Anda di halaman 1dari 18

REFERAT : GADUH GELISAH

Oleh :
Raischa Sekar Raafidianti
2015730108

Pembimbing:
Dr. Nunu Nurkholis M, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................4
A. DEFINISI........................................................................................................4
B. GEJALA.........................................................................................................4
C. DIAGNOSIS.................................................................................................10
D. PENANGANAN PASIEN DENGAN KEADAAN GADUH GELISAH. . .10
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................18

2
BAB I
PENDAHULUAN

Gaduh gelisah pada pasien dengan gangguan jiwa dapat digolongkan menjadi
kegawatdaruratan psikiatri. Hal ini bukan dikarenakan frekuensinya yang tinggi, akan
tetapi karena keadaan ini merupakan keadaan yang berbahaya dan cenderung
mengancam keselamatan, baik bagi pasien maupun orang-orang disekitarnya.
Kegawatdaruratan psikiatri merupakan aplikasi klinis dari psikiatri pada
kondisi darurat. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatri dilakukan oleh pada
professional di bidang kedokteran, ilmu keperawatan, psikologi dan pekerja sosial.
Tidak jarang seorang yang gelisah serta gaduh dibawa ke Rumah Sakit atau Pusat
Kesehatan Masyarakat. Pengantarnya sering tidak sedikit dan biasanya mereka adalah
anggota keluarga, tetangga dan juga kadang – kadang anggota angkatan bersenjata
atau polisi.
Penatalaksanaan pada pasien kegawatdaruratan psikiatri seperti pada pasien
yang datang dengan gaduh gelisah memiliki kompleksitas yang cukup tinggi. Para
professional yang bekerja pada pelayanan kegawatdaruratan psikiatri umunya
berisiko tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka.
Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatri pada umunya meliputi
stabilisasi krisis dari masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala atau kekacauan
mental baik sifatnya kronis maupun akut. Oleh karena itu tenaga kesehatan pada
pelayanan primer seperti puskesmas harus mengetahui beberapa hal pokok yang
berhubungan dengan kegawatdaruratan psikiatri, terutama keadaan gaduh gelisah,
agar kita dapat turut berperan serta dalam penanganannya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Keadaan gaduh-gelisah bukanlah suatu diagnosis dalam arti kata yang
sebenarnya, akan tetapi hanya menunjuk kepada suatu keadaan tertentu, suatu
sindrom dengan sekelompok gejala tertentu. Keadaan ini dapat disebabkan
oleh bermacam – macam penyebab yang harus ditentukan tiap kali pada setiap
pasien. Istilah keadaan gaduh-gelisah hanya dapat dipakai sebagai pemberian
sementara tentang suatu gambaran psikologis dengan ciri-ciri utama seperti
dicantumkan pada namanya, yaitu gaduh dan gelisah.
Biasanya, keadaan gaduh-gelisah merupakan manifestasi salah satu
jenis psikosis: F05 Delirium, F20.2 Skizofrenia Katatonik, F21 Gangguan
skizotipal, F23 Gangguan psikotik akut dan sementara, F31.2 Gangguan
afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik.

A. GEJALA
Keadaan gaduh-gelisah biasanya timbul akut atau subakut. Gejala
utama adalah psikomotorik yang sangat meningkat. Orang itu banyak sekali
berbicara, berjalan mondar – mandir, tidak jarang ia berlari – berlari dan
meloncat – loncat bila keadaan itu berat. Gerakan tangan dan kaki serta ajuk
(mimik) dan suaranya cepat dan hebat. Mukanya kelihatan bingung, marah-
marah atau takut. Ekspresi ini mencerminkan gangguan afek-emosi dan proses
berpikir yang tidak realistik lagi. Jalan pikiran biasanya cepat dan sering
terdapat waham curiga. Tidak jarang juga timbul halusinasi penglihatan
(terutama pada sindrom otak organik yang akut) atau halusinasi pendengaran
(terutama pada skizofrenia).

