Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN An.

J DENGAN HIPERPIREKSIA
DI RUANG IRNA ANAK RSUD KECAMATAN MANDAU
DURI

Disusun oleh:

RICHE FRANCISCA
NIM. 1611438280

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-
Nya penulis dapat menyusun laporan akhir elektif dengan asuhan keperawatan
hiperpireksia di Ruang IRNA Anak Rumah Sakit Umum Daerah Kecamatan Mandau Duri.
Dalam proses penyusunan laporan ini penulis banyak mendapat bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang
terhormat:
1. Ibu Ns. Ganis Indriati, M. Kep., Sp. Kep. An, selaku pembimbing I, yang telah
meluangkan waktu untuk bimbingan dalam menyelesaikan laporan ini.
2. Ibu Ns. Selvi, S. Kep, selaku pembimbing II, yang telah meluangkan waktu untuk
bimbingan serta memberikan masukan dalam menyelesaikan laporan ini.
3. Ibu Sri Dahanum, AMKep, selaku kepala ruang IRNA Anak, yang telah menyediakan
tempat selama praktek di ruang IRNA Anak RSUD Kecamatan Mandau Duri.
4. Rekan-rekan perawat IRNA Anak RSUD Kecamatan Mandau Duri, yang telah
membantu selama praktek di IRNA Anak.
Penulis menyadari dalam penulisan laporan ini masih banyak terdapat kekurangan.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan lapora ini. Akhir kata penulis berharap laporan ini dapat berguna bagi kita
semua.

Duri, Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian...........................................................................
D. Manfaat penelitian......................................................................... 6

BAB II TINJAUAN TEORITIS


A. Pengertian...................................................................................... 8
B. Kerangka Konsep........................................................................... 30
C. Hipotesa......................................................................................... 31

BAB III METODE PENELITIAN


A. Desain dan Metode Penelitian....................................................... 32
B. Waktu dan Tempat Penelitian........................................................ 32
C. Populasi dan Sampel...................................................................... 33
D. Etika Penelitian.............................................................................. 34
E. Definisi Operasional...................................................................... 35
F. Alat Pengumpul Data..................................................................... 36
G. Prosedur Pengumpulan Data.......................................................... 38
H. Pengolahan dan Analisis Data....................................................... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN


A. Analisis Univariat.......................................................................... 41
B. Analisis Bivariat..................................................................... 42

BAB V PEMBAHASAN
A. Pembahasan Penelitian................................................................. 44
B. Keterbatasan Penelitian................................................................ 51

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 59
B. Saran.............................................................................................. 59

