Anda di halaman 1dari 19

BAB V

FUNGSI DAN PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Fungsi Bimbingan dan Konseling


Dalam kelangsungan perkembangan dan kehidupan manusia, berbagai
pelayanan diciptakan dan diselenggarakan. Masing-masing pelayanan itu
berguna dan memberikan manfaat untuk memperlancar dan memberikan
dampak positif sebesar-besarnya terhadap kelangsungan perkembangan dan
kehidupan itu, khususnya dalam bidang tertentu yang menjadi fokus
pelayanan yang dimaksud. Misalnya, pelayanan kesehatan (yang diberikan
oleh Puskesmas) berguna dan memberikan manfaat kepada yang
berkepentingan untuk memperoleh informasi tentang kesehatan, pemeriksaan,
dan pengobatan agar kesehatan yang bersangkutan terpelihara. Fungsi suatu
pelayanan dapat diketahui dengan melihat kegunaan, manfaat, ataupun
keuntungan dan dapat diberikan oleh pelayanan yang dimaksud. Suatu
pelayanan dapat dikatakan tidak berfungsi apabila ia tidak memperlihatkan
kegunaan ataupun tidak memberikan manfaat atau keuntungan tertentu.
Fungsi bimbingan dan konseling ditinjau dari kegunaan atau manfaat,
ataupun keuntungan-keuntungan apa yang diperoleh melalui pelayanan
tersebut. Fungsi-fungsi itu banyak dan dapat dikelompokkan menadi empat
fungsi pokok, yaitu ;
1. Fungsi Pemahaman
Fungsi pemahaman, kegunaan, manfaat, atau keuntungan-keuntungan
apakah yang dapat diberikan oleh layanan bimbingan dan konseling? jasa
yang diberikan oleh pelayanan ini adalah berkenaan dengan pemahaman.
Pemahaman tentang apa dan oleh siapa? pemahaman yang sangat perlu
dihasilkan oleh pelayanan bimbingan dan konseling adalah pemahaman
tentang diri klien beserta permasalahannya oleh klien sendiri dan oleh
pihak-pihak yang akan membantu klien, serta pemahaman tentang
lingkungan klien.

1
a. Pemahaman tentang klien
Pemahaman tentang klien merupakan titik tolak upaya pemberian
bantuan terhadap klien. Sebelum seorang konselor atau pihak-pihak
lain dapat memberikan layanan tertentu kepada klien, maka mereka
perlu terlebih dahulu memahami individu yang akan dibantu itu.
Materi pemahaman itu lebih lanjut dapat dikelompokkan kedalam
berbagai data tentang :
1) Identitas individu (klien) : nama, jenis kelamin, tempat, Dan
tanggal lahir, orang tua, status dalam keluarga, Dan tempat tinggal,
2) pendidikan,
3) status perkawinan (bagi klien dewasa),
4) status sosial-ekonomi dan pekerjaan,
5) kemampuan dosen (intelegensi), bakat, minat, hobi,
6) kesehatan,
7) kecenderungan sikap dan kebiasaan,
8) cita-cita pendidikan dan pekerjaan,
9) keadaan lingkungan tempat tinggal,
10) kedudukan dan prestasi yang pernah dicapai,
11) kegiatan sosial kemasyarakatan,
Untuk individu-individu yang masih mengikuti jenjang pendidikan
tertentu perlu ditambahkan :
12) jurusan/program studi yang diikuti,
13) mata pelajaran yang diambil, nilai-nilai yang diperoleh dan prestasi
menonjol yang dicapai,
14) kegiatan ekstrakurikuler,
15) sikap dan kebiasaan belajar,
16) hubungan dengan teman sebaya.
Daftar tersebut dapat diperpanjang dan dirinci lebih jauh sampai
dengan “peristiwa-peristiwa khusus yang dialami’., perluasan,
spesifikasi atau rincian materi pemahaman itu dikembangkan sesuai
dengan tujuan pemahaman terhadap klien itu sendiri.

