Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOLOGI I

BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK

DISUSUN OLEH :

NAMA : ELISYA NUR FADILLA


NIM : 1909056023
PRODI : S1 TEKNIK PERTAMBANGAN
KELOMPOK : 5 (LIMA)
ASISTEN : BERLIN

LABORATORIUM GEOLOGI DAN SURVEI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batuan sedimen merupakan salah satu jenis batuan yang mana terbentuk sebagai hasil
pemadatan endapan yang berupa bahan lepas. Batuan sedimen atau sering juga disebut
sebagai endapan merupakan batuan yang terbentuk dari endapan bahan- bahan yang
terbawa oleh air ataupun angin. Ada lagi pengertian mengenai batuan sedimen yakni
batuan yang terbentuk karena adanya proses pembatuan atau litifikasi dari hasil proses
pelapukan dan juga erosi tanah yang telah terbawa arus dan kemudian diendapkan.
Seorang ahli, yakni Hutton (1875) yang menyatakan bahwasannya batuan sedimen ini
merupakan batuan yang terbentuk oleh konsolidasi sedimen, sebagai material lepas,
yang terangkut ke lokasi pengendapan oleh air, angin, es dan juga longsoran gravitasi,
gerakan tanah atau juga tanah longsor. Selain terbentuk dari demikian, batuan sedimen
ini juga terbentuk oleh penguapan larutan kalsium karbonat, silika, garam.

Batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu batuan sedimen klastik dan
batuan sedimen non klastik. Batuan sedimen non klastik adalah batuan sedimen yang
terbentuk dari proses kimiawi, seperti batu halit yang berasal dari hasil evaporasi dan
batuan rijang sebagai proses kimiawi. Batuan sedimen non klastik dapat juga terbentuk
sebagai hasil proses organik, seperti batugamping terumbu yang berasal dari organisme
yang telah mati atau batubara yang berasal dari sisa tumbuhan yang terubah. Batuan ini
terbentuk sebagai proses kimiawi, yaitu material kimiawi yang larut dalam air
(terutamanya air laut). Material ini terendapkan karena proses kimiawi seperti proses
penguapan membentuk kristal garam, atau dengan bantuan proses biologi. Batuan
sedimen non klastik memiliki ciri khas berupa tekstur, struktur dan komposisi yang
terkandung didalamnya.

Oleh karena itu, praktikum ini dilakukan agar praktikan dapat mengetahui cara
mendeskripsikan batuan sedimen non klastik mulai dari tekstur, struktur dan
komposisinya serta mengetahui proses terbentuknya batuan sedimen non klastik.
1.2 Tujuan Praktikum
a. Untuk mengetahui tekstur batugamping terumbu
b. Untuk mengetahui struktur batugamping kristalin
c. Untuk mengetahui komposisi batugamping fossiliferous
BAB II
DASAR TEORI

Batuan sedimen adalah suatu akumulasi atau kumpulan material batuan terlapukkan
atau terurai dari batuan induk yang terbentuk di permukaan bumi kemudian diendapkan
pada suatu cekungan dibawah kondisi temperatur dan tekanan rendah serta mempunyai
karakteristik tentang lingkungan pengendapannya. Definisi ini meliputi material batuan
sedimen dengan beberapa akumulasi, seperti material frakmental yang berasal dari
kegiatan vulkano, disertai terbang di udara dan terdeposisi di dalam kondisi padat
mungkin terbentuk pada temperatur dan tekanan yang tinggi.

Seperti deposisi yang terbentuk di lantai samudera dengan tekanan yang sangat besar
dari pada normal.Batuan dari kelompok ini memiliki lebih dari satu mineral penyusun
Batuan sedimen tersingkap paling banyak di daratan di bandingkan batuan lainnya.
Batuan beku dan metamorf, sebesar 75 persen luas daratan, walaupun di perkirakan
hanya 5 persen volume bagian terluar bumi.

Meskipun kelihatannya kecil, namun batuan sedimen sangat penting dalam geologi,
karena di dalamnya terekam sejarah peristiwa-peistiwa geologi di masa lampau. Batuan
sedimen termasuk dalam batuan sekunder karena mateoal pembentuknya merupakan
hasil dari aktivitas kimia dan mekanik denudasi terhadap batuan yang sudah ada.
Diendapkan dari lutan/suspensi dalam air atau udara pada suhu dan tekanan normal.

Endapannya adalah hasil rombakan dan hancuran batuan kerak bumi, terdiri dari
fragmen batuan, mineral dan berbagai material lainnya, ditransport oleh angin atau air
dan di endapkan di lekukan-lekukan di darat maupun di laut. Material yang terbawa
dalam suspense mengendap karena kecepatan medium transporasinya tertahan atau
kondisi fisiknya berubah dan material dalam larutan terendapakan karena perubahan
kondisi kimia atau fisika medium, atau secara tidak langsung oleh aktivitas binatang dan
tumbuhan.
Kemudian endapan ini mengalami proses lithifikasi yaitu proses perubahan material
sediment menjadi batuan sediment yang kompak. Setelah itu akan mengalami kompaksi
dan terakhir sementasi yang membuat lapisan batuan menyatu menjadi satu
kesatuan.Sedimen adalah setiap partikel yang dapat ditransport oleh aliran fluida yang
kemudian diendapkan sebagai sedimen. Pada umumnya, sedimen diangkut dan
dipindahkan oleh air (proses fluvial), oleh angin (proses aeolian) dan oleh es (glacier).

