Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan,
kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan
proses pendidikan.
Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun
sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari
bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di
rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana saja.
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka
belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak
terjadinya proses belajar.
Maka dari itu kita akan membahas mengenai pengertian belajar, pembelajaran,
prinsip belajar, tujuan belajar, hasil belajar, tipe kegiatan belajar. Sehingga kita akan
menjadi lebih mengetahui dan memahami teori belajar lebih dalam.

Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Belajar dan Pembelajaran?


2. Bagaimana Prinsip Belajar?
3. Apa Tujuan dari Belajar?
4. Apa Hasil dari Belajar?
5. Bagaimana Tipe Kegiatan Belajar?

Tujuan

1. Mengetahui Pengertian Belajar dan Pembelajaran


2. Memahami Prinsip Belajar
3. Memahami Tujuan dari Belajar
4. Mengetahui Hasil dari Belajar
5. Memahami Tipe Kegiatan Belajar

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Belajar dan Pembelajaran


Menurut Vernon S. Gerlach & Donal P. Ely dalam bukunya teaching & Media-A
systematic Approach (1971) dalam Arsyad (2011: 3) mengemukakan bahwa “belajar
adalah perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati.
Dengan kata lain perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang
diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati”.
Sedangkan Menurut Gagne dalam Whandi (2007) belajar di definisikan sebagai
“suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman”.
Slameto (2003: 5) menyatakan belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”.
Lebih lanjut Abdillah (2002) dalam Aunurrahman (2010 :35) menyimpulkan
bahwa “belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan
tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu”.
Dengan demikian dapat disimpulkan Belajar adalah perubahan tingkah laku pada
individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan
ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian,
harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai
rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.
Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar, di mana
pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah siswa yang berorientasi pada
kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi pada pengembangan pengetahuan, sikap,
dan keterampilan siswa sebagai sasaran pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan
mencakup berbagai komponen lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas
pembelajaran.

B. Prinsip-Prinsip Belajar
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang
satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip
belajar tersebut beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai
dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya
belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu
berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan
langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan atau penguatan, serta
perbedaan individual. (Dimyati dan Mudjiono, 2002:42)

2
1. Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Perhatian
terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang
dibutuhkan, diperlukan utntuk belajar lebih lanjut, akan membangkitkan motivasi
untuk mempelajarinya.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah
tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi
mempunyai kaitan erat dengan minat.
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dan dapat
juga bersifat eksternal, artinya datang dari orang lain, guru, orang tua, teman, dan
sebagainya.
Motivasi dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik
adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Motif
ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya
tetapi menjadi penyertanya.
2. Keaktifan
Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan
kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami
sendiri.
Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif,
jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa
mengadakan transformasi.
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Mulai dari
kegiatan fisik yang berupa membaca, menulis, mendengarkan, berlatih ketermapilan
hingga kegiatan psikis seperti memecahkan masalah, menyimpulkan hasil percobaan,
membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain, dan sebagainya.

3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengalami
secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan
bertanggung jawab terhadap hasilnya.
Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh Jhon Dewey
dengan “learning by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan
langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual amupun
kelompok dengan cara memecahkan masalah. Guru bertindak sebagai fasilitator dan
pembimbing.
4. Pengulangan
Menurut Teori Psikologi Daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada
manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal,
merasakan, berpikir, dan sebagainya.
Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah Teori Psikologi Asosiasi
atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thorndike. Ia mengemukakan
bahwa belajar adalah pembentukkan antara stimulus dan respon, dan pengulangan
terhadap pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respon benar.

3
Teori Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan dari teori
Koneksionisme menyatakan perilaku individu dapat dikondisikan, dan belajar
merupakan upaya mengkondisikan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu.
5. Tantangan
Teori Medan dati Kurt Lewin mengemukakan bahawa siswa dalam situasi belajar
barada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa
menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu
mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu, yaitu
dengan mempelajaribahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan
itu, yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut.
6. Balikan dan Penguatan
Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil
yang baik. Hasil yang baik akan merupakan balikan yang menyenangkan dan
berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya.
Siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam
ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang
baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya anak
yang mendapatkan nilai jelek dan takut tidak naik kelas juga bisa mendorong siswa
belajar lebih giat lagi. Ini disebut penguatan negatif atau escape conditioning.

