Anda di halaman 1dari 19

PEMANFAATAN SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFI) UNTUK

EVALUASI WISATA EDUKASI SAPI PERAH DI KECAMATAN PUJON


Ahmad Rizal Baitullah, Ely Aprilya, Ita Kurata Ayuni, Liza Nur Avinda, Muhammad Yogi
Atmodarminto, Muhammad Zaky Dharmawan, Novia Meda Triyana, Purwa Sasmita Rahayu, Vito
Gilang Dewantara
Email: ahmadrijalbth@gmail.com, elyapril08@gmail.com,itakuratayuni@gmail.com,
avindaliza@gmail.com, yogiatmo@gmail.com, zaky.dharma28@gmail.com,
noviameda18@gmail.com, purwa1903@gmail.com, vitogilang20@gmail.com
Prodi Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Malang

ABSTRAK
Kecamatan Pujon merupakan salah satu wilayah memiliki potensi sapi perah
terbesar di Kabupaten Malang. Namun, potensi tersebut belum banyak di
manfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Salah satu potensi yang saat ini
banyak dikembangkan adalah wisata edukasi berbasis kemasyarakatan atau wisata
tematik contohnya seperti wisata edukasi yang berbasis pada pertanian, peternakan,
dan perkebunan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan potensi sapi perah
untuk pengembangan desa wisata pada semua desa di Kecamatan Pujon dengan
metode overlay. Kemudian melakukan pemetaan potensi sapi perah berdasarkan
jumlah sapi, kondisi sapi, sistem pengolahan limbah, aksesbilitas, kondisi jalan,
penggunaan lahan, kemiringan lereng, dan pengolahan susu dengan metode overlay.
Metode dalam penelitian ini adalah survey dan wawancara pada masyarakat. Survey
meliputi observasi untuk memperoleh data kondisi peternakan, sistem pengolahan
limbah, jumlah sapi dan aksesbilitas. Sedangkan wawancara masyarakat digunakan
untuk mencari informasi tentang kondisi sosial dan minat masyarakat terhadap desa
wisata. Analisis dalam penelitian in dilakukan dengan menggunakan SIG untuk
mengevaluasi wilayah yang sesuai untuk wisata edukasi di Kecamtana Pujon. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa wilayah desa yang memiliki potensi baik fisik, social
ekonomi dan model pengelolaan sapi yang sesuai dengan kriteria wisata edukasi
adalah Desa Pandesari. Berdasrkan hasil evaluasi dengan menggunakan SIG
diperoleh hasil bahwa terdapat desa yang sesuai dan kurang sesuai untuk menjadi
wisata edukasi sapi perah. Desa yang dikategori tidak sesuai meliputi Desa Ngabab,
Sukomulyo, dan Tawangsari. Desa yang dikategorikan kurang sesuai meliputi Desa
Ngroto dan Pujon Kidul. Desa yang dikategorikan sesuai yakni Desa Pandesari.
Hasil evaluasi Desa Pujon Kidul yang dicanagkan sebagaikawasan wisata sapi perah
memiliki tingkat kesesuai sedang. Sedangkan Desa Pandesari mimiliki potesi tinggi.
Kata kunci : Pemetaan, Wisata Edukasi, Sapi Perah, Pujon
Pendahuluan
Kabupaten Malang merupakan penghasil susu sapi segar terbesar kedua di Jawa
Timur, yakni terdapat di Kecamatan Pujon dengan populasi sapi perah sebesar 20.670
ekor. Produktivitas susu sapi segar yang dihasilkan yaitu 1.500 liter per tahun dengan
rata-rata kepemilikan sapi perah di Pujon 3 ekor per peternak. Satu Desa di Kecamatan
Pujon yang telah memanfaatkan potensi Sapi Perah, yaitu Desa Pujon Kidul. Wilayah ini
bersama masyarakat mengembangkan “Desa Wisata” dalam bentuk usaha, dimana
pengelolaannya di atas BumDes yang mendayagunakan ekonomi lokal dengan berbaagai
jenis potensi yang ada. Desa wisata ini disahkan sejak tahun 2014 dan memiliki banyak
atraksi wisata, salah satuya adalah wisata edukasi peternakan sapi perah. Indicator
kesusaian wilayah utnuk wisata edukasi sapi perah yaitu: (1)Kondisi peternakan;
(2)Kemiringan lereng; (3)Akses jalan; (4)Sistem pengelolaan limbah yang baik;
(5)jumlah dan kondisi sapi.
Pujon Kidul bukan merupakan wilayah dengan potensi sapi perah terbesar di
Kecamatan Pujon, tapi dapat meningkatkan perekonomian masyarakatnnya melalui
pengembangan desa wisata. Dengan adanya desa wisata pujon kidul, maka seharusnya
dapat mendorong perekonomian desa lain yang mempunyai potensi serupa yang dapat
dikembangkan oleh masyarakat. Masyaraka dibeberapa Desa di Kecamatan Pujon hanya
memanfaatkan produksivitas susu sebagai penopang perekonomian dengan menyetor ke
KUD Susu Sae. Pemanfaatan tersebut dirasa kurang maksimal, karena Pengetahuan
masyarakat tentang pengelolaan sapi, susu, limbah dan keindahan alam juga dapat
