Anda di halaman 1dari 52

28

BAB II

KEDUDUKAN PARA PIHAK DALAM JOINT VENTURE AGREEMENT

A. Ketentuan Umum Penanaman Modal di Indonesia

1. Prinsip-Prinsip dalam Penyelenggaraan Penanaman Modal

Untuk mempercepat pembangunan ekonomi nasional dan mewujudkan

kedaulatan politik dan ekonomi Indonesia diperlukan peningkatan penanaman modal

untuk mengolah potensi ekonomi menjadi kekuatan ekonomi riil dengan

menggunakan modal yang berasal baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Untuk itu, penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan

perekonomian nasional. Penyelenggaraan penanaman modal hanya dapat tercapai

apabila sejalan dengan tujuan pembaharuan dan pembentukan Undang-Undang

Penanaman Modal.

Agar memenuhi prinsip demokrasi ekonomi diperlukan adanya pembatasan

kegiatan usaha yang dapat dimasuki modal asing, juga memerintahkan untuk

mengatur melalui perundang-undangan mengenai persyaratan bidang usaha yang

tertutup dan yang terbuka, termasuk bidang usaha yang harus dimitrakan atau

dicadangkan bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi. Oleh karena itu, dapat

ditarik prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dalam UUPM, antar lain:

28

Universitas Sumatera Utara


29

a. Pasal 3 UUPM asas penyelenggaraan penanaman modal;

Dasar atau prinsip maupun asas yang terkandung dalam Pasal 3 Undang-

Undang Nomor 25 Tahun 2007 adalah:43

1) Kepastian Hukum

Asas dalam negara hukum yang meletakkan hukum dan ketentuan

peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai dasar dalam setiap

kebijakan dan tindakan dalam bidang penanaman modal.

2) Keterbukaan

Asas yang terbuka terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi

yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang kegiatan penanaman

modal.

3) Akuntabilitas

Asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari

penyelenggaraan penanaman modal harus dipertanggungjawabkan kepada

masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4) Perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal negara

Asas perlakuan pelayanan non diskriminasi berdasarkan ketentuan

peraturan perundang-undangan, baik antara penanam modal dalam negeri

dalam daerah maupun yang berasal dari luar daerah dan penanam modal

43
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Pasal 3.

Universitas Sumatera Utara


30

asing maupun antara penanam modal dari satu negara asing dan penanam

modal dari negara asing lainnya.

5) Kebersamaan

Asas yang mendorong peran seluruh penanam modal secara bersama-

sama dalam kegiatan usahanya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

6) Efisiensi Berkeadilan

Asas yang mendasari pelaksanaan penanaman modal dengan

mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam usaha untuk mewujudkan

iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdaya saing.

7) Berkelanjutan

Asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya proses

pembangunan melalui penanaman modal untuk menjamin kesejahteraan

dan kemajuan dalam segala aspek kehidupan, baik untuk masa kini

maupun yang akan datang.

8) Berwawasan lingkungan

Asas penanaman modal yang dilakukan dengan tetap memperhatikan dan

mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup.

9) Kemandirian

Asas penanaman modal yang dilakukan dengan tetap mengedepankan

potensi bangsa dan negara dengan tidak menutup diri pada masuknya

modal asing demi terwujudnya pertumbuhan ekonomi.

Universitas Sumatera Utara


31

10) Keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional

Asas yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi antar

wilayah di daerah dalam kesatuan ekonomi nasional.

b. Pembatasan bidang usaha

Undang-Undang Penanaman Modal Asing mengatur beberapa hal yang

menjadi landasan dalam membuat joint venture agreement seperti yang

berkaitan dengan bentuk badan usaha, kedudukan, bidang usaha, perizinan

perusahaan, dan penyelesaian sengketa. Dalam UUPM terdapat ketentuan

mengenai pembatasan bidang usaha bagi penanaman modal asing maka agar

penanam modal asing dapat menanamkan modal di bidang usaha yang

tertutup bagi penanam modal asing diperlukan adanya kerja sama dengan

penanam modal nasional.

c. Perlakuan dan fasilitas

Fasilitas penanaman modal merupakan hal yang biasa dilakukan untuk

menarik penanam modal. UU Penanaman Modal mengatur tentang fasilitas

penanaman modal dalam Pasal 18 sampai dengan Pasal 24. Fasilitas

penanaman modal menjadi suatu permasalahan dalam hal fasilitas tersebut

dilakukan dikaitkan dengan pemenuhan Performance Requirement yang

dilarang di dalam TRIMs. Salah satu hal yang menjadi perhatian di dalam UU

Penanaman Modal adalah Pasal 18 ayat (3) huruf j, yang menyebutkan

persyaratan pemberian fasilitas penanaman modal salah satunya adalah

Universitas Sumatera Utara


32

penggunaan komponen lokal. Bilamana ditelaah maka pengaturan Pasal 18

ayat (3) huruf j, UU Penanaman Modal merupakan suatu perlakuan yang

tidak sama antara barang dalam negeri dan barang import.44

d. Pengembangan partisipasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan koperasi

Pemerintah perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk mendorong

perkembangan yang bergairah dan dinamis. Untuk ini, yang merupakan

kepentingan utama adalah apabila pertumbuhan ekonomi yang ekspansif.

Merupakan kunci utama bagaimana seharusnya pemerintah menciptakan

lingkungan penanaman modal yang sehat.

Salah satu aspek dari lingkungan usaha yang sehat adalah mudahnya perijinan

usaha. Pada umumnya, untuk memperoleh perijinan usaha, seorang

pengusaha harus mengeluarkan biaya sekitar 3 atau 4 kali dari biaya perijinan

yang ditentukan. Surat ijin harus diperbaharui setiap tahun dan memerlukan

beberapa klarifikasi dari beberapa pejabat yang berwenang, yang biasanya

menyebabkan perlunya biaya tambahan. Hal ini terjadi karena perijinan tidak

transparan, mahal, berbelit-belit, diskriminatif, lama dan tidak pasti, serta

tumpang tindih vertical (antara pusat -daerah) dan horizontal (antara instansi

di daerah). Akibatnya, minat pengusaha terhambat untuk mengembangkan

usahanya.

44
http://www.jambilawclub.com/2011/09/analisis-kebijakan-penanaman-modal.html.
Diakses tanggal 5 November 2011.

Universitas Sumatera Utara


33

e. Penyelenggaraan administrasi kegiatan investasi

Ada beragam pilihan yang dimiliki pemerintah untuk memperbaiki iklim

penanaman modal di daerah, dimana salah satu kebijakan yang terkait dengan

kepentingan tersebut, adalah penerapan sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu

(PTSP) yang didasarkan pada UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal.

Kebijakan ini sangat menarik untuk dicermati, karena jika ditilik pada

substansinya, memiliki kemiripan dengan Keppres No. 29 Tahun 2004

tentang Penyelenggaraan Penanaman Modal dalam rangka PMA dan PMDN

melalui Sistem Pelayanan Satu Atap. Keppres ini pernah dianggap

pemerintah daerah sebagai upaya pemerintah pusat untuk menarik kembali

kewenangan penanaman modal yang pernah didesentralisasikan. Di sisi lain,

secara teoritik, PTSP dapat meningkatkan kualitas pelayanan perizinan dalam

bidang investasi, melalui penyederhanaan perizinan dan percepatan waktu

penyelesaian.45

2. Fasilitas Penanaman Modal

Pemerintah memberikan fasilitas kepada penanam modal yang melakukan

penanaman modal berupa:46

a. melakukan peluasan usaha; atau

b. melakukan penanaman modal baru.

45
http://setyopamungkas.wordpress.com/tag/penanaman-modal/. Diakses tanggal 5
November 2011.
46
UU No. 25 Tahun 2007, Pasal 18 ayat (2).

Universitas Sumatera Utara


34

Adapun penanaman modal yang dilakukan tersebut harus memenuhi salah

satu kriteria sebagai berikut:47

a. menyerap banyak tenaga kerja;

b. termasuk skala prioritas tinggi;

c. termasuk pembangunan infrastruktur;

d. melakukan alih teknologi;

e. melakukan industri pionir;

f. berada di daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah perbatasan, atau daerah

lain yang dianggap perlu;

g. menjaga kelestarian lingkungan hidup;

h. melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan, dan inovasi;

i. bermitra dengan usaha mikro, kecil, menengah atau koperasi, atau industri

yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi

di dalam negeri.

Apabila salah satu kriteria itu telah di penuhi, maka dianggap cukup bagi

pemerintah untuk memberikan fasilitas atau kemudahan kepada investor. Ada

sepuluh bentuk fasilitas atau kemudahan yang diberikan kepada investor, baik itu

investor domestik maupun investor asing. Kesepuluh fasilitas itu, disajikan berikut

ini:48

47
Ibid, Pasal 18 ayat (3).
48
Ibid, Pasal 18 ayat (4).

Universitas Sumatera Utara


35

a. fasilitas PPh melalui pengurangan penghasilan neto;

b. pembebasan atau keringanan bea masuk impor barang modal yang belum bisa

diproduksi di dalam negeri;

c. pembebasan bea masuk bahan baku atau penolong untuk keperluan produksi

tertentu;

d. pembebasan atau penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas impor

barang modal;

e. penyusutan atau amortisasi yang dipercepat;

f. keringanan PBB.

