Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

MANAJEMEN PIUTANG DAN PERSEDIAAN

MIRNAWATI PRATIWI

A021181010

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah swt, atas segala nikmat dan
karunia-Nya, makalah yang berjudul “Manajeman piutang dan
persediaan” dapat di selesaikan. Shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada Nabi dan junjungan kita, Muhammad SAW,
keluarganya, dan sahabatnya.
Pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan rasa terimakasih
kepada pihak pihak yang telah membantu penyusunan makalah dan
telah memberi motivasi untuk pembuatan makalah ini.
Penulis telah berupaya menyajikan makalah dengan sebaik-baiknya.
Di samping itu apabila dalam makalah didapati kekurangan dan
kesalahan, baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan
senang hati menerima saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca
guna penyempurnaan penulisan makalah berikutnya. Semoga makalah
yang sederhana ini dapat menambah khasanah keilmuan dan
bermanfaat.

Makassar, 30 september 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI
Halaman judul
KATA PENGANTAR..............................................................................1
DAFTAR ISI...........................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................3
A. Latar Belakang .............................................................................3
B. Rumusan Masalah........................................................................3
C. Tujuan Penulisan...........................................................................4
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................5
A. Pengertian manajemen piutang ...................................................5
B. Ukuran invesatasi dalam piutang dagang.....................................5
C. Perubahan kebijakan kredit ..........................................................9
D. Manajemen persediaan...............................................................10
E. Teknki-teknik manajemen persediaan........................................11
F. Inflasi dan EOQ...........................................................................11
G. kontrol inventory just-ini-time .....................................................15
H. TQM dan manajemen pembeliaan persediaan ..........................16
BAB III PENUTUP................................................................................19
A. Kesimpulan..................................................................................19
B. Saran...........................................................................................19
Daftar Pustaka.....................................................................................21

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Manajemen merupakan suatu komponen terpenting internal dalam
sebuah perusahann. Didalam manajemen juga terdapat manajemen
piutang dan persediaan. Piutang dan persediaan adalah dua perkiraan
aktiva lancar yang terbesar. Secara bersama-sama kedua jenis aktiva ini
mencakup hampir 80% dari aktiva lancar dan lebih dari 30% total aktiva
untuk semua industri manufaktur. Setiap perusahaan selalu
menginginkan penjualan barang dagangannya dibayar secara
tunai.Namun, di lain pihak penjualan secara kredit justru akan memberi
peluang untuk perluasan pasar sehingga dapat menambah laba usaha.
Masalah yang sering dihadapi perusahaan ialah penagihan piutang yang
telah jatuh tempo tidak selalu dapat diselesaikan seluruhnya. Jika
keadaan ini terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka
modal perusahaan akan semakin kecil.
Begitupula setiap perusahaan perlu memiliki persediaan untuk
menjamin kelangsungannya. Setiap perusahaan harus mampu
mempertahankan jumlah persediaan optimum untuk menjamin
kebutuhan bagi kemajuan kegiatan perusahaan, baik secara kuantitas
maupun kualitas. Namun jika persediaan yang telalu banyak akan
merugikan perusahaan. Tak jauh berbeda jika persediaan yang terlalu
sedikit juga akan membawa akibat serupa karena menimbulkan
gangguan terhadap operasi prusahaan. Maka makalah ini akan mencoba
menjelaskan bagaimana mengendalikan piutang dengan membahas
materi mengenai piutang dan juga persediaannya.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen piutang ?
2. Apa saja kompenen-komponen dalam manajemen piutang ?

3
3. Bagaimana menentukan investasi perusahaan dalam piutang
dagang dan bagaimna menentukan perubahan dalam kebijakan
kredit ?
4. Apa saja alasan memegang persediaan dan bagaimana
mengambil keputusan tentang persediaan ?