4
Karena gangguan berpikir ini, serta waham curiga dan halusinasi
(lebih – lebih bila halusinasi itu menakutkan), maka pasien menjadi sangat
bingung, gelisah dan gaduh. Ia bersikap bermusuhan dan mungkin menjadi
berbahaya bagi dirinya sendiri dan/atau lingkungannya. Ia dapat melukai diri
sendiri atau mengalami kecelakaan maut dalam kegelisahan yang hebat itu.
Jika waham curiganya keras atau halusinasinya sangat menakutkan, maka ia
dapat menyerang orang lain atau merusak barang – barang di sekitarnya.
Bila orang dalam keadaan gaduh-gelisah tidak dihentikan atau dibuat
tidak berdaya oleh orang – orang di sekitarnya untuk mengamankan pasien
maupun lingkungannya, maka ia akan kehabisan tenaga dengan segala
akibatnya atau ia meninggal karena kecelakaan.
Tergantung pada gangguan primer, maka kesadaran dapat menurun
secara “kuantitatif” (tidak compos mentis lagi) dengan amnesia sesudahnya
(seperti pada sindrom otak organik yang akut), atau kesadaran itu tidak
menurun, kesadaran itu “berubah” secara kualitatif (seperti pada psikosis
skizofrenia dan bipolar). Seperti pada semua psikosis, maka individu dalam
keadaan gaduh-gelisah itu sudah kehilangan kontak dengan kenyataan: proses
berpikir, afek-emosi, psikomotor dan kemauannya sudah tidak sesuai lagi
dengan realitas. Beberapa jenis penyebab ini yang dapat menimbulkan
keadaan gaduh-gelisah.

 Psikosis karena gangguan mental organic: delirium. Pasien dengan


keadaan gaduh-gelisah karena delirium menunjukkan kesadaran yang
menurun. Istilah sindrom otak organik menunjuk kepada keadaan gangguan
fungsi otak karena suatu penyakit badaniah.
Penyakit badaniah itu yang mengakibatkan gangguan fungsi otak.
Penyebab itu mungkin terletak di dalam tengkorak atau otak sendiri dan
karenanya menimbulkan kelainan patologis-anatomis (misalnya meningo-

5
ensefalitis, gangguan pembuluh darah otak, neoplasma intrakranial, dan
sebagainya). Mungkin juga terletak di luar otak (misalnya tifus abdominalis,
pneumonia, malaria, uremia, keracunan atropin/kecubung atau alcohol, dan
sebagainya) dan hanya mengakibatkan gangguan fungsi otak dengan
manifestasi sebagai psikosis atau keadaan gaduh-gelisah, tetapi tidak
ditemukan kelainan patologis-anatomis pada otak sendiri.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada sindrom otak organic
akut biasanya terdapat kesadaran menurun, pada sindrom otak organik
menahun biasanya terdapat dementia. Akan tetapi suatu sindrom otak organik
yang menahun (misalnya tumor otak, demensia paralitika, aterosklerosis otak,
dan sebagainya) dapat saja pada suatu waktu menimbulkan psikosis atau pun
keadaan gaduh-gelisah. Untuk mengetahui etiologinya secara lebih tepat,
perlu sekali dilakukan evaluasi internal dan neurologis yang teliti.

 Skizofrenia dan gangguan skizotipal. Bila kesadaran tidak menurun, maka


biasanya keadaan gaduh-gelisah itu merupakan manifestasi suatu psikosis dari
kelompok ini, yaitu psikosis yang tidak berhubungan atau sampai sekarang
belum diketahui dengan pasti adanya hubungan dengan suatu penyakit
badaniah seperti pada gangguan mental organi.

 Gangguan psikotik akut dan sementara timbul mendadak tidak lama


sesudah terjadi stress psikologis yang dirasakan hebat sekali oleh individu.
Stress ini disebabkan oleh suatu frustasi atau konflik dari dalam ataupun dari
luar individu yang mendadak dan jelas, misalnya dengan tiba-tiba kehilangan
seorang yang dicintainya, kegagalan, kerugian dan bencana.
Gangguan psikotik akut yang biasanya disertai keadaan gaduh-gelisah
adalah gaduh-gelisah reaktif dan kebingungan reaktif.

6
 Skizofrenia merupakan psikokis yang paling sering terdapat di negara kita.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bila kesadaran tidak menurun dan
terdapat inkoherensi serta afek-emosi yang inadekuat, tanpa frustasi atau
konflik yang jelas, maka hal ini biasanya suatu skizofrenia. Diagnosis kita
diperkuat bila kelihatan juga tidak ada perpaduan (disharmoni) antara
berbagai aspek kepribadian seperti proses berfikir, afek-emosi, psikomotor
dan kemauan (kepribadian yang retak, terpecah-pecah atau bercabang =
schizo; jiwa = phren), yaitu yang satu meningkat, tetapi yang lain menurun.
Pokok gangguannya terletak pada proses berfikir.
Dalam berbagai jenis skizofrenia, yang sering menimbulkan keadaan
gaduh-gelisah adalah episode skizofrenia akut dan skizofrenia jenis gaduh-
gelisah katatonik. Disamping psikomotor yang meningkat, pasien
menunjukkan inkoherensi dan afek-emosi yang inadekuat. Proses berfikir
sama sekali tidak realistik lagi.