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN- LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Demam (pireksi) yaitu peninggian suhu tubuh di atas 38,3 o C, sejak dahulu
sudah dikenal sebagai tanda penyakit. Penderita atau orang tua biasanya menyamakan
tingginya demam dengan beratnya penyakit. 30 - 35,8% alasan kunjungan ke dokter
ialah demam. Walaupun sebagian penderita dapat menahan suhu tubuh antara 39,4 oC -
40oC, demam dapat menimbulkan efek yang merusak. Pada 3% anak yang berumur
kurang daripada 5 tahun terdapat kejang demam, yang merupakan separuh daripada
seluruh kejang pada kelompok umur ini. Orang tua biasanya cemas bila anaknya
demam karena beranggapan bahwa tingginya suhu sejajar dengan gawatnya penyakit
yang diderita dan berusaha meminta pertolongan untuk pengobatan demamnya.
Keadaan demam yang lebih berat, yaitu hiperpireksi dimana suhu tubuh lebih
daripada 41,1oC atau 106oF, terdapat pada 0,476/1000 kasus demam. Kenaikan suhu di
atas 41,1oC sebenarnya jarang terjadi, oleh karena adanya set point pengatur suhu yang
diatur oleh hipotalamus di otak. Kenaikan suhu di atas 41,1oC ini umumnya masih
dapat ditoleransi oleh anak, kecuali anak yang memang peka terhadap timbulnya
kejang. Dalam keadaan kejang, hiperpireksia menyebabkan kebutuhan untuk
metabolisme yang lebih tinggi dan memperburuk keadaan.
Dari penderita yang datang ke ruang darurat terdapat 0,048% yang menderita
hiperpireksia, sedang dari 1761 penderita dengan infeksi berat, misalnya tifus
abdominalis dan pneumonia lobaris ternyata 5% di antaranya menderita hiperpireksia.
Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa meningkatnya suhu disertai dengan
meningkatnya kasus bakterimia. Hal ini dibuktikan bahwa pada kasus dengan
hiperpireksia terdapat 26% bakterimia (kultur positif dibanding dengan hanya 13%
penderita dengan demam di bawah 40oC.
Baik hipertermia dan hipotermia dapat menyebabkan MOD (Multiorgan system
Dysfunction). Terapi untuk hipertermia meliputi mencari agen penyebab dan
mendiagnosa serta penanganan penyakit yang mendasari dengan perawatan
keseluruhan secara simultan. Pasien dengan hipertermia dapat mengalami
myoglobinuria dan gagal ginjal.
Hiperpireksi meningkatkan metabolisme tubuh dan kerja system kardiopulmoner
dan menyebabkan kerusakan jaringan sehingga harus ditanggulangi sebagai kasus
emergensi. Malignant hyperthermia pada anestesi dapat menyebabkan kematian pada
60 – 80% kasus.
Angka kematian penderita hiperpireksia cukup tinggi tetapi lebih daripada
separuhnya bukan disebabkan oleh tingginya suhu, melainkan disebabkan oleh
penyebab hiperpireksia. Pada percobaan penggunaan hipertermia sebagai pengobatan
penderita keganasan yang lanjut, meninggikan suhu tubuh sampai 42 oC, tidak
menyebabkan terjadinya disfungsi otak. Kenaikan suhu di atas 41 oC pada anak disertai
frekuensi yang tinggi daripada infeksi berat atau bakterimia, misalnya meningitis
purulen, pneumonia lobaris, tifus abdominalis dan lain-lain.
Penyelidikan tentang demam telah banyak dilakukan, sungguhpun begitu belum
dapat ditentukan peranan demam terhadap penyakit. Buku teks pediatric yang
terpenting hampir tidak membicarakan sama sekali gejala demam dan pengobatannya.
Selain merupakan alat diagnostic yang penting, demam mungkin merupakan bagian
pertahanan tubuh yang dapat dipakai pada pengobatan.
Pengobatan hiperpireksi tidak selalu menyenangkan, efektif dan berguna,
malahan mungkin berbahaya. Pengobatan yang rasionil memerlukan pengertian yang
baik tentang mekanisme pengaturan suhu tubuh, patogenesis dan patofisiologi demam
serta pengetahuan tentang mekanisme pengobatan yang dapat menurunkan suhu tubuh.
Pengobatan yang ditujukan terhadap penyakit yang menyebabkan hiperpireksi tentu
saja tetap merupakan hal yang utama.

B. Perumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan ditampilkan adalah Asuhan keperawatan pada An. J
dengan Hiperpireksia yang dirawat di ruang IRNA Anak RSUD Kecamatan Mandau
Duri.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan Hiperpireksia di ruang
IRNA Anak RSUD Kecamatan Mandau Duri.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan hiperpireksia di ruang IRNA
Anak RSUD Kecamatan Mandau Duri.
b. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan sesuai permasalahan yang ada.
c. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan sesuai prioritas masalah
keperawatan dengan hiperpireksia di ruang IRNA Anak RSUD Kecamatan
Mandau Duri.
d. Mampu melaksanakan rencana tindakan sesuai kebutuhan klien saat ini.
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan agar penerapan tindakan kompres hangat
diruangan dapat dimaksimalkan, sehingga dapat memotivasi tenaga keperawatan
yang ada di rumah sakit untuk menerapkan tindakan mandiri sebelum tindakan
kolaborasi.
2. Pendidikan
Sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan tentang perawatan pada pasien
kompres hangat dan kompres biasa.
3. Perawat
Sebagai informasi dan masukan dalam peningkatan pengetahuan dan pedoman
untuk melaksanakan tindakan keperawatan.
4. Peneliti
Sebagai bahan masukan dalam rangka meningkatkan profesionalisme dalam
memberikan pelayanan kepada pasien.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH TERMOREGULASI
PADA KLIEN DENGAN HIPERPIREKSIA