1.3. Tujuan penulisan


Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan manajemen
piutang dan manajemen persediaan
2. Untuk mengetahui apa saja komponen-komponen dalam
manajemen piutang
3. Untuk mengetahui bagaimana menentukan investasi
perusahaan dalam piutang dagang dan bagaimna menentukan
perubahan dalam kebijakan kredit
4. Untuk mengetahui alasan memegang persediaan dan
bagaimana mengambil keputusan tentang persediaan

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Manajemen Piutang
Piutang adalah tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang
karena terjadinya transaksi dimasa lalu. Pembayaran tunai yang
ditawarakan oleh suatu perusahaan menjadi suatu kemudahan yang
sangat mustahil, sebab pesaing akan memberikan kemudahan dalam
persyaratan pembayaran. Oleh karena itu, penjualan secara kredit
menjadi suatu kebutuhan bagi perusahaan dalam rangka
meningkatkan volume penjualannya. Semakin banyak yang dijual
secara kredit, semakin tinggi proporsi yang aktiva yang terkait dengan
piutang dagang.
Dengan adanya piutang berarti perusahaan harus menyediakan dana
yang diinvesatasikan kedalam piutanf tersebut, apalagi dalam piutang
selalu akan timbul masalah piutang tidak tertagih. Oleh karena itu
dalam memberikan kredit harus direncanakan dengan baik, agar
masalah piutang macet bisa dikendalikan. Di samping itu, karena
setiap dana yang digunakan perusahaan selalu ada biaya dananya,
maka perlu direncanakan besarnya dana yang diinvestasikan kedalam
piutang tersebut.

2.2. Ukuran investasi dalam piutang dagang


Ukuran investasi dalam piutang dagang ditentukan oleh beberapa
factor yaitu :
1) Persentase penjualan kredit terhadap penjualan total
mempengarui tingkat piutang dagang.
2) Tingkat penjualan. Semakin besar penjualan, semakin besat pula
piutang dagang. Ketika perusahaan mengalami pertumbuhan
penjualan musiman dan permanen, tingkat investasi dalam
piutang dagang tentu saja ikut naik. Maka, meskipun tingkat

5
penjualan mempengaruhi ukuran investasi dalam piutang dagang,
namun ini bukan variabel keputusan bagi manajer keuangan.
3) Kebijakan kredit dan penagihan (ketentuan penjualan, tipe
pelanggan, dan usaha penagihan).
Ketentuan penjualan menentukan lamanya periode dimana
pelanggan harus melunasi serta ketentuannya.
Kekuatan dan ketepatan waktu penagihan juga mempengaruhi
periode tagihan yang sudah jatuh tempo tapi masih belum
membayar dan kemudian mempengaruhi tingkat piutang dagang.
keputusan kebijakan penagihan dan kredit juga mempengaruhi
investasi dalam piutang dagang dengan mengakibatkan
perubahan dalam tingkat penjualan serta rasio antara penjualan
kredit dan total.

Ketentuan Penjualan-Variabel Keputusan


Ketentuan penjualan mengidentifikasi kemungkinan diskon untuk
pembayaran yang lebih awal. Pada umumnya ketentuan
penjualan di nyatakan dalam bentuk a, b, dan net c, yang
menunjukkan bahwa pelanggan dapat mengurangi a persen bila
tagihan itu dibayar dalam b hari, bila tidak maka harus dibayar
dalam c hari. Apabila pelanggan memutuskan melupakan atau
tidak membayar sampai hari pembayaran terakhir. Maka
pelanggan menggunakan uang untuk periode waktu antara
tanggal diskon dan pembayaran akhir. Namun demikian, bila tidak
mau mengambil diskon, berarti ada biaya bagi pelanggan.
Misalnya, bila ketentuannya 2/10 net 30, opportunity cost dari 2
persen ini bila di hitung per taun dengan menahan pembayaran
sampai 20 hari lagi adalah 36,73%. Ini dihitung sebagai berikut :