 Psikosis bipolar termasuk dalam kelompok psikosis afektif karena pokok


gangguannya terletak pada afek emosi. Tidak jelas ada frustasi atau konflik
yang menimbulkan gangguan mental ini. Belum ditemukan juga penyakit
badaniah yang dianggap berhubungan dengan psikosis bipolar, biarpun
penelitian menunjukkan kearah itu. Tidak ditemukan juga disharmoni atau
keretakan kepribadian seperti pada skizofrenia. Pada jenis depresi ataupun
mania, bila aspek afek-emosi menurun, maka aspek yang lain juga menurun
dan sebaliknya.
Pada psikosis bipolar jenis mania tidak terdapat inkoherensi dalam arti
kata yang sebenarnya, tetapi pasien itu memperlihatkan jalan pikiran yang
meloncat-loncat atau melayang (flight of ideas). Ia merasa gembira luar biasa
(efori), segala hal dianggap mudah saja. Psikomotorik meningkat, banyak
sekali bicara (logorea) dan sering ia lekas tersinggung dan marah.

7
Bila tidak dicegah, maka pasien dengan mania akan jatuh dalam hal
kesukaran keuangan karena menghambur-hamburkan uang, atau ia akan
kehabisan tenaga yang menurunkan daya tahan fisik dengan segala akibatnya.

Keadaan Gaduh-gelisah Lain


Serangan kecemasan akut dan panik mungkin saja terjadi pada
orang yang “normal” bila nilai ambang frustrasinya mendadak dilampaui,
misalnya kecemasan dan panik sewaktu kebakaran, kecelakaan massal atau
bencana alam serta serangan perang. Sebagian besar orang – orang ini lekas
menjadi tenang kembali, bila perlu diberi pengobatan tranquilizer serta
makanan dan minuman.
Kebingungan pascakonvulsi tidak jarang terjadi sesudah konvulsi
karena epilepsi grand mal atau sesudah terapi elektrokonvulsi. Pasien menjadi
gelisah atau agresif. Keadaan ini berlangsung beberapa menit dan jarang lebih
lama dari 15 menit. Pasien dikendalikan dengan dipegang saja dan dengan
kata-kata yang menenteramkan. Bila ia masih tetap bingung dan gelisah, maka
perlu diberi diazepam atau penthotal secara intravena untuk mengakhiri
keadaan bingungnya.
Reaksi disosiasi dan keadaan fugue memperlihatkan pasien dalam
keadaan bingung juga. Kedua-duanya merupakan jenis neurosis histerik yang
disebabkan oleh konflik emosional. Kesadaran pasien menurun, ia berbicara
dan berbuat seperti dalam keadaan mimpi. Sesudahnya terdapat amnesia total.
DI Negara-negara kita sering terjadi “kesurupan”. PPDGJ-III
memasukkan keadaan ini ke dalam Kategori Diagnosis “Fenomena dan
SIndrom yang Berkaitan dengan Faktor Sosial Budaya di Indonesia”, karena
faktor sosiobudaya memegang peranan penting dalam menimbulkannya.
Dengan meminjam istilah psikodinamika, maka kesurupan memperlihatkan
gejala disosiasi. Biarpun terdapat gejala disosiasi, akan tetapi kesurupan