I. TERMOREGULASI
A. DEFINISI
Termoregulasi adalah suatu pengaturan fisiologi tubuh manusia mengenai
keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat di
perhatikan secara konstan (H. Aziz, 2012).
B. Anatomi Fisiologi
Sistem yang mengatur suhu tubuh memiliki tiga bagian penting: sensor di
bagian permukaan dan inti tubuh, integrator di hipotalamus, dan sistem efektor
yang dapat menyesuaikan produksi serta pengeluaran panas (Kozier, et al, 2011).
Hipotalamus, yang terletak antara hemisfer serebral, mengontrol suhu tubuh
sebagaimana thermostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan perubahan ringan
pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontrol pengeluaran panas dan
hipotalamus posterior mengontrol produksi panas.
Bila sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi set point,
implus akan dikirim untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme pengeluaran
panas termasuk berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah dan
hambatan produksi panas. Darah didistribusi kembali ke pembuluh darah
permukaan untuk meningkatkan pengeluaran panas. Jika hipotalamus posterior
merasakan suhu tubuh lebih rendah dari set point, mekanisme konservasi panas
bekerja. Vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah mengurangi aliran aliran
darah ke kulit dan ekstremitas. Kompensasi produksi panas distimulasi melalui
kontraksi otot volunter dan getaran (menggigil) pada otot. Bila vasokonstriksi
tidak efektif dalam pencegahan tambahan pengeluaran panas, tubuh mulai
mengigi. Lesi atau trauma pada hipotalamus atau korda spinalis, yang membawa
pesan hipotalamus, dapat menyebabkan perubahan yang serius pada kontrol suhu
(Potter dan Perry, 2005).
C. Mekanisme Demam
Menurut Potter dan Perry (2006), mekanisme demam adalah sebagai
berikut:
Hiperpireksia atau demam terjadi karena mekanisme pengeluaran panas
tidak mampu untuk memepertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi
panas, yang menyebabakan peningkatan suhu tubuh abnormal. Demam
sebenarnya merupakan akibat dari perubahan set point hipotalamus. Pirogen
seperti bakteri dan virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Saat bakteri dan
virus tersebut masuk ke dalam tubuh, pirogen bekerja sebagai antigen,
memepengaruhi sistem imun. Sel darah putih diproduksi lebih banyak lagi untuk
meningkatkan pertahanan tubuh melawan infeksi. Substansi ini juga mencetuskan
hipotalamus untuk mencapai set point.
Untuk mencapai set point baru yang lebih tinggi, tubuh memproduksi dan
menghemat panas. Dibutuhkan beberapa jam untuk mencapai set point baru dari
suhu tubuh. Selama periode ini orang menggigil, gemetar dan merasa kedinginan
meskipun suhu tubuh meningkat.
Fase menggigil berakhir ketika set point baru, suhu yang lebih tinggi
tercapai. Selama fase berikutnya, masa stabil, menggigil hilang dan pasien merasa
hangat dan kering. Jika set point baru telah ‘melampaui batas’, atau pirogen telah
dihilangkan (misalnya estruksi bakteri oleh antibiotik), terjadi fase ketiga episode
febris. Set point hipotalamus turun, menimbulkan respon pengeluaran panas. Kulit
menjadi hangat dan kemerahan karena vasodilatasi.  Demam merupakan
mekanisme pertahanan yang penting. Demam juga bertarung dengan infeksi
karena virus menstimulasi interfero, substansi ini yang bersifat melawan virus.
Pola demam berbeda, bergantung pada pirogen. Durasi dan derajat demam
bergantung pada kekuatan pirogen dan kemampuan individu untuk berespon.
D. Fakor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
Menurut Potter dan Perry (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh
antara lain:
1. Usia
Pada bayi dan balita belum bnterjadi kematangan mekanisme pengaturan suhu
sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang drastis terhadap lingkungan.
Regulasi suhu tubuh baru mencapai kestabilan saat pubertas. Suhu normal akan
terus menurun saat seseorang semakin tua. Mereka lebih sensitif terhadap suhu
yang ekstrem karena perburukan mekanisme pengaturan, terutama pengaturan
vasomotor (vasokonstriksi dan vasodilatasi) yang buruk, berkurangnya jaringan
subkutan, berkurangnya aktivitas kelenjar keringat, dan metabolisme menurun.
2. Olahraga
Aktivitas otot membutuhkan lebih banyak darah serta peningkatan pemecahan
karbohidrat dan lemak. Berbagai bentuk olahraga meningkatkan metabolisme
dan dapat meningkatkan produksi panas terjadi peningkatan  suhu tubuh.
3. Kadar Hormon
Umumnya wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar. Hal ini
karena ada variasi hormonal saat siklus menstruasi. Kadar progesteron naik dan
turun sesuai siklus menstruasi. Variasi suhu ini dapat membantu mendeteksi
masa subur seorang wanita. Perubahan suhu tubuh juga terjadi pada wanita saat
menopause. Mereka biasanya mengalami periode panas tubuh yang intens dan
perspirasi selama 30 detik sampai 5 menit. Pada periode ini terjadi peningkatan