2
Yang perlu memahami diri klien itu ? Pertama-tama adalah klien
itu sendiri. Hal ini sesuai dengan ciri kemandirian yang pertama, yaitu
“memahami diri sendiri dan lingkungan secara objektif”.
Membantu pihak-pihak yang berkepentingan dengan
perkembangan Dan kebahagiaan hidup klien tersebut. Pihak untuk lain
yang sangat berkepentingan dengan pemahaman terhadap klien adalah
konselor. Pemahaman konselor terhadap klien dipergunakan oleh
konselor baik untuk secara langsung membantu klien dalam pelayanan
bimbingan dan konseling lebih lanjut, maupun sebagai bahan acuan
utama dalam rangka kerjasama dengan pihak-pihak lain dalam
membantu klien.

b. Pemahaman tentang masalah klien


Apabila pelayanan bimbingan dan konseling memasuki upaya
penanganan masalah klien, maka pemahaman terhadap masalah klien
merupakan suatu yang wajib adanya. Tanpa pemahaman terhadap
masalah, penanganan terhadap masalah itu tidak mungkin dilakukan.
Pemahaman terhadap masalah klien itu terutama menyangkut jenis
masalahnya, intensitasnya, sangkut pautnya, sebab-sebabnya, dan
kemungkinan berkembangnya.
Selain konselor, pihak-pihak lain yang amat berkepentingan
dengan pemahaman masalah klien adalah klien itu sendiri, orang tua
dan guru khususnya bagi siswa-siswa disekolah.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa pemahaman masalah oleh
individu (klien) sendiri merupakan modal dasar bagi pencegahan
masalah tersebut. Sejak awal prosesnya, pelayanan bimbingan Dan
konseling diharapkan mampu mengantarkan klien memahami masalah
yang dihadapinya. Apabila pemahaman masalah klien oleh klien
sendiri telah tercapai, agaknya pelayanan bimbingan dan konseling
telah berhasil menjalankan fungsi pemahaman yang baik.

3
c. Pemahaman tentang lingkungan yang “ Lebih Luas”
Secara sempit lingkungan diartikan sebagai kondisi sekitar
individu yang sacara langsung mempengaruhi individu tersebut, seperti
keadaan rumah tempat tinggal, keadaan sosio ekonomi dan
sosioemosional keluarga, keadaan hubungan antar tetangga dan teman
sebaya, dan sebagainya. Keadaan lingkungan dalam arti sempit itu
pembahasannya telah diintegrasikan pada pembahasan mengenai
pemahaman tentang klien. Termasuk ke dalam lingkungan yang lebih
luas itu adalah berbagai informasi yang diperlukan oleh individu,
seperti informasi pendidikan dan jabatan bagi para siswa, informasi
promosi dan pendidikan lebih lanjut bagi para karyawan, dan lainnya.
Para siswa perlu memahami dengan baik lingkungan sekolah, yang
meliputi lingkungan fisik, berbagai hak dan tanggung jawab siswa
terhadap sekolah, disiplin yang harus dipatuhi oleh siswa, dan
sebagainya.
Disamping itu para siswa juga perlu diberi kesempatan untuk
memahami berbagai informasi yang berguna berkenaan dengan
sangkut paut pendidikan yang sedang dijalaninya sekarang dengan
pendidikan lanjutannya, dan dengan kemungkinan pekerjaan yang
dapat dikembangkannya kelak.

