Anda di halaman 1dari 22

Peter Kasenda

Peristiwa 15 Januari 1974

Orang luar jangan mengacau kampus.


(Soemantri Brojonegoro)

Tanggal 15 Januari 1974, situasi keamanan di Jakarta benar-benar kacau Bunyi senapan
otomatis berdentam di beberapa belahan kota. Puluhan ribu manusia lari tunggang
langgang mencari tempat berlindung yang dirasa aman. Sementara ratusan manusia
lainnya menggunakan kesempatan untuk meraih keuntungan pribadi dengan menjarah
toko-toko yang porak poranda oleh serbuan massa. Dalam dokumen sejarah tercatat
sebelas jiwa manusia melayang. 17 orang luka berat, ratusan orang lainnya luka ringan,
775 orang ditahan, 807 mobil dan 187 motor dibakar, serta 160 kilogram emas raib.
Bangunan dan gedung dirusak bahkan dibakar. Gedung Toyota Asatra Motor, Pertamina,
Coca Cola, dan ratusan pertokoan di Proyek Senen adalah beberapa contoh dari 144
gedung atau bangunan yang hangus dan porak poranda.

Tanggal tersebut ditulis dalam sejarah Indonesia sebagai lembaran kelabu yang masih
diselimuti misteri. Dari satu sisi, ada pandangan bahwa persitiwa itu adalah bagian dari
pertarungan intern di tingkat atas antara kelompok Pangkopkamtib Jendral Soemitro
dengan Asisten Pribadi Presiden (Aspri) dibawah Majyen Ali Moertopo dan Soedjono
Hoermardhani. Kedua kelompok “gajah” yang sedang bertarung tersebut memiliki
“pelanduk-pelanduk” di kalangan sipil, khususnya mahasiswa. Soemitro sendiri
melakukan “penggalangan massa” dengan mendatangi beberapa kampus di Jawa dan
memberikan ceramah politik kepada Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di beberapa
negara. Kampus UI tidak didatangi karena, seperti diungkapkan oleh dr. Hariman Siregar,
ketua DM-UI tersebut dianggap anteknya Ali Moertopo. Ali Moertopo juga melakukan
penggalangan baik melalui kelompok intelektual kampus yang tergabung dalam
kelompok Opsus ataupun non-kampus yang berpusat di Tanah Abang III (Gedung Center
for Strategic and International Studies – CSIS). Sedangkan Drs. Med Hariman Siregar
yang naik menjadi ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM-UI), antara lain
atas bantuan kelompok Opsusnya Ali Moertopo, merasa dirinya independen dan tidak
berpihak kepada siapa pun. Hariman Siregar dan Badan Kerjasama Dewan Mahasiswa
se-Jakarta, melakukan aksi sendiri untuk mengeritik situasi sosial, ekonomi dan politik
saat itu, dan mendapatkan momentum yang baik saat kunjungan Perdana Menteri Jepang
Kakuei Tanaka ke Jakarta pada pertengahan Januari itu.

Dari sisi lain, peristiwa 15 Januari merupakan politik tingkat tinggi di dalam
pemerintahan yang lakon ceriteranya dimainkan bukan hanya oleh satu dalang melainkan
banyak dalang. Sebagian mahasiswa, khususnya Hariman Siregar cs, dianggap
bertanggungjawab dalam mematangkan situasi, mulai dari pembacaan “Petisi 24
Oktober“ (1973) di Taman Makam Pahlawan Kalibata. ”Malam
Keprihatinan”menyambut tahun baru 1974, berbagai rapat kebulatan tekad di kampus-
kampus. Boleh dikatakan sebagai puncaknya adalah malam tirakatan tanggal 31

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 1
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Desenber 1973 yang bertempat di halaman FK UI. Hadir di sana lebih dari 1.500
mahasiswa dari 17 perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Bandung, Padang. Para pembicara
yang tampil umumnya mengemukakan keprihatinan nasional dan menilai bahwa strategi
pembangunan telah salah arat serta penanaman modal asing dianggap tidak
menguntungkan kepentingan nasional. Kesemuanya berpuncak pada apel kebulatan tekad
tanggal 15 Januari 1974 di kampus Universitas Trisakti Grogol, Jakarta. Apel tersebut
dimaksudkan untuk menentang modal Jepang, yang momentumnya dikaitkan dengan
kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka.

Pada hari itulah, sekitar pukul 11.00 pada saat para mahasiswa dari berbagai universitas
di Jakarta tengah melakukan apel di halaman Universitas Trisakti, Grogol, sekelompok
mahasiswa lain – yang diduga mendapatkan janji-janji insentif material dan jabatan dari
kelompok Ali Moertopo – bersama sejumlah massa adalah mulai melakukan sejumlah
pengerusakan di bagian kota lain) seperti Pasar Senen, Harmoni dan Jl. Juanda). Artinya,
sebelum para mahasiswa pulang dari Universitas Trisakti, Grogol, aksi perusakan terjadi,
terutama di daerah Harmoni dan Jl Djuanda. Aksi perusakan itulah yang kemudian
menjadi penyulut kerusuhan massal dan dikenal sebagai peristiwa “ Malapetaka
Limabelas Januari “ ( Malari )

Lebih dari itu, para mahasiswa mengaku menemukan pula sejumlah indikasi bahwa
kebakaran-kebakaran dan pengerusakan di berbagai tempat di Jakarta itu dilakukan oleh
sekelompok oknum tentara bersama para gali. Hariman Siregar dan para saksi di dalam
persidangannya memihak bertanggungjawab atas segala kerusuhan itu, karena mereka
memang tidak melakukannya,

Namun demikian kelompok Hariman Siregar yang dianggap oleh Pangkopkamtib


Jendral TNI Soemitro dan Wapangkopkamtib Laksamana Soedomo sebagai penyulut
situasi, dan akhirnya menjadi kambing hitam dari segala kerusuhan itu. Walaupun
demikian, ironisnya, pemerintah tidak mau mengekspos indikasi adanya kelompok lain,
termasuk kelompok militer, di dalam persitiwa tersebut. Ini dapat dimaklumi, karena
ABRI yang merasa memiliki peran sebagai stabilisator dan dinamisator pembangunan,
tentunya tidak ingin tercoreng wajahnya akibat tindakan oknum-oknum perwira tingginya
yang berebut kekuasaan.

Meski sedikitnya ada lima perwira militer yang ditahan, pengadilan memang berupaya
membuktikan bahwa kelompok sipil bertanggung jawab penuh atas peristiwa tersebut.
Oknum-oknum bekas anggota dua partai terlarang, Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan
Masyumi, dituduh sebagai dalang dari peristiwa Malari, sedangkan Hariman Siregar
beserta kelompoknya dituduh sebagai pelaksana gerakan. ( Antony Z Abidin et al , 1997 :
162 – 166)

Kekuatan Moral

Awal masa kepresidenan kedua Soeharto diwarnai oleh periode pergulatan politik dalam
negeri yang sengit serta lama, berbeda dari yang pernah ia alami selama masa status quo

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 2
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

pasca Gerakan Tigapuluh September bersama Soekarno, maupun masa yang lebih ringan
yang membuatnya berhasil mengorganisir struktur politik Indonesia secara mendasar.
Ciri khas tahap ini, merupakan tahap yang paling menentukan, tahap yang sulit dan
berbahaya selama kekuasaannya yang panjang – adalah terkonsolidasinya serta paling
sengitnya penerapan logika Orde Baru selain berhasilnya penyingkiran atas mereka yang
berupaya menangani politik Indonesia dengan cara berbeda. Namun, Soeharto tidak
menyadari bahwa pertempuran terbesarnya adalah menghadapi mereka yang pernah ikut
mendukungnya dalam perjalanannya meraih kekuasaan. Dan memang, ketika krisis silih
berganti mendera, Soeharto menunjukkan rasa heran bercampur kemarahan yang semakin
memuncak dan sikap yang menekan, mengapa rakyat serta para pendukungnya dulu telah
memilih untuk berbalik mengacam, menentang, bahkan menghianati, visi Indonesianya.

Posisi sentral Soeharto, juga tercermin dalam pelembagaan dan pelestarian gayanya
dalam berkomunikasi dengan rakyat. Kini, setiap pertemuan-pertemuan kabinet atau
forum-forum lainnya, atau sesudah pembahasan dengan menteri-menteri atau para tokoh
lainnya yang berkumpul, rincian dan materi yang dibahas dibagikan oleh orang yang
diajak Soeharto berbicara – atau juru bicara yang ditunjuk – kepada kalangan media yang
berkerumuman menunggu. Soeharto sendiri, meski sering muncul di depan umum,
menjadi semakin enggan berhadapan dengan pers secara langsung. Penampilan Soeharto
yang semakin bersifat pribadi itu berkembang sejalan dengan tumbuhnya
ketidaksenangan publik terhadap kebijakan serta arah pemerintahannya – khsusnya
tentang arus investasi asing, terutama dari Jepang, dalam manufaktur, merugikan prospek
perekonomian para pengusaha dan pekerja setempat. ( Robert Edward Elson, 2005 : 389 )

Mahasiswa merasa dirinya adalah golongan masyarakat yang memiliki noblesse oblige
dan mendapatkan kesempatan yang paling baik untuk duduk di perguruan tinggi.
khususnya perguruan tinggi negeri. Mereka sekolah dari uang rakyat, karena itu mereka
harus memperjuangkan amanat penderitaan rakyat. Dasar dari perjuangan mereka adalah
isi yang terkandung di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.

Dalam melanjutkan peran politiknya, mahasiswa aktivis organisasi intra universitas


memberikan perhatian kepada kebijaksanaan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi
beserta dampaknya bagi kehidupan masyarakat-bangsa-negara. Dalan analisa politik
ekonomi yang mulai menjadi model pendekatan studi kemasyarakatan masa itu
mahasiswa memulai diskusi tentang pembangunan ekonomi. Lalu mereka berkesimpulan
tentang kekeliruan penguasa yang menghasilkan kebijaksanaan ekonomi dan politik
sebagai dasar perkembangan ekonomi.