suhu tubuh sementara sebanyak 4 oC, yang sering disebut hot flashes. Hal ini
diakibatkan ketidakstabilan pengaturan vasomotor.
4. Irama Sirkadian
Suhu tubuh yang normal berubah 0,5 sampai 1 oC selama periode 24 jam. Suhu
terendah berada diantara pukul 1 sampai 4 pagi. Pada siang hari, suhu tubuh
meningkat dan mencapai maksimum pada pukul 6 sore, lalu menurun lagi
sampai pagi hari. Pola suhu ini tidak mengalami perubahan pada individu yang
bekerja di malam hari dan tidur di siang hari.
5. Stress
Stress fisik maupun emosional meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi
hormonal dan saraf. Perubahan fisiologis ini meningkatkan metabolisme, yang
akan meningkatkan produksi panas.
6. Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Tanpa mekanisme kompensasi yang
tepat, suhu tubuh manusia akan berubah mengikuti suhu lingkungan.
Selain itu sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap produksi panas tubuh
yang lain menurut Kozier, et al, (2011) antara lain:
a. Laju Metabolisme Basal (BMR)
Laju metabolisme basal (BMR) merupakan lagi penggunaan energi yang
diperlukan tubuh untuk mempertahankan aktivitas penting seperti bernapas.
Laju metabolisme akan meningkat seiring dengan peningkatan usia. Pada
umumnya, semakin muda usia individu, semakin tinggi BMR-nya.
b. Aktivitas otot
Aktivitas otot, termasuk menggigil akan meningkatkan laju metabolisme.
c. Sekresi tiroksin
Peningkatan sekresi tiroksin akan meningkatkan laju metabolisme sel di
seluruh tubuh. Efek ini biasanya disebut sebagai termogenesis kimiawi,
yaitu stimulasi untuk menghasilkan panas di seluruh tubuh melalui
peningkatan metabolisme seluler.
d. Stimulasi epinefrin, norepinefrin, dan simpatis.
Hormon ini segera bekerja meningkatkan laju metabolisme seluler di
banyak jaringan tubuh. Epinefrin dan norepinefrin langsung bekerja
mempengaruhi sel hati dan sel otot, yang kemudian akan meningkatkan laju
metabolisme seluler.
e. Demam
Demam dapat meningkatkan laju metabolisme dan kemudian akan
meningkatkan suhu tubuh.
E. Pengeluaran Panas
Menurut Potter dan Perry (2010), pengeluaran dan produksi panas terjadi
secara konstan, pengeluaran panas secara normal melalui radiasi, konduksi,
konveksi, dan evaporasi.
1. Radiasi
Adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan
objek lain tanpa keduanya bersentuhan. Panas berpindah melalui gelombang
elektromagnetik. Aliran darah dari organ internal inti membawa panas ke kulit
dan ke pembuluh darah permukaan. Jumlah panas yang dibawa ke permukaan
tergantung dari tingkat vasokonstriksi dan vasodilatasi yang diatur oleh
hipotalamus. Panas menyebar dari kulit ke setiap objek yang lebih dingi
disekelilingnya. Penyebaran meningkat bila perbedaan suhu antara objek juga
meningkat.
2. Konduksi
Adalah perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan kontak
langsung. Ketika kulit hangat menyentuh objek yang lebih dingin, panas
hilang. Ketika suhu dua objek sama, kehilangan panas konduktif terhenti.
Panas berkonduksi melalui benda padat, gas, cair.
3. Konveksi
Adalah perpindahan panas karena gerakan udara. Panas dikonduksi
pertama kali pada molekul udara secara langsung dalam kontak dengan  kulit.
Arus udara membawa udara hangat. Pada saat kecepatan arus udara meningkat,
kehilangan panas konvektif meningkat.
4. Evaporasi
Adalah perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas.
Selama evaporasi, kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang
menguap. Ketika suhu tubuh meningkat, hipotalamus anterior member signal
kelenjar keringat untuk melepaskan keringat. Selama latihan dan stress emosi
atau mental, berkeringat adalah salah satu cara untuk menghilangkan kelebihan
panas yang dibuat melalui peningkatan laju metabolik. Evaporasi berlebihan
dapat menyebabkan kulit gatal dan bersisik, serta hidung dan faring kering.
5. Diaforesis
Adalah prespirasi visual dahi dan toraks atas. Kelenjar keringat berada
dibawah dermis kulit. Kelenjar mensekresi keringat, larutan berair yang
mengandung natrium dan klorida, yang melewati duktus kecil pada permukaan
kulit. Kelenjar dikontrol oleh sistem saraf simpatis. Bila suhu tubuh meningkat,
kelenjar keringat mengeluarkan keringat, yang menguap dari kulit untuk
meningkatkan kehilangan panas. Diaphoresis kurang efisien bila gerakan udara
minimal atau bila kelembaban udara tinggi.
F. Gangguan Termoregulasi
Menurut Potter dan Perry (2010), gangguan pada termoregulasi antara lain
sebagai berikut:
1. Kelelahan akibat panas
Terjadi bila diaphoresis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan
dan elektrolit secara berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang terpejan
panas. Tanda dan gejala kurang volume caiaran adalah hal yang umum selama
kelelahan akibat panas. Tindakan pertama yaitu memindahkan klien
kelingkungan yang lebih dingin serta memperbaiki keseimbangan cairan dan
elektrolit.
2. Hipertermia