2. Fungsi Pencegahan
Bagi konsoler professional yang misi tugasnya dipenuhi dengan
perjuangan untuk menyingkirkan berbagai hambatan yang dapat
menghalangi perkembangan individu, upaya pencegahan tidak sekadar
merupakan ide yang bagus, tetapi adalah suatu keharusan yang bersifat etis
(Horner Dan McElhaney, 1993).
a. Pengertian Pencegahan
Dalam dunia kesehatan mental “pencegahan”didefinisikan sebagai
upaya mempengaruhi dengan cara yang positif dan bijaksana
lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian sebelum
kesulitan atau kerugian itu benar-benar terjadi (Horner Dan

4
McElhaney, 1993). Dalam definisi itu perhatian terhadap lingkungan
mendapat pemahaman utama. Lingkungan yang baik akan memberikan
pengaruh positif terhadap individu. Oleh karena itu, lingkungan harus
dipelihara Dan dikembangakan.
Berkenaan dengan upaya pencegahan, George Albee (dalam
Horner Dan McElhaney, 1993) mengemukakan rumus sebagai berikut:

KM =

Keterangan :
KM = Kondisi bermasalah
O = Faktor Organik
S = Stres
1 = Kemampuan memecahkan masalah
2 = Penilaian positif terhadap diri sendiri (self-esteem)
3 = Dukungan kelompok
Secara verbal rumusan tersebut mengungkapkan bahwa makin kuat
gabungan kondisi faktor organik dan stress akan meningkatkan kondisi
bermasalah pada diri individu, apabila faktor kemampuan
memecahkan masalah, self esteem, Dan dukungan kelompok konstan
(tetap). dan sebaliknya.
Aplikasi rumus terhadap upaya pencegahan adalah bahwa :
1) Mencegah adalah menghindari timbulnya atau meningkatnya
kondisi bermasalah pada diri klien;
2) Mencegah adalah mempunyai dan menurunkan faktor organik Dan
stress; serta
3) Mencegah adalah meningkatkan kemampuan pemecahan masalah,
penilaian positif terhadap diri sendiri, dan dukungan kelompok.

b. Upaya Pencegahan
Sejak lama telah timbul dua sikap yang berbeda terhadap upaya
pencegahan, khususnya dalam bidang kesehatan mental, yaitu sikap
skeptik dan optimistik (Hornet dan McElhaney, 1973). Sikap skeptik,

5
meskipun menerima konsep pencegahan sebagai sesuatu yang bagus,
namun meragukan apakah upaya pencegahan memang dapat
dilakukan. Mereka yang bersikap skeptik itu menganggap bahwa
gangguan mental emosional itu tidak dapat dicegah. Mereka juga
menganggap bahwa upaya pencegahan itu tidak praktis. Sebaliknya,
golongan yang bersikap optimistik menganggap bahwa upaya
pencegahan itu sangat penting dan pelaksanaannya mesti diusahakan.
Mereka sangat menekankan pengaruh hubungan timbal balik antara
lingkungan dan organism (individu) terhadap individu yang
bersangkutan.
Kaum yang optimistik itu mengajukan bukti-bukti bahwa upaya
bahwa upaya pencegahan itu praktis dan efektif.
Upaya pencegahan yang perlu dilakukan oleh konselor adalah :
1) Mendorong perbaikan lingkungan yang kalau diberikan akan
berdampak negatif terhadap individu yang bersangkutan.
2) Mendorong perbaikan kondisi diri pribadi klien.
3) Meningkatkan kemampuan individu untuk hal-hal yang diperlukan
Dan mempengaruhi perkembangan dan kehidupannya.
4) Mendorong individu untuk tidak melakukan sesuatu yang akan
memberikan resiko yang besar, dan melakukan sesuatu yang akan
memberikan manfaat.
5) Menggalang dukungan kelompok terhadap individu yang
bersangkutan
Upaya mendorong peningkatan kondisi pribadi klien dapat
diselenggarakan secara langsung terhadap individu/klien yang
bersangkutan. Self-esteem mengenali perasaan dan pengendalian diri
perasaannya sendiri termasuk satu unsur pribadi yang sangat perlu
dikembangkan.
Peningkatan kemampuan khusus individu diperlukan untuk
memperkuat perkembangan dan kehidupannya. Keterampilan
pemecahan masalah, keterampilan belajar dengan berbagai aspeknya,
keterampilan berkomunikasi Dan hubungan sosialnya, pengaturan

