Anda di halaman 1dari 2

Asti putri zakiya 1713052043

Nirmawati 1753052001

BK Keluarga

Kunci Membangun Komunikasi Keluarga yang Positif

Komunikasi keluarga yang positif itu seperti apa?

Setidaknya, ada 4 indikator dalam komunikasi keluarga yang positif, seperti penyampaian pesan yang
jelas, disampaikan secara langsung (tidak berbelit-belit), diungkapkan dengan jujur, dan dengan cara
yang sesuai. Jika semuanya sudah dipenuhi, maka anggota keluarga yang menerima pesan ini dapat
mengerti dan memberikan respon yang sesuai juga,

cara membangun komunikasi yang positif

1. Melatih kemampuan komunikasi asertif Komunikasi yang asertif dalam keluarga dapat berarti tegas,
namun tetap bersahabat sehingga tidak melukai perasaan. Contoh kalimat dalam komunikasi ini: “Ayah
kecewa ketika kamu tidak meletakkan barang sesuai pada tempatnya. Kalau kamu menaruh barang
sembarangan, ibu, adik, dan ayah bisa kesusahan mencarinya saat diperlukan. Besok-besok, ayah mau
kamu mengembalikan barang ke tempat asalnya, ya” Itu lebih baik kan dibandingkan “Ayah gak suka
ya kalau kamu sembrono gini. Ayo bereskan mainanmu”

2. Menjadi pendengar yang aktif Jika ada anggota keluarga yang berbicara padamu, usahakanlah
mendengar dengan niat untuk memahami perasaan dan pesannya, itulah yang dinamakan pendengar
yang aktif. Mendengarkan dengan tujuan untuk merespon, bisa membuatmu gagal fokus dengan pesan
utama yang mau disampaikan. Supaya anggota keluargamu merasa dimengerti, kamu bisa mengulang
kembali yang telah disampaikan, seperti “Oh, jadi krayon adik ada yang hilang ya di sekolah, makanya
tadi nggak mau dipinjamin sama kakak”

3. Memperhatikan kode-kode komunikasi non-verbal Pada beberapa situasi tertentu, anggota keluarga
bisa saja menutupi sesuatu. Nah, hal seperti ini bisa kamu coba deteksi dari bahasa tubuhnya, Dear.
Misalnya, ketika anak berbohong bahwa ia sudah memecahkan piring, ia mungkin berkata piringnya
pecah karena kucing. Namun, ekspresi wajahnya terlihat ketakutan. Jika sudah begini, kamu bisa
mencoba bertanya lagi secara perlahan dan baik-baik.

4. Jika dalam keadaan marah, sepakati waktu 10 menit atau lebih untuk tenang sejenak sebelum
menyampaikan pesanmu Saat antar anggota keluarga sedang bertengkar, kamu bisa menengahi dan
meminta mereka menenangkan diri sendiri. Orang yang emosinya sedang bergejolak tidak bisa berpikir
jernih, Dear. Jadi, jangan langsung meminta anggota keluarga untuk bermaaf-maafan ya.

5. Lakukan apa yang kamu minta Jika orang tua meminta anaknya untuk mencuci piring setelah makan,
maka hal itu juga yang harus dilakukan orang tuanya setelah makan. Anak mudah sekali melihat dan
meniru perilaku orang tua. Jadi, kalau nasihatmu tidak ingin diabaikan, maka kamu harus menjadi
contoh yang baik.

Green, S., & Peterson, Rick. (2009). Families First: Keys to Successful Family Functioning Communication.
Virginia Polytechnic Institute and State University, 1 - 4