Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN

“ ABORTUS IMINENS”

DISUSUN OLEH :

1. ADE FRISCA A. ( P21224019056)


2. ARDIANI DEWI S. ( P21224019066)
3. HAWA FA’ALA N.F. ( P21224019083)
4. LIDYA AYU A. ( P21224019089)
5. RESANTI PUTRI N. ( P21224019099)

DOSEN PENGAMPU : Gita Kostania, SSiT, M.Kes

JURUSAN D-IV KEBIDANAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURAKARTA

TAHUN AJARAN 2019-2020


KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa
selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan
memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun
terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Klaten, 14 Februari 2020

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Abortus adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500
gram atau kurang dari 28 minggu atau berat janin 1000 gram ( Prof. Dr. Ida Bagus
Gde Manuaba, SpOG,2004). Abortus terjadi karena terlepasnya sebagian atau
seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekirangan
nutrisi dan O2. Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan atau seluruhnya.
Abortus iminens (keguguran mengancam), abortus ini bru mengancam dan
masih ada harapan untuk mempertahankannya. (FK. UNPAD,1984:8)
Aortus iminens adalah abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman
terjadinya abortus selanjutnya. (Sarwono, 2008:467)
Salah satu jenis abortus yaitu abortus iminens yang mana dalam keadaan ini
memungkinkan kehamilan masih bisa dipertahankan, tapi juga tidak menuntut
kemungkinan bisa menjadi abortus insipient ( keguguran yang sedang berlangsung)
yang tentunya keadaa ini kehamilan tidak bisa lagi untuk dipertahankan.
Salah satu unsur penting penanganan dalam abortus iminens yaitu dengan
tirah baring karena dengan ini aliran darah ke uterus bertambah. Selain itu, juga
akan mengurangi rangsangan mekanik.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
abortus iminens.
2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada ibu hamil dengan abortus
iminens.
3. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan asuhan menyeluruh dengan
tepat .
4. Mahasiswa mampu mengidentifikasi terhadap tindakan pada ibu hamil
dengan abortus iminens.
BAB II

ISI

A. Konsep Dasar Abortus


 Pengertian
Abortus ialah kegagalan kehamilan sebelum berumur 28 mg atau berat  janin kurang
dari 1000 gram (Manuaba,2001).
Abortus ialah pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau
kurang dari 28 minggu atau berat janin 1000 gram ( Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba,
SpOG,2004).
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar tanpa
mempersoalkan penyebabnya ( Pfof. Sulaiman Sastrawinata dkk, 2005).
Kira – kira 12 – 15 % dari seluruh kehamilan berakhir spontan sebelum umur
kehamilan 20 minggu. Sehingga tidak mungkin mengetahui pada permulaan apakah abortus
iminens akan berlanjut ke ke abortus insipient, inkompletus, kompletus. Diagnosis abortus
iminens diduga bila perdarahan berasal dari intra uteribmuncul selama pertengahan pertama
kehamilan dengan atau tanpa kolik uterus tanpa pengeluaran hasil konsepsi dan tanpa
dilatasi serviks.