7. Perbedaan Individual
Perbedaan individual berpengaruh terhadap cara dan hasil belajar siswa.
Karenanya, perbedaan individual perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya
pembelajaran.
Sistem pendidikan klasikal yang dilakuan di sekolah kita umumnya kurang
memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran
di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata,
kebisaaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Pengajaran klasikal artinya seorang guru di dalam kelas menghadapi sejumlah
besar siswa (30-40 orang) dalam waktu yang sama menyampaikan bahan pelajaran
yang sama pula. Bahkan metodenya pun satu metode yang sama untuk seluruh anak
tersebut. (Suryosubroto, 2002:83)
Namun pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan
individual ini dapat diperbaiki.

C. Tujuan Belajar
Tujuan Belajar berlangsung karena adanya tujuan yang akan dicapai
seseorang. Tujuan inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan
belajar, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Sardiman (2011: 26-28)
bahwa tujuan belajar pada umumnya ada tiga macam, yaitu :
a) Untuk mendapatkan pengetahuan hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir,
karena antara kemampuan berpikir dan pemilihan pengetahuan tidak dapat
dipisahkan. Kemampuan berpikir tidak dapat dikembangkan tanpa adanya
pengetahuan dan sebaliknya kemampuan berpikir akan memperkaya
pengetahuan.

4
b) Penanaman konsep dan keterampilan Penanaman konsep memerlukan
keterampilan, baik keterampilan jasmani maupun keterampilan rohani.
Keterampilan jasmani adalah keterampilan yang dapat diamati sehingga akan
menitikberatkan pada keterampilan penampilan atau gerak dari seseorang yang
sedang belajar termasuk dalam hal ini adalah masalah teknik
atau’pengulangan. Sedangkan keterampilan rohani lebih rumit, karena lebih
abstrak, menyangkut persoalan penghayatan, keterampilan berpikir serta
kreativitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu konsep.
c) Pembentukan sikap Pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik tidak
akan terlepas dari soal penanaman nilai-nilai, dengan dilandasi nilai, anak
didik akan dapat menumbuhkan kesadaran dan kemampuan untuk
mempraktikan segala sesuatu yang sudah dipelajarinya. Taxonomy Bloom dan
Simpson (Nana Syaodih, 2007: 180 – 182) menyusun suatu tujuan belajar
yang harus dicapai oleh seseorang yang belajar, sehingga terjadi perubahan
dalam dirinya. Perubahan terjadi pada tiga ranah, yaitu:

a. Ranah Kognitif, tentang hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan


kemahiran intelektual. Terdiri dari: 1) pengetahuan; 2) pemahaman; 3)
penerapan; 4) analisa; 5) sintesa dan 6) evaluasi.
b. Ranah Afektif, tentang hasil belajar yang berhubungan dengan perasaan
sikap, minat, dan nilai. Terdiri dari : 1) penerimaan; 2) partisipasi; 3)
penilaian; 4) organisasi; dan 5) pembentukan pola hidup.
c. Ranah Psikomotorik, tentang kemampuan fisik seperti ketrampilan
motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi syaraf. Terdiri dari:
1) persepsi; 2) kesiapan; 3) gerakan terbimbing; 4) gerakan yang terbiasa;
5) gerakan yang komplek; dan 6) kreativitas.
Dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan tujuan pembelajaran
adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh
siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Tujuan pembelajaran
dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai
yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran tertentu.

D. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan umpan balik dari kegiatan proses belajar mengajar.
Sehubungan dengan hal tersebut maka Prayitno (1973:33) mengatakan bahwa hasil
belajar adalah suatu yang diperoleh, dikuasai atau merupakan hasil dari adanya proses
belajar. Jadi hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa dan mengikuti
program belajar dalam rangaka menyelesaikan suatu program pendidikan. Hasil
belajar yang diperoleh siswa bukanlah hanya berdasarkan kemampuan intelektual
siswa semata, melainkan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
tersebut. Rober yang dikutip oleh Syahril (1987:29) menyatakan ada lima macam
kemampuan sebagai hasil belajar adalah:
- Keterampilan intelektual
- Strategi kognitif berupa kemampuan mengatur cara belajar dan berfikir dalam arti
yang luas termasuk dalam memecahkan masalah
- Informasi fertikal berupa pengetahuan dalam arti fakta dan sebagainya

