Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

Oleh :

KEVIN BRANDON KAWULUSAN


19014104031

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO
2020
KASUS GERONTIK

Seorang perempuan usia 82 tahun, agama Kristen Protestan, tinggal di PSTW sejak 10 tahun
yang lalu. Klien tidak menikah, memilih tinggal di PSTW sejak saudara laki-lakinya
meninggal. Klien memilih tinggal di PSTW agar dapat berinteraksi dengan teman sebaya
dengan bebas. Klien tinggak di Wisma Anggrek bersama 2 orang caregiver yang membantu
klien bergantian siang dan malam.
Aktivitas sehari-hari
Setelah bangun tidur di pagi hari, klien mandi dengan bantuan caregiver, sarapan pagi,
berjemur bersama klien lansia lainnya dan mengikuti kegiatan di PSTW sesuai jadwal. Pola
makan 3x sehari, klien jarang menghabiskan porsi makan, bisanya hanya ½ porsi, bahkan jika
makanan yang disajikan tidak sesuai selera klien, maka klien tidak makan dan memilih untuk
membeli makanan di luar panti dengan bantuan caregiver. Klien mengurangi konsumsi
makanan yang berlemak.

Klien minum sehari kurang lebih 500-700cc. Klien menggunakan diapers untuk membantu
eliminasi. Klien istirahat dan tidur dengan teratur, tidur malam mulai pukul 20.00/21.00 dan
bangun pukul 05.00, dan tidur siang selama 2-3 jam setiap hari. Klien tidur dengan
menggunakan diapers sehingga tidak terganggu untuk bangun dari tempat tidur jika merasa
BAK. Tidak ada keluhan BAk, sehari 2-4x dengan diapers, BAB lancer 1 kali sehari, tidak
ada keluhan konstipasi.

Klien senang berpenampilan rapih dari kepala sampai ujung kaki walau hanya sebatas
berjemur di halaman panti sambil menyapa atau melihat orang-orang yang lalu lalang.
Pemenuhan kebutuhan sehari-hari dibantu oleh caregiver yang bergantian siang dan malam.

Hasil pengkajian kemampuan kognitif menggunakan Mini Mental State Examination


menunjukkan nilai norma, dan hasil pemeriksaan skrining depresi menggunakan Geriatric
Depression Scale menunjukkan hasil yang normal. Klien menjelaskan bahwa ia tidak
menikah, dan tampak klien tidak mau kalah dengan orang lain. Klien mudah tersinggung jika
ada beda pendapat tetapi mudah untuk ditenangkan. Klien mendapatkan dukungan dari
beberapa keponakannya yang sering mengunjungi klien di panti. Klien mengaku tidak banyak
berkomentar atau mencari masalah dengan sesama klien di panti dan aktif mengikuti kegiatan
panti. Klien mengatakan selalu mengikuti ibadah pada hari Rabu dan Minggu yang diadakan
di aula Panti, sebelum tidur dan sesudah bangun tidur klien berdoa memohon kesehatan dan
perlindungan Tuhan.

Hasil Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum klien tampak tidak sakit, kesadaran
compos mentis, postur tubuh klien tampak kurus,tidak tinggi dan tidak bisa berdiri tegak,
berkulit sawo matang. Pemeriksaan Tekanan Darah: 130/80 mmHg, Nadi: 86x/mnt,
Pernapasan: 20x/mnt, Suhu: 36,90, Tinggi Badan: 154 cm, dengan BB: 43 kg, Lingkar
Lengan atas: 20 cm, Indeks Masa Tubuh: 18. Dari hasil pemeriksaan Head to toe diperoleh
data bahwa kepala: bentuk bulat simetris, tidak terdapat lesi, rambut pendek, beruban selalu
tertutup topi, tampak bersih, tidak tampak ketombe. Pengkajian mata: mata simetris, tidak
menggunakan kaca mata, konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik, tidak ada
serumen, tampak adanya kantung mata namun tidak berwarna kehitaman. Pemeriksaan
hidung: posisi simetris, tidak ada pengeluaran sekret, tidak tampak adanya polip, fungsi
penciuman baik.