B. Jenis – jenis Abortus


1. Abortus iminens
Terjadi perdarahan bercak yang menunjukan ancaman terhadap
kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih
mungkin dipertahankan.
2. Abortus Insipient
Pendarahan ringan hingga hingga sedang pada kehamilan muda dimana
hasil konsepsi masih berada pada cavum uteri.
3. Abortus Incomplete
Perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi
telah keluar.
4. Abortus Complete
Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah
dikeluarkan dari cavum uteri.
5. Abortus Infeksiosa
Abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman ke
dalam sirkulasi dan cavum peritonium dapat menimbulkan septicemia.
6. Retensi Janin Mati
Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi
yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih.
7. Abortus Resiko Tinggi
Upaya untuk terminasi kehamilan muda dimana pelaksanaan tindakan
tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman
sehingga dapat membahayakan kesehatan jiwa pasien.
C. Tanda dan Gejala
1. Terlambat haid kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan meningkat.
3. Perdarahan pervagina disertai keluarnya jaringan konsepsi.
4. Rasa mules atau keram perut di daerah simfisis, disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus.
5. Pemeriksaan ginekologi:
Inspekulo: perdarahan dari cavum uteri, ostium uteri terbuka atau tertutup,
D. Konsep Dasar Abortus Iminens
 Pengertian
Abortus iminens (keguguran mengancam), abortus ini baru mengancam dan
masih ada harapan untuk mempertahankann)a. (FK. UNPAD,1984:8).
Abortus iminens adalah abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman
terjadinya abortus selanjutn)a. (Sarwono,2008:467).
Abortus iminens adalah abortus yang terjadi dan kehamilan dapat berlanjut.
(Panduan pelayanan maternal dan neonatal,2002).
Abortus iminens adalah keguguran membakat dan akan terjadi dalam hal ini
keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat6obat hormonal dan
anti spajmodika serta istirahat. (Mochtar Rustam, hal. 212).
 Etiologi
Penyebab – penyebab abortus iminens yaitu:
1. Factor generic
Kelainan struktur kromoson yang diturunkan wanita atau pria bisa
berdampak pada rendahnya konsentrasi sperma , infertilitas dan
mengurangi  peluang kehamilan dan terjadi keguguran. Kelainan sering
juga berupa gen yang abnormal karena mutasi gen yang bisa
mengganggu proses implantasi dan menyebabkan keguguran.
2. Faktor endometrium
Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi.
3. G i z i i b u b e r k u r a n g k a r e n a a n e m i a a t a u t e r l a l u p e n d e k
jarak kehamilan.
4. Faktor lingkungan
Diperkirakan 1-10% malformasi janin akibat dari paparan obat bahan kimia
atau radiasi umumnya berakhir dengan abortus, misalnya paparan
temabakau, sigaret rokok mengandung ratusan unsure koksik, antara lain
nikotin, yang mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi
uteroplasenta dengan adanya gangguan pada sistem fetoplasenta dapat
terjadi gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.
5. Kelainan genetalia
- Kelainan letak dari uterus seperti retroflesi uterus
- Conginetal anomaly (hypoplasia uteri, uterus bikornis)
6. Trauma fisik
Kecelakaan lalu lintas, jatuh, hubungan seksual.

Faktor – faktor lain yang menyebabkan abortus iminens yaitu:

Plasenta sign (gejala plasenta) ialah perdarahan yang terjadi dari


pembuluh – pembuluh daerah sekitar plasenta.
Erosi portionis
Polip

Diagnosa kehamilan muda pada abortus iminens kadua terdapat:

1. Perdarahan sedikit
2. Nyeri memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali.
3. Pada pemeriksaan dalam belum ada pembukaan.
4. Tidak ditemukan kelainan pada serviks.
E. Patofisiologis
Abortus terjadi melaui dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta
yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan oksigen.
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan atau seluruhnya.
Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya:
- Sedikit berlangsung lama
- Kadang dalam jumlah yang besar disertai gumpalan.

Akibat perdarahan tidak menimbulkan ganguan apapun tapi menimbulkan

tanda – tanda gejala yaitu :

- Perdarahan sedikit atau banyak.


- Nyeri perut bagian bawah.
- Perdarahan emanjang sampai terjadi anemia.

Pada pemeriksaan dijumpai gambaran:

- Kanalis servikalis belum terbuka.