Pertama kalinya logika dikursus mahasiswa tersebut didukung oleh fakta tentang
kemajuan ekonomi yang terjadi dalam PELITA I, persis selama lima tahun sebelum
Persitiwa Limabelas Januari 1974. Oleh karena pembangunan yang menghasilkan
ketidakadilan itu merupakan produk akhir dari kebijaksanaan pembangunan yang
dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah atas bantuan perusahaan besar maka
mahasiswa berkesimpulan bahwa pemerintah merupakan penanggungjawab utama dan
investor termasuk yang asing merupakan penanggung jawab sekunder. Bertolak dari
pengalaman itu, mahasiswa bukan saja mengeritik penguasa yang mengendalikan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 3
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

pemerintah, akan tetapi juga mengeritik pengusaha, terutama yang beroperasi sebagai
kepanjangan tangan industri asing.

Ketika dan proses terhadap hasil pembangunan dengan sasaran penguasa, pemerintah dan
investor serta negara donor itu dilakukan oleh bermacam kelompok mahasiswa di
berbagai kampus, terutama di kota-kota besar pulau Jawa. Di Universitas Indonesia Grup
Diskusi UI yang digerakkan oleh staf pengajar dari Fakultas Ekonomi, fakultas Ilmu-Ilmu
sosial dan lain-lain mengorganisasikan seri diskusi tentang pembangunan dan politik
Indonesia. Diskusi-diskusi kelompok yang juga melibatkan tokoh mahasiswa, memberi
pemahaman politik ekonomi sebagai metode untuk menyikapi situasi Indonesia kepada
mahasiswa. Bahkan pembahasan dalam pertemuan-pertemuan kelompok itu mengilhami
gerakan moral politik mahasiswa. Dalam rangka memprotes proyek TMII, mahasiswa
Jakarta dan Bandung membuat kelompok-kelompok aksi-adhoc seperti Gerakan
Penghemat, Gerakan Aksi Sehat (GAS), dan Gerakan Penyelamatan Uang Rakyat.

Bersamaan dengan panajamaan dan sikap mahasiswa tentang pembangunan, pemerintah,


pengusaha, dan negara donor itu, berlangsung pula persitiwa-persitiwa nasional yang
berperan sebagai prakondisi bagi bertransformasinya sikap kritis mahasiswa menjadi
gerakan politik radikal. Tanggal 5 Agustus 1974 pecah kerusuhan anti Cina di Bandung.
Sekalipun awalnya adalah senggolan gerobak dorong seorang warga pribumi terhadap
mobil yang dikendarai pemuda keturunan Cina, namun kerusuhan berujud pembakaran
dan pemukulan terhadap warga keturunan itu diartikan oleh banyak pihak sebagai
ekspresi dari ketidakpuasan sosial politik kaum pribumi. Aktivis mahasiswa menangkap
sebagai protes rakyat terhadap kolusi penguasa dengan pengusaha nonpribumi untuk
mengelola dan menikmati (korup) hasil pembangunan. Di akhir 1973 ini terjadi aksi umat
Islam menentang RUU perkawinan yang juga ditolak oleh PPP. Sekalipun konflik RUU
itu akhirnya terselesaikan antara lain berkat lobby Jendral Soemitro dan stafnya terhadap
pihak-pihak yang bertentangan, namun proses politik itu mendekatkan mahasiswa
termasuk tokoh Malari Hariman Siregar dengan Jendral Soemitro yang kemudian
menjadi salah seorang tokoh sentral dalam persitiwa Malari 1974.

Peristiwa internasional juga mengkondisikan radikalisasi gerakan mahasiswa Indonesia di


akhir tahun 1973 ialah penggulingan pemerintah Marsekal Thanon Kitikachom oleh
mahasiswa Muangthai bulan Oktober 1973. Mahasiswa Indonesia menarik pelajaran
darinya tentang pudarnya mitos bahwa kekuasaan militer tidak tergoyahkan oleh
kekuatan sipil. Malah kedatangan Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda sekaligus
ketua IGGI, Jan Pronk ke Jakarta disambut dengan demontrasi antimodal asing. Dalam
hal itu Jan Pronk disimbolkan sebagai wakil kekuatan industri internasional yang
membawa pinjaman dan ivestasi.

Berlanjut ke sepanjang bulan November dan Desember tahun itu aksi demo mahasiswa
menjamah berbagai dan masalah penting. Aspri, Bappenas, kedutaan Jepang, Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dijadikan sasaran protes dengan tuduhan kaki
tangan permainan kotor modal asing, melenyapkan kebanggan nasional.menjual
Indonesia, dan sebagainya. Seratus wakil Dewan Mahasiswa berusaha menemui presiden
Soeharto di istana negara, tapi gagal karena presiden tidak ada.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 4
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Selain dari segenap kondisi yang menajamkan pandangan dan meradikal sikap
pergerakan mahasiswa tersebut diatas, tercipta pula kondisi yang strategis memberikan
keyakinan kepada mahasiswa untuk mengorganisasikan aksi kolosal dalam mengoreksi
dan memprotes penguasa, pemerintah dan segenap tatanan kekuasaan beserta produk di
sepanjang Pelita pertama. Kondisi strategis dimaksudkan adalah konflik di kalangan
penguasa yang jaringan prosesnya menjangkau kalangan mahasiswa radikal, sehingga
mereka menangkap adanya peluang untuk memenangkan perjuangan. Konflik tersebut
adalah di antara Jendral Soemitro selaku Pangkopkamtib dengan Jendral Ali Moertopo
sebagai Aspri presiden bidang Polkam yang merangkap kepala BAKIN ( Badan
Koordinasi Inteljen Negara ). ( Arbi Sanit , 1998 : 48 – 52 )

Pertarungan Dua Gadjah

Persaingan di antara penasehat-penasehat presiden di bidang politik dan keuangan di satu


pihak dengan pendukung-pendukung Jendral Soemitro di lain pihak, pada umumnya
berbentuk perubahan kedudukan dalam tubuh golongan elite itu sendiri. Sesudah sukses
besar Ali Moertopo dalam pembentukan Golkar menjadi kekuatan politik yang ampuh
dalam tahun 1971, jendral-jendral Hankam tersebut segera bertindak untuk mencegah
Golkar agar tidak tumbuh menjadi basis ekstramiliter bagi Ali Moertopo, dan ketika
kongres pertama Golkar diadakan dalam bulan September 1973 Mayor Jendral Amir
Moertono, calon dari kelompok Hankam terpilih sebagai ketua umum. Di pihak lain
ketika Jendral Soemitro mengusulkan pengangkatan seorang bawahannya, Mayor Jendral
Kharis Suhud sebagai wakil panglima Kopkamtib pada pertengahan 1973, Soeharto
justru memutuskan untuk mengangkat bekas Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana
Sudomo yang mempunyai hubungan dekat dengan Ali Moertopo. Walaupun para anggota
kelompok Aspri tersebut menikmati hubungan lebih hangat dengan presiden cukup
berhati-hati untuk tidak membiarkan mereka ke suatu titik yang menyebabkan kelompok
tentara professional tersebut merasa dikesampingkan. Keseimbangan yang proporsional
dipelihara dengan menganugerahi kedua kelompok hadiah-hadiah serta alasan-alasan
untuk harapan-harapan cerah bagi mereka di hari depan.

Dalam memimpin sistem yang menyeimbangkan kaum vested interest itu, pada awal
tahun 1970-an tampaknya Soeharto dalam posisi harus mempertahankan regimnya yang
tak menentu. Selama bantuan luar negeri, penanaman modal asing dan hasil minyak bumi
tetap dapat menjadi cadangan yang semakin banyak untuk dapat didistribusikan,
tampaknya kelompok-kelompok di dalam tubuh Angkatan Darat yang saling bersaing itu
dapat dikendalikan melalui pembagian secara adil atas kepuasan-kepuasan material.
Pertentangan tajam terus berlangsung di dalam kalangan kekuasaan itu diharapkan tetap
berpegang pada “aturan permainan“ yang berarti bahwa mereka harus menerima
kekalahannya, bukan berupaya menggalang perlawanan terhadap penguasa. Lebih jauh
kekalahan itu sering dipermanis dengan jabatan yang tinggi dan empuk, sedangkan bagi
mereka yang menolak kerja sama dihadapkan pada kemumgkinan pemenjaraan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 5
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Sistem pengayoman tersebut berjalan dengan baik dalam menjinakkan kelompok-


kelompok yang bertentangan di kalangan angkatan bersenjata, tetapi cenderung
mempertajam ketidakpuasan di kalangan sipil. Masuknya modal asing secara besar-
besaran membuka kesempatan bisnis baru yang luas bagi kaum militer bersama rekan-
rekan sipil mereka, tetapi sekaligus juga mengancam posisi pengusaha-pengusaha
pribumi Indonesia yang miskin. baik dalam hal modal maupun koneksi dengan kalangan
tentara. Ketika periode awal penanaman modal Amerika, pada proyek pertambangan
permulaan tahun 1970-an diikuti oleh penanaman modal Jepang dalam sektor
perindustrian maka kesempatan bagi pengusaha-pengusaha Indonesia dipersempit.
Banyak di antaranya, terutama di sektor pertekstilan, terpaksa gulkung tikar akibat
persaingannya dengan modal asing itu, sedangan kaum buruh yang kehilangan pekerjaan
dari pabrik-pabrik tua yang menggunakan tenaga buruh secara intensif itu tidak terserap
ke dalam pabrik-pabrik baru yang menggunakan modal Jepang dan pejabat-pejabat
Indonesia seperti Soedjono Hoemardhani dan Ibnu Sutowo, tokoh-tokoh yang paling erat
hubungannya dengan kalangan tersebut.