Selain fasilitas tesrsebut di atas, Pemerintah juga memberikan kemudahan

pelayanan dan/atau perizinan kepada perusahaan penanaman modal untuk

memperoleh:49

a. hak atas tanah

b. fasilitas pelayanan keimigrasian, dan

c. fasilitas perizinan impor

Fasilitas-fasilitas yang dimaksud di atas hanya diberikan terhadap penanaman

modal asing yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT).

3. Bidang Usaha Penanaman Modal

Sebelum penanaman modal khususnya penanaman modal asing

mengaplikasikan modalnya terlebih dahulu harus melalui beberapa prosedur dan tata

49
Ibid, Pasal 21

Universitas Sumatera Utara


36

cara penanaman modal khususnya penanaman modal asing. Calon penanaman modal

yang akan mengadakan usaha dalam rangka penanaman modal asing harus

mempelajari daftar bidang-bidang usaha yang tertutup. Selanjutnya penanam modal

khususnya penanaman modal asing dapat mengajukan permohonan penanaman

modal kepada Kepala BKPM dengan mengisi formulir yang telah ditetapkan oleh

BKPM.

Sebagaimana telah ditetapkan dalam Pasal 12 UU No. 25 Tahun 2007 yang

pada pokoknya menyatakan bahwa pemerintah telah menetapkan perincian bidang-

bidang usaha baik bidang usaha yang terbuka, bidang usaha yang tertutup, maupun

bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan. Adapun Daftar Negatif

Investasi (DNI) yang harus diperhatikan bagi penanam modal khususnya penanaman

modal asing diatur dalam Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2010 jo Peraturan

Presiden No. 111 Tahun 2007 jo Peraturan Presiden No. 77 Tahun 2007 Tentang

Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan

Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Bidang usaha yang terbuka merupakan bidang usaha yang diperkenankan

untuk ditanamkan investasi, baik oleh investor asing maupun investor domestik.50

Bidang usaha yang tertutup merupakan bidang usaha tertentu yang dilarang

50
Salim H. S. dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2008), hal. 54.

Universitas Sumatera Utara


37

diusahakan sebagai kegiatan penanaman modal.51 Di dalam Pasal 12 ayat (2)

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal telah ditentukan

daftar bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal, baik untuk investasi

domestik maupun investasi asing, yang meliputi:52

a. Produksi senjata;

b. Mesiu;

c. Alat peledak;

d. Peralatan perang;

e. Bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan

undangundang.

Penjabaran lebih lanjut dari perintah Pasal 12 ayat (2) UU No. 25 Tahun 2007

tentang Penanaman Modal telah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 36

Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Daftar Bidang Usaha

Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Dalam Lampiran I

Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 telah diatur rinci tentang Daftar Bidang

Usaha yang Tertutup.

51
Pasal 1 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha
yang Tertutup dan Daftar Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman
Modal.
52
Salim H. S. dan Budi Sutrisno, loc. cit.

Universitas Sumatera Utara


38

Ada dua puluh daftar bidang usaha yang tertutup, baik untuk investasi

domestik maupun investasi asing. Kedua puluh daftar bidang usaha yang tertutup

untuk investasi yaitu:53

a. Budidaya Ganja

b. Penangkapan spesies ikan yang tercantum dalam Appendix I Convention on

International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES)

c. Pemanfaatan (pengambilan) koral/karang dari alam untuk bahan

bangunan/kapur/kalsium dan souvenir/perhiasan, serta koral hidup atau koral

mati (recent death coral) dari alam.

d. Industri minuman mengandung alkohol (minuman keras, anggur, dan

minuman mengandung malt)

e. Industri pembuat chlor alkali dengan proses merkuri

f. Industri bahan kimia yang dapat merusak lingkungan seperti:

1) halon dan lainnya

2) penta chlorophenol, dichloro diphenyl trichloro elhane (DDT), dieldrin,

chlordane, carbon tetra, chloride, methyl chloroform, methyl bromide,

chloro fluoro carbon (CFC) 7) Industri bahan kimia schedule I konvensi

senjata kimia (sarin, soman, tabun mustard, levisite, ricine, saxitoxin, VX,

dll.)

g. Penyediaan dan penyelenggaraan terminal darat

53
Lampiran I Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010, tentang Daftar Bidang Usaha yang
Tertutup dan yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Universitas Sumatera Utara


39

h. Penyelenggaraan dan pengoperasian jembatan timbang

i. Penyelenggaraan pengujian tipe kendaraan bermotor

j. Penyelenggaraan pengujian berkala kendaraan bermotor

k. Telekomunikasi/sarana bantu navigasi pelayaran

l. Vassel Traffic Information System (VTIS)

m. Jasa pemanduan lalu lintas udara

n. Manejemen dan Penyelenggaraan Stasiun Monitoring Spektrum Frekuensi

Radio dan Orbit Satelit

o. Museum pemerintah

p. Peninggalan sejarah dan purbakala (candi, keratin, prasasti, bangunan kuno,

dsb)

q. Pemukiman/lingkungan adat

r. Monumen

s. Perjudian/Kasino.

Daftar bidang usaha yang tertutup dalam Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun

2010 ini jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan daftar bidang usaha yang

dinyatakan tertutup dalam Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2007, dimana pada

Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2007 terdapat 23 bidang usaha yang

dinyatakan terutup. Hal ini dikarenakan terdapat tiga bidang usaha yang dikeluarkan

dari daftar bidang usaha yang tertutup, yakni:

a. Objek ziarah, seperti: tempat peribadatan, petilasan, dan makam;

Universitas Sumatera Utara


40

b. Lembaga penyiaran publik radio dan televisi;

c. Industri siklamat dan sakarin.

Bidang usaha yang tertutup dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan non

komersial seperti, penelitian dan pengembangan dan mendapat persetujuan dari

sektor yang bertanggung jawab atas pembinaan bidang usaha tersebut. 54

Bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan adalah bidang usaha tertentu

yang dapat diusahakan sebagai kegiatan penanaman modal dengan syarat tertentu,

yaitu bidang usaha yang dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan

Koperasi, bidang usaha yang dipersyaratkan dengan kemitraan, bidang usaha yang

dipersyaratkan kepemilikan modalnya, bidang usaha yang dipersyaratkan dengan

lokasi tertentu,dan bidang usaha yang dipersyaratkan dengan perizinan khusus.55

Daftar bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan ini telah ditentukan

dalam Lampiran II Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang

Usaha yang Tertutup Dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di

Bidang Penanaman Modal.

Adanya pengaturan dan penetapan bidang usaha bagi penanaman modal oleh

pemerintah, tentunya harapan dari pemerintah untuk mengarahkan penanaman modal

sesuai dengan rencana pembangunan nasional maupun dengan kebutuhan dan

perkembangan keadaan bangsa Indonesia. Untuk itu penentuan bidang usaha bagi

54
Salim H.S. dan Budi Sutrisno, op. cit., hal. 56.
55
Pasal 2 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha
yang Tertutup dan Daftar Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman
Modal.

Universitas Sumatera Utara


41

penanaman modal khususnya penanaman modal asing sangat wajar dan sesuai

dengan landasan dan dasar untuk mengundang penanaman modal khususnya

penanaman modal asing masuk ke Indonesia.

4. Hak dan Kewajiban Penanaman Modal

Hak dan kewajiban penanam modal, khususnya penanaman modal asing telah

ditentukan dalam Pasal 8, Pasal 10, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 18 Undang-Undang

Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Hak investor asing, disajikan

berikut ini:

a. Mengalihkan aset yang dimilikinya kepada pihak yang diinginkannya;

b. Melakukan transfer dan repatriasi dalam valuta asing.

Hak transfer merupakan suatu perangsang untuk menarik penanam modal

asing. Repatriasi (pengiriman) dengan bebas dalam bentuk valuta asing, tanpa

ada penundaaan yang didasarkan pada perlakuan non diskriminasi, sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak-hak transfer dan

repatrisiasi ini, meliputi:

1) Modal;

2) Keuntungan, bunga bank, deviden, dan pendapatan lainnya;

3) Dana-dana yang diperlukan, untuk :

a) Pembelian bahan baku dan penolong, barang setengah jadi atau

barang jadi; atau

Universitas Sumatera Utara


42

b) Penggantian barang modal dalam rangka untuk melindungi

kelangsungan hidup penanaman modal.

4) Tambahan dana yang diperlukan bagi pembiayaan penanaman modal;

5) Dana-dana untuk pembayaran kembali pinjaman;

6) Royalti atau biaya yang harus dibayar;

7) Pendapatan dari perseorangan Warga Negara Asing yang bekerja dalam

perusahaan penanaman modal;

8) Hasil penjualan atau likuidasi penanaman modal;

9) Kompensasi atas kerugian;

10) Kompensasi atas pengambilalihan;

11) Pembayaran yang dilakukan dalam rangka:

a) Bantuan teknis;

b) Biaya yang harus dibayar untuk jasa teknik dan manajemen;

c) Pembayaran yang dilakukan di bawah kontrak proyek; dan

d) Pembayaran hak atas kekayaan intelektual.

12) Hasil penjualan aset.

Hak ini, tidak mengurangi kewenangan pemerintah untuk:

a) Memberlakukan ketentuan peraturan perunadang-undangan yang

mewajibkan pelaporan pelaksanaan transfer dana; dan

b) Hak pemerintah untuk mendapatkan pajak dan/atau royalti dan/atau

pendapatan pemerintah lainnya dari penanaman modal.