6
pemasukan pengeluaran uang merupakan beberapa contoh kemampuan
yang perlu ditingkatkan pada individu.
Secara operasional konselor perlu menampilkan kegiatan dalam
rangka pelaksanaan fungsi pencegahan. Kegiatannya antara lain berupa
program-program nyata. Secara garis besar, program-program tersebut
dikembangkan, disusun dan diselenggarakan melalui tahap-tahap :
1) Identifikasi permasalahan yang mungkin timbul
2) Mengidentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab
timbulnya masalah-masalah
3) Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat membantu pencegahan
masalah tersebut
4) Menyusun rencana program pencegahan
5) Pelaksanaan dan monitoring
6) Evaluasi dan laporan

3. Fungsi Pengentasan
Orang yang mengalami masalah itu dianggap berada dalam suatu
keadaan yang tidak mengenakan sehingga perlu diangkat atau dikeluarkan
dari bendanya yang tidak mengenakkan. Ia perlu dientas dari keadaan yang
tidak disukainya itu. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan
itu adalah upaya pegentasan melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
Dalam hal itu, pelayanan bimbingan dan konseling menyelenggarakan
fungsi pengentasan.
Secara sederhana kesejajaran antara fungsi penyembuhan pelayanan
dokter dan fungsi pengentasan pelayanan konselor adalah sebagaimana
terlibat pada bagan berikut :

7
Pelayanan dokter Pelayanan Konselor

Pasien Klien

Pemeriksaan
Proses Konseling

Resep

Aplikasi hasil
Aplikasi Obat konseling

Masalah terentaskan
Penyakit Sembuh

Diagram 1
Kesejajaran pelayanan dokter dan konselor
Proses konseling merupakan proses terpadu sebagai wadah pengentasan
masalah.
a. Langkah-Langkah Pengentasan Masalah
Upaya pengentasan masalah pada dasarnya dilakukan secara
perorangan, sebab setiap masalah adalah unik. Dengan demikian
penanganannya pun harus secara unik disesuaikan terhadap kondisi
masing-masing masalah itu. Untuk itu konselor perlu memiliki
ketersediaan berbagai bahan dan keterampilan untuk menangani
berbagai masalah yang beraneka ragam itu.
b. Pengentasan Masalah Berdasarkan Diagnosis
Pengertian diagnostik yang dipakai oleh Bordin itu lebih lanjut
dikenal sebagai “diagnostik pengklasifikasian”. Dalam upaya
diagnostik itu masalah-masalah diklasifikasi, dilihat sebab-sebabnya,
dan ditentukan cara pengentasannya.
Model diagnosis Bordin itu tampak cukup menarik. Sejalan dengan
diagnosis medis : ada masalah, dianalisis, dan diklasifikasi, ditetapkan
sebab-sebabnya, dan diberikan “resep” pengentasannya.
Mengklasifikasikan masalah seperti dilakukan Bordin itu dirasakan

8
sulit, karena unsur-unsur masalah yang satu sering saling terkait satu
sama lain, dan dengan lebih penting lagi setiap masalah.
Tabel 1
Klasifikasi Masalah, sebabnya, Dan Cara pengentasannya
Klasifikasi Sebab Cara pengentasan
Masalah
Sikap tergantung Klien belum belajar Klien membantu klien
untuk bertanggung agar merasa sanggup
jawab dalam menghadapi masalah
pemecahan masalah dalam hidupnya sehari-
sendiri. hari dan memperoleh
pengalaman langsung
untuk
memungkinkannya tidak
lagi tergantung pada
orang lain.
Kekurangan Pengalaman yang Konselor memberikan
informasi dimiliki klien selama informasi yang
ini tidak memadai diperlukan klien atau
lagi untuk mengatasi langsung membawa
permasalahan yang klien ke sumber
dihadapinya. informasi yang
dimaksud.