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh
untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas
adalah hipertermi.
3. Heatstroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu
tinggi dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut
heatstroke, kedaruratan yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yang
tinggi. Heatstroke dengan suhu lebih besar dari 40,5 0C mengakibatkan
kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh.
4. Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus trehadap dingin
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas., mengakibatkan
hipotermi. Dalam kasus hipotermi berat, klien menunjukkan tanda klinis yang
mirip dengan orang mati (misal tidak ada respon terhadap stimulus dan nadi
serta pernapasan sangat lemah).
5. Radang beku (frosbite)
Terjadi bila tubuh terpapar pada suhu dibawah normal. Kristal es yang
terbentuk di dalam sel dapat mengakibatkan kerusakan sirkulasi dan jaringan
secara permanen. Intervensi termasuk tindakan memanaskan secara bertahap,
analgesik dan perlindungan area yang terkena.
G. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Menurut Potter dan Perry (2010), perawat mengkaji temuan pengkajian
dan pengelompokan karakteristik yang ditentukan untuk membuat diagnosa
keperawatan. Misalnya: pada peningkatan suhu tubuh, kulit kemerahan, kulit
hangat saat disentuh dan takikardi menandakan diagnosis hipertermia.
Aktivitas pengkajian yang dilakukan yaitu:
a. Ukur tanda-tanda vital termasuk suhu, nadi dan pernapasan.
b. Palpasi kulit.
c. Observasi penampilan dan perilaku klien saat berbicara dan istirahat.
d. Kaji tanda-tanda klinis demam.
e. Kaji lokasi yang tepat untuk pengukuran.
f. Kaji faktor-faktor yang dapat mengubah suhu inti tubuh.
Tujuan pengkajian yang dilakukan adalah:
a. Mendapatkan data dasar untuk evaluasi selanjutnya.
b. Mengidentifikasi apakah suhu inti berada dalam rentang normal.
c. Menetukan adanya perubahan suhu inti sebagai respon terhadap terapi
spesifik (misal: obat antipiretik, terapi imunosupresi, prosedur invasif).
d. Mengawasi klien yang beresiko mengalami ketidakseimbangan suhu tubuh.
2. Diagnosa keperawatan
Ketidakefektifan termoregulasi yang berhubungan dengan penyakit.
Definisi dan batasan karakteristik diagnosa tersebut menurut NANDA 2012-
2014 seperti yang dipaparkan oleh Herdman, ed., (2012) adalah sebagai
berikut:
a. Definisi
Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal.
b. Batasan karakteristik
Objektif:
1) Kulit kemerahan.
2) Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal.
3) Kejang atau konvulsi.
4) Kulit teraba hangat.
5) Takikardia.
6) Takipnea.
7) Sedikit menggigil
c. Perencanaan 
1) NOC (Nursing Outcome Classification)
Menurut Morhead, et al, (2008) NOC untuk diagnosa tersebut antara lain:
a) Termoregulasi
Pengertian: keseimbangan antara produksi, penambahan dan
kehilangan Panas
Indikator:
(1)   Tidak ada sakit kepala atau pusing
(2)   Tidak ada perubahan warna kulit abnormal
(3)   Temperature tubuh dalam batas normal
(4)   Nadi DBN
(5)   Menggigil waktu dingin
b) Status Vital Sign
Pengertian: status TD, N, RR dan S individu dalam batas normal
Indikator:
(1)   Temperatur suhu tubuh 36-37OC.
(2)   Respiratory Rate Dalam Batas Normal.
(3)   Nadi Dalam Batas Normal.
(4)   Tekanan darah Dalam Batas Normal.
(5)   Melaporkan kenyamanan suhu.
2) NIC (Nursing Intervention Classification)
Menurut Bulechek, Buther, dan Dochterman, (2008) NIC untuk diagnosa
tersebut antara lain:
a) Regulasi suhu
Aktivitas:
(1)     Pantau suhu minimal setiap 2 jam, sesuai dengan kebutuhan.
(2)     Pantau warna kulit dan suhu.
(3)     Pantau tanda-tanda vital.
(4)     Pantau adanya kejang.
(5)     Ajarkan pasien atau keluarga dalam mengukur suhu untuk
mencegah dan mengenali secara dini hipertermia.
(6)     Anjurkan untuk perbanyak asupan cairan oral sedikitnya 2 liter
sehari.
(7)     Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien dengan
selimut saja.
(8)     Lakukan tapid sponge
(9)     Berikan teknik non-farmakologi: kompres hangat k/p.
(10)   Kolaborasi dengan dokter, pemberian obat antipiretik k/p
b) Pemantauan tanda vital
Aktivitas:
(1)     Pantau tekanan darah.
(2)     Monitor kualitas denyut nadi.
(3)     Pantau frekuensi dan irama pernapasan.
(4)     Observasi  ulang suhu sesuai dengan kebutuhan.
(5)    Berikan posisi nyaman ke pasien dan monitor Vital Sign saat
pasien berbaring, duduk atau berdiri .
(6)   Anjurkan pasien untuk mengukur suhu sendiri untuk mencegah
dan mengenali secara dini tanda-tanda hipertermi.
(7)    Ajarkan kepada keluarga tentang tanda-tanda awal
demam/hipertermi.
(8)    Berikan informasi kepada pasien atau keluarga terhadap faktor-
faktor yang dapat mengubah suhu inti tubuh.
(9)    Ajarkan ke keluarga untuk mengenal lokasi yang tepat untuk
pengukuran suhu tubuh.
(10)  Kolaborasi dengan dokter terhadap pemberian terapi.