Pada pemeriksaan mulut: posisi simetris, mukosa tidak kering dan tidak ada stomatitis. Pada
pemeriksaan telinga : posisi simetris antara kanan dan kiri, tidak ada keluhan nyeri pada
telinga luar maupun dalam, tidak ada pengeluaran sekret, fungsi pendengaran baik, masih
mampu mendengar semua pembicaraan dengan penulis. Pada leher, tidak ada pembesaran
Kelenjar Getah Bening, tidak ada peningkatan vena jugularis, tidak ada nyeri tekan. Pada
pemeriksaan dada : bentuk dada simetris, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, tidak
ada kelainan. Pada pemeriksaan paru, klien tidak tampak sesak napas, didapatkan tactil
fremitus antara toraks posterior dan anterior sama, terdengar bunyi resonance, terdengar
vesikuler, tidak terdengan wheezing ataupun ronchi. Pada jantung, tidak tampak adanya
denyutan iktus kordis, didapatkan BJ I-II normla, gallop tidak ada,murmur tidak ada. Pada
pemeriksaan abdomen bentuk simetris tidak ada kelainan, teraba supel tidak ada nyeri tekan.
Pada sistem muskuloskeletal didapat data kekuatan otot kurang dibandingkan dengan bagian
lain dan bernilai 4 pada semua ekstremitas, otot lengan teraba lembek, dan klien selalu duduk
di kursi roda.

Klien mengeluh tidak bisa berdiri lama dan jika berdiri harus berpegangan pada handrail dan
tidak bisa berjalan dengan cepat. Klien mengatakan semua kebutuhannya dibantu oleh care
giver, jika tidak maka klien tidak bisa melakukan apa-apa kecuali duduk di kursi roda atau
tiduran di tempat tidur. Keluhan itu muncul setelah operasi tulang femur kedua kalinya pada
tahun 2015-an dan sebelumnya pada tahun 2005 karena terjatuh dari kursi.

Pada pengkajian tingkat kemandirian Indeks Katz didapatkan data bahwa pada aktivitas
mandi, klien memerlukan bantuan lebih dari satu bagian tubuh, yaitu kepala bagian belakang
jika dikeramas, bahu, pungung atas dan bawah, kaki serta telapak kaki dan jari kaki, tangan
sebelah kanan perlu bantuan total oleh caregiver. Pada aktivitas berpakaian perlu bantuan
lebih dimana klien memerlukan bantuan ketika memasukkan lengan kanan dan kiri ke dalam
baju dan meresletingkan bajunya. Pada aktivitas ke toilet perlu bantuan dalam eliminasi, baik
dalam jalan menuju ke kamar mandi nya ataupun membuka pampers atau pakaian dalam
tetap dibantu oleh caregiver. Pada aktivitas berpindah dari tempat tidur ke kursi roda atau
sebaliknya memerlukan bantuan caregiver karena kekuatan kaki tidak maksimal sehingga
memerlukan penopang untuk berjalan. Klien bisa mengontrol eliminasi baik urin maupun
fekal walaupun menggunakan pampers namun jika akan BAK atau BAB klien
memberitahukan terlebih dahulu kepada caregiver, dan dalam hal kegiatan makan, klien bisa
melakukan makan sendiri, dan makanan dan minuman telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh
klien. Dari keadaan diatas dapat dihitung skor untuk tingkat kemandirian bernilai 2 yang
berarti bahwa klien mempunyai gangguan fungsional berat (ketergantungan tinggi).

Pengkajian Resiko Jatuh dengan menggunakan Tinetti Balance and Gait Assessment
menunjukkan angka 17 yaitu klien memiliki resiko jatuh tinggi dan perlu menggunakan alat
bantu jalan berupa kursi roda.

