Anda di halaman 1dari 16

ETIKA PROFESI AKUNTAN

KASUS ETIKA DALAM PRAKTIK INVESTASI


DAN PASAR MODAL

aa

DISUSUN OLEH:
1. Muh. Taufik Hidayat A031181005
2. Andriyani Arifuddin A031181007
3. Prisilia Angelina Tanwil A031181027
4. Yudhistira Dwi Ardika A031181338
5. Alfi Adelikend Palilu A031181508

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2020

BAB I
PENDAHULUAN

Pasar modal adalah tempat, tidak terbatas hanya secara fisik, di mana orang membeli
dan menjual surat berharga atau instrument keuangan, seperti saham, surat utang, dan produk
keuangan lainnya. Surat-surat berharga yang dikeluarkan penjual tersebut memberikan hak
tak berwujud (intangible rights) kepada pembelinya untuk memperoleh deviden, bunga,
penempatan manajemen, dan hak-hak lainnya.
Pembeli dalam menentukan keputusan investasinya umumnya mengandalkan
informasi tentang perusahaan yang diberikan oleh pengurus perusahaan yaitu direktur dan
komisaris. Untuk memastikan akurasinya, maka informasi tersebut juga diverifikasi oleh
akuntan, analis, konsultan hukum, otoritas bursa, dan Badan Pengawas Pasar Modal. Dengan
ketatnya pengawasan atas informasi seperti ini, apakah menjamin bahwa pasar modal telah
bebas dari pelanggaran, baik pelanggaran regulasi maupun pelanggaran etika?
Bernard Black, Profesor Hukum di Northwestern University Amerika Serikat, pernah
menulis bahwa eksistensi pasar modal dengan satu dan lain hal merupakan sebuah keajaiban
karena investor bersedia menyerahkan bagian (besar) uangnya untuk membeli hak tak
berwujud, dengan nilai atas hak itu sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang diberikan
oleh penjual hak tersebut. Dengan kata lain, nilai atas hak tersebut ditentukan oleh kejujuran
penjual tentang hal itu.
Kita perlu memberikan penekanan pada sebuah kata kunci yang melandasi kegiatan di
pasar modal, yaitu kejujuran. Saat ini telah terjadi reduksi mengenai makna kejujuran di pasar
modal. Kejujuran dianggap sama dan sebangun dengan keterbukaan (disclosure). Padahal,
keduanya merupakan sebuah sikap yang berada pada kuadran berbeda. Keterbukaan hanya
menyangkut prosedur, sesuatu yang sifatnya legalitas formal, sementara kejujuran mencakup
sebuah sikap mental dan nilai-nilai etika.
Masalah etika ini perlu kita angkat sebagai pusat perhatian karena sebuah pasar,
seperti pasar modal Indonesia, tidak hanya perlu menyandarkan diri kepada aspek legal
semata, tapi juga pada etika. Sebuah bursa yang kehilangan etika akan kehilangan
kredibilitasnya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pasar Modal
Pada dasarnya, pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan
jangka panjang yang biasa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang ataupun modal
sendiri. Baik pasar modal maupun pasar uang adalah merupakan bagian dari pasar
keuangan (financial market). Pasar modal dapat juga didefinisikan sebagai tempat, tidak
terbatas hanya secara fisik, di mana orang membeli dan menjual surat berharga atau
instrument keuangan, seperti saham, surat utang, dan produk keuangan lainnya. Surat-
surat berharga yang dikeluarkan penjual tersebut memberikan hak tak berwujud
(intangible rights) kepada pembelinya untuk memperoleh deviden, bunga, penempatan
manajemen, dan hak-hak lainnya.
Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 memberikan pengertian pasar modal
yang lebih spesifik, yaitu kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan
perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya,
serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal memiliki peran besar
bagi perekonomian dari suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi
sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.
Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas
atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak yang memiliki
kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya
pasar modal maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana
tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return), sedangkan pihak issuer (dalam
hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa
harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan
memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan
kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik
investasi yang dipilih.