II. HIPERPIREKSIA
A. DEFINISI
Demam adalah salah satu gejala yang dapat membedakan apakah seorang
itu sehat atau sakit. Demam adalah kenaikan suhu badan di atas 38 oC.
Hiperpireksia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh lebih dari 41,1oC atau
106oF (suhu rectal).
B. ETIOLOGI
29-59% demam berhubungan dengan infeksi, 11-20% dengan penyakit
kolagen, 6-8% dengan neoplasma, 4% dengan penyakit metabolik dan 11-12%
dengan penyakit lain.
Penyebab hiperpireksi ialah: infeksi 39%, infeksi dengan kerusakan pusat
pengatur suhu 32%, kerusakan pusat pengatur suhu saja 18% dan pada 11% kasus
disebabkan oleh Juvenille Rheumatoid Arthritis, infeksi virus dan reaksi obat.
Dari 28 penderita hiperpireksia terdapat 11 penderita (39%) disebabkan oleh
infeksi diantaranya 7 penderita disebabkan oleh kuman gram negatif yang
mengenai traktus urinaria 4 penderita, intraabdominal 2 penderita dan 1 penderita
pada paru. Sedang 9 penderita (32%) disebabkan oleh gabungan antara infeksi dan
kerusakan pusat pengatur suhu. Selain itu 5 penderita (18%) disebabkan oleh
kerusakan pusat pengatur suhu. Tiga penderita (11%) tidak diketahui
penyebabnya.
Sesuai dengan patogenesis, etiologi demam yang dapat mengakibatkan
hiperpireksia dapat dibagi sebagai berikut:
1. Set point hipotalamus meningkat
a. Pirogen endogen
1) Infeksi
2) Keganasan
3) Alergi
4) Panas karena steroid
5) Penyakit kolagen
b. Penyakit atau zat
1) Kerusakan susunan saraf pusat
2) Keracunan DDT
3) Racun kalajengking
4) Penyinaran
5) Keracunan epinefrin
2. Set point hipotalamus normal
a. Pembentukan panas melebihi pengeluaran panas
1) Hipertermia malignan
2) Hipertiroidisme
3) Hipernatremia
4) Keracunan aspirin
b. Lingkungan lebih panas daripada pengeluaran panas
1) Mandi sauna berlebihan
2) Panas di pabrik
3) Pakaian berlebihan
c. Pengeluaran panas tidak baik (rusak)
1) Displasia ektoderm
2) Kombusio (terbakar)
3) Keracunan phenothiazine
4) Heat stroke
3. Rusaknya pusat pengatur suhu
Penyakit yang langsung menyerang set point hipotalamus:
a. Ensefalitis/meningitis
b. Trauma kepala
c. Perdarahan di kepala yang hebat
d. Penyinaran
C. Patofisiologi Pengaturan Suhu Tubuh
Manusia ialah makhluk yang homeotermal, artinya makhluk yang dapat
mempertahankan suhu tubuhnya walaupun suhu di sekitarnya berubah. Yang dimaksud
dengan suhu tubuh ialah suhu bagian dalam tubuh seperti viscera, hati, otak. Suhu rectal
merupakan penunjuk suhu yang baik. Suhu rectal diukur dengan meletakkan thermometer
sedalam 3 – 4 cm dalam anus selama 3 menit sebelum dibaca. Suhu mulut hampir sama
dengan suhu rectal. Suhu ketiak biasanya lebih rendah daripada suhu rectal. Pengukuran
suhu aural pada telinga bayi baru lahir lebih susah dilakukan dan tidak praktis. Suhu tubuh
manusia dalam keadaan istirahat berkisar antara 36oC – 37oC, yang dapat dipertahankan
karena tubuh mampu mengatur keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran panas.
1