Endapan pasir pantai dan endapan pada saluran sungai adalah contoh-contoh dari
pengangkutan dan pengendapan fluvial, meskipun sedimen dapat juga mengendap pada
aliran yang sangat lambat atau pada air yang relatif diam seperti di danau atau di
lautsand dunesloessterdapat di gurun merupakan contoh dari pengangkutan dan
pengendapan yang disebabkan oleh moraine merupakan contoh dari pengangkutan dan
pengendapan proses gletser.

Diagenesa adalah proses perubahan yang terjadi setelah sedimen diendapkan. Proses ini
melibatkan semua perubahan selama dan setelah pembentukan menjadi suatu batuan
dan proses pembentukan batuan dari sedimen dikenal sebagai litifikasi. Diagenesa
terjadi melalui proses kompaksi, sementasi, rekristalisasi dan perubahan kimiawi dari
sedimen. Kompaksi terjadi sebagai akibat berat sedimen yang terakumulasi dan butiran-
butiran mineral secara bersamaan. Kompaksi akan mengurangi ruang pori dan
menghilangkan kandungan air yang terdapat didalamnya.

Batuan sedimen non-klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari proses kimiawi,
seperti batu halit yang berasal dari hasil evaporasi dan batuan rijang sebagai
proseskimiawi. Batuan sedimen non-klastik dapat juga terbentuk sebagai hasil proses
organik, seperti batugamping terumbu yang berasal dari organisme yang telah mati atau
batubara yang berasal dari sisa tumbuhan yang terubah. Batuan ini terbentuk sebagai
proses kimiawi, yaitu material kimiawi yang larut dalam air (terutamanya air laut).
Material ini terendapkan karena proses kimiawi seperti proses penguapan membentuk
kristal garam, atau dengan bantuan proses biologi (seperti membesarnya cangkang oleh
organisme yang mengambil bahan kimia yang ada dalam air).
Dalam keadaan tertentu, proses yang terlibat sangat kompleks, dan sukar untuk
dibedakan antara bahan yang terbentuk hasil proses kimia, atau proses biologi (yang
juga melibatkan proses kimia secara tak langsung). Jadi lebih sesuai dari kedua-dua
jenis sedimen ini dimasukan dalam satu kelas yang sama, yaitu sedimen endapan
kimiawi / biokimia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sedimen evaporit
(evaporites), karbonat(carbonates), batugamping dan dolomit (limestones and
dolostone), serta batuan bersilika (siliceous rocks), rijang (chert).

Batuan evaporit atau sedimen evaporit terbentuk sebagai hasil proses penguapan air
laut. Proses penguapan air laut menjadi uap mengakibatkan tertinggalnya bahan kimia
yang pada akhirnya akan menghablur apabila hampir semua kandungan air manjadi uap.
Proses pembentukan garam dilakukan dengan cara ini. Proses penguapan ini
memerlukan sinar matahari yang cukup lama. Batugaram batuan gipsum dan travertine
merupakan golongan batuan evaporit.

Batuan sedimen karbonat terbentuk dari hasil proses kimiawi, dan juga proses biokimia.
Kelompok batuan karbonat antara lain adalah batugamping dan dolomit. Mineral utama
pembentuk batuan karbonat adalah kalsit dan dolomit. Nama-nama batuan karbonat:
a. Mikrit (Micrite) (microcrystalline limestone), berbutir sangat halus, mempunyai
warna kelabu cerah hingga gelap, tersusun dari lumpur karbonat (lime mud) yang
juga dikenali sebagai calcilutite.
b. Batugamping oolitik (Oolitic limestone) batugamping yang komponen utamanya
terdiri dari bahan atau allokem oolit yang berbentuk bulat .
c. Batugamping berfosil (Fossiliferous limestone) merupakan batuan karbonat hasil
dari proses biokimia. Fosil yang terdiri dari bahan / mineral kalsit atau dolomit
merupakan bahan utama yang membentuk batuan ini.
d. Kokina (Coquina) cangkang fosil yang tersimen
e. Chalk terdiri dari kumpulan organisme planktonic seperti coccolithophores
f. Batugamping kristalin (Crystalline limestone)
g. Travertine terbentuk dalam gua batugamping dan di daerah air panas hasil dari
proses kimia
h. Batugamping intraklastik (intraclastic limestone), pelleted limestone
Batuan sedimen silika tersusun dari mineral silika (SiO2). Batuan ini terhasil dari proses
kimiawi dan atau biokimia, dan berasal dari kumpulan organisme yang berkomposisi
silika seperti diatomae, radiolaria dan sponges. Kadang-kadang batuan karbonat dapat
menjadi batuan bersilika apabila terjadi reaksi kimia, dimana mineral silika mengganti
kalsium karbonat. Kelompok batuan silika adalah:
1. Diatomite, terlihat seperti kapur (chalk), tetapi tidak bereaksi dengan asam.
Berasal dari organisme planktonic yang dikenal dengan diatoms (Diatomaceous
Earth).
2. Rijang (Chert), merupakan batuan yang sangat keras dan tahan terhadap proses
lelehan, masif atau berlapis, terdiri dari mineral kuarsa mikrokristalin, berwarna
cerah hingga gelap. Rijang dapat terbentuk dari hasil proses biologi (kelompok
organisme bersilika, atau dapat juga dari proses diagenesis batuan karbonat.