menghasilkan keuntungan yang besar. Selian itu adanya keinginan dari masyarakat
sendiri untuk mengembangkan potensi wisata edukasi sapi perah diras masih kurang.
Keinginan dari masyarakat sangat penting kaitannya untuk membangun dan juga
mendasari tujuan yang ingin dicapai.
Menurut Nuryanti (1993) desa wisata yaitu merupakan suatu bentuk integrasi
antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang tersusun dalam suatu struktur
kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Menurut
Hadiwijoyo (dalam Andriyani dkk., 2017), ”desa wisata didefisikan sebagai berikut:
Desa wisata adalah suatu kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan
suasana yang mencerminkan keaslian perdesaan baik dari kehidupan sosial
ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur
bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian
yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembangkannya
berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomodasi, makanan-
minuman dan kebutuhan wisata lainnya.”
Kesimpulan dari pengertian desa wisata yaitu kawasan pedesaan yang menawarkan
potensi di dalamnya sebagai objek pariwisata, dimana atraksi yang dimilik berupa
kehidupan masyarakat baik ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, tata ruang desa dan
berbagai bentuk kegiataan yang mengggambarkan identitas khas wilayah tersebut.
Penentuan lokasi dapat dipertimbangkan menggunakan analisis dari SIG atau
sistem informasi geografis. SIG merupakan suatu sistem yang mempunyai kemampuan
analisis terhadap data spasial untuk keperluan manipulasi maupun pemodelan (Arifin
dalam Rizky, 2006). SIG membantu manusia untuk memahami kondisi sebenarnya
dengan melakukan proses-proses manipulasi dan presentasi data yang direalisasikan
dengan lokasi-lokasi geografis di permukaan bumi. SIG juga digunakan untuk memonitor
apa yagn terjadi dan keputusan apa yang akan diambil dengan memetakan apa yang ada
pada suatu area dan apa yang ada di luar area. Pada saat ini pemanfaatan SIG sudah
berkembang pesat, tidak hanya menyelesaikan permasalahan bidang geografi tetapi juga
bidang lain. Salah satu contoh penggunaan SIG di daerah pedesaan digunakan untuk
memanajemen tataguna lahan yang banyak mengarah pada sector pertanian. Selain pada
sector pertanian SIG juga dapat digunakan untuk membantu memetakan area yang
berpotensi sebagai wisata edukasi tematik pada sector wisata. Penentuan lokasi dilakukan
dengan menggunakan metode overlay dengan analisis SIG. Metode overlay dengan
analisis SIG merupakan sistem penanganan data dalam evaluasi spasial dengan cara
digital. Hal ini dilakukan dengan menggabungkan beberapa peta yang memuat informasi
karakteristik wilayahnya. Adanya SIG dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai
sarana informasi bagi peneliti untuk mengolah data yang telah diambil dari lapangan.
Penelitian ini penting dilakukan dalam rangka membuat perencanaan dan
kebijakan yang sesuai. Perencaan yang akan dilakukan bertujuan untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat Kecamatan Puon. Kebijakan yang akan diambil bertujuan
untuk mengembangkan potensi di wilayah Kecamatan Pujon. Akhir dari penelitian ini
akan dikembalikan, diteruskan dan dikelola kembali oleh masyakat. Sehingga,
masyarakat dapat mengambil dan memanfaatkan hasil dari penelitian ini. Selain itu
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis, sekurang-kurangnya
dapat dapat burguna sebagai sumbangan pemkiran bagi masyarakat dan dunia pendidikan.
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan potensi sapi perah untuk
pengembangan desa wisata pada semua desa di kecamatan Pujon dengan metode overlay.
Kemudian melakukan pemetaan potensi sapi perah berdasarkan jumlah sapi, kondisi sapi,
sistem pengolahan limbah, aksesbilitas, kondisi jalan, penggunaan lahan, kemiringan
lereng, dan pengolahan susu dengan metode overlay. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui potensi sapi perah di Kecamatan Pujon dan menganalisa kesesuaian wilayah
dalam upaya pengmbangan ”Desa Wisata” dengan membuat pemetaan Desa di
Kabupaten Pujon. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wilayah lain
di Kecamatan Pujon yang dapat dikembangkan menjadi ”Desa Wisata” dengan melihat
kondisi potensi di daerahnya.