- Pada palpasi nyeri perut bagian bawah.
- Uterus teraba lunak.
F. Penanganan
1. Lakukan penilaian secara tepat mengenai keadaan umum pasien dan TTV.
2. Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur pentung dalam pengobatan
karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan
berkurangnya rangsangan mekanik.
3. Jangan melakukan aktivitas fisik yang berlebih atau berhubungan seksual.
4. Jika perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal seperti biasa.
5. Jika perdarahan berlangsung, nilai kondisi janin (uji kehamilan. USG),
lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain.
G. Pencegahan
1. Rutin memeriksakan diri ke dokter, berkonsultasi dan menjalani tes USG.
Cara ini setidaknya dapat membuat ibu, mengetahui gejala kelainan dalam
kandungan sedini mungkin sehingga jika terjadi kelainan bisa cepat dilakukan
tindakan penyelamatan untuk menghindari resiko yang lebih tinggi.
2. Mempersiapkan kehamilan sebaim – baiknya semisal dengan mencukupi
kebutuhan nutrisi, mempertebal daya tahan tubuh dan jika diperlukan
melakukan terapi untuk mengobati penyakit akut.
3. Mengurangi aktivitas fisik sejak masa pra – kehamilan hingga kehamilan.
4. Seleksi dalam mengonsumsi obat dan berkonsultasi terlebih dahulu apakah
obat aman dikonsumsi atau tidak.
5. Istirahat yang cukup dan menenangkan pikiran. Jika pikiran rileks dan santai
maka ibu hamil tidak akan terkena tekanan psikologis berupa trauma,
keterkejutan, ketakutan yang dapat menyebabkan abortus iminens.
6. Mengatur jarak kehamilan.
7. Mengonsumsi vitamin dan nutrisi lain yang diperlukan tubuh.
8. Mencalani ANC atau Antenatal Care sedini mungkin untuk mengidentifikasi
dan mencegah terjadinya kondisi yang mengancam keselamatan bayi dan
ibu.
BAB III

PEMECAHAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. PEMECAHAN KASUS
 KASUS

Seorang perempuan usia 22 tahun hamil kedua pernah keguguran satu tahun
yang lalu, datang ketempat bidan pada tanggal 29 desember 2017 dengan keluhan
mengeluarkan bercak darah dari jalan lahir saat bangun tidur, sampai datang ke
tempat bidan sudah ganti celana satu kali. Perempuan tersebut merasakan perutnya
kencang, namun tidak sakit . HPMT 9 oktober 2017. PP Test (+) pada tanggal 25
november 2017. Hasil pemeriksaan BB 55 kg,TD 120/75 Mmhg, Nampak
hiperpigmentasi pada areola dan puting, payudara teraaba penuh palpasi TFU teraba
kira-kira 2 jari diatas simpisis pubis. Inspekulo Nampak bercak darah dari cavum uteri
tidak ada pengeluaran jaringan dan OUE menutup.

 IDENTIFIKASI ISTILAH SULIT ATAU ASING

1. Abortus-istilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir sebelum


periode viabilitas janin, yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila
berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 220
minggu, dihitung HPHT normal yang dipakai.
2. HPMT-singkatan dari Hari Pertama Menstruasi Terakhir
3. Hiperpigmentasi - kondisi kulit dimana area tertentu menjadi lebih gelap akibat
produksi melanin berlebih.
4. Areola – daerah gelap disekitar putting payudara.
5. Palpasi – metode pemeriksaan dimana penguji merasakan ukuran, kekuatan
atau letak sesuatu (dari bagian tubuh dimana penguji ialah praktisi kesehatan)
6. Inspekulo – melihat saluran kelamin luar dengan menggunakan alat speculum.

