Anda di halaman 1dari 7

F.6.

Usaha Kesehatan Masyarakat


Upaya Pengobatan Dasar
Puskesmas Leksono 2, Wonosobo
September 2018 – Januari 2019

SEORANG WANITA 20 TAHUN DENGAN SKABIES

dr. Rahma Damayanti


Latar Belakang Pemeliharaan personal hygiene sangat menentukan status
kesehatan, dimana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi
menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit. Upaya
kebersihan diri ini mencakup tentang kebersihan rambut, mata, telinga,
gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian.

Salah satu upaya personal hygiene adalah merawat kebersihan


kulit karena kulit berfungsi untuk melindungi permukaan tubuh,
memelihara suhu tubuh dan mengeluarkan kotoran-kotoran tertentu.
Mengingat kulit penting sebagai pelindung organ- organ tubuh, maka
kulit perlu dijaga kesehatannya. Penyakit kulit dapat disebabkan oleh
jamur, virus, kuman, parasit. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan
oleh parasit adalah Skabies.

Di Indonesia skabies lebih dikenal dengan nama gudik, kudis,


buduk, kerak, penyakit ampere, dan gatal agogo. Faktor lingkungan
mempercepat penyebaran meliputi kepadatan penduduk, pengobatan
yang terlambat kasus primer, dan kurangnya kesadaran masyarakat
terhadap kondisi tersebut. Insiden yang lebih tinggi terjadi pada daerah
dengan kepadatan penduduk, sering berhubungan dengan bencana
alam, perang, depresi ekonomi dan tempat pengungsian. Skabies dapat
ditularkan langsung melalui kontak pribadi yang dekat, seksual atau
lainnya, atau tidak langsung melalui transmisi melalui benda-benda.
Prevalensi lebih tinggi pada anak dan pada orang yang aktif secara
seksual. Pada umumnya infestasi penyebarannya terjadi antara anggota
keluarga dan orang yang dekat.
Skabies telah menginfeksi masyarakat setidaknya selama 2500
tahun. Skabies merupakan suatu penyakit infeksi kulit yang disebabkan
oleh tungau ektoparasit Sarcoptes scabiei var hominis, filum
Arthropoda, orde akarina yang merupakan parasit obligat pada manusia
yang berukuran 300-400 mikron. Skabies dapat terjadi pada pria dan
wanita, pada semua umur, semua etnik, dan pada semua tingkat sosial
ekonomi.

Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi


(perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-
kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali
oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali
terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter
sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai
mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat
hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu
3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini
dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3
hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan
betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur
sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.

Kelainan kulit yang menyerupai dermatitis tersebut sering terjadi


lebih luas dibandingkan lokasi tungau dengan efloresensi dapat berupa
papul, nodul, vesikel, urtika dan lainnya. Akibat garukan yang
dilakukan oleh pasien dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta hingga
terjadinya infeksi sekunder.

Cara penularan skabies:

1. Kontak langsung (Kulit dengan kulit, tidur bersama dan


hubungan seksual).
2. Kontak tidak langsung (melalui benda misalnya pakaian
handuk, sprei, bantal dan lain - lain)

Untuk mengobati skabies perlu diberika penjelasan kepada pasien


dan keluarganya bahwa penyakit skabies mudah sekali menular,
sehingga semua individu yang berkontak /serumah harus diobati
walaupun gejala belum ada.

Permasalahan IDENTITAS PASIEN

Nama : Nn. FR
Usia : 20 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Desa Sawangan, Kecamatan Leksono,
Wonosobo

ANAMNESIS

Autoanamnesis dilakukan tanggal 14 November 2018 pukul 09.30


WIB di Poli Umum Puskesmas Leksono 2

Keluhan utama

Gatal pada seluruh tubuh

Riwayat penyakit sekarang

Keluhan dialami pasien sejak 3 hari sebelum berobat ke Puskesmas.


Gatal terutama dirasakan pada malam hari di daerah sela-sela jari,
lipatan bokong, lipatan paha, leher, punggung, dan perut. Demam
disangkal. 2 minggu sebelum berobat ke puskesmas, pasien mengikuti
camping di acara sekolahnya dimana tidur bersama temannya saling
berdekatan dan kerap meminjam selimut dimana dicurigai sebagai
sumber penularan.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Riwayat
alergi (-), Riwayat asma (-)

Riwayat penyakit keluarga

Riwayat alergi (-), Riwayat asma (-)

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Nadi : 99 x/menit
Pernapasan : 16 x/menit
Suhu : 35.8 ˚C
Status Generalis
Kepala Normocephal,
Mata Konjungtiva kanan dan kiri anemis, tidak ada
sklera ikterik pada kedua mata.
Telinga Normotia, tidak ada secret.
Hidung Tidak dilakukan pemeriksaan.
Gigi dan Mulut Tidak dilakukan pemeriksaan.
Leher Pembesaran KGB (-).
Toraks Paru-paru : Pergerakan hemitoraks kiri dan
kanan simetris ,suara nafas vesikular pada
lapang paru kanan dan kiri, rhonki -/-, wheezing
-/-.

Jantung : Bunyi jantung I-II murni reguler,


murmur (-), gallop (-).
Abdomen Perut datar, tampak verban pada abdomen
kanan bawah, hepar tidak teraba pembesaran,
lien tidak teraba perbesaran.
Ekstremitas Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-

Status Dermatologikus
Lokasi : Seluruh tubuh terutama di daerah lipatan paha
dan bokong, sela jari tangan, telapak tangan, kaki,
punggung dan perut.
Lesi : Multiple, bilateral
Effloresensi : Tampak papul-papul eritem dengan ukuran miliar
hingga lentikular, ekskoriasi, krusta, pustul dengan
ukuran miliar, berskuama dan terdapat erosi.
DIAGNOSA KERJA
Skabies

DIAGNOSIS BANDING

PEMERIKSAAN ANJURAN

Perencanaan dan Semua keluarga yang berkontak dengan penderita harus diobati
Pemilihan termasuk pasangan seksnya. Beberapa macam obat yang dapat dipakai
Intervensi pada pengobatan skabies yaitu:

1. Permetrin.
Merupakan obat pilihan untuk saat ini, tingkat keamanannya
cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit.
Dapat digunakan di kepala dan leher, tidak dianjurkan pada
anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara
dioleskan pada seluruh tubuh (leher ke bawah) lebih kurang 10
jam kemudian dicuci bersih.

2. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %).


Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama
tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal
setelah dipakai.
3. Sulfur.
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman
dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat
digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari
selama 3 malam.

4. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan).


Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan
karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan
jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6
tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf
pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala
ulangi seminggu kemudian.

5. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio, merupakan obat


pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigatal.
Harus dijauhi dari mata, mulut dan uretra.

Pelaksanaan Non Medikamentosa :


- Tidak boleh menggaruk kulit.
- Jaga kebersihan pasien dengan mengganti pakaian dan sprei
pasien setiap hari.
- Menjemur kasur, bantal, dan guling secara rutin.
- Seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk penderita
yang hiposensitisasi).
Medikamentosa :
- Ceterizine 1x10 g tab PO
- Permethrin 5% krim (diamkan selama 12 jam, oleskan pada
seluruh tubuh)

Monitoring dan Pasien yang telah mendapatkan obat dari Puskesmas sebaiknya teratur
Evaluasi minum obat dan melakukan pemeriksaan ulang.
Komentar / saran pendamping :

Wonosobo, Januari 2019


Peserta Pendamping

dr. Rahma Damayanti dr. Dewanti Retnaningtyas