6
Opportunity cost melupakan diskon bilang dihitung tahunan =
a 360
1−a
x c−b

Bila diganti dengan nilai dari contoh didapatkan

0.02 360
36,76% = 1−0.02 x 30−10

Tipe Pelanggan-Variabel Keputusan


Variabel keputusan kedua adalah penentuan tipe pelanggan yang
memilki kualifikasi mendapatkan kredit dagang. Dalam
menentukan apakah mau memberikan kredit atautidak kepada
pelanggan individual, kita terutam berminat terhadap kemampuan
serta kemauan untuk membayar dalam jangka pendek. Maka,
rasio likuiditas, kewajiban lain, dan profitabilitas keseluruhan
perusahaan menjadi titik focus analisis itu.
Salah satu cara individu dan perusahaan dievaluasi dalam hal
resiko kredit adalah penggunaan penilaian kredit (credit scoring).
Ini melibatkan evaluasi atas setiap pemohon, pemohon menerima
nilai berdasarkan jawabannya atas sekelompok pertanyaan. Nilai
ini kemudian dievaluasi menurut standar yang sudah ditentukan
sebelumnya, tingkat relatifya terhadap standar yang menentukan
apakah kredit bisa diberikan atau tidak. Keunggulan utama dari
credit scoring adalah bahwa ini murah dan mudah dilakukan.
Teknik-teknik yang digunakan dalam penyusunan indeks penilaian
kredit berkisar dari pendekatan sederhana menyusun tingkat
gagal bayar berkait dengan setiap jawaban, sampai ke evaluasi
canggih dengan menggunakan Multiple Discriminant Analysis
(MDA), yaitu teknik statistik untuk menghitung arti penting yang

7
sesuai untuk setiap pertanyaan yang diberikan dalam
mengevaluasi pemohon.
Model lain yang dapat digunakan untuk penilain kredit sudah
disediakan oleh Edward Altman, professor di New York University,
yang menggunakan multiple discriminant analisis untuk
mengidentifikasi bisnis apa saja yang bisa bangkut. Dengan
analisi itu,Altman sampai pada indeks berikut ini:

EBIT penjualan nilai pasar akuitas


[ ] [
Z =3,3 Total aktiva +1,0 total aktiva + 0,6 ] [ nilai buku hutang ]+
laba ditahan modal kerja
[ ]
1,4 total aktiva + 1,2 total aktiva [ ]
Altman menemukan bahwa perusahaan yang bangkrut selama
periode ini adal 94 persen yang nilai Z-nya kurang dari 2,7 akan
bangkrut kurang dari satu tahun lagi, dan hanya 6 persen yang
nilainya diatas 2,7. Sebaliknya, dari perusahaan yang tidak
bangkrut, hanya 3 persen yang niali Z-nya dibawah 2,7 persen
dan 97 persen nilainya diatas 2,7.

Usaha Penagihan-Variabel Keputusan


Kunci mempertahankan control atas penagihan piutang dagang
adalah fakta bahwa probabilitas gagal bayar meningkat seiring
dengan umur tagihan itu. Maka, control atas piutang dagang
terfokus pada control dan eliminasi piutang dagang yang sudah
lewat jatuh tempo. Salah satu cara keuangan yang lazim untuk
mengevaluasi situasi sekarang adalah analisis rasio. Manajer
keuangan bisa menentukan apakah piutang dagang dapat
dikontrol atau tidak dengan mempelajari rata-rata waktu
penerimaan pembayaran, rasio piutang dagang terhadap aktiva,
dan rasio penjualan kredit terhadap piutang dagang (yang disebut

8
dengan accounts receivable turnover ratio) dan besarnya hutang
macet dibanding penjualan dari waktu ke waktu. Selain itu,
manajer dapat melakukan apa yang di sebut dengan aging of
accounts receivables untuk memberikan uraian dalam dollar
maupun persentase tentang proporsi piutang yang lewat jatuh
tempo.

2.3. Perubahan Kebijakan Kredit: Penggunaan Analsisi Marginal Atau


Inkremental
Analisis marginal atau incremental melibatkan perbandingan antar
konstribusi laba tambahan dari penjualan baru dengan biaya tambaha
akibat perubahan kebijakan kredit. Bila manfaatnya melebihi biayanya,
perubahan itu harus dilakukan. Bial tidak, kebijakan kredit harus
seperti apa adanya. Ada prosedur empat langkah untuk melakukan
analisis marginal atau incremental menyangkut perubahan kebijakan
kredit yakni :

1. Estimasi perubahan laba.


Ini sama dengan kenaikan penjualan dikalikan kontribusi laba pada
penjualan itu dikurangi tambahan kredit mecet yang terjadi.
= (kenaikan penjualan x margin konstribusi) – (kenaikan
penjualan-persen rugi kredit)