 IDENTIFIKASIDATA SUBJEKTIF DAN DATA OBJEKTIF


a. Data Subjektif
Gejala saat ini :
Pendarahan per vagina adalah gejala paling khas dan dapat bervariasi dari
secret vagina berdarah sampai sedikit bercak atau minimum. Biasanya
pendarahan kurang dari haid normal. Tidak ada jaringan plasenta yang
dikeluarkan.
Nyeri abdomen-suprapubik, itermiten dan bersifat kram dapat tidak ada,
minimun atau ringan. Beberapa pasien mungkin mengeluh nyeri punggung
bawah.
Riwayat haid biasanya pasien sadar satu atau lebih siklus haid terlewatkan
Gejala kehamilan selama kehamilan variable, biasanya tidak ada
perubahan gejala kehamilan subjektif: nyeri tekanan payudara, mual pagi hari
dan seterusnya.

b. Data Objektif
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum :
1. Berat Badan 55 kg
2. Tekanan darah 120/75 mmhg
Normal

Pemeriksaan Abdomen : perut kencaang, tidak sakit atau tidak nyeri tekaan

Pemeriksaan pelvis : pada pemeriksaan speculum, biasanya hanya ada


sedikit darah atau sekret kecoklatan di dalam vagina. Ostium uteri tertutup.
Pada pemeriksaan bimanual, uterus membesar, lunak dan tidak nyeri tekan.
Besar uterus sesuai dengan riwayat haid. Serviks tertutup, tidak mendatar dan
mempunyai konsistensi hamil normal.

Tes laboratorium

Hitung sel darah lengkap dengan apusan: nilai normal dapat diperkirakan.

Urinalisis : pada kasus abortus iminens, urinalisis normal. Jika eritrosit dan
leukosit ditemukan maka kemungkinan masalah traktus urinarius harus
dicurigai karena sistitis atau obstruksi ureter menimbulkan gejala yang serupa
dengan abortus iminens.

 DIOGNOSA KLINIS
 Perdarahan kehamilan muda: abortus
 Perdarahan kehamilan muda: KET
 Perdarahan kehamilan muda: Mola Hidatidosa
 Perdarahan antepartum: plasenta previa
 Perdarahan antepartum: solution placenta.
 DIAGNOSA KEBIDANAN
HPMT : 9 Oktober 2017
Kunjungan : 29 Desember 2017
Usia kehamilan: 6 minggu 3 hari
G2P0A1
PP Test (+) : 25 November 2017
BB: 55 kg
TD : 120/75 mmHg
Hiperpigmentasi
Palpasi TFU teraba kira – kira dua jari diatas simphisis pubis.
Inspekulo: bercak pendarahan dari cavum uteri.

 PENATALAKSANAAN
Tirah baring dan pembatasan aktivitas dirumah biasanya dianjurkan. Rawat inap
jarang diperlukan. Pasien dinasehatkan untuk tidak bersanggama untuk
meminimumkan kemungkinan rangsangan prostaglandin. Jika ada alat kontrasepsi
dalam Rahim, makai a harus dingakat. Tetapi hormone dengan estrogen atau
progesteron tidak dianjurkan. Sirklase serviks dapat diindikasikan selam trimester
kedua untuk pasien inkompeten serviks.
 PENYEBAB DAN KOMPLIKASI ANTISIPASI
Komplikasi abortus iminens sebagai berikut:
1. Perdarahan.
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa – sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi pada uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperetrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamat -amati
dengan teliti. Jika ada tanda bahaya perlu segera dilakukan laparatomi dan
tergantung dari luas dab bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu
histerektomi.
3. Infeksi
Infeksi dalam uterus sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus dan lebih
sering dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis.
4. Syok
Syok pada abortus biasanya terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat (syok endoseptik).
Penyebab abortus iminens:

1. Factor generic berupa kelainan struktur kromoson.


2. Faktor endometrium
3. G i z i i b u b e r k u r a n g
4. Faktor lingkungan, akibat dari paparan obat bahan kimia atau radiasi.
5. Kelainan genetalia
- Kelainan letak dari uterus seperti retroflesi uterus
- Conginetal anomaly (hypoplasia uteri, uterus bikornis)
6. Trauma fisik berupa kecelakaan lalu lintas, jatuh, hubungan seksual
B. PEMBAHASAN

Pembahasan merupakan bagian studi kasus yang membahas kesenjangan


yang ditemukan antara pemecahan masalah. Untuk memudahkan dalam penyusunan bab
pembahasan maka penyusun menggunakan metode 7 langkah Varney pada menajemen
kebidanan. Dan jika dilihat dari topik permasalahannya sudah terlihat jelas bahwa terdapat
beberapa ciri atau gelaja yang mengacu kepada jawaban yang sebenarnya.

