Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN STUDI KASUS

PROBLEM BASED LEARNING KLINIK 2


(Salah Satu Syarat Guna Memenuhi Tugas Matakuliah PBL Klinik 2 )

Oleh :
Nama Mahasiswa : Aida Putri Deyantari
NIM : 1901061034

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


FAKULTAS TEKNIK DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS BUMIGORA
2020
Kasus Genap

Tn. X usia 50 tahun TB170cm, BB 80 kg. Kegiatan sehari-hari supir bis antar Provinsi,
beberapa bulan terakhir mengeluh keluhan nyeri pada tungkai dan terlihat pembengkakan dan
mengalami inflamasi pada jari jempol kaki kiri. Sejak 2 tahun yang lalu, pasien selalu
mengeluh bengkak yang hilang timbul pada lutut dan jempol pada kaki kirinya, kebiasaan
makan Tn.X makan diluar yang pasti enak dan sangat suka soto jeroan. Dari pemeriksaan
fisik ditemukan pembengkakan, kemerahan dan inflamasi pada jempol kaki kiri. Berdasarkan
hasil pemeriksaan laboratorium : Ureum 34 mg/dl, kreatinin 1,0 mg/dl, asam urat 11,1 mg/dl.
Dari hasil recall diketahui

Energi : 2500 kkal

Preotein : 40 gr

Lemak : 50 gr

KH : 116.92 gr

Pertanyaan :

- Kaji kasus dengan NCP.


- Hitung kebutuhan energi dan zat gizi sehari.
- Rencanakan intervensi gizi, termasuk susunan menu sehari dan rencanakan konsultasi
gizi dan rencana monitoring.
LAPORAN KASUS PENYAKIT GOUT ARTRITIS
ANAMNESIS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. X No RM : -

Umur : 50 tahun Ruang : -

Sex : Laki- laki Tgl Masuk : 12 April 2020

Pekerjaan : Sopir bus antar provinsi Tgl Kasus : 12 April 2020

Pendidikan : - Alamat : -

Agama : ISLAM Diagnosis Medis : Gout

I. NUTRITION CARE PROCESS (NCP)


A. `ASSESMEN GIZI
1. Antropometri
BB : 80 kg
TB : 170 cm
 Perhitungan Berat Badan Ideal (BBI) menggunakan rumus Brocca
BBI = (TB-100) – 10 % (TB-100)
BBI = (170-100) – 10% ( 170-100)
= 70-7
BBI = 63 kg
Berat badan ideal Tn. X 63 Kg
(Sumber : Buku NCP 2014 halaman 19)

 Berat Badan Normal (BBN)


BBN= BB Ideal ± 10 % BBI
= 63 kg + 6,3 kg
= 69,3 kg
= 63 kg – 6,3 kg
= 56,7 kg
Berat badan normal Tn. X yaitu 56,7 kg – 69,3 kg
Keterangan
 Kurus = kurang dari BBI – 10%
 Gemuk = lebih dari BBI + 10 %
(Sumber : Perkeni 2015)

 Perhitungan Berat Badan Relative


BBA
BBR = × 100 %
TB−100
80
= × 100 %
170−100
80
= ×100 %
70
= 114,28 %
Keterangan :
 Undernutrition : < 80%
 Kurus (underweight) : < 90 %
 Normal : 90 – 100%
 Gemuk (overweight) : > 110 %
 Obesitas : > 120%

Berat badan relative Tn. X yaitu 114, 28 % dikatakan gemuk (overweight)


karena lebih dari 110 %, sedangan nilai normal BBR yaitu 90-100%.

(Sumber : Buku NCP, Adisty Cynthia Anggraeni, 2012 hal 24)

 Perhitungan IMT
BB(Kg)
IMT =
TB(m2 )
80 kg
=
1,70(m2)
80
=
2,89
= 27, 68 kg/m 2
Keterangan:
interpretasi nilai IMT pada orang dewasa untuk Indonesia kriteria asia pasifik
adalah sebagai berikut :
 IMT < 18,5 kg/m 2 : BB Kurang (underweight)
 IMT 18,5 kg/m 2−22,9 kg /m2 : Normal
 IMT >23 kg/m 2 : BB Lebih (overwight)
2 2
 IMT > 23 kg/m −24,9 kg /m : At risk (dengan resiko)
 IMT > 25 kg/m 2−29,9 kg /m2 : Obesitas I ( gemuk tingkat ringan)
2
 IMT > 30 kg/m : Obesitas II

IMT Tn. X yaitu 27,68 kg/m 2 dikatakan berat badan lebih (gemuk tingkat
ringan) obesitas karena IMT berada pada kisaran 25 kg/m2 – 29,9 kg/ m 2 .
( Sumber : Standar IMT untuk orang dewasa menurut WHO/IASO/ IAOF
dalam the pacific perpective : Redefining obesity and it,s treatment dalam
buku Penatalaksaan Diet pada Pasien, 2013).

