Anda di halaman 1dari 10

JOINT VENTURE SEBAGAI CARA PENANAMAN MODAL ASING DALAM PENANAMAN MODAL

DI INDONESIA

ABSTRAK

Perjanjian Patungan atau Joint Venture adalah bentuk persekutuan yang menekankan
kerjasama lebih daripada untuk suatu yang sementara sifatnya. Joint Venture merupakan salah
satu cara dalam penaman modal asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman
Modal. Dalam Joint Venture perlu diadakannya perjanjian Joint Venture atau Joint Venture
Agreement yang merupakan langkah awal dalam membentuk perusahaan Joint ventures atau
Joint Venture Company, yang dimana di dalam perjanjian tersebut berisikan kesepakatan para
pihak. Kedudukan joint venture dalam penanaman modal di Indonesia adalah sebagai salah
satu cara penanaman modal asing yang dilakukan oleh investor asing dalam menanamkan
modal di Indonesia. Keberadaan perusahaan joint venture dalam penanaman modal
mempunyai arti dan manfaat yang sangat besar bagi penanam modal dalam negeri atau
nasional maupun penanaman modal asing yakni sebagai pembatasan resiko dimana dalam
melakukan suatu kegiatan sudah barang pasti penuh resiko. Dengan membentuk kerja sama
maka resiko tersebut dapat disebarkan kepada peserta-peserta dan sebagai pembiayaan,
dimana kerja sama usaha mendayagunakan modal dapat dilakukan dengan sederhana dengan
menyatukan modal yang dibutuhkan.

A. Pendahuluan

Globalisasi adalah realita yang tidak dapat dihindari, seluruh aspek kehidupan akan
terpengaruh oleh wujud tatanan dunia baru yang akan datang dan secara apriori tentu saja
tidak sama dengan yang sudah kita jalani selama ini. Dalam dunia bisnis, politik, dan
bermacam-macam aspek lainnya akan dituntut untuk menuju kepada tranparansi, efisiensi,
certainty (kepastian), sebagai tuntutan dari kegiatan yang dijalankan di seluruh dunia yang
akan tanpa batas-batas dalam pengertian jangkauan sistem informasi global, ideologi dan
perekonomian.
Setiap negara selalu berusaha meningkatkan pembangunan, kesejahteraan dan
kemakmuran rakyatnya. Usaha tersebut dilakukan dengan berbagai cara yang berbeda antara
satu negara dengan negara lainnya. Salah satu usaha yang selalu dilakukan oleh negara adalah
menarik sebanyak mungkin investasi asing masuk ke negaranya. Menarik investasi masuk
sebanyak mungkin ke dalam suatu negara didasarkan pada suatu mitos yang menyatakan
bahwa untuk menjadi suatu negara yang makmur, pembangunan nasional harus diarahkan ke
bidang industri. Untuk mengarah kesana, sejak awal negara-negara tersebut dihadapkan
kepada permasalahan minimnya modal dan teknologi yang merupakan elemen dasar dalam
menuju industrialisasi. Jalan yang ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah
mengundang masuknya modal asing dari negara-negara maju ke dalam negeri.
Di Indonesia, pemberlakuan Undang-Undang penanaman modal yang ada, diharapkan
menjadi pemicu adanya multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan
limpahan modal yang cukup baik dari dalam negeri maupun asing, yang tentu saja harus
dilakukan dengan mempertimbangkan realitas peraturan perundang-undangan yang lain
secara menyeluruh baik pada lingkup nasional maupun daerah. Dalam tatanan pembangunan
ekonomi yang paling dasar, keberadaan peraturan perundang-undangan ini diharapkan dapat
mengundang modal asing masuk ke Indonesia.
Berdasarkan undang-undang penanaman modal, penanaman modal asing dapat
dilakukan dengan cara: pertama, oleh pihak asing yang seratus persen menggunakan modal
asing; atau kedua, dengan menggabungkan modal asing itu dengan modal nasional. Secara
yuridis hal yang pertama tidak menimbulkan persoalan yang terlalu rumit, oleh karena sudah
jelas bahwa bukan hanya modal tetapi kekuasaan maupun pengambilan keputusan (decision
making) dilakukan oleh pihak asing, sepanjang segala sesuatu itu memperoleh persetujuan
dari pemerintah, atau selama pengaturannya tidak melanggar hukum serta ketertiban umum
yang berlaku di Indonesia. Yang sulit adalah dengan pilihan yang kedua, karena adanya
ketentuan yang mengharuskan dilakukan dalam bentuk kerjasama (join venture), mengingat
adanya keharusan baru bagi kedua belah pihak untuk merumuskan terlebih dahulu perjanjian
joint venture sebelum nantinya ditindaklanjuti dengan pendirian perusahaan joint venture.
Beberapa hal yang harus diperhatikan karena adanya potensi konflik pada cara investasi yang
kedua, antara lain meliputi anatomi perjanjian joint venture, struktur permodalan perusahaan,
kekuasaan pengelolaan (manajemen) perusahaan, aspek makro dan mikro ekonomi, serta
sosio kultul tempat berinvestasi. Termasuk di dalamnya aspek teknis operasional yang meliputi
perbedaan bahasa, sistem hukum, maupun bargaining position di antara keduanya.1
Masuknya modal asing bagi perekonomian Indonesia merupakan tuntutan keadaan
baik ekonomi maupun politik Indonesia. Alternatif penghimpunan dana pembagunan
perekonomian Indonesia melalui investasi modal secara langsung jauh lebih baik dibandingkan
dengan penarikan dana international lainnya seperti pinjaman luar negeri. Penanaman modal
harus menjadi bagian dari penyelengaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai

1
Aminuddin Ilmar, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hal. 49-50.
upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja,
meningkatkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan kapasitas dan
kemampuan teknologi nasional, mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem
perekonomian yang berdaya saing.
Modal asing yang dibawa oleh investor merupakan hal yang sangat penting sebagai
alat untuk mengintegrasikan ekonomi global. Selain itu, kegiatan investasi akan memberikan
dampak positif bagi negara penerima modal, seperti mendorong pertumbuhan bisnis, adanya
supply teknologi dari investor baik dalam bentuk proses produksi maupun teknologi
permesinan, dan menciptakan lapangan kerja. Penanaman modal asing merupakan salah satu
bentuk utama transaksi bisnis internasional, di banyak negara, peraturan pemerintah tentang
penanaman modal asing mensyaratkan adanya joint venture, yaitu ketentuan bahwa
penanaman modal asing harus membentuk joint venture dengan perusahaan lokal untuk
melaksanakan kegiatan ekonomi yang mereka inginkan. Dibukanya peluang bagi investor asing
untuk menanamkan modalnya di Indonesia, maka dengan sendirinya dibutuhkan perangkat
hukum untuk mengatur pelaksanaannya, agar investasi yang diharapkan memberikan
keuntungan yang besar dan meningkatkan perekonomian Indonesia. Perjanjian penanaman
modal dipandang memiliki peran yang strategis, karena merupakan instrumen yang dapat
mendorong peningkatan pembangunan dan kemajuan ekonomi. Dengan perjanjian
penanaman modal negara-negara dapat mendatangkan investor asing untuk melakukan
kegiatan bisnis dan ekonomi di dalam wilayah yurisdiksi negara tuan rumah (host country)
dengan instrumen ini negara pemilik modal (home country) dengan leluasa menanamkan
modal di berbagai sektor dan bidang industri. 2
Sejarah Orde Baru selama periode 1966-1997 telah membuktikan betapa pentingnya
peran investasi langsung khususnya asing (Penanaman Modal Asing) sebagai salah satu motor
penggerak pembangunan dan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Negara Indonesia.
Mengadakan joint venture agreement merupakan langkah awal dalam membentuk
perusahaan joint venture. Di mana di dalam perjanjian joint venture agreement berisikan
kesepakatan para pihak tentang kepemilikan modal, saham, peningkatan kepemilikan saham
penyertaan, keuangan, kepengurusan, teknologi dan tenaga ahli, penyelesaian sengketa yang
mungkin akan terjadi, dan berakhirnya perjanjian joint venture. Pengusaha asing dan
pengusaha lokal membentuk suatu perusahaan baru yang disebut perusahaan joint venture di
mana mereka menjadi pemegang saham yang besarnya sesuai dengan kesepakatan bersama.