5
- Keterampilan metodik
- Sikap dan nilai
Hasil belajar siswa dapat dinyatakan secara kualitatif dan dapat pula
dinyatakan secara kuatitatif. Secara kualitatif hasil belajar dapat diungkapkan dengan
pernyataan sangat baik, baik, sedang, kurang dan sebagainya. Sedangkan secara
kuantitatif hasil belajar dapat di nyatakan dengan angka-angka. Untuk mencapai hasil
belajar yang baik dan memuaskan memang sangat banyak faktor yang
mempengaruhinya, di antaranya adalah dari faktor guru dan diri siswa itu sendiri.
Dalam hal ini guru berkewajiban menciptakan kegiatan belajar mengajar yang mampu
menunjang dan mendorong siswa untuk mengembangkan segala potensi yang ada
secara optimal, sehingga keberhasilan itu dapat diperoleh siswa.
Hasil belajar merupakan umpan balik dari kegiatan proses belajar mengajar,
hasil belajar adalah beberapa bentuk prinsip perpaduan pola tingkah laku dan nilai-
nilai ideal dalam arti fakta-fakta, kecakapan yang dicapai dan keterampilan.

Keberhasilan suatu kegiatan belajar dapat dilihat dari hasil belajar setelah
mengikuti usaha belajar. Hasil belajar merupakan dasar yang digunakan untuk
menentukan tingkat keberhasilan siswa menguasai suatu materi pelajaran. Manusia
melakukan kegiatan belajar dengan berbagai macam cara sesuai dengan keadaan. Bila
seseorang telah melakukan kegaiatan belajar maka dalam dirinya akan terjadi
perubahan-perubahan yang merupakan pernyataan perbuatan belajar, perubahan ini
disebut dengan hasil belajar. Perubahan-perubahan yang terjadi pada proses belajar
meliputi perubahan kognitif (pengetahuan), afektif (rasa), dan psikomotor (tingkah
laku). Hasil belajar sesuai dengan tujuan dan bidang tertentu dapat diukur atau
diketahui dengan mengadakan penelitian atau evaluasi yang meunjukan sudah sejauh
mana suatu kemampuan telah tercapai.
Seseorang dapat dikatakan berhasil dalam belajar apabila telah terjadi
perubahan tingkah laku dalam dirinya. Menurut Djamarah (2000:96) indikator dari
proses belajar mengajar itu dianggap berhasil adalah:
Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarakan mencapai prestasi tinggi,
baik secara individual maupun kelompok.
Prilaku yang digariskan dalam Tujuan Belajar Khusus (TPK) telah dicapai
oleh anak didik baik secara individual maupun kelompok
Dalam hal ini Djamarah juga menjelaskan beberapa tingkat keberhasilan dari
suatu proses belajar mengajar yaitu:
- Istimewa atau maksimal. Apabila seluruh bahan pelajaran dapat dikuasai oleh
seluruh anak didik
- Baik sekali (optimal). Apabila sebagian besar (76%-94%) bahan pelajaran
dikuasai anak didik.
- Baik (minimal). Apabila bahan pelajaran dikuasai anak didik hanya 66%-75%
- Kurang. Apabila bahan pelajaran dikuasai anak didik kurang dari 65%.
Kriteria Penilaian Hasil Belajar :
10,0 : istimewa
7,6-9,9 : baik sekali
6,6-7,5 : baik
0-6,5 : kurang