2. Estimasi biaya tambahan investasi dalam piutang dagang dan


persedian,
Pertama, hitung tambahan investasi dalam piutang dagang.
(tambahan piutang dagang)= (tingkat penjualan harian yang
baru) X (periode penagihan rata-rata yang baru) – (tingkat
penjualan harian asli) x (periode penagihan rata-rata asli)
Kedua, tambahkan investasi tambahan dalam piutang dagang
dan persedian

9
Dan terakhir
= (tambahan piutang dagang + tambahan persedian) x (tingkat
pengembalian sebelum pajak)

3. Estimasi perubahan biaya diskon tunai (bila diadakan perubahan


diskon tunai)
=(tingkat penjualan baru) x (persen diskon tunai yang baru) x
(persen pelanggan yang mengambil diskon) – (tingkat
penjualan asli) x (persen diskon tunai asli) x (persen
pelanggan yang mengambil diskon asli)

4. Bandingkan pendapatan incremental dengan biaya incremental


= perubahan bersih laba sebelum pajak x perubahan laba-
(biaya investasi baru dalam piutang dagang dan persedian +
biaya perubahan diskon tunai)

2.4. Manajemen Persediaan


Manajemen persediaan melibatkan control atas aktiva yang digunakan
dalam proses produksi untuk dijualn dalam perjalanan operasu normal
perusahaan. Kategori umum persediaan mnecakup bahan mentah,
work-in-process, dan barang jadi.
Persediaan bahan mentah, persediaan ini terdiri dari bahan dasasr
yang dibeli dari perusahaan lain untuk digunakan dalam operasi
produksi perusahaan. Barang-barang ini mencakup baja, kayu,
minyak atau barang-barang produksi pabrik seperti kawat, ball
bearing, atau ban yang tidak diproduksi sendiri oleh perusahaan itu
Persediaan barang setengah jadi (work-in-process). Ini mencakup
barang setengah jadi yang membutuhkan kerja tambahan sebelum
menjadi barang jadi. Semakin kompleks dan panjang proses produksi,
semakin besar investasi dalam work-in-process. Tujuannya adalah

10
melepaskan kaitan berbagai operasi dalam proses produksi sehingga
kegagalan mesin dan penhentian kerja pada salah satu operasi tidak
mempengaruhi operasi lain.
Persediaan barang jadi. Ini mencakup barang yang telah selesai
proses produksinya tetapi belum dijual. Tujuan persediaan barang jadi
adalah memisahkan fungsi produksi dan penjualan sehingga tidak
perlu memproduksi barang sebelum bisa dilakukan penjualan-
penjualan bisa dilakukan langsung dari persedian,

2.5. Teknik-Teknik Manajemen Persediaan


Pentingnya manajemen persediaa yang efektif langsung terkait
dengan ukuran investasi dalam persediaan. Karena, rata-rata hampir
16,94 persen aktiva perusahaan terkait dengan persediaan, maka
manajemen yang efektif atas aktiva-aktiva ini merupakan hal yang
hakiki bagi tujuan memaksimalkan kekeyaan pemegang saham. Untuk
mengontrol investasi dalam persediaan, manajemen harus berusaha
menyelesaikan dua masalah yaitu :

a. Masalah Jumlah Pemesanan (Order Quantity)


Ini melibatkan penentuan ukuran order optimal bagi suatu
persediaan dilihat dari segi kegunaan, biaya pemeliharaan, dan
biaya pemesanan. Disamping perubahan dalam sejumlah nama
variabel, ini persis sama dengan model persediaan untuk
manajemen kas (model EOQ)
Model EOQ berusaha menentukan ukuran order yang
meminimumkan biaya persedian total. Diasumsikan bahwa :

Biaya persediaan total = total biaya pemeliharaan + total biaya


pemesanan
Dengan asumsi bahwa persediaan diijinkan turun sampai nol dan
kemudian langsung dipenuhi kembali. Rata-rata persediaan

11
menjadi Q/2, dimana Q adalah ukuran order persediaan dalam
unit,.
Bila persediaan rata-rata Q/2 dan biaya pemeliharaan rata-rata
per unit adalah C, maka biaya pemeliharan menjadi :