Tugas :
Buatlah analisa data kasus di atas!
Buatlah rencana asuhan keperawatan!
Sertakan minimal 1 jurnal yang mendukung intervensi keperawatan yang direncanakan!
KLASIFIKASI DATA
DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
 Klien mengeluh tidak bisa berdiri lama  Kekuatan otot kurang dibandingkan
dan jika berdiri harus berpegangan pada dengan bagian lain dan bernilai 4 pada
handrail dan tidak bisa berjalan dengan semua ekstremitas
cepat.  Otot lengan teraba lembek
 Klien mengatakan semua kebutuhannya  aktivitas berpindah dari tempat tidur ke
dibantu oleh care giver, jika tidak maka kursi roda atau sebaliknya memerlukan
klien tidak bisa melakukan apa-apa bantuan caregiver karena kekuatan kaki
kecuali duduk di kursi roda atau tiduran tidak maksimal sehingga memerlukan
di tempat tidur. penopang untuk berjalan.
 Klien mengatakan pemenuhan  Klien mandi dengan bantuan caregiver.
kebutuhan sehari-hari dibantu oleh  Klien menggunakan diapers untuk
caregiver yang bergantian siang dan membantu eliminasi.
malam.  Indeks Katz didapatkan skor untuk
 Klien senang berpenampilan rapih dari tingkat kemandirian bernilai 2 yang
kepala sampai ujung kaki walau hanya berarti bahwa klien mempunyai
sebatas berjemur di halaman panti. gangguan fungsional berat
 Jika makanan yang disajikan tidak (ketergantungan tinggi) :
sesuai selera klien, maka klien tidak  Aktivitas mandi, klien memerlukan
makan dan memilih untuk membeli bantuan lebih dari satu bagian tubuh,
makanan di luar panti dengan bantuan yaitu kepala bagian belakang jika
caregiver. dikeramas, bahu, pungung atas dan
 Klien mengurangi konsumsi makanan bawah, kaki serta telapak kaki dan jari
yang berlemak. kaki, tangan sebelah kanan perlu
 Klien mengatakan memiliki riwayat bantuan total oleh caregiver.
operasi tulang femur kedua kalinya pada  Aktivitas berpakaian perlu bantuan lebih
tahun 2015-an dan sebelumnya pada dimana klien memerlukan bantuan
tahun 2005 karena terjatuh dari kursi ketika memasukkan lengan kanan dan
 kiri ke dalam baju dan meresletingkan
bajunya.
 Aktivitas ke toilet perlu bantuan dalam
eliminasi, baik dalam jalan menuju ke
kamar mandi nya ataupun membuka
pampers atau pakaian dalam tetap
dibantu oleh caregiver.
 Aktivitas berpindah dari tempat tidur ke
kursi roda atau sebaliknya memerlukan
bantuan caregiver karena kekuatan kaki
tidak maksimal sehingga memerlukan
penopang untuk berjalan.
 Kontinen : Klien bisa mengontrol
eliminasi baik urin maupun fekal
walaupun menggunakan pampers namun
jika akan BAK atau BAB klien
memberitahukan terlebih dahulu kepada
caregiver
 Makan : dalam hal kegiatan makan,
klien bisa melakukan makan sendiri, dan
makanan dan minuman telah
dipersiapkan terlebih dahulu oleh klien.
 Klien jarang menghabiskan porsi
makan, bisanya hanya ½ porsi.
 Postur tubuh klien tampak kurus.
 Tinggi Badan: 154 cm, dengan BB: 43
kg (BBI : 49,6 kg = <BBI).
 Lingkar Lengan atas: 20 cm (< 21 =
kurus).
 Indeks Masa Tubuh: 18 (Normal).
 Usia klien 82 tahun
 Pengkajian Resiko Jatuh menggunakan
Tinetti Balance and Gait Assessment
menunjukkan angka 17 (Resiko jatuh
tinggi).
 Menggunakan alat bantu jalan berupa
kursi roda
ANALISA DATA
No. Data Etiologi Masalah
1. DS: Penurunan Kekuatan Gangguan
 Klien mengeluh tidak bisa Otot Mobilitas fisik
berdiri lama dan jika berdiri
harus berpegangan pada
handrail dan tidak bisa berjalan
dengan cepat.
 Klien mengatakan semua
kebutuhannya dibantu oleh
care giver, jika tidak maka
klien tidak bisa melakukan
apa-apa kecuali duduk di kursi
roda atau tiduran di tempat
tidur.