Penilaian :
Berdasarkan hasil perhitungan Berat Badan Ideal (BBI) dapat disimpulkan berat
badan pasien tidak termaksud berat badan ideal, karena berat badan aktual pasien 80 kg,
sedangkan berat badan idealnya pasien 63 kg berarti pasien memiliki kelebihan berat
badan sebanyak 17 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan Berat Badan Normal ( BBN) dapat disimpulkan berat
badan pasien termaksud pada rentang berat badan 56,7 kg – 69,3 kg ini berarti berat
badan pasien lebih 10% hal ini pasien mengalami kegemukan sebesar 10,7 kg.
Berdasarkan hasil perhitungan Berat Badan Relative (BBR) dapat disimpulkan status
gizi pasien masuk dalam kategori Gemuk ( Overweight) lebih dari 110 % yakni 114, 28
%.
Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebesar 27,68 kg/ m 2dapat
disimpulkan status gizi pasien masuk dalam kategori berat badan lebih ( Obesitas 1)
gemuk tingkat 1 karena IMT pasien berada pada > 25 kg/m2 – 29,9 kg/m 2
2. Biokimia
Data Lab
Tabel 1. Pemeriksaan Biokimia Pasien berdasarkan nilai laboratorium

no Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal keterangan


1 Ureum 34 mg/dl 10 – 50 mg/dl Normal
2 Kreatinin 1,0 mg/dl < 1,5 mg/dl Normal
3 Asam urat 11,1 mg/dl 3,4 – 7 mg/dl Tinggi
( Sumber : Buku NCP tahun 2015 hal 67 – 69 dan Buku Saku Gizi 2017 )
Penilaian :
Berdasarkan hasil penilaian biokimia pasien Tn. X pada jenis pemeriksaan Ureum
dan Kreatinin berada pada kategori normal, pemeriksaan Asam Urat berada pada
kategori tinggi.

3. Fisik dan Klinis


Tabel 2. Pemeriksaan Fisik

No Indikator Hasil Normal Keterangan

1. KU Lemas dan Lemas dan nyeri


nyeri pada pada tungkai
tungkai terlihat
terlihat mengalami
mengalami pembengkakan
pembengkaka dan inflasi pada
n dan inflasi jempol kaki kiri.
pada jempol
kaki kiri.

Penilaian:
 Pemeriksaan Fisik :
Pasien Tn. X bekerja supir bis beberapa bulan yang lalu ia mengeluh nyeri pada
tungkai dan terlihat pembengkakan dan mengalami inflasi pada jempol kaki
kiri . sejak 2 tahun yang lalu bengkak yang hilang timbul pada lutut dan jempol
pada kaki kirinya , dari pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan dan inflasi
pada jempol kaki kiri

Pemeriksaan Secara Klinis :

Tabel 2. Pemeriksaan Klinis Pasien

no Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal keterangan


1 - - - -
Penilaian;
 Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis pasien tidak melakukan pemeriksaan
klinik atau didata pasien Tn. X tidak ada pemeriksaan secara klinis.