Terjadi konflik Dua atau lebih Konselor membantu


dalam diri sendiri perasaan dan klien untuk mengenali
keinginan yang dan menerima perasaan-
berlainan arah perasaan dan
mendorong konflik keinginankeinginannya
dalam diri klien. yang berlainan arah itu
sehingga konflik itu
teratasi.

9
Kecemasan dalam Klien tidak mampu Konselor membantu
memilih menghadap dan klien menyadari dan
menerima suasana menerima masalah yang
berat (dalam dihadapinya itu dan
memilih) yang tak selanjutnya membuat
terelakan. suatu keputusan.

Tidak ada masalah Klien membutuhkan Konselor memberikan


dukungan terhadap dorongan dan dukungan
keputusan yang telah kepada klien.
diambilnya, atau
ingin mengecek
apakah ia bertindak
di jalur yang benar.

Klien adalah unik. Pengklasifikasian masalah cenderung


menyamaratakan masalah klien yang satu dengan yang lainnya.
Sebagai rambu-rambu yang dapat dipergunakan untuk
terselenggarakannya diagnosis pemahaman itu, di sini dicatatkan tiga
dimensi diagnosis, yaitu ;
1) Diagnosis mental/psikologis
2) Diagnosis sosio-emosional
3) Diagnosis instrumental
Diagnosis mental/psikologis mengarah kepada pemahaman tentang
kondisi mental/psikologis klien, seperti kemampuan-kemampuan
dasarnya, bakat dan kecenderungan minat-minatnya, keinginan dan
harapan-harapannya, temperamen, dan kematangan emosionalnya,
sikap dan kebiasaannya. Diagnosis sosio-emosional mengacu kepada
hubungan sosial klien dengan orang-orang yang amat besar
pengaruhnya terhadap klien. Seperti orang tua, guru, teman sebaya
(bagi siswa), suami/istri, mertua (bagi pasangan suami-istri), pejabat
yang menjadi atasan langsung (bagi karyawan), serta suasana

10
hubungan antara klien dengan orang-orang penting itu dengan
lingkungan sosial pada umumnya. Sedangkan diagnosis instrumental
berkenaan dengan kondisi atau prasyarat yang diperlukan terlebih
dahulu sebelum individu mampu melakukan atau mencapai sesuatu.
Diagnosis instrumental ini meliputi aspek-aspek fisik klien, fisik
lingkungan, sarana kegiatan, prasyarat kemampuan untuk belajar, dan
pemahaman situasi.

c. Pengentasan Masalah Berdasarkan Teori Consoling


Sejumlah ahli telah mengantarkan berbagai teori konseling, antara
lain teori ego-counceling yang didasarkan pada tahap perkembangan
psikososial menurut Erickson, pendekatan transactional analysis
dengan tokohnyya Eric Berne, pendekatan konseling berdasarkan self-
theory dengan tokohnya Carl Rogers, gestalt counceling dengan
tokohnya Frita perl, pendekatan konseling yang bersifat behavioristik
yang didasarkan pada pemikiran tentang tingkah laku oleh B. F.
skinner, pendekatan rasional konseling dalam bentuk Reality therapy
dengan tokohnya William Glasser dan Rational Emotive Therapy
dengan tokohnya Albert Ellis.
Masing-masing teori konseling itu dilengkapi dengan teori tentang
kepribadian. Individu, perkembangan tingkah laku individu yang
dianggap sebagai masalah, tujuan konseling, serta proses dan teknik-
teknik khusus konseling. Tujuan teori tersebut tidak lain adalah
mengentaskan masalah yang diderita oleh klien dengan cara yang
paling cepat, cermat, dan tepat. Menurut uraian diatas jelaslah bahwa
fungsi pengentasan melalui pelayanan bimbingan dan konseling
perorangan saja, tetapi dapat pula dengan menggunakan bentuk-bentuk
layanan lainnya.

4. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan


Fungsi pemeliharaan berarti memelihara segala sesuatu yang baik yang
ada pada diri individu, baik hal itu merupakan pembawaan maupun hasil-

11
hasil perkembangan yang telah dicapai selama ini. Bukan itu saja.
lingkungan yang baik pun (lingkungan fisik, sosial, dan budaya) harus
dipelihara dan sebesar-sebarnya harus dimanfaatkan untuk kepentingan
individu dan orang lain. Jangan sampai rusak ataupun berkurang mutu dan
manfaatnya.
Apabila bicara tentang “pemeliharaan’, maka pemeliharaan yang baik
bukanlah sekadar mempertahankan agar hal-hal yang dimaksudkan tetap
utuh, tidak rusak dan tetap dalam keadaannya semula, melainkan juga
mengusahakan agar hal-hal tersebut bertambah baik, kalau dapat lebih
indah, lenih menyenangkan, memiliki nilai tambah daripada waktu-waktu
sebelumnya. Pemeliharaan yang demikian itu adalah pemeliharaan yang
membangun, pemeliharaan yang memperkembangkan. Oleh karena itu,
fungsi pemeliharaan dan fungsi pengembangan tidak dapat dipisahkan.
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, fungsi pemeliharaan dan
pengembangan dilaksanakan melalui berbagai pengaturan, kegiatan, dan
program.
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam suatu kegiatan atau
program bimbingan dan konseling sebenarnya terkait langsung pada ketiga
fungsi yang lain (pemahaman, pencegahan, dan pengentasan). Dalam
menjalankan fungsi pemeliharaan dan pengembangan itu konselor sering
kali tidak dapat berjalan sendiri, melainkan perlu bekerja sama dengan
pihak-pihak lain.
Memperhatikan kaitan antara fungsi bimbingan dan konseling, fungsi
pemeliharaan, dan pengembangan tampaknya bersifat lebih umum dan
dapat terkait pada fungsi yang lain. Jika dikaji lebih jauh, dapatlah
dimengerti bahwa “pemeliharaan” dalam artinya yang luas dan
“perkembangan” pada dasarnya merupakan tujuan umum dari seluruh
upaya pelayanan pemuliaan manusia, khususnya bimbingan dan konseling.

B. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling


Prinsip merupakan paduan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang
digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. Dalam

12
pelayanan bimbingan dan konseling prinsip-prinsip yang digunakannya
bersumber dari kajian filosofis, hasil-hasil penelitian dan pengalaman praktis
tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam
konteks sosial budayanya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses
penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
Rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya
berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses
penanganan masalah, program pelayan, penyelenggaran pelayanan.
1. Prinsip-Prinsip Berkenaan dengan Sasaran Pelayanan
Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling adalah individu-individu,
baik secara perorangan maupun kelompok. Individu-individu itu sangat
bervariasi. Secara lebih khusus lagi, yang menjadi sasaran pelayanan
umumnya adalah perkembangan dan perkehidupan individu, namun secara
lebih nyata dan langsung adalah sikap dan tingkah lakunya. Prinsip-prinsip
bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu, tanpa memandang
umur, jenis kelamin, suku, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi.
b. Bimbingan dan konseling berurusan dengan sikap dan tingkah laku
individu yang berbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang
kompleks dan unik.
c. Untuk mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai
dengan kebutuhan individu itu sendiri perlu dikenali dan dipahami
keunikan setiap individu dengan kekuatan, kelemahan, dan
permasalahannya.
d. Setiap aspek pola kepribadian yang kompleks setiap individu
mengandung faktor-faktor yang secara potensial mengarah kepada
sikap dan pola-pola tingkah laku yang tidak seimbang.
e. Meskipun individu yang satu dan lainnya adalah serupa dalam
berbagai hal, perbedaan individu harus dipahami dan dipertimbangkan
dalam rangka upaya yang bertujuan memberikan bantuan atau
bimbingan kepada individu-individu tertentu, baik mereka itu anak-
anak, remaja, ataupun orang dewasa.

