Anda di halaman 1dari 12

BAB I

Pendahuluan

A.         Latar Belakang Masalah


Penduduk Indonesia memiliki jumlah penduduk yang terbesar kelima di dunia, yaitu lebih
kurang 220 juta jiwa.  Dan, lebih kurang 60 persen diantaranya hidup dan bermukim di
sekitar wilayah pesisir.  Sebagian besar diantaranya menggantungkan hidup kepada
keberadaan sumberdaya alam pesisir dan lautan.  Sehingga tidaklah mengherankan jika
sebagian besar kegiatan dan aktivitas sehari-harinya selalu berkaitan dengan keberadaan
sumberdaya di sekitarnya.

Wilayah pesisir dan laut Indonesia mempunyai kekayaan dan keanekaragaman hayati
(biodiviersity) terbesar di dunia, yang tercermin pada keberadaan ekosistem pesisir
seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan berjenis-jenis ikan, baik ikan
hias maupun ikan konsumsi. Kondisi tersebut tentu sebuah ironi, di tengah gemerlapnya
kekayaan alam nan melimpah ternyata Indonesia belum mampu mengangkat derajat
kesejahteraan masyarakat disekitarnya yaitu masyarakat pesisir.

Bagi masyarakat pesisir di Nusantara, sektor ekonomi perikanan dan usaha


transportasi/pelayaran masih menjadi andalan. Keberadaan sektor ini didukung oleh
teknologi pelayaran dan penangkapan ikan tradisional, salah satunya adatah perahu.
Besarnya potensi sektor kelautan seharusnya mampu memberi kontribusi terhadap
peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia namun kenyataannya masyarakat pesisir
masih merupakan masyarakat miskin baik secara kultural maupun struktural.

B.           Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar  belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan teknologi masyarakat bahari di Indonesia ?
2. Apa inovasi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat bahari ?
3. Teknologi apa yang digunakan dalam penangkapan ikan di kalangan masyarakat
nelayan di nusantara ?
C.           Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah tersebut dapat diketahui bahwa tujuan penulisan makalah ini
adalah :
1. Untuk mengetahui perkembangan teknologi masyarakat bahari di indoesia.
2. Untuk mengetahui inovasi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat bahari
3. Untuk mengetahui Teknologi apa yang digunakan dalam penangkapan ikan di
kalangan masyarakat nelayan di Indonesia.

D.            Manfaat Penulisan
Dari segenap pembahasan yang telah dipaparkan, harapan yang ingin diwujudkan
dalam  makalah ini tercakup secara teoritis dan secara praktis  yang meliputi :
1.        Secara teoritis
Makalah ini diharapkan berguna untuk memberikan sumbangan terhadap usaha
peningkatan dan pengembangan teknologi masyarakat bahari.
2.        Secara praktis
Tujuan praktis dari makalah ini adalah: Mendorong dosen dan Mahasiswa untuk dapat
memahami sistem teknologi masyarakat bahari di indonesia, sebagai acuan untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat bahari.
BAB II
PEMBAHASAN

A. perkembangan teknologi masyarakat bahari di Indonesia


Di Sulawesi Selatan, tempat kediaman dan asal usul komunitas-komunitas nelayan
Bugis, Bajo dan Makasar di berbagai tempat di Nusantara ini, dikenal
kelompok kerjasama nelaya yang dikenal dengan istilah Po(u)nggawa-Sawi (P-Sawi),
yang menurut keterangan dari setiap desa telah ada dan bertahan sejalk ratusan tahun
silam. Meskipun kelompok P-Sawi juga digunakan dalam kegiatan pertanian,
perdagangan di darat dan pengelolaan tambak, namun kelompok ini lebih eksis dan
menyolok peranannya dalam aktivitas pelayaran dan perikanan rakyat Bugis,
Makasar, dan Bajo di Sulawesi Selatan dan tempat-tempat lainnya di Indonesia.