2
Kusnowibowo, Hukum Investasi Internasional, (Bandung: Pustaka Reka Cipta, 2013) , hlm 2
Didasarkan pada hal diatas, penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut,
yaitu :
1. Apakah sebab terjadinya perusahaan Joint Venture
2. Bagaimana kedudukan Joint Venture dalam penanaman modal di Indonesia

B. PEMBAHASAN

1. Sebab Terjadinya Perusahaan Joint Venture


Dalam Pengertian yang luas, Perjanjian Patungan atau Joint Venture adalah bentuk
persekutuan yang menekankan kerjasama lebih daripada untuk suatu yang sementara sifatnya.
Perusaaan patungan terbentuk ketika dua pihak atau lebih, baik secara pribadi maupun
perusahaan bermaksud menjadi partner satu sama lainnya untuk suatu kegiatan dan mengatur
secara bersama suatu perusahaan baru yang saham-sahamnya dimiliki secara bersama. 3
Istilah Joint venture dalam keseharian kehidupan masyarakat selalu dipergunakan
untuk menunjukkan sebuah kerjasama dalam bidang-bidang tertentu yang melibatkan pihak
asing didalamnya. Dengan bahasa lain Joint ventures sering diistilahkan dengan sebutan
"patungan". Sedangkan di kalangan Pemerintah istilah Joint venture adalah suatu istilah yang
diberikan secara khusus untuk suatu bentuk kerjasama tertentu antara pemilik modal nasional
(swasta atau Perusahaan Negara) dan pemilik modal asing. 4 Dalam joint venture perlu
diadakannya perjanjian joint venture atau Joint Venture Agreement yang merupakan langkah
awal dalam membentuk perusahaan Joint ventures atau Joint Venture Company, yang dimana
di dalam perjanjian tersebut berisikan kesepakatan para pihak tentang kepemilikan modal,
saham, peningkatan kepemilikan saham penyertaan, keuangan, kepengurusan, teknologi dan
tenaga ahli, penyelesaian sengketa yang mungkin akan terjadi, dan berakhirnya perjanjian
joint venture. Pengusaha asing dan pengusaha lokal membentuk suatu perusahaan baru yang
disebut perusahaan joint ventures di mana mereka menjadi pemegang saham yang besarnya
sesuai dengan kesepakatan bersama.5
Adapun Joint Venture yang dimaksud ole Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal adalah equity joint venture. Hal ini dengan dasar bahwa ketika