8
bukan reaksi disosiasi, karena tidak disebabkan oleh konflik emosional, tetapi
karena faktor-faktor adat-istiadat dan kepercayaan.
Kadang-kadang orang yang kesurupan tidak mau sadar kembali
sehingga perlu pengobatan medis (bila dibawa ke dokter), Untuk
menghentikan reaksi disosiasi, keadaan fugue atau pun kesurupan, suntikan
diazepam atau barbiturate (Penthotal,Amytal) secara intravena dapat berguna.
Ledakan amarah (temper tantrums) tidak jarang timbul pada anak
kecil. Mereka menjadi bingung dan marah tidak karuan. Penyebabnya sering
terdapat pada hubungan dengan dunia luar yang dirasakan begitu menekan
sehingga tidak dapat ditahan lagi dan anak kecil itu bereaksi dengan caranya
sendiri. Hukuman dan amarah-balasan, apa lagi bila orang tua memukulnya
secara membabi-buta, dapat menyebabkan reaksi anak di hari kemudian
menjadi lebih buruk. Sebaiknya mereka jangan dimarahi dengan rasa dendam,
tetapi dengan kata-kata yang menenteramkan dan sikap yang tenang
menunjuk kepada keadaan yang nyata serta akibat-akibat yang mungkin
terjadi karena reaksi itu. Pada anak remaja kadang-kadang juga timbul
keadaan bingung dan gelisah: amarah yang hebat, pengrusakan atau tindakan
delinkuensi lain.
Agitasi merupakan satu kondisi meningkatnya kegaduhan mental dan
kegiatan motorik. Dapat terjadi pada rentangan kondisi gangguan mental yang
luas. Hal ini dapat menjadi kondisi gawat darurat karena agitasi biasanya
mendahului tindak kekerasan.
Kekerasan merupakan agresi fisik yang dilakukan oleh satu orang
kepada orang lain. Jika ditujukan pada diri sendiri, kekerasan disebut sebagai
mutilasi-diri atau perilaku bunuh diri. Kekerasan dapt disebabkan oleh suatu
kisaran luas gangguan psikiatrik, tetapi juga dapat terjadi pada orang normal
yang tidak dapat menghadapi stress hidup dengan cara yang tidak terlalu
berat. Keadaan psikiatrik yang paling sering disertai dengan kekerasan

9
mencakup gangguan psikotik seperti skizofrenia dan mania (terutama jika
pasien paranoid atau mengalami halusinasi perintah), intoksikasi alcohol dan
obat-obatan, putus alcohol dan hipnotik-sedasi, kegairahan katatonik, depresi
teragitasi, gangguan kepribadian yang ditandai dengan kemarahan atau
pengendalian yang buruk (gangguan kepribadian antisosial) dan gangguan
organik.

B. DIAGNOSIS
Meskipun pemeriksaan gawat darurat tidak harus lengkap, namun ada
beberapa hal yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk keakuratan data,
misalnya penapisan toksikologi (tes urin untuk opioid, amfetamin,
benzodiazepine, kanabis, dsb), pemeriksaan radiologi, EKG, tes laboratorium.
Sedapat mungkin pemeriksaan dan konsultasi medic untuk menyingkirkan
kemungkinan penyebab organic dilakukan di ruang gawat darurat. Data
penunjang seperti catatan medic sebelumnya, informasi alloanamnesis dari
keluarga, polisi, dsb juga dikumpulkan sebelum kita menentukan tindakan.

C. PENANGANAN PASIEN DENGAN KEADAAN GADUH GELISAH


Bila seorang dalam keadaan gaduh-gelisah, penting sekali harus
bersikap tenang. Dengan sikap yang meyakinkan, meskipun tentu waspada,
dan kata-kata yang menetramkan pasien maupun para pengantarnya.
Suntikan secra intramuskuler suatu neuroleptikum yang mempunyai
dosis terapeutik tinggi (misalnya chlorpromazine HCL), pada umumnya
sangat berguna untuk mengendalikan psikomotorik yang meningkat. Bila
tidak terdapat, maka suntikan suatu neuroleptikum yang mempunyai dosis
terapetik rendah, misalnya triflouperazine (stezaline), haloperidol atau
fluphenazine HCL (Anatensol) dapat juga dipakai, biarpun efeknya mungkin
tidak secepat neuroleptikum kelompok dosis terapetik tinggi. Bila tidak ada
juga, maka suatu tranquilaizer pun dapat dipakai, misalnya diazepam (valium

