Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perilaku merupakan basil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon Skinner, cit.
Notoatmojo 1993). Perilaku tersebut dibagi lagi dalam 3 domain yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor. Kognitif diukur dari pengetahuan, afektif dari sikap psikomotor dan tindakan
(ketrampilan)Menurut Becker, Konsep perilaku sehat ini merupakan pengembangan dari konsep
perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga
domain, yakni pengetahuan kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health
attitude) dan praktek kesehatan (health practice).
Hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat dan saling berkesinambungan, individu
yang sehat akan tercermin dari perilaku yang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku yang
sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.Dalam promosi kesehatan
perubahan perilaku merupakan hal yang penting karena untuk mengetahui sejauh mana promosi
kesehatan yang di berikan berjalan efektif. Keberhasilan suatu promosi kesehatan dapat di nilai
dari perubahan perilaku dari penerima promosi kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan perilaku kesehatan?
2. Apa saja bentuk-bentuk perilaku kesehatan?
3. Bagaimana Teori WHO Terhadap Perilaku Sehat?
4. Bagaimana Teori Snehandu B. Karr Terhadap Perilaku Sehat?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perilaku kesehatan
2. Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk perilaku kesehatan
3. Untuk mengetahui bagaimana Teori WHO terhadap perilaku sehat
4. Untuk mengetahu bagaimana Teori Snenhandu B. Karr terhadap perilaku sehat

1
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Perilaku Kesehatan

Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat
diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan dan baik disadari maupun tidak.
Atau dapat dikatakan perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi.’

Perilaku Kesehatan (Notoatmodjo, 2005) adalah respons seseorang terhadap stimulus atau


objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan, misalnya lingkungan, makanan, minuman dan pelayanan kesehatan.

 Cakupan dari perilaku kesehatan:


1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit.
Yaitu bagaimana manusia merespon baik secara pasif maupun aktif
sehubungan dengan sakit dan penyakit. Perilaku ini dengan sendirinya
berhubungan dengan tingkat pencegahan penyakit
a) Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan
misalnya makan makanan bergizi, dan olahraga.
b) Perilaku pencegahan penyakit misalnya memakai kelambu untuk
mencegah malaria, pemberian imunisasi. Termasuk juga perilaku untuk
tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
c) Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan misalnya usaha
mengobati penyakitnya sendiri, pengobatan di fasilitas kesehatan atau
pengobatan ke fasilitas kesehatan tradisional.
d) Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari
penyakit misalnya melakukan diet, melakukan anjuran dokter selama
masa pemulihan.
2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan.
Perilaku ini mencakup respon terhadap fasilitas pelayanan, cara
pelayanan, petugas kesehatan dan obat – obat.
3. Perilaku terhadap makanan.
Perilaku ini mencakup pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap
makanan serta unsur – unsur yang terkandung di dalamnya., pengelolaan
makanan dan lain sebagainya sehubungan dengan tubuh kita.

2
4. Perilaku terhadap lingkungan sehat.
Adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai salah satu
determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan
lingkungan itu sendiri.

Seiring dengan tidak disadari bahwa interaksi itu sangat kompleks sehingga kadang-
kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu.
Seorang ahli psikologis, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang
terhadap stimulus (rangsangan dari luar). (Skinner, 1938 yang dikutip dalam
Notoatmodjo,2003).

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan
menjadi dua:
1. Perilaku Tertutup (Covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup
(covert), Misalnya: Seorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan, seorang
pemuda tahu bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui hubungan seks, dan
sebagainya.

2. Perilaku Terbuka (Overt behavior)


Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka, misalnya seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anaknya
ke puskesmas untuk diimunisasi.
Bentuk-bentuk Perilaku Kesehatan
1. Bentuk Suchman
Bentuk Suchman adalah menyangkut pola sosial dari perilaku sakit yang
tampak pada orang mencari, menemukan dan melakukan perawatan medis. Ada
empat unsur yang merupakan faktor utama perilaku sakit yaitu perilaku itu sendiri,
sekuensinya tempat atau ruang lingkup dan variasi perilaku selama tahap-tahap
perawatan medis.
2. Bentuk Hochbaum, Kasl dan Cobb, Rosenstock
Hipotesis HBM adalah perilaku pada saat mengalami gejala penyakit
dipengaruhi secara langsung oleh persepsi individu mengenai ancaman penyakit dan
keyakinannya terhadap nilai manfaat dari suatu tindakan kesehatan.