Strukturinti/elementer dari kelompok organisasi ini


ialah P.lautatau Juragan dan Sawi. P.Laut berstatus pemimpin pelayaran dan aktivitas
produksi dan sebagai pemilik alat-alat produksi. Para P.Laut memiliki pengetahuan
kelautan, pengetahuan dan ketrampilan manajerial, sementara para sawi hanya memiliki
pengetahuan kelautan dan ketrampilan kerja/produksi semata.

Suatu perubahan struktural yang berarti terjadi ketika suatu usaha perikanan mengalami
perkembangan jumlah unit perahu dan alat-alat produksi yang dikuasai oleh
seorang P.Laut/Juragan tadi sebagai akibat dari pengaruh kapitalisme. Untuk
pengembangan dan eksistensi usaha, maka P.Laut/Juragan tidak lagi ikut memimpin
pelayaran dan proses produksi di laut, melainkan tetap tinggal di darat/pulau untuk
mengelolaperolehan pinjaman modal dari pihak lain, mengurus biaya-biaya anggota yang
beroperasi di laut, membangun jaringan pemasaran, dan lain-lain. Di sinilah pada
awalnya muncul satu status baru pada strata tertinggi dalam kelompok kerja nelayan yang
disebut P.Darat/P.Pulau. Untuk memimpin pelayaran dan aktivitas produksi di
laut, P.Darat merekrut juraganjuraganbaru untuk menggantikanposisinya dalam memim
pin unit-unit usaha yang sedang berkembang dan meningkat jumlahnya.
Para P.Laut/Juragan dalam proses dinamika ini sebagian masih berstatus pemilik,
sebagain lainnya hanyalah berstatus pemimpin operasi kelompok nelayan.
Para juragan yang direkrut dari sawi-sawi berbakat/potensial dikenal juga dengan
istilahP.Caddi, sedangkan P.Darat disebut P.Lompo.
Pola hubungan (struktur sosial) yang menandai hubungan dalam kelompok P.Sawi baik
dalam bentuknya yang elementer (P.Laut/Juragan-Sawi) maupun bentuk lebih kompleks
(P.Darat/P.Lompo-P.Laut/Juragan-Sawi) ialah hubungan patron-client. Hubungan patron-
client memolakan dari atas bersifat memberi servis ekonomi, perlindungan, pendidikan
informal, sedangkan dari bawah mengandung muatan moral dan sikap ketaatan dan
kepatuhan, kerja keras, disiplin, kejujuran, loyalitas, tanggung jawab, pengakuan, dan
lain-lain (dapat dipahami sebagai modal sosial).

Gejala perubahan sruktural paling menyolok dan terasa ketika berlangsung adopsi
inovasi teknologi perikanan terutama motor/mesin,peningkatan volume perahu, beberapa
jenis alat tangkap baru skala besar, sarana pengawetan modern (penggunaan es balok).
Untuk merespons difusiinovasi teknologi eksploitasi dan sarana penggerak tersebut,
paraP.Darat/P.Lompo/pengusaha lokal yang mempunyai kemampuan modal terbatas
terpaksa mengusahakan bagian besar dari modalnya ke pihak-pihak lain, yaitu pengusaha
besar di kota-kota besar, teurutama Makassar,dengan sistem kredit. Sudah menjadi pola
umum dalam masyarakat nelayan tradisional bahwa dari mana diperoleh pinjaman modal,
ke situ pula dipasarkan tangkapan. Pola ini sekaligus sudah menjadi norma pemasaran
yang mengakar. Cara seperti inilah memungkinkan para pengusaha modal dari luar secara
berangsur-angsur mengambil alih sebagian besar posisi dan peranan vital para pengusaha
lokal, yang lemah dalam faktor modal. Mula-mula mereka menuntut hasil tangkap dijual
kepada mereka, kemudian banyak menentukan spesis-spesis tangkapan nelayan dan
tingkat harga, dan jika ketentuan-ketentua kurang dipenuhi maka pinjaman (dalam bentuk
perahu dan mesin) ditarik kembali dari nelayan dan para ponggawa-nya.