Manfaat Keberadaan Pasar Modal


1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus
memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal;
2. Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan upaya
diversifikasi;
3. Menyediakan leading indicator bagi tren ekonomi negara;
4. Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah;
5. Penyebaran kepemilikan, keterbukaan, dan profesionalisme, menciptakan iklim
berusaha yang sehat;
6. Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik;
7. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai prospek;
8. Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan resiko yang bisa
diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan diversifikasi;
9. Investasi;
10. Membina iklim keterbukaan bagi dunia usaha, memberikan akses kontrol sosial;
11. Pengelolaan perusahaan dengan iklim keterbukaan, mendorong pemanfaatan
manajemen profesional;
12. Sumber pembiayaan dana jangka panjang bagi emiten.

Di dalam pasar modal, pembeli umumnya menentukan keputusan investasinya dengan


mengandalkan informasi tentang perusahaan yang diberikan oleh pengurus perusahaan
yaitu direktur dan komisaris. Untuk memastikan akurasinya, maka informasi tersebut juga
diverifikasi oleh akuntan, analis, konsultan hukum, otoritas bursa, dan Bapepam-Lk.
Bernard Black, Profesor Hukum di Northwestern University Amerika Serikat, pernah
menulis bahwa eksistensi pasar modal dengan satu dan lain hal merupakan sebuah
keajaiban karena investor bersedia menyerahkan bagian (besar) uangnya untuk membeli
hak tak berwujud, dengan nilai atas hak itu sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang
diberikan oleh penjual hak tersebut. Dengan kata lain, nilai atas hak tersebut ditentukan
oleh kejujuran penjual tentang hal itu.

Teori Utilitarianisme dalam pasar modal


Utilitarianisme berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut
teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus
menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
Teori utilitarianisme berlaku apabila memberikan manfaat bagi masyarakat secara
keseluruhan tanpa merugikan pihak lain akibat perbuatan perorangan/kelompok. Unsur
keterbukaan di pasar modal adalah salah satu contoh utiliatianisme. Dengan keterbukaan
informasi, masyarakat pasar modal memperoleh manfaat secara keseluruhan yaitu
terciptanya pasar modal yang efisien.

B. Prinsip Keterbukaan dan Etika dalam Pasar Modal


Prinsip keterbukaan dalam pasar modal dibutuhkan karena diharapkan dapat
menimalisasikan pelanggaran etika. Seperti diketahui bersama, terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi pelanggaran etika, antara lain:
1. Kebutuhan Individu/golongan
2. Tidak Ada Pedoman
3. Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
4. Lingkungan Yang Tidak Etis
5. Perilaku Dari Komunitas

Prinsip keterbukaan menjadi persoalan inti dalam pasar modal dan sekaligus
merupakan jiwa pasar modal itu sendiri. Keterbukaan tentang fakta material sebagai jiwa
pasar modal didasarkan pada keberadaan prinsip keterbukaan yang memungkinkan
tersedianya bahan pertimbangan bagi investor, sehingga ia secara rasional dapat
mengambil keputusan untuk melakukan pembelian atau penjualan saham.
Setidak-tidaknya ada tiga fungsi prinsip keterbukaan dalam pasar modal menurut
Bismar Nasution yang dituangkan dalam bukunya Keterbukaan Dalam Pasar Modal:
1. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk memelihara kepercayaan publik terhadap pasar.
Tidak adanya keterbukaan dalam pasar modal membuat investor tidak percaya
terhadap mekanisme pasar. Sebab prinsip keterbukaan memiliki peranan penting bagi
investor sebelum mengambil keputusan untuk melakukan investasi karena melalui
keterbukaan bisa terbentuk suatu penilaian (judgment) terhadap investasi, sehingga
investor secara optimal dapat menentukan pilihan terhadap portofolio mereka. Makin
jelas informasi perusahaan maka keinginan investor untuk melakukan investasi makin
tinggi. Sebaliknya ketiadaan atau kekurangan serta ketertutupan informasi dapat
menimbulkan ketidakpastian bagi investor, dan konsekuensinya menimbulkan
ketidakpercayaan investor dalam melakukan investasi melalui pasar modal.
2. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien.
Filosofi ini didasarkan pada kontruksi pemberian informasi secara penuh sehingga
menciptakan pasar modal yang efisien, yaitu harga saham sepenuhnya merupakan
refleksi dari seluruh informasi yang tersedia. Dengan demikian prinsip keterbukaan
dapat berperan dalam meningkatkan ketersediaan informasi yang benar, agar dapat
ditetapkan harga pasar yang akurat. Hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan
pasar modal sebagai lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan informasi. Tanpa
informasi peserta pasar tidak dapat mengevaluasi produk-produk lembaga keuangan
tersebut.
3. Prinsip keterbukaan penting untuk mencegah penipuan (fraud). Barry Rider
menyatakan bahwa semakin banyak informasi yang diungkapakan akan
meminimalisasi tindakan salah dan penyalahgunaan. Selanjutnya dia menyatakan
bahwa dalam pasar keuangan pendapat tersebut tidak perlu lagi dibuktikan, tetapi
lebih banyak tergantung informasi apa yang harus diungkapkan dan kepada siap
informasi itu disampaikan. Fungsi prinsip keterbukaan untuk mencegah terjadinya
penipuan tersebut adalah pendapat yang paling tua.

C. Etika Bagi Emiten


Dalam menanamkan dana, investor menilai kondisi dan kinerja perusahaan. Untuk
itulah informasi yang menggambarkan kondisi dan kinerja emiten menjadi hal yang
sangat krusial dalam pasar modal. Dengan posisinya sebagai pihak yang pasif dan tidak
mengetahui secara detail seluk-beluk perusahaan, investor berpotensi menjadi pihak yang
dirugikan dalam kaitannya dengan keandalan informasi. Untuk itulah, pemerintah melalui
Bapepam-LK melindungi kepentingan investor melalui aturan-aturan, salah satunya
adalah Undang-Undang yang mengatur mengenai pasar modal di Indonesia adalah UU
No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
Meskipun telah dilindungi dengan aturan, investor masih merupakan pihak yang
berpotensi dirugikan. Hal ini disebabkan karena banyak celah yang belum diatur oleh
peraturan dan sifat dari akuntansi yang memiliki berbagai alternatif dalam menyajikan
kondisi atau aktivitas ekonomi emiten. Dengan sifat akuntansi yang demikian, maka
laporan keuangan yang dihasilkan juga dapat disajikan dengan berbagai pendekatan.
Emiten sebagai pengelola dana tidak boleh sekedar memenuhi batasan-batasan yang
tertuang dalam aturan. Emiten harus mengutamakan kepentingan investor meskipun tidak
diatur dalam aturan. Dalam hal ini kepentingan investor adalah laporan keuangan yang
handal dan relevan.Terkait dengan penyajian laporan keuangan, Bapepam-LK
mewajibkan emiten untuk menyerahkan laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan
triwulanan. Laporan keuangan tahunan wajib diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar
di Bapepam-LK. Sedangkan laporan keuangan triwulanan tidak wajib diaudit. 
Fungsi dari audit yang dilakukan oleh akuntan publik adalah untuk meningkatkan
keandalan informasi dalam laporan keuangan. Setiap upaya emiten untuk menyajikan
informasi yang bersifat menyesatkan akan diminimalisir dan dikoreksi oleh akuntan
publik, sehingga investor dapat menggunakan informasi tersebut untuk membuat
keputusan investasi. Karena hanya laporan keuangan tahunan yang diwajibkan untuk
diaudit, maka terdapat celah bagi emiten untuk menyajikan informasi yang tidak
semestinya dalam laporan triwulanan.
Meskipun pada periode audit akan dikoreksi oleh akuntan publik, investor telah
menyajikan informasi yang tidak semestinya selama tiga triwulan. Dalam periode tiga
triwulan tersebut, investor berpotensi membuat keputusan yang tidak efisien terkait
alokasi modal yang dimiliki sebagai akibat dari laporan keuangan triwulanan yang
disajikan oleh emiten. Dampak negatif dari pembuatan keputusan yang tidak efisien
tersebut akan terakumulasi pada kuartal ke empat setelah laporan keuangan tahunan yang
diaudit oleh akuntan publik disajikan.
Dengan memperjualbelikan sahamnya pada bursa, secara langsung manajemen
memiliki kepentingan terhadap harga saham. Perusahaan yang dianggap memiliki kinerja
baik oleh para investor akan diapresiasi ke dalam peningkatan harga saham, dan
peningkatan harga saham tersebut merupakan salah satu dasar yang digunakan untuk
memberikan kompensasi kepada manajemen perusahaan. Adanya kepentingan tersebut
membuat manajemen emiten melakukan tindakan-tindakan yang mampu meningkatkan
harga saham perusahaan dengan cara yang tidak beretika, yang pada akhirnya akan
menguntungkan dirinya sendiri dan merugikan para investor.

Beberapa macam praktik penyimpangan yang terjadi pada pasar modal:


1. Penipuan
Penipuan menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 90 huruf c,
adalah: membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta material atau tidak
mengungkapkan fakta material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan
mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk
menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau pihak lain atau
dengan tujuan memengaruhi pihak lain untuk membeli atau menjual efek.  Larangan
tersebut ditujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam perdagangan efek, bahkan
turut serta melakukan penipuan pun tak lepas dari jerat pasal ini. Dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), penipuan diatur dalam pasal 378 tentang
penipuan.
2. Manipulasi Pasar
Manipulasi pasar menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 91
adalah, tindakan yang dilakukan oleh setiap pihak secara langsung maupun tidak
dengan maksud untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai
perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek. Otoritas pasar modal
mengantisipasi setiap pihak yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam hal modal
dan teknologi atau sarana yang kemungkinan bisa melakukan penggambaran
sedemikian rupa sehingga pasar memahami dan merespon gambaran tersebut sebagai
suatu hal yang benar. Manipulasi pasar yang terjadi di pasar modal antara lain:
a. Insider Trading
Insider trading secara harafiah berarti perdagangan orang dalam. Dalam istilah
hukum pasar modal, Insider trading adalah perdagangan efek yang dilakukan oleh
mereka yang tergolong “orang dalam” perusahaan (dalam arti luas), dimana
perdagangan efek tersebut didasarkan karena adanya suatu “informasi orang
dalam” (inside information) yang penting dan mengandung fakta material, dimana
pelaku Insider trading (Inside Trader) mengharapkan keuntungan ekonomi, secara
langsung atau tidak langsung.
Praktek insider trading merupakan salah satu praktek yang melanggar prinsip
keterbukaan dalam pasar modal. Selain itu, praktek tersebut juga merupakan
praktek perdagangan saham yang tidak adil (unfair trading) karena posisi inside
trader yang lebih baik (dalam kepemilikan informational advantages)
dibandingkan dengan investor lain.
Pengaturan insider trading terdapat di dalam Undang Undang Nomor 8 Tahun
1995 tentang Pasar Modal (UUPM) pasal 95 sampai 98 Undang- Undang tersebut.
Di dalam Pasal 95 UUPM dinyatakan bahwa “Orang dalam dari Emiten atau
Perusahaan Publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan
pembelian atau penjualan efek Emiten atas Perusahaan Publik yang dimaksud;
atau Perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan Emiten atau Perusahaan
Publik yang bersangkutan”. Termasuk dalam pengertian “orang dalam” menurut
pasal tersebut adalah Corporate Insiders. Secara teknis Corporate Insiders dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1) Traditional Insiders
Traditional Insiders merupakan pihak yang berada dalam fiduciary position
(pihak yang mendapat kepercayaan dalam menjalankan kewajiban di dalam
perusahaan) di dalam emiten atau Perusahaan Publik. Yang termasuk dalam
traditional insiders adalah Komisaris, Direktur, Pegawai, Pemegang Saham
Utama Emiten atau Perusahaan Publik.
2) Temporary Insiders
Temporary Insiders atau quasi insiders adalah pihak luar perusahaan
mempunyai hubungan trust dan confidence (hubungan erat) dengan
perusahaan atau mempunyai hubungan jangka pendek yang mengakibatkan
fiduciary obligations mereka kepada perusahaan. Oleh karena hubungan
tersebut memungkinkan pihak luar tersebut memperoleh inside information.
Yang termasuk dalam temporary insisders adalah konsultan hukum, notaris,
akuntan atau penasehat keuangan dan investasi, serta pemasok atau kontraktor
yang bekerja sama dengan emiten/perusahaan publik tersebut.
Pelanggaran etika terutama yang dilakukan oleh para pelaku insider trading
adalah kepemilikan informasi. Yang dimaksud dengan informasi dalam insider
trading adalah informasi material yang penting dan belum dibuka untuk umum
(undisclosed information), misalnya:
1) Merger, konsolidasi dan akuisisi;
2) Pemecahan saham dan pembagian dividen saham;
3) Tuntutan hukum yang penting terhadap perusahaan dan atau direktur dan
komisaris perusahaan;
4) Pendapatan dan deviden yang luar biasa;
5) Perolehan atau kehilangan kontrak penting;
6) Produk atau penemuan baru yang berarti;
7) Perubahan tahun fiskal perusahaan;
8) Perubahan dalam pengendalian atau perubahan penting dalam manajemen;
9) Perolehan atau kehilangan kontrak penting;
10) Tuntutan hukum yang penting terhadap perusahaan dan atau direktur dan
komisaris perusahaan;
11) Pengumuman pembelian kembali atau pembayaran efek yang bersifat utang;
12) Penjualan tambahan efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang
material jumlahnya.
Informasi tersebut diatas mengandung fakta material yang dapat
mempengaruhi harga saham dan apabila seseorang memiliki informasi tersebut
akan menempatkan dirinya pada posisi yang diuntungkan (informational
advantage). Namun, ada beberapa hal yang patut diperhatikan mengenai informasi
perusahaan yaitu bahwa tidak semua informasi meskipun material dan dapat
mempengaruhi harga saham harus diberitahukan kepada publik, informasi tersebut
antara lain yaitu:
1) Informasi yang belum matang untuk diberitahukan kepada publik. Misalnya
sebuah perusahaan pertambangan menemukan sumber minyak baru yang
belum begitu pasti;
2) Informasi, yang apabila diberitahukan kepada publik akan dimanfaatkan oleh
pesaing-pesaingnya sehingga merugikan perusahaan tersebut;
3) Informasi yang memang sifatnya rahasia. Ini yang sering disebut rahasia
perusahaan. Misalnya jika ada kontrak dengan pihak ketiga, tetapi dalam
kontraktersebut ada klausula yang menyatakan bahwa apa yang ada dalam
kontrak tersebut adalah bersifat rahasia di antara para pihak tersebut.

Beberapa praktek Insider trading terkadang dapat dideteksi dengan cukup


mudah. Hal tersebut dapat dideteksi dari beberapa fakta-fakta yang ada ketika
praktek tersebut terjadi diantaranya ada atau tidaknya orang dalam yang
melakukan transaksi atas efek perusahaan dimana yang bersangkutan menjadi
orang dalam. Selain itu, dapat pula dideteksi dari adanya peningkatan harga dan
volume perdagangan efek sebelum diumumkannya informasi material kepada
publik dan terjadinya peningkatan atau penurunan harga dan volume perdagangan
yang tidak wajar.
Namun, seperti halnya bentuk kejahatan kerah putih (white collar crime)
lainnya, insider trading amat sulit untuk dibuktikan karena pembuktian tindak
kejahatan ini memerlukan standard pembuktian yang tinggi. Seperti yang
diungkapkan oleh Mulya Lubis dan Alexander Lay (2008) “Standar pembuktian
praktek insider trading tidak mudah karena praktek ini termasuk tindak pidana
dalam pasar modal yang memerlukan standar pembuktian yang mengalahkan
keraguan rasional. Standar pembuktian tersebut memungkinkan pelaku insider
trading dibebaskan oleh pengadilan karena pengadilan tidak mampu membuktikan
bahwa pelaku bersalah”.
Dalam sistem hukum Indonesia terdapat lima alat pembuktian yang dianggap
sah, yaitu:
1) Surat-surat;
2) Kesaksian;
3) Persangkaan;
4) Pengakuan; dan
5) Sumpah.

Jika ditelaah, alat bukti yang dimaksud dalam pasal tersebut maka insider
trading tidak dapat dibuktikan karena bukti transaksi yang dilakukan di bursa
merupakan hasil elektronik yaitu berupa print out dan bukan termasuk kategori
surat sebagaimana disebutkan dalam undang-undang. Namun pembuktian praktek
insider trading masih dapat dilakukan dengan investigasi para pihak yang
dideteksi telah melakukan praktek tersebut dan juga dari pemeriksaan dokumen-
dokumen tertulis, termasuk di dalamnya lembaran transaksi elektronik.
Dalam UUPM Pasal 104 disebutkan bahwa praktek Insider trading merupakan
tindak kejahatan pidana. Oleh karena itu, dalam pasal tersebut disebutkan bahwa
sanksi hukum atas tindakan tersebut adalah berupa ancaman pidana penjara paling
lama sepuluh tahun dan denda paling banyak lima belas miliar rupiah.

b. Marking the close


Marking the close yaitu tindakan merekayasa harga permintaan atau penawaran
efek pada saat atau mendekati saat penutupan perdagangan dengan tujuan
membentuk harga efek atau harga pembukaan yang tinggi pada hari perdagangan
berikutnya.

c. Painting the tape


Painting the tape yaitu kegiatan perdagangan antara rekening efek satu dengan
rekening efek lain yang masih berada dalam penguasaan satu pihak atau
mempunyai sedemikian rupa sehingga tercipta perdagangan semu.

d. Cornering the market


Cornering the market yaitu membeli efek dalam jumlah besar sehingga dapat
menguasai pasar (menyudutkan pasar).
e. Pools
Pools yaitu penghimpunan dana dalam jumlah besar oleh sekelompok investor
dimana dana tersebut dikelola oleh broker atau seseorang yang memahami kondisi
pasar. Manager dari pools tersebut membeli saham suatu perusahaan dan
menjualnya kepada anggota kelompok investor tersebut untuk mendorong
frekuensi jual beli Efek sehingga dapat meningkatkan harga Efek tersebut.

f. Wash sale
Wash Sale yaitu transaksi yang terjadi antara pihak pembeli dan penjual yang
tidak menimbulkan perubahan kepemilikan dan/atau manfaatnya (beneficiary of
ownership) atas transaksi saham tersebut. Tujuannya untuk membentuk harga
naik, turun atau tetap dengan memberi kesan seolah-olah harga terbentuk melalui
transaksi yang berkesan wajar. Selain itu juga untuk memberi kesan bahwa Efek
tersebut aktif diperdagangkan.

D. Etika Bagi Investor


Dalam melakukan investasi di pasar modal kebanyakan investor mencari dan
memfokuskan perhatiannya terhadap investasi yang aman dan menjanjikan keuntungan
yang tinggi, hanya sedikit yang memperhatikan investasi yang beretika.
Apabila investor akan melakukan investasi yang berdasar etika, hendaklah perhatian
utamanya ditujukan kepada produk dan jasa perusahaan tersebut. Misalnya, jangan
melakukan investasi di perusahaan yang memproduksi bahan-bahan yang mengakibatkan
penyakit atau merusak lingkungan.
Selanjutnya, memperhatikan bagaimana dana yang diperoleh perusahaan tersebut
disalurkan, misalnya investasi di reksadana dapat menjadi investasi yang tidak beretika
apabila dana yang dihimpun diinvestasikan di perusahaan-perusahaan yang produksinya
mengakibatkan penyakit atau merusak lingkungan.
Bagi investor yang tidak aktif menjalankan bisnis itu sendiri terdapat tiga pendekatan
yang dapat digunakan yaitu:
1. Pendekatan Negatif
Pendekatan negatif ini disebut juga teori penghindaran, di mana para investor
yang beretika, akan menghindari investasi di bidang atau perusahaan yang tidak
disukainya, atau bertentangan dengan prinsip etika bisnis yang dianutnya atau juga
melakukan kegiatan bisnis di bidang-bidang yang melanggar ketentuan lingkungan,
produksi zat kimia yang berbahaya, produksi senjata, atau melakukan investasi di
negara-negara yang melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia. 

2. Pendekatan Positif
Dalam hal ini para investor hanya akan melakukan investasi pada bidang
usaha atau bisnis yang sesuai dengan etika bisnis yang dianutnya. Dalam
penerapannya investor dapat menyusun daftar perusahaan atau bidang bisnis yang
dipandang sesuai dengan etika bisnis yang umum.

3. Pendekatan Aktif
Dengan pendekatan ini para investor akan melakukan investasi di bidang
bisnis yang menurutnya tidak sesuai dengan etika bisnis yang umum dianut, dan
dalam melakukan investasi di bidang itu terkandung tujuan untuk mengambil alih
kontrol terhadap perusahaan tersebut untuk selanjutnya melakukan perubahan agar
perusahaan tersebut menjalankan bisnis sesuai dengan etika bisnis yang umum.

Praktik-praktik tidak terpuji di industri pasar modal memiliki sejumlah konsekuensi :


1. Kerugian pemodal atau investor, terutama investor berskala menengah ke bawah,
yang dirugikan dengan aksi manipulatif.
2. Jika praktik-praktik tidak terpuji tersebut berlangsung terus menerus tanpa ada sistem
yang mampu mendominasi dan membongkarnya, penetrasi industri pasar modal akan
semakin lamban.

Masyarakat akan semakin takut dan ragu untuk berinvestasi di pasar modal jika aksi
manipulatif masih terus terjadi. Harus menjadi catatan bersama bahwa dalam berbagai
kasus pelanggaran di industri pasar modal, kerugian yang dialami investor bukanlah
bagian dari risiko investasi. Praktik penipuan atau penggelapan dana nasabah, misalnya,
tentu tidak masuk dalam risiko investasi yang dipikirkan investor sebelum memutuskan
untuk menaruh dananya pada produk investasi tertentu. Apa yang terjadi dalam sejumlah
kasus di sektor finansial tanah air yang menyita perhatian publik dewasa ini adalah risiko
di luar lingkup investasi. Sehingga, berbagai pelanggaran itu harus diusut sampai tuntas,
sampai ke akar-akarnya. Setelah semuanya tuntas, habitus baru industri pasar modal harus
dibentuk dengan landasan etika bisnis yang kuat agar tak ada lagi aksi manipulasi yang
merugikan pada masa mendatang. Pasar modal yang kuat dan menjanjikan adalah industri
pasar modal yang menyuburkan etika bisnis.

E. Contoh Kasus Praktik Penyimpangan


1. Kasus Marking The Close PT Finan Corpindo Nusa
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan sanksi kepada PT Finan Corpindo
Nusa. Sanksi diberikan karena berdasarkan hasil pemeriksaan otoritas bursa terhadap
transaksi saham PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) periode Januari-Agustus 2009,
Finan Corpindo melakukan marking the close. Direktur Pengawasan Transaksi dan
Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo dalam penjelasan tertulis bursa di Jakarta,
Selasa 10 November 2009 mengatakan, marking the close itu dilakukan untuk
menciptakan harga agar penutupan saham Ratu Prabu berada pada tingkat tertentu.
Ketika dikonfirmasi, Direktur Utama Finan Corpindo Nusa Edwin Sinaga
mengatakan, pihaknya sudah memberikan penjelasan kepada BEI terkait temuan
bursa mengenai pembentukan harga yang tidak sesuai mekanisme pasar tersebut.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Wan Wei Yiong,
mengatakan pihaknya telah bertemu dengan pihak Finan Corpindo tersebut.
Selanjutnya, bursa juga memberikan sanksi dengan mengumumkan di keterbukaan
informasi bahwa perseroan telah melakukan marking the close. Menurutnya, hal
tersebut merupakan bagian dari pembinaan, walau demikian dia menuturkan jika
pihaknya tidak mengenakan sanksi denda atas kasus tersebut. Selain dipaparkan ke
publik, pihaknya juga akan melaporkan ke Bapepam.

2. Kasus Insider Trading Sari Husada


Kasus ini terjadi baru mencuat ke permukaan umum pada tahun 2005. Diduga
telah terjadi indikasi praktek insider trading yang dilakukan oleh direksi Sari Husada.
Akar dari kasus ini adalah ketika manajemen Sari Husada mengeluarkan kebijakan
ESOP (Empoyee Stock Option Program, yaitu kebijakan penjualan saham perusahaan
kepada karyawan dengan harga yang lebih murah) sebesar 5% (94 juta lembar) dari
keseluruhan sahamnya. Saham dari ESOP yang seharusnya dibeli oleh karyawan,
malah mayoritas dibeli pihak komisaris, direksi, dan manajer senior (dengan rincian 3
komisaris (44,8%), 5 direksi (42,5%), dan para manajer (12,7%). Namun, selang
berapa waktu kemudian manajemen sari Husada mengeluakan kebijakan Share Buy
Back (pembelian kembali) sebesar 10% dari saham yang diterbitkan. Dari dua
kebijakan yang saling bertolak belakang tersebut timbul celah yang menguntungkan
bagi pembeli saham ESOP kerena harga pembelian kembali lebih tinggi daripada
harga penjualan (selisih tersebut sebesar Rp365,6 per lembar saham). Dari kasus ini,
Bapepam hanya memberikan sanksi administratif sebesar 2.885 miliar kepada 9 pihak
orang dalam yang memperoleh keuntungan dari praktek tersebut.

Dari beberapa contoh kasus di atas, Bapepam sepertinya enggan dalam menyelesaikan
kasus-kasus tersebut ke proses litigasi walaupun sebenarnya kasus tersebut tindak pidana
pasar modal. Dalam makalahnya, Elfira Taufani menyebutkan bahwa keengganan
Bapepam dalam membawa kasus tersebut ke dalam proses litigasi dikarenakan proses
litigasi Insider trading dan tindak pidana pasar modal lainnya cenderung memakan waktu
dan biaya lama serta pembuktian dari kasus-kasus tersebut juga sulit.
Jika keengganan yang menyebabkan tidak terlaksana proses pelakasanaan hukum
pidana tersebut terus berlangsung maka dapat dipastikan lama kelamaan pasar modal kita
akan ambruk karena investor, baik domestik dan asing, sudah tidak lagi memiliki
kepercayaan terhadap pasar modal. Pertumbuhan ekonomi akan melambat karena investor
akan lebih memilih berinvestasi di pasar modal negara lain yang lebih sehat dan dapat
dipercaya. Indra Safitri mengungkapkan bahwa pasar modal tidak akan menjadi
instrumen penggerak investasi ekonomi apabila rapuhnya penegakan hukum masih belum
dapat diselesaikan.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Penegakan hukum terhadap kasus insider trading di pasar modal Indonesia kurang tegas
karena proses peradilan tindak pidana pasar modal memakan waktu dan biaya yang besar dan
juga pembuktian yang rumit. Untuk itu perlu diadakan pengawasan yang lebih ketat, sanksi
yang tegas, serta alternatif-alternatif lain dalam penegakan hukum tersebut seperti civil
penalty dan out of court settlement demi Pasar Modal Indonesia yang sehat dan dapat
membawa arus positif dalam perekonomian nasional Indonesia.

Solusi
1. BAPEPAM-LK harus lebih bertindak proaktif dalam mengawasi jalannya pasar modal
sehingga para pelaku yang berniat melakukan tindak pelanggaran akan lebih terdisinsntif.
2. BAPEPAM-LK melakukan koordinsi yang integratif dengan lembaga penegakan hukum
(seperti kepolisian dan kejaksaan) dan lembaga pemerintah yang lain seperti PPATK
(Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) atau Kustodian Sentral Efek Indonesia
(KSEI) dalam tindakan preventif maupun penyelesaian kasus insider trading.
3. Perlu di adakan revisi UU Pasar Modal agar kasus dugaan insider trading dapat lebih
mudah dibuktikan. Revisi ini perlu dilakukan karena selama ini hukum tertulis Indonesia
hanya menganut asas pembuktian yang terbatas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan
penerapan civil penalty (yang sudah diterapkan di AS) yaitu mekanisme campuran antara
hukum pidana dan perdata, dimana sanksi hukuman menganut hukum pidana (yang lebih
berat hukumannya) tetapi mengugunakan standar pembuktian untuk kasus perdata biasa
yang dikenal engan istilah balance of probabilities.
4. Pengimplementasian our of court settlement, yaitu penyelesaian kasus tindak pidana pasar
modal diluar pengadilan tanpa menghilangkan rekam pidana dalam database tindak
pidana pasar modal.

Anda mungkin juga menyukai