Batuan sedimen organik adalah batuan yang berasal dari endapan organik seperti
tumbuh-tumbuhan rawa dan lainnya dan terdiri daripada kumpulan material organik
yang akhirnya mengeras menjadi batu. Contoh yang paling baik adalah batubara.
Serpihan daun-daun, ranting dan batang tumbuhan yang tebal dalam suatu cekungan
(biasanya dikaitkan dengan lingkungan daratan), apabila mengalami tekanan yang
tinggi dan panas bumi akan termampatkan, dan akhirnya mengendap dan berubah
menjadi bahan hidrokarbon batubara.

Pada umumnya batuan sedimen non-klastik terdiri atas satu jenis mineral atau yang
biasa disebut monomineralik. Pembagian jenis-jenis tekstur pada batuan sedimen non-
klastik biasanya dengan memperhatikan kenampakan kristal penyusunnya. Macam-
macam tekstur batuan sedimen non-klastik adalah sebagai berikut :
a. Amorf, partikel-partikel umumnya berukuran lempung atau berupa koloid,
non-kristalin
b. Oolitik, tersusun atas kristal-kristal yang berbentuk bulat atau elipsoid.
Berkoloni atau berkumpul, ukuran butirnya berkisar 0,25 mm - 2mm
c. Pisolitik, memiliki karakteristik seperti oolitik, namun memiliki ukuran butir
yang lebih besar, lebih dari 2mm
d. Sakaroidal, terdiri atas butir-butir yang berukuran sangat halus dengan
ukuran yang sama besar
e. Kristalin, tersusun atas kristal-kristal yang berukuran besar. Ukuran butir
kristal batuan sedimen non-klastik dibedakan atas:
- Berbutir kasar, dengan ukuran >5mm
- Berbutir sedang, dengan ukuran 1-5mm
- Berbutir halus, dengan ukuran <1mm

Struktur batuan sedimen non klastik terbentuk oleh reaksi kimia maupun aktifitas
organisme. Macam-macamnya :
a. Fossiliferous, struktur yang menunjukkan adanya fosil
b. Oolitik, struktur dimana fragmen klastikdiselubungi oleh mineral non
klastik, bersifat konsentris dengan diameter kurang dari 2 mm.
c. Pisolitik, sama dengan oolitik tetapi ukuran diameternya lebih dari 2 mm.
d. Konkresi, sama fdengan oolitik namun tidak konsentris.
e. Cone in cone, strutur pada batu gamping kristalin berupa pertumbuhan
kerucut per kerucut.
f. Bioherm, tersusun oleh organisme murni insitu.
g. Biostorm, seperti bioherm namun bersifat klastik.
h. Septaria, sejenis konkresi tapi memiliki komposisi lempungan. Ciri khasnya
adalah adanya rekahan-rekahan tak teratur akibat penyusutan bahan
lempungan tersebut karena proses dehidrasi yang melalui celah-celahnya
terisi oleh mineral karbonat.
i. Styolit , merupakan kenampakan bergerigi pada batugamping sebagai hasil
pelarutan.

Komposisi mineral pada batuan sedimen non klastik biasanya sederhana terdiri dari satu
atau dua mineral (monomineralik karbonat). Contohnya adalah sebagai berikut :
1. Batugamping : Kalsit, Dolomit
2. Chert : Kalsedon
3. Gipsum : Mineral gypsum
4. Anhidrit : Mineral anhidrit
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah:
– Komparator batuan sedimen non klastik
– Larutan HCl
– Loup
– Kamera

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
– Alat tulis
– Form deskripsi batuan sedimen
– Sampel batuan sedimen non klastik

3.2 Prosedur Percobaan


Prosedur pada praktikum yang dilakukan yaitu :
– Diambil sampel batuan yang akan dideskripsi
– Dicatat nomor sampel batuan
– Diamati jenis batuan lalu dicatat dalam tabel deskripsi
– Ditetesi HCl pada batuan untuk mengetahui jenis batuan sedimen, apabila
bereaksi maka termasuk karbonat
– Diamati dan dicatat tekstur pada sampel batuan
– Diamati dan dicatat struktur pada sampel batuan
– Diamati dan dicatat komposisi mineral yang terdapat pada sampel batuan
– Dituliskan nama batuan yang telah dideskripsi
– Difoto sampel batuan
– Diulangi setiap langkah diatas pada setiap sampel batuan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Deskripsi


No Foto Deskripsi Batuan
1 – Jenis Batuan: Sedimen non klastik
– Warna : Putih cream
– Tekstur : Kristalin
– Struktur : Masif
– Komposisi : Monomineralik karbonat
– Nama Batuan: Batugamping kristalin
2 – Jenis Batuan : Sedimen non klastik
– Warna : Abu-abu, cokelat
– Tekstur : Amorf
– Struktur : Fosiliferous
– Komposisi : Monomineralik karbonat
–Nama Batuan: Batugamping fossiliferous
– Jenis Batuan: Sedimen non klastik
– Warna : Merah
– Tekstur : Amorf
– Struktur : Masif
– Komposisi : Monomineralik silika
– Nama Batuan: Baturijang

4 – Jenis Batuan: Sedimen non klastik


– Warna : Abu-abu
– Tekstur : Amorf
– Struktur : Bioherm
– Komposisi : Monomineralik karbonat
– Nama Batuan: Batugamping terumbu
Tabel 4.1 Deskripsi batuan
4.2 Batuan Sedimen Non Klastik
Batuan sedimen non-klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari proses kimiawi,
seperti batu halit yang berasal dari hasil evaporasi dan batuan rijang sebagai proses
kimiawi. Batuan sedimen non-klastik dapat juga terbentuk sebagai hasil proses organik,
seperti batugamping terumbu yang berasal dari organisme yang telah mati atau batubara
yang berasal dari sisa tumbuhan yang terubah. Batuan ini terbentuk sebagai proses
kimiawi, yaitu material kimiawi yang larut dalam air (terutamanya air laut). Material ini
terendapkan karena proses kimiawi seperti proses penguapan membentuk kristal garam,
atau dengan bantuan proses biologi (seperti membesarnya cangkang oleh organisme
yang mengambil bahan kimia yang ada dalam air).