Metode
Penelitian ini merupakan penelitian survey. Pengumpulan data dilakukan
dengan metode observasi lapangan dan wawancara. Observasi dilakukan dengan
menetukan populasi penelitian yaitu beberapa wilayah desa di Kecamatan Pujon.
Sampel lokasi peternakan sapi perah diambil sebanyak 3 titik di setiap
desa. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu pemilihan
sampel yang dilakukan yang ditentukan oleh peneliti dengan pertimbangan
tertentu. Pada metode wawancara, sampel yang dipilih adalah pihak pemerintahan
seperti ketua RT serta organisasi seperti karang taruna. Analisis data yang

Minat Masyarakat
digunakan pada penelitian ini menggunakan SIG. Adapun proses analisisnya
digambarkan sebagaimana berikut

Analisis Kesesuaian Lokasi sebagai desa wisata


Wawancara

Kondisi Sosial Masyarakat

Overlay peta
Pengumpulan data

edukasi sapi perah


-Sistem pengolahan limbah yang
-Kondisi peternakan / kandang

-Jumlah sapi dan kondisi sapi

Peta Persebaran Jumlah

Peta Penggunaan Lahan


-Kemiringan lereng
Observasi lapangan

-Penggunaan lahan

Peta Potensi
Peternakan
-Aksesbilitas

Sapi
baik

Hasil dan Pembahasan


Indikator Kesesuaian Wilayah Untuk Wisata Edukasi Sapi Perah
Dalam mendeskripsikan potensi sapi perah untuk pengembangan desa
wisata, maka diperlukan indikator kesesuaian wilayah. Indikator kesesuaian
wilayah digunakan untuk mengetahui lokasi mana yang paling sesuai. Dalam
penelitian ini, digunakan beberapa indikator kesesuaian wilayah, antara lain:
1. Kondisi peternakan / kandang
2. Kemiringan lereng
3. Akses jalan
4. Sistem pengolahan limbah yang baik
5. Jumlah sapi dan kondisi sapi
Dari beberapa indikator kesesuaian wilayah untuk wisata edukasi sapi
perah tersebut, maka dapat digunakan sebagai langkah awal dalam pengembangan
wisata edukasi sapi perah di Kecamatan Pujon. Jika ditinjau dari beberapa
indikator tersebut, dapat diketahui lokasi mana yang paling sesuai sebagai tempat
wisata edukasi sapi perah.Selain itu, juga dapat digunakan sebagai acuan
pengelolaan peternakan atau perbaikan sistem peternakan di Kecamatan Pujon.
Indikator pertama adalah kondisi peternakan atau kandang.Kondisi
kandang yang sesuai untuk wisata adalah kandang yang bersih dan terawat.
Kandang yang bersih dan terawat dapat dilihat dari sanitasi yang ada. Kebersihan
kandang merupakan hal yang vital dalam pembangunan wisata edukasi sapi perah,
karena hal tersebut erat kaitannya dengan kenyamanan wisatawan yang
berkunjung.Indikator selanjutnya adalah kemiringan lereng.Kemiringan lereng
suatu tempat sangat mempengaruhi sesuai tidaknya tempat tersebut dijadikan
lokasi wisata.Semakin curam lereng maka tidak sesuai untuk wisata. Dengan kata
lain, tempat dengan kemiringan lereng yang landai merupakan tempat yang sesuai
sebagai wisata edukasi sapi perah karena akan memudahkan pengunjung saat
berjalan ke peternakan satu dan lainnya.
Akses jalan juga berpengaruh dalam penentuan lokasi wisata. Jalan yang
sudah diaspal tentu saja akan lebih mudah diakses daripada jalan yang masih
berbatu atau bahkan rusak. Jalan yang sudah diaspal akan memudahkan lalu lintas
di daerah wisata sehingga memperlancar tujuan wisatawan, dan memudahkan
mereka untuk datang kembali. Sistem pengolahan limbah yang baik dimaksudkan
untuk memberi pengetahuan tentang pengolahan limbah berkelanjutan kepada
para wisatawan.Hal ini masuk ke dalam salah satu kegiatan wisata edukasi sapi
perah, sehingga apabila ada peternakan yang masih belum mengolah limbahnya
secara lebih lanjut tentu saja tidak dapat digunakan sebagai wisata. Dapat juga
digunakan akan tetapi pada bagian pengolahan limbah wisatawan akan diarahkan
ke kandang lain.
Jumlah sapi dan kondisi sapi merupakan indikator terakhir yang juga
sangat vital dalam pengembangan wisata edukasi sapi perah. Dikatakan sangat
vital karena dalam suatu wisata tentu saja pengunjung atau wisatawan akan
merasa senang dan nyaman ketika datang ke tempat yang bersih dan
tentu saja tidak layak untuk dijadikan objek wisata apalagi dalam proses memerah
susu, hal tersebut akan membuat wisatawan berfikir ulang saat akan
melakukannya. Jumlah sapi juga mempengaruhi sesuai tidaknya suatu wisata
edukasi sapi perah.Dalam wisata edukasi sapi perah setidaknya per rumah
memiliki 1-10 sapi. Lebih dari itu tentu akan semakin baik karena pengunjung
juga akan semakin tertarik ketika banyak sapi yang dapat dikunjungi.
Potensi Desa Wisata Edukasi Sapi Perah di Kecamatan Pujon
Berdasarkan hasil penelitian telah dilakukan observasi ke enam desa dari
total 10 desa di Kecamatan Pujon.Hasil tersebut mendapatkan data yang beragam
dari tiap desa. Penjelasan dari hasil observasi akan dijabarkan sebagai berikut:
Tabel Potensi Sapi Perah di Kecamatan Pujon

Tabel diatas merupaakn tabel hasil observasi dari enam desa di Kecamatan
Pujon. Enam desa terebut adalah Pandesari, Ngroto, Ngabab, Pujon Kidul,
Sukomulyo, dan Tawangsari. Pada desa Pandesari memiliki total penilaian
terbesar yakni 10.2 dengan nilai tertinggi berada pada aksesbilitas, jalan dan
system pengelolahan limbah serta jumlah sapi. Sedangkan total nilai paling kecil
yaitu desa ngaba dengan perolehan nilai 6.9 dan nilai terbesar berapa pada kondisi
jalan. Sedangkan untuk desa- desa yang lain mendapat total nilai antara 7 hingga 9
yakni, desa Ngroto mendapatkan total nilai 9, desa Pujon Kidul mendapatkan total
nilai 9, desa Sukomulyo mendapatkan total nilai 7.3, desa Tawang Sari
mendapatkan Total nilai 7. Sehingga berdasarkan penilaian yang telah dilakukan
melalui observasi lapangan dengan tuju indikator dapat dikatan desa Pandesari
dapat berpotensi sebagai desa wisata edukasi sapi perah di Kecamatan Pujon.
Hasil Pemetaan Peternakan
Adanya hasil pemetaan peternakan dapat diketahui menggunakan teknik
overlay dimana data yang diambil berasar dari gabungan peta administrasi,
penggunaan lahan, dan peta persebaran sapi perah di Kecamatan Pujon. Hasil dari
penggabungan peta administrasi, penggunaan lahan dan persebaran sapi perah di
Kecamatan Pujon menghasilkan peta overlay potensi wisata sapi perah serta
tingkat potensi sapi perah.

Dari hasil overlay menunjukkan bahwaDesa Pandesari memiliki tingkat


kesesuaian yang paling tinggi sebagai wisata edukasi sapi perah di Kecamatan
Pujin. Akan tetapi pada kenyataan di lapangan desa ini masih belum
mengembnagkan potensinya. Para peternak di desa ini masih terfokus pada
kegiatan beternak saja dan belum memulai untuk mengembangkannya lebih
lanjut.Meskipun sudah ada niatan dari beberapa kelompok pemuda yaitu
Kelompok Pemuda 37 yang juga berinisiatif membangkitkan kembali wisata
edukasi sapi perah yang sebenarnya dulu sudah pernah ada.
Aksesbilitas Desa Pandesari termasuk tinggi. Lokasinya yang tidak jauh
dari Batu dan merupakan jalan utama menuju Kota Malang dapat dimanfaatkan
sebagai lokasi wisata edukasi sapi perah. Selain itu, jumlah peternak dan sapi
yang paling banyak di Kecamatan Pujon juga sangat potensial untuk
dikembangkan. Bahkan di desa ini terdapat seorang peternak yang memiliki sapi
mencapai 40 ekor dan rata-rata memang peternak sudah memiliki sapi lebih dari 5
ekor. Hal tersebut tentu saja akan meningkatkan daya tarik bagi wisatawan yang
ingin belajar tentang sapi bahkan melakukan kegiatan terkait perawatan dan
pengolahan susu sapi. Berdasarkan informasi kelompok pemuda 37, ada sekitar 10
warga yang memiliki spesifikasi dalam bidang peternakan, mulai dari lulusan
SMK Peternakan dan juga ada beberapa dokter hewan maupun lulusan jurusan
peternakan.Tidak hanya itu, bahkan di desa ini tepatnya di Dusun Selorejo
terdapat salah satu sentra oleh-oleh khas Pujon berupa olahan susu sapi. Sehingga
jika ditinjau dari segi aksesbilitas, jumlah sumberdayanya, dan minat ataupun
tenaga professional, Desa Pandesari merupakan desa yang paling potensial untuk
dijadikan wisata edukasi sapi perah terpadu.

Gambar 1: Kondisi Peternakan di Desa Pandesari


Sumber: Dokumentasi Pribadi

Wisata edukasi sapi perah sudah berkembang di Kecamatan Pujon ada di


Desa Pujon Kidul. Wisata edukasi sapi perah ini sudah berjalan sejak beberapa
tahun lalu. Dikembangkannya wisata edukasi sapi perah di desa ini karena
pengaruh dari terbentuknya Desa Pujon Kidul sebagai desa wisata.Sehingga tidak
hanya wisata alam maupun buatan saja yang dikembangkan, maka dibuat pula
wisata berbasis edukasi sapi perah di desa ini. Namun apabila dilihat dari peta
tingkat kesesuaian sebagai wisata edukasi sapi perah, desa ini tergolong kedalam
kategori sedang. Hal ini dikarenakan penggunaan lahannya berupa pemukiman
padat penduduk dan jumlah sapinya yang masih lebih sedikit dibandingkan desa
lain. Apabila dilihat dari potensinya ada beberapa desa yang juga dapat
dikembangkan sebagai desa wisata edukasi sapi perah. Desa Pujon Kidul bukan
merupakan desa dengan tingkat kesesuaian tertinggi di Kecamatan Pujon,
melainkan angka tertinggi berada di Desa Pandesari. Akan tetapi, ada beberapa
kendala yang membuat Desa Pandesari tidak dapat mengembangkan potensi
mereka seperti Pujon Kidul meskipun memiliki nilai tertinggi.
Menurut hasil wawancara dengan Bapak Prayitno selaku Bumdes Pujon
Kidul. Desa Pujon Kidul ini terdapat banyak sekali wisata alam maupun wisata
edukasi salah satunya wisata sapi perah. Hampir 70% rumah di Desa Pujon Kidul
ini memiliki sapi jadi jika pengunjung wisata sapi perah ini membludak, maka
kegiatan edukasi sapi perah dibagi ke rumah-rumah warga yang memiliki sapi
tersebut. Namun, jika pengunjungnya hanya sekitar 5-10 orang pihak Bumdes
menunjuk salah satu peternak untuk member edukasi wisata sapi perah tersebut.
Menurut Pak Prayitno, kepemilikan wisata sapi perah di Desa Pujon Kidul ini
sudah ada turun temurun, tetapi belum dikembangkan sebagai wisata edukasi.
Lalu pihak Bumdes berinisiatif membuat desa wisata sapi perah ini, diharapkan
warga bisa berpartisipasi dalam kegiatan wisata ini agar bisa memajukan
perekonomian masyarakat serta Desa Pujon Kidul itu sendiri.
Kebanyakan masyarakat di Desa Pujon Kidul ini menyetorkan hasil susu
sapi ke KUD untuk diolah menjadi berbagai makanan maupun minuman. Namun,
ada juga masyarakat yang mengelola hasil susu sapinya untuk diolah menjadi
makanan seperti tahu susu. Menurut pihak Bumdes di beberapa rumah sudah
memiliki tempat penampungan limbah yang dijadikan sebagai biogas. Biogas ini
didapatkan dari KOP SAE dengan cara memotong hasil dari penyetoran susu sapi
mereka. Wisata sapi perah di Pujon Kidul juga menyiapkan penginapan bagi
pengunjung yang akan menginap. Biasanya penginapan ini ditempatkan di rumah
– rumah warga sekitar Desa Pujon Kidul. Namun, sebelum itu kita harus
menelepon dulu pihak Bumdes untuk pemesanan rumah tersebut serta biaya yang
harus dikeluarkan wisatawan.

Gambar 2: Kondisi dan Pemilik Salah Satu Peternakan di Desa Pujon Kidul,
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Hasil wawancara dengan Bapak Al Wahid, selaku pengelola wisata