7 LANGKAH VARNEY

a) Langkah 1 : Pengkajian
Pengkajian data tentang status kesehatan klien dilakukan secara sistematis
dan berkenimanbungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis berupa data
subjektif ( mengumpulkan data klien melalui anamnesa tanda dan gejala subjektif
yang diperoleh dari hasil bertanya dari pasien) dan data objektif ( menggambarkan
hasil analisis dan fisik klien, hasil lab, test diagnostic lain yang dirumuskan dalam
data focus untuk endukung assessment).
a. Data subjektif
Identitas: perempuan usia 22 tahun yang pernah mengalami keguguran.
Mengalami keluhan mengeluarkan bercak darah dari jalan lahir saat bangun
tidur , perutnya kencang, hiperpigmentasi pada areola dan puting, payudara
teraba penuh.

b. Data objektif
HPMT tanggal 9 Oktober 2017
PP Test (+) tanggal 25 November 2017
BB 55 kg
TD 120/75 mmHg
Palpasi TFU teraba dua jari diatas simphisis pubis
Inspekulo: Nampak bercak perdarahan dari cavum uteri, tidak ada
pengeluaran jaringan, OUE menutup.

b) Langkah 2 : Interpretasi data


Interpretasi data dilakukan dengan menggunakan diagnose kebidanan yang
dirumuskan berdasarkan analisis data yang telah dikumpulkan.
Seorang perempuan G2P0A1 berusia 22 tahun hamil kedua pernah
keguguran. HPMT : 9 Oktober 2017 dan berkunjungan : 29 Desember 2017 maka
usia kehamilannya 6 minggu 3 hari dengan abortus iminens.
DS:
a) Pernyataan dari ibu ini kehamilan yang keberapa.
b) Pernyataan dari ibu mengenai umur ibu.
c) Pernyataan dari ibu apakah ibu pernah keguguran atau tidak.
d) Pernyataan dari ibu mengenai HPMT.
e) Pernyataan dari ibu mengenai ada tidaknya nyeri pada perut bagian
bawah atau keluhan yang lainya.

DO:

a) PP Test (+)
b) Palpasi TFU
c) Tekanan darah
d) Berat badan sekarang
e) Inspekulo
f) Hasil pemeriksaan mengkaji bahwa: mengalami hiperpigmentasi,
Nampak bercak perdarahan dari cavum uteri, tidak ada pengeluaran
jaringan, OUE menutup.

c) Langkah 3 : Diagnosa Potensial


Mengantisipasi masalah atau diagnosis yang terjadi lainya yang dapat
menjadi tujuan yang diharapkan karena telah ada masalah atau diagnosis yang
teridentifikasi.
Berdasarkan masalah yang telah teridentifikasi maka diagnose potensialnya
yaitu dapat terjadi perdarahan usia muda berupa abortus. Yang mana jenis abortus
tersebut yaitu abortus iminens.
d) Langkah 4: Identifikasi akan tindakan segera atau kolaborasi dan konsultasi.
Indetifikasi segera atau antisipasi segera biasanya dilakukan dengan
berkolaborasi (bidan dan dokter Bersama -sama mengatur perawatan kesehatan
yang mengalami komplikasi medis) atau berkonsultasi ( dengan nasehat atau
pendapat seorang dokter atau tenaga kesehatan lain yang lebih berkompeten).
Tindakan segera dalam kasus abortus iminens yaitu bed rest total dan segera
berkolaborasi dengan dokter Obsgyn.