Dalam keadaan tertentu, proses yang terlibat sangat kompleks, dan sukar untuk
dibedakan antara bahan yang terbentuk hasil proses kimia, atau proses biologi (yang
juga melibatkan proses kimia secara tak langsung). Jadi lebih sesuai dari kedua-dua
jenis sedimen ini dimasukan dalam satu kelas yang sama, yaitu sedimen endapan
kimiawi atau biokimia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sedimen evaporit
(evaporites), karbonat (carbonates), batugamping dan dolomit (limestones and
dolostone), serta batuan bersilika (siliceous rocks), rijang (chert).

Penggolongan batuan sedimen non kastik yaitu golongan karbonat, olongan evaporit,
golongan silika dan golongan batubara. Golongan karbonat secara umum dinamakan
batugamping karena komposisi utamanya adalah mineral kalsit dan juga dolomit
dimana sumber utama batu gamping adalah terumbu yang berasal dari kelompok
binatang laut. Batugamping non terdiri atas batugamping terumbu dan batu gamping
kristalin. Golongan evaporit umumnya terdiri dari mineral dan merupakan nama dari
batuan tersebut misalnya Anhidrit, Gypsum dan Halit. Golongan silika terdiri dari
batuan yang diendapkan pada lingkungan laut dalam yang bersifat kimiawi dan kadang-
kadang juga berasosiasi dengan organisme seperti halnya radiolaria dan Diatomea.
Contoh batuan ini adalah Rijang, Radiolarit, dan Tanah Diatomea. Golongan batubara
merupakan batuan sedimen organik dengan unsu- unsur utamanya terdiri atas karbon
hidrogen dan oksigen terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan melas pembatubaraan atau
kualifikasi dan memiliki sifat yang mudah terbakar.
4.2.1 Batugamping Kristalin

Batugamping kristalin terbentuk dari hasil proses kimia maupun kegiatan organisme.
Batugamping kristalin terbentuk dari organisme laut yang mengandung karbonat seperti
cangkang moluska,algae, foraminifera atau organismelaut lainnya. Kemudian organisme
tersebut mati, kemudian menjadi fragmen yang kecil-kecil dan terendapkan selama
ratusan tahun dan menjadi batugamping. Batugamping yang berada di laut tersebut
kemudian mengalami pengangkatan karena adanya proses tektonik lempeng seperti
subduksi, sehingga batuan tersebut terangkat ke permukaan, pada saat hujan kalsium
karbonat (CaCO3) yang terlarut di dalam air, kemudian mengendap di endapan pasir
karbonat, dan kemudian terjadi proses pemanasan dan menghasilkan kristal.

Batugamping kristalin terbentuk dari lingkungan laut. Kebanyakan batugamping


terbentuk di laut dangkal, tenang, dan pada perairan yang hangat. Lingkungan ini
merupakan lingkungan ideal di mana organisme mampu membentuk cangkang kalsium
karbonat dan skeleton sebagai sumber bahan pembentuk batugamping. Ketika
organisme tersebut mati, cangkang dan skeleton mereka akan menumpuk membentuk
sedimen yang selanjutnya akan terlitifikasi menjadi batugamping. Produk sisa
organisme tersebut juga dapat berkontribusi untuk pembentukan sebuah massa sedimen.
Batugamping yang terbentuk dari sedimen sisa organisme dikelompokan sebagai batuan
sedimen biologis. Asal biologis mereka sering terlihat oleh kehadiran fosil. Beberapa
batugamping dapat terbentuk oleh pengendapan langsung kalsium karbonat dari air laut.
Batugamping yang terbentuk dengan cara ini dikelompokan sebagai batuan sedimen
kimia. Batugamping ini dianggap kurang melimpah dibandingkan batugamping
biologis.

Kaitan teori dengan deskripsi laboratorium, batugamping kristalin memiliki jenis


karbonat non-klastik, karena komposisi yang dominan/lebih dari 50% terdiri dari
mineral-mineral atau garam karbonat. Memiliki struktur masif karena biasanya rongga-
rongga yang terisi oleh kristal-kristal yang tumbuh kearah pusat rongga tersebut,
kemudian memiliki tekstur kristalin karena kristal-kristal yang saling mengunci satu
dengan yang lain. Jika ditetesi HCl 0,1 N mengeluarkan buih karena memiliki
komposisi mineral-mineral karbonat yaitu kalsit. Keterkaitan petrogenesa dengan
deskripsi laboratorium batugamping kristalin memiliki jenis sedimen karbonat
nonklastik dikarenakan proses pembentukannya dapat terjadi secara insitu, yaitu berasal
dari larutan yang mengalami proses kimia maupun biokimia dimana organisme turut
berperan, dapat juga terjadi dari butiran rombakan yang mengalami transportasi secara
mekanik dan diendapkan di tempat lain yang mengandung karbonat sangat tinggi.