edukasi sapi perah di Pujon Kidul. Peternak yang terdapat di wisata edukasi sapi
perah sekitar 800 orang peternak dan kurang lebih ada sekitar 1700 ekor sapi
perah. Sebagian besar hasil susu yang dihasilkan sapi perah tersebut disetorkan ke
kop sae pujon namun ada juga yang diolah sendiri untuk dijadikan oleh-oleh
wisatawan. Wisata sapi perah mulai dibuka pada tahun 2015. Awal terbentuknya
wisata edukasi sapi perah ini digagas oleh pemerintah dan juga masyarakat untuk
menarik wisatawan agar datang ke Desa Pujon Kidul. Untuk mengelola wisata
sapi perah yang diperlukan pertama yakni kamauan semua warga, kedua harus
adanya promoter atau penggerak untuk memulai wisata edukasi tersebut. Desa
wisata edukasi sapi perah ini juga bekerja sama dengan Universitas Madura dan
memiliki agenda setiap tahunnya. Pengelolaan limbah ternak sapi ini, kebanyakan
peternak menjadikan limbahnya sebagai biogas. Kebanyakan kebanyakan
peternak di Desa Pujon Kidul ini belajar mandiri untuk mengelola limbah tanpa
adanya pelatihan dari pihak desa. Kendala yang dihadapi dalam melakukan dan
membangun wisata edukasi sapi perah yaitu, melibatkan masyarakat untuk
memulai wisata edukasi sapi perah, meyakinkan warga untuk membangun wisata
edukasi sapi perah, biaya untuk mengembangkan wisata sapi perah, fasilitas atau
sarana dan prasarana sudah baik, akan tetapi masih perlu diperbaiki lagi, paham
mengenai pasar, bagaimana cara memasarkan dengan baik produk olahan susunya
Integrasi wisata edukasi khususnya sapi perah dengan wisata edukasi lain
inilah yang akhirnya meningkatkan standarisasi ekowisata di Kecamatan Pujon.
Jika yang dulunya hanya bersifat memanfaatkan keindahan alam saja, maka saat
ini sudah diberlakukan perawatan sapi yang baik dan pengelolaan kandang yang
bersih dan layak untuk dikunjungi.Sistem dalam wisata edukasi sapi perah ini juga
dihubungkan langsung dengan warga yang beternak, sehingga warga juga
merasakan feedback dari adanya wisata edukasi ini. Pengunjung yang datang
hanya perlu melakukan reservasi ke Bumdes dan selanjutnya oleh pihak pengelola
akan diarahkan ke peternak yang siap menerima wisatawan.
Kegiatan berwisata edukasi sapi perah ini mulai dari memerah susu sapi,
memberi makan sapi, hingga proses mengolah susu sapi lebih lanjut. Pengunjung
wisata edukasi ini biasanya kalangan anak-anak, remaja, maupun orang dewasa
yang sedang melakukan penelitian. Pihak Bumdes memilih sistem random dalam
penentuan lokasi peternakan yang akan dikunjungi agar seluruh warga