Universitas Sumatera Utara


43

c. Menggunakan tenaga ahli Warga Negara Asing untuk jabatan dan keahlian

tertentu.

d. Mendapat kepastian hak, hukum, dan perlindungan.

e. Informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya.

f. Hak pelayanan.

g. Berbagai bentuk fasilitas kemudahan.

Kewajiban penanaman modal, khususnya investor asing telah ditentukan

dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.

Kewajiban itu, meliputi:

a. Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik;

Sistem tatakelola organisasi perusahaan yang baik ini menuntut dibangunnya

dan dijalankannya prinsip-prinsip tata kelola perusahaan (GCG) dalam proses

manajerial perusahaan. Dengan mengenal prinsip-prinsip yang berlaku secara

universal ini diharapkan perusahaan dapat hidup secara berkelanjutan dan

memberikan manfaat bagi para stakeholder-nya.

b. Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan;

Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility

(untuk selanjutnya disebut CSR) mungkin masih kurang popular dikalangan

pelaku usaha nasional. Namun, tidak berlaku bagi pelaku usaha asing.

Kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan secara sukarela itu, sudah

biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional ratusan tahun lalu.

Universitas Sumatera Utara


44

Penjelasan Pasal 15 huruf b UU Penanaman Modal menyebutkan bahwa yang

dimaksud dengan “tanggung jawab sosial perusahaan” adalah tanggung

jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap

menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan,

nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.

Pelaksanaan CSR yang baik dan benar sesuai dengan aturan hukum yang

berlaku akan berimplikasi pada iklim penanaman modal yang kondusif.

Untuk bisa mewujudkan CSR setiap pelaku usaha (investor) baik dalam

maupun asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI wajib melaksanakan

aturan dan tunduk kepada hukum yang berlaku di Indonesia, sebaliknya

pemerintah sebagai regulator wajib dan secara konsisten menerapkan aturan

dan sanksi apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan yang

tidak melaksanakan CSR sesuai dengan ketentuan undang-undang yang

berlaku.

c. Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya

kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal;

Dalam penerapan prinsip akuntabilitas menurut Undang-Undang Nomor 25

Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, setiap penanam modal berkewajiban

menerapkan prinsip akuntabilitas sebagai salah satu prinsip tata kelola

pemerintahan yang baik dengan membuat laporan kegiatan penanaman modal

dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Universitas Sumatera Utara


45

Pelaksanaan prinsip akuntabilitas kaitannya dengan Undang-Undang Nomor

40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, direksi dan komisaris mempunyai

tanggung jawab hukum yang sama dengan direksi atas laporan keuangan

yang menyesatkan yang menyebabkan kerugian bagi pihak lainnya.

d. Menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha

penanaman modal; dan

Hal ini berarti bahwa sebelum perusahaan patungan didirikan harus didahului

dengan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghindari hal-hal yang tidak

diinginkan di kemudian hari. Dengan demikian perencanaan penanaman

modal ke depan merupakan perencanaan yang harus melibatkan semua

stakeholder baik unsur Pemerintah, unsur Swasta maupun Masyarakat.

e. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang tentang Penanaman Modal didasarkan pada semangat untuk

menciptakan iklim penanaman modal yang kondusif dan mengatur hal-hal

yang dinilai penting, antara lain yang terkait dengan cakupan undang-undang,

kebijakan dasar penanaman modal, bentuk badan usaha, perlakuan terhadap

penanaman modal, bidang usaha, serta keterkaitan pembangunan ekonomi

dengan pelaku ekonomi kerakyatan yang diwujudkan dalam pengaturan

mengenai pengembangan penanaman modal bagi usaha mikro, kecil,

menengah, dan koperasi, hak, kewajiban, dan tanggung jawab penanam

modal, serta fasilitas penanaman modal, pengesahan dan perizinan,

Universitas Sumatera Utara


46

koordinasi dan pelaksanaan kebijakan penanaman modal yang di dalamnya

mengatur mengenai kelembagaan, penyelenggaraan urusan penanaman

modal, dan ketentuan yang mengatur tentang penyelesaian sengketa.

Oleh karena hal tersebut di atas, agar tercipta pelaksanaan penanaman modal

asing yang kondusif, maka segala aspek penanaman modal harus patuh pada

peraturan perundang-undangan yang ada

Di samping hak dan kewajiban itu harus ditaati oleh penanaman modal,

khususnya penanam modal asing, penanam modal juga mempunyai tanggung jawab

lainnya. Tanggung jawab adalah suatu keadaan menanggung segala sesuatu yang

berkaitan dengan penanaman modal. Tanggung jawab itu telah ditentukan dalam

Pasal 16 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Ada

enam tanggungjawab penanam modal, khususnya penanam modal asing, yaitu:

a. Menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak

bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. Menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika

penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan

kegiatan usahanya secara sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan;

c. Menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli,

dan hal lain yang merugikan negara;

d. Menjaga kelestarian lingkungan hidup;

Universitas Sumatera Utara


47

e. Menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan

pekerja; dan

f. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan artinya bahwa

investor asing yang menanamkan investasinya di Indonesia, tidak hanya mematuhi

peraturan perundang-undangan di bidang penanam modal, tetapi juga di bidang

lainnya, misalnya di bidang lingkungan hidup, kehutanan, perpajakan, pertahanan,

dan lain-lain. Apabila mereka melanggar peraturan perundang-undangan, maka dapat

dikenakan sanksi. Sanksi itu, berupa sanksi pidana, perdata, dan administratif. Sanksi

pidana merupakan sanksi yang dijatuhkan kepada badan hukum asing yang telah

melakukan perbuatan pidana. Sanksi perdata merupakan sanksi yang dijatuhkan

kepada investor asing yang telah melakukan perbuatan melawan hukum atau tidak

memenuhi prestasi sebagaimana ditentukan dalam kontrak. Sanksi administratif

merupakan sanksi yang dijatuhkan kepada badan hukum asing, yaitu dengan cara

mencabut izin yang telah diberikan kepada badan hukum asing tersebut.56

B. Kerjasama Antara Modal Asing dan Nasional

1. Bentuk-Bentuk Kerjasama Modal

Dalam Undang-Undang Penanaman Modal Asing ada dikenal bentuk-bentuk

kerjasama. Dilihat dari jangka waktu kerjasama, maka dunia praktisi menunjukkan

56
Salim H. S dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers,
2008), hal. 208-213.

Universitas Sumatera Utara


48

adanya dua macam kerjasama, yaitu kerjasama sementara57 dan kerjasama tetap

(permanen).58

Bentuk kerjasama yang dikenal dalam Undang-Undang Penanaman Modal

Asing berdasarkan klasifikasi dan/atau alasan-alasan tertentu, baik politik maupun

ekonomi dapat dibagi tiga yaitu:59

a. Kerjasama dalam bentuk joint venture. Dalam hal ini para pihak tidak

membentuk suatu badan hukum yang baru (badan hukum Indonesia).

b. Kerjasama dalam bentuk joint enterprise. Di sini para pihak bersama-sama

dengan modalnya (modal asing dan modal nasional) membentuk badan

hukum baru yaitu badan hukum Indonesia.

c. Kerjasama dalam bentuk kontrak karya, serupa dengan perjanjian kerjasama

dalam bidang pertambangan dan gas bumi yang telah ada sebelum UUPMA

diundangkan. Dalam bentuk kerjasama tersebut, pihak asing (investor asing)

membentuk badan hukum Indonesia. Badan hukum dengan modal asing

inilah yang menjadi pihak pada perjanjian yang bersangkutan. Sedangkan

pihak yang lainnya, adalah badan hukum dengan modal nasional, yakni

sebagaimana pengertian modal nasional yang telah diberikan oleh memori

57
Adalah kerjasama yang berlangsung sementara, artinya ketika setelah tujuan kerjasama
tercapai dan masing-masing pihak telah melaksanakan hak dan kewajibannya, maka kerjasama
tersebut akan berakhir.
58
Adalah kerjasama yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan ditujukan untuk
selama-lamanya, jadi selama belum ada keinginan dari salah satu pihak untuk mengakhiri kerjasama
dikarenakan alasan-alasan tertentu, maka kerjasama akan tetap berlangsung hingga batas waktu yang
tidak ditentukan.
59
Ismail Suny, Tinjauan Dana Pembahasan Undang-undang Penanaman Modal Asing dan
Kredit Luar Negeri, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1968), hal. 108.

Universitas Sumatera Utara


49

Penjelasan Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal

Asing.

Didalam praktek bisnis, bentuk kerjasama telah berkembang lebih beragam

dari bentuk-bentuk konvensional yang dikenal dalam UUPMA. Pemerintah juga

dapat ikut serta dalam usaha patungan dalam rangka penanaman modal asing ini

yaitu melalui perusahaan negara.