Batugamping kristalin memiliki tekstur kristalin karena pada saat hujan kalsium
karbonat (CaCO3) terlarut di dalam air, kemudian mengendap di endapan pasir
karbonat, dan kemudian terjadi proses pemanasan dan menghasilkan kristal. Jika
ditetesi HCl 0,1 N mengeluarkan buih karena terdapat unsur karbonat yaitu kalsit pada
proses pembentukannya. Struktur batugamping kristalin yaitu goode, karena pada
pembentukannya terjadi endapan organisme mikroskopik dilaut dangkal yang
membentuk kristalin kearah pusat rongga untuk lebih tahan terhadap cuaca.

Batugamping kristalin banyak diproduksi untuk bahan baku terutama dalam pembuatan
semen abu (biasanya digunakan sebagai perekat untuk memplester), industri keramik,
obat-obatan, dan lain-lain. Persebaran batugamping di Indonesia terdapat di Kupang,
Nusa Tenggara Timur, Belu, Alor, Lembatan, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada,
Manggarai, Sumba Barat, dan Sumba Timur. Lokasi yang menghasilkan batu gamping
terbanyak adalah di Kabupaten Manggarai.
4.2.2 Batugamping Fossiliferous

Batugamping adalah batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium karbonat
(CaCO3) dalam bentuk mineral kalsit. Batugamping kebanyakan merupakan batuan
sedimen organik yang terbentuk dari akumulasi cangkang, karang, alga, dan pecahan-
pecahan sisa organisme. Batugamping juga dapat menjadi batuan sedimen kimia yang
terbentuk oleh pengendapan kalsium karbonat dari air danau ataupun air laut.

Kandungan kalsium karbonat dari batugamping memberikan sifat fisik yang sering
digunakan untuk mengidentifikasi batuan ini. Pada prinsipnya, definisi batugamping
mengacu pada batuan yang mengandung setidaknya 50% berat kalsium karbonat dalam
bentuk mineral kalsit. Sisanya, batu gamping dapat mengandung beberapa mineral
seperti kuarsa, feldspar, mineral lempung, pirit, siderit dan mineral-mineral lainnya.
Bahkan batugamping juga dapat mengandung nodul besar rijang, nodul pirit ataupun
nodul siderit. Batugamping fosil termasuk natuan sedimen non klastik jenis bioklastik.
Bioklastik tersusun oleh cangkang atau fragmen kerangka organisme. Umumnya
dicirikan oleh fragmen/cangkang lepas terutama jika telah tertransportasi. Penamaan
batuan bioklastik umumnya berdasarkan organisme penyusun utama, seperti
Batugamping (bioklastik) foraminifera, Batugamping Koral (bioklastik, fragmental),
Batugamping coquina (jika seluruhnya terdiri dari cangkang-cangkang moluska),
Batugamping globigerina, Kerak ganggang sering pula pecah-pecah membentuk butir.
Lingkungan pengendapan gamping bioklastik meliputi:
– Lingkungan laut dangkal dekat pantai, dengan partikel-partikel telah terabrasi.
– Lingkungan sekitar terumbu, laguna, dan terumbu bagian depan. Endapan
merupakan pecahan dari terumbu akibat gelombang dengan butiran yang telah
terabrasi, sedangkan di terumbu depan merupakan talus pelongsoran terumbu dan
berupa kepingan koral.
– Lingkungan daerah neritik, misalnya foraminifera besar membentuk bank atau
gundukan.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan saat praktikun, batugamping fossiliferous


merupakan jenis sedimen non klastik. Batuan ini memiliki warna kasat mata berupa
abu-abu. Teksturnya berupa amorf karena tersusun dari mineral yang tidak memiliki
kristal. Batugamping fosil memiliki komposisi yaitu monomineralitik karbonat karena
komposisi yang dominan/lebih dari 50% terdiri dari mineral-mineral atau garam
karbonat. Strukturnya berupa fosiliferous karena menunjukkan adanya fosil.

Sebagian perlapisan batu gamping hampir murni terdiri dari kalsit, dan pada perlapisan
yang lain terdapat sejumlah kandungan silt atau clay yang membantu ketahanan dari
batu gamping tersebut terhadap cuaca. Lapisan gelap pada bagian atas mengandung
sejumlah besar fraksi dari silika yang terbentuk dari kerangka mikrofosil, dimana
lapisan pada bagian ini lebih tahan terhadap cuaca. Batu gamping dapat terlarutkan oleh
air hujan lebih mudah dibandingkan dengan batuan yang lainnya. Air hujan
mengandung sejumlah kecil dari karbon dioksida selama perjalanannya di udara, dan
hal tersebut mengubah air hujan tersebut menjadi nersifat asam.