Panas dapat berasal dari luar tubuh seperti iklim atau suhu udara di sekitarnya
yang panas. Panas dapat berasal dari tubuh sendiri. Pembentukan panas oleh tubuh
(termogenesis) merupakan hasil metabolisme tubuh. Dalam keadaan basal tubuh
membentuk panas 1 kkal/ kg BB/ jam. Jumlah panas yang dibentuk alat tubuh, seperti hati
dan jantung relative tetap, sedangkan panas yang dibentuk otot rangka berubah-ubah sesuai
dengan aktifitas. Bila tidak ada mekanisme pengeluaran panas, dalam keadaan basal suhu
tubuh akan naik 1oC/ jam, sedang dalam aktivitas normal suhu tubuh akan naik 2oC/ jam. 1
Pengeluaran panas terutama melalui paru dan kulit. Udara ekspirasi yang
dikeluarkan paru jenuh dengan uap air yang berasal dari selaput lendir jalan nafas. Untuk
menguapkan 1 ml air diperlukan panas sebanyak 0,58 kkal. Pengeluaran panas melalui
kulit dapat dengan dua cara yaitu:
a. Konduksi – konveksi : pengeluaran panas melalui cara ini bergantung kepada
perbedaan suhu kulit dan suhu udara sekitarnya.
b. Penguapan air : air keluar dari kulit terutama melalui kelenjar keringat. Dapat
juga melalui perspirasi insensibilitas, difusi air melalui epidermis. 1
Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus melalui sistem umpan balik yang rumit.
Hipotalamus karena berhubungan dengan talamus akan menerima seluruh impuls eferen.
Saraf eferen hipotalamus terdiri atas saraf somatik dan saraf otonom. Karena itu
hipotalamus dapat mengatur kegiatan otot, kelenjar keringat, peredaran darah dan ventilasi
paru. Keterangan tentang suhu bagian dalam tubuh diterima oleh reseptor di hipotalamus
dari suhu darah yang memasuki otak. Keterangan tentang suhu dari bagian luar tubuh
diterima reseptor panas di kulit yang diteruskan melalui sistem aferen ke hipotalamus.
Keadaan suhu tubuh ini diolah oleh thermostat hipotalamus yang akan mengatur set point
hipotalamus untuk membentuk panas atau untuk mengeluarkan panas. 1
Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur suhu yang bekerja bila terdapat
kenaikan suhu tubuh. Hipotalamus anterior akan mengeluarkan impuls eferen sehingga
akan terjadi vasodilatasi di kulit dan keringat akan dikeluarkan, selanjutnya panas lebih
banyak dapat dikeluarkan dari tubuh. Hipotalamus posterior merupakan pusat pengatur
suhu tubuh yang bekerja pada keadaan dimana terdapat penurunan suhu tubuh.
Hipotalamus posterior akan mengeluarkan impuls eferen sehingga pembentukan panas
ditingkatkan dengan meningkatnya metabolisme dan aktifitas otot rangka dengan
menggigil (shivering), serta pengeluaran panas akan dikurangi dengan cara vasokonstriksi
di kulit dan pengurangan keringat. 1
KLASIFIKASI DEMAM
Berdasarkan keadaan hipotalamus, demam dapat dibagi sebagai berikut:
I. Set point hipotalamus meningkat
Pembentukan panas meningkat, pengeluaran panas berkurang.
1. Endogenous pyrogen (E.P):
a. Leukosit polimorfonuklear (PMN)
Pada demam oleh karena infeksi, kuman sebagai penyebab
melepaskan suatu polisakarida yang tahan panas, disebut sebagai pirogen
eksogen yang beredar dalam darah. Infeksi menimbulkan demam karena
endotoksin bakteri merangsang sel PMN untuk membuat EP. Pada penyakit
infeksi terdapat peningkatan sel PMN. Pada percobaan binatang telah
dibuktikan bahwa pirogen eksogen tidak langsung mempengaruhi pusat
pengatur suhu, tetapi lewat banyak sel dalam tubuh seperti sel leukosit, sel
Kupfer hati, sel makrofag dalam paru, limpa dan kelenjar limfe bereaksi
terhadap pirogen eksogen dan membentuk protein yang tak tahan panas,
disebut pirogen endogen (endogenous pyrogen). Pirogen endogen masuk ke
susunan saraf pusat melalui darah dan menyebabkan pelepasan
prostaglandin E di dalam jaringan otak dengan akibat rangsangan terhadap
hipotalamus yang peka terhadap zat tersebut sehingga menimbulkan panas
seperti yang diperlihatkan pada bagan sebagai berikut:2