Penetapan terhadap bentuk kerjasama usaha patungan antara modal asing

dengan pihak nasional dimaksudkan oleh pemerintah untuk memberikan

perlindungan serta peranan atau partisipasi pihak swasta nasional dalam pelaksanaan

penanaman modal asing di Indonesia. Hal lain adalah memberikan kesempatan pula

kepada perusahaan-perusahaan swasta nasional yang berskala kecil maupun dalam

usaha koperasi untuk dapat ikut berpartisipasi di dalamnya melalui pemilikan saham

terhadap penanaman modal asing yang telah melakukan aplikasi usahanya di

Indonesia. Dengan demikian diharapkan akan terjadi perimbangan modal antar

penanaman modal asing dengan penanaman modal dalam negeri yang dirasakan

sampai sekarang ini belum seimbang dalam hal pelaksanaannya. Oleh Todung Mulya

Lubis disebut sebagai tidak adanya suatu "domestic countervailing power

(pembatasan kekuasaan pemodal dalam negeri)", sehingga kerjasama yang dilakukan

antara penanaman modal asing dengan modal nasional diibaratkan sebagai istri yang

Universitas Sumatera Utara


50

kesekian kalinya tidak mempunyai bargaining position (posisi tawar) untuk

bertindak seimbang dalam hal penanaman modal di Indonesia.60

Pelaksanaan atau aplikasi penanaman modal khususnya penanaman modal

asing di Indonesia yang tidak melalui suatu usaha kerjasama dengan modal nasional

baik yang dilakukan oleh perorangan maupun badan hukum secara yuridis telah jelas

diatur di dalam ketentuan Undang-Undang Penanaman Modal Asing, bahwa baik

terhadap modal, kekuasaan maupun pengambilan keputusan seluruhnya dilakukan

sepenuhnya oleh pihak asing bilamana suatu perusahaan 100% modal sahamnya

dimiliki oleh pihak asing. Lain halnya bilamana dilakukan atau dilaksanakan dalam

suatu usaha kerjasama dengan pihak nasional, maka terdapat berbagai bentuk atau

corak maupun variasi kerjasama antara modal asing dengan modal nasional baik

dalam wujud perimbangan modal, kekuasaan dan pengambilan keputusan. 61

Ismail Suny dan Rudioro Rochmat, mengemukakan bahwa ada 3 (tiga)

macam bentuk kerjasama (joint venture) antara modal asing dengan modal nasional

sesuai dengan Pasal 23 UU Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing

(PMA), yakni joint venture, joint enterprise, dan kontrak karya. Meskipun

sebenamya istilah "joint enterprise" adalah juga merupakan atau termasuk dalam

pengertian "joint venture".62 Oleh Sunaryati Hartono diuraikan bahwa sebenarnya

istilah-istilah "joint venture" oleh para ahli yang berbahasa Inggris dipergunakan

60
Todung Mulya Lubis, Hukum Ekonomi, (Jakarta: Sinar Harapan, 1992), hal. 23.
61
Aminuddin Ilmar, Op. cit., hal. 57.
62
Ismail Suny dan Rudioro Rochmat, Tinjauan dan Pembahasan UUPMA dan Kredit Luar
Negeri, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1967), hal. 108.

Universitas Sumatera Utara


51

sebagai istilah "verzamelnaam" untuk berbagai bentuk kerjasama antara penanaman

modal nasional dengan penanaman modal asing.63

Dalam ketentuan umum Bab I Pasal 1 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007

Tentang Penanaman Modal (UUPM) mendefinisikan Penanaman Modal adalah

segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanaman modal dalam negeri

maupun penanaman modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik

Indonesia.64 Lebih lanjut untuk pengaturan penanaman modal asing yang melakukan

kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia dalam pelaksanaannya dapat

menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan

penanaman modal dalam negeri.65

Adanya berbagai pengertian terhadap investasi asing diharapkan dapat

membuka wawasan pemikiran, bahwa pengertian penanaman modal khususnya

modal asing bukan hanya terdapat dalam Undang-Undang Penanaman Modal saja,

sehingga pemahaman terhadap investasi asing beserta implikasinya dapat lebih

dimengerti. Pengaturan investasi di Indonesia yang terdapat dalam Undang-Undang

Penanaman Modal hanya membatasi ruang lingkup investasi pada investasi secara

langsung dan tidak termasuk investasi secara tidak langsung atau melalui investasi

portofolio.66

63
Sunaryati Hartono, Op. cit, hal. 127.
64
Undang-undang Nomor. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal Pasal 1.
65
Ibid,Pasal 1 ayat (3).
66
Penjelasan Pasal 2 Undang-Undang Penanaman Modal, antara lain menyatakan: “yang
dimaksud dengan “penanaman modal di semua sektor wilayah Republik Indonesia” adalah
penanaman modal langsung dan tidak termasuk penanaman modal tidak langsung atau portofolio”.

Universitas Sumatera Utara


52

Oleh karena Undang-Undang Penanaman Modal hanya memberikan batasan

pada investasi langsung dan tidak termasuk investasi tidak langsung, maka Undang-

Undang Penanaman Modal tidak mengenal definisi berdasarkan aset (asset based

definition), yang memungkinkan perlindungan dalam status penanaman modal asing

diberikan kepada setiap kegiatan usaha yang di dalamnya terkandung aset asing.

Pengertian berdasarkan aset atau transaksi bisa mengarah kepada perlindungan

terhadap semua transaksi modal yang dilakukan orang asing, tidak terkecuali apakah

transaksi tersebut bersifat jangka pendek atau spekulatif.67

Secara umum penanaman modal digolongkan dalam dua bentuk kegiatan

investasi, yaitu investasi secara langsung (direct investment) dan investasi portofolio

(portofolio investment). Investasi dilakukan secara langsung, dimana investor hadir

langsung secara fisik ke tempat tujuan investasi dengan membawa seluruh sumber

daya yang dipergunakan, menjalankan usaha dan turut mengendalikan kegiatan

investasi yang bersangkutan. Sedangkan investasi portofolio, dimana investor tidak

perlu hadir secara fisik. Tujuan utama investor tidak untuk mendirikan perusahaan,

melainkan hanya membeli saham atau surat berharga lainnya dengan tujuan untuk

mendapatkan keuntungan melalui penjualan kembali saham atau surat berharga

tersebut (capital gain).68

67
Mahmul Siregar, Perdagangan Internasional dan Penanaman Modal, (Medan: Universitas
Sumatera Utara, 2005), hal. 386-387.
68
Budiman Ginting dan Mahmul Siregar, Pengantar Hukum Investasi (Penanaman Modal),
Modul Perkuliahan, FH USU, 2009.

Universitas Sumatera Utara


53

Pengertian yang dianut dalam Undang-Undang Penanaman Modal adalah

definisi berdasarkan enterprised based definition karena lebih fokus pada investasi

yang sifatnya jangka panjang. Investasi langsung dalam jangka panjang akan

memungkinkan negara-negara berkembang mengambil manfaat yang lebih banyak,

tidak saja dari segi masuknya devisa, tetapi juga dari segi peningkatan produksi,

penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan keterampilan,

penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen serta penyerapan tenaga

kerja.69

Istilah joint venture agreement sengaja tidak diterjemahkan menjadi usaha

patungan sebagaimana telah dikenal di Indonesia, hal tersebut bertujuan untuk tidak

terjadi salah pengertian, karena usaha patungan sendiri dapat saja berbetuk joint

venture, joint enterprise, kontrak karya, production sharing, penanaman modal

dengan DICS-rupiah (Debt Investment Conversion Schema), penanaman modal

dengan kredit investasi dan portofolio investment. Joint venture agreement atau biasa

disebut perjanjian kerjasama patungan adalah suatu kontrak yang mengawali

kerjasama joint venture, kontrak ini menjadi dasar pembentukan atau pendirian joint

venture company.70 Sedangkan joint enterprise merupakan suatu bentuk kerjasama

yang membentuk suatu badan hukum (perusahaan), yang terbentuk dari perjanjian

69
Ibid, hal. 387.
70
Ridwan Khairandy, “Kompetensi Absolut Dalam Penyelesaian Sengketa Di Perusahaan
Joint Venture”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol 26, No. 4, Tahun 2007, hal. 43.

Universitas Sumatera Utara


54

antara pemilik modal asing dan modal nasional yang modalnya antara lain terdiri dari

modal dalam nilai rupiah dan modal yang dinyatakan daiam valuta asing. 71

Jadi, seperti yang disebut oleh Ismail Suny dan Rudiono Rochmat dengan

"joint enterprise" juga merupakan salah satu bentuk daripada "joint venture". Namun

pembedaan yang dilakukan oleh Ismail Suny dan Rudiono Rochmat tersebut secara

resmi telah dipergunakan oleh pemerintah, sehingga pemakaian istilah tersebut sudah

menjadi lazim adanya. Dalam hal "joint venture" diartikan sebagai para pihak tidak

membentuk badan hukum baru, akan tetapi suatu kerjasama yang semata-mata

bersifat kontraktuil, sedang dalam hal "joint enterprise" terjadi penggabungan modal

nasional ke dalam satu badan hukum Indonesia. Lalu kemudian kontrak karya

diartikan sebagai pihak asing membentuk suatu badan hukum Indonesia dan badan

hukum Indonesia itu bekerjasama lagi dengan badan hukum (nasional) Indonesia

yang lain.72

2. Manfaat Kerjasama Modal Bagi Indonesia

Keberadaan penanaman modal asing tidak dapat dipungkiri telah memberi

banyak manfaat bagi negara penerima modal (host country), begitu pula bagi

investor maupun bagi negara asal (home country). Kehadiran investor asing sebagai

tamu, perlu diberikan tata krama sebagaimana tamu yang berada di rumah orang,

yang mempunyai kedaulatan penuh di rumahnya.