10
atau stesolid), disuntik secara intravena, dengan mengingat bahwa tranquilizer
bukan suatu antipsikotikum seperti neuroleptika, tetapi meskipun demikian
kedua-duanya mempunyai efek antitegang, anticemas dan antiagitasi.
Efek samping neuroleptika yang segera timbul terutama yang
mempunyai dosis terapeutik tinggi adalah hipotensi postural, terutama pada
pasien dengan susunan saraf vegetatif yang labil atau pasien lanjut usia. Untuk
mencegah jangan sampai terjadi sinkope, maka pasien jangan langsung berdiri
dari keadaan berbaring, tetapi sebaiknya duduk dahulu kira-kira satu menit
(bila pasien sudah tenang).
Bila pasien sudah tenang dan mulai kooperatif, maka pengobatan
dengan neuroleptika dilanjutkan (bila perlu suntikan juga dapat diteruskan).
Tempat berbaringnya harus memuaskan, jangan sampai mengganggu pasien
sehingga ia gelisah karena ini. Pemberian makanan dan cairan juga harus
memadai.
Usahakan terus mencari penyebabnya, bila belum diketahui, terutama
bila diduga suatu sindrom otak organic yang akut. Bila ditemukan, tentu
diusahakan untuk mengobatinya secara etiologis.Pasien dengan amok,
biasanya sudah tidak mengamuk lagi, menenteramkan saja dan mengobati
keadaan fisik bila sudah terganggu sewaktu ia dalam keadaan amok. Psikosis
skizofrenia dan bipolar memerlukan pengobatan jangka panjang dengan
neuroleptika.

EVALUASI
Menilai kondisi pasien yang sedang dalam krisis secara cepat dan tepat adalah
tujuan utama dalam melakukan evaluasi kedaruratan psikiatrik. Dalam proses
evaluasi, dilakukan :
 Wawancara Kedaruratan Psikiatrik. Secara umum, focus wawancara
ditujukan pada keluhan pasien dan alasan dibawa ke unit gawat

11
darurat. Keterangan tambahan dari pihak pengantar, keluarga, teman,
polisi, dapat melengkapi informasi terutama pada pasien mutisme,
negativistic, tidak kooperatif atau inkoheren.
 Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan psikiatrik standar meliputi : riwayat
perjalanan penyakit, pemeriksaan status mental, pemeriksaan status
fisik/neurologic, dan kalau perlu pemeriksaan penunjang. Yang
pertama dan terpenting yang harus dilakukan oleh dokter di unit gawat
darurat adalah menilai tanda – tanda vital pasien (Tekanan darah, nadi,
pernapasan dan suhu).
 Apabila pasien dalam keadaan diikat/difiksasi maka lepas ikatan
apabila kondisi memungkinkan, sambil tetap waspada bahwa pasien
akan menipu, melarikan diri, mengamuk setelah ikatan dilepas.
 Sebaliknya informasikan bahwa fiksasi akan digunakan bila perlu.
 Kalau perlu persiapkan tim yang sudah siap melakukan fiksasi.
 Medikasi bila dirasa perlu

Fiksasi pada pasien gaduh gelisah adalah:

- Fiksasi yang digunakan untuk penjagaan atau perawatan pasien


agar jangan melukai diri sendiri, menyerang orang lain atau
merusak barang.
- Harus dilakukan dengan mengingat, kenyamanan pasien tak
terganggu, pemberian makanan dan obat tetap dapat
berlangsung.
- Penjelasan kepada pasien dan penanggung jawab pasien.
- Seharusnya memakai alat yang telah disiapkan secara standar
maka pengikat kulit yang paling aman dan bukan tali.

Metode fiksasi atau dengan pengikatan pada pasien gaduh gelisah:

12
- Menggunakan petugas sebanyak empat sampai lima orang.
- Menjelaskan pada pasien mengapa harus diikat.
- Seorang petugas harus selalu terlihat pasien dan menenteramkan
untuk menghilangkan rasa takut, ketidakberdayaan dan
hilangnya kendali pasien.
- Pasien diikat dengantungkai terpisah, satu lengan diikat di satu
sisi dan lengan lain di atas kepala.
- Pengikatan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga cairan infus
dapat diberikan jika perlu.
- Kepala pasien agak ditinggikan untuk menurunkan perasaan
rentan dan menghindari kemungkinan aspirasi.
- Pengikatan harus diperiksa berkala demi keamanan dan
kenyamanan pasien.
- Setelah pasien diikat, dimulai intervensi terapi.
- Setelah pasien terkendali, satu ikatan sekali waktu harus dilepas
dengan interval 5 menit, sampai pasien hanya memiliki dua
ikatan di kaki. Kedua ikatan lainnya harus di lepas bersamaan.
- Selalu mencatat dengan lengkap alasan pengikatan, perjalanan
terapi dan respon pada pasien terhadap terapi selama pengikatan
(Eko, 2009)

5 hal yang harus ditentukan sebelum menangani pasien selanjutnya:


1. Keamanan pasien
Sebelum mengevaluasi pasien, harus dapat dipastikan bahwa situasi di
ruang gawat darurat, pola pelayanan dan komunikasi antar staf, serta
jumlah pasien dalam ruangan tersebut cukup aman bagi pasien, baik
secara fisik maupun emosional. Jika intervensi verbal tidak cukup atau
merupakan kontraindikasi, perlu diberikan obat atau pengekangan.