Dietary History
- Sosial ekonomi : Pasien bekerja sebagai sopir bus antar provinsi.
- Riwayat Gizi Dahulu : Pasien sering membeli makanan diluar yang
pasti enak , makanan kesukaan pasien soto jeroan. Berdasarkan hasil recall
diperoleh energi sebesar 2500 kkal, Protein 40 gr, lemak 50 gr, Karbohidrat
116, 92 gr.
- Riwayat Gizi Sekarang :setelah diberikan konsultasi oleh petugas gizi,
pasien mengetahui makanan yang tidak boleh dimakan oleh penyakit gout.
- Riwayat penyakit Dahulu : sejak 2 tahun yang lalu pasien selalu
mengalami bengkak yang hilang timbul pada lutut dan jempol kaki kirinya, ,
beberapa bulan yang lalu pasien mengeluh nyeri pada tungkai , terlihat
mengalami pembengkakan dan mengalami inflasi pada jari jempol kaki kiri
Riwayat Penyakit Sekarang : pasien diagnosa oleh dokter penyakit gout dari
pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan kemerahan dan inflasi pada
jempol kaki kiri.
- Penilaian berdasarkan hasil penilaian pasien Tn. X pasien seorang supir bus
antar provinsi.saat masuk rumah sakit pasien mengeluh nyeri pada tungkai,
terlihat pembengkan mengalami inflasi pada jempol kaki kiri, pasien selalu
mengeluh mengalami pembengkakan sejak 2 yahin yang lalu, diagnose
pasien Tn. X mengalami Gout, berdasarkan hasil recall 24 jam pasien
memiliki nafsu makan sebesar 2500 kkal, Protein 40 gr, lemak 50 gr,
Karbohidrat 116, 92 gr. Pasien sangat menyukai makanan diluar pasien
menyukai soto jeroan akibatnya pasien sering bengkak pada kaki disebut
penyakit asam urat.
- Audit Gizi
2500 kal
- E = ×100 %=142,1 %( lebih )
1758,1kal
40 gram
- P = ×100 %=72,87 % ( sedang )
52,72 gram
50 gram
- L = × 100 %=128 % ( lebih )
39,06
116,92 gram
- KH = × 100 %=39 ,12 % ( kurang)
298,87 gram
Tabel 4. Menu Pasien Penyakit Gout
Vit
Bahan Fosfo Vit. Cole Sera
Waktu Menu Berat Energi Protein LEMAK KH Ca Fe Vit. A . Na K AIR
Makanan r C s t
B1
makan
pagi nasi beras 50 180.0 3.4 0.4 39.5 3.0 70.0 0.4 0.0 0.1 0.0 2.5 50.0 0.0 1.0 6.5
  telur dadar telur 50 81.0 6.4 5.8 0.4 27.0 90.0 1.4 450.0 0.1 0.0 79.0 89.0 275.0 0.0 37.0
    margarine 5 36.0 0.0 4.1 0.0 1.0 0.8 0.0 100.0 0.0 0.0 49.4 1.2 0.0 0.0 0.8
  sup kare Wortel 40 16.8 0.5 0.1 3.7 15.6 14.8 0.3 4800.0 0.0 2.4 28.0 98.0 0.0 2.0 35.3
    kentang 40 33.2 0.8 0.0 7.6 4.4 22.4 0.3 0.0 0.0 6.8 2.8 158.4 0.0 1.0 31.1
    buncis 30 10.5 0.7 0.1 2.3 19.5 13.2 0.3 189.0 0.0 5.7 10.6 23.3 0.0 2.9 26.7
    santan 30 36.6 0.6 3.0 2.3 7.5 9.0 0.0 0.0 0.0 0.6 1.2 97.2 0.0 0.0 26.1
  susu susu skim 20 7.2 0.7 0.0 1.0 24.6 19.4 0.0 0.0 0.0 0.2 7.6 29.8 0.0 0.0 18.1
102. 181.
Sub Total
401.3 13.1 13.4 56.8 6 239.6 2.7 5539.0 0.2 15.7 0 546.9 275.0 6.9 181.5
Sanck lumpia
pagi basah Wortel 50 21.0 0.6 0.2 4.7 19.5 18.5 0.4 6000.0 0.0 3.0 35.0 122.5 0.0 2.5 44.1
    Bengkuang 20 11.0 0.3 0.0 2.6 3.0 3.6 0.1 0.0 0.0 4.0 0.0 0.0 0.0 0.4 17.0
  teh rosela the 3 0.8 0.1 0.0 0.1 1.2 2.4 0.1 0.0 0.0 1.5 0.0 0.0 0.0 0.0 2.7
    Jahe 5 2.6 0.1 0.1 0.5 1.1 2.0 0.1 1.5 0.0 0.2 0.0 0.0 0.0 0.0 4.3
    Gula pasir 10 36.4 0.0 0.0 9.4 0.5 0.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.1 0.0 0.0 0.5
Sub Total 71.7 1.1 0.3 17.2 25.3 26.6 0.7 6001.5 0.0 8.7 35.0 122.6 0.0 2.9 68.7
Makan
Siang nasi beras giling 50 180.0 3.4 0.4 39.5 3.0 70.0 0.4 0.0 0.1 0.0 2.5 50.0 0.0 1.0 6.5
steak ikan
  goreng ikan nila 50 43.0 8.0 1.0 0.0 10.0 75.0 1.0 75.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 40.0
    Madu 10 29.4 0.0 0.0 8.0 0.5 1.6 0.1 0.0 0.0 0.4 6.0 21.0 0.0 0.0 2.0
200.
    kecap 5 2.3 0.3 0.1 0.5 6.2 4.8 0.3 0.0 0.0 0.0 0 25.0 0.0 0.0 3.2
    Margarine 10 72.0 0.1 8.1 0.0 2.0 1.6 0.0 200.0 0.0 0.0 98.7 2.3 0.0 0.0 1.6
sop oyong
  misoa oyong 100 18.0 0.8 0.2 4.1 19.0 33.0 0.9 380.0 0.0 8.0 44.3 141.4 0.0 3.0 94.5
    Misoa 30 103.5 2.6 0.7 23.4 6.6 36.0 2.6 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.2 3.2
    tahu 50 34.0 3.9 2.3 0.8 62.0 31.5 0.4 0.0 0.0 0.0 6.0 75.5 0.0 0.3 42.4
    Seledri 2.5 0.5 0.0 0.0 0.1 1.3 1.0 0.0 3.3 0.0 0.3 2.4 8.2 0.0 0.1 2.3
110. 359.
Sub Total
482.7 19.1 12.7 76.3 5 254.5 5.7 658.3 0.1 8.7 9 323.4 0.0 4.5 195.6
pisang
kukus
Snack tabur pisang
Siang kelapa kepok 85 57.8 1.1 0.2 14.6 8.5 22.1 0.5 64.6 0.1 5.1 0.0 0.0 0.0 0.0 68.3
    Kelapa 20 13.6 0.2 0.2 2.8 1.4 6.0 2.0 0.0 0.0 0.8 0.0 0.0 0.0 0.0 16.7
muda
daging
jus
  belimbing Belimbing 100 36.0 0.4 0.4 8.8 4.0 12.0 1.1 170.0 0.0 35.0 4.0 130.0 0.0 9.0 90.0
    Gula pasir 20 72.8 0.0 0.0 18.8 1.0 0.2 0.0 0.0 0.0 0.0 0.1 0.1 0.0 0.0 1.1
Sub Total 180.2 1.7 0.8 45.0 14.9 40.3 3.6 234.6 0.1 40.9 4.1 130.1 0.0 9.0 176.0
Makan nasi Beras merah
Malam merah tumbuk 50 179.5 3.8 0.5 38.8 58.0 81.5 0.2 0.0 0.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 6.5
pepes
tahu
  kemangi tahu 50 34.0 3.9 2.3 0.8 62.0 31.5 0.4 0.0 0.0 0.0 6.0 75.5 0.0 0.3 42.4
    santan 5 6.1 0.1 0.5 0.4 1.3 1.5 0.0 0.0 0.0 0.1 0.2 16.2 0.0 0.0 4.4
terong
ungu
  bakar Terong 60 14.4 0.7 0.1 3.3 0.9 22.2 0.2 18.0 0.0 3.0 5.7 233.1 0.0 0.0 55.6
  sop jagung jagung 50 153.5 4.0 1.7 31.8 4.5 74.0 1.1 220.0 0.2 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 12.0
    Wortel 30 12.6 0.4 0.1 2.8 11.7 11.1 0.2 3600.0 0.0 1.8 21.0 73.5 0.0 1.5 26.5
    buncis 20 7.0 0.5 0.0 1.5 13.0 8.8 0.2 126.0 0.0 3.8 7.0 15.5 0.0 1.9 17.8
    Telur ayam 50 81.0 6.4 5.8 0.4 27.0 90.0 1.4 450.0 0.1 0.0 79.0 89.0 275.0 0.0 37.0
  jeruk Jeruk manis 180 81.0 1.6 0.4 20.2 59.4 41.4 0.7 342.0 0.1 34.2 3.6 291.6 0.0 0.5 157.0
    Gula pasir 15 54.6 0.0 0.0 14.1 0.8 0.2 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.1 0.0 0.0 0.8
238. 122.
Sub Total
623.7 21.2 11.3 114.0 5 362.2 4.4 4756.0 0.6 42.9 6 794.5 275.0 4.1 359.9
491. 17. 17189. 116. 702. 1917.
Total
1759.6 56.2 38.4 309.3 8 923.1 1 4 1.1 9 6 4 550.0 27.3 981.7
B. DIAGNOSIS GIZI
1. Domain asupan