Total biaya pemeliharaan = (rata-rata persedian) + (biaya


pemeliharaan per unit)

=( Q2 ) C
Dimana :
Q = ukuran order persediaan dalam unit
C = biaya pemeliharaan per unit

Biaya pemeliharaan persediaan mencakup tingkta pengembalian


yang diinginkan atas dalam persediaan, selain biaya gudang dan
penyimpanan, upah bagi mereka yang mengoperasikan gudang,
dan biaya yang terkait dengan penyusutan persediaan. Maka,
biaya yang terkait dengan membiarkan dana terikat pada
persediaan itu.
Bila biaya pemesanan per order adalah O, maka :
Total biaya pemesanan = (banyaknya pemesanan) + (biaya
pemesanan per order)

=( QS ) O
Dimana :
S = total permintaan dalam unit selama periode perencanaan
O = biaya pemesanan per order

12
Maka total biayanya yaitu :

Total biaya = ( Q2 )C + ( QS )O
Adapun nilai optimal Q dari persamaan diatas yaitu Economic
Ordering Quantity (EOQ), yaitu :
2 SO
Q* = √ c

Meskipun model EOQ cenderung menghasilkan hasil yang sangta


bagus, ada kelemahan model ini akibat beberapa asumsinya. Bila
asumsi-asumsi itu dilanggar secara dramtis, model EOQ dapat
dimodifikasi untuk mengakomodasikan situasi ini. Asumsi model
itu adalah sebagai berikut :
1. Permintaan barang yang konstan atau seragam
2. Harga unit tetap
3. Biaya pemeliharaan tetap
4. Biaya pemesanan yang tetap
5. Penyerahan instan
6. Order independen

b. Masalah Order Point


Order point problem yakni seberapa rendah persediaan bisa
dibiarkan turun sebelum pemesenan kembali dilakukan. Dua
factor yang masuk dalam penentuan order point yang tepat adalah
(1) pembelian atau stock saat pengiriman dan (2) safety stock
yang diinginkan. Masalah order point terdiri dari dua komponen,
stock saat pengiriman (delivery time stock) yakni persediaan yang
dibutuhkan antara tanggal pemesanan dan penerimaan
persediaan yang dipesan, dan safety stock. Maka, order point

13
tercapai ketika persediaan turun sampai ke tingkat yang sama
dengan stok saat pengiriman plus safety stock.
Order point persediaan dapat ditentukan sebagai berikut :

(Order Persediaan Baru Bila Persediaa Turun Sampai Ke


Tingkat Ini = (Stok Waktu Pengiriman) + (Safety Stock)

Akibat dari terus memelihara safety stock, tingkat rata-rata


persediaan naik. Sedangkan sebelum pengikutsertaan safety
stock, tingkat rata-rata persediaan sama dengan EOQ/2, sekarang
menjadi:
EOQ
Persediaan rata-rata = = safety stock
2

Secara umum, beberapa factor sekaligus menentukan seberapa


banyak seharusnya stok waktu pengiriman dan safety stock.
Pertama, efisiensi sistem pemenuhan kembali mempengaruhi
seberapa banyak stok waktu pengiriman yang dibutuhkan. Kedua
ketidakpastian yang meliputi waktu pengiriman dan permintaan
untuk produk mempengaruhi tingkat safety stock yang dibutuhkan.
Semakin pasti pola kedua arus masuk dan arus keluar persediaan
ini, semakin sedikit safety stock yang dibutuhkan. Yang ketiga
margin keamanan yang diinginkan juga mempengaruhi tingkat
safety stock, bila kehabisan persediaan menjadi pengalaman yang
mahal sekali, safety stock akan dipegang lebih banyak ketimbang
sebaliknya. Penentu yang terakhir adalah biaya memelihara
tambahan persediaan, dari segi biaya penanganan dan
penyimpanan dan opportunity cost yang terkait dengan investasi
dalam tambahan persediaan. Sederhananya, semakin besar
biaya, semakin kecil safety stock-nya.

14
2.6. Inflasi dan EOQ
Inflasi mempengaruhi model EOQ dalam dua cara. Pertama,
meskipun model EOQ bisa dimodifikasi untuk mengasumsikan
kenaikan harga konstan, kera kenaikan harga besar hanya terjadi
sekaii atau dua kali setahun dan diumumkan jauh-jauh hari. Bila
demikian, halnya, model EOQ mungkin tidak bisa diterapkan dan
harus diganti dengan pembelian sebagai antisipasi terhadap kenaikan
harga agar memperoleh barang dengan harga lebih murah.cara kedua
inflasi mempengaruhi EOQ adalah melalui kenaikan biaya
pemeliharaan. Karena inflasi mendorong bunga keatas, biaya
pemeliharaan persediaan naik. Dalam model EOQ kita, ini berarti
bahwa C naik, yang akibatnya penurunan Q * , economic order quantity
yang optimum :

2 SO
Q* =
√ C

2.7. Kontrol Inventory JUST-IN-TIME


Pada sistim "Just in time" pemesanan barang (bahan baku/barang
jadi) ke suplier berdasarkan jumlah yang diminta oleh customer.
Barang dari suplier yang datang secepatnya diproses lebih lanjut
menjadi barang jadi yang siap kirim untuk memenuhi kebutuhan
customer. Bila sistim ini berjalan baik jumlah barang yang disimpan
digudang akan sedikit, bahkan bisa tidak terdapat simpanan barang
sama sekali di gudang. 
Meskipun sistem persediaan just-in-time secara intuitif menarik,
namun belum terbukti mudah dilaksanakan. Jarak yang jauh antara
pemasok dan pabrik yang dibangun dengan cukup ruang untuk
penyimpanan dan tidak cukup akses (pintu dan loading dock) untuk
menerima persediaan telah membatasi keberhasilan penerapannya.
Namun, banyak perusahaan telah terpaksa mengubah hubungan

15
mereka dengan pemasok. Karena perusahaan mengandalkan
pemasok untuk mengirimkan suku cadang dan material berkualitas
tinggi segera, mereka harus memilki hubungan jangka panjang yang
erat dengan mereka.

2 SO
Persediaan rata-rata =
√ C
= safety stock

Sistem just-in-time menyerang persamaa ini di dua tempat. Pertama.


Dengan menempatkan pasokan persediaan ditempat yang enak,
menata letak pabrik sedemikian rupa sehingga murah dan mudah
membongkar pengiriman persediaan barum dan mengkomputerisasi
sistem pemesanan persediaan, biaya pemesanan persediaan baru, O,
akan berkurang. Kedua, dengan mengembangkan hubungan yang
kuat dengan pemasok yang berlokasi diwilayah geografis yang sama
dan menyusun strategi restocking yang bisa memangkas waktu,
safety stock juga bisa dikurangi. Filosofi dibalik sistem persediaan
just-in-time adalah bahwa manfaat yang terkait dengan sistem model
EOQ akan lebih banyak ketimbang sekedar mengimbangi biaya yang
terkait dengan kenaikan kemungkinan kehabisan stok.

2.8. TQM Dan Manajemen Pembelian Persediaan Hubungan : Hubungan


Yang Baru Dengan Pemasok
Konsep total quality management (TQM), yang merupakan
pendekatan sistem seluruh perusahaan terhadap kualitas, telah
menjadi filosofi baru dalam manajemen persediaan yang di sbeut
“cintailah pemasok anda”. Dengan pendekatan ini, hubungan,
antagonistic tradisional antar pemasok dan pelanggan, dimana
pemasok dijatuhkan dengan tangan dingin ketika dapat ditemukan
sumber yang lebih murah, sekarang digantikan dengan tatanan baru
dalam hubungan pemasok-pelanggan. Akibatnya, apa yang dimulai

16
sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas melalui hubungan
pemasok yang lebih erat telah memberikan manfaat yang tak terduga.
Hubungan erat dengan pelanggan telah membantu merampingkan
biaya, sebagiannya karena memungkinkan produksi produk
berkualitas lebih tinggi. Hubungan erat pemasok-pelanggan ini telah
memungkinkan filosofi TQM melewati batas-batas perusahaan ke
pemasok, yang memungkinkan perusahaan mendapatkan keahlian
pemasok dalam merancang produk berkualitas lebih tinggi. Selain itu,
saling ketergantungan antara pemasok dan pelanggan telah
memungkinkan pengembangan dan pengenalan produk-produk baru
dengan lebih cepat ketimbang sebelumnya.

