Anda di halaman 1dari 4

Nama : Nashucha Mutiara Firdaus

NIM : P27838018028
Kelas : 2A

TUGAS RADIOLOGI LANJUT

1. Jelaskan bagaimana cara kerja alat rontgen konvensional seperti gambar di bawah ini.

Syarat terjadi sinar X:

1. adanya sumber pembuatan electron


2. terjadinya loncatan elektron dari anoda ke katoda dengan keadaan tabung yang hampa udara.
3. Adanya penghentian electron secara tiba-tiba

Proses Terjadinya sinar X:

saat rangkaian belum mendapatkan tegangan (kondisi switch off) maka rangkaian tidak akan bekerja.
Pada saat kondisi switch ON, auto trafo akan mendapatkan tegangan. Atur tegangan yang akan
digunakan pada KV selector stelah terdapat tegangan pada anoda dan katoda maka tekan ready untuk
menyalakan filament serta membuat rotating anida berputar . , Selanjutnya tekan expose agar coil
magnet tersulut dan tegangan masuk ke spoil kontaktor dan timer. Kontaktor bekerja sehingga
tegangan mengalir ke HTT sehingga terjadi tegangan tinggi pada anoda. Katoda mendapatkan tegangan
dari trafo filamen sehingga loncatan elektron pun terjadi dari katoda menuju anoda, maka terjadilah
sinar X
.

Rangkaian Primer HTT

 Auto Trafo : berfungsi untuk mensuplay tegangan ke HTT dan trafo filament.
 HTT : Berfungsi untuk merubah tegangan rendah menjadi tegangan tinggi. Perbandingan
antara primer dan sekunder yaitu 1 : 1000.
 Kontaktor : berfungsi untuk memutuskan dan menyambungkan arus listrik secara elektrik,
biasanyab rangkain kontaktor ini terlebih dahulu di sambungkan pada rangkaian alat control
maupun rangkain timer.
 Rangkaian Timer berfungsi untuk menentukan lamanya penyinaran sehingga terjadi
penyinaran mendapatkan dosis radiasi yang cukup dan menghasilkan gambar yang cukup
jelas sesuai dengan yang diharapkan.
 Push button : berfungsi untuk expose atau mengeluarkan sinar x apabila sudah siap untuk
digunakan.
 Manual space charge kompensator : berfungsi untuk mendapatkan suatu arus tabung atau
harga arus tabung (mA) yang tetap meskipun KV dianikkan atau diturunkan atau
mengkonvensasikan harga mA.
 KV Meter merupakan bagian yang berfungsi untuk Mendeteksi tegangan yang akan masuk
ke HTT.
 KV selektor adalah bagian yang berfungsi untuk mengatur besar kecilnya tegangan yang
diperlukan oleh X-ray tube agar elektron dari katoda meloncat ke arah anoda paling sedikit
25KV.
 line selektor berfungsi untuk memilih tegangan yang akan digunakan antara 110/220 V
 line volt meter berfungsi sebagai indikator jika terjadi perubahan tegangan pada PLN, serta
berfungsi sebagai indikator tegangan.
 Main switch adalah bagian saklar yang berfungsi untuk memberikan tegangan pada auto
trafo
 MA limiter trafo filamen Berfungsi untuk membatasi mengalirnya arus pemanas filament
 Main fuse berfungsi sebagai pengaman pada pesawat rontgen konvensional jika terjadi
lompatan arus atau tegangan.
Rangkaian Sekunder HTT

 Rangkaian Sekunder HTT.


 X-ray tube terdiri dari anoda dan katoda dan berfungsi sebagai tempat melompatnya
elektron.
 MA meter berfungsi untuk Mendeteksi electron yang melompat dari anoda ke katoda
apabila terjadi loncatan electron.
 Ground system berfungsi untuk menghantarkan arus atau tegangan yang bocor untuk
menuju ke ground.
 MA control berfungsi untuk mengatur besar arus pemanas filamen
 Trafo filament Berfungsi untuk memberi tegangan pada filament x-ray tube

2. Ceritakan Rangkaian lengkap X-ray unit system condensator discharge lengkap dengan
pengaturan Kv yang dipergunakan serta pembatasan kv max.

Rangkaian di atas merupakan rangkaian sinar x menggunakan sistem condensator discharge,


rangkain ini memnfatkan system kerja dari kapasitor yaitu pengisian dan pengosongan. rangkaian
condensator discharge tabung x-ray triode yang memiliki tiga kaki/terminal (anoda, katoda, grid). kaki
grid berfungsi untuk mengontrol loncatan elektron pada tabung x—ray.

Cara kerja rangkaian condensator discharge


1. tegangan main fuse masuk pada main switch, ketika main switch OFF maka
rangkaian belum mendapat tegangan, ketika main switch ON maka Auto trafo
mendapat tegangan. Tegangan 0 masuk ke rangkaian sedangkan fasa belum.
2. Charge di ON kan Ry-5 mendapat tegangan dari autotrafo dan kontak Ry-5 yang
berada pada rangkaian grid akan terbuka, maka tegangan sekundair TR 6 akan
memberikan tegangan pada grid pada katode sebesar -2300V.
3. Relay Ry-1 energize sehingga tegangan mengalir pada trafo HTT. Pada trafo HTT
saat titik A mempunyai polaritas positif terhadap B arus mengalir mengisi
kondensator C8 dan kembali ke titik B, jika titik B mempunyai polaritas positif
terhadap A arus mengalir melalui C7. Condensator C 7 dan C 8 tersambung
seri , ujung positif terhubung dengan anoda, ujung negative terhubung dengan
katode, sehingga tegangan anode dan katode merupakan penjumlahan tegangan C7
dan C8 atau dua kali tegangan HTT. Jika ingin mengatur berapa tegangan pada X-
ray dapat diatur
4. Atur kV adjustment untuk mengatur Kv yang digunkan. Jika sudah tercapai maka
proses selesai dan system terhenti,tetapi jika belum berhenti maka akan dideteksi
oleh Max. kV jika masih belum terhenti maka harus segera menekan Switch OFF
agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
5. READY ditekan relay Ry-3 mendapat tegangan sehingga menyebabkan Ry-
4(shutter), Ry-9 dan Ry-10(rotating anoda) energize. Sehingga pada saat ready
ditekan shutter terbuka dan rotating anoda berputar. Tr – 3 dan Tr -5 mendapat
tegangan dari autotrafo, sehingga filamen menyala. Walaupun filament menyala ,
katode dan anode sudah mendapat tegangan tinggi tetapi belum terjadi loncatan
elektron, sebab terhalang tegangan negatif antara grid dan katode.
6. Saat exposure ditekan maka tegangan disearahkan oleh rectifier kemudian masuk ke
solenoid yang mengakibatkan solenoid energize dan membuat Ry-13 energize yang
menyebabkan Ry-4,Ry-9,Ry10,Ry-13 tersambung paralel sama – sama berada di
posisi NC maka tegangan masuk ke Ry-5 membuat Ry – 5 deenergize, kontak Ry-
5 tertutup, muatan C9 dibuang lewat R 19. Mengakibatkan hilangnya tegangan
grid dengan katode, apabila tegangan menjadi nol, electron akan meloncat dari
katode ke anode, terjadilah Sinar X