Beberapa contoh penggunaan batugamping antara lain sebagai fondasi rumah/pengeras


jalan dan bangunan fisik lainnya, pembuatan kapur tohor dan kapur padam, sebagai
bahan bangunan, bahan penstabil jalan raya, bahan baku pembuatan semen portland,
pembuatan karbid, bahan tambahan dalam proses peleburan dan pemurnian baja, bahan
pemutih soda abu, bahan penggosok, pembuatan logam magnesium dari air laut,
pembuatan alumina, floatasi, pembuatan senyawa alkali, pembasmi hama, bahan pupuk
dan insektisida dalam pertanian, bahan keramik, glasir, industri kaca, dan lain-lain.
4.2.3 Baturijang

Baturijang adalah batuan sedimen mikrokristalin atau kriptokristalin yang tersusun atas
silikon dioksida (SiO2) dengan permukaan yang licin (glassy). Rijang dapat terbentuk
sebagai nodul, massa konkresi, dan deposit berlapis. Serpihan rijang dengan pecahan
konkoidal sering menghasilkan bentuk yang tajam sehingga manusia pada zaman
dahulu memanfaatkan baturijang sebagai alat pemotong bahkan sebagai aksesoris
senjata tradisional. Baturijang disebut "batu api" karena jika dibenturkan dengan baja
atau batu lain akan memercikkan bunga api yang dapat membakar bahan kering.

Baturijang merupakan hasil perubahan kimiawi pada pembentukan batuan yang


terendapkan dan juga adanya pengaruh organisme yang menyebabkan perubahan bentuk
pada batuan ini, terbentuk dari akumulasi silika, kemungkinan dalam bentuk koloid
pada dasar laut yang kemudian mengalami pengangkatan. Silika bersumber dari
material-material organik. Rijang dapat terbentuk ketika mikrokristal silikon dioksida
(SiO2) tumbuh dalam sedimen lunak yang akan menjadi batu kapur. Dalam sedimen
tersebut, jumlah yang sangat besar dari mikrokristal silikon dioksida akan tumbuh
menjadi nodul yang berbentuk tidak teratur atau konkresi silika terlarut terangkut oleh
air ke sebuah lingkungan pengendapan. Jika nodul-nodul atau konkresi tersebut
bergabung dalam jumlah yang besar maka akan membentuk lapisan rijang dalam suatu
massa sedimen. Rijang yang terbentuk dengan cara seperti ini biasa disebut sebagai
batuan sedimen kimia. Beberapa silikon dioksida dalam rijang diperkirakan memiliki
asal biologis.Di beberapa tempat, baik itu di lingkungan pengendapan laut dalam
maupun laut dangkal, dimana di lingkungan tersebut terdapat diatom dan radiolaria
yang hidup di air. Organisme ini memiliki cangkang kaca silika yang licin (glassy silica
skeleton). Beberapa spons juga menghasilkan "spikula" yang terdiri dari silika. Ketika
organisme ini mati, skeleton silika mereka akan terlepas, larut, mengkristal, dan
kemudian menjadi bagian dari nodul rijang atau lapisan rijang. Rijang yang terbentuk
dengan cara ini bisa dianggap sebagai batuan sedimen biologis.

Berdasarkan pengamatan yang praktikan lakukan, rijang merupakan jenis sedimen


nonklastik karena proses pembentukannya berasal dari proses kimiawi. Baturijang
berwarna merah. Struktur rijang berupa masif karena tidak menunjukkan struktur
dalam ketebalan lebih dari 120cm. Batuan ini mempunyai tekstur amorf karena terdiri
dari mineral yang tidak membentuk kristal. Rijang memiliki komposisi yaitu
monomineralik silika.

Pada batuan rijang ditemukan batugamping merah yang terletak di bawah atau
menempel dengan rijang hal itu disebabkan oleh karena proses pengendapan batuan
sedimen di dalam suatu titik atau tempat yang terdapat berbagai macam batuan yang
terbentuk yang disebut fasies. Batuan yang terbentuk terlebih dahulu rijang karena
terbentuk dari hasil endapan organisme yang mengandung silika seperti radiolaria yang
mati kemudian berakumulasi di laut dalam, selanjutnya terjadi pergeseran lempeng ke
laut dangkal kemudian terabsorsi ke tempat dimana terbentuknya batugamping merah.
Rekahan-rekahan yang mengandung kalsit yang terdapat di rijang terbentuk karena,
batugamping yang menempel pada rijang memiliki komposisi mineral kalsit sehingga
pada saat proses penggabungan kedua batuan terbentuk rekahan-rekahan pada rijang
yang terisi mineral kalsit.

Kegunaan batuan rijang adalah untuk peralatan seperti pedang, mata anak panah, pisau,
kapak, pembuatan pisau, kapak, dan senjata api. Rijang banyak tersebar di wilayah
Indonesia diantaranya Daerah Istimewa Aceh, Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur,
Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur.
4.2.4 Batugamping Terumbu

Batu gamping terumbu adalah sebuah bentuk struktur organisme yang dibentuk oleh
koloni organisme, tahan terhadap gelombang, dan memiliki relief topografi di atas
pengendapan sedimen yang ada di sekelilingnya. Batugamping terumbu sering disebut
juga sebagai batugamping kerangka. Kunci dari mempelajari jenis batugamping ini
yaitu pada perkembangan terumbu, koloni organismenya, dan lingkungan
pembentukannya. Terumbu mempunyai potensi ekologi untuk membentuk kerangka
yang kokoh, jadi terumbu bukan merupakan hasil akumulasi hancuran kerangka, karena
hancuran kerangka pada umumnya mengacu kepada pembentukan batugamping.