13
2. Prinsip-Prinsip Berkenaan dengan Masalah Individu
Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan
individu tidaklah selalu positif. Faktor-faktor yang pengaruhnya negative
akan menimbulkan hambatan-hambatan terhadap kelangsungan
perkembangan dan kehidupan individu yang akhirnya menimbulkan
masalah tertentu pada diri individu. Prinsip-prinsip yang berkenaan
dengan hal itu adalah :
a. Meskipun pelayanan bimbingan dan konseling menjangkau setiap
tahap dan bidang perkembangan dan kehidupan individu, namun
bidang bimbingan pada umumnya dibatasi hanya pada hal-hal yang
menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu.
b. Keadaan sosial, ekonomi dan politik yang kurang menguntungkan
merupakan faktor salah satu pada diri individu dan hal itu semua
menuntut perhatian seksama.

3. Prinsip-Prinsip Berkenaan dengan Program Pelayanan


Kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling baik diselenggarakan
secara “incidental”, maupun terprogram. Pelayanan incidental diberikan
kepada klien-klien yang secara langsung kepada konselor untuk memita
bantuan. Konselor memang tidak menyediakan program khusus untuk
mereka. Pelayanan incidental itu merupakan pelayanan konselor yang
sedang menjalankan praktek pribadi.
Untuk warga lembaga tempat konselor bertugas, yaitu warga yang
pemberian pelayanan bimbingan dan konselingnya menjadi tanggung
jawab konselor sepenuhnya, konselor dituntut untuk menyusun program
pelayanan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hal itu adalah :
a. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari proses
pendidikan dan pengembangan.
b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel, disesuaikan dengan
kondisi lembaga, kebutuhan individu, dan masyarakat.
c. Program pelayanan bimbingan dan konseling disusun dan
diselenggarakan secara berkesinambungan.

14
d. Terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling hendaknya diadakan
penilaian yang teratur untuk mengetahui sejauh mana hasil dan
manfaat yang diperoleh, serta mengetahui kesesuaian antara program
yang direncanakan dan pelaksanaannya.

4. Prinsip-Prinsip Berkenaan dengan Pelaksanan Layanan


Pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling dimulai dengan
pemahaman tentang tujuan layanan. Tujuan ini selanjutnya diwujudkan
melalui proses tertentu yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dalam
bidangnya, yaitu konselor professional. Kerjasama dengan berbagai pihak,
baik didalam maupun diluar berbagai tempat ia bekerja perlu
dikembangkan secara optimal. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hal
itu adalah :
a. Tujuan akhir bimbingan dan konseling adalah kemandirian setiap
individu.
b. Dalam proses konseling keputusan yang diambil dan hendak dilakukan
oleh klien hendaklah atas kemauan klien sendiri.
c. Permasalahan khusus yang dialami klien harus ditangani oleh tenaga
ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan khusus tersebut.
d. Bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional
e. Guru dan orang tua memiliki tanggung jawab yang berkaitan dengan
bimbingan dan konseling.
f. Guru dan konselor berada dalam satu kerangka upaya pelayanan.
g. Untuk mengelola pelayanan bimbingan dan konseling dengan baik dan
sejauh mungkin memenuhi tuntutan individu, program pengukuran dan
penilaian terhadap individu hendaknya dilakukan dan himpunan data
yang memuat hasil pengukuran dan penilaian itu dikembangkan dan
dimanfaatkan dengan baik.
h. Organisasi program bimbingan hendaknya fleksibel, disesuaikan
dengan kebutuhan individu dengan lingkungannya.
i. Tanggung jawab pengelolaan program bimbingan dan konseling
hendaknya diletakkan di pundak seorang pemimpin program yang

15
terlatih dan terdidik secara khusus dalam pendidikan bimbingan dan
konseling, bekerjasama dengan staf dan personal, lembaga di tempat ia
bertugas dan lembaga-lembaga lain yang dapat menunjang program
bimbingan dan konseling.
j. Penilaian periodik perlu dilakukan terhadap program yang sedang
berjalan.

5. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Dalam lapangan operasional bimbingan dan konseling, sekolah
merupakan lembaga yang wajah dan sosoknya sangat jelas. Di sekolah
pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan
berkembang dengan amat baik mengingat sekolah merupakan lahan yang
secara potensial sangat subur, sekolah memiliki kondisi dasar yang justru
menuntut adanya pelayanan ini pada kadar yang tinggi. Crow dan Crow
(1960) mengemukakan perubahan materi kurikulum dan prosedur
pengajaran hendaklah memuat kaidah-kaidah bimbingan. Apabila kedua
hal itu memang terjadi, materi dan prosedur pengajaran berkaidah
bimbingan, dibarengi oleh kerjasama yang erat antara guru dan konselor,
dapat diyakini bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru
untuk murid itu akan sukses.
Belkin (1975) menegaskan enam prinsip untuk menegakkan dan
menumbuh kembangkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Pertama, konselor harus memulai kariernya sejak awal dengan program
kerja yang jelas, dan memiliki kesiapan yang tinggi untuk melaksanakan
program tersebut.
Kedua, konselor harus selalu mempertahankan sikap professional tanpa
menggangu keharmonisan hubungan konselor dengan personal sekolah
lainnya dan siswa.
Ketiga, konselor bertanggung jawab untuk memahami peranannya
sebagai konselor professional dan menerjemahkan peranannya itu dalam
kegiatan nyata.

16
Keempat, konselor bertanggung jawab kepada semua siswa, baik siswa-
siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan
putus sekolah, dan yang mengalami permasalahan emosional.
Kelima, konselor harus memahami dan mengembangkan kompetensi
untuk membantu siswa-siswa yang mengalami masalah dengan kadar yang
cukup parah, dan sisiwa-siswa yang menderita gangguan emosional.
Keenam, konselor harus mampu bekerjasama secara efektif dengan
kepala sekolah, memberikan perhatian dan peka terhadap kebutuhan,
harapan dan kecemasan-kecemasannya.

17
Pilihlah
1. Salah satu fungsi bimbingan dan konseling ditinjau dari kegunaan atau
manfaatnya adalah…
a. Fungsi Pertolongan
b. Fungsi Pelayanan
c. Fungsi Pengenalan
d. Fungsi Pemeliharaan
2. Pada fungsi pengentasan rambu-rambu yang dipergunakan bagi
terselenggaranya diagnosis penjumlahan berjumlah…
a. 2
b. 3
c. 4
d. 5
3. Berikut ini merupakan prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan
sasaran pelayanan, kecuali…
a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu
b. Bimbingan dan konseling berurusan dengan sikap dan perilaku
c. Perbedaan individu harus dipahami dalam memberikan bantuan
d. Dalam memberikan bimbingan keunikan individu dapat diabaikan
4. Siapakah yang perlu memahami diri klien dalam pemberian bimbingan
untuk pertama kalinya?
a. Pemberi Bimbingan
b. Konselor
c. Klien itu sendiri
d. Orang tua
5. Dibawah ini yang merupakan prinsip bimbingan dan konseling di sekolah
adalah…
a. Konselor harus memahami dan mengembangkan kompetensi untuk
membantu siswa
b. Bimbingan konseling menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik
individu
c. Bimbingan konseling mencakup keadaan sosial, ekonomi, dan politik

18
d. Program pelayanan diselenggarakan secara berkesinambungan
Kunci jawaban
1. D
2. B
3. D
4. C
5. A

19