71
http://www.researchgate.net/publication/42354250_Perjanjian_Kerjasama_Modal_
Asing_Dan_Modal_Nasional_Berdasarkan_Undang-Undang_PMA_No.1_Tahun_1967_jo._ Undang-
Undang_No.11_Tahun_1970. Diakses tanggal 5 Juli 2011.
72
Aminuddin Ilham, Op. cit, hal. 60.

Universitas Sumatera Utara


55

Terlepas dari pendapat pro dan kontra terhadap kehadiran investor asing,

namun secara teoritis kiranya dapat dikemukakan, bahwa kehadiran investor asing di

suatu negara mempunyai manfaat yang cukup luas (multiplier effect). Manfaat yang

dimaksud, yakni kehadiran investor asing dapat menyerap tenaga kerja di negara

penerima modal, dapat menciptakan tuntutan bagi produk dalam negeri sebagai

bahan baku, menambah devisa apalagi investor asing yang berorientasi ekspor, dapat

menambah penghasilan negara dari sektor pajak, adanya alih teknologi (transfer of

technology) maupun alih pengetahuan (transfer of know how). Dilihat dari sudut

pandang ini terlihat bahwa, kehadiran investor cukup berperan dalam pembangunan

ekonomi suatu negara, khususnya pembangunan ekonomi di daerah dimana Foreign

Direct Investment (FDI) menjalankan aktifitasnya.73

Arti pentingnya kehadiran investor asing dikemukakan Gunarto Suhardi:

investasi langsung lebih baik jika dibandingkan dengan investasi portofolio, karena

langsung lebih permanen. Selain itu investasi langsung:74

a. memberikan kesempatan kerja bagi penduduk;

b. mempunyai kekuatan penggandaan dalam ekonomi lokal;

c. memberikan residu baik berupa peralatan maupun alih teknologi;

d. apabila produksi diekspor memberikan jalan atau jalur pemasaran yang dapat

dirunut oleh pengusaha lokal disamping seketika memberikan tambahan

devisa dan pajak bagi negara;

73
Hendrik Budi Untung, Hukum Investasi, cet. 1, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hal. 41-42.
74
Ibid, hal. 42.

Universitas Sumatera Utara


56

e. lebih tahan terhadap fluktuasi bunga dan valuta asing;

f. memberikan perlindungan politik dan keamanan wilayah karena bila investor

berasal dari negara kuat niscaya bantuan keamanan juga akan diberikan.

Bagi investor/penanam modal atau yang dalam hal ini Perusahaan

Multinasional, manfaat dari kegiatan penanaman modal asing secara langsung

(foreign direct investment) yang mereka lakukan pada dasarnya sama dengan alasan

mereka untuk melakukan investasi secara langsung tersebut.

Adapun alasan-alasan suatu Perusahaan Multinasional melakukan investasi

secara langsung ke luar negeri, antara lain:75

a. alasan kedekatan dengan sumber bahan baku;

b. untuk menghindari Daftar Negatif Investasi (DNI) di negara asal;

c. karena alasan upah buruh yang murah;

d. mencari pasar yang baru;

e. untuk mendapatkan royalti;

f. untuk mendapatkan insentif investasi di negara tujuan;

g. untuk menghindari penurunan nilai mata uang;

h. karena alasan status tertentu suatu negara dalam Perdagangan Internasional.

75
Mahmul Siregar, Hukum Investasi (Bahan Kuliah), Medan, 27 Januari 2009.

Universitas Sumatera Utara


57

C. Joint Venture Agreement sebagai Bentuk Kerjasama Modal

1. Karakteristik Joint Venture Company

Bentuk badan usaha bagi penanaman modal di Indonesia berdasarkan

ketentuan Pasal 5 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

adalah sebagai berikut:

a. Penanaman modal dalam negeri dapat dilakukan dalam bentuk badan usaha

yang berbadan hukum, tidak berbadan hukum atau usaha perseorangan sesuai

dengan peraturan perundang-undangan.

b. Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan

hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia,

kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.

c. Penanaman modal dalam negeri maupun asing yang melakukan penanaman

modal dalam bentuk perseroan terbatas dilakukan dengan :

1) Mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas;

2) Membeli saham;

3) Melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan.

Sebagaimana yang telah dijabarkan dalam ketentuan diatas, maka badan

usaha yang berstatus sebagai penanaman modal asing berbentuk Perseroan Terbatas

(PT). Namun didalam Undang-Undang Penanaman Modal tidak dijelaskan alasan

harus berbentuk perseroan terbatas. Akan tetapi bila dicermati, hal ini berkaitan

Universitas Sumatera Utara


58

dengan eksistensi perseroan terbatas sebagai subjek yang mandiri. Artinya dapat

menggugat dan digugat di pengadilan jika berkaitan dengan pranata hukum. 76

Perseroan terbatas sebagai badan usaha yang berbadan hukum mempunyai

ciri tersendiri jika dibandingkan dengan badan usaha lainnya yakni PT mempunyai

kekayaan sendiri terlepas dari pemilik (pemegang sahamnya) dan berhak menuntut

dan dituntut di pengadilan. Secara normatif, badan usaha yang berbentuk PT diatur

dalam undang-undang tersendiri yakni Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang

Perseroan Terbatas. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa PT adalah badan

hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian.

Pengelolaan perusahaan dan struktur manajemen yang harus dijalankan oleh

joint venture company adalah suatu hal yang sangat penting untuk suksesnya joint

venture company. Ada 4 (empat) model manajemen untuk joint venture company

yaitu :77

a. Model transplant, dimana perusahaan induk mencangkokkan rumus-rumus

bisnis mereka dan praktek-praktek manajemen mereka kepada joint venture

company tersebut;

b. Model dominant parent, dimana gaya manajemen yang dominan berasal dari

pemegang saham mayoritas dan bagian-bagian yang lebih rendah diberikan

kepada pemegang saham minoritas;

76
Sentosa Sembiring, Hukum Investasi, (Bandung: Nuansa Aulia, 2007), hal. 201.
77
Erman Radjagukguk, Hukum Investasi di Indonesia: Pokok Bahasan, Universitas
Indonesia, (Jakarta: FH UI, 2005), hal. 153.

Universitas Sumatera Utara


59

c. Model independent roles, dimana masing-masing pemegang saham

mempunyai penyertaan yang sama dalam manajemen, dan sebagai akibatnya

terdapat tanggungjawab yang terpisah untuk fungsi-fungsi manajemen

tertentu;

d. Model shared management, dimana manajemen pada tingkat puncak

merupakan tugas-tugas bersama dengan tanggungjawab bersama terhadap

perusahaan induknya masing-masing.

2. Dasar Hukum Pembentukan

Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal adalah

pembaharuan payung hukum investasi di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai

undang-undang pada tanggal 29 Maret Tahun 2007. Sebelumnya, undang-undang

tersebut didahului oleh undang-undang penanaman modal lainnya, yaitu Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing jo Undang-Undang

No. 11 Tahun 1970 Tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang No. 1 Tahun

1967 Tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968

Tentang Penanaman Modal Dalam Negeri.

UUPM telah mencabut semua ketentuan sebelumnya, namun ketentuan

pelaksanaan dari undang-undang sebelumnya dinyatakan tetap berlaku sepanjang

tidak bertentangan dengan dan belum diatur dengan peraturan pelaksanaan yang baru

berdasarkan UUPM. Ketentuan ini didasarkan oleh Pasal 38 ayat (1) UUPM.

Universitas Sumatera Utara


60

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal secara

tidak langsung menyatakan bentuk kerjasama antara modal dalam negeri dengan

modal asing dalam bentuk joint venture. Mengadakan joint venture agreement

merupakan langkah awal dalam membentuk joint venture company. Di mana di

dalam joint venture agreement berisikan kesepakatan para pihak tentang kepemilikan

modal, saham, peningkatan kepemilikan saham penyertaan, keuangan, kepengurusan,

teknologi dan tenaga ahli, penyelesaian sengketa yang mungkin akan terjadi, dan

berakhirnya joint venture agreement.

Joint venture agreement yang merujuk kepada ketentuan umum hukum

perjanjian yang diatur di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH

Perdata). KUH Perdata terutama Buku III mengenai perikatan yang erat kaitannya

dengan joint venture agreement. KUH Perdata mengatur ketentuan dasar suatu

perjanjian, yaitu Pasal 1313 mengenai arti perjanjian, Pasal 1320 mengenai

persyaratan perjanjian, Pasal 1338 mengenai pemberlakuan sebuah perjanjian yang

mengikat para pihak. Penanaman modal asing di Indonesia yang mensyaratkan

adanya joint venture antara pemodal asing dengan pemodal nasional, membentuk

suatu perjanjian yang disebut joint venture agreement, Pasal 1319 KUH Perdata

menyatakan bahwa:

“Semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus, maupun yang tidak

terkenal dengan suatu nama tertentu tunduk pada peraturan-peraturan

umum, yang termuat dalam bab ini dan bab yang lalu.”

Universitas Sumatera Utara


61

Buku III menjadi dasar hukum dalam mengadakan perikatan, termasuk

perikatan antara pemodal asing maupun pemodal nasional dalam rangka penanaman

modal di wilayah Republik Indonesia.