Problem Etiologi Tanda

NI. 1. 1.4 Berkaitan dengan faktor Ditandai dengan audit


Kelebihan Intake fisiologis yang energi sebesar 142, 1%
Energi menghasilkan penurunan
kebutuhan energi

N.1.5.1.2 Berkaitan dengan sikap Ditandai dengan audit


Kelebihan Intake yang salah terhadap lemak lemak sebesar 128%
Lemak peningkatan asupan sumber
lemak

N. I 52.3 Berkaitan dengan konsumsi Ditandai dengan adanya


Ketidaksesuaian pasien makanan tinggi purin asam urat berada pada
intake asam amino kategori tinggi atau
meningkat

N. I 53.1 Berkaitan dengan asupan Ditandai dengan nilai


Kekurangan Intake karbohidrat yang kurang audit gizi karbohidrat
karbohidrat dari kebutuhan 39, 12 %

Diagnosa Gizi:

2. Domain Klinik

Problem Etiologi Tanda

NC. 2.2 Berkaitan dengan Ditandai dengan nilai


laboratoriumm urat 11,1 mg/dl.
Perubahan nilai gangguan fungsi
laboratorium terkait endoktrin
zat gizi

N. C 3.3 Berkaitan dengan Ditandai dengan IMT 27,68 kg/


Berat badan penumpukan lemak m 2 obesitas I tingkat ringan

berlebih tubuh karena kelainan


metabolism lemak dan
kelebihan nutrisi
melebihi batas
kebutuhan normal

Diagnosa Gizi:
2

3. Domain Perilaku

Problem Etiologi Tanda

NB. 1.1 Berkaitan dengan Ditandai dengan dengan


keyakinan/perhatian yang Tn. X sangat suka
Kurang pengetahuan
salah mengenai makanan, makan soto jeroan di
berhubungan dengan zat gizi dan masalah- luar.
masalah lain berhubungan
makanan atau zat gizi
dengan makanan/zat gizi
Diagnosa Gizi:

Kesimpulan
Dari hasil diagnosa gizi dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami penyakit
dengan diagnosa gout ( asam urat), dengan kondisi obesitas I tingat ringan dengan
27,68 kg/m 2 . Terjadi meningkat kadar asam urat akibat makan soto jeroan. Oleh karena
itu klien sangat disarankan untuk merubah perilaku dengan memperhatikan jenis diet
yang diberikan oleh ahli gizi. dengan memperhatikan asupan baik dari segi kualitas
maupun kuantitas bahan makanan sebelum dikonsumsi serta dianjurkan pula untuk
menjalani terapi farmakologis.