DO:
 Kekuatan otot kurang
dibandingkan dengan bagian
lain dan bernilai 4 pada semua
ekstremitas
 Otot lengan teraba lembek
 aktivitas berpindah dari tempat
tidur ke kursi roda atau
sebaliknya memerlukan
bantuan caregiver karena
kekuatan kaki tidak maksimal
sehingga memerlukan
penopang untuk berjalan.
2. DS: Kelemahan Defisit Perawatan
 Klien mengatakan pemenuhan Diri
kebutuhan sehari-hari dibantu
oleh caregiver yang bergantian
siang dan malam.
 Klien senang berpenampilan
rapih dari kepala sampai ujung
kaki walau hanya sebatas
berjemur di halaman panti.

DO:
 Klien mandi dengan bantuan
caregiver.
 Klien menggunakan diapers
untuk membantu eliminasi.
 Indeks Katz didapatkan skor
untuk tingkat kemandirian
bernilai 2 yang berarti bahwa
klien mempunyai gangguan
fungsional berat
(ketergantungan tinggi) :
1. Aktivitas mandi, klien
memerlukan bantuan lebih
dari satu bagian tubuh,
yaitu kepala bagian
belakang jika dikeramas,
bahu, pungung atas dan
bawah, kaki serta telapak
kaki dan jari kaki, tangan
sebelah kanan perlu
bantuan total oleh
caregiver.
2. Aktivitas berpakaian perlu
bantuan lebih dimana klien
memerlukan bantuan ketika
memasukkan lengan kanan
dan kiri ke dalam baju dan
meresletingkan bajunya.
3. Aktivitas ke toilet perlu
bantuan dalam eliminasi,
baik dalam jalan menuju ke
kamar mandi nya ataupun
membuka pampers atau
pakaian dalam tetap
dibantu oleh caregiver.
4. Aktivitas berpindah dari
tempat tidur ke kursi roda
atau sebaliknya
memerlukan bantuan
caregiver karena kekuatan
kaki tidak maksimal
sehingga memerlukan
penopang untuk berjalan.
5. Kontinen : Klien bisa
mengontrol eliminasi baik
urin maupun fekal
walaupun menggunakan
pampers namun jika akan
BAK atau BAB klien
memberitahukan terlebih
dahulu kepada caregiver,
6. Makan : dalam hal kegiatan
makan, klien bisa
melakukan makan sendiri,
dan makanan dan minuman
telah dipersiapkan terlebih
dahulu oleh klien.

3. DS: Faktor Resiko Resiko Defisit


 Jika makanan yang disajikan  Faktor Psikologis Nutrisi
tidak sesuai selera klien, maka (Keengganan untuk
klien tidak makan dan memilih makan)
untuk membeli makanan di
luar panti dengan bantuan
caregiver.
 Klien mengurangi konsumsi
makanan yang berlemak.

DO:
 Klien jarang menghabiskan
porsi makan, bisanya hanya ½
porsi
 Postur tubuh klien tampak
kurus
 Tinggi Badan: 154 cm, dengan
BB: 43 kg (BBI : 49,6 kg =
<BBI)
 Lingkar Lengan atas: 20 cm (<
21 = kurus)
 Indeks Masa Tubuh: 18
(Normal).

DS: Faktor Resiko : Resiko Jatuh


4.  Klien mengatakan memiliki  Usia > 65 tahun
riwayat operasi tulang femur  Riwayat Jatuh
kedua kalinya pada tahun  Penggunaan alat
2015-an dan sebelumnya pada bantu Berjalan
tahun 2005 karena terjatuh dari  Gangguan
keseimbangan
kursi.

DO:
 Usia klien 82 tahun
 Pengkajian Resiko Jatuh
menggunakan Tinetti Balance
and Gait Assessment
menunjukkan angka 17 (Resiko
jatuh tinggi).
 Menggunakan alat bantu jalan
berupa kursi roda.

DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN


No. DIAGNOSA TUJUAN/KH INTERVENSI
1. Gangguan mobilitas fisik Setelah DUKUNGAN AMBULASI :
b.d. penurunan kekuatan dilakukan Observasi
otot dibuktikan dengan : intervensi selama  Identifikasi adanya nyeri atau
DS: 5 x 24 jam maka keluhan fisik lainnya
 Klien mengeluh tidak mobilitas fisik  Identifikasi toleransi fisik
bisa berdiri lama dan meningkat, melakukan ambulasi
jika berdiri harus dengan kriteria  Monitor frekuensi jantung dan
berpegangan pada hasil: tekanan darah sebelum memulai
handrail dan tidak bisa  Pergerakan ambulasi
berjalan dengan cepat. ekstremitas  Monitor kondisi umum selama
 Klien mengatakan meningkat melakukan ambulasi
semua kebutuhannya  Kekuatan Terapeutik
dibantu oleh care giver, otot  Fasilitasi aktivitas ambulasi
jika tidak maka klien meningkat dengan alat bantu (mis. tongkat,
tidak bisa melakukan (4-5) kruk)
 Fasilitasi melakukan mobilisasi
apa-apa kecuali duduk  Rentang
di kursi roda atau fisik, jika perlu
gerak
tiduran di tempat tidur.  Libatkan keluarga untuk
meningkat
membantu pasien dalam
(ROM)
meningkatkan ambulasi.
DO:  Kaku sendi Edukasi
 Kekuatan otot kurang menurun  Jelaskan tujuan dan prosedur
dibandingkan dengan  Gerakan ambulasi
bagian lain dan bernilai tidak  Anjurkan melakukan ambulasi
4 pada semua terkoordinasi dini
ekstremitas menurun  Ajarkan ambulasi sederhana yang
 Otot lengan teraba harus dilakukan (mis. berjalan
lembek dari tempat tidur ke kursi roda,
 Aktivitas berpindah dari berjalan dari tempat tidur ke
tempat tidur ke kursi kamar mandi, berjalan sesuai
roda atau sebaliknya toleransi)
memerlukan bantuan
caregiver karena
kekuatan kaki tidak
maksimal sehingga
memerlukan penopang
untuk berjalan

2. Defisit perawatan diri b.d. Setelah DUKUNGAN PERAWATAN


kelemahan dibuktikan dilakukan DIRI : MANDI
dengan : intervensi selama Observasi :
DS : 5 x 24 jam maka  Identifikasi usia dan budaya
 Klien mengatakan perawatan diri dalam membantu kebersihan
pemenuhan kebutuhan meningkat, diri
sehari-hari dibantu oleh dengan kriteria  Identifikasi jenis bantuan yang
caregiver yang hasil : dibutuhkan
bergantian siang dan  Verbalisasi  Monitor kebersihan
malam. keinginan  tubuh (mis. rambut, mulut,
 Klien senang melakukan kulit, kuku)
berpenampilan rapih perawatan  Monitor integritas kulit
dari kepala sampai diri Terapeutik :
ujung kaki walau hanya meningkat  Sediakan peralatan mandi
sebatas berjemur di  Minat (mis. Sabun, sikat gigi,
halaman panti. melakukan shampoo, pelembab
perawatan  kulit)
DO: diri  Sediakan lingkungan yang
 Klien mandi dengan meningkat aman dan nyaman
bantuan caregiver.  Mempertaha  Fasilitasi menggosok gigi,
 Klien menggunakan nkan sesuai kebutuhan
diapers untuk kebersihan
 Fasilitasi mandi sesuai
membantu eliminasi. diri
kebutuhan
 Indeks Katz didapatkan meningkat
 Pertahankan kebiasaan
skor untuk tingkat kebersihan diri
kemandirian bernilai 2
 Berikan bantuan sesuai tingkat
yang berarti bahwa
kemandirian.
klien mempunyai
Edukasi
gangguan fungsional
 Jelaskan manfaat mandi dan
berat (ketergantungan
dampak tidak mandi terhadap
tinggi) :
kesehatan
1) Aktivitas mandi,
klien memerlukan  Ajarkan kepada keluarga cara
bantuan lebih dari memandikan pasien, jika perlu
satu bagian tubuh,
yaitu kepala bagian
belakang jika DUKUNGAN PERAWATAN
dikeramas, bahu, DIRI : BERPAKAIAN
pungung atas dan Observasi
bawah, kaki serta  Identifikasi usia dan budaya
telapak kaki dan jari dalam membantu
kaki, tangan sebelah berpakaian/berhias
kanan perlu bantuan Terapeutik
total oleh caregiver.  Sediakan pakaian pada tempat
7. Aktivitas yang mudah dan terjangkau
berpakaian perlu  Sediakan pakaian pribadi,
bantuan lebih sesuai kebutuhan
dimana klien  Fasilitasi mengenakan pakaian,
memerlukan jika perlu
bantuan ketika  Fasilitasi berhias (mis.
memasukkan lengan menyisir rambut, merapikan
kanan dan kiri ke kumis/jenggot)
dalam baju dan  Jaga privasi selama berpakaian
meresletingkan
 Beri pujian terhadap
bajunya.
kemampuan berpakaian secara
8. Aktivitas ke toilet
mandiri
perlu bantuan dalam
Edukasi
eliminasi, baik
 Informasikan pakaian yang
dalam jalan menuju
tersedia untuk dipilih, jika
ke kamar mandi nya
perlu
ataupun membuka
pampers atau  Ajarkan mengenakan pakaian,
pakaian dalam tetap jika perlu
dibantu oleh
caregiver. DUKUNGAN PERAWATAN
9. Aktivitas berpindah DIRI : BAB/BAK
dari tempat tidur ke Observasi
kursi roda atau  Identifikasi kebiasaan
sebaliknya BAK/BAB sesuai usia
memerlukan  Monitor integritas kulit pasien
bantuan caregiver Terapeutik
karena kekuatan  Buka pakaian yang
kaki tidak maksimal diperlukanuntuk memudahkan
sehingga eliminasi
memerlukan  Dukung penggunaan
penopang untuk toilet/commode/pispot/urinal
berjalan. secara konsisten
10. Kontinen : Klien  Jaga privasi selama eliminasi
bisa mengontrol  Ganti pakaian pasien setelah
eliminasi baik urin eliminasi, jika perlu
maupun fekal  Bersihkan alat bantu
walaupun BAK/BAB setelah digunakan
menggunakan  Latih BAK/BAB sesuai
pampers namun jika  jadwal,jika perlu
akan BAK atau  Sediakan alat bantu (mis.
BAB klien kateter eksternal, urinal), jika
memberitahukan pelu
terlebih dahulu Edukasi
kepada caregiver,  Anjurkan BAK/BAB secara
11. Makan : dalam hal rutin
kegiatan makan,  Anjurkan kekamar
klien bisa mandi/toilet, jika perlu
melakukan makan
sendiri, dan
makanan dan
minuman telah
dipersiapkan
terlebih dahulu oleh
klien.