6
E. Tipe Kegiatan Belajar

A. Tipe-Tipe Belajar Menurut Robert M. Gagne


Mengetahui pola belajar peserta didik adalah modal bagai seorang guru untuk
menentukan strategi pembelajaran. Robert M. Gagne (1979) membedakan pola-pola
belajar peserta didik ke dalam delapan tipe, yang tiap tipe merupakan prasyarat bagi
lainnya yang lebih tinggi hierarkinya. Delapan tipe belajar dimaksud adalah: 1)
signal , (belajar isyarat), 2) stimulus-response learning (belajar stimupons), 3)
chaining (rantai atau rangkaian), 4) verbal association,(asosiasi verbal), 5)
discrimination learning (belajar diskriminasi), 6) concept learning (belajar konsep), 7)
rule learning (belajar aturan), problem solving (memecahkan masalah).
Menurut Robert M. Gagne belajar mempunyai 8 tipe. Kedelapan tipe ini
bertingkat- ada hirarki dalam masing-masing tipe. Setiap tipe belajar merupakan
prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Tipe belajar dikemukakan oleh Gagne pada
hakekatnya merupakan prinsip umum baik dalam belajar maupan mengajar. Artinya,
dalam mengajar atau membimbing siswa belajarpun terdapat tindakan sebagaimana
tingkatan belajar tersebut di atas.
1. Signal Learning (Belajar Isyarat)
Belajar tipe ini merupakan tahap yang paling dasar. Jadi, tidak ada
persyaratan, namun merupakan hierarki yang harus dilalui untuk menuju jenjang
belajar yang paling tinggi. Signal learning dapat diartikan sebagai penguasaan pola-
pola dasar perilaku bersifat involuntary ( tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya).
Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan
untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah diberikannya stimulus (signal) secara
serempak dan perangsang-perangsang tertentu secara berulang kali. Signal learning.
Ini mirip dengan conditioning menurut Pavlov yang timbul setelah sejumlah
pengalaman tertentu. Respon yang timbul bersifat umum dan emosional selain
timbulnya dengan tidak sengaja dan tidak dapat dikuasai.
Contoh: Aba-aba “Siap!” merupakan suatu signal atau isyarat mengambil
sikap tertentu. Melihat wajah ibu menimbulkan rasa senang. Wajah ibu di sini
merupakan isyarat yang menimbulkan perasaan senang itu. Melihat ular yang besar
menimbulkan rasa takut. Melihat ular merupakan isyarat yang menimbulkan perasaan
tertentu. Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons atau respon bersyarat.
Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak bicara.
Lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian
tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respons. Tipe belajar
semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan
itu bersifat umum, kabur dan emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk belajar
semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak
sadar.

2. Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus-respon)


Bila tipe di atas digolongkan dalam jenis classical condition, maka belajar 2
ini termasuk ke dalam instrumental conditioning atau belajar dengan trial and error
(mencoba-coba). Proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa
dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah
faktor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting.

7
Makin singkat jarak S-R dengan S-R berikutnya, semakin kuat reinforcement.
Contoh: Anjing dapat diajar “memberi’ salam”.dengan mengangkat kaki depannya
bila kita katakan “Kasih tangan! ” atau “Salam “. Ucapan `kasih tangan’ merupakan
stimulus yang menimbulkan respons `memberi’ salam’ oleh anjing itu. Berbeda
dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur dan emosional. Tipe belajar S –
R, respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu hubungan S-R. Mencium
bau masakan sedap, keluar air liur, itupun ikatan S-R. Jadi belajar stimulus respons
sama dengan teori asosiasi (S-R bond). Setiap respons dapat diperkuat dengan
reinforcement. Hal ini berlaku pula pada tipe belajar stimulus respons.
3. Chaining (Rantai atau Rangkaian)
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R (Stimulus-
Respons) yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya
tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah
satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan,
pengulangan, dan reinforcement tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining.
Rangkaian atau rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antar S-R yang
bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik, seperti gerakan dalam
mengikat sepatu, makan, minum, atau gerakan verbal seperti selamat tinggal, bapak-
ibu.
Contoh: Dalam bahasa kita banyak contoh chaining seperti ibu-bapak,
kampung-halaman, selamat tinggal, dan sebagainya. Juga dalam perbuatan kita
banyak terdapat chaining ini, misalnya pulang kantor, ganti baju, makan malam, dan
sebagainya. Chaining terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R, sebab
yang terjadi segera setelah yang satu lagi. Jadi berdasarkan hubungan conntiguity).

4. Verbal Association (Asosiasi Verbal)


Baik chaining maupun verbal association, yang kedua tipe belajar ini,
menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan lain. Bentuk verbal association
yang paling sederhana adalah bila diperlihatkan suatu bentuk geometris, dan si anak
dapat mengatakan “bujur sangkar”, atau mengatakan “itu bola saya”, bila melihat
bolanya. Sebelumnya, ia harus dapat membedakan bentuk geometris agar dapat
mengenal `bujur sangkar’ sebagai salah satu bentuk geometris, atau mengenal ‘bola’,
`saya’, dan ‘itu’. Hubungan itu terbentuk, bila unsurnya terdapat dalam urutan
tertentu, yang satu segera mengikuti satu lagi (conntiguity). Suatu kalimat “unsur itu
berbangun limas” adalah contoh asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa
unsur berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus,
atau kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terdapat
dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.
5. Discrimination Learning (Belajar Diskriminasi)
Discrimination learning atau belajar membedakan. Tipe ini peserta didik
mengadakan seleksi dan pengujian di antara perangsang atau sejumlah stimulus yang
diterimanya, kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai.
Kondisi utama berlangsung proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai
pola aturan melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R).
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti
membedakan berbagai bentuk wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
Contoh:. Guru mengenal peserta didik serta nama masing-masing karena
mampu mengadakan diskriminasi di antara anak itu. Diskriminasi didasarkan atas