3
Erma Rajagukguk, Indonesianisasi Saham, cet. II (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm 12
4
Sunarjati Hartono, Masalah-masalah Joint Ventures Antara Modal asing dan Modal Indonesia,
(Bandung: Alumni, 1974), him. 5
5
Erman Radjagukguk, Modul Hukum Investasi di Indonesia: Pokok Bahasan, (FHUI, 2006), hlm.117
investor asing akan menanamkan modalnya di Indonesia wajib membentuk Perseroan
Terbatasn (PT) berdasarkan hukum Indonesia. 6
PT itu sendiri dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan
Terbatas secara otentik didefinisikan sebagai badan hukum yang merupakan persekutuan
modal, yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar,
yang seluruhya terbagi dalam saham-saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan
dalam undang-undang dan peraturan pelaksananya.
Lebih jauh dalam perspektif teoritis lainnya yang lebih mendasar, pilihan terhadap PT,
dapat dilihat dengan beberapa paradigma yang berkaitan dengan PT, yaitu bahwa PT
merupakan badan hukum (persona moralis, legal person, legal entity, rechtpersoon) sama
halnya dengan manusia (natuurlijk persoon) yang independen ataupun mandiri dari pendiri,
anggota atau penanam modal dalam badan hukum tersebut, badan hukum ini dapat
melakukan kegiatan bisnis atas nama dirinya sendiri seperti manusia, yang bertindak melalui
organnya sebagai alat bagi badan hukum tersebut untuk menjalin hubungan hukum dengan
pihak ketiga.7 Selanjutnya, PT sebagai badan hukum mempunyai ciri subtantif yang melekat,
yaitu (1) Terbatasnya tanggungjawab pemegang saham. (2) Pengalihan saham tidak
menimbulkan masalah kelangsungan perseroan yang bersangkutan. (3) Memiliki kekayaan
sendiri yang terpisah dari pemegang saham. (4) Memiliki kewenangan kontraktual, serta
dapat menuntut dan dituntut atas nama dirinya sendiri. 8
Joint venture yang dimaksud dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal adalah equity joint venture dalam bentuk Perseroan Terbatas yang didirikan
berdasarkan joint venture agreement yang diatur sesuai dengan hukum perjanjian. Yang
menjadi persoalan selanjutnya adalah berkaitan dengan kedudukan para investor sebagai
pemegang saham yang melakukan joint venture. Kedudukan para investor ini terlihat dalam
perjanjian tersebut, ditentukan dengan jumlah modal ataupun saham yang mereka ambil.
Sehubungan dengan hal di atas, dapat dikemukakan karakteristik lainnya yang
biasanya terdapat dalam Equity joint venture:
1. Masing-masing pihak menjadi pemegang saham dari suatu perusahaan yang didirikan
untuk suatu aktivitas ekonomi tertentu, sesuai dengan proporsi yang disepakati.
Biasanya investor asing menjadi pemegang saham mayoritas. Kedudukan sebagai

6
Ridwan Khirandy, Kompetensi Absolut Dalam Penyelesaian Sengketa di Perusahaan Joint Venture,
Jurnal Hukum Vol. 26 No. 24, 2007, hlm. 43.
7
Ibid., hlm. 11-12
8
Ibid., hlm. 23-24
pemegang saham mayoritas dan minoritas, selain menentukan besarnya deviden yang
diterima, juga mempengaruhi formasi yang ditempati dalam dewan komisaris dan
direksi. Pemegang saham mayoritas tentu menduduki tempat posisi yang lebih banyak
dan signifikan daripada pemegang saham minoritas.
2. Bahwa pemegang saham mayoritas yang biasanya berbentuk perusahaan asing,
biasanya dapat menjadi perusahaan induk (parent company, holding company,
controlling company) dari perusahaan joint venture yang didirikan tersebut. Yang
terakhir ini disebut anak perusahaan (subsidiary).
3. Adanya alih teknologi, dengan adanya alih tehnologi tersebut, kedua belah pihak harus
menjaga rahasia dagang atau trade secret dalam rangka alih tehnologi.

Salah satu contoh perusahaan joint venture antara investor asing dan investor dalam
negeri adalah PT. Nestle Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari perusahaan Nestlé
S.A., yang berpusat di Vevey, Swiss dan PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua
perusahaan tersebut melakukan kerja sama pada tahun 2005 dan membentuk perusahaan
joint venture, yaitu PT. Nestlé Indofood Citarasa Indonesia (NICI) dengan pembagian saham
atau skema proposi saham sebesar 50% dan 50%.

Alasan pendirian perusahaan joint venture tidak dapat dilepaskan dengan alasan
penanaman modal asing secara umum di Indonesia, bahkan dapat dikatakan bahwa pendirian
perusahaan joint venture terlebih dahulu dilandasi alasan penanaman modal asing, antara lain:
1. Upah buruh murah. Untuk menekan biaya produksi, perusahaan negara-negara maju
melakukan investasi di negara-negara berkembang dengan tujuan untuk mendapatkan
upah buruh yang murah.