3
3. Bentuk Fabrega
Bentuk ini memberikan definisi abstrak tentang perilaku sakit yang
dituangkan dalam 9 tingkatan dan menggambarkan konsekuensi keputusan yang
ditetapkan orang selama dalam keadaan sakit.
4. Bentuk Mechanic
Suatu bentuk mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan cara
orang melihat, menilai serta bertindak terhadap suatu gejala penyakit.(Mechanic,1962
yang dikutip dalam Muzaham,1995)
5. Bentuk Andersen
Bentuk yang menggambarkan suatu sekuensi determinan individu terhadap
pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh keluarga, dan menyatakan bahwa hal itu
tergantung pada: predisposisi keluarga untuk menggunakan jasa pelayanan kesehatan,
kemampuan mereka untuk melaksanakannya, dan kebutuhan meraka terhadap jasa
pelayanan tersebut.
6. Bentuk Kosa dan Robertson
Upaya lain untuk memahami perilaku sehat dan sakit baik dari perspektif
individu maupun sosial adalah dengan model yang di kembangkan oleh J.Kosa dan
L.S.Robertson (1975). Formulasinya meliputi 4 komponen utama yakni: penilaian
tentang suatu gangguan kesehatan, peningkatan rasa khawatir karena persepsi tentang
gejala penyakit, penerapan pengetahuan sendiri terhadap kesehatan dan bentuk
tindakan untuk menghilangkan kekhawatiran dan gangguan kesehatan tersebut.
7. Bentuk Antonovsky dan Kats
Dalam mempelajari kesehatan preventif, A.Antonovsky dan Kats (1970)
mengemukakan suatu model terpadu untuk membuat kategori tentang berbagai tipe
variabel yang berbeda menurut pola tindakan tertentu, dan membuat spesifikasi
mengenai kaitan antara semua variabel tersebut. Tiga golongan variabel di
identifikasikan sebagai determinan dalam perilaku pencegahan gangguan kesehatan,
termasuk perbuatan tunggal maupun berulang-ulang. Ketiga golongan variabel
tersebut adalah motivasi predesposisi, variabel kendala dan variabel kondisi.

8. Model Langlie
Adalah model perilaku pencegahan gangguan kesehatan dengan cara
menggabungkan variabel-variabel social psikologi dan model kepercayaan kesehatan
dengan karakteristik kelompok social dari formulasi Suchmnan. Perilaku pencegahan

4
kesehatan yang dirumuskan oleh Langlie sebagai suatu tindakan kesehatan yang di
sarankan, dan dilaksanakan oleh seseorang yang percaya bahwa dirinya dalam
keadaan sehat, guna mencegah penyakit, gangguan kesehatan, atau mendeteksi
penyakit pada saat penyakit belum terlihat.

2.2 TEORI WHO TERHADAP PERILAKU SEHAT

Tim kerja dari WHO menganalisa bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku
tertentu adalah karena adanya 4 alasan pokok, yakni:

1. Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling)


Yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan,
dan penilaian-penilaian seseorang terhadap obyek (dalam hal ini adalah obyek
kesehatan).
2. Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
Seorang anak memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas adalah setelah memperoleh
pengalaman di mana tangan atau kakinya kena api dan terasa panas. Seorang ibu akan
mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio
sehingga cacad, karena anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio.
3. Kepercayaan
Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua. kakek atau nenek. Seseorang
menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian
terlebih dahulu. Misalnya wanita hamil tidak boleh makan telur agar tidak kesulitan
waktu melahirkan.
4. Sikap
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap obyek. Sikap
sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap
membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau obyek lain. Sikap positif
terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata.

5
Secara sederhana dapat diilustrasikan sebagai berikut: B = f(TF, PR, R, C)

Dimana:

B = Behavior

f = fungsi

TF = Thoughts and feeling

PR = Personal references

R = Resources

C = Culture

Contoh:

Seorang ibu habis melahirkan tidak mau menyusui anaknya, karena dia punya keyakinan
kalau payudaranya akan hilang keindahannya bila menyusui (TF), atau karena artis yang
diidolakannya tidak menyusui sehingga dia mengikuti (PR), atau karena harus bekerja, tidak ada
waktu untuk menyusui (R), atau karena kebudayaan di daerah ibu tersebut lebih keren kalau
memberi susu formula daripada ASI, makin mahal harga susu maka status sosial makin naik (C).

Disimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan atau fungsi
dari pemikiran dan perasaan seseorang, adanya orang lain yang dijadikan referensi, dan sumber-
sumber atau fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung perilaku dan kebudayaan masyarakat.
Seseorang yang tidak mau membuat jamban keluarga, atau tidak mau buang air besar di jamban,
mungkin karena ia mempunyai pemikiran dan perabaan yang tidak enak kalau buang air besar di
jamban (thought and feeling). Atau barangkali karena tokoh idolanya juga tidak membuat jamban
keluarga sehingga tidak ada orang yang menjadi referensinya (personal reference). Faktor lain
juga mungkin karena langkanya sumber-sumber yang diperlukan atau tidak mempunyai biaya
untuk membuat jamban keluarga (resources). Faktor lain lagi mungkin karena kebudayaan
(culture), bahwa jamban keluarga belum merupakan budaya masyarakat.

6
2.3 TEORI SNEHANDU B. KARR TERHADAP PRILAKU SEHAT
Karr mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku
merupakan fungsi dari:
1. Niat sesorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya
(behaviour intention).
2. Dukungan sosial dari masyrakat sekitarnya (social-support).
3. Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessebility of
information).
4. Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan
(personal autonomy).
5. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak(action situation).
Uraian diatas dapat dirumuskan sebagai berikut:
B=f(BI, SS, AL, PA, AS)
Keterangan:
B= Behaviour
F= Fungsi
BI= Behaviour Intention
SS= Social Support
AI= Accessebility of Information
PA= Personal Autonomy
AS= Action Situation
Contoh:
Seorang ibu melahirkan di dukun yang belum mengikuti pelatihan asuhan persalinan
normal, bukan di tenaga medis terlatih, mungkin dikarenakan:

 Tidak ada niat melahirkan di bidan(BI)


 Tidak ada tetangganya yang melahirkan di bidan(SC)
 Tidak mendapat informasi persalinan yang sehat(AI)
 Tidak bebas menentukan, takut mertua(PA)
 Kondisi jauh dari puskemas(AS)
Disimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyrakat ditentukan oleh
niat orang terhadap objek kesehatan, ada atau tidaknya dukungan dari masyarakat
sekitarnya, ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan, kebebasan dari individu
untuk mengambil keputusan/bertindak, dan situasi yang memungkinkan ia
berperilaku/bertindak atau tidak berperilaku/bertindak. Seseorang ibu yang tidak mau
ikut KB, mungkin karena ia tidak ada minat dan niat terhadap KB (behaviour

7
intention), atau barangkali juga karena tidak ada dukungan dari masyrakat sekitarnya
(social-support). Mungkin juga karena kurang atau tidak memperoleh informasi yang
kuat tentang KB (accessebility of information), atau mungkin ia tidak mempunyai
kebebasan untuk menentukan, misalnya harus tunduk kepada suami, mertuanya atau
orang lain yang ia segani (personal autonomy). Faktor lain yang mungkin
menyebabkan ibu ini tidak iku KB adalah karena situasi dan kondisi yang tidak
memungkinkan, misalnya alasan kesehatan (action situation).

8
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 Perilaku Kesehatan adalah respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan
dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, misalnya
lingkungan, makanan, minuman dan pelayanan kesehatan.
 Bentuk-bentuk perilaku kesehatan: suchman, hochbaum, kasl & cobb, rosenstock, fabrega,
mechanic, Andersen, kosa & Robertson, antovsky & kats, model langlie
 Teori kesehatan menurut WHO terhadap perilaku kesehatan mencakup 4 hal yaitu:
Pemikiran dan perasaan, Pengetahuan, pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau
pengalaman orang lain, Kepercayaan, Sikap
 Teori kesehatan menurut Shenandu B. Karr: Niat sesorang untuk bertindak sehubungan
dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behaviour intention), dukungan sosial dari
masyrakat sekitarnya (social-support), ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan
atau fasilitas kesehatan (accessebility of information), otonomi pribadi yang bersangkutan
dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy), Situasi yang
memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation).

9
DAFTAR PUSTAKA

http://e-medis.blogspot.co.id/2013/04/analisis-perilaku-snehandu-b-kar.html

https://ruzdyserigalakeyboardizt.wordpress.com/2014/12/07/lawrence-greensnehandu-b-kar-who/

http://tipswarta.blogspot.co.id/2011/02/teori-snehandu-bkar-perilaku.html

10