8
chain. Anak misalnya harus mengenal mobil tertentu berserta namanya. Untuk
mengenal model lain diadakannya chain baru dengan kemungkinan yang satu akan
mengganggu yang satunya lagi. Makin banyak yang dirangkaikan, makin besar
kesulitan yang dihadapi, karena kemungkinan gangguan atau interference itu, dan
kemungkinan suatu chain dilupakan.
6. Concept Learning (Belajar Konsep)
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat
tafsiran terhadap fakta. Dengan konsep dapat digolongkan binatang bertulan belakang
menurut ciri-ciri khusus (kelas), seperti kelas mamalia, reptilia, amphibia, burung,
ikan. Dapat pula digolongkan, manusia berdasarkan ras (warna kulit) atau
kebangsaan, suku bangsa atau hubungan keluarga. Kemampuan membentuk konsep
ini terjadi jika orang dapat melakukan diskriminasi.
Concept learning adalah belajar pengertian. Dengan berdasarkan kesamaan
ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya, ia membentuk suatu
pengertian atau konsep. Kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran
diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
Belajar konsep dapat dilakukan karena kesanggupan manusia untuk
mengadakan representasi internal tentang dunia sekitarnya dengan menggunakan
bahasa. Manusia dapat melakukannya tanpa batas berkat bahasa dan kemampuannya
mengabstraksi. Dengan menguasai konsep, ia dapat menggolongkan dunia sekitarnya
menurut konsep itu, misalnya menurut warna, bentuk, besar, jumlah, dan sebagainya.
la dapat menggolongkan manusia menurut hubungan keluarga, seperti bapak, ibu,
paman, saudara, dan sebagainya; menurut bangsa, pekerjaan, dan sebagainya. Dalam
hal ini, kelakuan manusia tidak dikuasai oleh stimulus dalam bentuk fisik, melainkan
dalam bentuk yang abstrak. Misalnya kita dapat menyuruh peserta didik dengan
perintah: “Ambilkan botol yang di tengah! ” Untuk mempelajari suatu konsep, peserta
didik harus mengalami berbagai situasi dengan stimulus tertentu. Untuk itu, ia harus
dapat mengadakan diskriminasi untuk membedakan apa yang termasuk dan tidak
termasuk konsep itu. Proses belajar konsep memakan waktu dan berlangsung secara
berangsur-angsur. Belajar

7. Rule Learning (Belajar Aturan)


Rule learning belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat
ini peserta didik belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan
mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, dedukatif, sintesis, asosiasi,
diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) sehingga peserta didik dapat menemukan
konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dipandang sebagai “rule “: prinsip, daliI,
aturan, hukum, kaidah, dan sebagainya.
Hukum, dalil atau rumus adalah rule (aturan). Tipe belajar ini banyak terdapat
dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika dipanaskan, besar sudut
dalam segitiga sama dengan 180 derajat. Belajar aturan ternyata mirip dengan verbal
chaining (rangkaian verbal), terutama jika aturan itu tidak diketahui artinya. Oleh
karena itu setiap dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.
8. Problem Solving (Pemecahan Masalah)
Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini para
peserta didik belajar merumuskan memecahkan masalah, memberikan respons
terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik,
yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya. Belajar memecahkan

9
masalah itu berlangsung sebagai berikut: Individu menyadari masalah bila ia
dihadapkan kepada situasi keraguan dan kekaburan sehingga merasakan adanya
semacam kesulitan. Langkah-langkah yang memecahkan masalah, adalah sebagai
berikut: Merumuskan dan Menegaskan Masalah
Individu melokalisasi letak sumber kesulitan, untuk memungkinkan mencari
jalan pemecahannya. la menandai aspek mana yang mungkin dipecahkan dengan
menggunakan prinsip atau dalil serta kaidah yang diketahuinya sebagai pegangan.
Mencari Fakta Pendukung dan Merumuskan Hipotesis
Individu menghimpun berbagai informasi yang relevan termasuk pengalaman
orang lain dalam menghadapi pemecahan masalah yang serupa. Kemudian
mengidentifikasi berbagai alternatif kemungkinan pemecahannya yang dapat
dirumuskan sebagai pertanyaan dan jawaban sementara yang memerlukan pembuktian
(hipotesis). Mengevaluasi Alternatif Pemecahan yang Dikembangkan Setiap alternatif
pemecahan ditimbang dari segi untung ruginya. Selanjutnya dilakukan pengambilan
keputusan memilih alternatif yang dipandang paling mungkin (feasible) dan
menguntungkan. Mengadakan Pengujian atau Verifikasi Mengadakan pengujian atau
verifikasi secara eksperimental alternatif pemecahan yang dipilih, dipraktikkan, atau
dilaksanakan. Dari hasil pelaksanaan itu diperoleh informasi untuk membuktikan
benar atau tidaknya yang telah dirumuskan.