C. INTERVENSI GIZI
1. Planning
a. Terapi Diet, Bentuk Makanan dan Cara Pemberian
Terapi Diet : Diet Rendah Purin II (1700 kal) sisa basa rendah
Bentuk Makanan : makanan biasa
Cara pemberian : pemberikan melalui oral
Frekuensi : 3x menu utama dan 2x selingan

Prisip diet :

1. Energi cukup
2. Protein cukup ( kurangi asupan protein hewani)
3. Lemak rendah
4. Karbohidrat cukup
5. Purin rendah
6. Vitamin dan mineral cukup
7. Serat cukup
8. Cairan cukup
9. Utamakan makanan sisa basa tinggi ( susu: susu, susu asam,dan krim ),
lemak : minyak kelapa, santan, semua jenis sayuran kecuali bayam dan
bit, semua jenis buah

b. Tujuan Diet
Jangka pendek
1. Menurunkan kadar asam urat dalam plasma darah
2. Meningkatkan keseimbangan cairan elektrolit
3. Menurunkan berat badan hingga ideal secara bertahap agar mencapai
IMT normal, menurunkan berat badan bila penderita gemuk.
4. Mempertahankan status gizi dalam batas yang normal
5. Memperbaiki nilai lab terkait gizi
6. Membatasi asupan tinggi asam urat
Jangka panjang :
1. Mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut
2. Mengenalkan jenis makanan, teknik olahan dan masakan yang beragam
3. Memperbaiki pola makan yang sehat dengan perubahan prilaku makanan
yang berangsur
4. Meningkatkan aktivitas fisik seperti rajin berolaraga

c. Syarat/prinsip Diet
1. Energi cukup sesuai kebutuhan menggunakan rumus miflin. Bila berat
badan berlebih atau kegemukan, asupan energy sehari dikurangi 500 –
1000 kkal dari kebutuhan normal hingga mencapai berat badan normal.
Maka energy diperoleh pasien sebesar 1758,1 kkal
Contoh bahan makanan : Beras tumbuk/ beras merah, roti tinggi serat,
pasta, makroni, ubi, kentang.
2. Protein diberikan cukup 15 % dari kebutuhan energi total yaitu 52,74
gram. Hindari bahan makanan sumber protein yang mempunyai
kandungan purin > 150 mg/100g
Contoh bahan makanan : protein hewani antara lain Ikan, Unggas tanpa
kulit, putih telur, susu skim,dan protein nabati yaitu Tempe, tahu, kacang
kacangan
3. Lemak diberikan rendah, yaitu 10% - 20% dari kebutuhan energy,
menggunakan 15% dari kebutuhan energi total maka diperoleh kebutuhan
protein sebesar 39,06 gram untuk pelarut vitamin larut lemak dan
mengontrol kolesterol dalam darah. Melancarkan pengeluaran asam urat
melalui purin
Contoh bahan makanan : Minyak jagung, kedelai, kacang tanah, bunga
matahari, wijen.
4. Karbohidrat diberikan cukup, yaitu sisa dari kalori protein dan kalori
lemak dari kebutuhan energi atau sekitar 65% - 75 % dari kebutuhan
energi total, maka kebutuhan karbohidratsebesar 237,71 gram sebagai
sumber energi untuk beraktivitas. Karena kebanyakan pasien gout artritis
mempunyai berat badan lebih, maka dianjurkan untuk menggunakan
sumber karbohidrat kompleks.
Contoh bahan makanan : Beras tumbuk/ beras merah, roti tinggi serat,
pasta, makroni, ubi, kentang.
5. Vitamin dan mineral diberikan cukup untuk menunjang proses
metabolisme tubuh. Hindari suplemen kalium, kalsium dan magnesium
jika tidak diperlukan.
6. Cairan disesuaikam dengan urin yang dikeluarkan setiap hari. Rata – rata
asupan cairan dianjurkan 2- 2 ½ liter per hari
7. Hindari makanan pedas dan berbumbu tajam
8. Rendah purin karena pasien mengalami penyakit gout arthritis, batasi
makanan yang mengandung purin tinggi.
9. Memberikan makanan dengan sumber albumin tinggi seperti putih telur
dan ikan gabus.