berkesempatan merasakan efek dari wisata ini. Tentu saja pihak Bumdes memiliki
syarat terhadap kebersihan kandang yang diterapkan oleh seluruh warga desa yang
bekerja sama dalam wisata edukasi sapi perah. Dengan demikian peternak di Desa
Pujon Kidul sebagai Desa Wisata khususnya telah memiliki standarisasi
pelayanan wisatawan yang baik dengan bantuan pihak Bumdes dan kelompok
peternak dalam mengembangan wisata edukasi sapi perah ini.
Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor masyarakat
di Desa Pujon Kidul berperan penting dalam mengembangkan potensi di
wilayahnya. Meskipun hasil analisis kesesuaian lokasi wisata edukasi sapi perah
yang tertinggi ada di Desa Pandesari, namun masyarakat di Desa tersebut belum
memanfaatkan potensi yang ada. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, desa
ini merupakan desa yang paling sesuai diantara 6 desa yang ada di Kecamatan
Pujon. Terlepas dari adanya wisata edukasi sapi perah di desa Pujon Kidul,
penentuan lokasi ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan wisata
edukasi sapi perah selain di Pujon Kidul. Sehingga pengembangan wisata di
kecamatan ini dapat tersebar merata sesuai dengan potensi yang dimiliki tiap desa.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan mengenai pemetaan peternakan desa
pujonkidul kecamatan pujon sebagai analisis kesesuaian wisata edukasi sapi perah
dapat diambil kesimulan sebagai berikut:
1. Terdapat beberapa desa di Kecamatan Pujon yang juga dapat
dikembangkan sebagai desa wisata edukasi sapi perah. Desa Pujon Kidul
bukan merupakan desa dengan jumlah sapi atau peternak terbanyak di
Kecamatan Pujon, melainkan angka tertinggi berada di Desa Pandesari
yang merupakan desa terluas di Pujon. Akan tetapi, ada beberapa kendala
yang membuat desa-desa lain tidak dapat mengembangkan potensi mereka
seperti Pujon Kidul terlepas dari ikon desa wisata berbasis lingkungan.
2. Penentuan lokasi wisata edukasi sapi perah yang sesuai dengan indikator
dan potensi yang ada adalah di Desa Pandesari.Seperti yang telah
dijabarkan sebelumnya, desa ini merupakan desa yang paling sesuai
diantara 6 desa yang ada di Kecamatan Pujon.Terlepas dari adanya wisata
edukasi sapi perah di desa Pujon Kidul, penentuan lokasi ini bertujuan
untuk mengetahui potensi pengembangan wisata edukasi sapi perah selain
di Pujon Kidul.Sehingga pengembangan wisata di kecamatan ini dapat
tersebar merata sesuai dengan potensi yang dimiliki tiap desa.