13
Perhatian perlu diberikan terhadap kemungkinan timbulnya agitasi
atau perilaku merusak.
2. Medik atau Psikiatrik
Penting sekali untuk menilai apakah kasusnya medic, psikiatrik, atau
kombinasi keduanya, sebab penanganannya akan jauh berbeda.
Kondisi-kondisi medic umum seperti trauma kepala, infeksi berat
dengan demam tinggi, kelainan metabolism, tumor, AIDS, intoksikasi
atau gejala putus zat, seringkali menyebabkan gangguan fungsi mental
yang menyerupai gangguan psikiatrik umumnya. Bila kondisi ini tidak
ditangani semestinya, dapat menyebabkan kematian. Karena itu tetap
harus menelusuri semua kemungkinan penyebab gangguan fungsi
mental yang tampak, meskipun sebenarnya secara medic telah
dinyatakan tak ada kelainan oleh dokter lain.
Beberapa hal yang perlu dicurigai adanya Gangguan Mental Organik
apabila:
- Onset akut.
- Episoda pertama.
- Usia tua.
- Penyakit fisik atau cidera yang baru terjadi.
- Riwayat penyalahgunaan obat.
- Adanya halusinasi non auditorik.
- Adanya gejala neurologik: kejang, penurunan kesadaran, nyeri
kepala tertentu.
- Perubahan penglihatan.
- Status mental tertentu.
- Gangguan bicara, berjalan, gait
- Gambaran katatonik, bradikinesia(Eko, 2009)
3. Psikosis

14
Yang penting disini bukanlah penegakan diagnosisnya, tetapi seberapa
jauh ketidakmampuannya dalam menilai realita dan buruknya tilikan
mempengaruhi hidupnya. Hal ini dapat mempengaruhi sikapnya
terhadap pertolongan yang kita berikan serta kepatuhannya dalam
berobat
4. Suicidal atau homicidal
Pasien-pasien dengan kecenderungan ini sangat membahayakan
dirinya sendiri atau orang lain. Jangan pernah menyepelekan semua
ancaman, pikiran, atau sikap yang menunjukkan adanya
kecenderungan bunuh diri, sampai terbukti bahwa hal itu tidak benar.
Semua pasien dengan kecenderungan bunuh diri harus diobservasi
secara ketat. Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan tindak
kekerasan atau pikiran bunuh diri harus selalu ditanyakan kepada
pasien.
5. Kemampuan merawat diri sendiri
Sebelum memulangkan pasien, harus dipertimbangkan apakah pasien
mampu merawat dirinya sendiri, mampu merawat dirinya sendiri,
mampu menjalankan saran yang dianjurkan.
Indikasi rawat inap adalah :
 Pasien mengancam keselamatan diri sendiri atau orang lain
 Adanya ide/percobaan bunuh diri
 Tidak adanya dukungan dan motivasi sembuh dari keluarga
maupun lingkungan
 Perlu observasi lebih lanjut
 TImbulnya efek samping obat yang membahayakan jiwa