d. Perhitungan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi

No Kebutuhan Rumus Perhitungan Hasil


1 BBA/BBI Brocca = (170-100) – 10%
BBI = (TB-100) – 10 % ( 100- 70) 63 kg
(TB-100) = 70-7

2 Energi Miflin BMR= (10 x 63) + 1758,1 kkal


Keterangan jika (6, 25 x 170) – (5 x
obesitas 50 = 1447,5 kkal
menggunakan BBI Energi = 1447,5 x
Ket : TB = 170 1,2x 1,3 = 2258,1
Usia = 50 tahun kkal
BMR= (10 x BBI) + Energi total =
(6, 25 x TB) – (5 x 2258,1 kkal – 500
Usia) + 5 kkal
Energi = BMR x FA x
FS
Keterangan
pengurangan 500-
1000 kkal jika berat
badan berlebih
Energi total= energi –
500 kkal
Sumber : Buku
Penuntun Diet
3 Protein 12 % x energi total/ 4 12% x 1758, 1 kkal 52,74 gram
gram = 210, 972 kkal/4
gram

4 Lemak 20 % x energy total/ 9 20 % x 1758, 1 39, 06 gram


kkal/ 9 gram
gram
=351,62 kkal/ 9
gram

(NCP, adisty Cynthia,


2012)

5 Karbohidrat (total energi) - =( 1758,1 kkal) – 298, 87 gram


( kalori lemak + kalori
( 351,62 + 210,
protein)/ 4 gram
972 kkal ) /4
= 1195, 51 kkal/ 4
(NCP, adisty Cynthia, gram
2012)

6 Zat gizi Vitamin dan mineral


yang lain Sesuai AKG 2019

Keterangan BB aktual
× serat
berat laki- BB AKG 80 kg 40 g
x 30 g
laki usia 50- 60 kg
64 tahun berat
akg 60 kg,
berat badan
aktual pasien
80 kg

serat

Vitamin C
BB aktual 80 kg 120 mg
× Vitamin x 90 mg
BB AKG 60 kg
C

Air 80 kg 3333,33 ml
x 2500 ml
BB aktual 60 kg
× Air
BB AKG

Vitamin A BB aktual 80 kg 866, 67 RE


× Vitamin x 650 RE
BB AKG 60 kg
A

Vitamin B1 BB aktual 80 kg 1,6 mg


× Vitamin x 1,2 mg
BB AKG 60 kg
B1

Angka BB aktual 80 kg 12 mg
kecukupan × zat besi x 9 mg
BB AKG 60 kg
mineral :
zat besi
Kalsium BB aktual 80 kg 1600 mg
× kalsium x 1200 mg
BB AKG 60 kg

Natrium BB aktual 65 kg 1733.33 mg


× Natrium x 1300 mg
BB AKG 53 kg

e. Rencana Parameter yang Dimonitor


 Antropometri :
BB turun atau ideal dan status gizi normal

 Biokimia :
- Asam Urat Menurun

 Fisik dan Klinik :


Bengkak berkurang pada Implasi jempol di kaki kiri pasien
 Dietary :
Asupan makan mencapai 100% dari kebutuhan

f. Rencana Konsultasi Gizi


Masalah Gizi :
Pasien diberikan makan 3 kali/hari dan 2 kali selingan atau snack. Pasien Tn.
X sangat menyukai makanan diluar yang pasti enak dan sangat suka soto jeroan
Tujuan
Jangka pendek :
 Menurunkan kadar asam urat dalam plasma darah
 Meningkatkan keseimbangan cairan elektrolit
 Menurunkan berat badan hingga ideal secara bertahap agar mencapai
IMT normal, menurunkan berat badan bila penderita gemuk.
 Mempertahankan status gizi dalam batas yang normal
 Memperbaiki nilai lab terkait gizi
 Membatasi asupan tinggi asam urat
Jangka panjang :
 Mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut
 Mengenalkan jenis makanan, teknik olahan dan masakan yang
beragam
 Memperbaiki pola makan yang sehat dengan perubahan prilaku
makanan yang berangsur
 Meningkatkan aktivitas fisik seperti rajin berolaraga

Edukasi Gizi
 Topik : Gizi Seimbang diet yang tepat untuk penyakit Asam Urat
 Sasaran : pasien Tn. X dan Keluarga
 Waktu : ± 30 menit
 Peraga : Leaflet/Foodmodel/ Flipchart
 Edukasi : Ceramah, diskusi dan tanya jawab
 Materi :Prinsip gizi seimbang dan diet untuk Penyakit Asam Urat
Makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan tuntuk penderita asam
urat.