Menjelang akhir Oktober sebuah pertemuan mahasiswa di Universitas Indonesia


mencetuskan “Petisi 24 Oktober“ yang memprotes “perkosaan hukum merajalelanya
korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, membumbung harga barang-barang dan
pengangguran”, serta menyerukan untuk meninjau kembali strategi pembangunan yang
berlaku, yang hanya menguntungkan kaum kaya itu. Dua minggu kemudian, ketika
menteri kerjasama pembangunan pemerintah Belanda yang muda dan simpatik, Dr Jan
Pronk datang untuk suatu kunjungan resmi, ia disambut oleh para demonstran mahasiswa
itu, mereka menyerahkan kepadanya sebuah pernyataan yang menyatakan ,” bahwa kami
tidak bangga dengan hasil-hasil bantuan dan modal asing berupa gedung-gedung tinggi
itu semakin banyak orang kehilangan pekerjaan, tempat tinggal dan tanah, industri tekstil
kami mati, hutan-hutan kami telah gundul dan ladang-ladang minyak kami mengering “
Selama beberapa minggu berikut, banyak delegasi kecil yang mendatangi kantor-kantor
pemerintah untuk menyatakan protes terhadap ketergantungan yang amat menyolok.
Suasana liberal yang luar biasa itu menggalakkan kritik pers yang pedas terhadap
penanaman modal asing dan politik ekonomi pemerintah pada umumnya.

Ledakan mendadak protes mahasiswa telah terjadi terhadap latar belakang ketidakpastian
yang disebabkan oleh dua perkembangan yang lain lagi. Pada tanggal 5 Agustus
meledaklah huru-hara anti-Cina terdashyat dalam Periode Orde Baru di Bandung,
bermula dari sebuah kecelakaan kecil lalu-lintas yang mendorong massa mengamuk di
seluruh bagian kota, dari kira-kira pukul 4 sore sampai pukul 1 lewar tengah malam,
menghancurkan kira-kira 1.500 toko dan rumah, termasuk hampir semua toko di pusat
kota. Namun demikian segi yang paling menarik dari huru-hara itu ialah bahwa Angkatan
Darat telah gagal melakukan tindakan terhadap para pelaku keributan. Pasukan keamanan
tidak kunjung datang sampai jauh rembang malam dan ketika sudah datang pun mereka
tidak mengambil tindakan cukup tegas. Kesimpulannya hampir tak dapat diragukan
bahwa banyak anggota angkatan bersenjata di Jawa Barat setidak-idaknya telah
bersimpati kepada para perusuh, malah didesas-desuskan bahwa para prajurit itu telah
ikut serta dalam perusakan dan perampokan.. Walaupun pemerintah menunding kepada
“partai komunis bawah tanah“, kenyataan bahwa 19 orang anggota Divisi Siliwangi

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 6
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

ditahan, termasuk dua orang letnan kolonel serta beberpa orang perwira lainnya, begitu
pula beberapa orang pemimpin sipil dari Angkatan Muda Siliwangi, sebuah organisasi
yang didukung oleh beberapa perwira Sunda di dalam Divisi Siliwangi. Para perwira
suku Sunda itu jelas memancing-mancing hura hara sebagai cara untuk protes terhadap
tindakan pemerintah yang memberi angin kepada kongsi-kongsi Cina dan asing dengan
mengorbankan perusahaan-perusahaan pribumi. Menyadari adanya simpati yang
dirasakan oleh para prajurit bawahan dan perwira-perwira muda terhadap perasaan para
perusuh anti-Cina itu, para pemimpin Divisi Siliwangi menjadi bimbang untuk
memerintakan pasukannya bertindak. Kekuasaan pimpinan Angkatan Darat jauh
berkurang daripada yang tampak sebelum terjadi huru-hara, dan terdapat spekulasi
tentang kemerosotan disiplin yang jelas nampak di Jawa Barat itu juga dapat
diketemukan di daerah-daerah lain.

Selagi kurangnya persatuan dan disiplin di dalam bagian-bagian Angkatan Darat, yang
tampak ke luar itu telah menimbulkan masalah tentang kemampuan dalam menangani
masalah ketidak-puasan massa, suatu masalah baru menggerakkan momentumnya pula.
Pada tanggal 31 Juli pihak pemerintah mengajukan suatu undang-undang yang
memberikan ketentuan-ketentuan perkawinan dan perceraian yang sama untuk umat
seluruh agama. Undang-undang itu merupakan puncak tahun-tahun tuntutan organisasi-
organisasi wanita yang menghendaki adanya perlindungan hukum agar tidak diatur oleh
hukum Islam dan disokong oleh organisasi-organisasi Kristen dan sekuler. Keputusan
mengajukan perundang-undangan tersebut tampaknya berasal dari staf Ali Moertopo
yang memandangnya sebagai suatu masalah yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong
lebih lanjut proses “sekulerisasi” politik Islam. Walaupun beberapa orang tokoh politik
Islam seperti Mintaredja dan J Naro mendukung undang-undang tersebut, namun
kebanyakan umat Islam menentangnya dengan keras ; sedangkan para ulama saling
berdebat tentang yang mana dari selusin lebih butir undang-undang yang diusulkan itu
yang bertentangan dengan hukum Islam. Di Jakarta ratusan mahasiswa Islam
berdemontrasi dan menyerbu gedung parlemen ketika menteri agama menyampaikan
pidatonya tentang rancangan undang-undang tersebut pada tanggal 27 September,
sementara itu beberpa orang pemimpin Islam di propinsi-propinsi mulai berbicara tentang
“perang sabil”’( Harlod Crouch, 1986 : 348 – 352 )

Suasana tidak puas yang muncul memberi peluang pada kelompok Hankam Soemitro,
mungkin terkejut dengan kejadian-kejadian di Thailand pada Oktober 1973 yang
mengakibatkan jatuhnya pemerintahan PM Thanom Kittikachorn yang didominasi militer
itu, dalam memosisikan diri mereka untuk memperoleh simpati rakyat. Meski Soemitro
menjabat sebagai Panglima Kopkamtib, ia tidak mengambil langkah-langkah yang efektif
dalam mengendalikan protes-protes yang kian menguat itu. Dan memang, kehadirannya
yang teratur juga mewarnai kegiatan di kampus-kampus pada November di mana ia
berbicara dengan menyebut-nyebut “pola kepemimpinan baru”, pemerintah yang lebih
peka terhadap pendapat masyarakat, dan perlunya komunikasi “dua arah“ antara rakyat
dan pemerintah – ungkapan-ungkapan yang tak dapat dihindarkan lagi kian mengandung
eskalasi kegiatan mahasiswa.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 7
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Sambutan mahasiswa terhadap Soemitro sangat kontras dan mencolok sekali dengan apa
yang diterima oleh para teknokrat ketika mereka berupaya meredakan ketakutan
mahasiswa akan arah kebijaksaan perekonomian; demikian kerasnya Soemitro
Djojohadikusumo ditantang pada sebuah pertemuan di Institut Teknologi Bandung
ditantang pada sebuah pertemuan di Institut Teknologi Bandung, sampai-sampai ia
terpaksa harus meninggalkan kampus.

Bersama-sama dengan Kepala Bakin Sutopo Yuwono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro


juga memainkan peran sebagai perantara dalam masalah undang-undang perkawinan
yang diusulkan itu serta memaksanakan solusi kompromi dengan kelompok-kelompok
Muslim yang menjadi basis UU baru tersebut – yang disahkan parlemen pada
Desember.1973.

Sikap Soemitro yang berbeda itu adalah tantangan nyata yang pertama terhadap
keunggulan Soeharto sejak masa-masa awal Orde Baru. Sikap ini merupakan perpaduan
antara sikap kurang begitu lihai dalam menjauhkan diri dari rezim, serangan terhadap
(dan bahkan mendorong yang lain agar mengecam) orang-orang yang dekat dengan
Soeharto, terutama kelompok Aspri dan, khususnya Ali Moertopo ( yang perilaku busuk
dan suka campur tangan serta konsep-konsep pembangunan antiteknokratnya disebut
sebagai penyebab kemerosotan sosial dan moral dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan
perekonomian Orde Baru ), dan upaya terang-terangan merayu kelompok-kelompok
pembakang sosial penting, para mahasiswa, kelompok-kelompok muslim, serta pers yang
baru mulai menunjukkan kegigihannya. Soemitro juga secara resmi menyetujui pegelaran
drama oleh penyair W.S. Rendra yang kritis terhadap pemerintah, bahkan mensponsori
kunjungan pers ke kamp tahanan politik di Pulau Buru.