B. Tipe-Tipe Belajar Dalam Visual, Auditori, dan Kinestetik.


Setiap orang memiliki cara dan metode belajarnya sendiri. Ada yang lebih
senang belajar sendiri, belajar berkelompok, belajar dengan melihat, mendengar atau
mengerjakan sesuatu agar sesuatu yang ia pelajari dapat diingat dan dipahaminya
dengan baik. Untuk memaksimalkan potensi yang ada dalam diri kita, tentu ada
baiknya kita terlebih dulu mengerti dan mengetahui bagaimana sebenarnya tipe
belajar kita sendiri.
Menurut DePetter dan Hearchi, 2003, tipe belajar merupakan gaya belajar
yang dimiliki oleh setiap individu yang merupakan cara termudah dalam menyerap,
mengatur dan mengolah informasi. Sutanto, 2006, membagi tipe belajar seseorang
menjadi tiga hal:
- Manusia visual, dimana ia akan secara optimal menyerap informasi yang
dibacanya/dilihatnya.
- Manusia auditori, dimana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya
akan diserap secara optimal.
- Manusia kinestetik, dimana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila
informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia
membayangkan orang lain melakukan hal yang akan dipelajarinya.

a. Tipe Belajar Visual


Orang visual akan lebih memahami melalui apa yang mereka lihat. Warna,
hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Adapun
beberapa ciri orang dengan tipe belajar visual, yaitu :
- Rapi, teratur, memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan
- Berbicara dengan cepat
- Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik

10
- Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran
mereka
- Lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar
- Mengingat dengan asosiasi visual
- Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan
sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya.
- Lebih suka membaca daripada dibacakan dan pembaca yang cepat
- Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon atau dalam rapat
- Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato
- Lebih menyukai seni gambar daripada music
- Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat ya atau tidak
- Mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata
yang tepat
- Biasanya tidak terganggu dengan keributan

b. Tipe Belajar Audiotori


Orang dengan tipe ini akan lebih memahami sesuatu melalui apa yang mereka
dengar. Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata. Musik, irama, dialog
internal dan suara menonjol pada tipe auditori. Seseorang yang sangat auditori
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Suka berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
- Perhatiannya mudah terpecah dan mudah terganggu oleh keributan
- Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
- Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
- Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, perubahan dan warna suara
- Merasa kesulitan untuk menulis dan lebih suka mengucapkan secara lisan
- Berbicara dalam irama yang terpola
- Lebih suka musik daripada seni gambar
- Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada
yang dilihat
- Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar
- Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
- Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi,
seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain
- Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
- Biasanya pembicara yang fasih

c. Tipe Belajar Kinestetik


Orang dengan tipe kinestetik belajar malalui gerak, emosi dan sentuhan.
Modalitas ini mengakses pada gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan
kenyamanan fisik. Ciri-ciri orang dengan tipe belajar kinestetik yaitu :
- Berbicara dengan perlahan
- Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka saat berbicara
- Berdiri berdekatan saat berbicara dengan orang

11
- Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
- Belajar melalui memanipulasi dan praktik
- Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
- Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
- Banyak menggunakan isyarat tubuh
- Tidak dapat diam untuk waktu yang lama
- Tidak dapat mengingat geografis, kecuali jika mereka memang telah pernah
berada di tempat itu.
- Menyukai permainan yang menyibukkan
- Mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca, suka mengetuk-ngetuk
pena, jari, atau kaki saat mendengarkan
- Ingin melakukan segala sesuatu
- Kemungkinan tulisannya jelek

12
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

13
DAFTAR PUSTAKA

http://ichaledutech.blogspot.com/2013/03/pengertian-belajar-pengertian.html?m=1

https://saiyanadia.wordpress.com/2010/11/20/prinsip-prinsip-belajar/

https://silabus.org/tujuan-belajar/amp/

https://dewasastra.wordpress.com/2012/03/07/hasil-belajar-peserta-didik/

http://tugaskuliah36.blogspot.com/2017/05/tipe-tipe-kegiatan-belajar.html?m=1

14