 Strategi Program Penanggulangan Diare di Puskesmas Talise
1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
(PHBS) sehingga terhindar dari penyakit diare.
2. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan potensi dan peran serta
masyarakat untuk penyebar luasan informasi kepada masyarakat tentang
pengendalian penyakit diare.
3. Mengembangkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) yang efektif dan
efisien terutama bagi masyarakat yang berisiko.
4. Meningkatkan pengetahuan petugas dan menerapkan pelaksanaan
tatalaksana penyakit diare secara standar pada semua fasilitas kesehatan.
5. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas melalui peningkatan sumber daya manusia dan penguatan
institusi, serta standarisasi pelayanan.
6. Meningkatkan surveilans epidemiologi penyakit diare pada seluruh
fasilitas pelayanan kesehatan.
7. Mengembangkan jejaring kemitraan secara multi disiplin lintas program
dan lintas sektor pada semua jenjang baik pemerintah maupun swasta.67

BAB III
PEMBAHASAN

76
Dinkes Provinsi Sulteng, Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare (Palu: 2014).

14
A. Input
Program penanggulangan diare di Puskesmas Talise dikelola oleh
seorang ahli kesehatan lingkungan yang bekerja sama dengan dokter-dokter
yang ada di Puskesmas Talise. Menurut pemegang program, sumber daya
manusia di program diare ini sangat kurang sehingga menghambat kegiatan
program diare ini. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengendalian
diare di wilayah kerja Puskesmas Talise sangat baik. Akses ke wilayah kerja
Puskesmas Talise mudah ditempuh. Dana yang digunakan dalam pengelolaan
puskesmas berasal dari APBN dan APBD, namun untuk program diare
sendiri tidak memperoleh dana dari bantuan operasional kesehatan (BOK)
dari puskesmas Talise sedangkan program lain memperoleh dana. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya kegiatan penyuluhan dan kegiatan lain yang
seharusnya dilakukan oleh program diare ini.

B. Proses
Perencanaan program penanggulangan diare di Puskesmas Talise
mengikuti pedoman pengendalian penyakit diare yang dikeluarkan oleh
pemerintah Kota Palu sebagai acuan pelaksanaan program seperti surveilans,
promosi kesehatan, pencegahan, pengelolaan logistik, sarana rehidrasi oral,
kegiatan penanggulangan diare serta pemantauan dan evaluasi.

Pengorganisasian diatur oleh Puskesmas Induk yaitu Puskesmas


Talise dan memiliki 3 Pustu (Puskemas Pembantu) dan 14 POSYANDU
(Pos Pelayanan Terpadu), 2 POLINDES (Pos Persalinan Desa), 4
POSKESDES (Pos Kesehatan Desa) dan 5 POSBINDU (Pos Pembinaan
Terpadu Usia Lanjut) dengan kader-kader di setiap daerah.

Penggerakan pelaksanaan program dilaksanakan dengan berkoordinasi


antara beberapa lintas program, misalnya kesehatan lingkungan dan promosi
kesehatan.

15
Pemantauan program dilakukan per bulan untuk menilai kejadian diare
di wilayah kerja Puskesmas Talise.

C. Output
Adapun program kerja yang dilakukan di Puskesmas Talise terkait
dengan penanggulangan diare antara lain:
1. Penemuan subjek
Penemuan subjek di Puskesmas Talise dilaksanakan secara pasif. Secara
pasif, pasien ditemukan karena datang ke puskesmas atas kemauan
sendiri atau saran orang lain dan dicurigai sebagai penderita diare.
2. Diagnosis
Penegakkan diagnosis diare di puskesmas Talise berdasarkan anamnesis
(BAB cair lebih dari 3 kali sehari) dan pemeriksaan fisik (ditemukan
tanda-tanda dehidrasi dan pemeriksaan konsitensi BAB).
3. Pengobatan
Pasien yang terdiagnosis dengan diare maka akan diterapi dengan
pemberian obat anti diare, antibiotik dan vitamin serta antipiretik jika
perlu. Pada dasarnya penanganan diare sebaiknya mengacu pada lima
pilar lintas diare yakni pemberian zink selama 10 hari, pengunaan oralit,
teruskan ASI-makanan, edukasi, serta penggunaan antibiotik yang
selektif.
4. Penyuluhan perseorangan
Penyuluhan perseorangan dilakukan oleh dokter dan penanggung jawab
program saat pasien datang pertama kali ke puskesmas.
5. Promosi kesehatan
Promosi kesehatan adalah upaya memberdayakan perorangan, kelompok,
dan masyarakat agar memelihara, meningkatkan, dan melindungi
kesehatannya melalui peningkatan pengetahuan, kemauan, dan
kemampuan serta mengembangkan iklim yang mendukung, dilakukan
dari, oleh, dan untuk masyarakat sesuai dengan faktor budaya setempat.
Promosi kesehatan tentang diare dilakukan pada saat melakukan

16
kunjungan rumah, posyandu maupun edukasi ke sekolah-sekolah. Salah
satu bentuk promosi kesehatan yaitu dengan mengupayakan program
perilaku hidup bersih dan sehat, penyehatan lingkungan, penyediaan air
bersih, pengelolaan sampah dan penyediaan sarana pembuangan air
limbah ke masyarakat.
6. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan kasus diare dilakukan secara per bulan. Selain
itu, khusus bayi lima tahun dilaporkan setiap tiga bulan. Keberhasilan
program dapat dinilai.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Dalam pelaksanaan program penanganan diare, perlu memperhatikan
program yang telah dicanangkan oleh pemerintah dengan menerapkan
program LINTAS DIARE mengingat puskesmas merupakan tempat
pelayanan primer.
2. Masalah diare dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, faktor
lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan yang saling berinteraksi
secara kompleks. Oleh karena itu penanggulangan masalah diare harus
dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu dengan pendekatan
spesifik wilayah.

17
3. Peran serta dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar program kerja
dapat terlaksana dengan baik.

4.2 Saran
1. Lebih sering melakukan kegiatan penyuluhan berupa penyuluhan
perorang terlebih ke rumah keluarga yang mengalami diare, untuk
menerapkan pencegahan diare.
2. Meningkatkan kegiatan promosi kesehatan mengenai pola hidup bersih
dan sehat seperti pengelolaan air minum, pengelolaan sanitasi dan
perilaku cuci tangan dengan sabun.
3. Kegiatan penemuan pasien harus lebih sering dilakukan secara aktif
untuk menjaring pasien-pasien yang tidak terdeteksi dengan
penjaringan pasif.
4. Penyusunan standar pelayanan minimal untuk menjalankan program
penanggulangan diare berdasarkan program LINTAS DIARE.
5. Pengalokasian dana perlu juga diperhatikan mengingat hal ini sangat
penting dalam terlaksananya program penanggulangan diare.

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.


Jakarta : WHO Indonesia. 2009.
2. Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta : IDI. 2014.
3. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Buku
Saku Petugas Kesehatan – Lintas Diare. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
2011.
4. Puskesmas Talise. Profil Kesehatan Puskesmas Talise. Palu : Puskesmas
Talise. 2016.

18
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis Edisi II. Jakarta :
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011.
6. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Buku Pedoman Pengendalian
Penyakit Diare. Palu: Dinas Kesehatan Sulteng. 2014.

19