Pengusaha asing dan pengusaha lokal membentuk suatu perusahaan baru

yang disebut joint venture company di mana mereka menjadi pemegang saham yang

besarnya sesuai dengan kesepakatan bersama.78 Lahirnya joint venture company

yang berbentuk badan hukum yakni perseroan terbatas, tunduk kepada hukum

perusahaan dalam hal ini Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan

Terbatas.

3. Bidang Usaha yang Dijalankan

Semua bidang usaha atau jenis usaha pada dasarnya terbuka bagi kegiatan

penanaman modal, kecuali bidang usaha yang dinyatakan tertutup dan terbuka

dengan persyaratan seperti yang dijelaskan dalam Pasal 12 ayat (1) UU No.25 Tahun

2007 Tentang Penanaman Modal dan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2007

Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 jo Peraturan

Presiden Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Dan

Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal.

Maksudnya adalah bidang usaha atau jenis usaha yang tertutup dan yang terbuka

dengan persyaratan ditetapkan melalui Peraturan Presiden yang disusun dalam suatu

daftar berdasarkan standar klasifikasi tentang bidang usaha atau jenis usaha yang

78
Erman Radjagukguk, Op. cit, 2006, hal. 117.

Universitas Sumatera Utara


62

berlaku di Indonesia. Sedangkan dalam Pasal 12 ayat (2) disebutkan mengenai

bidang-bidang usaha apa saja yang tertutup bagi penanaman modal asing, walaupun

tidak secara terperinci.

Di dalam undang-undang hanya menyebutkan bidang usaha yang tertutup

bagi penanaman modal asing adalah produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan

peralatan perang serta bidang-bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup

berdasarkan undang-undang. Alat peledak yang dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2)

adalah alat peledak yang digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.

Kriteria yang menjadi dasar pertimbangan pemerintah berdasarkan Peraturan

Presiden untuk menetapkan bidang usaha apa saja yang tertutup bagi penanaman

modal, baik asing maupun dalam negeri adalah berdasarkan kriteria kesehatan,

moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan nasional serta

kepentingan nasional lainnya, hal tersebut tertuang dalam Pasal 12 ayat (3).

Bidang usaha yang terbuka bagi penanaman modal ditetapkan oleh

pemerintah berdasarkan kriteria kepentingan nasional, yaitu perlindungan sumber

daya alam, perlindungan pengembangan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi,

pengawasan produksi dan distribusi, peningkatan kapasitas teknologi, partisipasi

modal dalam negeri serta kerjasama dengan badan usaha yang ditunjuk oleh

pemerintah, semua dijelaskan di dalam Pasal 12 ayat (5) UU No. 25 Tahun 2007

Tentang Penanaman Modal.

Universitas Sumatera Utara


63

Pemerintah mengesahkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No.76

Tahun 2007 Tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha Yang

Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang

Penanaman Modal dan secara bersamaan juga dikeluarkan Peraturan Presiden

Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan

Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2007 jo Peraturan Presiden Nomor 36

Tahun 2010 Tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang

Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Pengesahan kedua

Peraturan Presiden tersebut berfungsi sebagai peraturan pelaksanaan Pasal 12 ayat

(4) dan Pasal 13 ayat (1) UU No.25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.

4. Pembatasan Pemilikan Saham

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing

sebenarnya tidak terdapat suatu ketentuan yang mewajibkan suatu perusahaan

penanaman modal asing mempunyai mitra lokal, dan tidak ada larangan atas

keberadaan suatu perusahaan yang 100% (seratus persen) terdiri dari modal asing.

Baru pada tahun 1974 setelah meluas Peristiwa MALARI (malapetaka 15 Januari)

telah dilakukan pembatasan terhadap penanaman modal asing. Ketika itu pemerintah

menetapkan bahwa investor asing yang akan menanam modal di Indonesia harus

berpatungan dengan perusahaan lokal atau perusahaan domestik.79

79
Amrial, Hukum Bisnis (Deregulasi Dan Joint venture di Indonesia teori dan Praktek),
(Jakarta: Djambatan, 1996), hal. 57.

Universitas Sumatera Utara


64

Sebagai suatu bahan referensi mengenai pembatasan pemilikan saham

penanaman modal asing dapat dilihat dalam GBHN Tahun 1988, dimana secara

eksplisit dinyatakan bahwa penanaman modal asing harus dilaksanakan dengan

membentuk usaha patungan, atau untuk lebih jelasnya yaitu:

“Penanaman modal asing dilaksanakan dalam bentuk usaha patungan dan

disertai dengan syarat menciptakan lapangan kerja, memungkinkan

pengalihan keterampilan dan teknologi kepada bangsa Indonesia.............”

Dalam kaitanya dengan hal di atas, ketentuan mengenai Pemilikan Saham

Dalam Perusahaan Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing diatur

dalam Peraturan Pemerintah No. 83 Tahun 2001 jo Peraturan Pemerintah No. 20

Tahun 1994 jo Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1993 jo Peraturan Pemerintah

No. 17 Tahun 1992.

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 83 Tahun 2001 jo

Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994 dikatakan penanaman modal asing dapat

dilakukan dalam bentuk:

a. Patungan antara modal asing dengan modal yang dimiliki Warga Negara

Indonesia dan atau badan hukum Indonesia;

b. Langsung, dalam arti seluruh modalnya dimiliki oleh Warga Negara Asing

dan/atau badan hukum asing.

Bagian dari Pasal 2 ayat (1) ini untuk selanjutnya ditambah lagi dengan syarat

yang terdapat pada Pasal 7 ayat (1) yaitu bahwa perusahaan yang didirikan dengan

Universitas Sumatera Utara


65

seluruh modalnya dimiliki oleh investor asing ini, dalam jangka waktu 15 (lima

belas) tahun sejak produksi komersial haruslah menjual sebagian sahamnya kepada

Warga Negara Indonesia melalui pemilikan langsung atau melalui pasar modal

dalam negeri. Besarnya saham yang dijual adalah sesuai dengan kesepakatan para

pihak terkait didasarkan pada prinsip kerjasama yang saling menguntungkan dan

kelangsungan kegiatan usaha perusahaan dan/atau ketentuan pasar modal dalam

negeri.

Namun terdapat beberapa Pasal yang bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan yang kedudukannya lebih tinggi serta pemilikan saham yang

dirasa sangat merugikan negara dan juga diperbolehkan permodalan asing ikut serta

menguasai hajat hidup orang banyak yang seharusnya dikuasai oleh negara yaitu

dalam Peraturan Pemerintah No. 83 Tahun 2001 jo Peraturan Pemerintah No.

Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994, penanaman modal asing dapat

menjangkau kegiatan-kegiatan usaha yang tergolong penting bagi negara yang dapat

menguasai hajat hidup orang banyak. Walaupun tidak dapat dikuasai oleh modal

asing secara langsung (100% dikuasai) akan tetapi modal asing dapat menguasai

maksimal 95% sedangkan 5% dikuasai oleh negara atau swasta nasional. Sedangkan

dalam peraturan sebelumnya, persentase modal milik negara atau swasta nasional

sebesar 60% saham dan modal asing hanya dapat menguasai modalnya sebesar 40%

sehingga sebagian besar keuntungan perusahaan masih tetap masuk ke kas negara.

Universitas Sumatera Utara


66

Pasal 5 Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 menyebutkan:

Dalam hal terjadi perubahan kepemilikan modal akibat penggabungan,

pengambilalihan, atau peleburan dalam perusahaan penanaman modal yang bergerak

di bidang usaha yang sama, berlaku ketentuan sebagai berikut:

a. Batasan kepemilikan modal penanam modal asing dalam perusahaan

penanaman modal yang menerima penggabungan adalah sebagaimana yang

tercantum dalam surat persetujuan perusahaan tersebut.

b. Batasan kepemilikan modal penanam modal asing dalam perusahaan

penanaman modal yang mengambil alih adalah sebagaimana tercantum dalam

surat persetujuan perusahaan tersebut.

c. Batasan kepemilikan modal penanam modal asing dalam perusahaan baru

hasil peleburan adalah sebagaimana ketentuan yang berlaku pada saat

terbentuknya perusahaan baru hasil peleburan dimaksud.

Untuk mengetahui besarnya tanggungjawab dalam arti hak dan kewajiban

dari tiap peserta dalam hubungannya dengan perseroan terbatas, maka sebagai

ukuran ditentukanlah besarnya pemilikan saham setiap peserta pemilik modal. Jadi,

dengan modal yang disertakan, tanggung jawab pemegang saham atas hutang-hutang

perseroan terbatas maksimal sampai jumlah nilai saham yang dimiliki.

Universitas Sumatera Utara


67

5. Lahirnya Joint venture Company Dalam Bentuk Perseroan Terbatas

melalui Joint venture Agreement

Joint venture Agreement antara investor asing dengan nasional bertujuan

untuk membentuk perusahaan joint venture dan menjalankan kegiatan ekonominya

sebagai sebuah badan hukum. Badan hukum yang ditetapkan oleh UUPM untuk

perusahaan joint venture bermodalkan asing adalah perseroan terbatas (PT), yang

diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

1. Pembuatan Akta Pendirian dan Anggaran Dasar

Perseroan Terbatas sebagai badan hukum memiliki kekayaan sendiri yang

terlepas dari kekayaan para pendiri dan pemilik sahamnya atau dari perusahaan

induknya.