Sementara itu, Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani sendiri bereaksi dengan
melancarkan serangan-serangan terhadap visi pengembangan Indonesia dari para
teknokrat – yang wujud lain kuatnya diwakili oleh Bappenas. Upaya-upaya Soeharto
yang tampaknya keras dan cepat dalam mnedisiplinkan Soemitro serta memulihkan
hubungan kerja dengan Moertopo, dimulai pada November dan mencapai puncaknya
pada hari-hari pertama bulan Januari 1974, ternyata tidak berhasil. Soemitro terus saja
menjalankan upaya menghimpun dukungan lebih lanjut di kalangan para tokoh militer
yang dikucilkan seperti AH Nasution serta Sarwo Edhie Wibowo selama dua minggu
sesudahnya. Drama politik yang tengah berlangsung ini mencapai titik akhir dalam
kerusuhan serius yang dikenal sebagai peristiwa Malari yang terjadi pertengahan Januari.
( Robert Edward Elson , 2005 : 391 – 393 )

Dalam sistem kekuasaan paternalisme kepercayaan pemimpin bermakna pemberian


kekuasaan. Kritik mahasiswa kepada Aspri ditangkap oleh Ali Moertopo sebagai upaya
merusak kepercayaan presiden kepadanya. Dalam menetralisasikan serangan itu ia
mendekat anggota Dewan Mahasiswa UI yang kemudian 10 orang diantaranya
memajukan mosi tidak percaya kepada Hariman Siregar selaku ketua dewan Mahasiswa
UI yang amat giat mengorganisasikan kritik kepada pemerintah dan pembangunan. ( Arbi
Sanit, 1999 : 52 ) Mosi tidak percaya itu terjadi setelah sebelumnya Ali Moertopo
mengulangi seruannya kepada mahasiswa agar menghentikan aksi-aksi yang disebutnya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 8
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

sebagai tak tentu arah. Beberapa hari sebelumnya, salah seorang dari kesepuluh
fungsionaris yang (antara lain terdiri atas Aulia Rahman, Freddy Latumahina, Posdam
Hutasoit, dan Leo Tomasoa) kemudian lebih dikenal sebagai Kelompok 10 sempat
menemui Eko Djatmiko Ketua Senat FKG-UI, pengurus DM UI yang pro – Hariman dan
bertanya apakah Ketua Senat FKG-UI tersebut mendukung ketua umum Dewan
Mahasiswa UI atau Kelompok 10. Lalu muncul aksi corat-coret di DM UI yang
dilakukan oleh Kelompok 10. Sebelum itu, dalam waktu yang hampir bersamaan,
Posdam Hutasoit sempat mendatangi rumah Salim Hutajulu ( namun gagal bertemu )
untuk membujuk Salim agar bergabung deangan kelompok mereka. Setelah itu, pada
kesempatan berikutnya, Aulia Rahman dan Freddy Latumahina mengajak Salim Hutajulu
untuk bertemu Letkol Utomo di kediamannya di Jalan Salemba. untuk pembicaraan di
sekitar recana menjatuhkan Hariman Siregar dari kedudukannya sebagai Ketua DM UI.
Meskipun Salim Hutajulu hadir juga dalam pertemuan tersebut, namun pada akhirnya ia
tetap pada pendiriannya untuk menolak rencana-rencana semacam itu.

Perlu diketahui bahwa duduknya Hariman Siregar sendiri sebagai Ketua DM UI semula
didukung sepenuhnya oleh Ali Moertopo melalui peranan Kelompok 10 di UI. Kelompok
10 punya jasa yang tidak kecil terhadap naiknya Hariman Siregar. Tetapi dukungan
Kelompok 10 terhadap Hariman Siregar segera berubah menjadi kebencian ketika
menyaksikan bahwa Hariman secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak bersedia
menjadi instrumen dari Ali Moertopo.

Di lingkungan mahasiswa Universitas Indonesia, kelompok 10 sebelumnya diketahui


memiliki “pressure group yang dikenal dengan nama Small Group (SG). SG popular
sebagai suatu kelompok yang akrab dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya
mengandalkan kekuatan fisik. SG terutama berperan besar di dalam menggebuk unsur-
unsur GMNI dan PNI-Asu. Di kalangan mahasiswa UI, SG menjadi organisasi yang
ditakuti karena sering melakukan tekanan terhadap mahasiswa Karena tekanan-tekanan
itu pulalah, tidak berapa lama setelah naiknya Hariman Siregar sebagai ketua DM UI, di
asrama mahasiswa UI Jalan Pegangsaan para mahasiswa pendukung Hariman Siregar
nyaris terlibat bentrokan fisik dengan SG.

Sejalan dengan berbagai tekanan terhadap kelompok Hariman Siregar beberapa saat
sebelum meletusnya perisitiwa Malari telah berkembang menjadi suatu issu yang
semakin santer bahwa Hariman Siregar hendak menggulingkan pimpinan nasional.
Dalam suasana demikian, mahasiswa mendapat informasi bahwa Ali Moertopo melalui
Liem Bian Kie merencanakan akan menggerakkan beberapa mahasiswa UI untuk
mengadakan aksi terror bersamaan dengan waktu penyelenggaraan Apel Mahasiswa 15
Januari 1974. Pada tanggal 14 Desember 1973, Jessy Moningka ( unsur non-Kampus dari
Angkatan 66 / Ketua I Pangah KAPPI Jakarta Pusat/Mahasiswa PT Trisakti ) bertemu
dengan Asisten I Kodam V Jaya Kolonel Hasan Basri. Pada kesempatan tersebut, Jessy
Moningka melaporkan tentang info rencana untuk melakukan kekacauan pada saat
mahasiswa bergerak tanggal 15 Januari 1974, yang dijawab oleh Hasan Basri bahwa
dirinya sudah mengetahui dan akan memperhatikan secara seksama. ( Heru Cahyono,
1992 : 156 – 159 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 9
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Sebenarnya gerakan dapat dibedakan menjadi dua : kalangan mahasiswa (kelompok


kampus) dan non-mahasiswa (non-kampus). Dari kelompok kampus adalah gerakan-
gerakan yang dipimpin oleh Hariman Siregar, sedangkan kelompok non-kampus
dipimpin oleh Yopie Lasut, Jessy Moningka, dan Yusuf AR. Di antara kedua kelompok
tersebut sebenarnya terdapat perbedaan mendasar mengenai dasar pemikiran maupun
tujuan gerakan. Namun karena secara umum ada perasaan emosional yang sama
mengenai beberapa hal maka sedari awal di antara kedua kelompok tersebut terjalin
hubungan yang bersifat saling mendukung, bahkan suatu ikatan resmi antara keduanya
direalisasikan pada tanggal 13 Januari 1974.

Mesikipun dalam beberapa hal persamaan, seperti ketidak-puasan terhadap pemerintah


dan kebencian terhadap Aspri, namun ada sasaran strategis yang berbeda di antara
keduanya. Sasaran kelompok non-kampus yakni hanyalah menyangkut kejatuhan para
Aspri, ( khususnya Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani). Berbeda tentunya dengan
kelompok Hariman Siregar yang terang-terangan menyerang Soeharto sendiri.
Khususnya dalam minggu-minggu terakhir sebelum Malari, kelompok Hariman Siregar
makin terbuka meneriakkan yel-yel yang menyerang bahkan menghina pribadi presiden
Sasaran kelompok kampus tidak hanya terbatas pada kejatuhan Aspri tetapi juga
Soeharto sendiri. Bahkan karena sepak terjang kelompok Hariman Siregar yang
terlampau berani dan membuat aktivitas-aktivitas yang malahan dipandang merugikan,
Soemitro sendiri sempat mencurigai Hariman Siregar sebagai “antek “ Ali Moertopo.

Perbedaan antara kelompok kampus dengan non-kampus juga bisa ditelusuri dengan
perbedaan latar belakang dan orientasi pemikiran mereka. Jika kelompok Hariman
Siregar banyak dipengaruhi oleh pandangan ekonom dari Prof Sarbini Soemawinata,
seorang pakar ekonomi yang kebetulan menjadi mertua Hariman Siregar, maka kelompok
non-kampus lebih dekat berhubungan Balai Budaya yang dipimpin Mochtar Lubis.
Kelompok Balai Budaya ini mulai bergerak sekitar bulan Agustus 1973. Adalah Mochtar
Lubis sendiri yang mecanangkan tekad untuk memberi pelajaran kepada pihak Jepang
menyusul kehadirannya di dalam suatu seminar masalah ekonomi di Jepang yang di
antaranya berisi ceramah yang bernada amat merendahkan bangsa Indonesia. Semenjak
itu kelompok Balai Budaya, melalui sekretaris Mochtar Lubis: Imam Waluyo, kerap
menghubungi tokoh-tokoh non-kampus (seperti Yopie Lasut dan Yusuf AR) serta aktif
menggalang kampanye anti-Jepang. Kelompok ini kemudian bahkan merencanakan
pembakaran satu mobil Jepang di Monas untuk menyambut kedatangan PM Kakuei
Tanaka, sebagai aksi “pertunjukan“ kepada pihak Jepang.

Pemikiran kelompok Balai Budaya bisa dikatakan murni anti Jepang, maka target utama
mereka adalah menyingkirkan Aspri Soedjono Hoemardhani dan Ali Moertopo, karena
mereka melihat bahwa Soedjono Hoemardhani dan Ali Moertopo-lah penghalang utama
selama ini, apa lagi Soedjono Hoemardhani amat dikenal sebagai “antek Jepang“ Hal
tersebut juga ditunjukkan dengan dukungan kelompok Balai Budaya kepada teknokrat–
teknokrat UI (Bappenas) di bawah Widjojo Nitisastro, yang dengan sikap tersebut tentu
berbeda dengan apa yang diambil oleh kelompok kampus yang juga kerap memandang
Widjojo Nitisastro cs termasuk ke dalam target yang harus dijatuhkan. Sebab Sarbini

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 10
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Soemawinata termasuk penentang utama kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi


Widjojo.Nitisastro.

Rivalitas elit tingkat atas sesungguhnya juga didorong mulai berkembangnya pemikiran-
pemikiran ekonomi baru yang menyerang strategi ekonomi Bappenas, kelompoknya
Widjojo Nitisastro. Ali Moertopo yang punya ambisi-ambisi politik nasional, melihat
perkembangan itu sebagai kesempatan yang akan memberi keuntungan kepada
kelompoknya. .

Untuk mencapai ambisi-ambisi politiknya, kelompok Tanah Abang, memandang paling


tidak ada dua kelompok yang bisa menjadi penghalang utama. Di bidang administratf
pemerintah, kelompok Ali Moertopo tidak menyukai duduknya kelompok teknokrat UI,
kelompok Widjojo Nitisastro, di dalam posisi-posisi pemerintahan terutama untuk
mengendalikan kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi. Sementara di jalur politik,
MBAD merupakan lawan utama, kalau bukan pesaing utama. Secara timbal balik, sejak
awal tahun 1970-an MBAD telah menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sepak terjang
kelompok Ali Moertopo di dalam Aspri yang dianggap berbuat sekehendak hati.

Untuk menunjukkan besarnya ambisi kelompok Tanah Abang ini, perlu dicatat bahwa di
dalam Golkar kelompok Tanah Abang pernah mendesakkan gagasan untuk menjadikan
kelompok ini sebagai “kabinet bayangan“, di mana anggota bayangan ini antara lain
terdiri dari Daoed Joesoef dan Panglaykim. Tapi gagasan ini mendapat tantangan keras,
bahkan kabarnya tantangan datang dari salah satu eksponen kelompok Tanah Abang itu
sendiri. Sejalan dengan ambisinya ketika kelompok Hariman Siregar mulai “berteriak-
teriak “ mengeritik strategi pembangunan, Ali Moertopo semula merasa senang dengan
harapan dapat memukul kelompok Widjojo Nitisastro.

Terhadap kritik-kritik yang dilontarkan Hariman Siregar kabarnya sampai menimbulkan


kemarahan presiden Soeharto. Soeharto tidak senang dengan serangan-serangan Hariman
Siregar yang jelas-jelas mendeskreditkan GBHN, dalam hubungan dengan pengertian
kata “strategi“ (strategi pembangunan). Kemudian Ali Moertopo mencari-cari Hariman
Siregar untuk mengubah kata strategi menjadi “pelaksanaan“, karena Hariman Siregar
sendiri terus bersembunyi sehingga gagal diketemukan orang-orang Ali Moertopo. Dari
sini pulahlah kemarahan Ali Moertopo terhadap Hariman Siregar muncul. Dalam
persepsi Ali Moertopo, Hariman Siregar adalah “orangnya“ Soemitro sehingga bisa
menjadi ancaman buatnya. Mulailah periode menghantam Hariman Siregar.

Sebaliknya, semula sesungguhnya Soemitro dan Sutopo Yuwono melihat Hariman


Siregar sebagai pihak lawan, alatnya Ali Moertopo, mengingat serangan-serangan
Hariman Siregar ditujukan kepada strategi pembangunanya Widjojo Nitisastro.
Sementara diketahui ada hubungan baik antara kelompok MBAD dengan kelompok
Widjojo Nitisastro. Kecurigaan kelompok MBAD dan Widjojo Nitisastro terhadap Ali
Moertopo amatlah besar. Terhadap suatu kejadian tertentu yang mencurigakan mereka
akan cepat berpikir bahwa kolompok Ali Moertopo sedang bermanuver.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 11
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Untuk mengimbangi manuver kelompok Hariman Siregar, yang dipersepsikan MBAD


dan Widjojo Nitisastro melalui Bintoro serta MBAD melalui Haryadi mendukung
lahirnya Mahasiswa Bertanya. Mahasiswa Bertanya ini didukung oleh kekuatan HMI
(Himpunan Mahasiswa Islam). Bantuan-bantuan dana keuangan untuk mahasiswa-
mahasiswa HMI yang tergabung dalam Mahasiswa Bertanya tersebut, untuk serangkaian
demontrasi menyerang Aspri, dibiayai Sutopo Yuwono melalui Haryadi. ( Heru Cahyono
, 1992 : 148 – 152 )

Jakarta Membara

Memasuki tahun 1974, suasana semakin memanas. Tanggal 9 Januari para mahasiswa
melanjutkan demontrasi menentang para Aspri dan negeri Jepang Di Jakarta dan
Bandung, terjadi pembakaran boneka-boneka yang menggambarkan Soedjono
Hoemardhani dan Perdana Menteri Jepang, Tanaka. Para Aspri melakukan penyerangan
balik terhadap mahasiswa. Para mahasiswa dianggap telah dimanipulasi oleh kekuatan-
kekuatan luar anti Soeharto seperti SOMAL. Tanggal 11 Januari, presiden bersedia
menerima delegasi Dewan-dewan Mahasiswa yang menyampaikan kecaman dan
mempertanyakan kewibawaan presiden yang dirongrong tingkah laku para pemimpin
yang memperkaya diri secara tidak sah, karena peran Opsus yang dipimpin Ali Moertopo
terlalu besar di samping akibat tindakan para Aspri yang tampaknya memiliki kekuasaan
melebihi pemerintah dan parlemen., karena para mahasiswa diintimidasi oleh beberapa
tokoh militer. Pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa karena Presiden tidak
mengambil keputusan apapun. Para mahasiswa melalui Apel Siaga Mahasiswa di kampus
UKI tanggal 12 Januari kemudian mengajak masyarakat untuk menyambut Tanaka
dengan gerakan aksi, memasang bendera setengah tiang di hari kehadiran Tanaka dan
mengadakan aksi total tanggal 15 Januari serta mengajak Koran untuk memboikot
memberitakan Tanaka. (Suharsih dan Ign Mahendra K , 2007 : 82 )

Tanggal 14 Januari mahasiswa berdemontrasi di lapangan udara Halim Perdanakusuma


sebagai protes atas kedatangan Perdana Menteri Tanaka. Tetapi tidak terjadi bentrokan
pada waktu itu. Pada malam setelah demontrasi menyambut Tanaka di Lapangan Udara
Halim Perdanakusuma, para mahasiswa mengadakan rapat di kampus UI Salemba,
Jakarta Pusat. Rapat tersebut membahas undangan Tanaka yang mengajak dialog
mahasiswa serta pernyataan Jendral Maraden Panggabean yang menuduh mahasiswa
telah berbuat makar. Hasil rapat akhirnya memutuskan menolak undangan dialog Tanaka
dan akan mengadakan rapat umum di Universitas Trisakti, Jakarta Barat. Semula, rapat
hendak dilakukan di Monumen Nasional, tapi akhirnya dinyatakan tertutup.

Sejumlah wartawan hendak meliputi rapat mahasiswa di Salemba, tetapi malah diusir
Hariman Siregar. Ketua Dewan Mahasiswa UI mencurigai adanya intel yang menyamar
sebagai wartawan. Padahal, di luar, hujan lebat Semua wartawan basah kuyup ketika
meninggalkan kampus. Namun, para wartawan akhirnya dapat bocoran bahwa mahasiswa
akan melakukan demontrasi long march esok hari. ( Panda Nababan, 2009 : 121 – 122 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 12
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Kendati ada tuduhan makar, mahasiswa tetap melangsungkan niatnya walaupun untuk itu
harus memindahkan rencana apel dari Monumen Nasional ke Universitas Trisakti.
Namun itulah awal bencana bagi mahasiswa. Ketika apel tengah berlangsung, kerusuhan
telah mulai terjadi. Karena akhirnya kerusuhan semakin tidak terkendali, dalam suasana
penuh huru-hara para mahasiswa harus menanggung resiko dan bertanggung jawab
terhadap persitiwa malapetaka tersebut, sementara mereka merasa tidak tahu dari mana
asal kerusuhan-kerusuhan tersebut.

Kejadian-kejadian di sekitar tanggal 15 Januari 1974, juga ditemui beberapa indikasi


bahwa ada suatu provokasi pihak luar sebagaimana info teror yang diterima sejak bulan
Desember 1973. Pada saat rombongan Moas, yang merupakan sekretaris dari Liem
bersaudara, di Air Mancur Thamrin, berkeinginan bergabung dengan rombongan ke
Trisakti ditolak. Rombongan Yopie Lasut dan Yusuf AR tersebut meninggalkan
rombongan Moas yang berjumlah sekitar 100 orang tersebut dan ternyata rombongan
yang disebut terakhir kemudian tidak menuju Trisakti. Selagi apel di Trisakti, telah
datang laporan bahwa telah terjadi kerusuhan di tempat lain. Maka segera diputuskan
agar massa yang sudah berkumpul kembali saja ke tempat masing-masing. Provokasi
terus berlanjut, ketika sekitar pukul 15.000 sore massa yang terdiri para pelajar STM
datang ke Universitas Indonesia untuk minta instruksi. Mahasiswa yang merasa tidak
membuat rencana tersebut segera menyuruh mereka pulang. Kampus UI kemudian
dikunci. Tetapi sekitar pukul 17.00 – 18.00 sore datang massa lebih banyak lagi, tanpa
sepatu. Mereka berusaha masuk kampus UI melalui berbagai jalan, tetapi dapat dicegah. (
Heru Cahyono, 1992 : 160 – 161 )

Menurut Harlod Crouch, pada hari pertama huru hara pasukan keamanan tidak bertindak
tegas dan koresponden–koresponden luar negeri terheran-heran melihat Jendral Soemitro
berbicara kepada para demonstran dengan nada bersahabat dari atas sebuah jip di depan
kedutaan besar Jepang. Hanya sesudah lewat hari pasukan keamanan itu menembaki para
perusuh, belasan orang terbunuh karenanya di kompleks Senen tersebut.

Tampak jelas bahwa Jendral Soemitro sengaja menunjukkan bahwa tindakan represif
tidak akan dilakukan jika para mahasiswa mengorganisasi demontrasi besar-besaran
selama kunjungan Tanaka. Barangkali Soemitro berharap bahwa dengan demontrasi
perasaan anti-Jepang yang hebat itu akan memungkinkan baginya untuk menuntut agar
presiden mengendalikan kekuatan aristek-arsitek politik Jepang atas Indonesia itu, dan
kabar angin mengatakan bahwa ia sedang merencanakan untuk menghadiahi Soeharto,
dengan suatu situasi yang tanpa pilihan lain berupa penahanan atas Ali Moertopo dan
Soedjono Hoemardhani. Barangkali strateginya ini hanya meniru demontrasi mahasiswa
yang dipakai oleh Soeharto sendiri dalam bulan Maret 1966 untuk memaksa Presiden
Soekarno menerima pemecatan atas Subandrio dan menteri-menteri lainnya. Apa pun
rencana Soemitro tersebut, namun menjadi bumerang ketika demontrasi mahasiswa itu
pada suatu pagi berubah menjadi huru-hara dua hari. Hal itu tidak hanya menghentikan
kemungkinan membiarkan terus berlangsungnya demontrasi –demontrasi anti – Ali
Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ia sendiri terpojok ketika tuduhan-tuduhan
dilancarkan bahwa ia secara tak bertanggung jawab telah menciptakan situasi yang
mengancam kepentingan Angkatan Darat secara keseluruhan. Sekalipun Soemitro

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 13
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mempunyai banyak dukungan di kalangan tentara untuk usaha-usahanya mengendalikan


peranan kelompok Aspri itu, namun para perwira Angkatan Darat dengan cepat
merapatkan barisan demi menghadapi rusaknya hukum dan ketertiban pada umumnya.
( Harlod Crouch, 1986 : 354 – 355 )

Menurut memoar Soemitro mengenai peristiwa tersebut, pada tanggal 15 Januari 1974,
Soemitro sedang mengikuti rapat Wanjakti (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Perwira
Tinggi), di mana Jendral Panggabean bertindak sebagai ketua dan Soemitro wakilnya.
Tetapi, sementara rapat berlangsung, Wapangkopkamtib Laksamana Soedomo bolak-
balik memberikan surat kepada Soemitro yang menyebutkan bahwa menurut laporan
Brigjen Herman Sarens, keadaan ibukota mulai gawat. Kemudian Herman Sarens
melaporkan secara tertulis mengenai terjadinya pembakaran di muka Kedutaan Besar
Jepang di Jalan Thamrin. Dikabarkan pula terjadinya perampokan di Glodok, dan gejala
serupa agaknya bakal terjadi di Pasar Senen. Bahkan ada laporan rencana pembakaran
Blok M.

Kendati Soemitro hendak meninggalkan ruang rapat, Jendral Panggabean menahan


dirinya untuk tetap mengikuti rapat. Sampai selesai rapat baru Soemitro keluar ruangan
dan langsung menemui Soedomo di pos komando yang ada di depan teras Kopkamtib.
Soedomo melaporkan kepada Soemitro mengenai persitiwa-peristiwa yang terjadi. Dari
pos komando, Soemitro bisa mengadakan hubungan radio ke mana-mana. Soemitro
memerintahkan kepada Soedomo agar tidak membiarkan demontrasi masuk ke Monas
atau melintasi sungai di belakang Istana. Insitusi Soemitro mengatakan bahwa sasarannya
bukan semata-mata Tanaka, melainkan Presiden Soeharto. Apabila demontrasi masuk
istana, akan terjadi tembakan yang memakan korban.

Dari pos komando, Soemito menghubungi Pangdam Jawa Brawijaya Jendral Wijoyo
Suyono, agar dikirim satu batalyon. Demikian pula pada Pangdam Diponogoro Yasir
Hadibroto. Keduanya menyanggupi, dan sesuai permintaan Soemitro, mereka
menjanjikan pasukan sudah tiba di Jakarta dalam tempo 24 jam. Soemitro tidak minta
bantuan kepada Pangdam Siliwangi, karena pasukan Siliwangi masih banyak yang berada
di Jakarta.

Setelah berbicara ada kedua panglima, ada laporan masuk bahwa ada demontrasi-
demontrasi masuk ke Jalan Thamrin mendekati Air Mancur. Soemitro dan Brigjen
Herman Sarens, Komandan Koprs Markas Hankam langsung bergerak menuju ke sana.
Di Jalan Thamrin, Soemitro menyetop demontran yang pada umumnya anak-anak SD,
SMP, atau paling besar SMA dengan kawalan seorang yang bertampang mahasiswa naik
skuter, yang langsung menghilang dari hadapan Soemitro. Soemitro memerintahkan
mereka untuk kembali dan menuju ke Kebayoran. Ternyata mereka patuh. Di depan
Sarinah, Soemitro dengan pengeras suara mencoba menenangkan massa yang berteriak
menyebut-nyebut nama Tanaka. Sekali lagi, Soemitro menyuruh massa pulang ke rumah
dan massa beringsut bubar. Setelah Soemitro berhasil menahan demontrasi tidak sampai
Monas, Soemitro kembali ke kantor. Di sana Soemitro memonitor laporan-laporan yang
masuk. ( Heru Cahyono, 1998 : 217 – 222 )

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 14
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Para mahasiswa merasa tidak bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan kerusuhan


dan huru-hara. Tanggal 16 Januari 1974, mahasiswa segera mengadakan pertemuan di
kampus UI. Dikeluarkan pernyataan yang isinya mengutuk setiap tindakan kekerasaan
sambil menekankan bahwa para mahasiswa tidak mengetahui dari mana datangnya
pengerusakan-pengerusakan tersebut. Ali Sadikin yang ketika itu datang juga memberi
penjelasan bahwa mahasiswa tidak terlibat. Kepada Gubernur DKI tersebut dijelaskan
bahwa mahasiswa dalam keadaan terjepit. Karena ada kabar, setelah Tanaka
meninggalkan Indonesia, makasiswa akan di-drill, Ali Sadikin sendiri terkejut ketika
diberi tahu bahwa yang membakar Astra adalah militer.

Pada tanggal 16 itu pula, ada beberapa orang dari Kelompok 10, di depan kampus UI.
Mereka yang sebelumnya dikenal amat menentang gerakan mahasiswa, ketika itu malah
berteriak-teriak dan bersama-sama massa menuju ke Pertamina dan Astra dan terjadilah
pembakaran mobil di sana. Pada hari yang sama, datang tiga orang ke kampus UI,
mereka mengajak merebut Jakarta Fair untuk pedagang kaki lima. Ajakan tersebut
ditolak, karena mahasiswa tidak suka cara-cara seperti itu. ( Heru Cahyono, 1992, 160 –
161 )

Menurut penulis biografi Soeharto, Robert Edward Elson, spekulasi Soemitro untuk
mempermalukan Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, ternyata berbalik membawa
bencana ketika kerusuhan itu menjadi tak terkendali. Motif-motif Soemitro pun sampai
sekarang masih tetap belum jelas’ penggunaan demontrasi-demontrasi itu mungkin juga
menjadi alasan untuk menahan Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani, dan
mengakhiri karir politik mereka, dengan tujuan merebut status – tidak diragukan lagi –
sebagai orang kedua yang paling kuat dalam rezim tersebut – dan bahkan, mungkin juga
menggunakan situasi tersebut sebagai batu loncatan untuk rencana yang lebih besar yaitu
menggeser Soeharto sendiri (tuduhan yang dibantah dengan sengit oleh Soemitro). Apa
yang diperkirakan Soemitro sebagai wujud ketidaksenagan rakyat terhadap Ali Moertopo
dan Soedjono Hoemardhani ternyata berkembang menjadi momok keamanan yang serius
dan bahkan mungkin meningkat menjadi sesuatu yang lebih mencekam seandainya ia
meneruskan spekulasinya. ( Robert Edward Elson , 2005 : 393 – 394 )

Perdana Menteri Tanaka dalam konperensi persnya di Tokyo (18 Januari) menyatakan
bahwa para pejabat Indonesia memang risau menghadapi demontrasi di Jakarta. Tetapi ia
sendiri tidak terlalu khawatir meski hal-hal semacam itu, besar atau kecil, masih bisa
terjadi. Ia menyatakan telah berusaha mebuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan
aspirasi dan keluhan mahasiswa Indonesia, dan bernjanji akan memperbaikinya bila
memang terdapat kesalahan-kesalahan. Sementara itu Menlu Masayoshi Ohira juga
menyatakan, Jepang perlu memperbaiki apa yang harus diperbaikinya untuk dapat
memperdalam rasa saling pengertian antara kedua bangsa. Jepang berharap rakyat
Indonesia menilai baik terhadap niat baik dan bantuan Jepang untuk memperbaiki situasi
ekonomi serta kesejahteraan rakyat Indonesia.

Ketua Dewan Perdagangan Luar Negeri Jepang, Tatsuzo Hizamuki, menyatakan, rakyat
dan pemerintah Jepang hendaknya mempelajari kembali sikap-sikap mereka terhadap
negara lain, terutama negara-negara berkembang. Ia juga mengatakan banyak patokan

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 15
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

yang sudah ditetapkan tidak dipatuhi oleh pengusaha Jepang di luar negeri. Sejumlah
pengusaha Jepang menyatakan akan memeriksa kembali seluruh kebijaksanaan mereka di
Asia dan meneliti kemajuan ekonomi Jepang di kawasan itu, mengingat sentimen anti
Jepang tercermin jelas, terutama dalam kerusuhan di Jakarta. Sebelum kerusuhan di
Jakarta, juga telah terjadi demontrasi terhadap modal Jepang di Malaysia dan Thailand.
( B Wiwoho dan Banjar Chaeruddin, 1990 : 243 – 244 )

Apa yang dinamakan peristiwa Malari itu (Malapetaka Januari) menunjukkan bahwa
Angkatan Darat yang nampak utuh itu bertumpu pada alas yang rapuh dan bahwa
persaingan tajam dengan mudah timbul menjadi kemelut di permukaan. Walaupun
pemerintah berusaha untuk melemparkan kesalahan atas peristiwa itu kepada sisa-sisa
PSI dan Masyumi yang tidak puas, yang telah dibekukan oleh Soekarno dalam tahun
1960, namun jelas bahwa tantangan utama datang dari dalam tubuh Angkatan Darat
sendiri. Akibatnya, Soemitro segera dipecat dari jabatan panglima Kopkamtib dan tak
lama sesudah itu “meletakkan jabatan“ sebagai wakil panglima angkatan bersenjata
sesudah dikeluarkan menolak pengangkatannya selaku duta besar di Washington.
Sekutunya, Sutopo Yuwono, diangkat sebagai duta besar di negeri Belanda, Sarwo Edhie
Wibowo menerima pengangkatan sebagai duta besar untuk Korea Selatan, Kharis Suhud
diangkat sebagai kepala kontingen di Vietnam dan Sajidiman Suryoprodjo dipindahkan
ke Lembaga Pertahanan Nasional. Sebagai wakil panglima angkatan bersenjata yang
baru, Soeharto memilih Kepala Staf Angkatan Darat dan bekas Panglima Diponogoro
Surono, sedangkan kekuasaan atas Kopkamtib diserahkan ke tangan Laksamana Sudomo
yang sangat dipercayainya. Kawan lama Soeharto lainnya dari Divisi Diponegoro, Letnan
Jendral Yoga Sugama, diangkat kembali sebagai ketua Bakin, jabatan yang
ditinggalkannya untuk dipangku Sutopo Yuwono dalam 1969. Walaupun Soeharto
berusaha menciptakan kesan umum sebagai berdiri di atas persaingan golongan dengan
pembubaran secara formal posisi Aspri, tetapi jelas bahwa Ali Moertopo, Soedjono
Hoemardhani dan Suryo tetap merupakan penasehat-penasehat terdekatnya.