Konsekuaensi Financial Kualitas – Pandangan Tradisional


Biaya yang di keluarkan perusahaan untuk menjalankan program
manajemen kualitas mencakup biaya pencegahan dan biaya
penaksiran, biaya pencegahan mencakup biaya yang dihasilkan dari
upaya perancangan dan produksi dipihak perusahaan untuk
menurunkan atau menghilangkan kecacatan. Biaya pencegahan
membahsa penghindaran kecacatan dari sejak awal, sedangkan biaya
penaksiran yang lazim mencakup biaya pengetesan, pengukuran, dan
penganalisisan bahan bakum suku cadang, dan produk, serta operasi
produksi dan mengamankan dari kemungkinan persediaan cacat yang
tidak terlihat. Secara bersama-sama, biaya pencegahan dan
penaksiran membentuk sebagian besar dari yang lazim dilakukan oleh
program manajemen kualitas.
Biaya pencegahan dan penaksiran membahas biaya yang terkait
dengan pencapaian kualitas yang baik, sedangkan kegagalan
mengacu ke biaya yang dihasilkan dari memproduksi produk
berkualitas rendah. Biaya kegagalan dapat terjadi dalam perusahaan
yang disebut biaya kegagalan internal atau setelag produk telah
meninggalkan perusahaan, disebut biaya kegagalan eksternal. Biaya

17
kegagalan internal adalah biaya yang terkait dengan penemuan
produk berkualitas rendah sebelum pengiriman ke pelanggan
terakhir. Biaya kegagalan internal mencakup biaya pengerjaan ulang
produk, biaya turun mesin, biaya karena harus mendiskon produk
kualitas rendah, dan biaya sampah karena produk itu. Akan tetapi,
biaya kegagalan eksternal berasal dari produk berkualitas rendah
yang sampai ke tangan pelanggan. Lazimnya biaya kegagalan
eksternal mencakup biaya pengembalian produk, biaya tanggung
jawab produk, biaya keluhan pelanggan, dan biaya penjualan rugi.

BAB III

18
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Piutang (accounts receivable) adalah tagihan kepada pihak lain dimasa
yang akan datang karena terjadinya transaksi dimasa lalu. Dan
Persediaan atau inventory adalah salah satu elemen utama dari modal
kerja yang etrus menerus mengalami perubahan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi jumlah investasi dalam piutang yaitu: Volume penjualan
kredit, Syarat pembayaran penjualan kredit, Ketentuan pembatasan
kredit, Kebijakan dalam penagihan piutang, Kebiasaan pembayaran
pelanggan.
Dalam memperbesar volume penjualan, banyak perusahaan
melakukan transaksi penjualan secara kredit disamping penjualan secara
tunai. Ini akan menimbulkan piutang bagi perusahaan yang melakukan
penjualan tersebut. Piutang yang diberikan kepada pelanggan
diharapkan dapat tertagih pada waktu jatuh tempo. Tetapi, ada kalanya
piutang tidak dapat ditagih kembali. Dan perusahaan menilai resiko kredit
atas dasar kriteria sebagai berikut :Character, Capacity, Capital,
Collateral dan Condition. Dalam Pencegahan resiko kredit dapat pula
dilakukan dengan cara sebagai berikut :Mencari informasi tentang
mental/kepribadian, Mencari informasi tentang kemampuan keuangan,
Mencari informasi tentang jalannya perusahaan, Menetapkan kebijakan
setahap demi setahap, Membatasi jumlah piutang, Meminta barang
jaminan dan Seleksi terhadap verkooper atau agen.

3.2. Saran
Demikian makalah yang saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan,
silahkan sampaikan kepada kami.
Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan dan
memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari
salah khilaf dan lupa.

19
Daftar Pustaka

20
Keown, Arthur J.dkk 2005. Manajemen Keuangan : Prinsip dan penerapan. Edisi 10 jilid
2. Penerbit Indeks : Jakarta Barat.

21