Anda di halaman 1dari 38

1.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah suatu indikasi ke arah mana penelitian itu
dilakukan atau data-data serta informasi apa yang ingin dicapai dari penelitian
itu. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang konkret, yang
dapat diamati dan dapat di ukur. Jadi bukan kalimat tanya. Penelitian pada
umumnya bertujuan untuk menemukan ilmu yang baru, mengembangkan
pengetahuan yang sudah ada dan yang terakhir untuk menguji pengetahuan yang
ada.
Pada dasarnya tujuan penelitian adalah untuk menemukan suatu
pengetahuan yang dapat dimanfaatkan bagi manusia dan lingkungannya. Menurut
beberapa ahli, ada tiga tujuan penelitian praktis, yaitu:
1. Tujuan Eksploratif
Dalam hal ini, penelitian dengan tujuan eksploratif adalah untuk
menemukan pengetahuan baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Misalnya, penelitian tentang manfaat ekstrak kayu manis untuk masalah
diabetes dalam tubuh manusia.
2. Tujuan Verifikatif
Penelitian dengan tujuan verifikatif adalah untuk membuktikan
atau menguji kembali kebenaran suatu ilmu pengetahuan yang telah ada
sebelumnya. Misalnya, membuktikan manfaat ekstrak belimbing wuluh
sebagai anti bakteri.
3. Tujuan Pengembangan
Penelitian dengan tujuan pengembangan adalah untuk menggali
lebih dalam atau mengembangkan suatu penelitian atau pengetahuan yang
telah ada. Misalnya, penelitian mengenai manfaat ekstrak kulit manggis
untuk masalah diabetes yang sudah ada sebelumnya.
Secara umum tujuan sebuah penelitian adalah untuk mencari atau
menemukan kebenaran atau pengetahuan yang benar. Dalam uraian yang lebih
rinci, Satjipoto Rahardjo menjabarkan pandangan Selltiz tentang tujuan penelitian
dengan mengemukakan bahwa suatu penelitian memiliki tujuan-tujuan sebagai
berikut : 
 mendapatkan pengetahuan tentang suatu gejala, sehingga dapat
merumuskan masalah secara tepat ; 
 memperoleh pengatahuan yang lebih mendalam tentang suatu gejala,
sehingga dapat merumuskan hipotesa ; 
 untuk menggambarkan secara lengkap karakteristik atau ciri-ciri dari suatu
keadaan, perilaku individu dan perilaku kelompok ; 
 mendapatkan keterangan tentang frekwensi suatu peristiwa ; 
 memperoleh data mengenai hubungan antara satu gejala dengan gejala
lain; 
 menguji hipotesa yang berisikan hubungan sebab akibat (untuk sebuah
penelitian yang didasarkan pada sebuah hipotesa).[11] 

Sunaryati Hartono menjelaskan lima tujuan penelitian, yakni : 

 menggambarkan secara jelas dan cermat hal-hal yang dipersoalkan ; 


 menerangkan kondisi-kondisi yang mendasari peristiwa ; 
 menyusun teori, artinya mencari dan merumuskan dalil-dalil hukum
(hukum-hukum atau kausalitas mengenai hubungan antara kondisi yang
satu dan kondisi yang lain, atau hubungan antara peristiwa dengan
peristiwa yang lain ; 
 membuat prediksi atau ramalan, estimasi dan proyeksi peristiwa-peristiwa
yang akan terjadi, atau gejala-gejala yang akan timbul ; 
 melakukan pengendalian atau pengarahan, yaitu melakukan tindakan-
tindakan guna mengendalikan atau mengarahkan peristiwa-peristiwa atau
gejala-gejala tertentu kearah yang dikehendaki ; 

Kelima tujuan ini sesuai dengan ucapan August Comte, bahwa ilmu
sesungguhnya mempunyai tugas praktis, karena katanya “savoir pour prevoir,
prevoir pour prevenir” (dengan mengetahui kita dapat meramalkan, dank arena
kita dapat meramalkan kita dapat mencegah bahaya).[12] Berdasarkan pandangan
ini Sunaryati Hartono berpandangan bahwa sebuah penelitian tidak berhenti pada
perumusan teori saja, akan tetapi harus mengembangkan prediksi berdasarkan
teori yang sudah dirumuskan

Penelitian dilakukan kembali untuk mengembangkannya, misalnya


meneliti seberapa efektif ekstrak kulit manggis untuk mengatasi masalah diabetes
pada kelompok umur tertentu.
Biasanya juga tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah tujuan penelitian secara
keseluruhan dari yang ingin dicapai dalam penelitian itu sendiri. Tujuan khusus
adalah tujuan yang lebih spesifik. Umumnya tujuan khusus menggunakan kata-
kata operasional sehingga lebih jelas untuk dicapai. Dan tujuan khusus pada
hakikatnya penjabaran dari tujuan umum. Apabila tujuan umum suatu penelitian
tidak bisa atau tidak perlu di spesifikasikan lagi maka tidak perlu adanya tujuan
umum dan tujuan khusus, cukup dibuat tujuan penelitian saja.
Dalam merumuskan suatu tujuan penelitian, kita harus berpedoman pada
rumusan masalahnya. Tujuan yang keluar dari rumusan masalah dapat
menyesatkan kita dalam membuat penelitian. Karena rumusan masalah dapat
berbentuk deskriptif, komparatif dan asosiatif, maka tujuan umum dan khusus
penelitian harus berbentuk dan sesuai dengan rumusan masalah tadi.
Meskipun seperti itu dalam sebuah penelitian atau penulisan karya tulis
ilmiah tidak harus ada tujuan umum dan tujuan khusus. Jika tujuan umum yang
dibuat sudah spesifik maka tidak perlu membuat tujuan khususnya. Begitu pun
sebaliknya jika kita sudah membuat tujuan yang spesifik maka tidak perlu
membuat tujuan umum. Cukup menuliskan dengan tujuan penelitian saja.
Cara Membuat Tujuan Penelitian
1. Untuk membuat tujuan penelitian kita harus kembali melihat rumusan
masalah.
2. Mencari kata operasional yang tepat untuk menjawab rumusan masalah
yang ada.
Contoh 1
Rumusan masalah : adakah hubungan antara menggunakan hijab dengan
keterampilan membaca siswa?
Tujuan penelitiannya adalah: mengidentifikasi hubungan antara menggunakan
hijab dengan keterampilan membaca siswa.

2. Jenis penelitian ( menurut tujuan, pendekatan, tingkatan, jenis data).


a. Jenis Penelitian Berdasarkan Tujuan

- Penelitian Eksplorasi. 
Definisi yang paling mudah untuk penelitian eksplorasi ialah jenis
penelitian yang dilakukan untuk mengenalkan suatu gagasan atau topik
baru kepada masyarakat luas, menjelaskan gambaran umum secara
sederhana tentang gagasan yang akan dibahas dan pekembangan teori
yang bersifat tentatif. Contoh: penilitian tentang kurikulum yang
paling efektif untuk diterapkan di Indonesia.
- Penelitian Pengembangan. 
Jenis penelitian yang dilakukan untuk mengembangkan teori yang
sudah ada. Contoh: Penenelitian tentang tingkat keefektifan dari sistem
reward dan punishment dalam sebuah perusahaan.
- Penelitian Verifikasi. 
Penelitian yang dilakukan untuk menguji keakuratan teori yang sudah
ada, baik dalam bentuk dasar, prosedur, konsep ataupun prinsip dari
teori it sendiri. Contoh: Penelitian tentang keterkaitan kecerdasan
intelektual terhadap gaya kepemimpinan.
b. Jenis Penelitian Berdasarkan Pendekatan