Konseling Gizi :
a. Memberikan penjelasan dan edukasi tentang gizi kepada keluarga , tidak
hanya istri tetapi juga dengan anggota keluarga yang lain seperti anak dan
kerabat terdekat.
b. Memberikan penjelasan tentang pentingnya gizi seimbang dan diet untuk
Penyakit Asam Urat . Makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan
untuk asam urat. Resiko penyakit Asam Urat.
c. Utamakan makanan yang menghasilkan sisa basa tinggi contoh bahan
Susu : susu, susu asam dan krim
 Lemak : minyak kelapa, kelapa santan
 Sayuran: semua jenis sayuran terutama bayam dan bit
 Buah : semua jenis buah
d. Batasi makanan yang menghasilkan Sisa asam tinggi bahan makanan
yang mengadung sisa asam tinggi sumber karbohidrat (Nasi, roti dan hasil
terigu lainnya, makaroni, spageti, cereal, mi, cake dan kue kering), lemak
hewan.
e. Bahan makanan bersifat netral untuk penderita asam urat seperti sumber
karbohidrat (Jagung, tapioka, gula, sirup dan madu ), sumber lemak
( minyak goreng, minyak kelapa, mentega dan margarine), dan minuman
bersifat netral pada teh dan kopi
f. Kurangi makanan yang mengandung tinggi purin
Pengelompokan bahan makanan menurut kadar purin dan anjuran makan
Kelompok 1 : kandungan purin tinggi ( 100 – 1000 mg purin/ 100 g bahan
makanan sebaiknya dihindari : otak, hati, jeroan, ekstrak daging/kaldu,
bouilum, bebek, ikan sarden, makarel, remis, kerang
Kelompok 2 : kandungan purin sedang ( 9-100 mg purin/ 100 g bahan
makanan) dibatasi: maksimal 50-75 g ( 1- 1 ½ ptg) daging, ikan, atau
unggas, atau 1 mangkok ( 100 g) sayuran sehari.Daging sapi dan ikan
(kecuali yang terdapat pada kelompok 1) Ayam, udang, kacan kering, dan
hasil olahan seperti tahu, tempe, asparagus, bayam, singkong, kangkung,
daun dan biji melinjo.
Kelompok 3 : kandungan purin rendah ( dapat diabaikan), dapat dimakan
setiap hari seperti nasi, ubi, singkong, jagung, roti, mi, bihun, tepung
beras, cake kue kering, puding, susu, keju, telur, lemak dan minyak, gula,
sayuran dan buah- buahan ( kecuali sayuran dalam kelompok 2)

sebaiknya membuat sendiri jajanan untuk pasien agar dapat terhindar dari
kotoran dan terjaga kebersihannya.
2. Implementasi
a. Kajian Terapi Diet Rumah Sakit
 Jenis Diet/Bentuk Makanan/Cara Pemberian
Jenis diet yang diberikan diet purin rendah II 1700 kalori
Bentuk makanan yang diberikan biasa
Cara pemberian makanan 3 kali sehari dan 2 kali selingan
 Nilai Gizi: Hasil recall 24 jam terakhir asupan dengan pasien

Energi Protein Lemak KH Ket


(Kkal) (gram) (gram) (gram)
Asupan Makan 2500 40 50 116, 92
Kebutuhan Pasien 1758,1 52,72 39, 06 298, 87
% Standar/Kebutuhan 142, 1 75,87 128 39,12

Keterangan :
Defisit Berat : < 70%
Defisit Sedang : 70-79%
Defisit Ringan : 80-89%
Normal : 90-119%
Diatas kebutuhan : >120%
(Sumber : Standar % tingkat asupan menurut Depkes RI dalam NCP (Nutrition Care Process)
hal. 93).
Penilaian berdasarkan nilai gizi recall 24 jam asupan makan dan kebutuhan pasien kategori pada
kategori defisit berat kurang dari 70 % yaitu karbohidrat sebesar 39, 12%, protein berada pada
kategori defisit ringan sebesar 75, 87 % dan energy 142, 1% , lemak 128 % berada pada kategori
diatas kebutuhan kisaran lebih dari 120%.

b. Rekomendasi Diet:
 Standar Diet : makanan biasa
 Pemesanan Diet : Rendah purin II Sisa Basah

MONITORING / EVALUATION
1. Memonitor asupan makanan klien apakah sudah sesuai dengan diet yang
diberikan atau tidak.
2. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium pasien apakah sudah berangsur
normal atau belum.
3. Memonitor penurunan berat badan klien sebayak 0,5-1 kg/minggu apakah
sudah berjalan dengan baik atau tidak
4. Memonitor aktivitas fisik pasien seperti membiasakan berolahraga, dll

Tanggal/Bulan 12 April 2020


Antropometri 80 kg

Fisik Lemas, terjadi pembengkakan,


kemerahan, Inflasi pada jempol
kaki kiri
Klinik Data Lab
Ureum 34 mg/dl ( normal)
Kreatinin 1,0 ( normal)
Asam Urat 11,1 mg/dl ( Tinggi)
Data Lab pemeriksaan Hb berada pada
kategori tinggi, sedangakan hasil
pemeriksaan Kolesterol total dan
LDL berada pada kategori tinggi
Obat - -