Dalam perubahan struktural seperti ini, para pengusaha modal besar di Makasar


dapat diposisikan pada strata paling atas yang dikenal dengan
istilah Bos, P.Pulau/P.Darat sebagai peminjam pada posisi tengah (peranannya
menyerupai makelar), sementara para P.Laut/Juragang danSawi (nelayan) sebagai
penyewa atau penyicil alat-alat
produksi sematadari Bos melalui P.Darat/P.Pulau/P.Lompo. Keterlibatan dan
dominasi Bosdalam hirarkis struktur hubungan kerjasama nelayan, menyebabkan
hubungan patron-client di antara P.Lompo/P.Darat dengan nelayan sebagian berubah
menjadi hubungan eksploitatif, sementara hubungan terpercaya cenderung dibangun dan
dimantapkan antara para P.Darat danBos. Tinggal P.Laut dengan Sawi-nya relatif masih
mempertahankan hubungan harmonis yang terbangun sejak dahulu kala .

Perlakuan para P.Darat/P.Lompo yang seringkali merugikan bagiP.Laut/Juragan, yang


menyebabkan mereka sulit meningkatkan penapatan dan bergeser naik ke status pemilik
alat-alat produksi/pengusaha, mendorong sebagian P.Laut/P.Caddi/Juragan mencoba
menempuh cara berisiko, yaitu meminjam modal langsung kepada Bos di
Makasar. Hingga sekarang, tidak sedikit Juragan telah mencapai idamannya dengan
strategi seperti ini, yaitu menjadi nelayan pemilik/pengusaha. Sebaliknya, mereka
cenderung membangun kompetisi dengan dan mempersempit peluang usaha
para P.Darat/P.Lompo yang sudah kokoh sejak lama. Demikianlah tercipta suatu struktur
kerjasama baru antara Bos dengan P.Laut/Juraganyang secara langsung memimpin
kelompok-kelompok nelayan yang jumlahnya kecil di laut.
Sebetulnya, sejak awal tahun 1990-an sudah ada alternatif sumber pinjaman biaya
operasional dan biaya hidup keluarga nelayanpesisir dan pulau, yaitu para pengusaha kios
yang menjual berbagaikebutuhan pokok dan bahan pembuatan alat-alat penangkapan
ikan. Sebagian di antara pengusaha kios tersebut adalah keluarga P.Pulau juga.

Dengan adopsi inovasi teknologi tangkap dan perahu/kapalmenjadi faktor terjadinya


perubahan aturan bagi hasil yang eksploitatif.Fenomena baru ini tidak dapat dihindari
sebagai dampak dari pergeseran sistem ekonomi subsisten ke sistem ekonomi
kapitalisme. Personifikasi komponen produksi modern (perahu, mesin, pukat/jaring,
kompresor dan lain-lain yang dikembangkan dengan investasi modal besar) dalam sistem
bagi hasil, karena peranannya dianggap lebih vital daripada peranan setiap anggota/anak
buah, maka bagian-bagian hasil diperuntukkan bagi komponen alat produksi
ini meningkat pesat. Sebaliknya, porsi bagian bagianak buah justru cenderung merosot.
Bagian-bagian komponen-komponen alat produksi tentu saja jatuh ke tangan seorang
pemilik. Diasumsikan bahwa perubahan struktural ini sangat mempengaruhi meluasnya
gejala kemiskinan di desa-desa nelayan hingga sekarang ini.

B. Inovasi Teknologi Yang Bermanfaat Bagi Masyarakat Bahari


          Sejumlah teknologi kelautan dan perikanan telah diaplikasikan untuk mendukung
kegiatan nelayan, pembudidaya perikanan, dan masyarakat pesisir lainnya .Kawasan
pesisir merupakan potensi bagi perkembangan sector kelautan dan perikanan. Hal
tersebut perlu didukung dengan program nyata dari Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan baik
nelayan, pembudidaya, pelaku pengolahan, serta stakeholders (pemangku kepentingan)
lainnya.

Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP)


merupakan salahsatu satuan kerja di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan
Kelautan dan Perikanan (BalitbangKP) yang bergerak di bidang pengkajian dan
perekayasaan teknologi kelautan dan perikanan. Lembaga ini menghasilkan teknologi
kelautan dan perikanan yang telah diaplikasikan di beberapa daerah pesisir di Indonesia.
 Zero Water Discharge
Salahsatu teknologi yang telah diaplikasikan yaitu Zero Water Discharge (ZWD). Ini
merupakan teknologi pengolahan air yang dimanfaatkan untuk budidaya. Konsep
teknologi ZWD mempunyai keunggulan diantaranya dapat meminimalisasi penggunaan
air tawar, optimalisasilahan sempit, menjaga kondisi sistem yang stabil, produktivitas
yang tinggi, dan mitigasi kerusakan lingkungan hidup.
Teknologi ini sangat cocok untuk daerah yang mempunyai ketersediaan air tawar yang
terbatas. Konsep ZWD dapat meningkatkan produktivitas panen setiap periode. Dalam
penerapannya, teknologi ini sudah diaplikasikan untuk budidaya udang galah di
Pamarican, Ciamis dan telah dirasakan manfaatnya.
Menurut pembudidaya, hasil panen mempunyai kualitas yang baik dan warna udang yang
dihasilkan cerah. Hal ini dapat mempengaruhi nilai jual udang galah menjadi lebih
menguntungkan. Produktivitas panen juga meningkat,per periode panen yaitu 25 % pada
panen pertama dan panen selanjutnya meningkat menjadi 37% dan 50%.
Penerapan teknologi ini diaplikasikan pada 6 kolam pendederan udang galah ukuran 3 x 5
meter dan 2 buah kolam ukuran 5 x 6 meter. Padat tebar tiap kolam adalah 150 ekor/m2
dengan lama pendederan sekitar 6 – 8 minggu per periode panen. Komponen teknologi
ZWD meliputi penyediaan bakteri nitrifikasi, penyediaan mikro alga chlorella,
pembuatan  shelter loster bata dan karpet, persyaratan benur(tepat ukuran dan jumlah
tebar), persyaratan pakan (tepat jumlah, jenis dan waktu pemberian pakan), serta waktu
pemeliharaan, cara, dan selang waktu penambahan air.
 Ice Maker
Lalu ada pula teknologi ice maker yang merupakan teknologi penyedia es Kristal
untuk masyarakat pesisir. Saat ini teknologi ice maker sudah dimanfaatkan oleh pedagang
kuliner di Pantai Pandansimo Baru Kabupaten Bantul.
Sebelum diterapkannya teknologi  ice maker, pedagang kuliner di Pantai Pandansimo
Baru jika ingin membeli es harus membeli ke rumah penduduk yang berjualan es dengan
menempuh jarak sekitar 1,5 Km dengan harga Rp 600/kg. Hal ini dirasakan pedagang
kuliner sangat tidak efisien karena harus bolak-balik membeli es yang tentunya
memerlukan tenaga dan biaya operasional tambahan. Dengan diterapkannya teknologi 
ice maker dirasakan sangat membantu hasil dilapangan.
Menurut para pedagang kuliner, lokasi ice maker sangat mudah untuk dijangkau karena
berada di lokasi Pantai Pandansimo Baru dengan jarak sekitar 75 m dari tempat usaha,
sehingga tidak mengeluarkan biaya tambahan untuk menuju ke lokasi pembeli an es.
Harga yang ditawarkan juga lebih murah yaitu Rp 400/kg dengan bentuk es yang
dihasilkan dalam kondisi yang baik. Spesifikasi teknologi  ice maker yang diaplikasikan
diantaranya yaitu produksi es kristal dapat dilakukan per 30 menit dengan hasil produksi 
sekitar 10 kg.  Produksi es kristal membutuhkan alat seperti pompa,filter I ( pasir dan
mangan), filter II ( karbon aktif), tower (penampung) air, dan mesin ice maker.
Komponen diatas merupakan alat pendukung untuk mensuplai air bersih menuju ke alat