3. Resiko defisit nutrisi Setelah MANAJEMEN NUTRISI :


dibuktikan dengan : dilakukan Observasi
Faktor Psikologis intervensi selama  Identifikasi status nutrisi
(Keengganan untuk makan 5 x 24 jam maka  Identifikasi alergi dan
status nutrisi intoleransi makanan
membaik dengan  Identifikasi makanan yang
kriteria hasil : disukai
 Porsi makan  Identifikasi kebutuhan kalori
yang dan jenis nutrient
dihabiskan  Monitor asupan makanan
meningkat  Monitor berat badan
 Verbalisasi  Monitor hasil pemeriksaan
keinginan laboratorium
untuk Terapeutik
meningkatka  Lakukan oral hygiene sebelum
n nutrisi makan, jika perlu
 Sikap  Fasilitasi menentukan pedoman
terhadap diet (mis. Piramida makanan)
makanan/min  Sajikan makanan secara
uman sesuai menarik dan suhu yang sesuai
dengan  Berikan makan tinggi serat
tujuan untuk mencegah konstipasi
kesehatan  Berikan makanan tinggi kalori
dan tinggi protein
 Berat badan
 Berikan suplemen makanan,
membaik
jika perlu.
 Frekuensi Edukasi
makan  Anjurkan posisi duduk, jika
membaik mampu
 Nafsu makan  Ajarkan diet yang diprogramkan
membaik
 Indeks massa Kolaborasi
tubuh  Kolaborasi pemberian medikasi
membaik sebelum makan (mis. Pereda
nyeri, antiemetik), jika perlu
 Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrient yang
dibutuhkan, jika perlu

PROMOSI BERAT BADAN


Observasi
 Identifikasi kemungkinan
penyebab BB kurang
 Monitor adanya mual dan
muntah
 Monitor jumlah kalori yang
dikomsumsi sehari-hari
 Monitor berat badan
 Monitor albumin, limfosit, dan
elektrolit serum
Terapeutik
 Berikan perawatan mulut
sebelum pemberian makan, jika
perlu
 Sediakan makan yang tepat
sesuai kondisi pasien sesui
indikasi.
 Hidangkan makan secara
menarik
 Berikan suplemen, jika perlu
 Berikan pujian pada pasien atau
keluarga untuk peningkatan
yang dicapai.
Edukasi
 Jelaskan jenis makanan yang
bergizi tinggi, namuntetap
terjangkau
 Jelaskan peningkatan asupan
kalori yang dibutuhkan

4. Resiko Jatuh dibuktikan Setelah MANAJEMEN LINGKUNGAN :


dengan : dilakukan KESELAMATAN
 Usia > 65 tahun intervensi selama  Identifikasi kebutuhan
 Riwayat Jatuh 5x24 jam maka keamanan klien berdasarkan
 Penggunaan alat bantu klien tidak fungsi fisik dan kognitif serta
Berjalan mengalami risiko riwayat perilaku di masa alalu
 Gangguan jatuh, dengan  Identifikasi hal-hal yang
keseimbangan kriteria hasil: membahayakan di lingkungan
Kejadian Jatuh  Modifikasi lingkungan untuk
 Klien tidak meminimalkan bahaya dan
jatuh saat resiko
berdiri  Gunakan peralatan
maupun perlindungan (missal pegangan
berjalan pada sisi, kunci pintu, pagar,
 Klien tidak dll)
jatuh saat ke  Siapkan nomer telepon
kamar mandi emergensi untuk klien (missal
polisi, dinas kesehatan, dll)
Perilaku
Pencegahan PENCEGAHAN JATUH :
Jatuh :  Identifikasi perilaku dan factor
 Klien yang mempengaruhi resiko
meminta jatuh
bantuan jika  Identifikasi karakteristik
membutuhka lingkungan yang mungkin
n meningkatkan potensi jatuh
 Klien (misal lantai licin)
menggunaka  Ajarkan klien bagaimana jika
n pegangan jatuh untuk meminimalkan
tangan jika cedera
diperlukan  Sediakan pencahayaan yang
 Klien cukup untuk meningkatkan
mendapat pandangan
pencahayaan  Sediakan permukaan lantai
yang yang tidak licin dan anti selip
memadai  Ajarkan anggota keluarga
 Menyesuaika mengenai factor resiko yang
n ketinggian berkontribusi terhadap
toilet sesuai kejadian jatuh dan bagaimana
yang keluarga bisa menurunkannya
diperlukan