Asupan Makanan 3 kali sehari dengan 2 kali


selingan
Rekomendasi Diet Memberikan makan rendah
purin, sisa basah tinggi

II. PEMBAHASAN
Asam urat terjadi gangguan metabolism purin yaitu suatu zat yang berasal dari
asam- asam amino pembentuk protein. Asam urat merupakan hasil akhir dari
metabolism purin. Semakin tinggi asam urat dalam darah, makin besar
kemungkinan terbentuk asam urat.
Gangguan atau penyakit yang ditimbulkan tergantung dari tempat Kristal urat
berada, antara lain penyakit pirai ( radang sendi dan gout), batu saluran kemih,
gangguan fungsi ginjal hingga penyakit kronik (PGK) saluran kemih, gangguan
pembuluh darah dan jantung.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kenaikan asam urat darah antara lain :
kegemukan, tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia dan konsumsi alcohol.
Makanan. Makanan mempunyai peran pada produksi atau mengeluarkan asam
urat. Namun makanan merupakan faktor relative mudah dikendahlikan
dibandingkan dengan faktor lain seperti kelainan metabolism bawaan atay
kerusakan sel- sel tubuh berlebihan akibat proses degenerative. Oleh karena itu
makanan berperan penting pada keadaan makanan asam urat yang meningkat.
Tujuan diet mengurangi/ menghindari makanan yang tinggi purin,
menurunkan berat badan jika gemuk, menjaga keseimbangan cairan elektrolit,
dianjurkan minum air sedikit 3 liter jika terjadi gangguan komplikasi seperti PGK,
memperbaiki dan mempertahankan gizi optimal dan mempercepat penyembuhan.
Bahan makanan yang dianjurkan beras, ubi,singkong, roti gandum, havermout,
tepung terigu, tepung singkong, daging sapi, ayam, ikan ,telur,susu dalam jumlah
yang telah ditentukan, semua jenis sayuran, kecuali sayuran yang mengandung
tinggi purin, semua jenis buah kecuali buah yang meningkat asam urat. Bahan
makanan yang dibataskan sumber protein nabati ( kacang, tahu, tempe, oncom,
kacang polong), sumber protein hewani tinggi purin ( cumi, udang ,lobster, remis
kerang),jeroan (usus, babat, hati, lidah, limpa, ginjal, jantung, paru), makanan
yang diawetkan ( sardine, ham, sosis dan lain-lain), sayuran yang mengandung
banyak purin ( jamur, asparagus, kembang kol, brokoli, melinjo, buncis, kangking,
dan bayam) tape , bream, arak tual, wine minuman beralkohol.
Penderita Diet purin II diberikan makanan bentuk biasa. Diet yang diberikan sebagai
Diet Rendah purin II 1700 Kkal.

III. PENUTUP
a. Kesimpulan
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pasien memiliki gizi lebih berada pada kategori
obesitas tingkat I asupan hasil recall konsumsi makanan 24 jam terakhir saat wawancara
makan di energi yang di peroleh 2500 kkal, protein 40 gram, lemak 50 gram dan
Karbohidrat 116, 92 gram. Dan kebutuhan pasien saat di hitung di peroleh energi sebesar
1758,1 kkal, protein 52, 74 gram, lemak 39,06 gram, karbohidrat 298,87 gram. Berdasarkan
hasil dari perhitungan audit gizi di peroleh energi sebesar 142,1 %, protein 75, 87% , lemak
128 % dan Karbohidrat 39,12 %. berdasarkan nilai gizi recall 24 jam asupan makan dan
kebutuhan pasien kategori pada kategori defisit berat kurang dari 70 % yaitu karbohidrat
sebesar 39, 12%, protein berada pada kategori defisit ringan sebesar 75, 87 % dan energy
142, 1% , lemak 128 % berada pada kategori diatas kebutuhan kisaran lebih dari 120%. Diet
yang diberikan yaitu rendah purin II 1700 kkal basa tnggi, karena pasien mengalami Gout
Artritis bentuk makanan pasien diberikan makanan biasa, makanan yang diberikan 3 kali
sehari makanan utama dan 2 kali selingan atau snack. Tujuan diet mempertahankan status
gizi serta menurunkan kadar asam urat dalam darah dan urin . Keluarga pasien sudah
memahami tentang cara pemberian makan pada pasien penyakit pasien setelah
diberikan konsultasi.

b. Saran
Semoga anggota keluarga pasien dapat terus mendukung betapa pentingnya dalam
pemberian makan untuk pasien penyakit asam urat. Perlu disosialisasikan pedoman
gizi seimbang pada masyarakat, mengingat pola asupan gizi pada masyarakat yang
cenderung mengandung lemak yang tinggi. Khusus pada penderita Asam urat agar
mereka bisa mengatur kembali pola kebiasaan makan dengan mengurangi makanan
tinggi purin seperti jeroan, sayur bayam

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, sunita. 2008. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Anggraeni. Adisty Cynthia. 2012. Nutritional Care Proces. Yogyakarta : Graha Ilmu
Asosiasi Dietisien Indonesia DPC Jabar. 2012. Terminologi dan Matriks dalam Proses
Asuhan Gizi Terstandar. Bandung : Instalasi Gizi RSUP dr. Hasan Sadikin
Kementerian Kesehatan RI. 2017. Pedoman Proses Asuhan Gizi di Puskesmas. Jakarta

Sumapradja, MG dkk. 2011. Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Jakarta : Abadi
Publishing & Printing.

Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Semarang.

Anda mungkin juga menyukai