Tantangan yang dilancarkan oleh Soemitro dan kelompok militer professional terhadap
kekuasaan jendral-jendral “politik” dan “uang” di sekitar Soeharto telah gagal. Tetapi
tindakan yang relatif lunak yang ditimpakan pada Sumitro serta pendukung–pendukung
terkemukanya itu memberi kesan bahwa sebagian besar dari korps perwira masih tetap
bersimpati dengan pendirian mereka dan bahwa Soeharto tidak siap untuk melawan
perwira-perwira ini lebih jauh misalnya dengan mengambil tindakan lebih dratis terhadap
pimpinan mereka. Pengangkatan jendral Surono sebagai wakil panglima angkatan
bersenjata merupakan usaha untuk meyakinkan perwira-perwira ini juga karena Surono,
walaupun seorang perwira Diponegoro yang setia kepada Soeharto, namun dalam banyak
hal ia pun seorang teknokrat militer. Sebagai jawaban terhadap huru-hara, pemerintah
mengambil langkah sekedarnya untuk memenuhi tuntutan dari kritik-kritik mereka.
Segera ditetapkan serangkaian peraturan yang dimaksud untuk membatasi “hidup
bermewah-mewah“ di kalangan sementara pejabat dan dalam bulan-bulan berikutnya
pengawasan lebih besar ditujukan kepada penanaman modal asing, dikeluarkan
kebijakan-kebijakan untuk memberikan kesempatan lebih besar kepada pengusaha
pribumi dan langkah-langkah tertentu ditempuh untuk memperbaiki kaum miskin.
Walaupun para pembaru dari kalangan tentara ini telah mengalami kemunduran, tetapi

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 16
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

banyak yang masih tetap menduduki posisi-posisi penting dan dari sanalah pula mereka
serta pendukung-pendukungnya terus melancarkan tentangannya terhadap kelompok
yang terdekat dengan presiden. Dalam usaha untuk mengendalikan “ekses-ekses” para
jendral yang berorientasi bisnis itu, perwira-perwira berhaluan pembaruan ini menyerang
kelompok-kelompok dalam Angkatan Darat yang juga bertentangan dengan kaum
teknokrat sipil yang bertanggung jawab terhadap perumusan politik ekonomi. ( Harlod
Crouch, 1986: 355 – 356 )

Kerusuhan yang terjadi pada tanggal 15 Januari ini membuat pusat kota Jakarta sempat
terhenti aktivitasnya selama dua hari. Hampir 1.000 mobil. Kebanyakan buatan Jepang,
144 gedung dibakar atau dirusak, 9 orang meninggal, seratus lebih cedera dan 820 orang
ditangkap. ( Suharsih dan Ign Mahendra K, 2007 : 83) Sebagai reaksi terhadap Persitiwa
Malari, pemerintah kemudian mengambil sikap keras. Secara tidak langsung, pers
dituduh pemerintah ikut bertanggung jawab atas Persitiwa Malari, sehingga dalam rangka
“penertiban hak-hak demokrasi“ pemberitaan pers pun ditertibkan. Namun, yang terjadi
tak hanya penertiban pemberitaan, melainkan pembreidelan. Surat-sirat kabar yang
dibreidel akibat pemberitaan Peristiwa Malari berjumlah 12 surat kabar : Harian KAMI,
Nusantara, Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, The Jakarta Times, Mingguan Wenang,
Pemuda Indonesia, dan Majalah Mingguan Ekspress (semua terbit di Jakarta); Suluh
Berita (Surabaya), Mahasiswa Indonesia (Bandung) dan Indonesia Pos (Ujungpandang).
Bahkan sejumlah pemimpin redaksi surat kabar itu dipenjara tanpa pengadilan oleh
Kopkamtib. Yang paling lama mendekam di pengadilan adalah dua pemimpin Indonesia
Raya Mochtar Lubis (tiga bulan) dan Enggak Baharuddin (sebelas bulan) Peristiwa
Malari menadai titik nadir dalam hubungan pemerintah dengan pers. Lebih dari itu,
makna sesungguhnya memberikan gambaran bahwa pers dan pemerintah berada posisi
yang berseberangan. Setelah Peristiwa Malari 1974 rezim Orde Baru makin menunjukkan
dominasinya dalam mengatur kehidupan pers. ( Panda Nababan, 2009 : 54 – 58 )

Dari jumlah ratusan yang ditangkap 45 orang diantaranya tetap ditahan. Di anrtara
mereka adalah Rahman Tolleng, Hariman Siregar, Subadio Sastrosastomo, Sarbini
Soemawinata, Adnan Buyung Nasution, Dorodjatun Kuntjoro Jakti dan H.J. Princen serta
aktivis-aktivis muda Islam. Tuduhan bagi mereka adalah orang-orang tersebut dianggap
sebagai otak dari demontrasi Malari yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan. Ali
Moertopo dan Aspri bahkan menuduh ada usaha makar yang dilakukan oleh mahasiswa
yang didalangi oleh PSI dan Masyumi secara tidak langsung. ( Suhrasih dan Ign
Mahendra K, 2007 : 83) Untuk memperkuat tuduhan tersebut, kelompok Ali Moertopo
menulis buku saku mengenai Malapetaka Limabelas Januari. Dalam kata pengantar buku
saku tersebut, disebut oknum-oknum partai terlarang PSI dan Masyumi dalam “Peristiwa
15 Januari 1974” oleh Pemerintah inilah menjadi alasan buku saku tersebut diterbitkan.
Dikatakan bahwa dalam sejarah Indonesia, nama dari kedua bekas partai terlarang itu
ditulis dengan “pelaku-pelaku dan penganjur-penganjur makar“ (Marzuki Arifin, 1974 :
14)

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 17
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Penutup

Terlepas dari semua distorsi mengenai kisah gerakan mahasiswa 1974 itu, bagamana pun
harus diakui bahwa perjuangan mereka telah menjadi sebuah episode bersejarah dalam
kisah gerakan mahasiswa di Indonesia. Gerakan mahasiswa 1974 telah mencoba
melakukan respons terhadap tantangan zamannya. Betapapun dari latar belakang yang
memicu persitiwa yang diwarnai malapetaka saat itu, namun jika dihubungkan dengan
praktek kekuasaan Orde Baru yang mereka protes, di balik itu ada pemikiran kritis yang
menandakan subtansi idealisme yang mendorong mahasiswa untuk mengisi kekosongan
yang justru mungkin telah dianggap remeh oleh kekuatan politik lainnya. Hal ini
mengingat kondisi Indonesia sejak rezim Orde Baru tampil berkuasa mulai tahun 1966
hingga tahun 1974, telah berlangsung praktek kekuasaan yang justru mengabaikan nasib
rakyat banyak, pemerataan, keadilan, dan demokrasi, namun kekuatan politik yang ada
seolah menutup mata.

Perbedaan antara gerakan mahasiswa 1974 dengan 1966, adalah jika dalam peristiwa
1966 organisasi ekstra universitas (KAMI) memainkan peranan yang amat menentukan,
maka dalam peristiwa 1974, gerakan mahasiswa semata mengandalkan basis organisasi
intra, yaitu Dewan Mahasiswa (DM). Ini menunjukkan adanya independensi yang sangat
tinggi dari gerakan mahasiswa, yang terkait dengan berkembangnya kultur demokratisasi
yang mereka pratekkan termasuk melalui sosialisasi pemilihan dewan-dewan mahasiswa.