Joint venture agreement yang telah disepakati kemudian menjadi akta

perjanjian sebagai syarat dalam mengajukan izin kepada BKPM dan bagi pembuatan

Badan Hukum Perseroan Terbatas. Bab II Pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 40

Tahun 2007 Tentang perseroan terbatas, menjelaskan bahwa:

“Perseroan didirikan oleh 2 orang atau lebih dengan akta notaris yang

dibuat dalam bahasa Indonesia”. 80

Tidak semua ketentuan-ketentuan yang disepakati dalam joint venture

agreement dapat dimasukan ke dalam akta pendirian perusahaan. Akta pendirian

perusahaan yang dibuat oleh notaris biasanya memiliki standar format yang sudah

80
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 7 ayat 1.

Universitas Sumatera Utara


68

ditetapkan, penetapan standar tersebut bertujuan untuk mempermudah proses

klarifikasi kelengkapan dokumen yang akan diajukan kepada Departemen Hukum

dan HAM.81

Para pihak tidak secara bebas dapat menentukan anggaran dasar, biasanya

pada saat pembuatan joint venture agreement para pihak juga membuat draft untuk

anggaran dasar perseroan, sehingga ketentuan yang ada dalam anggaran dasar tidak

berbeda jauh dengan joint venture agreement.

Akta pendirian memuat anggaran dasar dan keterangan lain yang berkaitan

dengan pendirian perseroan, keterangan lain tersebut sekurang-kurangnya memuat: 82

a. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, dan

kewarganegaraan pendiri perserorangan, atau nama, tempat kedudukan, dan

alamat lengkap serta nomor dan tanggal Keputusan menteri mengenai

pengesahan badan hukum dari pendirian perseroan;

b. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal,

kewarganegaraan, anggota direksi dan Dewan Komisaris yang pertama kali

diangkat;

c. Nama pemengang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian jumlah

saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor.

d. Dalam pembuatan akta pendirian, pendiri dapat diwakili oleh orang lain

berdasarkan surat kuasa.

81
Rudhi Prasetya, Op. cit., hal. 167.
82
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 8.

Universitas Sumatera Utara


69

Selain ketentuan yang dimaksud di dalam Pasal 8 UUPT, anggaran dasar

dapat juga memuat ketentuan lain yang tidak bertentangan dengan Undang-undang

Perseroan Terbatas.

Secara jelas UUPT menegaskan bahwa ketentuan yang berkaitan dengan

penerimaan bunga tetap atas saham; dan ketentuan tentang pemberian manfaat

pribadi kepada pendiri atau pihak lain, tidak boleh dimuat dalam anggaran dasar. 83

2. Pengesahan Badan Hukum

Akta pendirian dan anggaran dasar yang telah dibuat oleh pejabat notaris,

kemudian harus memperoleh Keputusan Menteri untuk disahkan sebagai Badan

Hukum Perseroan. Ketentuan ini dijelaskan dalam Pasal 9 UUPT sebagai berikut: 84

a. Untuk memperoleh keputusan menteri mengenai pengesahaan badan hukum

Perseroan sebagai mana yang dimaksud dalam Pasal 7 ayat 4, pendiri

bersama-sama mengajukan permohonan melalui jasa teknologi informasi

sistem administrasi badan hukum secara elektronik kepada menteri dengan

mengisi format isian yang memuat sekurang-kurangnya:

1) Nama dan tempat kedudukan perseroan;

2) Jangka waktu pendirian perseroan;

3) Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan;

4) Jumlah modal dasar, modal ditempat dan modal disetor;

5) Alamat lengkap perseroan

83
Ibid, Pasal 15 ayat 3 dan 4.
84
Ibid, Pasal 9.

Universitas Sumatera Utara


70

b. Pengisian format sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 harus didahului

dengan pengajuan nama perseroan;

c. Dalam hal pediri tidak mengajukan sendiri permohonan sebagaimana

dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2, pendiri hanya dapat memberi kuasa kepada

notaris.

d. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan dan pemakaian nama

perseroan diatur dengan peraturan pemerintah.

Pengajuan untuk mendapatkan pengesahaan dari menteri paling lambat

diajukan 60 (enam puluh) hari, terhitung sejak tanggal akta pendirian di tandatangani

para pendiri. Pengajuan tersebut harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen

pendukung. Menteri atas dasar pertimbangan kelengkapan dokumen permohonan

yang disampaikan melalui fasilitas elektronik, akan memberikan jawaban tidak

keberatan melalui fasilitas elektronik, begitu juga jika berkeberatan.85

Setelah pendiri menerima pemberitahuan tidak keberatan dari menteri, maka

selambat-lambatnya selama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pernyataan tidak

keberatan, para pemohon harus wajib menyampaikan secara fisik surat permohonan

yang dilampiri oleh dokumen pendukung. Setelah dipenuhi secara lengkap, paling

lambat 14 (empat belas) hari, menteri menerbitkan keputusan tentang pengesahaan

badan hukum perseroan yang ditandatangani secara elektronik.86

85
Ibid, Pasal 10 ayat 3 dan 4.
86
Ibid, Pasal 10 ayat 6

Universitas Sumatera Utara


71

Sistem pendirian dan pengesahaan anggaran dasar Perseroan Terbatas (PT)

secara online melalui Sistem Administrasi Badan Hukum (SISMINBAKUM), adalah

merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat yang diupayakan oleh Departemen

Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum

Umum. Fasilitas pelayanan tersebut mencakupi:87

a. Pengesahan Badan Hukum Perseroan Terbatas;

b. Permohonan Persetujuan dan Penerimaan Pemberitahuan Perubahaan

Anggaran Dasar Perseroan;

c. Penyampaian pelaporan akta perubahan anggaran dasar Perseroan Terbatas;

dan

d. Pemberian informasi lainya melalui elektronik

3. Daftar Perseroan dan Pengumuman

Setelah pemohon memperoleh pengesahan badan hukum perseroan oleh

menteri, maka perseroan dimasukan dalam daftar perseroan pada tanggal yang

bersamaan dengan tanggal Keputusan menteri mengenai pengesahaan badan hukum

perseroan,88 persetujuan atas perubahan anggaran dasar yang memerlukan

persetujuan.

Kemudian menteri melakukan pengumuman dalam Tambahan Berita Negara

Republik Indonesia, isi pengumaman tersebut meliputi:

87
Departemen Hukum dan HAM, Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. M-01.HT.01.01
Tahun 2008, Tentang Daftar Perseroan, Pasal 1 angka 2
88
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 29 ayat 3 (a)

Universitas Sumatera Utara


72

a. Akta pendirian perseroan beserta keputusan menteri sebagaimana yang

dimasud dalam Pasal 7 ayat 4 UUPT;

b. Akta perubahan anggaran dasar perseroan beserta keputusan menteri

sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 21 ayat 1;

c. Akta perubahaan anggaran dasar yang telah diterima pemberitahuannya oleh

menteri.

Pengumuman tersebut dilakukan oleh menteri paling lambat 14 (empat belas)

hari terhitung sejak tanggal diterbitnya keputusan menteri berkaitan dengan status

badan hukum yang telah disahkan.

Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 29 UUPT yang baru jelas berbeda

dengan ketentuan Pasal 21 ayat 1 UUPT yang lama. Pendaftaran Perseroan menurut

UUPT lama mengacu pada Undang-undang Wajib Daftar Perusahaan Nomor 3

Tahun 1982 (UUWDP), perbedaan tersebut terletak pada pihak yang berwenang

untuk melakukan pendaftaran.

Perbedaan mendasar dalam ketentuan UUPT yang baru dengan UUPT No. 1

Tahun 1995, mengandung unsur kontradiktif normatif yang menimbulkan 2 masalah,

yaitu pertama, ketidak jelasan hukum khususnya bagi para pelaku usaha dan notaris

yang melakukan pendaftaran perusahaan, apakah dilakukan di departemen Hukum

dan HAM atau Departemen Perindustrian.89

89
Ita Kurniasih,“Implikasi Perubahan Undang-undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan
Terbatas Terhadap Undang-undang No. 3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan”, Jurnal
Hukum dan Pasar Modal, Vol. III. Edisi 4 Tahun 2008, hal. 5.

Universitas Sumatera Utara


73

Kedua, terdapatnya pengaturan yang tidak sama, dalam Undang-undang

Wajib Daftar Perusahaan (UUWDP) diatur sanksi dengan ancaman melakukan

tindak pidana kejahatan atau pelanggaran jika tidak mengikuti ketentuan UUWDP,

sedangkan dalam UUPT baru tidak diatur tentang adanya sanksi sehingga apabila

data perseroan telah masuk dalam daftar perseroan sesuai dengan ketentuan Pasal 29

ayat 3 UUPT baru, maka akan menimbulkan pertanyaan, apakah pendaftaran

menurut UUWDP masih perlu dilakukan.90

Apapun kontradiktif normatif ketentuan yang ada, sebuah badan hukum

perseroan dinyatakan lahir setelah mendapatkan pengesahan badan hukum dan

diumumkannya Perseroan Terbatas dalam Lembar Negara Republik Indonesia.

D. Kedudukan Para Pihak dalam Joint Venture Agreement

1. Kedudukan Joint Venture Agreement dalam Joint Venture Company

Joint venture agreement adalah perjanjian antara para pemegang saham joint

venture company yang tunduk pada hukum perjanjian (law of contract) yang pihak-

pihaknya adalah calon pemegang saham. Instrumen yang menjadi dasar berdirinya

joint venture company yaitu anggaran dasar perseroan terbatas yang akan

memperoleh status sebagai badan hukum pada saat mendapatkan pengesahan dari

Menteri Hukum dan HAM RI.