- Penelitian Kuantitatif. 
Jenis penelitian yang bertujuan untuk menolak atau mendukung sebuah
teori. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan deret ukur
matematis hingga menemukan kesimpulan tertentu. Contoh: Penelitian
tentang fenomena alam.
- Penelitian Kualitatif. 
Penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung objek
yang diteliti baik berupa orang atau sebuah peristiwa. Contoh:
Penelitian tentang cara belajar siswa berprestasi di tingkat SMA.
- Penelitian Perkembangan. 
Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui perubahan atau
perkembangan objek yang sedang diteliti. Contoh: Penelitian tentang
kemajuan seorang atlet dalam bidang olahraga tertentu.
c. Penelitian berdasarkan tingkat
- Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu
variabel  (independen) atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau
penghubung dengan variabel yang lain. Suatu penelitian yang berusaha
menjawab pertanyaan seperti penelitian dengan tema bagaimana
profil presiden di Indonesia, seberapa
besar keuntungan BUMN dan BUMD tahun ini.
Penelitian deskriptif memiliki beberapa ciri sebagaimana
disampaikan oleh Ronny Kountur:
a. pertama, Hal yang berhubungan dengan kondisi saat itu.
b. kedua, Menguraikan satu variabel saja atau beberapa variabel
namun diuraikan satu persatu.
c. ketiga, Tidak dilakukan manipulasi terhadap variabel yang
diteliti serta tidak pula diberikan perlakuan.
Tujuan dari penelitian deskriptif adalah penggambaran kondisi
yang terjadi dari sebuah kelompok secara akurat, kondisi mekanisme
proses dan korelasinya, penafsiran lain dari hasil sebuah penelitian
dalam bentuk verbal atau numerikal, penyajian data utama atau
mendasar mengenai sebuah hubungan peristiwa, penciptaan
kategorisasi tertentu, subjek klasifikasi dalam penelitian, tahapan dan
proses dalam sebuah perangkat sistem atau mekanisme, dan
penyimpanan informasi yang sifatnya kontradiktif terkait subjek pada
proses penelitian.
Umumnya pada proses penelitian deskriptif dilakukan dengan
tujuan yaitu penggambaran sistematis atas fakta dan ciri khas dari
objek yang akan dilakukan penelitian secara tepat. Dalam
perkembangannya sekarang, metode penelitian deskriptif banyak
digunakan untuk proses pengamatan empiris dan juga untuk
mendapatkan variasi dari permasalahan deskriptif yang berkorelasi
dengan bidang pendidikan ataupun perilaku manusia. Penelitian
deskriptif yang baik adalah proses penelitian yang dilakukan secara
sadar sama seperti proses penelitian kuantitatif lainnya.
- Penelitian Komparatif
Penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat
membandingkan. Nilai variabelnya adalah sama terhadap nilai
penelitian yang digunakan pada variabel mandiri namun untuk sampel
yang lebih dari satu, atau dalam waktu penelitian berbeda. Tujuannya
tidak lain adalah untuk menentukan mana yang lebih baik dari variabel
yang dibandingkan tersebut.
Contoh dari penelitian komparatif adalah penelitian dalam hal
mengetahui perbandingan, apakah berbedaan keuntungan antara
BUMN dengan perusahaan swasta atau contoh lain seperti
perbandingan kemampuan membaca siswa laki-laki terhadap siswa
perempuan ditingkat sekolah dasar.
- Penelitian Asosiatif atau Penelitian Hubungan
Penelitian asosiatif atau penelitian hubungan adalah suatu pendekatan
studi mengenai hubungan dari dua variabel atau lebih. Dimana dari
hasil studi tersebut diharapkan dapat dibangun sebuah landasan
pemahaman yang dapat memberikan penjelasan, peramalan, dan
pengendalian atau kontrol terhadap suatu fenomena. Pada penelitian
asosiatif terdapat dua variabel minimal yang akan diteliti
keterhubungannya.
Bentuk keterhubungan antar variabel ada tiga, yaitu: simetris,
kausal, dan interaktif atau resoprocal.
Hubungan simetris, adalah bentuk hubungan yang terjadi
karena kemunculan kejadian yang terjadi secara bersamaan, contoh
rumah yang kedatangan tamu pada saat didalam rumah tersebut
dimasuki kupu-kupu. Dimana mitos masyarakat menyatakan kalau ada
kupu-kupu yang masuk rumah berarti akan ada tamu yang datang,
padahal yang menyebabkan datangnya tamu bukanlah kupu-kupu yang
ada didalam rumah tersebut.
Hubungan kausal, merpakan hubungan antara sebab dan akibat, jika
kondisi X maka kondisi Y. Contoh, bila kualitas pelayanan publik oleh
pemerintah kepada masyarakat baik, maka tidak akan terjadi
demonstrasi. Jadi yang menyebabkan masyarakat tidak melakukan
demonstrasi adalah karena pelayanan kepada masyarakat baik.
Hubungan interaktif atau resiprocal, adalah bentuk hubungan
yang saling memengaruhi satu sama lain. Seperti membuat iklan untuk
membuat konsumen membeli barang, jika barang yang dibeli
konsumen meningkat, maka biaya iklanpun juga akan naik.

d. Penelitian berdasarkan jenis data dan analisis

- Penelitian kualitatif : penelitian yang dilakukan dengan cara


pengumpulan data berbentuk kalimat, deskripsi, melalui wawancara atau
terjun ke dalam fenomena langsung. Penelitian kualitatif secara
sederhana adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mewawancarai
langsung kepada seorang atau sekelompok orang yang terkait dengan
fenomena atau isu yang akan diteliti atau langsung terjun ke dalam
fenomena atau isu yang akan diteliti. Penelitian kualitatif menekankan
pada pemahaman mendalam karena bersifat deskriptif dan analisis
mendalam.
- Penelitian kuantitatif : penelitian yang dilakukan dengan cara
pengumpulan data berbentuk angka baik menggunakan quisioner atau
pertanyaan-pertanyaan pilihan.

e. Jenis Penelitian Berdasarkan Tempat

 Penelitian Kepustakaan. Jenis penelitian yang dilakukan di


perpustakaan.
 Penelitian Laboratorium. Jenis penelitian yang dilakukan di dalam
laboratorium.
 Penelitian Lapangan. Jenis penelitian yang dilakukan di suatu tempat
yang sedang terjadi sebuah peristiwa atau dimana tempat objek diteliti.
f. Jenis Penelitian Berdasarkan Fungsi

 Penelitian Dasar
Sebuah penelitian yang bertujuan meningkatkan pemahaman dengan
prinsip dan hukum ilmiah yang dilakukan dengan cara mengembangkan
konsep, prinsip, dalil dari teori yang sudah ada. Penelitian ini bukanlah
untuk menemukan masalah atau solusi dari suatu peristiwa. Melainkan
hanya penemuan sebuah dasar yang nantinya dapat dikembangkan lebih
lanjut.
 Penelitian Terapan
Tindak lanjut dari penelitian dasar. Inilah penelitian menindaklanjuti,
mengembangkan dan menerapkan suatu data atau teori yang dihasilkan
dari penelitian dasar.
 Penelitian Tindakan.
Penelitian tindakan adalah penerapan dari teori yang sudah ada ke dalam
praktik nyata yang bertujuan memperoleh suatu dampak dari sebuah
peristiwa.
 Penelitian Penilaian.
Jenis penelitian yang bertujuan untuk memberi nilai tentang perubahan,
perkembangan atau perbaikan suatu teori dalam tempo waktu tertentu.
 Penelitian Evaluasi. 
Penelitian yang dilakukan untuk mengukur sebuah teori atau data dengan
cara membandingkan dengan target dan pencapaian.
 Penelitian Komparatif. 
Penelitian yang bersifat membandingkan. Penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan perbedaan dan persamaan dua atau lebih teori atau fakta
dan sifat objek yang di teliti berdasarkan aspek atau komponen tertentu.
 Penelitian Korelasional. 
Penelitian korelasional bertujuan untuk mengkaji sebuah hipotesis
mengenai hubungan antarvariabel atau untuk menguji keterkaitan
hubungan antara dua variabel atau lebih.
 Penelitian Studi Kasus. 
Sebuah metode penelitian yang dikhususkan untuk mengkaji seatu
peristiwa yang terjadi di dalam konteks kehidupan nyata. Penelitian ini
dilakukan ketika batasan-batasan antara peristiwa dan konteksnya belum
jelas dengan memakai beragam sumber data.
 Penelitian dan Pengembangan. 
Sebuah rangkaian proses yang dilakukan dalam rangka mengembangkan
atau menyempurnakan teori/produk baik yang sudah ada ataupun yang
sama sekali baru agar lebih bermanfaat.