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. GAMBARAN KASUS
Klien An. J umur 1 tahun 5 bulan, jenis kelamin laki-laki, masuk RSUD M
tanggal 04 Desember 2017, masuk melalui IGD dengan keluhan klien demam sejak 2
hari yang lalu disertai batuk dan pilek.
B. PEMERIKSAAN FISIK
BAB IV
PEMBAHASAN
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah mahasiswa melakukan asuhan keperawatan pada An. J dengan
hiperpireksia di ruang IRNA Anak RSUD Kecamatan Mandau Duri, maka mahasiswa
dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengkajian pada pasien anak dilakukan brdasarkan tingkatan tumbuh kembang
anak.
2. Diagnosa yang diangkat berdasarkan masalah utama yang paling prioritas sesuai
dengan kondisi anak saat ini.
3. Masalah yang ditemukan pada klien diintervensi berdasarkan konsep keperawatan
anak dimana penanganan yang dilakukan sesuai dengan diagnosa dan teori
keperawatan.
4. Evaluasi terhadap keadaan pasien dilakukan secara kontiniu dan terus menerus
karena kondisi pasien yang tidak stabil untuk mencegah memburuknya kondisi
pasien atau timbulnya komplikasi.

B. Saran
1. Bagi perawat
Pada pengkajian diharapkan perawat benar-benar mampu melaksanakan
konsep pengkajian keperawatan anak secara cepat dan tepat untuk dapat
menemukan dan menangani masalah yang dialami oleh anak.
2. Bagi mahasiswa
Mahasiswa diharapkan menguasai konsep keperawatan anak dan mampu
melaksanakan asuhan keperawatan anak untuk menangani masalah yang ditemukan
di lapangan.

Anda mungkin juga menyukai