e) Langkah 5 : Perencanaan
Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnose kebidanan.
Perencanaan yang harus dipikirkan pada kasus abortus iminens adalah:
1) Memberi ibu dukungan psikologis dan melibatkan keluarga dalam
memberikan dukungan pskologis.
2) Observasi keadaan umum dan tanda vital ibu.
3) Mengkaji perdarahan pasien tiap jam.
4) Menganjurkan untuk bed rest total.
5) Berkolaborasi dengan dokter obsgyn untuk memberikan terapi obat untuk
mengurangi keluhan pasien.
6) Menganjurkan ibu untuk mengurangi aktivitas yang berat dan tidak
melakukan coiyus selama satu bulan setelah perdarahan berhenti.
7) Menganjurkan ibu untuk control ulang apabila perdarahan tidak berhenti
selama 2 hari atau bertambah banyak.

f) Langkah 6 : Pelaksanaan
Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana dan perkembangan
keadaan klien.
Pelaksanaan pada kasus abortus iminens adalah :
1) Memberi ibu dukungan psikologis.
Dengan menjelaskan bahwa ibu bisa melewati masalah ini dengan baik,
memberikan support kepada ibu dan mendampingi ibu selama ibu dalam
pemantauan serta menghadiri keluarga yang paling dekat dengan ibu.
2) Mengobservasi keadaan umum dan tanda vital ibu setiap 1 jam.
Mengkaji perdarahan pasien tiap jam, mencatat warna perdarahan, jumlah
pembalut yang digunakan selama ibu berada di tempat pelayanan, mencatat
jumlah darah yang keluar apakah banyak atau sedikit atau hanya bercak
darah saja.
3) Menganjurkan ibu bed rest total atau istirahat rebah baik ditempat pelayanan
maupun dirumah selama 48 jam, apabila kehamilan masih dapat
dipertahankan perdarahan dalam waktu 48 jam akan berhenti.
4) Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk memberikan terapi obat untuk
mengurangi keluhan pasien yaitu:
i. Penenang penobarbital: 3 x 30 mg
ii. Anti perdarahan: adona, transamin vitamin B komplek.
iii. Hormonal: progesterone 10 mg sehari untuk terapi subsitusi dan untuk
mengurangi kerentangan otot – otot Rahim (misalnya gestanon,
dhupaston).
iv. Anti kontraksi Rahim: duvadilan, papaverine.
5) Menganjurkan ibu untuk mengurangi aktivitas yang dapat memeperberat
keadaan seperti : angkat junjung berat, bekerja terlalu keras, dan hindari
stress serta tidak melakukan coitus selama satu bulan setelah perdarahan
berhenti.
6) Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang apabila perdarahan tidak berhenti
dalam dua hari atau bertambah banyak.

g) Langkah 7: Evaluasi
Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan terus menerus seiring dengan
tindakan kebidanan yang dilaksanakan dan evaluasi dari rencana yang telah
dirumuskan.
Dengan melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau
diagnose berdasarkan interpretasi yang benar atas data data yang telah
dikumpulkan. Diagnosa masalah dan kebutuhan ibu dengan abotus iminens
tergantung dengan pengkajian terhadap pasien tersebut.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Abortus iminens adalah keguguran membakat dan akan terjadi dalam hal ini
keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat6obat hormonal dan
anti spajmodika serta istirahat.
Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya:
- Sedikit berlangsung lama
- Kadang dalam jumlah yang besar disertai gumpalan.

Akibat perdarahan tidak menimbulkan ganguan apapun tapi menimbulkan


tanda-tanda gejala yaitu :

- Perdarahan sedikit atau banyak.


- Nyeri perut bagian bawah.
- Perdarahan emanjang sampai terjadi anemia.

Pada pemeriksaan dijumpai gambaran:

- Kanalis servikalis belum terbuka.


- Pada palpasi nyeri perut bagian bawah.
- Uterus teraba lunak.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN