Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR”

DOSEN PEMBIMBING :

1. HJ. ERNAWATI, S.Kp, M.Kep


2. ABBASIAH, SKM, M.Kep

PEMBIMBING KLINIK :

Ns. ENDAH PRAMUKTI, S.Kep

SISUSUN OLEH :

BUDHI PRYONO

NIM. PO.71.20.2.19.0024

RUANG KEBIDANAN

RSUD RADEN MATTAHER KOTA JAMBI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI

TAHUN AKADEMIK 2019 / 2020


A. Pengertian
a. BBL Normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu – 42
minggu dengan berat badan 2500-4000 gram. (Asuhan Kesehatan
Anak Dalam Konteks Keluarga, 1993)
b. BBL Normal adalah bayi yang dikeluarkan dari hasil konsepsi melalui
jalan lahir dan dapat hidup diluar dengan berat 2,5 – 4 kg, dengan usia
Kehamilan 36 – 42 minggu, menangis spontan dan bernafas spontan,
teratur dan tonus otot baik. (Asuhan Persalinan Normal, 2003)
c. BBL Normal adalah Adaptasi fisiologi adalah sangat berguna bagi bayi
untuk menjaga kelangsungan hidupnya diluar uterus, artinya nantinya
bayi harus dapat melakukan sendiri segala kegiatan untuk
mempertahankan hidupnya. (Perawatan Ibu bersalin, Fitramaya 2000)
d. BBL Normal adalah Bayi yang lahir dari kehamilan 2500 – 4000 gram.
(Depkes, RI 1998, hal. 93)

B. Karakteristik Bayi Baru Lahir Normal


Adapun karakteristik pada bayi baru lahir normal adalah :
1. Berat badan 2500 – 4000 gr
2. Panjang badan lahir 48 – 52 cm
3. LIDA 30 – 38 cm
4. LIKA 33 – 35 cm
5. Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 160x/menit, kemudian
menurun -120x/menit.
6. Pernafasan pada menit pertama cepat kira-kira 80x.menit, kemudian
menurun kira-kira 40x/menit.
7. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentuk dan diliputi vernix caseosa.
8. Rambut lainnya telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna.
9. Genetalia : ♀ : Labia mayora sudah menutupi labia minora.
♂ : Testis sudah turun
10. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
11. Reflek morro sudah baik, bayi bila dikagetkan akan memperlihatkan
gerakan seperti memeluk.
12. Graff reflek sudah baik, apabila diletakkan sesuatu benda diatas
telapak tangan bayi akan menggenggam.
13. Eliminasi baik, urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam
pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan.

C. Perubahan Yang Terjadi Pada Bayi Baru Lahir


1. Perubahan Metabolisme Karbohidrat
Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula
darah, untuk menambah energi pada jam-jam pertama setelah lahir
diambil dari metabolisme asam lemak.
2. Perubahan Suhu Tubuh
Ketika bayi baru lahir, bayi berada dalam suhu lingkungan yang lebih
rendah dari suhu didalam rahim ibu, akibatnya metabolisme jaringan
meningkat dan kebutuhan O2 juga.
3. Perubahan Pernafasan
Selama dalam uterus janin mendapat O 2 dari plasenta, setelah lahir
melalui paru-paru bayi.
4. Perubahan Sirkulasi
Dengan berkembangnya paru ® tekanan O2 meningkat ® CO2
menurun mengakibatkan resistensi pembu;uh darah sehingga aliran
darah meningkat, hal ini menyebabkan darah dalam uterus pulmonalis
mengalir ke paru ® puctus arterosus menutup.
Dengan munculnya arteri dan vena umbilikasi dan terpotongnya tapi
pisat, aliran darah dalam plesenta melalui vena kawa inferior dan
foramen ovale ke atrium kiri terhenti, sirkulasi janin sekarang berubah
menjadi sirkulasi bayi yang hidup diluar badan ibu.
5. Perubahan alat pencernaan, hati ginjal mulai berfungsi.

D. Pengkajian Keperawatan
Fokus utama pengkajian pada bayi baru lahir adalah transisi dari
kehidupan intrauterus ke ekstra uterus dengan mengenalkan kepada
anggota keluarga sesuai kondisi neonatus.
1. Sirkulasi
Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 kali/menit. Tekanan
darah 60 mmHg sampai 80 mmHg untuk systole dan 40 mmHg sampai
45 mmHg untuk diatole. Bunyi jantung seperti murmur biasa terjadi
selama beberapa jam pertama kehidupan. Nadi perifer mungkin lemah,
nadi brakhialis dan radialis lebih mudah dipalpasi daripada nadi
femoralis.
2. Eliminasi
Pada bayi baru lahir tidak ada perbedaan. Bayi yang lahir cukup bulan
tanpa ada kelainan dapat segera berkemih secara spontan. Abdomen
lunak tanpa distensi, bising usus akan aktif dalam beberapa jam
setelah kelahiran. Pengeluaran feses mekonium dalam 24 jam sampai
48 jam setelah kelahiran.
3. Makanan/Cairan
Berat badan pada bayi baru lahir mencapai 2500 gram sampai 4000
gram dengan panjang badan 44cm sampai 55cm.
4. Neurosensori
Tonus otot fleksi hipertonik dari semua ekstremitas. Sadar dan aktif
mendemonstrasikan reflex menghisap selama 30 menit pertama
setelah kelahiran. Kaput suksedaneum dan/molding mungkin ada
selama 3 sampai 4 hari. Sutura cranial yang bertumpang tindih
mungkin terlihat, sedikit obliterasi fontanel anterior. Mata dan kelopak
mata mungkin udema, hemorargi subkonjungtiva atau hemorargi retina
mungkin terlihat, konjungtivitis selama 1 sampai 2 hari ungkin terjadi
setelah penetesan obat mata oftalmik terapeutik. Adanya reflex moro,
plantar, genggaman palmar, dan babinski’s.
5. Pernapasan
Apgar skor optimal, harus mencapai 7 sampai 10. Rentang dari 30
samapai 60/menit dengan pola periodic yang dapat terlihat. Bunyi
nafas bilateral, kadang-kadang krekels. Takipnea mungkin terlihat,
diagfragmaik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dam
abdomen. Pernapasan dangkal dan cuping hidung kadang terlihat.
Krekels pernapasan dapat menetap selama beberapa jam pertama
setelah kelahiran.
6. Keamanan
Suhu terntang dari 36,5⁰C sampai 37,5⁰C. kulit berwarna merah muda
dan ada pengelupasan pada tangan dan kaki. Akrosianosis mungkin
ada selama beberapa hari periode transisi. Sefalohematoma dapat
tampak sehari setelah kelahiran, peningkatan ukuran pada usia 2
sampai 3 hari kemudian direabsorpsi perlahan selama 1 sampai 6
bulan.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. pH tali pusat, tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status
praasidosis, tingkat rendah menunjukkan gangguan asfiksia
bermakna.
b. Hemoglobin mencapai 15 sampai 20 g. hematokrit berkisar antara
43% sampai 61%.
c. Tes Coombs langsung pada daerah tali pusat menentukan adanya
kompleks antigen-antibodi pada membran sel darah merah yang
menunjukkan kondisi hemolitik.
d. Bilirubin Total sebanyak 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8
mg/dl 1 sampai 2 hari dan 12 mg/dl pada 3 sampai 5 hari.

E. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada bayi baru lahir adalah :
1) Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
stressor prenatal atau intrapartum, produksi mucus yang berlebihan.
2) Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan
jumlah lemak subkutan yang terbatas, sumber yang tidak dapa
diperbaharui dari lemak cokelat, dan lapisan epidermis yang tipis.
3) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan transisi
perkembangan atau penambahan anggota keluarga baru.
4) Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan laju metabolic, kebutuhan kalori tinggi, simpanan nutrisi
minimal.
5) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan anomaly congenital yang
tidak terdeteksi dan pemajanan tehadap agen-agen infeksius.
F. Perencanaan Keperawatan
a. Diagnosa 1 : Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan stressor prenatal atau intrapartum, produksi
mucus yang berlebihan.
Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
resiko tinggi terhadap pertukaran gas teratasi dengan criteria hasil :
1.      Mempertahankan jalan nafas yang paten
2.      Frekuensi dan pernafasan dalam batas normal
3.      Tidak ada sianosis
4.      Bebas dari tanda distress pernapasan
Rencana Tindakan :
1) Ukur agar skor pada menit pertama dan menit kelima.
2) Perhatikan komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta
dan janin.
3) Tinjau ulang status janin intrapartum, termasuk denyut jantung
janin.
4) Kaji frekuensi dan upaya pernafasan awal.
5) Perhatikan adanya pernafasan cuping hidung, pernafasan
mendengkur, krekels, dan ronkhi.
6) Tempatkan bayi pada posisi trendelenburg yang dimodifikasi pada
sudut 10⁰.
7) Perhatikan nadi apical.
8) Berikan rangsangan taktil dan sensori yang tepat.
9) Observasi adanya sianosis.
b. Diagnosa 2 : Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh
berhubungan dengan jumlah lemak subkutan yang terbatas, sumber
yang tidak dapa diperbaharui dari lemak cokelat, dan lapisan epidermis
yang tipis.
Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh teratasi dengan criteria
hasil:
1.      Tanda-tanda vital dalam batas normal.
2.      Tidak ada tanda-tanda hipotermia.
Rencana Tindakan :
1.      Tempatkan bayi baru lahir pada lingkungan yang hangat.
2.      Pertahankan suhu lingkungan dalam zona termoneural.
3.      Jangan mandikan bayi jika suhu tubuh belum stabil.
4.      Perhatikan tanda-tanda sekunder distress dingin.
c. Diagnosa 3 : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan transisi
perkembangan atau penambahan anggota keluarga baru.
Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
perubahan proses keluarga teratasi dengan criteria hasil :
1.      Orang tua memulai proses kedekatan dengan cara bermakna.
2.      Dapat dengan tepat mengidentifikasi bayi.
Rencana Tindakan :
1.      Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan neonatus.
2.      Anjurkan orang tua untuk mengelus atau berbicara kepada bayi.
3.      Diskusikan kemampuan bayi untuk berinteraksi.
4.      Gunakan system identifikasi yang dapat diterima oleh hukum.
d. Diagnosa 4 : Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan peningkatan laju metabolic, kebutuhan metabolic
tinggi, simpanan nutrisi yang minimal.
Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
resiko perubahan nutrisi teratasi dengan criteria hasil :
1.      Bebas dari tanda-tanda hipoglikemia.
2.      Glukosa darah dalam batas normal.
Rencana Tindakan :
1.      Perhatikan nilai apgar skor.
2.      Turunkan stressor fisik.
3.      Timbang berat badan bayi.
4.      Observasi bayi adanya tanda hipoglikemia.
5.      Auskultasi bising usus.
6.      Anjurkan keluarga memberikan makanan pada bayi sesuai
jadwal.
e. Diagnosa 5 : Resiko tinggi cedera/infeksi berhubungan dengan
anomaly congenital yang tidak terdeteksi dan pemajanan tehadap
agen-agen infeksius.
Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
resiko terjadinya cedera/infeksi teratasi dengan criteria hasil :
1.      Bebas dari tanda-tanda infeksi.
2.      Pemulihan tepat waktu pada punting tali pusat.
Rencana Tindakan :
1) Tinjau ulang factor ibu yang cenderung membuat bayi terkena
infeksi.
2) Inspeksi kulit terhadap adanya ruam.kaji adanya tanda-tanda
infeksi terutama pada tali pusat.perhatikan adanya letargi.
3) Berikan ASI sedini mungkin.
4) Pantau pemerikaan laboratorium darah.

G. Penatalaksanaan Keperawatan
Segera setelah melahirkan bayi
1) sambil secara ceepat menilai pernafasannya, letakkan bayi edngan
handuk diatas perut ibu.
2) Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah dan lahir dari
wajah bayi.
Untuk mencegah jalan udaranya terhalang.
3) Klem dipotong tali pusat.
a) Mengklem tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2
dan 3 cm dari pengkal pusat bayi.
b) Mempertahankan tali pusat diantara kedua kklem sambil
melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri anda.
c) Mempertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat.
Mengganti sarung tangan bila ternyata sudah kotor. Memotong
tali pusat dengan pisau atau gunting yang steril atau disinfeksi
tingkat tinggi.
d) Memeriksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih ada
perdarahan, lakukan pengikatan ulang yang lebih hanyat.
4) Jagalah agar bayi tetap hangat
a) Memastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara
kulit bayi dan kulit ibu.
b) Mengganti handuk atau kain yang basah, dan bungkus bayi
terebut dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa
kepala yang telah terlindung dengan baik untuk mencegah
keluarnya panas tubuh.
5) Kontak dini dengan ibu.
a) Memberikan bayi kepada ibunya secepat mungkin untuk
kehangatan.
b) Untuk ikatan batin dan pemberian ASI.
6) Pernafasan
Periksa pernafasan dan warna kulit bayi setiap 5 menit.
7) Perawatan mata
Obat mata eritromisin 0,5%/ tetrasikklin 1% dianjurkan untuk
pencegahan penyakit mata karena klamidia.

8) Pemeriksaan fisik bayi


a) Gunakan tempat yang aman (hangat dan bersih) untuk
pemeriksaan.
b) Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, menggunakan
sarung tangan dan bertindak lembut pada saat menangani bayi.
c) Lihat, dengarkan dan raasakan tiap-tiap daerah, dimulai dari
kepala dan berlanjut secara sistematis menuju jari kaki.
d) Menulis hasil pengamatan.
 Pemeriksaan fisik bayi
 Kepala :Simetris/ tidak, terdapat caput succedanum/ tidak,
terdapat cephal hematoma.
 Telinga :Periksa hubungan letak dengan mata dan kepala.
 Mata :Tanda-tanda infeksi yakni Pus.
 Hidung dan Mulut : Bibir dan langitan, periksa adanya
sumbing, reflek hisap, dinilai dengan mengamati bayi pada
saat menyusu.
 Leher : Ada pembengkakan/ tidak
 Dada : Simetris/ tidak, bunyi nafas, bunyi jantung,
putingnya menonjol/ tidak/
 Bahu, lengan dan tangan gerakan normal atau tidak, jumlah
jari.
 Perut : Bentuk penonjolan sekitar tali pusat pada
saat menangis, perdarahan tali pusat.
 Jenis kelamin
 ♂ : Testis berada dalam skrotum, penis berulang dan pada
ujung letak lubang ini.
 ♀ : Vagina berlubang, uretra berlubang, labia minor dan
mayor.
 Tungkai dan kaki : Gerakan normal, tampak normal, jumlah
jari.
 Punggung dan anus : Pembengkakan/ ada cekungan, spina
bifida/ tidak, ada anus/ tidak, berlubang/ tidak.
 Kulit :Verniks, warna, pembengkakan, tanda-tanda lahir.
 Sistem syaraf : Adanya reflek morro, lakukan rangsangan
dengan suara keras yaitu pemeriksa bertepuk tangan.
9) Identifikasi bayi
Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu dipasang
segera pasca persalinan.
a) Alat yang digunakan, hendaknya kedap air, dengan tepi yang
harus tidak mudah melukai, tidak mudah sobek, dan tidak
mudah lepas.
b) Pada alat/ gelang identifiksi harus tercantum: Nama (bayi,
ibunya), tanggal lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit.
c) Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan
nama, tanggal lahir, nomor identifikasi.
10) Ukurlah BB, PB, LIKA, LIDA, LILA, lingkar perut bayi dan catat
rekam medis.
H. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi respon klien terhadap asuhan yang diberikan dan pencapaian
hasil yang diharapkan adalah tahap akhir dari proses keperawatan. Fase
evaluasi perlu untuk menentukan seberapa baik rencana asuhan
keperawatan tersebut berjalan, dan bagaimana secara proses yang terus
menerus. Revisi rencana keperawatan adalah komponen penting dari fase
evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA

 Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : 2004. JNPK-KR

 Sarwono, Prawiroharjo. 2000. Ilmu Kebidanan. Jakarta : 2002

 Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : 2004. YBP-


SP

 http://cerahmasadepanku.blogspot.com/2013/04/laporan-
pendahuluan-bbln.html (diakses pada tanggal 8 oktober 2014 pukul
9.36)

Anda mungkin juga menyukai