Batugamping terumbu terbentuk di lingkungan laut. Terumbu tumbuh di lingkungan


laut yang tidak begitu dalam, berair jernih sehingga sinar matahari dapat menembus
kedalaman laut. Batas kedalaman dimana terumbu dapat tumbuh tergantung turbulensi
air dan banyaknya plankton atau material mengambang lain yang mempengaruhi
dalamnya penetrasi sinar matahari. Lingkungan ini merupakan tempat organisme
mampu membentuk cangkang kalsium karbonat dan skeleton sebagai sumber bahan
pembentuk batugamping. Ketika organisme tersebut mati, cangkang dan skeleton
mereka akan menumpuk membentuk sedimen yang selanjutnya akan terlitifikasi
menjadi batugamping. Produk sisa organisme tersebut juga dapat berkontribusi untuk
pembentukan sebuah massa sedimen.
Berdasarkan hasil pengamatan dalam praktikum, batugamping memiliki jenis karbonat
non-klastik, karena komposisi yang dominan/lebih dari 50% terdiri dari mineral-mineral
atau garam karbonat. Batugamping terumbu yang diamati berwarna coklat keabu-abuan.
Batuan ini memiliki tekstur amorf karena terdiri dari mineral yang tidak membentuk
kristal. Batugamping terumbu juga memiliki komposisi yaitu monomineralik karbonat.
Strukturnya berupa bioherm karena tersusun dari organisme-organisme insitu. Bioherm
adalah suatu struktur yang dibentuk oleh bangunan kerangka organisme. Cummings
memberikan batasan pengertian untuk bioherm, yakni suatu bentuk yang menyerupai
kubah, tonjolan bukit kecil, lensa, ataupun bentuk lain yang penyebarannya terbatas,
dibangun seluruhnya atau terutama oleh organisme seperti koral, stromatoporoid, algae,
brachiopoda, moluska, dan organisme lain yang dikelilingi oleh litologi yang berbeda.

Batugamping yang terbentuk dari sedimen sisa organisme dikelompokan sebagai batuan
sedimen biologis. Asal biologis mereka sering terlihat oleh kehadiran fosil. Beberapa
batugamping dapat terbentuk oleh pengendapan langsung kalsium karbonat dari air laut.
Batugamping yang terbentuk dengan cara ini dikelompokan sebagai batuan sedimen
kimia. Batugamping ini dianggap kurang melimpah dibandingkan batugamping
biologis. Tipe batugamping ini paling banyak di Indonesia, tipe ini sering membentuk
terjal pada singkapan, masif tak berlapis atau perlapisan buruk yang hanya kelihatan
dari jauh. Komponen utama dari batuan ini adalah suatu kerangka yang utuh seperti
dalam keadaan aslinya. Bentuk serta jaringan kerangka tergantung dari jenis organisme
yang membentuknya. Endapan gamping kerangka diklasifikasikan menurut unsur-unsur
flora dan fauna yang bertanggung jawab atas pembentukannya.

Batugamping terumbu (reef) didasarkan atas tipe organisme yang membentuk kerangka.
Batuan ini mempunyai keistimewaan dalam cara pembentukannya, yaitu hanya dari
larutan, praktis tak ada sebagai detritus daratan. Pembentukannya kimiawi, tetapi yang
penting adalah turut sertanya organisme. Mineral ini lebih stabil dan biasanya adalah
hablur yang baik. Terdapat sebagai rekristalisasi dari argonit, sering merupakan cavity
filling atau semen dalam bentuk kristal-kristal yang jelas. Batugamping terumbu pada
umumnya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan semen dan untuk bahan bangunan
lainnya.
4.3 Klasifikasi Batuan Sedimen Non Klastik