Untuk gaduh gelisah yang hebat dan cenderung meningkat, obat


penenang akan dibutuhkan. Terapi obat tergantung diagnosisnya. Biasanya

15
untuk menenangkan pasien diberikan obat antipsikotik atau hipnotika sedatif
(mis. Benzodiazepine atau barbiturate).
Periksalah tanda vital pasien bila mungkin. Anti psikotika yang ringan
seperti klorpromazin harus dihindarkan karena khawatir dapat menyebabkan
hipotensi ortostatik. Bila ada demam, hindari antipsikotika, karena
menyebabkan poikilotermia dan dapat mengganggu penanggulangan terhadap
demamnya.
Bila diduga ada intoksikasi atau abstinensi terhadap alcohol atau
hipnotika sedative, benzodiazepine merupakan obat terpilih. Karena anti
psikotika dapat mencetuskan kejang abstinensi.
Bila pasien psikotik, pikirkanlah antipsikotika. Walau pasien psikotik
dapat ditenangkan oleh benzodiazepine, namun tidak dianggap sebagai terapi
yang sesuai untuk psikosis. Namun begitu, penggunaan benzodiazepine untuk
menenangkan pasien psikotik di UGD atau praktek memberi kesempatan
kepada anggota tim rumah sakit untuk memeriksa secara tepat tanpa anti
psikotika esok harinya. Pilihan obat yang dapat diberikan adalah :
 Flufenazin, trifluoperazin atau haloperidol diberikan 5 mg per oral
atau IM;
 Olanzapine 2,5 – 10 mg per IM, maksimal 4 injeksi sehari, dengan
dosis rata-rata per hari 13-14 mg.
 Atau lorazepam 2 – 4 mg per oral, IM atau IV, diazepam 5 – 10 mg
per-IV secara perlahan (dalam 2 menit).

Bila pasien sudah mendapat anti psikotik sebelumnya, berikan lagi


obat yang sama. Bila dalam 20-30 menit kegelisahan pasien tidak berkurang,
ulangi dosis yang sama sampai dicapai kondisi tenang. Hindari pemberian
antipsikotik pada pasien yang mempunyai risiko kejang. Untuk pasien dengan
epilepsy, antikonvulsan (mis. Carbamazepine) dapat efektif. Beberapa pasien
dapat mengalami gejala ekstrapiramidal ringan dalam 24 jam pertama setelah

16
penanganan cepat, meskipun efek sampan ini jarang, psikiater tidak boleh
mengabaikannya. Kegawatdaruratan ekstrapiramidal memberikan respon
terhadap benztropin 2 mg per oral atau IM, difenhidramin 50 mg IM atau IV
Benzodiazepin mungkin tidak akan efektif pada pasien yang sudah
toleran; benzodiazepine juga dapat menurunkan inhibisi yang secara potensial
dapat memperburuk kekerasan pada pasien. Untuk penderita epilepsy, mula-
mula berikan antikonvulsan, misalnya carbamazepine, baru benzodiazepine.
Pasien yang menderita gangguan organic kronik seringkali
memberikan respons yang baik dengan pemberian β-blockers, seperti
propanolol. Penilaian kondisi gaduh-gelisah secara objektif dapat
menggunakan instrumen, dimana apabila skor menunjukkan angka ≥ 20 maka
sudah dikategorikan dalam kondisi agitasi berat.
Pemberian terapi obat atau pengekangan (bila memang diperlukan)
harus mengikuti prinsip terapi : maximum tranquilization with minimum
sedation.
Tujuannya adalah untuk :
 Membantu pasien untuk dapat mengendalikan dirinya kembali,
 Mengurangi/menghilangkan penderitaannya
 Agar evaluasi dapat dilanjutkan sampai didapat suatu kesimpulan
akhir

Pasien yang tidur memang tidak membahayakan orang lain, tetapi kitapun
tidak dapat melakukan pemeriksaan status mental terhadap pasien tersebut.
Obat-obatan yang sering digunakan adalah :
 Low-dose high potency antipsychotics, seperti haloperidol,
trifluoperazine, perphenazine, dsb. Karena batas keamanannya cukup
luas. Haloperidol terdapat dalam kemasan injeksi dan tetes (cairan)
sehingga memudahkan pemberian

17
 Atypical antipsychotics, seperti risperidone, quetiapine, olanzapine.
Olanzapine juga terdapat dalam bentuk injeksi.
 Injeksi benzodiazepine

Kombinasi antipsikotik dan benzodiazepine kadang sangat efektif

DAFTAR PUSTAKA

1. Maramis WF, Maramis AA (2009), Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2,


Surabaya : Airlangga University Press
2. Kaplan HI, Sadock Benjamin J (1998), Ilmu kedokteran Jiwa Darurat, Jakarta :
Widya Medika
3. Elvira SD, Hadisukanto G (2013), Buku Ajar Psikiatri, Jakarta : Badan Penerbit
FKUI
4. Sadock BJ, Sadock VA (2010), Buku Ajar Psikiatri Klinis Kaplan & Sadock Edisi
2, Jakarta : EGC
5. Pinastikasari, Nindita. 2009. Penatalaksanaan Kegawat Daruratan Psikiatri.
Malang.
6. Eko Sunaryanto, B. (2009). Kegawat Daruratan Psikiatri. Tidak diterbitkan.

18