Di lain pihak, hal ini mungkin tidak terlepas pula dari pemikiran yang berkembang pada
generasi 1974 yang menilai keberadaan eksistensial dan aktivis protes mereka semata
sebagai bentuk “kekuatan moral” ( moral Force ), sedangkan generasi 1966 dalam
konteks berbeda dilihat merupakan representasi wujud gerakan mahasiswa sebagai
“kekuatan politik “. Dengan kata lain, mahasiswa 1974 ingin menjadikan potret gerakan
mereka berwajah netral, yakni sebagai gerakan yang terpusat dari kampus dengan motif
moral dan intelektual yang murni, dan tidak memiliki ikatan organisatoris sama sekali
apalagi interest politik dengan kelompok tertentu atau kekuatan sosial politik di luar
komunitas mereka. Sesuatu yang jelas membedakan dengan gerakan mahasiswa 1974
dengan 1966, adalah karena gerakan mahasiswa 1966 memiliki linking politis yang jelas
dengan kekuatan-kekuatan atau organisasi –organisasi luar kampus seperti misalnya
militer dan KAMI par exelence. ( Adi Suryadi Culla , 1999: 91-92 )

Setidak-tidaknya ada empat tindakan penting penguasa dan pemerintah dalam bereaksi
terhadap peristiwa 15 Januari yang mengguncangkan stabilitas politik dan pembangunan
tersebut. Pertama kalinya mengambil tindakan hukum terhadap tokoh mahasiswa dan
tokoh masyarakat yang dinilai berada dibelakang peristiwa tersebut. Sejumlah tokoh
mahasiswa dan pemimpin masyarakat di penjarakan dengan tuduhan mengganggu
keamanan melawan pemerintah yang sah sampai menghina presiden. Hukuman dan
tahanan politik itu merupakan tindakan hukum pemerintah Orde Baru secara massal ke
dua setelah Tapol PKI.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 18
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Kedua ialah melumpuhkan kebebasan mahasiswa yang dituding sebagai sumber kekuatan
untuk menggalang aksi-aksi mahasiswa. Kebijaksanaan pemerintah kearah ini dibuat oleh
Menteri P dan K dengan mengeluarkan surat keputusan No 028/U/1074. SKM itu
memberi kewenangan kepada para perguruan tinggi yaitu rektor serta dekan dan para
pembantunya untuk mengambil berbagai langkah guna membina kegiatan non kurikuler
mahasiswa, aktivitas yang sejak tahun 1965 dipenuhi aksi politik dengan landasan moral.
Ditegaskannya dalam berbagai pedoman pelaksanaan SKM itu bahwa pimpinan
universitas bukan saja bertindak sebagai pembina kegiatan mahasiswa yang dinilai
berbau politik, akan tetapi lebih jauh sekaligus penanggung jawab. Pada umumnya rektor
perguruan tinggi menerima itu sebagai kekuasaan tambahan, sehingga mereka
mendukungnya dengan melaksanakan sejauh mungkin. Kebijaksanaan pengendalian
kegiatan mahasiswa itu dioperasikan lewat pengaturan kebebasan mimbar akademis.
Mahasiswa diwajibkan mendapatkan izin pimpinan perguruan tinggi, apabila hendak
melakukan kegiatan yang menyangkut seminar dan diskusi. Apalagi jika membahas
masalah yang berkaitan dengan penguasa.

Ketiga, pemerintah melakukan beberapa perubahan tentang kekuasaan. Pangkopkamtib


Soemitro yang mengajukan pengunduran diri, diberi persetujuan oleh presiden.
Bersamaan dengan itu, presiden membubarkan lembaga Aspri. Panglima Kopkamtib
dijabat kembali oleh Jendral Soeharto. Dengan begitu mulai berlangsung pemusatan
kekuasaan pada tangan presiden secara struktural. Presiden sebagai kepala negara
merangkap kepala eksekutif (pemerintah) itu, mulai saat itu juga memegang komando
operasi keamanan di samping panglima angkatan bersenjata. Maka kekuasaan Jendral
Soeharto mulai tidak tersaingi dan tanpa alternatif dari pihak lain.

Keempat, pemerintah melakukan penyesuaian kebijaksanaan pembangunan dengan jalan


menggeser urutan prioritasnya. Trilogi pembangunan dengan urutan prioritas
pertumbuhan-stabilitas-pemerataan diganti menjadi pemerataan-pertumbuhan-keamanan
(stabilitas). Sejalan dengan itu diperintahkan kepada Menko Kesra untuk merancang dan
melaksanakan kebijakasanaan itu. Maka para teknokrat dan ilmuwan pendukung
pemerintahanpun sibuk mengembangkan pemikiran dan konsep untuk mengembangkan
kebijaksanaan itu menjadi keyakinan masyarakat dan operasi pemerintahan.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 19
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Ternyata tindakan pemerintah itu tidak mampu meredam aktivitas mahasiswa sesuai
dengan harapan perbuatannya. Kenyataan itu justru berakar kepada sikap aparat
pemerintah itu sendiri. Tidak semua rektor melaksanakan SKM 028 secara harfiah
sebagaimana diinginkan oleh pemerintah. Rektor yang kritis seperti Prof Dr Mahar
Mardjono dari UI melaksanakannya dengan longgar. Mahasiswa UI diberi
kesempatan melakukan keiatan berbau politis tapi di dalam lingkungan kampus
supaya dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan SKM 028 tahun 1974. Tapi
rektor seringkali mentolerir kegiatan yang bernuasa politis mahasiswa yang
dilaporkan pada saat dimulai. Maka mahasiswa UI seringkali berhasil melaksanakan
seminar yang menyangkut politik dengan mengundang pembicara dari luar kampus
sehingga kontrol terhadap kebebasan mimbar yang diperintahkan oleh SKM 028
dalam kenyataannya tidak efektif. Dalam pada itu, penolakan mahasiswa UI dan
mahasiswa ITB, UGM, IPB, dan sebagainya yang juga didukung kuat oleh para
dosen dan kaum intelektual lainnya akan pembatasan kebebasan mimbar, mendorong
pemerintah meninjau kebali SKM 028 yang dituding meniadakan kebebasan mimbar
universitas.

Selain dari aktivitas memprotes SKM 028 di sepanjang tahun 1975, mahasiswa Jakarta
bergiat pula di dalam rangka Badan Koordinasi Kegiatan Perguruan Tinggi BKKPT-DKI
JAYA) yang disponsori oleh Pemerintah Daerah Jakarta. Lembaga itu memang dirancang
untuk membendung apatisme mahasiswa sebagai akibat dari trauma terhadap represi
yang dilakukan penguasa dalam menanggapi peristiwa 15 Januari 1974. Tapi karena
kegiatan itu terfokus kepada kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa yang kurang berkenaan
dengan isu politik, terutama berskala nasional, maka dapatlah disimpulkan bahwa pada
umumnya mahasiswa berada dalam kondisi pasif politik sebagai akibat dari tindakan
keras pemerintah terhadap pemerintah. Anehnya, malah kondisi yang sudah menjurus
kepada apatisme politik mahasiswa itu dikhawatirkan oleh Laksmana Sudomo selaku
Kepala Staf Kopkamtib, sehingga ia berupaya mendorong kembali peran mahasiswa
sebagai kekuasaan sosial kontrol. Pada 14 Januari 1974, atas dukungan DM UI,
mahasiswa menerbitkan Koran kampus Salemba. Melalui media itu mahasiswa
membentuk opini politik yang bermuatan kritik tajam terhadap pembangunan, rejim, dan
pemerintah. Sekali pun menurut ketentuan Menteri Penerangan Salemba hanya boleh
beredar di kampus, akan tetapi pemasarannya malah sampai ke luar Jakarta.
Peredarannya malah jauh lebih luas. (Arbi Sanit, 1999: 54 – 56) Tampaknya segenap
aktivitas mahasiswa yang terbatas dan terawasi ini merupakan perintis ke arah kegiatan
politik mereka secara optimal kembali.

Setelah peristiwa Malari tahun 1974 hingga tahun 1975 dan 1976 berita tentang aksi
protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus
di samping kuliah sebagai kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, KKN
(Kuliah Kerja Nyata), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda
sarjana. Meskipun di sana-sini aksi protes tetap ada namun aksi-aksi itu pada umumnya
tidak lagi memiliki gaung yang berarti; kecuali, protes yang berkaitan dengan SK Menteri
P&K No 028/1974 yang sudah berlangsung sebelumnya, sejak tahun 1974 setelah
peristiwa Malari, hingga protes terhadap SK itu mencapai puncaknya tahun 1976.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 20
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, pemilu kedua
sejak Orde Baru, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala massif.
Dari tahun antara 1977 itu hingga pertengahan 1978, dihadapkan panggilan zamannya,
maka mahasiswa kembali menggelar berbagai aksi demo yang mewarnai kembali
panggung politik di tanah air. Rangkaian persitiwa yang cukup mengguncangkan dalam
masa itu, meskipun dari segi eskalasi fisik dan dampak politiknya tidak semasif dengan
gerakan mahasiswa tahun 1966 dan 1974, menandai lahirnya apa yang kemudian dikenal
sebagai gerakan mahasiswa 1978.

Bibliografi

Abidin, Antony Z et al.1999 MAHAR Pejuang, Pendidik dan Pendidik


Pejuang. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Arifin, Marzuki 1974. Peristiwa 15 Januari 1974. Jakarta .Publishing House


Indonesia.

Cahyono, Heru. 1992. Peranan Ulama Dalam Golkar 1971 – 1980. Dari
Pemilu Sampai Malari. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Cahyono, Heru (ed). Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Persitiwa 15


Januari “74 . Jakarta : Pustaka Sinar Harapan .

Crouch, Harlod. 1986. Militer dan Politik Di Indonesia. Jakarta : Pustaka


Sinar Harapan .

Culla, Adi Suryadi. 1999. Patah Tumbuh Hilang Berganti. Skesta


Pergolakan Mahasiswa Dalam Politik dan Sejarah Indonesia ( 1908-
1998 ) . Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Elson, Robert Edward. 2005. Suharto Sebuah Biografi Politik. Jakarta :


Minda.

Nababan, Panda. 2009. Jurnalisme Investigatif Panda Nababan .


Menembus Fakta. Otobiografi 30 Tahun Seorang Wartawan.
Jakarta : Q Communications.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 21
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Sanit, Arbi. “ Gerakan Mahasiswa 1970-1973 : Pecahnya Bulan Madu


Politik,” dalam Muridan S Widjojo et al. 1999. Penakluk Rezim
Orde Baru Gerakan Mahsiswa”98. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan,
Hlm. 45 – 63/

Suharsih dan Ign Mahendra K. 2007. Bergerak Bersama Rakyat! Sejarah


Gerakan Mahasiswa dan Perubahan Sosial di Indonesia . Yogyakarta :
Resist Book.

Wibowo, B dan Banjar Chaeuruddin (ed). 1991. Memori Jendral Yoga.


Jakarta : PT Bina Rena Pariwara.

Yatim, Ricardo Iwan. 1994. Hati Nurani Seorang Demonstran. Hariman


Siregar. Jakarta : Mantika Media Utama.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com 22
Email: mr.kasenda@gmail.com