Menurut R.P. Koesoemadinata, 1980 batuan sedimen dibedakan menjadi enam


golongan yaitu :
1. Golongan Detritus Kasar
Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk dalam golongan ini
antara lain adalah breksi, konglomerat dan batupasir. Lingkungan tempat
pengendapan batuan ini di lingkungan sungai dan danau atau laut.
2. Golongan Detritus Halus
Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di lingkungan laut dangkal
sampai laut dalam. Yang termasuk ked ala golongan ini adalah batu lanau, serpih,
batu lempung dan Nepal.
3. Golongan Karbonat
Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan
foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan
yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat. Proses pertama biasa
terjadi di lingkungan laut litoras sampai neritik, sedangkan proses kedua di endapkan
pada lingkungan laut neritik sampai bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali
macamnya tergantung pada material penyusunnya. Batuan sedimen karbonat
terbentuk dari hasil proses kimiawi, dan juga proses biokimia. Kelompok batuan
karbonat antara lain adalah batugamping dan dolomit. Mineral utama pembentuk
batuan karbonat adalah: Kalsit (CaCO3) dan Dolomit ((CaMg(CO3)2).
4. Golongan Silika
Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara proses organik dan kimiawi
untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian
dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.
Batuan ini terbentuk daripada proses kimia, iaitu daripada bahan kimia yang larut
dalam air (terutamanya air laut). Bahan kimia ini termendap hasil daripada proses
kimia (contohnya proses perwapan membentuk hablur garam), atau dengan bantuan
proses biologi (seperti pembesaran cangkang oleh hidupan yang mengambil bahan
kimia yang ada dalam air). Dalam keadaan tertentu, proses yang terlibat sangat
kompleks, dan sukar untuk dibezakan antara bahan yang terbentuk hasil daripada
proses kimia, atau proses biologi (yang juga melbatkan proses kimia secara tak
langsung). Jadi lebih sesuai kedua-dua jenis sedimen ini diletak dalam satu klas yang
sama (sedimen endapan kimia / biokimia).
Batuan sedimen silika tersusun dari mineral silika (SiO2). Batuan ini terhasil dari
proses kimiawi dan atau biokimia, dan berasal dari kumpulan organisme yang
berkomposisi silika seperti diatomae, radiolaria dan sponges. Kadang-kadang batuan
karbonat dapat menjadi batuan bersilika apabila terjadi reaksi kimia, dimana mineral
silika mengganti kalsium karbonat.
5. Golongan Evaporit
Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang
cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang
tertutup, sehingga sangat memungkinkan terjadi pengayaan unsur – unsur tertentu.
Dan faktor yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu
endapan dari larutan tersebut. Batuan–batuan yang termasuk kedalam batuan ini
adalah gip, anhidrit, batu garam.
Batuan evaporit atau sedimen evaporit terbentuk sebagai hasil proses penguapan
(evaporation) air laut. Proses penguapan air laut menjadi uap mengakibatkan
tertinggalnya bahan kimia yang pada akhirnya akan menghablur apabila hampir
semua kandungan air manjadi uap. Proses pembentukan garam dilakukan dengan
cara ini. Proses penguapan ini memerlukan sinar matahari yang cukup lama.
6. Golongan Batubara
Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur–unsur organik yaitu dari tumbuh–
tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh
suatu lapisan yang tebal di atasnya sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya
pelapukan. Lingkungan terbentuknya batubara adalah khusus sekali, ia harus
memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk
menjadi satu di tempat tersebut. Batubara merupakan sedimen organik, lebih
tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam
pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan
terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut rawa-rawa.
Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari sisa-sisa tumbuhan
yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.
4.4 Struktur Batuan Sedimen Non Klastik
Struktur sedimen merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal dari batuan sedimen
yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi pembentuknya.
Kenampakan struktur dalam batuan sedimen hanya dapat dilihat dalam skala
besar. Kebanyakan sedimen tertransport oleh arus yang akhirnya diendapkan, sehingga
ciri utama batuan sedimen adalah berlapis. Batas antara satu lapis dengan lapis lainnya
disebut bidang perlapisan. Bidang perlapisan dapat terjadi akibat adanya perbedaan:
warna, besar butir, komposisi mineral, dan atau jenis batuan antara dua lapis.
Macam-macam struktur batuan sedimen Non klastik adalah sebagai berikut:
– Fossiliferous, yaitu struktur yang menunjukkan adanya fosil
– Oolitik, struktur dimana fragmen klastik diselubungi oleh mineral non klastik,
bersifat konsentrisdengan diameter kurang dari 2 mm.
– Pisolitik, sama dengan oolitik tetapi ukuran diameternya lebih dari 2 mm.
– Konkresi, sama dengan oolitik namun tidak konsentris.
– Cone in cone, struktur pada batu gamping kristalin berupa pertumbuhankerucut
per kerucut.
– Bioherm, tersusun oleh organisme murni insitu.
– Biostorm seperti bioherm namun bersifat klastik.
– Septaria sejenis konkresi tapi memiliki komposisi lempungan. Ciri khasnya adalah
adanya rekahan-rekahan tak teratur akibat penyusutan bahan lempungan tersebut
karena proses dehidrasi yang semua celah-celahnya terisi oleh mineral karbonat.
– Goode banyak dijumpai pada batugamping, berupa rongga-rongga yang terisi oleh
kristal-kristal yang tumbuh ke arah pusat rongga tersebut. Kristal dapat berupa
kalsit maupun kuarsa.
– Styolit merupakan kenampakan bergerigi pada batugamping sebagai hasil
pelarutan.
Gambar 4.1 struktur fossiliferous Gambar 4.2 struktur oolitik Gambar 4.3 struktur goode

Gambar 4.4 struktur septaria Gambar 4.5 struktur bioherm Gambar 4.6 struktur styolit

Gambar 4.7 struktur pisolitik Gambar 4.8 struktur cone in cone Gambar 4.9 struktur konkresi

Gambar 4.10 struktur biostrom


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
a. Tekstur batugamping terumbu berupa amorf karena terdiri dari mineral yang tidak
membentuk kristal-kristal.
b. Struktur batugamping kristalin berupa masif karena tidak menunjukkan adanya
ketebalan lebih dari 120 cm.
c. Komposisi batugamping fosil adalah monomineralitik karbonat.

5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum selanjutnya asisten praktikum dapat menjelaskan materi
tentang batuan sedimen non klastik lebih detail dan spesifik agar praktikan dapat lebih
jelas memahami materi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Noor, Djauhari.2014.Pengantar Geologi. Yogyakarta: Deepublish.


Sholichin, M.2018.Panduan Penyelidikan Lapangan Hidrogeologi.Malang: UB Press.
Sukandarrumdi.2018.Belajar Petrologi Secara Mandiri.Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
IDENTIFIKASI LAPORAN SEMENTARA

No Klasifikasi Tekstur Komposisi Nama Batuan

1 Non Klastik Kristalin Monomineralik Karbonat Batugamping Kristalin

Amorf Monomineralik Karbonat Batugamping


2 Non Klastik
Fossiliferous

3 Non Klastik Kristalin Monomineralik Silika Baturijang

4 Non Klastik Amorf Monomineralik Karbonat Batugamping Terumbu

Samarinda, 9 April 2020


Asisten Praktikan

BERLIN ELISYA NUR FADILLA


NIM. 1809085048 NIM. 1909056023

Anda mungkin juga menyukai