2. Dekat dengan sumber bahan mentah. Bahan mentah merupakan faktor yang sangat
penting dalam proses produksi. Kebanyakan negara-negara maju memiliki bahan
mentah yang sangat terbatas, sedangkan negara-negara berkembang memiliki bahan
mentah yang belum dieksploitasi.

3. Menemukan pasar yang baru/pasar yang luas. Negara-negara maju berusaha


menanamkan modal di negara lain dengan tujuan untuk menjaga pasar hasil
produksinya.
4. Royalti dari ahli teknologi penanaman modal asing, seringkali akan diikuti dengan alih
teknologi, negara Investor akan mendapatkan keuntungan dari proses transfer
teknologi melalui penjualan hak merek, paten, rahasia dagang, desain industri.

5. Penjualan bahan baku dan suku cadang. Insvestor asing juga dapat memperoleh
keuntungan dari penjualan bahan baku.

6. Status khusus negara-negara tertentu dalam perdagangan internasional (status


dagang). Tujuan lain dari penanaman modal di luar negeri adalah karena status
khusus negara-negara tertentu dalam perdagangan internasional.

2. Kedudukan Joint Venture Dalam Penanaman Modal Di Indonesia


Joint venture pada dasarnya adalah salah satu cara untuk menanam modal di
Indonesia .Pengaturan mengenai joint venture diatur dalam Undang-Undang No. 25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal, penanaman modal asing yang akan dilakukan di Indonesia
dapat dilakukan dengan menggunakan modal asing seluruhnya maupun berpatungan dengan
penanam modal dalam negeri atau joint venture. Adapun cara yang dilakukan dalam hal
penanaman modal asing dalam bentuk patungan dapat berupa mengambil bagian saham
dalam pendirian perseroan terbatas, membeli saham, atau cara lainnya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Ketentuan ini selanjutnya menjadi dasar bagi pendirian
perusahaan joint venture dalam penanaman modal asing di Indonesia.
Secara historis, pengaturan penanaman modal asing terdapat dalam Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing terdahulu, hanyalah meliputi
penanaman modal asing secara langsung (foreign direct investement), artinya pemilik modal
secara langsung menanggung resiko dari investasi tersebut dan pemilik modal secara langsung
menjalankan perusahaan yang bersangkutan di indonesia. 9
Selanjutnya dalam pengaturan penanaman modal asing yang terdapat Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing di atas, diarahkan adanya kerjasama
modal asing dengan modal nasional dalam bidang-bidang usaha yang terbuka bagi modal
asing, yang bersifat tidak wajib, karena ketentuan yang ada hanya menyebut kata “dapat”.
Dengan kata lain tidak ada kebijakan pengaturan yang mengikat yang mengharuskan
penanaman modal asing harus dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan penanam modal
nasional. Bahkan lebih jauh undang-undang hanya mengharuskan perusahaan yang seluruh

9
Erman Radjagukguk, Modul Hukum Investasi di Indonesia: Pokok Bahasan, op.cit, hlm. 61
sahamnya adalah modal asing untuk memberikan partisipasi bagi modal nasional secara
effektif setelah jangka waktu tertentu. Jikalau partisipasi dilakukan dengan penjualan saham-
saham yang telah ada, maka hasil penjualan tersebut dapat ditransfer dalam valuta asing dari
modal asing yang bersangkutan.10
Hukum di beberapa negara tidak membolehkan kehadiran suatu perusahaan
asing yang dikuasai seluruh kepemilikannya atau melalui bentuk penanaman modal
langsung lainnya. Dalam hal ini salah satu cara untuk dapat melakukan usahanya adalah
melalui pembentukan usaha patungan (joint venture) dengan perusahaan lokal. Cukup banyak
negara-negara berkembang yang mengenakan syarat-syarat pembatasan ini agar dapat
mengontrol kegiatan perusahaan-perusahaan asing dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
usaha di wilyahnya. Kontrol tersebut antara lain pengenaan syarat pemilikan saham dalam
jumlah tertentu dari perusahaan tersebut. Cara ini juga dipandang sebagai salah satu cara
untuk mengalihkan teknologi.
Perkembangan kebijakan pengaturan penanaman modal di Indonesia khususnya yang
berkaitan dengan pengaturan joint venture antara investor asing dengan investor nasional
hingga saat ini dapat dilihat dengan mengacu kepada Undang-undang Penanaman Modal No.
25 Tahun 2007 dan beberapa peraturan pelaksanaannya, antara lain: Peraturan Presiden
Nomor 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha Yang
Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal,
Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang
Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, dan Peraturan Kepala
BKPM No. 1/P/2008 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal
Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing.
Melihat pembahasan diatas jelas bahwa kedudukan joint venture dalam Penanaman
modal di Indonesia merupakan suatu bentuk cara atau upaya dalam penanaman modal asing
yang dilakukan investor asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.
Keberadaan perusahaan joint venture dalam penanaman modal mempunyai arti dan
manfaat yang sangat besar bagi penanam modal dalam negeri atau nasional maupun
penanaman modal asing yakni :11

10
Ibid., hlm 76-77
11
Salim HS. dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja. Grafindo Persada, 2008),
hlm. 39.
1. Pembatasan resiko dimana dalam melakukan suatu kegiatan sudah barang pasti penuh
resiko. Dengan membentuk kerja sama maka resiko tersebut dapat disebarkan kepada
peserta-peserta.
2. Pembiayaan, dimana kerja sama usaha mendayagunakan modal dapat dilakukan
dengan sederhana dengan menyatukan modal yang dibutuhkan.

C. Kesimpulan

Perjanjian Patungan atau Joint Venture adalah bentuk persekutuan yang menekankan
kerjasama lebih daripada untuk suatu yang sementara sifatnya. Joint Venture merupakan salah
satu cara dalam penaman modal asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman
Modal. Dalam Joint Venture perlu diadakannya perjanjian Joint Venture atau Joint Venture
Agreement yang merupakan langkah awal dalam membentuk perusahaan Joint ventures atau
Joint Venture Company, yang dimana di dalam perjanjian tersebut berisikan kesepakatan para
pihak.
Kedudukan joint venture dalam penanaman modal di Indonesia adalah sebagai salah
satu cara penanaman modal asing yang dilakukan oleh investor asing dalam menanamkan
modal di Indonesia. Keberadaan perusahaan joint venture dalam penanaman modal
mempunyai arti dan manfaat yang sangat besar bagi penanam modal dalam negeri atau
nasional maupun penanaman modal asing yakni sebagai pembatasan resiko dimana dalam
melakukan suatu kegiatan sudah barang pasti penuh resiko. Dengan membentuk kerja sama
maka resiko tersebut dapat disebarkan kepada peserta-peserta dan sebagai pembiayaan,
dimana kerja sama usaha mendayagunakan modal dapat dilakukan dengan sederhana dengan
menyatukan modal yang dibutuhkan.

D. Daftar Pustaka

Buku :
Hartono, Sunarjati, Masalah-masalah Joint Ventures Antara Modal asing dan Modal Indonesia,
Alumni, Bandung, 1974.

HS., Salim dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, Jakarta: PT. Raja. Grafindo Persada,
2008.

Ilmar, Aminuddin, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2007.

Kusnowibowo, Hukum Investasi Internasional, Bandung: Pustaka Reka Cipta, 2013.

Rajagukguk, Erma, Indonesianisasi Saham, cet. II, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.

, Modul Hukum Investasi di Indonesia: Pokok Bahasan, FHUI, 2006.

Jurnal :

Khirandy, Ridwan, Kompetensi Absolut Dalam Penyelesaian Sengketa di Perusahaan Joint


Venture, Jurnal Hukum Vol. 26 No. 24, 2007.