ice maker yang merupakan proses akhir dari teknologi tersebut sehingga menghasilkan es
kristal.
 Reverse Osmosis
Kemudian ada teknologi reverse osmosis. Ini merupakan teknologi yang
menggunakan prinsip perbedaan tekanan antar konsentrasi zat yang berbeda. Penerapan
teknologi Reverse Osmosis (RO) di Indramayu Jawa Barat ditujukan sebagai penyedia air
siap minum untuk masyarakat nelayan disekitar pelabuhan Eretan Kulon Indramayu.
Teknologi ini menggunakan membrane semipermeable sebagai medianya. Dalam reverse
osmosis, air dipaksa melawan sifat alamiahnya sehingga mengalir dari larutan
pekatmenuju larutan encer melalui membrane semipermeable. Tekanan osmosis yang
lebih besar daripada tekanan osmosis biasa diberikan dengan bantuan pompa sehingga air
murni akan mengalir melalui membrane berlawanan arah dengan osmosis (sumber:Tim
Iptekmas P3TKP 2011).
Teknologi reverse osmosis dioperasikanselama 3 – 4 jam dengan kapasitas produksi500
liter/jam. Dengan menggunakan teknolog ini dapat memproduksi air siap minum 2.000
liter atau kurang lebih 105 galon  (ukuran 19 liter)
     C.   Teknologi yang digunakan dalam penangkapan ikan di kalangan masyarakat nelayan
di nusantara
Menurut van Kampen (1909), teknologi yang digunakan dalam penangkapan ikan
di kalangan masyarakat nelayan Nusantara pada umumnya terdiri atas: (1) net atau jaring.
Nelayan di Sulawesi Selatan menyebutnya dengan istilah panjak, gae, lanra, atau
panambe; (2) pancing, yang di kalangan masyarakat nelayan di Sulawesi Selatan
dibedakan menjadi pancing labuh, pancing rintak, pancing tonda, dan pancing kedo-
kedo', (3) perangkap, yang oleh masyarakat nelayan di Sulawesi Selatan disebut dengan
nama bubu, sero, dan belle'; (4) alat tusuk, yang oleh nelayan di Sulawesi Selatan disebut
sebagai tombak, pattek, dan ladung; dan (5) peralatan lainnya, misalnya adaiah bahan
peledak dan obat bius ikan. Jenis-jenis peralatan tangkap yang telah disebutkan oleh van
Kampen masih dapat dilengkapi dengan (6) linggis dan parang;
(7) menangkap atau memungut ikan dengan tangan; dan akhir-akhir ini nelayan di
Sulawesi Selatan juga telah melengkapi peralatan tangkap mereka dengan (8) alat selam
yang terdiri atas tabung dan kompresor .
Berbeda dari nefayan di Sulawesi Selatan, alat tangkap yang digunakan nelayan
Jawa dan Madura terutama adalah pukat, Mereka mengenal berbagai jenis pukat yang
berbeda. Sebagai contoh adalah perahu payang yang dilengkapi dengan tujuh jenis pukat,
yaitu: pukat besar, peperek, krakat. arad, kopek, dedang, dan banton. Sebagian besar dari
jenis-jenis pukat tersebut masih digunakan oleh sebagian besar nelayan di Jawa dan
Madura hingga sekarang.
Berdasarkan uraian dr atas dapat dinyatakan bahwa elemen tradisional masih bertahan
dalam budaya kebaharian pada berbagai masyarakat nelayan di Indonesia dewasa ini.
Sistem pengetahuan, kepercayaan, pranata atau lembaga, dan teknologi eksploitasi
tradisionat tetap terpelihara dan berfungsi. Fenomena ini bisa ditunjukkan antara lain
pada komunitas nelayan Liang-liang di Pulau Sembilan dalam pengelolaan sumberdaya
kawasan karang. Mereka tetap mempertahankan lokasi-lokasi dan sarang-sarang ikan
yang dimiliki sejak dahulu dan tetap menggunakan pancing labuh. Meskipun dikelilingi
oleh kelompok-kefompok nelayan pengguna bahan peledak dan bius serta para pengusaha
dan agen eksportir ikan dan lobster segar dan hidup, namun mereka tetap
mempertahankan sistEM-sistem tradisionalnya.
BAB III
PENUTUP