90
Ibid.

Universitas Sumatera Utara


74

Kedudukan Joint Venture Agreement hanya berlaku penuh sebelum proses

perseroan terbatas menjadi badan hukum, dimana perjanjian-perjanjian yang dibuat

antara sesama pemegang saham atau antara pemegang saham dengan perseroan harus

sesuai dengan ketentuan anggaran dasar yang diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007

sebab ketika suatu perseroan terbatas telah disahkan sebagai badan hukum, maka

anggaran dasar perseroan di samping mengikat perseroan dan pemegang saham

bahkan mengikat juga pihak ketiga. Setelah anggaran dasar disahkan, maka

kedudukan anggaran dasar dan joint venture agreement memiliki kedudukan yang

penting. Kedua ketentuan tersebut menjadi landasan kegiatan pencapaian tujuan

ekonomi para pihak, dan keduanya tidak dapat dipertentangkan. Dalam hal terdapat

perbedaan ketentuan dalam joint venture agreement dan anggaran dasar perseroan

untuk suatu persoalan yang sama, maka ketentuan anggaran dasar yang berlaku,

karena kedudukan anggaran dasar lebih tinggi dari joint venture agreement. Dengan

demikian, penting bagi pihak ketiga untuk mengetahui anggaran dasar perseroan,

agar dapat mengetahui apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan

oleh pengurus menurut anggaran dasar perseroan, untuk itu kedudukan publikasi

terhadap perseroan terbatas memiliki makna penting bagi pihak ketiga.

Sebenarnya jauh sebelum berlakunya UUPT telah ada UU No. 3 Tahun 1982

Tentang Wajib Daftar Perusahaan. Undang-Undang ini mengatur tentang bagaimana

dan apa saja yang harus didaftarkan jika perusahaan yang bersangkutan berbentuk

Universitas Sumatera Utara


75

perseroan terbatas.91 Hanya saja dalam hal ini, menurut Rudhy Prasetya harus

dibedakan, yaitu apa yang diperhatikan oleh UUPT cenderung merupakan segi

yuridis tentang keabsahannya, sedang apa yang diperintahkan oleh Undang-Undang

No. 3 Tahun 1982 cenderung merupakan segi ekonomis perusahaan yang

bersangkutan.92

Dalam UUPT dinyatakan bahwa perseroan terbatas yang telah didaftar harus

diumumkan dalam Tambahan Berita Negara RI. Permohonan pengumuman

perseroan dilakukan Direksi dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari

terhitung sejak pendaftaran. Tata cara pengajuan permohonan pengumuman

dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.93

Jika pendaftaran dan pengumuman tersebut tidak dilakukan dan atau tidak

dipatuhi oleh direksi, maka direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas

segala perbuatan hukum yang dilakukan perseroan. Dalam hubungan ini, menurut

Rudhi Prasetya para direktur ikut bertanggung jawab secara pribadi secara tanggung

renteng bersama-sama dengan perseroan. Sebab jika tidak demikian, maka justru

kemungkinan akan merugikan pihak ketiga, yaitu semata-mata hanya dapat menuntut

harta kekayaan pribadi direksi tanpa sama sekali dapat menuntut harta kekayaan

perseroan.94

91
Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Pasal 11.
92
Rudhi Prasetya, Op. cit, hal. 133.
93
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 30 ayat (3).
94
Rudhi Prasetya, Op. cit, hal. 155.

Universitas Sumatera Utara


76

2. Hubungan Joint Venture Agreement dengan Anggaran Dasar

Joint venture agreement memiliki kedudukan yang penting dalam pendirian

sebuah joint venture company, prinsip kebebasan berkontrak memungkinkan para

pihak mengatur banyak hal secara rinci, dietel, dan luas. Kesepakatan-kesepakatan

yang tercipta dalam sebuah joint venture agreement, dapat dijadikan rujukan dan

landasan bagi para pihak untuk melakukan tindakan hukum lainya, seperti

melaksanakan perjanjian-perjanjian pendukung (License Agreement dan Use of

Trademark; Technical Agreement; Assistence Agreement; Loan Agreement; Agency

Agreement; Distribution Agreement).

Joint venture agreement juga dapat dijadikan acuan dalam membuat draft

anggaran dasar sebuah joint venture company. Landasan hukum joint venture

angreement dapat dijadikan rujukan membuat anggaran dasar sebuah joint venture

company adalah joint venture agreement tunduk pada hukum perjanjian, dimana

hukum perjanjian menentukan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku

sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, dan bagi mereka yang

membuat perjanjian, maka perjanjian memiliki kekuatan mengikat (Pacta Sun

Servanda). Perselisahan yang timbul berkaitan dengan isi joint venture agreement,

diselesaikan dengan menggunakan instrumen hukum perjanjian.

Sedangkan anggaran dasar perseroan adalah ketentuan operasional sebuah

perseroan dalam melakukan tindakan-tindakan hukum. Secara teknis tindakan-

tindakan tersebut diatur oleh rezim hukum perusahaan (company law), dalam hal ini

Universitas Sumatera Utara


77

Udang-Undang Nomor 40 Tahun 2007. Anggaran dasar hanya mengatur kesepakatan

teknis perseroan sebagai sebuah badan hukum untuk melakukan aktivitasnya.

Ketentuan ini, memiliki arti bahwa perselisihan yang timbul dalam aktivitas sebuah

badan hukum perseroan terbatas (PT), diselesaikan dengan menggunakan instrumen

anggaran dasar.

Apabila terdapat perbedaan ketentuan dalam joint venture agreement dan

anggaran dasar perseroan untuk suatu persoalan yang sama, maka ketentuan

anggaran dasar yang berlaku, karena kedudukan anggaran dasar lebih tinggi dari

joint venture agreement. Dengan demikian, penting bagi pihak ketiga untuk

mengetahui anggaran dasar perseroan, agar dapat mengetahui apa yang boleh

dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh pengurus menurut anggaran dasar

perseroan, untuk itu kedudukan publikasi terhadap perseroan terbatas memiliki

makna penting bagi pihak ketiga.

3. Kedudukan Para Pihak dalam Joint Venture Agreement

Kerjasama antar modal asing dan modal nasional diatur secara tidak langsung

dalam Pasal 5 ayat (2) dan (3) UUPM. Dalam bidang usaha yang terbuka bagi modal

asing dapat diadakan kerjasama antara modal asing dengan modal nasional. Dalam

kepustakaan hukum, kerjasama ini disebut dengan joint venture agreement atau

kontrak joint venture.

Dalam joint venture agreement, bentuk perjanjian kerjasamanya adalah

merupakan suatu permufakatan atau persepakatan antara pihak-pihak yang

Universitas Sumatera Utara


78

mengadakannya, dimana masing-masing pihak diikat oleh janji-janji yang telah

diadakan antara masing-masing, kemudian berkembang menjadi satu kerjasama

antara masing-masing pihak untuk secara bersama-sama mencapai suatu tujuan

tertentu yang telah disepakati.

Hubungan yang tidak seimbang antara negara maju sebagai negara pembawa

modal asing dan negara berkembang sebagai negara penerima modal tersebut.

Hubungan yang tidak seimbang antara pemodal asing dan penerima modal dapat

dilihat dalam masalah-masalah sebagai berikut:95

a. Bahwa pemodal asing selalu berorientasi untuk mencari keuntungan atau

profit oriented, sedang penerima modal mengharapkan modal asing dapat

membantu mencapai tujuan pembangunan nasional atau hanya sebagai

pelengkap dana pembangunan;

b. Bahwa pemodal asing memiliki posisi yang lebih kuat sehingga mereka

mempunyai kemampuan berusaha dan kemampuan berunding yang mantap,

dimana dalam pelaksanaan usahanya dapat bertentangan dengan kepentingan

negara penerima modal;

c. Bahwa pemodal asing biasanya memiliki jaringan usaha yang kuat dan luas

karena biasanya berbentuk Multinational Coorporation yang tergabung

dalam induk perusahaan, melayani kepentingan negara dan pemilik saham di

95
Nindyo Pramono, Bunga Rampai Hukum Bisnis Aktual, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti ,
2006), hal. 170.

Universitas Sumatera Utara


79

negara asal sehingga sangat sulit untuk mampu melayani kepentingan negara

penerima modal.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketidakseimbangan kedudukan

dan kepentingan tersebut adalah hak dan kewajiban para pihak dalam joint venture

agreement yang harus dilaksanakan, dimana antara hak dan kewajiban tersebut

terdapat suatu kedudukan yang seimbang antara pihak yang satu dengan yang

lainnya. Joint venture agreement telah diikat dengan suatu ketentuan yang

didasarkan oleh kata sepakat dan dituangkan dalam kesepakatan tertulis dengan

tujuan saling menguntungkan. Hal ini berarti bahwa joint venture agreement

menyebabkan para pihak mempunyai kewajiban untuk memberikan kemanfaatan

pada pihak lainnya dan sebaliknya, lawannya untuk menerima manfaat yang

menguntungkan atau berguna bagi dirinya dari hubungan perjanjian tersebut.

Universitas Sumatera Utara