3. Karakteristik penelitian

Terdapat beberapa soal untuk menyeleksi antara kegiatan penelitian


dengan kegiatan yang bukan penelitian ataupun kegiatan lain pada umumnya,
yakni karakteristiknya. Maka, penelitian hendaknya tercantum beberapa
karakteristik kegiatan penelitian, yakni sebagai berikut:

 Penelitian harus Sistematis


Penelitian ialah suatu kegiatan yang sitematis dan menyimpan
elemen-elemen yang merupakan bagian pandangan dan kegiatan. Elemen-
elemen tersebut perlu menyingkap secara berangkaian dan berangsur-
angsur, sehingga tampak jelas alur pandangannya dan lancar dipahami
oleh pembaca.

 Penelitian harus Objektif dan Rasional

Penelitian mempunyai alur akal yang benar, terdapat konsistensi


antara media maupun proses penelitian yang diperankan dengan produk
penelitian yang diperoleh, sehingga mempunyai alur akal yang benar dan
logika. Setiap opsi dan kepastian harus logis dan rasional serta mempunyai
ukuran.

 Penelitian harus Mempunyai Kegunaan

Penelitian harus mempunyai kegunaan efektif dalam kegunaan berada membagi


rekomendasi, saran kepada kelompok yang memiliki fungsi akademik untuk
meningkatkan ilmu pengetahuan.

Karakteristik Penelitian Kualitatif –

Karakteristik khusus penelitian kualitatif berusaha mengungkapkan berbagai


keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi
dalam kehidupan sehari-hari secara komprehensif atau hollistik dan rinci. Ada
adapun karakteristik penelitian kualitatif, yaitu:

1. Penelitian kualitatif mennggunakan latar alamiah atau pada konteks dari


suatu keutuhan (enity)
2. Penelitian kualitatif instrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri
atau dengan bantuan orang lain
3. Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif
4. penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif
5. Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori
subtantif yang berasal dari data
6. Penelitian kualitatif mengumpulkan data deskriptif (kata-kata, gambar)
bukan angka-angka
7. Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses daripada hasil
8. Penelitian kualitatif menghendaki adanya batas dalam penelitiannya atas
dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian
9. Penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, realibilitas dan objektivitas
dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam
penelitian klasik
10. Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus
disesuaikan dengan kenyataan lapangan (bersifat sementara)
11. Penelitian kualitatif menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi
yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan
sumber data.

Menurut Sugiyono (2016), karateristik penelitian kuantitatif

1. Dari segi desain:

o Spesifik, jelas, rinci.

o Ditentukan secara mantap sejak awal.

o Menjadi pegangan langkah demi langkah.

2. Dari segi tujuan:

o Menunjukkan hubungan antar variabel.

o Menguji teori.

o Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif.

3. Dari segi teknik pengumpulan data:

o Kuesioner.

o Observasi dan wawancara terstruktur.


4. Dari segi instrumen penelitian:

o Test, angket, wawancara terstruktur.

o Instrumen yang terstandar.

5. Dari segi data:

o Kuantitatif.

o Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan


instrumen.

6. Dari segi sampel:

o Besar

o Representatif

o Sedapat mungkin random.

o Ditentukan sejak awal.

7. Dari segi analisis:

o Deduktif

o Menggunakan statistik untuk menguji hipotesis.

8. Dari segi hubungan dengan responden:

o Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya objektif.

o Kedudukan peneliti lebih tinggi dari responden.

o Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan.

9. Dari segi usulan desain:

o Luas dan rinci.

o Literatur yang berhubungan dengan masalah, dan variabel yang diteliti.

o Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya.

o Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas.

o Hipotesis dirumuskan dengan jelas.


o Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan.

10. Dari segi waktu penyelesaian:

o Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan.

11. Dari segi kepercayaan terhadap hasil penelitian:

o Pengujian validitas dan reabilitas instrumen.

4. Variabel Penelitian
Variabel Penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh seorang peneliti dengan tujuan untuk dipelajari
sehingga didapatkan informasi mengenai hal tersebut dan ditariklah
sebuah kesimpulan.
Variabel merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah
penelitian, karena sangat tidak memungkinkan bagi seorang peneliti
melakukan penelitian tanpa variabel.
Variabel penelitian ini sangat ditentukan oleh landasan teoritis dan
kejelasannya yang ditegaskan oleh hipotesis penelitian. Oleh karena itu,
jika landasan teori dalam suatu penelitian berbeda, maka akan berbeda
pula hasil variabelnya.
Kemudian variabel-variabel yang hendak digunakan perlu
penetapan, klasifikasi dan identifikasi. Luas dan sempitnya variabel
penelitian juga dapat menentukan jumlah variabel yang akan digunakan.
Terdapat perbedaan variabel antara ilmu ekstrak dan ilmu sosial.
Pada ilmu ekstrak variabel yang dipakai biasanya mudah diketahui karena
bisa dilihat dan divisualisasikan.
Sedangkan variabel dalam ilmu sosial itu bersifat abstrak sehingga
susah dijamah secara realita. Variabel-variabel ilmu sosial lahir dari suatu
konsep yang perlu dijelaskan dan diubah bentuknya sehingga bisa diukur
dan dipergunakan secara operasional.
Menurut sifatnya, variabel ini dapat dibedakan menjadi 5 yaitu:
Sifat variabel, hubungan antar variabel, urgensi pembukaan instrumen, dan
tipe skala pengukuran. Berikut penjelasannya.
a. Hubungan antar Variabel

- Jenis Variabel Bebas (Independent Variable)


Variabel ini mempunyai pengaruh atau menjadi penyebab
terjadinya perubahan pada variabel lain. Sehingga bisa dikatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada variabel ini diasumsikan akan mengakibatkan
terjadinya perubahan variabel lain.
Contoh, jika dalam sebuah penelitian dinyatakan akan berusaha
mengungkap “pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi
mahasiswa” maka variabel bebasnya adalah “motivasi belajar”. Disebut
variabel bebas karena variabel ini tidak bergantung pada variabel lain.
Sedangkan variabel “prestasi belajar” bergantung dan dipengaruhi oleh
variabel “motivasi belajar”.
Variabel bebas atau independent ini juga biasa disebut sebagai
variabel stimulus, pengaruh dab prediktor. Di dalam pemodalan persamaan
struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel eksogen.

- Jenis Variabel Terikat (Dependent Variable)


Variabel terkait atau dependent adalah variabel yang
keberadaannya menjadi suatu akibat dikarenakan adanya variabel
bebas. Disebut variabel terkait karena kondisi atau variasinya terkait
dan dipengaruhi oleh variasi variabel lain.
Selain itu ada juga sebutan lain yaitu variabel tergantung, karena
variasinya tergantung pada variasi variabel lain. Kemudian ada juga
yang menyebut variabel output, kriteria, respon, dan indogen.
Contoh variabel dependent: Aapabila seorang peneliti hendak
mengungkap “pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar
siswa” maka yang menjadi variabel terikatnya adalah “prestasi belajar
siswa”. Variabel ini dinamakan sebagai variabel terikat karena tinggi
dan rendahnya prestasi siswa itu tergantung variabel motivasi
belajarnya.
- Jenis Variabel Kontrol (Control Variable)
Jenis variabel ini merupakan variabel yang dibatasi dan
dikendalikan pengaruhnya sehingga tidak berpengaruh pada gejala yang
sedang diteliti, dengan kata lain yaitu dampak dari variabel bebas
terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak
diteliti.
Dalam beberapa penelitian variabel ini tidak dinyatakan secara
eksplisit, tetapi lebih ke penelitian yang sifatnya eksperimental.
Variabel ini dibutuhkan pengendalian yang sifatnya sangat penting.
Hal sedemikian rupa dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi
kompleksitas permasalahan yang sedang diteliti. Selain digunakan
untuk penelitian eksperimental, variabel kontrol juga sering dipakai
peneliti apabila hendak melakukan penelitian yang sifatnya
membandingkan.
Contohnya, pengaruh metode belajar terhadap prestasi belajar
siswa. Variabel bebas dalam variabel ini adalah metode mengajar,
sedangkan variabel terikatnya adalah pretasi belajar sisiwa.
Variabel yang ditetapkan sama yaitu mata pelajaran yang sama
misal, pelajaran kimia. Dengan adanya penetapan variabel kontrol
tersebut maka dampak besarnya pengaruh mengajar terhadap prestasi
belajae sisiwa bisa diketahui lebih pasti.
- Variabel Moderator (Moderator Variabel)
Varabel moderator merupakan variabel yang memperkuat ataupun
memperlemah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya.
Menurut Sugiyono (2010:39), variabel moderator ini disebut dengan
istilah variabel independent ke dua. Secara definisi hampir sama dengan
variabel kontrol, hanya saja di sini pengaruh variabel itu tidak ditiadakan
atau dinetralisir akantetapi bahkan dianalisis atau diperhitungkan.
Contoh: hubungan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar akan
semakin kuat bila ditopang dengan IQ yang baik, dan hubungan semakin
rendah jika IQ kurang baik.
- Variabel Antara (Intervening Variabel)
Variabel Intervening atau variabel antara ini merupakan variabel
yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas
terhadap variabel terikat menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak
dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang
terletak diantara varibel bebas dan terikat, sehingga varibel bebas tidak
langsung memperngaruhi berubanhya atau timbulnya variabel terikat.
Contohnya: Pengaruh pendapatan terhadap harapan hidup
seseorang. Tinggi rendahnya pendapatan seseorang secara tidak langsung
akan mempengaruhi usia harapn hidup. Dikatakan tidak langsung karena
tingkat pendapatan seseorang sebenarnya berpengaruh langusng terhdapa
gaya hidup, sedangkan gaya hidup akan mempengaruhi secara langsung
terhadap usia harapan hidup. Dengan demikian diantara variabel pengaruh
tingkat pendapatan terhadap usia harapan hidup ada variabel antara, yaitu
variabel gaya hidup, sedangkan antara variabel tingkat pendapatan dengan
variabel gaya hidup terdapat variabel moderator, yaitu budaya lingkungan
tempat tinggal (sugiyono, 2010:40).
Supaya dapat menentukan keudukan variabel bebas, terikat,
control, moderator, variabel antara atau variabel yang lainnya, harus
dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari
maupun dari hasil pengamatan empiris. Oleh karena itu, sebelum
peneliti mimilih variabel apa yang akan diteliti perlu melakukan kajian
teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada objek
yang akan diteliti. Jangan sampai terjadi menyusun rancangan
penelitian dibelakang meja, dan tanpa mengetahui terlebih dahulu
permasalahan yang ada di objek penelitian. Tidak jarang terjadi,
rumusan masalah tersebut dibuat tanpa melalui studi pendahuluan ke
objek penelitian, sehingga setelah dirumuskan ternyata masalah itu
tidak menjadi masalah pada objek penelitian. Setelah masalah bisa
dipahami dengan jelas dan dikaji secara teoritis, maka penelitian bisa
menentukan variabel-variabel penelitiannya.

b. Sifat Variabel
Berdasarkan sifatnya, variabel penelitian bisa dikelompokan menjadi
dua, yaitu variabel statis dan variabel dinamis.
- Variabel Statis
Variabel statis adalah variabel yang memiliki sifat yang tetap, tidak
bisa diubah keberadaan maupun karakteristiknya. Dalam kondisi yang
normal dan wajar sifat-sifat tersebut sukar untuk diubah, misalnya seperti
jenis kelamin, jenis status sosial ekonomi, jenis pekerjaan, tempat tinggal
dan sebagainya. Variabel statis ini juga ada yang menyebutnya dengan
variabel atributif (Sudjarwo dan Basrowi, 2009:198). Sifat yang ada
padanya adalah tetap, untuk itu penelitian hanya mampu untuk memilih
atau menyeleksi. Oleh sebab itu variabel ini juga dikenal juga dengan
nama variabel selektif. Menurut Suharsimi (2006:124), selain
menggunakan istilah variabel statis, juga menggunakan istilah variabel
tidak berdaya untuk masud yang sama, dikarenakan peneliti tidak mampu
mengubah ataupun mengusulkan untuk merubah variabel ini.
- Variabel Dinamis
Variabel dinamis adalah suatu variabel yang bisa diubah
keberadaannya ataupun karakteristiknya. Variabel ini memungkinkan
untuk dilakukan manipulasi maupun diubah sesuai dengan ktujuan yang
dikehendaki oleh peneliti. Pengubahan tersebut bisa berupa peningkatan
ataupun penurunan. Contohnya seperti berikut; motivasi belajar, kinerja
pegawai,prestasi belajar, dan sebagainya. Selain memakai istilah variabel
dinamis, untuk maksud yang sama Suharsimi (2006:124), memakai istilah
variabel berubah. Sedangkan Sudjarwo dan Basrowi (2009:197) memakai
istilah variabel aktif, untuk menyebut variabel dinamis ini.

c. Urgensi Faktual
Bedasarkan penting atau tidaknya sebuah instrumen dalam
mengumpulkan data, maka dapat dibedakan menjadi 2 yaitu variabel
konseptual dan faktual, berikut penjelasannya:
Bedasarkan penting atau tidaknya sebuah instrumen dalam
mengumpulkan data, maka dapat dibedakan menjadi 2 yaitu variabel
konseptual dan faktual, berikut penjelasannya:

- Variabel Konseptual
Dinamakan variabel konseptual karena variabel ini tidak terlihat
secara fakta dan tersembunyi dalam suatu konsep. Variabel konsep hanya
bisa diketahui berdasarkan indikator yang tampak.
Contoh variabel konsep adalah, motivasi belajar, minat, konsep
diri, bakat, kinerja, dan lain-lain. Karena tersembunyi di dalam konsep,
maka keakuratan data yang terdapat pada variabel konsep tergantung
keakuratan indikator dari beberapa konsep yang sudah dikembangkan oleh
peneliti.

- Variabel Faktual
Berbeda dengan yang di atas, variabel ini merupakan variabel yang
ada di dalam faktanya. Contoh yang dapat kamu lihat dalam variabel ini
adalah, gen, usia, asal daerah/sekolah, agama, pendidikan, dan lain-lain.
Karena sifatnya yang faktual, maka apabila terjadi kesalahan dalam
pengumpulan data itu bukanlah kesalahan instrumen akan tetapi
respondennya, misal si responden tidak jujur atau terdapat sifat-sifat buruk
pada responden itu sendiri.

d. Tips Skala Pengukur


Ada sekitar 4 tingkatan dalam variabel ini yaitu: Nominal, interval,
dan rasio, berikut penjelasannya:

- Variabel Nominal
Variabel nominal adalah, variabel yang hanya bisa dikelompokkan
terpisah secara kategori dan diskrit. Variabel nominal bisa disebut juga
dengan variabel diskrit. Dilihat dari namanya nominal atau nomi
mempunyai arti nama, hal ini menunjukkan bahwa tanda atau label hanya
digunakan untuk membedakan antar variabel.
Contoh dari variabel ini yaitu: Gender, agama, wilayah, dan lain-
lain. Variabel nominal juga merupakan variabel yang memiliki variasi
paling sedikit.

- Variabel Ordinal
Variabel ordinal yaitu variabel yang memiliki variasi perbedaan,
tingkatan, urutan, namun tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan dan
tidak bisa dibandingkan. Pada urutan ini tergambar adanya gradasi atau
sebuah tingkatan, namun itu semua tidak bisa diketahui secara pasti.
Contohnya yaitu peringkat dalam kejujuran, di mana selisih yang
menggambarkan jarak pencapaian skor/pretasi juara 1, 2, 3, dan seterusnya
tidak dipermasalahkan.

- Variabel Interval
Berbeda lagi dengan variabel-variabel di atas, skala variabel jenis
ini dapat dibedakan, bertingkat dan memiliki jarak yang sama dari satuan
hasil pengukuran, namun kesamaan tersebut sifatnya tidak bisa
dibandingkan dan tidak mutlak.’
Contoh interval, penerimaan raport dari hasil belajar diberikan
angka 4, 5, 6 , 7, 8, 9, 10 dan seterusnya. Skala penilaian dari angka 1 – 10
memiliki satuan 1 per unit. Jarak angka 4 ke 5 sama saja dengan jarak 5 ke
6…. dan seterusnya.
Namun angka tersebut tidak memiliki arti perbandingan, dalam
artian bahwa angka 4 yang didapatkan oleh seorang siswa itu tidak berarti
bahwa kepintaran siswa setengah lebih baik dari siswa yang mendapat
angka 8.
- Variabel Rasio
Variabel rasio merupakan variabel yang mempunyai skor yang
bisa dibedakan, diurutkan, mempunyai kesamaan jarak perbedaan, dan
bisa diperbandingkan. Dengan demikian variaebl yang mempunyai
skala rasio merupakan variabel yang mempunyai tingkat tertinggi
dalam penskalaan pengukuran variabel, karena bisa menunjukkan
perbedan, tingkat, jarak, dan dapat diperbandingkan. Contohnya
variabel berat badan, seorang berat badannya 30 kg adalah setengah
dari orang yang bertnya 60 kg.
Variabel rasio adalah variabel yang memiliki skor dan bisa
dibedakan, diurutkan, adanya persamaan jarak perbedaan, dan dapat
dibandingkan.
Contohnya, tinggi badan, seseorang yang tinggi badannya 50
cm adalah setengah dari orang yang tinggi badannya 100 cm.

e. Penampilan Waktu Pengukuran


Dalam waktu pengukuran variabel dapat dikelompokkan menjadi 2
yaitu: Variabel maksimalis dan tipikalis. Simak di bawah ini.

- Variabel Maksimalis
Variabel maksimalis adalah, variabel yang ketika proses
pengumpulan data, ada dorongan terhadap responden agar menunjukkan
penampilan maksimal. Contohnya, kreativitas, bakat, pretasi dll.

- Variabel Tipikalis
Variabel tipikalis adalah variabel yang ketika peroses
pengumpulan data tidak ada dorongan terhadap responden dalam
menunjukkan penampilan secara maksimal, namun lebih kepada jujur diri
terhadap variabel yang diukur.
Contohnya yaitu: Minat, kepribadian, sikap terhadap pelajaran
tertentu dll.
5. Paradigma penelitian
Paradigma kata berasal dari kata Yunani “paradeigma” yang berarti
pola. Kata ini pertama kali digunakan dalam penelitian oleh “Kuhn” pada
tahun 1962 untuk menggambarkan kerangka kerja konseptual yang
diterima oleh komunitas peneliti atau ilmuwan dan yang memberi mereka
pedoman mendalam untuk melakukan penelitian.
Sejak saat itu perdebatan antara para ilmuwan mengenai paradigma
terbaik untuk melakukan penelitian selalu ada. Sampai tahun 1980-an para
ilmuwan percaya bahwa paradigma penelitian kuantitatif adalah satu-
satunya paradigma atau pendekatan penelitian yang harus digunakan
dalam penelitian ilmu pengetahuan murni dan ilmu sosial.
a. Jenis Paradigma Penelitian
1) Paradigma Positivis
Sebagian besar penelitian ilmiah atau kuantitatif menggunakan
positivisme sebagai kerangka kerja konseptual untuk penelitian. Penelitian
kuantitatif selalu mengikuti pendekatan positivis karena kaum positivis
meyakini pengujian hipotesis empiris. Dalam ilmu murni, positivisme
lebih disukai karena sifatnya yang empiris untuk mempelajari fakta.
Dalam penelitian kuantitatif, penelitian ini mengikuti model
probabilistik yang ditentukan oleh penelitian sebelumnya. Positivis
percaya bahwa temuan dari satu penelitian dapat digeneralisasikan ke
penelitian lain dari jenis yang sama terlepas dari itu dilakukan dalam
lingkungan dan situasi yang berbeda. Ini berlaku untuk variabel ilmiah
seperti volume, kecepatan, kepadatan, kekuatan, dan berat.
Sebagai contoh, jika sebuah penelitian ilmiah membuktikan
hipotesis bahwa jika lapisan tertentu diaplikasikan pada kain katun halus
akan kehilangan sebagian kekuatan alami, hasil ini dapat digeneralisasikan
ke kain serupa lainnya yang mendapatkan hasil setelah selesai yang sama.
Ketika berbicara tentang ilmu sosial dan perilaku, peneliti
kuantitatif percaya bahwa setiap perilaku manusia dapat dipelajari dan
diprediksi secara kuantitatif dan mereka percaya bahwa perilaku dapat
dijelaskan dengan menggunakan pendekatan ilmiah untuk penelitian.
Saat menggunakan paradigma positivis dalam ilmu sosial, peneliti
mengendalikan semua faktor lain yang dapat merusak penelitiannya
dengan memiliki dampaknya. Untuk mencapai lingkungan yang
terkendali, peneliti harus melakukan penelitian di lingkungan laboratorium
seperti eksperimen ilmiah, meskipun perilaku manusia sulit dipelajari
dalam lingkungan yang terkendali, ini menyulitkan peneliti ilmu sosial
untuk menggunakan paradigma positivis dalam studi tentang perilaku
manusia.
Sebagai contoh, jika seorang peneliti berhipotesis bahwa remaja
yang putus sekolah juga terlibat dalam kegiatan kriminal, ia harus
mempelajari siswa yang drop out di lingkungan alami daripada di
laboratorium. Karena perilaku manusia tidak dapat dipelajari dalam
pengaturan lab, sulit untuk menggeneralisasi perilaku manusia ke
sekelompok orang yang luas dan beragam terlepas dari apakah mereka
memiliki beberapa kesamaan.
2) Paradigma Penafsir
Sebagian besar penelitian kualitatif dalam ilmu sosial
menggunakan pendekatan interpretivisme untuk penelitian. Penafsir
percaya bahwa perilaku manusia adalah berlapis-lapis dan tidak dapat
ditentukan oleh model probabilistik yang telah ditentukan.
Itu tergantung pada situasi dan ditentukan oleh faktor lingkungan
selain gen. Perilaku manusia tidak seperti variabel ilmiah yang mudah
dikendalikan. Perilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor dan
sebagian besar bersifat subyektif. Oleh karena itu interpretivistic percaya
dalam mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari
daripada di lingkungan yang terkendali.
b. Paradigma Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Ada pernyataan dari Egon G. Guba yang cukup menarik untuk
ditanggapi di sini, yaitu bahwa “A paradigm may be viewed as set of basic
beliefs (or metaphisies) that deals with ultimetes or principles[7].
Keyakinan itu, menurut Guba, merepresentasikan pandangan dunia tentang
hakikat sesuatu, serta merupakan dasar di dalam nurani dimana ia diterima
dengan penuh kepercayaan. Sesuatu yang diyakini kebenarannya tanpa
didahului penelitian sistematis, dalam filsafat ilmu, disebut dengan aksioma
atau asumsi dasar. Keyakinan (beliefs), aksioma atau asumsi dasar tersebut
menempati posisi penting dalam menentukan skema konseptual penelitian,
ia merupakan dasar permulaan yang melandasi semua proses dan kegiatan
penelitian.
Berkait dengan proposisi di atas, penelitian kuantitatif dan kualitatif
memiliki perbedaan paradigma yang amat mendasar. Penelitian kuantitatif
dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (1798-
1857), sedangkan penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma
fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926).
1) Paradigma kuantitatif:
Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian
yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah
satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari
realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan
teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian
dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan
Idealisme).
Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya
pengetahuan (knowledge)  yang valid adalah ilmu pengetahuan
(science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada
pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk
kemudian diolah oleh nalar (reason)
Dalam metode kuantitatif, dianut suatu paradigma bahwa
dalam setiap event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen
tertentu yang berbeda-beda dan dapat berubah. Elemen-elemen
dimaksud disebut dengan variabel. Variabel dari setiap even/case, baik
yang melekat padanya maupun yang
mempengaruhi/dipengaruhinya,  cukup banyak, karena itu tidak
mungkin menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. Atas
dasar itu, dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek
penelitian diarahkan pada variabel-variabel tertentu saja yang dinilai
paling relevan. Jadi, di sini paradigma kuantitatif cenderung pada
pendekatan partikularistis..
1. Cenderung menggunakan metode kuantitatif, dalam
pengumpulan dan analisa data, termasuk dalam penarikan
sampel.
2. Lebih menenkankan pada proses berpikir positivisme-logis,
yaitu suatu cara berpikir yang ingin menemukan fakta atau
sebab dari sesuatu kejadian dengan mengesampingkan keadaan
subyektif dari individu di dalamnya.
3. Peneliti cenderung ingin menegakkan obyektifitas yang tinggi,
sehingga dalam pendekatannya menggunakan pengaturan-
pengaturan secara ketat (obstrusive) dan berusaha
mengendalikan stuasi (controlled).
4. Peneliti berusaha menjaga jarak dari situasi yang diteliti,
sehingga peneliti tetap berposisi sebagai orang “luar” dari
obyek penelitiannya.
5. Bertujuan untuk menguji suatu teori/pendapat untuk
mendapatkan kesimpulan umum (generasilisasi) dari sampel
yang ditetapkan.
6. Berorientasi pada hasil, yang berarti juga kegiatan
pengumpulan data lebih dipercayakan pada intrumen
(termasuk pengumpul data lapangan).
7. Keriteria data/informasi lebih ditekankan pada segi realibilitas
dan biasanya cenderung mengambil data konkrit (hard fact).
8. Walaupun data diambil dari wakil populasi (sampel), namun
selalu ditekankan pada pembuatan generalisasi.
9. Fokus yang diteliti sangat spesifik (particularistik) berupa
variabel-variabel tertentu saja. Jadi tidak bersifat holistik.

2) Paradigma Penelitian Kualitatif


Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik,
yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa
sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat
fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian
dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi.
Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan
tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan
gejala sosial.
Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian
kualitatif, seperti Fenomenologi, Interaksionisme simbolik, dan
Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki
perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang
mempertemuan mereka, yaitu pandangan yang sama tentang hakikat
manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan menentukan
pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri
masing-masing pelaku[14].
Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat
terdapat keteraturan. Keteraturan itu terbentuk secara natural, karena
itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu, bukan
menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan
teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif
adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah –
bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya, secara
epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris
sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang
ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi.
Dalam penelitian kualitatif, ‘proses’ penelitian merupakan
sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh.
Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan
satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses
pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan.
1. Cenderung menggunakan metode kualitatif, baik dalam
pengumpulan maupun dalam proses analisisnya.
2. Lebih mementingkan penghayat-an dan pengertian dalam
menangkap gejala (fenomenologis).
3. Pendekatannya wajar, dengan menggunakan pengamatan yang
bebas (tanpa pengaturan yang ketat).
4. Lebih mendekatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada pada
sumber data, dengan berusaha menempatkan diri serta berpikir
dari sudut pandang “orang dalam”.
5. Bertujuan untuk menemukan teori dari lapangan secara
deskriptif dengan menggunakan metode berpikir induktif. Jadi
bukan untuk menguji teori atau hipotesis.
6. Berorientasi pada proses, dengan mengandalkan diri peneliti
sebagai instrumen utama. Hal ini dinilai cukup penting karena
dalam proses itu sendiri dapat sekaligus terjadi kegiatan analisis,
dan pengambilan keputusan.
7. Keriteria data/informasi lebih menekankan pada segi
validitasnya, yang tidak saja mencakup fakta konkrit saja
melainkan juga informasi simbolik atau abstrak.
8. Ruang lingkup penelitian lebih dibatasi pada kasus-kasus
singular, sehingga tekannya bukan pada segi generalisasinya
melainkan pada segi otensitasnya.
9. Fokus penelitian bersifat holistik,meliputi aspek yang cukup
luas (tidak dibatasi pada variabel tertentu).
6. Rumusan Masalah
Pengertian rumusan masalah adalah tulisan singkat yang berada di
bagian pembukaan karya tulis, bagian ini menjelaskan secara terperinci
mengenai fenomena sosial yang terjadi dalam sejumlah pertanyaan-
pertanyaan tertentu.
Dalam definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwanya proses
pembuatan  rumusan masalah berkaitan erat dengan pembahasan dalam
karya tulis, tidak boleh ada penyimpangan, hal ini di dasarkan untuk
mempermudah pembaca makalah atau laporan penelitian untuk
menemukan garis besar karya yang akan diselesaikan.
a. Jenis Rumusan Masalah
Penjelasan mengenai rumusan masalah ini sendiri bisa ditentukan
dalam berbagai jenis, antara lain adalah sebagai berikut;
1) Deskriptif
Rumusan permasalahan dalam penelitian deskriptif lebih sering
mempergunakan model penelitian kualitataif, lantaran dalam
pembentukannnya seringkali hanya dilakukan dengan
menghubungkan variable satu dengan lainnya. Varibel ini saling
berkaitan akan tetapi tidak terdapat perbaindingan antar
variable. Selengkapnya, baca; Pengertian Penelitian Kualitatif, Ciri,
dan Jenisnya
2) Komparatif
Macam kedua dalam batasan rumusan masalah ialah
menggunakan studi komperatif, secara singkatnya model ini
berbanding terbalik dengan model yang pertama. Lantaran dalam
rumusan masalah kompratif ada berpandingan yang di dapatkan
antar variable tapa mendeskripsikannya.
3) Asosiatif
Jenis lainnya, dalam rumusan masalah adalah menggunakan
model asosiatif. Model ini terbentuk dari hubungan dan juga
perbandingan antar variable, singkatnya model ini dikenal dengan
campuran. Dalam proses pembuatannya untuk rumusan masalah ini
lebih dekat dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang saling
berkaiatan, yang kemudian pertanyaan tersebut nantinya di jawab
dalam pembahasan karya tulis. Selengkapnya, baca; “Asosiatif &
Disosiatif” Pengertian dan Bentuknya
b. Tujuan Rumusan Masalah
Prosesi penyelesaian dalam rumusan masalah berkaiatan erat dengan
keapikan yang ada dalam karya tulis. Rumusan ini sendiri memiliki fungsi
dan tujuan, diantarnya;
1) Menjadi Alasan
Tujuan pembuatan dalam perumusan masalah ialah menjadi alasan
mengapa penelitian dilakukan, dengan bentuk sejumlah pertanyaan secara
langsung menjadi  alasa para pembaca mengentai gagasan yang
disampaikannya, meskipun singkat.
2) Pedoman
Tujuan batasan rumusan masalah ialah menjadi pedoman yang
dilakukan oleh penulis dalam menyelesaikan karya tulisnya. Baik skripsi
ataupun makalah proses ini berkaiatan erat dengan jawaban yang akan
disampaikan dalam bab selanjutnya, yakni pembahasan atau isi.
3) Menentukan Jenis Data
Langkah pembuatan rumusan masalah yang lainnya bertujuan
untuk mentukan instrumen penelitian, selain itu pertanyaan dalam
rumusan masalah juga akan bisa memilah dan meilih antar teknik analisis
data yang diperlukan, misalnya menggunakan penelitian kualitataif
ataupun mempergunakan penelitian kualitataif.
4) Mempermudah Penetuan Populasi dan Sempel
Manfaat yang di dapakan dari perumusan masalah ialah mampu
memberikan penentuan populasi dan sempel. Hal ini berhubungan erat
dengan keadaan dan kondisi penelitian yang akan dilakukan, oleh karena
itulah bagi siapapun yang ingin menyelesaikan penelitian haruslah
menyertakan rumusan masalah.
Dari sejumlah pembahasan mengenai pengertian, jenis, dan tujuan
rumusan masalah secara umum dapat disimpukan bahwa pembuatan
rumusan permasalahan ini sangat diperlukan bagi siapapun yan ingin
membuat karya tulis, baik dalam skripsi, essay, makalah, proposal
penelitian, ataupun dalam contoh karya tulis lainnya.
c. Contoh Rumusan Masalah
Memehami materi yang disampaikan di atas, tentusaja belum
dianggap cukup. Mengapa demikian?, lantaran tanpa adanya contoh
implementasi sisem tulisan rumusan masalah musathil bagi siapapun untuk
bisa menerapkannya dengan mudah. Oleh karena itulah tulisan selanjutnya
akan membagikan beberapa kumpulan contoh rumusan masalah.
1) Contoh Rumusan Masalah Penelitian
Contoh pertama dalam bentuk rumusan masalah penelitian,
yang mutlak haruslah dibentuk. Dalam contoh ini mengindkasi dari
judul penelitian “Pembuatan Biskuit Bayi Dengan Bahan Dasar Buah
Campolay Dan Rumput Laut Untuk Menyediakan Makanan Tambahan
Asi (MP-ASI) Guna Memberikan Gizi pada Bayi”. Maka perumusan
masalahnya adalah sebagai berikut;
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat di
rumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara mengkombinasikan bahan-bahan lokal untuk
membuat biskuit sehat untuk bayi?
2. Bagaimana cara membuat biskuit bayi dari buah campolay dan
rumput laut?
3. Bagaimana meningkatkan nilai ekonomis dan dayaguna dari buah
campolay?
4. Bagaimana meningkatkan nilai ekonomis rumput laut bagi
masyarakat?
5. Bagaimana mengembangan dan melestarian buah campolay sebagai
komoditas unggulan di Indonesia?
2) Contoh Rumusan Masalah Karya Ilmiah
Proses pembuatan karya tulis ilmiah selalu meletakan tentang
bagian rumusan masalah. Rumusan masalah yang ada di KTI berkaiatn
erat dengan solusi yang ditawarkan dalam memecahkan bentuk
permasalahan. Misalnya saja dalam masalah nyamuk dan pengobatan
tradisional yang di tawarkan. Maka bentuk rumusan masalah ini adalah
sebagai berikut;
1. Apa kandungan serta fungsi kulit langsat terhadap pencegahan
demam berdarah?
2. Bagaimana proses pembuatan LAMUK (Lampu Anti Nyamuk)
dengan ekstraksi kulit langsat?
3. Bagaimana cara kerja LAMUK (Lampu Anti Nyamuk) dengan
ekstraksi kulit langsat dalam menghindarkan kontak langsung
dengan nyamuk?
3) Contoh Rumusan Masalah Makalah
Makalah dalam susunan pembuatannya selalu mengaitkan
dengan rumusan masalah. Bagian ini berada di awal paragraf
dengan susnannya persisi berada di latar belakang karya tulis.
Contoh pembuatan rumusan masalah untuk makalah ialah sebagai
berikut;
Makalah ini dibuat untuk memecahkan masalah sebagai
berikut;
1. Bagaimana cara menuntasakan gatal-gatal di pondok
pesantren sehingga mampu meningkatkan kesehatan?
2. Bagaimana mensosialisasikan daun sirih merah sebagai obat
gatal-gatal sehingga memberikan pengajaran terhadap para
santri yang tinggal di pondok pesantren?
4) Contoh Rumusan Masalah Kuantitatif
Contoh selanjutnya berkaiatan dengan kuantitatiaf. Pengertian
penelitian kuantitatif sendiri adalah penelitian yang menggunakan
penghitungan numerik dengan data statitistik. Contoh ini misalnya
berkaitan dengan relevansi dari sebuah penelitian yang dilakukan.
1. Rumusan masalah pada penulisan penelitian kuantitataif ini di
antaranya:Bagaimana rancangan desain TARBID (Tambak
Rumput Laut Hibrid) : Konsep Tambak Rumput Laut Berbasis
Hybrid Energy System sebagai Solusi Kelangkaan Supply Energi
bagi Masyarakat Pesisir Pantai?
2. Bagaimana relevansi penggunaan TARBID (Tambak Rumput Laut
Hibrid) : Konsep Tambak Rumput Laut Berbasis Hybrid Energy
System sebagai Solusi Kelangkaan Supply Energi bagi
Masyarakat Pesisir Pantai?
5) Contoh Rumusan Masalah Deskriptif/Kualitataif
Sunannan rumusan masalah selanjutnya, yang akan
diberikan ada dalam pengertian penenlitian kualitatif, salah satu
jenisnya adalah deskriptif. Contoh ini misalnya dalam menganalisa
perkembangan Bahasa Inggris dan pendidikan sekala nasional.
Maka bentuk rumusannya adalah sebagai berikut;
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan
beberapa masalah, yaitu;
1. Bagaiamana mewujudkan kebijakan universal dengan
GUBAH yang dikeluarkan pemerintah untuk membantu
meningkatkan kapasitas dan kulitas masyarakat Indonesia
terhadap kemampuan bahasa ingris di pedesaan?
2. Bagaimana implemenatsi kebijakan GUBAH sehingga
meningkatkan pengaruh positif terhadap bahasa ingris
masyarakat Indonesia khususnya di wilayah pedesaan?
3. Apa kelebihan kebijakan GUBAH yang dikeluarkan
pemerintah dalam upaya peningkatan kapasitas dan kualitas
bahasa ingris masyarakat Indonesia?

7. Tinjauan Pustaka (Kerangka teori, kerangka konsep, dst)


a. Tinjauan Pustaka
1) Pengertian Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka adalah pengkajian kembali literatur-
literatur yang relevan (review of related literature) dengan
penelitian yang sedang dikerjakan.
Tinjauan pustaka diperlukan untuk memberikan
pemantapan dan penegasan tentang ciri khas penelitian yang
hendak dikerjakan. Ciri khas penelitian ini akan tampak dengan
melampirkan referensi yang digunakan dalam daftar pustaka baik
dari buku-buku ajar, artikel dan jurnal penelitian sebelumnya.
Suatu naskah penelitian yang berbobot harus terdiri dari 80%
artikel/jurnal penelitian, dan sisanya dapat dari buku ajar yang
relevan dan sumber lain yang membahas masalah penelitian yang
diteliti.
Jika peneliti menggunakan karya orang lain tanpa
menampilkan sumbernya, baik nama author (penulis/peneliti),
tahun, judul, tempat dan penerbit dan sebagainya yang dilampirkan
dalam daftar pustaka, atau nama dan tahun (Metode Harvard) pada
naskah penelitian merupakan praktik plagiat. Plagiarisme akan
menjadikan seorang peneliti di tuntut secara hukum dan
mempunyai sejarah dalam hal akademik yang buruk, yang akan
dipikul seumur hidup.
Tinjauan pustaka dalam penelitian kesehatan tidak hanya
membahas secara substansial variabel dependen maupun variabel
independen yang diteliti dari berbagai buku ajar / texbook. Pada
Tinjauan pustaka peneliti secara mendalam menggali teori yang
berhubungan dengan variabel yang diteliti, kemudian melakukan
investigasi dari penelitian sebelumnya yang relevan sehingga
memahami secara mendalam masalah dan faktor penyebab masalah
penelitian yang akan diteliti.
 Teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan yang
akan diteliti.
a) Seluruh aspek penyakit yang diteliti tidak perlu ditulis dalam
tinjauan pustaka, hal-hal yang ditulis difokuskan pada aspek
yang akan diteliti dengan penekanan utama pada hubungan
variabel yang dipermasalahkan (dependen) dengan variabel lain
yang menjadi faktor penyebab maupun perancu.
b) Buku sumber pustaka sebaiknya tidak terlalu lama tahunnya
sehingga masih up to date (10 tahun) kecuali yang
menjadi grand theory sebagai acuan kerangka teori di akhir bab
2, tetapi setidaknya carilah terbitan yang terbaru.
c) Gunakan hasil penelitian dalam artikel / jurnal yang relevan
yang dapat memperkuat teori yang dibangun dengan sumber
yang up to date.
d) Membuat kerangka teori sebagai dasar untuk mengembangkan
kerangka konsep penelitian. Dengan membuat kerangka toeri,
maka peneliti dapat meletakkan masalah yang sedang diteliti
dalam konteks ilmu pengetahuan yang sedang didalami.
2) Tujuan Tinjauan Pustaka
Tujuan utama membuat tinjauan pustaka adalah menjadi dasar
pijakan atau fondasi untuk memperoleh dan membangun landasan teori,
kerangka pikir, menentukan hipotesis penelitian, mengorganisasikan,
dan kemudian menggunakan variasi pustaka dalam bidangnnya.
3) Fungsi Tinjauan Pustaka
Fungsi tinjauan pustaka antara lain untuk
(1) mengetahui sejarah masalah penelitian,
(2) membantu memilih prosedur penyelesaiaan masalah
penelitian,
(3) memahami latar belakang teori masalah penelitian,
(4) mengetahui manfaat penelitian sebelumnya,
(5) menghindari terjadinya duplikasi penelitian, dan
(6) memberikan pembenaran alasan pemilihan masalah
penelitian, Peran Tinjauan Pustaka
4) Cara Membuat Tinjauan Pustaka
Pembuatan kajian pustaka sebaiknya mengikuti langkah awal,
sebagai berikut : 4
a) Mulai mencari sumber yang relevan baik dari buku ajar, jurnal
cetak maupun jurnal elektronik dan lain sebagainya.
b) Buatlah matriks untuk mengisi ringkasan referensi yang
diperoleh baik jurnal, artikel, buku ajar dan lain sebagainya agar
saat menulis dengan segera dapat ditemukan sumber mana yang
dimaksud.
c) Ciptakan lingkungan yang tenang untuk dapat meningkatkan
konsentrasi dan fokus pada saat mulai menulis
d) Baca dahulu panduan penulisan, sehingga pada saat melakukan
editing pada tulisan kita, tidak terlalu banyak yang dirubah
terkait penulisan.
e) Selain melakukan ringkasan dengan tools matriks yang
digunakan, proses analisis juga kita lakukan terhadap jurnal
yang dibaca, apakah relevan dan layak digunakan atau tidak.
f) Kunsi sukses dalam menulis adalah niat dan aksi harus sejalan.
Jika tidak pernah memulai, maka tidak akan pernah selesai.
g) Lakukan refresh otak dan pikiran jika mulai jenih, munculkan
motivasi pada diri sendiri baik itu dari keluarga (ayah/ibu) jika
berhasil dapat membuat mereka bangga, dapat menjadi role
model bagi keluarga dan lain sebagainya sehingga tetap
semangat dalam menulis dan menyelesaikan proyek tugas akhir
h) Selalu berdoa memohon tuntutan dan hikmat dari yang Maha
Kuasa agar dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik dan tepat
waktu.
b. Kerangka Teoritis
Kerangka Teori adalah hubungan antar konsep berdasarkan studi
empiris.6 Kerangka teori harus berdasarkan teori asal / grand theory.
Sebagai contoh masalah perilaku ibu hamil dalam memeriksakan
kehamilannya dapat menggunakan kerangka teori dari Green yang sering
digunakan mahasiswa, atau dapat juga menggunakan kerangka
teori reason action, Health Believe Model, atau teori lain yang sesuai
dengan masalah penelitian yang dapat di temukan dalam buku ajar Health
Behavior Theory for Public Health dan buku ajar lainnya.
c. Kerangka Konsep
Kerangka Konsep adalah hubungan antara konsep yang dibangun
berdasarkan hasil-hasil studi empiris terdahulu sebagai pedoman dalam
melakukan penelitian.
Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari
hal-hal yang khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi, maka
konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat
diamati dan diukur melalui konstruk yang dikenal dengan istilah variabel.1
Variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Variabel penelitian adalah
sesuatu yang bervariasi yang dapat diukur. Contoh variabel dalam
penelitian kesehatan adalah Hb darah, tekanan darah, berat badan,
kunjungan ANC, jenis tenaga kesehatan, dan lain sebagainya. 
Kerangka Konsep dapat berpijak pada kerangka teori yang
dibentuk pada bab II. Kerangka teori biasanya lebih kompleks dari
kerangka konsep, karena tidak semua variabel dalam kerangka teori
diangkat menjadi variabel penelitian. Oleh karena itu pada BAB II
sebelum gambar kerangka konsep penelitian dipaparkan, peneliti wajib
menjustifikasi mengapa variabel lain tidak diteliti. Alasan yang
disampaikan harus ilmiah, buka sekedar keterbatasan waktu, dana, tenaga
dan kemampuan penelitia saat itu. Contoh gambar kerangka konsep dapat
dilihat pada gambar dibawah ini.
d. Hipotesis
1) Pengertian Hipotesis
Hipotesis dalam suatu penelitian berarti jawaban sementara,
patokan duga, atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan
dalam penelitian tersebut.
Hipotesis adalah penjelasan sementara yang diajukan tentang
hubungan antara dua atau lebih fenomena terukur/variabel untuk
pembuktian secara empirik.
Setelah melalui pembuktian dengan penelitian yang dilakukan,
maka hipotesis yang dibuat tentu saja dapat terbukti benar atau salah,
dapat diterima atau ditolak. Jika diterima atau terbukti benar, maka
hipotesis tersebut menjadi tesis.1, 9
2) Kegunaan Hipotesis
Hipotesis berguna untuk :6
a) Menuntun arah penelitian : hubungan dua fenomena atau lebih dari dua
b) Identifikasi variabel yang digunakan: Misalnya untuk meneliti status
gizi dengan mengukur berat badan yang dibandingkan dengan usia
menggunakan KMS.
c) Menentukan disain penelitian: analitik vs deskriptif; Potong lintang vs
eksperimental
d) Petunjuk jenis analisis statistik yang digunakan : satu arah atau dua arah

8. Populas
a. Pengertian Populsi
Menurut Kamus Pelajar terbitan Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional tahun 2003, populasi adalah jumlah orang atau
penduduk dalam suatu daerah; jumlah penghuni baik manusia maupun
makhluk hidup lainnya pada suatu tempat atau ruang tertentu. Populasi
menurut Gay (1987:102) merupakan kelompok tertentu dari sesuatu
(orang, benda, peristiwa, dan sebagainya) yang dipilih oleh peneliti yang
hasil studinya atau penelitiannya dapat digeneralisasikan terhadap
kelompok tersebut. Suatu populasi sedikitnya mempunyai satu
karakteristik yang membedakannya dengan kelompok yang lain.
Arikunto (2006:130) menyatakan populasi adalah keseluruhan
subjek penelitian. Jika seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada
dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian
populasi atau studi populasi atau sensus. Subyek penelitian adalah tempat
variabel melekat. Variabel penelitian adalah objek penelitian. Sementara
itu Sukardi (2010:53) menyatakan populasi adalah semua anggota
kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama
dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari
hasil akhir suatu penelitian. Di pihak lain, Sisworo dalam Mardalis
(2009:54) mendefenisikan populasi sebagai sejumlah kasus yang
memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan peneliti.
 udjana : Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil
menghitung ataupun pengukuran kuantitatif maupun kualitatif mengenai
karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas
yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
 Ismiyanto : Populasi ialah keseluruhan subjek atau totalitas subjeek
penelitian yang bisa berupa orang, benda atau suatu hal yang didalamnya
bisa diperoleh dan atau bisa memberikan informasi (data) penelitian.
 Arikunto : Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian. Jika
seseorang ingin meneliti seluruh elemen yang terdapat dalam wilayah
penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.
 Sugiyono : Mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
b. Sifat Populasi
Margono (2012:119) mengemukakan bahwa suatu populasi bagi
suatu penelitian harus dibedakan kedalam sifat berikut ini:
1. Populasi yang bersifat homogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya
memiliki sifat yang sama. Misalnya, seorang dokter yang akan
melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes
darah saja. Dakter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan
sebotol darah hasilnya akan sama saja.
2. Populasi yang bersifat heterogen, yaitu populasi yang unsur-
unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu
ditetapkan batas-batasnya.
c. Jenis-jenis Populasi
Menurut Arikunto (2006:130) jika dilihat dari segi jumlah populasi
dapat dibedakan antara lain:
- Jumlah terhingga, yang terdiri dari elemen dengan jumlah tertentu,
contohnya:
1) Semua orang yang terdaftar dalam Angkatan Laut pada hari tertentu,
2) Semua televisi dari tipe yang sama yang diproduksi oleh suatu pabrik
dalam satu tahun tertentu, dan
3) Semua mahasiswa yang terdaftar mengambil matakuliah tertentu.

- Jumlah tak hingga, terdiri dari elemen yang sulit dicari jumlahnya,
seperti jumlah penonton sebuah stasiun tv, semua jenis senjata yang
diperbolehkan oleh undang-undang, dan sebagainya.

9. Sampel