       A. Kesimpulan 
           Modernisasi dan globalisasi cenderung berdampak negatif terhadap kehidupan
komunitas nelayan di berbagai tempat di Indonesia, misalnya berupa kemiskinan
ekonomi sebagian terbesar masyarakat nelayan tradisional skala kecil, konflik di antara
kelompok-ketompok nelayan, pengurasan populasi sumberdaya laut, dan kerusakan
ekosistem laut terutama terumbu karang. Meskipun demikian, modernisasi dan
globalisasi belum sampai memusnahkan beberapa bentuk kearifan lokal, di antaranya
adalah sas/di Maluku, panglima laut 6} Aceh, dan dan teknik rumpon nelayan Mandar
serta pranata ponggawa-sawi di Sulawesi Selatan.
Berbagai pihak yang berkompeten seperti pemerintah, akademisi, ornop, dan lembaga
donor perlu melakukan usaha-usaha untuk menemukan arah pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut secara berkelanjutan dengan
memperhatikan kelestarian lingkungan, Tujuannya adalah agar muncul kesadaran
bersama bahwa sumberdaya laut relatif rentan terhadap ancaman, terutama yang
bersumber dari perilaku manusia yang tidak terkendali dalam mengeksploitasi hasil laut.
Usaha itu dapat dilakukan melalui penguatan hak-hak kepemilikan tradisional dan
merevitalisasi lembaga-lembaga tradisional. Strategi itu memungkinkan pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut dapat dilakukan dengan tetap
mempertahankan kelestariannya. Pengembangan teknologi penangkapan, budidaya dan
semi-budidaya, dan teknologi pascapanen serta pembangunan institusi pasar lokal,
regional, nasional, dan global seharusnya juga tidak didominasi atau di bawah kendali
-kekuatan eksternal, Oleh karena masyarakat bahari bersifat pragmatis, contoh nyata yang
memberikan makna praktis bagi mereka niscaya akan dinilai tinggi dan diperebutkan.
DAFTAR PUSTAKA

Wahono, Tri. 2011 .https://riswahyuni.wordpress.com/2013/11/22/20/


(Di akses pada 20 April 2018 pukul 21.00)
PR Wire ,2013.https://www.antaranews.com/berita/396058/teknologi-tepat-guna-untuk-
masyarakat-pesisir
(Di akses pada 20 April 2018 pukul 21.23)
Tatang . 2013 .https://suksesmina.wordpress.com/2013/11/01/inovasi-teknologi-bagi-
masyarakat-pesisir/
(Di akses pada 20 April 2018 pukul 21.42)
Famif08. 2013. http://famif08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/masyarakat-pesisir/
(Di akses pada 20 April 2018 pukul 21.42)
WAWASAN SOSIAL BUDAYA MARITIM
“SISTEM TEKNOLOGI MASYARAKAT
BAHARI”

KELOMPOK 2
 - INDAH MELATI SUCI (D081171009)

 - ZULFIKAR (D081171010)

 - ARI RAJOAN (D081171011)

 - RAHMAT ALFIAN (D081171012)

 - JUMAINI (D081171013)

 - AULIA CITRA .AS (D081171014)

 - NUR RACHMI (D081171015)

DEPARTEMEN TEKNIK KELAUTAN


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018