Anda di halaman 1dari 2

ca merupakan kegiatan yang mudah dilakukan namun sulit untuk menjadikan suatu kebiasaan.

Kebiasaan membaca belum membudaya pada masyarakat, khususnya di kalangan siswa. Kegemaran
membaca bukanlah faktor keturunan. Kegemaran atau kebiasaan membaca dapat diperoleh melalui
pembiasaan dan latihan yang kontinyu.

Mengapa siswa enggan membaca? Karena mereka belum merasakan kegiatan membaca sebagai suatu
kebutuhan. Mereka masih beranggapan bahwa membaca sebagai sebuah kewajiban. Sebagian besar
siswa mau membaca apabila ada perintah dari guru atau jika akan ada ulangan. Sedikit sekali siswa yang
memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca di perpustakaan.

Membaca adalah pondasi dasar kemampuan siswa. Siswa yang kemampuan membacanya minim akan
berdampak pada hasil belajarnya. Di samping itu kemampuan membaca juga berkaitan erat dengan
kemampuan menulis. Semakin banyak bacaan yang dibaca, maka semakin luas pengetahuan atau
informasi yang diperoleh. Artinya, semakin banyak pula gagasan yang dapat dituangkan dalam bentuk
tulisan.

Sedangkan minat baca adalah keinginan yang kuat yang disertai dengan usaha seseorang untuk
membaca. Orang yang mepunyai minat baca yang besar bersedia untuk mendapatkan bahan bacaan dan
kemudian membacanya atas keinginan sendiri. Orang yang minat bacanya tinggi akan menjadikan
membaca sebagai kebiasaan sekaligus kebutuhan (Dikdasmen, 1996)

Lantas bagaimana cara menumbuhkembangkan minat baca pada siswa? Upaya yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan minat baca dapat dilakukan melalui lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Di lingkungan keluarga orang yang sangat berperan adalah kedua orang tua. Maka, orang tua dapat
melakukan hal-hal berikut; 1. menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan, 2. menyediakan
bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak, 3. menjadi contoh tidak hanya sekadar
memberi contoh. 4. menghargai kemampuan anak dengan tidak membandingkan kemampuan anak
yang satu dengan lainnya. 5. menyelingi kegiatan membaca dengan kegiatan yang lain seperti bercerita,
mewarnai atau menggambar.6. melakukan kegiatan membaca secara rutin. 7. memberi hadiah anak
dengan buku. 8. mengajak anak jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan, 9. mendampingi anak ketika
membaca, dan 10. memberikan solusi ketika anak mengalami kesulitan dalam memahami bacaan.
Meningkatkan minat baca di lingkungan sekolah dapat dilakukan oleh kepala sekolah, guru maupun
petugas perpustakaan. Yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah antara lain; 1. Meningkatkan kualitas
perpustakaan sekolah dari segi sarana dan prasarana, 2. Mewajibkan guru untuk memanfaatkan
perpustakaan sebagai bagian dari proses belajar mengajar, 3. Menetapkan jam wajib kunjung
perpustakaan untuk setiap kelas, 4. Mengikutkan sekolah dalam kegiatan lomba yang berhubungan
dengan minat baca, dan 5. berlangganan surat kabar/ majalah.

Andil pejabat terkait juga diperlukan dalam menumbuhkembangkan minat baca di sekolah. Pengawas
sekolah misalnya dapat memotivasi sekolah untuk membudayakan kebiasaan membaca, memantau
pendayagunaan perpustakaan sekolah dan memberi contoh atau melatih guru mengelola pembelajaran
dengan memanfaatkan perpustakaan.

Yang tak kalah penting adalah peran guru. Guru dapat memotivasi minat baca siswa melalui cara; 1.
Mewajibkan siswa membaca buku, baik buku pengetahuan popular maupun sastra, 2. mengadakan
lomba bercerita, 3. memberikan bimbingan cara mencari informasi dari buku, 4. mewajibkan
perpustakaan sebagai bagian dari proses pembelajaran, dan 5. menugaskan anak membuat mading
kelas atau sekolah secara kontinyu.

Itulah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkembangkan minat baca siswa. Kegiatan
membaca merupakan urat nadi dalam belajar. Dengan membaca berarti siswa belajar. Maka,
dibutuhkan motivasi positif dan kompak dari seluruh elemen terkait demi tumbuh kembangnya budaya
baca.