Daftar Pustaka
Desa Wisata Pujon Kidul. No Year. Edukasi Sapi Perrah (Peternakan. Online,
(http://wisatapujonkidul.blogspot.co.id/p/edukasi-sapi-perah-
peternakan.html), diakses tanggal 12 Maret 2018
Dinas Pariwisata Nias Selatan. 2009. Buku Panduan Dasar Pelaksanaan
Ekowisata Kabupaten Nias Selatan. Nomor UHJAK/2009/PI/H/9
Nurcahyanti, Christiana dan Pamungkas, Johannes Hanan. 2017. Peternakan Sapi
Perah
Kecamatan Pujon Tahun 1990-2010. AVATARA, e-Journal Pendidikan
Sejarah Volume 5, No. 1, Maret 2017
Pamela,dkk. 2016. Kompetensi Kewirausahaan Dengan Keberhasilan Usaha
Peternak
Sapi Perah Pujon, Malang. Junal Agribisnis Indonesia, Vol 4 No 1, Juni
2016.
WWF. 2009. Prinsip dan Kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat. Indonesia.
Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata Direktorat Jenderal Pengembangan
Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF
Yunus, Sabari Hadi. 2008. Konsep Dan Pendekatan Geografi Memaknai Hakekat
Keilmuannya. Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi
indonesia. Fakultas geografi, UGM.
Sari, Ria Cipta. 2011. Bab 1 new. (Online)
(https://www.google.co.id/url?eprints.undip.ac.id/33005/1/BAB__I).
Diakses tanggal 16 Mei 2018.
R, Nur Ratih. Dkk. 2013. Perancangan Wisata Edukasi Lingkungan Hidup Di
Batu
Dengan Penerapan Material Alami. Jurnal arsitektur VOL 1, NO 1 (2013)
(softfile)
Kurniawan, Rizky. 2016. Penerapan Sistem Informasi Geografis dalam Pemetaan
dan
Analisis Kawasan Rawan Longsor di Kecamatan Nanggung, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat. Skripsi. ITB (soft file).
LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN III
KELOMPOK TEKNIK

PEMANFAATAN SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFI) UNTUK


EVALUASI WISATA EDUKASI SAPI PERAH DI KECAMATAN PUJON

Nama Mahasiswa :
Ahmad Rizal Baitullah 150721602349
Ely Aprilya 150721602781
Ita Kurata Ayuni 150721602437
Liza Nur Avinda 150721601046
Muhammad Yogi Atmodarminto 150721605637
Muhammad Zaky Dharmawan 150721606959
Novia Meda Triyana 150721604810
Purwa Sasmita Rahayu 150721603042
Vito Gilang Dewantara 150721607562

Mata Kuliah : Kuliah Kerja Lapangan


Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd
Purwanto S.Pd,M.Si

PRODI PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2018
LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN III

PEMANFAATAN SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFI) UNTUK


EVALUASI WISATA EDUKASI SAPI PERAH DI KECAMATAN PUJON

Yang dibimbing oleh:


Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd
Purwanto S.Pd,M.Si

Oleh:

Kelompok KKL Teknik

PRODI PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini telah diterima dan disetujui pada 18 Mei 2018 oleh :

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd Purwanto, S.Pd, M.Si

NIP 195807071983031002 NIP 197807012008121003

Mengetahui,

Ketua Jurusan Geografi


Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si,
NIP 195708151986031004